IT IS DECEMBER AND ALMOST JANUARY (Indonesian version)

IT IS DECEMBER AND ALMOST JANUARY

(yang tersisa dari 2011)

Uh, judul diatas serasa membegokan diri. Ya jelas habis Desember pasti Januari kecuali kalau nama-nama bulan bisa di-mixandmatch-kan dengan system kalender lain.

Tahun 2011 hampir habis dan ternyata jauh lebih cepat dan mudah daripada yang kuproyeksikan di tahun 2010. Cepat karena memang nyatanya sekarang udah Desember 2011. mudah karena beberapa hal yang kusangka akan menjeratku dalam keperihan abadi nyatanya terlewati begitu saja; dengan airmata tapi nggak pakai darah segala. Saya selamat hingga saat ini minus beberapa kecemasan yang memang harus kulewati seperti penagih hutang dari instansi tertentu yang memang harus menunaikan tugasnya menyuruhku membayar cicilan yang sering telat bayar karena di rantau orang saya nggak nemu ATM bersama buat mbayar kartu kredit bow!

Yang menjadi catatan untuk satu bulan ini adalah bahwa aku tak boleh lagi membuat resolusi tahun baru yang tidak make sense (masuk akal, Bahasa Inggris) seperti “lunas utang tahun ini”. Itu nggak mungkin karena memang KPR masih panjang jangkanya. Duuuh! Atau menikah tahun ini karena memang dulu calon saya ogah-agahan dan apalagi sekarang nggak ada calon. Beuh! Atau “terbit buku tahun ini” karena nulis aja males. Huh!

Makanya it is December and almost January membuat saya mikir ulang mengapa gol-gol besar atau paling tidak yang saya anggap bedar justru nggak bisa saya sarangkan bola disana? Mengapa gol-gol seiprit (kecil, bahasa gaul) yang bisa saya tembus?

Mungkin justru gol-gol kecil itulah yang harus saya rintis ya? Mungkin…

Ok, then… Saya akan membuat resolusi yang kecil tapi pedes misalnya…

1. Diet, sebulan turun sekilo…

2. Nulis, sehari sekalimat…

3. Bayar utang, sebulan nyicil asal ajeg…

4. Cari cowok, satu-satu aja sebulan satu…

5. Ganti areng anggrek, sebulan satu pot…

6. Baca buku, sehari satu halaman…

7. Dll, yang melangkah pasti

Rasanya niscaya kok kalau ada kemauan. Semua hanya 2 langkah saja dari target: selangkah kaki kanan, selangkah lagi kaki kiri. Dan bisa dilakukan satu waktu juga yakni sekarang dan satu tempat saja yaitu disini.

Oh, it is December and almost January membuat saya bersemangat meniti saat ini disini. Berharap semua mimpi baik yang besar atau kecil menjadi kenyataan sebelum mati menjemput usia.

Tangerang – 1 Desember 2011 – 12:43 siang

Foto dipinjam dari http://en.wikipedia.org/wiki/December

PENCENG

PENCENG

Kata penceng berasal dari kamus bahasa Jawa yang berarti miring. Jadi kalau Anda saya bilang penceng itu artinya ada yang miring di diri Anda. Bisa jadi yang penceng adalah cara memakai jilbab Anda atau cara memakai baju lainnya. Tapi bisa juga saya mengacu pada pikiran Anda yang sedang tidak karuan sehingga tidak bisa nyambung dengan akal sehat. Bisa juga kata penceng ini kita kaitkan dengan kesadaran seseorang yaitu: mabuk atau lupa atau gila.

Tapi kalau gubug penceng… Itu adalah sebuah rasi bintang yang sebenarnya berbentuk salib yang dijadikan patokan arah selatan. Dalam bahasa Ingris rasi ini dinamakan Crux. Dinamakan gubug penceng adalah karena konon kabarnya nenek moyang kita melihatnya sebagai titik-titik yang jika dihubungkan lebih menyerupai gubug miring. Gubug dalam bahasa Jawa adalah bangunan sederhana yang jika di sawah tidak memiliki dinding atau bisa juga mewakili deskripsi rumah sangat sederhana yang biasanya dimiliki oleh orang miskin.

Dasar penceng!

Tangerang – 30 November 2011 – 5:55 sore

mari kita saling men-support teman-teman kita. kalau ada yang sedih, jangan dimarahin… kalau ada yang marah-marah, jangan dimarahin – lebih baik ditenangkan… kalau ada yang sedang mengeluh, jangan dimarahin – lebih baik kita tenangkan… itulah gunanya teman… love you all temanku… :-)

WHEN THE SOUL FEELS WEARY

WHEN THE SOUL FEELS WEARY

It doesn’t matter how I overcome my sadness but what is happening to me now is more than sadness I’ve ever undergone. It is just like a state of mind in which I can’t understand but I can feel the existence.

That person’s energy crash on my soul membrane and cause a trauma. What energy? It is a kind of collision among different ideas that might have caused negative impact on daily interaction. Is it serious? Not really for me but for the relationship between me and that person it may be an inconvenience especially for that person. The person is so sensitive about one thing: what to believe.

For me to befriend, you should not ask whatever you believe in life as long as the friendship bears one thing: trust not to betray each other. Once someone asks me what I believe, it is a sign that that person likes to judge, deep down in one’s heart. One may say one doesn’t judge but it is likely to experience judgment from one. It won’t be really good… It won’t.

Do you believe in something? Yes, you should.

But do you have to proclaim what you believe in front of people you are interacting with? No, you don’t.

Let’s socialize in this very small world in elegant way. What is elegance in friendship? That is to believe that whatever your friends believe, make sure that your belief is not your basis to judge them.

Have a safe journey of life, my dear friends. It is an honor to be with you in this very now and here. J

Tangerang – November 27, 2011 – 9:00pm

LAYANG-LAYANG

LAYANG-LAYANG

Layang-layang putus benang

Mengembara mengawal angin.

Angin ke barat aku mbandhang ke barat.

Angin ke timur kulepas ke timur.

Jika angin utara bertiup,

Kencang keterbang ke selatan;

Jika angin dari selatan datang,

Mengembara ku ke utara…

Penerbang layang-layang tak kuasa menggapai

Layang-layang yang melambung dibawa sang bayu.

Hujan segera tiba,

Apakah layang-layang akan menjadi bubur?

Penerbang layang-layang gundah-gulana

Diterpa badai kebingungan kalah lomba-

Lomba main layangan tanpa putus benang…

Layangan tak kuasa berhenti

Meluncur terus ke arah padang hijau

Yang berbatas hutan hijau nan gelap

Kanopi itu pasti banyak monyetnya

Apakah mereka akan merobeki tubuhnya?

Jika ya, tamatlah riwayat layangan bernama

Aku…

Kugesekkan badan pada deburan angin

Supaya tertahan perjalananku

Lalu segera jatuh ke bumi

Dan ditemukan anak-anak yang polos

Yang bersorak-sorai mengharapkan kejatuhanku

Mereka gembira

Karena aku goncang dan oleng

Tak lalgi ngebut menghantam rimba…

Tapi aku masih belum dalam jangkauan tangan-tangan mungil itu

Aku merendah

Merendah

Makin merendah

Hap!

Tangan kecil, lembut dan dingin

Menangkapku

Melindungiku

Dari rebutan teman-temannya

Yang menyeringai seperti buta

Lalu dibawanya aku pulang

Ke rumah

Tempatnya menyimpan benang…

Tangerang – 1 Oktober 2011 – 8:00 malam

AKU YANG EGOIS DAN BOB KUCINGKU YANG DIBERKATI

AKU YANG EGOIS DAN BOB KUCINGKU YANG DIBERKATI

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis dalam bahasa Inggris tentang seekor kucing bernama Bob yang telah menjadi teman setia saya. Saya menganggap diri saya setia padanya karena telah membuat kucing itu jarang kekurangan makanan dibanding kucing kampong lain yang suka sekali berjejer di luar pintu depan menunggu saya membagi sisa makanan Bob atau makanan baru yang rela saya berikan.

Bob setia.

Saya tak ragu dengan kesetiaan Bob menunggu saya pulang, menemani saya bikin report hingga malam sambil dia klekaran (berbaring santai, Bahasa Jawa) di depan pintu kamar atau tepat di telapak kaki saya. Bob yang telah siap duduk di atas pagar tembok ketika saya diantar pulang oleh Pak Usup atau Pak Usen atau Pak Udin atau Pak Iis. Dengan kaki-kakinya yang jinjit Bob akan mengejarku lincah sambil mengeong manja.

“Aku sudah menunggumu. Aku lapar.”

Oh, Bob lapar maka itu dia menantiku dengan setia karena dia tahu aku yang memberinya makan dan minum walau kadang membuatnya bosan dan hanya bisa menikmatinya sedikit lalu minta dibukakakn pintu atau tidur sambil memperhatikan saya.

Seringkali saya merasa Bob telah mendapatkan yang terbaik dari saya. Makanan yang cukup sehat dan menyehatkannya, tempat tidur yang nyaman (bantal saya), badan yang selalu dibersihkan dari debu dan kutu-kutu, elusan lembut dan obrolan ringan (orang gila) atau kadang dituruti apapun maunya. Tahu nggak sih kucing saya ini biarpun jam 1:00 pagi kalau pengen pulang yang pulang saja – saya tidur di kamar belakang maka dia memanggil-manggil saya dari atas trails dapur.

Menurut ilmu perkucingan, saya merasa telah memberikan yang terbaik.

Makanan sehat, tempat tinggal yang cukup bersih, kasih sayang yang memadai, waktu bermain yang tak terikat, dll

Tapi…

… baru-baru ini saya merasa bahwa saya sesungguhnya belum atau malah tidak pernah memberikan yang terbaik pada Bob. Apa yang saya lakukan hanya sekedar best practice yang menurut manusia adalah perlakuan terbaik pada kucing. Manusia telah merasa optimal ngopeni ingon-ingone (merawat hewan piaraannya, Bahasa Jawa).

Ketika Bob mengeong-ngeong minta keluar, biasanya saya akan menunggunya setengah jam.

1. Jika dia mengeong terus hingga lebih dari 30 menit maka saya akn mengeluarkannya karena dia memang serius pengen sesuatu: kawin atau eek.

2. Jika dia tak pulang maka akan saya cari dia hingga keliling RT (serius ini) dan lalu menggiringnya pulang dan tidak melepasnya kecuali yang terjadi adalah nomer 1 di atas.

3. Jika badan dia kotor maka saya akan segera menyediakan air hangat dan shampoo kemudian mengelapnya dengan kain handuk kecil hingga bulunya tampak tidak dekil.

4. Jika kutu-kutu terlihat gembira di sela-sela rambutnya, saya akan memeluk Bob lalu memunguti kutu-kutu dan telur-telur kutu yang suka mendekam di sela telinga lalu membasminya dengan kuku jempol tangan.

5. Jika dia diam sambil memperhatikan saya, kuciumi hidungnya sampai dia merem-merem.

6. Jika Bob begini maka aku begitukan.

7. Jika Bob begitu maka aku beginikan.

Ilmu saya sebagai seorang biyung (ibu, Bahasa Jawa) bagi Bob saya anggap paripurna dan tidak akan saya dengarkan orang-orang diluar sana yang memberikan pitutur (nasehat, Bahasa Jawa) yang niscaya akan membuat Bob lebih sehat sebagai seekor kucing bukan sebagai seekor hewan piaraan.

Saya tidak menyadari bahwa bisa saja Bob mati karena saya perlakukan terlalu istimewa sesuai buku-buku perkucingan yang saya baca atau nasehat-nasehat dokter hewan yang selama ini kupercaya. Oh, alangkah malangnya Bob kucingku ini.

Saya manyun lama, duduk di depan jendela yang menghadap Simpang Lima sambil membayangkan Bob yang gembira karena saya tinggal pergi. Dia bersuka ria karena bisa tidur di alam bebas walau harus berkalang debu. Bisa jadi dia juga jalan-jalan malam mencari pacar dengna leluasa tanpa harus membangunkan mommy Rike untuk dibukakan pintu depan. Dia juga dengan riang-ria mengejar tikus-tikus usil yang membuatnya gemas sekaligus penasaran. Bob oh Bob… Mungkin kau punya hal lain yang menggembirakan…

Saya berpikir, apakah aku masih mampu menjadi sangat posesif terhadap Bob sedangkan aku seharusnya tidak terlalu yakin bahwa ilmu perkucingan yang kuyakini benar itu bisa saja masih bisa dikritisi…

Bob, besok aku sampai rumah jam 9:00 malam… Kalau bisa kau tunggu aku di rumah ya atau di atas pagar tembok. Biar aku bisa memandang matamu yang selalu menggemaskan itu, biar aku tahu apa sebenarnya maumu… Mau jadi kucing liar saja atau jadi kucing rumah yang kalem atau fifty-fifty kayak sekarang? Terberkatilah kau Bob karena telah menjadi bulan-bulanku selama hampir tiga tahun ini. I love you so much… Let’s realize that our bond is unbreakable…

(lihatlah saya masih ngeyel mencintainya)

Semarang – R1222 – 12:18 pagi – kangen Bob

KAWAN SETIA

KAWAN SETIA

Kawan,

Setiakah kau?

Menghalau gundah di sela nafasmu

Berselancar atas kekacauan harapanmu

Yang bertubrukan dengan gelak tawa di seberang jalan?

Kawan,

Setiakah kau?

Mengejar keinginan di antara tetesan keringatmu

Melaju melepas-tanggalkan pakaianmu

Demi ketulusan cintamu

Yang tak kau yakin benar-benar tak kan kau aliri airmata sesal…

Kawan,

Setiakah kau?

Membuangi ranjau-ranjau di halaman hatimu

Mengusir sepi yang lebih nyaring daripada pasar.

Air hujan mengabarimu berita gundah lagi,

Dan lagi,

Dan lagi…

Kawan,

Setiakah kau?

Pada ikrar di kala sepi

Batin di siang hari

Kedipan mata dalam kantuk

Lelap dalam jaga…

Setiakah kau?

Kawan,

Maafkan aku

Atas segala tanya hampa

Karena disana ada hati yang keruh:

Terselaputi pengkhianatan,

Tersaput penduaan,

Tersaruk kemarahan,

Terantuk kemayaan rasa,

Terhantam badai lagi,

Dan lagi,

Dan lagi…

Kawan setiakah kau?

Semarang – 26 September 26, 2011 – 9:10 malam – tentang kenangan segar

KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

Pernahkah Anda merasa hidup ini kurang sempurna? Atau kurang dalam beberapa hal? Jika ya, kita sama… Pernah suatu saat saya sangat menyesali kelahiran saya, marah atas keberadaan saya, kesal karena saya “ada” dan yang terbesar saya berharap saya tidak pernah ada.

Mungkin tak banyak orang yang merasa seperti saya tapi itulah yang pernah kami share bersama dengan beberapa teman dengan pengalaman yang sama. Kami merasa dunia ini tidak adil dalam beberapa hal; kami punya ketidaknyamanan dalam hal yang berbeda. Ada yang merasa pekerjaannya kurang memadai, ada yang merasa pasangannya tidak cukup memenuhi criteria (setelah beberapa lama bersama), ada yang anaknya tidak sesuai dengan harapan mereka, ada yang merasa kurang cantik, ada yang merasa kepandaiannya tidak cukup untuk memperbaiki keadaan, yang pasti itulah ketidakberuntungan kami.

Setelah beberapa saat lamanya tak berjumpa dan tak curhat, kami sepakat reuni. Dengan kondisi yang berbeda kami bertemu. Yang kurang cantik (karena dulu kulitnya tidak putih), sekarang jadi cantik. Yang dulu kurang kaya sekarang jutawan. Yang dulu anaknya tidak sesuai harapan, sekarang anaknya sudah ok-ok saja. Yang dulunya tak berguna walau pintar, sekarang sudah jadi orang penting. Saya sendiri, masih seperti yang dulu… (lagunya Dian Pisesa).

Layaknya wartawan, saya penasaran tuh mengenai perubahan yang mereka alami. Maka satu per satu deh saya wawancarai.

Si Cantik

“Eh, kok kamu sekarang kelihatan cantik banget sih? Emang ada perawatan khusus?”

“Enggak juga… Biasa saja. Cukup dengan merawatnya.”

Si Miskin

“Kelihatannya kamu makin makmur juga ya? Mobilnya udah ganti yang lebih perkasa dan mengkilap…”

“Itu mobil yang dulu, didempul sedikit jadi kelihatan lebih kinclong.”

Si Emak Malang

“Mana anak-anakmu yang suka ngancurin pot-pot anggrekku? Apa mereka masih diiket tiap jalan-jalan keluar rumah?”

“Masih saja, sekarang mereka juga ngancurin motor, radio, . Itu kembar memang nggak bisa diem…”

Si Jenius

“Naik pangkat nih rupanya? Memang kalau kamu cerdik-cendekia dimana-mana juga kepakai ya…”

“Naik pangkatnya masih lama… Ini lagi sibuk banget ngelarin project yang ditinggal teman yang nggak bertanggung-jawab.”

Tak ada satu pun kabar gembira. Semua masih berkubang dalam Lumpur yang sama. Teman-temanku masih sama “menderitanya” seperti beberapa tahun lalu. Tapi kenapa mereka sudah tak lagi punya jawaban yang “menyakitkan” telinga saya. Kesan yang saya tangkap adalah mereka makin dewasa, makin bisa meninggalkan kekacauan yang belum tahu kacau atau sesungguhnya tidak kacau sama sekali.

Saya nggak berani nanya lagi; saya nggak mau rendezvous kami gatot alias gagal total hanya karena pertanyaan “kok kamu sekarang dewasa banget sih?”

Maka saya hanya mengamati saja gerak-gerik mereka.

Si Cantik itu tidak menjadi semakin terang kulitnya, hanya wajahnya memang berseri-seri tak ada jeda.

Si Miskin juga tak tampak semakin kaya; mobilnya memang makin berkilau yang katanya karena dempulan dan cat baru. Tetapi yang pasti wajahnya tak lagi muram. Keluarga yang kami kenal sejak awal juga menjadi makin ramah, percaya diri dan terbuka tanpa menutupi apa yang tak mereka miliki. Kami semua bersikap apa adanya.

Si Emak Malang masih datang dengan anak-anak yang beberapa tahun lalu bersikap menyebalkan karena merusak pot-pot anggrekku karena berusaha mencabutinya dan menukar posisi dari satu pot ke pot yang lain, sekarang mereka juga masih sibuk tapi mereka tidak lagi mengganggu tanamanku. Mereka sekarang sibuk dengan rubik dan sudoku yang dibawanya dari rumah. Sesekali mereka memotong obrolan kami untuk menunjukkan hasil permaninan mereka.

Si Jenius, satu-satunya orang pintar diantara kami yang dulu sekali paling banyak mengeluh karena IQ yang tinggi tak bisa sama sekali membantu hidupnya sekarang menunjukkan perbedaan cara pandang terhadap hidup. Dia bilang hanya sikap yang bisa membuat segalanya lebih baik. Kepandaian tak bisa menolong menjadi lebih sukses. Kini dia menelateni pekerjaan yang pernah dia sangka membosankan karena mesti disuruh-suruh melulu. Sekarang pun dia disuruh-suruh tapi dengan keikhlasan dia bisa mengatasi kegusaran lantaran diperintah-perintah.

Reuni tahun ini berhawa berbeda. Tak ada sesi curhat untuk membahas ketaksempurnaan hidup. Tak ada lagi helaan nafas panjang dan mengurut dada demi menahan kekesalan dan munurunkan tensi darah yang hampir muncrat dari jantung.

Saya sangat ingin menanyai mereka satu per satu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Saya pengen belajar “menguasai diri” tapi saya tak ingin juga terlalu ngelamak (lancang, Bahasa Jawa Timuran) mencampuri urusan pribadi mereka walau mereka sahabat dekat saya.

Maka saya hanya menunggu dan melanjutkan obrolan kami tentang kue nastar yang muncul di tiap pertemuan kami.

“Ini nastara enak juga ya… tapi buatku ini kurang manis. Mungkin tahu depan kamu pesan nastar yang gulanya punya derajat kemanisan lebih tinggi, Ke…”

“Hahaha… Malah menurutku nastar ini terlalu manis karena lihat deh ini nastar kan isinya kismis-almond-sukade bukan selai nanas. Seandainya gulanya dikurangi maka rasa kismis dan sukadenya akan lebih menonjol. Kalau almond-nya sih memang sudah pas. Top banget ini kue Lebaran…”

“Menurutku sih nastar memang seharusnya diisi dengan selai nanas karena namanya NAStar. Kalau begini kan namanya jadi KISUMONtar karena isinya kismis, sukade dan almond.”

“Lebaran tahun depan deh gue suguhkan semua jenis kue sesuai pesanan masing-masing tamu….”

“Wow…! Kalau ada seribu tamu apa kamu akan sediakan 1000 rasa kue pada mereka?”

“Mana mungkin…?”

“Oh, mungkin saja… Tahu nggak kalian, bahwa rasa apapun akan tetap terasa sama kalau kau makan makanan itu sambil menutup penciuman kalian.’

“Yakin lu?”

“Yakin…! Ayo lu pade coba deh…”

***

“Ehhhh… iya….”

Ternyata jika kita makan tanpa mengaktifkan indera penciuman maka rasa makanan akan tak berasa dan itu adalah cara terbaik daripada menyediakan 1000 rasa pada 1000 tamu. Lebih mudah kan? Ha ha ha…

Kami tertawa-tawa…

Saya rasa itulah yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat saya itu: tidak merasakan ketidakenakan yang sedang dialaminya. Semua mereka selesaikan tanpa menghayatinya. Mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran bahwa ada rasa yang tak enak tapi mereka tak mau mempermasalahkan rasa yang tak diharapkan itu. Cukup dengan berusaha “menghabiskan hidangan” maka semua akan beres.

Mungkin ini nggak make sense (masuk akal, Bahasa Inggris) dan tidak relevan tapi apa daya aku tak sanggup menanyakan langsung pada mereka. Biarlah saya memperkirakan sendiri apa yang telah mereka lakukan. Aku hanya cukup yakin bahwa temanku baik-baik saja dengan ketaksempurna
an mereka sehingga yang kutahu hidup mereka telah sempurna
.

Temasek: Ubi Avenue 4 – 5 September 5, 2011 – 1:43 siang yang ngaco J

MADRE

MADRE

Madre, buku yang berisi puisi dan prosa karya Dewi Lestari, telah habis saya baca dalam hitungan jam. Ada beberapa kisah (prosa) dan kontemplasi puisi dalam buku yang nggak terlalu tebal tersebut.

Secara umum, saya suka karena memang saya penyuka Dee’s work. Tapi secara kritis saya menyukai tidak semua karya yang ada disitu. Prosanya saya suka semua karena lebih mengena dalam artian lebih mudah bagi saya mencerna apa maksud Mbak Dee – walau tetap saja namanya Dee menyukai presentasi symbol dan analogi dalam karyanya.

Puisinya?
Sebenarnya bagi saya sangat lugas
Bahwa dia membicarakan cinta
Cinta terhadap soulmate-nya
Dan cinta pada source-nya
Itu sudah cukup
Tapi puisi yang ada beberapa itu terkesan mengulang apa yang sudah ada:
Kerinduan
Kebersatuan
Kesatuan
Keniscayaan
Kefanaan…

Itulah yang saya tangkap dari karya puisi Dee dalam bukunya “Madre”.

Ada lagi satu hal menarik yang selalu saya temukan di karya (prosa) Dee. Masukan baru tentang detil-detil kehidupan kita. Kali ini tentang “biang roti” bernama Madre yang muncul dalam cerpen berjulul “Madre”. Saya baru tahu bahwa dahulu kala roti itu dibuat dengan biang roti, sup juga ternyata bisa dibuat dengan biang-nya. Oalah… begitu memesonaku kau, Dee – dengan ilmu baru yang tak kusangka ada. Terima kasih ya, Dee…

Secara singkat itulah lebih kurang apa yang saya rasakan setelah membaca “Madre”. Semoga bermanfaat.

Sebagai spoiler, saya bubuhkan daftar isi buku “Madre”:
1. Madre
2. Rimba Amniotik
3. Perempuan dan Rahasia
4. Ingatan tentang Kalian
5. Have You Ever?
6. Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan
7. Wajah Telaga
8. Tanyaku pada Bambu
9. 33
10. Guruji
11. Percakapan di Sebuah Jembatan
12. Menunggu Layang-Layang
13. Barangkali Cinta

Tangerang – Cluster Asri – 1:42 siang

SERASA KEHILANGAN IDE

SERASA KEHILANGAN IDE

Dua hari ini saya ngomel terus gara-gara kerjaan yang nggak kelar-kelar padahal lebaran sudah menjelang dan walhasil saya memang nggak dapat lebaran libur untuk tahun ini. Kemarin (lebaran Muhammadiyah) saya seharian ngomel karena HSDPA XL dan 3 yang tidak bersahabat sehingga untuk revisi online saja nggak ngangkat untuk buka satu halaman. Seharian!!! Maka saya bertekat, saya akan pension-dinikan HSDPA XL dan 3 saya dan akan segera melamar smartfren karena menurut teman saya lancar jaya bow!

Hari ini (lebaran NU) saya otomatis nggak kerja karena mesti mberesin kerjaan yang nggak beres di lebaran Muhammadiyah kemarin itu. Syukurlah semua berjalan lancar walau ada sedikit gangguan kecil.

Sekarang karena kerjaan yang ngebetein itu sudah selesai maka saya merasa bebas merdeka! Entah kalau tiba-tiba ada kabar terkini yang membuat saya kerja lagi. L

Namun…. Ketika saya pengen nulis, ide itu tiba-tiba hilang.

Apa yang salah di otak saya? Kok tulisan nggak pernah kelar pada saat yang sudah saya tentukan? Itulah yang sedang terjadi pada saya. Saya hanya mampu menulis hal-hal kecil yang hanya penting untuk saya sendiri. Orang lain tidak akan merasakan manfaatnya. Apakah itu dosa?

Saya rasa nggak juga. Cuma agak sedikit membosankan juga nulis kok nggak rampung-rampung. Bayangkan ada tulisna yang isinya foto doing (POLY GUMMY) padahal draft-nya sudah ada di otak tapi kata-kata yang keluar sungguh tersendat dan bentuknya bengkong-bengkong tidak menarik.

Ya begitulah saudara. Biarkan saya bertapa sambil “blog walking”, ngintip tulisan Anda semua tanpa komen. Maafkan.

Serpong – 31 Agustus 2011 – 3:39 sore

DIMANA JIWAKU TERTAMBAT

DIMANA JIWAKU TERTAMBAT

Keadaan hati yang sesungguhnya kadang menjadi sangat. Asing bagi diri kita sendiri. Perasaan bisa menjadi seperti capung yang mengapung di udara tiba-tiba menclok (hinggap, Bahasa Jawa) di pucuk ilalang berbunga coklat lalu mengambang di permukaan air bagai avatar yang mampu berdiri diatas danau.

Inginnya aku mengenali hatiku sendiri yang membuatku sangat berharap andai aku tak bisa mati. Lekak-lekuk, lika-liku hatiku menjadikanku manusia bodoh yang tak mungkin memandai dengan sekolah. Yang kurasai sekedar “kenapa lagi ini hatiku”.

Pengetahuan dan ketahuan (atau bisa jadi hanya kerasatahuanku) yang dulu pernah kupegang sekarang bagai lenyap tak bersisa. Awalnya aku menganggap bahwa kesadaran adalah ini dan itu, ilmu adalah ini dan itu, kebijaksanaan adalah ini dan itu. Berbagai definisi dengan lancar kuderas. Pemahaman para penjaga ilmu dan bajik-bijak dengan mudah kukuasai lalu kulontarkan seperti lembing yang menancap atau martil yang terbenam atau cakram yang menghantam pada sasaran. Aku pernah mengerti.

Hingga aku merasakan ada sesuatu yang bernama hati yang keberadaannya tak kuselisihi namun penerimaan akan keberadaannya sangat menghendaki energi yang luar biasa. Jika kau punya hati…

Jiwa ini… Apakah dia tertambat pada hatiku? Ataukah terpisah? Ataukah hatiku yang tertambat pada jiwaku? Pertanyaan ini datang dari mana? Dari jiwa atau hatiku? Ditujukan pada siapa? Jiwa pada hati? Atau hati pada jiwa? Atau…

Aku ingin pulang. Pulang ke rumah yang entah dimana; jauhnya tak terkira, namun dekatnya tak kira-kira – panggilannya begitu lantang tetapi jaraknya adalah lelahnya diri.

Dimana jiwaku tertambat? Apakah aku telah sampai di dermaga? Atau aku baru akan meninggalkan dermaga?

Tangerang – 21 Agustus 2011 – 9:51 malam

QUESTIONS ON MOTIVATIONS

QUESTIONS ON MOTIVATIONS

Excerpted from the article written by Liz Brody

  1. Who am I? How do I think of myself? What are my strengths and weaknesses?

  1. Who do I want to be?

  1. Why am I here? Why am I important? What is my mission?

  1. What am I missing? The time to read a book? A close friendship?

  1. What’s my motivation for wanting to improve my food and exercise habits? If it’s to look better, do I expect favorable results to bring love?

  1. Am I afraid of making changes or of taking risks (quitting a boring job, getting out of a bad relationship)? Do I fear failure or the responsibility that could come with success? Could I embrace change instead as an adventure?

  1. What has stopped me from keeping resolutions in the past? Is the obstacle (or obstacles) still present in my life? If so, how will I navigate it this time?

  1. When I’m tempted to wander off track, what could I say to myself, or do, to stick with the original plan?

  1. How can I build in support for myself? Ask a friend to be a health buddy? Join a walking club?

  1. What am I doing in my life that’s hurting me? Smoking? Drinking too much? Letting work interfere with relationships?

  1. What are the sources of joy I need to feel whole?

  1. Am I happy?

Read more: http://www.oprah.com/spirit/How-to-Get-Motivated-to-Change-Your-Lifestyle-LLuminari-Guide#ixzz1V7DC3r9d