Tag: post
TIKUS KESEPIAN LEBIH RENTAN TERHADAP KANKE PAYUDARA (dari website sebelah)
Tikus Kesepian Lebih Rentan Terhadap Kanker Payudara

Tikus yang menghadapi tekanan dan kesepian jauh lebih mungkin untuk terserang kanker payudara dibandingkan dengan tikus yang hidup dalam kelompok sosial.
Satu temuan menunjukkan bahwa kesepian dapat memiliki dampak besar pada kesehatan, kata beberapa peneliti Senin (7/12).
Mereka mengatakan, tikus yang dipisahkan dari kelompok sosial tak lama setelah dilahirkan memiliki resiko tiga kali lebih besar untuk terserang tumor payudara dibandingkan dengan tikus yang hidup di dalam kelompok sosial, dan tumor pada tikus yang terkucil lebih mematikan.
“Dugaan utama ialah buruknya penanganan stres,” kata Gretchen Hermes, peneliti di Yale University di New Haven, Connecticut, yang memimpin studi tersebut, dalam wawancara telefon dengan Reuters Health.
Hermes mengatakan, banyak kajian telah menunjukkan kesepian memiliki dampak negara pada kesehatan manusia.
“Dampaknya sama atau lebih besar daripada dampak asap rokok, yang meliputi sangat berkurangnya usia hidup,” kata Hermes, yang studinya disiarkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Stres telah dikatakan memicu gen penyebab kanker pada manusia. Bermacam kajian terdahulu oleh tim peneliti memperlihatkan bahwa tikus yang cemas dan takut lebih rentan terhadap tumor dan kematian.
Temuan paling akhir itu menunjukkan bahwa stres mengenai keterkucilan sosial mungkin menjadi pemicu bagi kesehatan yang buruk.
Studi tersebut, yang dilakukan melalui kerja sama dengan Martha McClintock dari University of Chicago, mendapati tikus di kedua kelompok itu terserang tumor payudara tapi tumor yang lebih banyak dan lebih besar ditemukan pada tikus yang terkucil.
Tim tersebut juga mendapati bahwa tikus yang terkucil menghasilkan lebih banyak hormon stres, corticosterone, dan mereka menemukan penerima hormon stres pada jaringan payudara.
Hermes percaya hormon stres mungkin secara langsung memberi “makan” tumor payudara.
McClintock, yang mengkaji dampak keterkucilan sosial terhadap kanker payudara, mengatakan temuan itu dapat membantu menjelaskan mengapa banyak perempuan yang tinggi di lingkungan dengan tingkat kejahatan tinggi, dan terutama perempuan kulit hitam di wilayah itu, terserang kanker payudara lebih cepat daripada perempuan lain.
“Kajian ini menjelaskan peran jaringan sosial dalam melindungi kesehatan,” kata Hermes.
Ia mengatakan, keterkucilan sosial mungkin membantu menjelaskan mengapa sangat banyak pasien gangguan kejiwaan memiliki masa hidup yang lebih pendek.
“Saya benar-benar merasa itu bukan hanya mencakup kanker payudara,” katanya.(*)
COPYRIGHT © 2009
Ikuti berita terkini di handphone anda http://m.antaranews.com
sepertinya MP memang lebih cocok buat saya…
pengen masak, kulkas kosong…
tak bisa tak rapi: Senin hingga Sabtu… entah terpaksa atau sukarela, baju slebor mangkir dulu.
berapa banyak orang hidup yang melewatkan waktunya tanpa melakukan apa-apa… aku? pengen melewati hidup ini tanpa jeda yang tak bermakna…
mulai pekan depan sudah pindah departemen: operation… semoga aku makin mengerti arti kehidupanku meskipun ada sebagian orang yang mungkin tidak menyukai kemajuanku…
duh…
RAIN BOW

rain.
it c0mes d0wn
n0w and then
below the m0on
and the sun.
rain.
it pours thr0ugh
soil’s open pore,
against the air
and into the water.
rain.
it freshens up,
refreshes deep,
keeps all in loop
with measured stop.
rain,
your temperature;
your texture;
your gesture:
they take a bow before dancing in march on a colorful arch.
you bow, Rain. in your bow, you no m0re are what you were.
your bow. a Rain’s bow.
january 2010 – 10.05pm Asri
DOOR OPENS AND WELC0MES

DOOR OPENS AND WELC0MES
Once the d0or opens, it is welc0ming.
Welc0ming marching steps with a new ro0m.
A ro0m where challenges manage go0d deed.
Go0d deed with which this do0r was openned.
Be happy because men’re b0rn free.
Free to penetrate do0r after do0r between two points.
Point 1, you’re alive; point 2, you’re rekindled.
Rekindled and never die, that’s life, real.
Real life is entering do0r after do0r and never looking back.
Look forward, all are there: your past, present, future.
March 31, 2010 – 11:23pm
RUBBISH IN YOUR BASKET

RUBBISH IN YOUR BASKET
Rubbish?
In my basket?
Sure I’ll never have one!
Everyday an individual may create negative feelings toward himself or others in a way that he hurst others or gets hurt by them. The negative feelings stretch from shy to anger with variations and derivations or even deviations. It is quite hard sometimes to identify those emotions but they indeed exist. Those emotions of hurt what I call rubbish. And, your heart is the basket. Now, do you recognize whether or not you have rubbish in your basket?
If yes, it is time to start the care after knowing how much rubbish you’re carrying now: how severe your emotion is wounded by those hurt feelings. If not, good to know that you are continuing hording.
One thing is believing those negative emotions are normal, raw fruits of growing communications in society. Should an individual has a doubt when he identifies bad impact of sharp words or unacceptable actions, he normally tries to neutralize the negative feeling for quite some time or even kill them for good.
Most people intend to consider that those negative emotions need no special care, all of them. They believe that time cures everything. In fact, they are incorrect. Some sort of those feelings is potentially destroying their personality. It’s a snowball, getting bigger as it rolls down and finally hits you flat.
Let’s make it like this: count how many times you hurt others in your environment especially beloved and important ones. And, how many times you get hurt by them. Do you often be the doer or the victim? Done, get to know why you feel hurt and why you feel like to hurt people. Is it because of inner trigger? Or, is it because others invite you to do; this invitation isn’t merely about that you are asked verbally but also lured with their enjoyment doing it.
If it is invitation, you should start to refuse it. Many ways are workable to stop external attraction: saying no to saying nothing. However, inner trigger is often late found. It has come to a public agreement that oneself is the most difficult to conquer and to even recognize. But it is never too late to be so called late.
Sometimes we think that loyality ought to be shown in the form of uniform action. When your gang is hating someone, you should hate that particular person until finally that person is worth torturing by a group of people with no reasonable strong ground. What a childish solidarity!
One easy tip: inner trigger is when you don’t like when others enjoy their good times whatever reasons are applicable to you EXCEPT if people’s good time is jeopardizing your marriage or agreed relationship or if it is killing you.
So, after saying no to any external triggers, saying no to our inner triggers should be a prompt willingness. And, the output will be your understanding in peaceful life, harmonious society because of just clean basket.
Clean basket or clean heart is very beneficial to your spiritual life. It will shape you into a recognized statue not only a block of uncarved marble.
This writing moral is simple: clean your heart from any assumptions that come from your anger toward unmet expectations in your life.
Further, know your emotion. Don’t say you are not emotional when you still criticize others as an inferior. Let’s empty our baskets!
Note to myself
Keramat – March 14 to 28, 2010 – 8:11pm
OYE DAUGHTER

OYE DAUGHTER
Daughter, there’s a time when you’re shared a trust.
It might be c0nfr0nting a n0rm but if it’s the only way, you’ve g0t to fight for it.
It’s been a way to go to show you that I care much m0re than I do to your br0ther.
How many times he’s called ‘oye s0n’ and be granted big thing to carry; meanwhile his sister’s escaped fr0m chances to glow.
See, n0w I’m addressing you, telling the world that his sister own the strength to travel happily with big things bedazzling her weak trunk.
Indeed do, Daughter to grab his leftover that’s much m0unted than what he’d finished.
Bring ab0ut your c0nsci0usness to the sky.
Move without fear.
And, enrich the universe with your graceful c0urage.
Do, Daughter.
keramat n77, march 13 2010 – 10:10 malam
TEMANKU, BINTANGKU

TEMANKU, BINTANGKU
Berupa-rupa diskusi kecil dalam keseharian saya ibarat bintang-bintang di langit, bertaburan tak beraturan tapi jika diamati mereka adalah gabungan rasi-rasi bermakna. Diskusi seru semacam bintang yang pijarannya ibarat Alpha Century. Yang sedang saja tetapi ajeg ibarat Mars yang rajin terbit dan tenggelam di muka bumi. Yang redup-redup saja ibarat bintang yang jauuuuuh, tidak terbaca konstelasinya dan pijarnya tidak cukup untuk terlihat mata telanjang.
Nyatanya bintang-bintang dengan atau tanpa kejelasan konstelasi tetap diharapkan kehadirannya di malam-malam manusia. Kalau tak ada bintang, malam jadi kelam atau menjadi kurang ramai karena hanya terlihat bulan saja.
Itulah makanya saya menghargai kehadiran teman. Kurasa tanpa teman hidup ini sepi, tak berkembang dan membosankan.
Seburuk apapun teman yang bisa kita ajak bertukar pikiran, dia bagaikan bintang yang menghiasi pemandangan hitam di langit. Dengan teman yang tak terlalu memahami alur pikiran kita, topik-topik ringan bisa menyemarakkan suasana. Yang dibutuhkan dari teman semacam ini hanya ketulusan untuk berbagi keceriaan tanpa ada kompetisi untuk memamerkan keakuan. Saya punya banyak teman seperti ini. Biasanya saling ledek tanpa batas justru membuat kami tertawa guling-guling seandainya guling-guling di tempat umum tidak memalukan.
Jika teman ngobrol punya frekwensi yang harmonis dengan getaran pribadi kita, pikiran berlompatan seperti sekawanan kelinci yang sedang menikmati sehatnya tungkai-tungkai lompatnya, bergembira. Pikiran hidup, melewati quantum yang secara fisika atau kimia hitungannya menjebolkan kalkulator ciptaan manusia. Disini aku menikmati “sharing session” yang menjadi bursa pemahaman dan membikin masing-masing komunikan menjadi cerlang jiwanya. Ah… teman-teman semacam ini memang jumlahnya tak banyak, mereka seperti kumpulan bintang yang telah kita definisikan konstelasinya, pijarnya dan manfaatnya.

Ada lagi sejenis teman yang justru saat ini sangat banyak meningkahi proses berpikir saya. Mereka ibarat bintang-bintang gumebyar (bergebyaran, Bahasa Jawa) dan membuat saya kesurupan. Bagaimana tidak kesurupan? Saya seperti menemukan batuan mulia gratis di dasar bumi yang normalnya berharga sangat tinggi di permukaan bumi. Teman ini membawa sesuatu yang baru yang sebelumnya tak terpikirkan. Atau, teman ini membawa sesuatu yang membuat saya berani menyatakan sesuatu yang selama ini saya sembunyikan lantaran ketakutan jika terlalu terbuka saya akan “dihajar” massa. Tetapi percayalah bahwa memiliki teman seperti ni bukan tidak menawarkan ketakutan. Ada sebuah ketakutan bernama rasa sungkan (enggan karena rasa hormat dan sedikit rasa kurang percaya diri, Bahasa Jawa) timbul.
Rasa minder campur hormat ini hadir ketika saya tertantang untuk bertanya tetapi ternyata pertanyaan saya ini seakan sebuah kerikil yang besarnya tak cukup besar untuk diselipkan di kulit ketapel rasa ingin tahu saya. Hasilnya, pertanyaan itu tak mampu dilontarkan. Rasa percaya diri kadang cukup besar tetapi pertanyaan itu hanya menuai tertawaan karena terlalu cebol untuk dibahas oleh teman-teman yang bintangnya gemerlap. Yah, pada kondisi ini aku seperti “cebol nggayuh lintang” (orang kerdil menggapai bintang, peribahasa Jawa)
Tak mengapa, perasaan itu justru membuat saya makin getol bertanya dan mencoba-coba menjawabnya sendiri dengan membaca dan membuat relasi-relasi walau kadang yang muncul adalah pertanyaan konyol selanjutnya atau jawaban yang tak bisa dimengerti secara instan.
Ok lah kalo beg beg begitu… teman-teman, bagaimanapun rupa jiwanya tak saya sesali kehadirannya. Separah apapun luka yang digoreskannya akan saya hargai sebagai sebuah hadiah yang kelak di pertemuan yang selanjutnya akan mereka kenal sebagai tanda mata. Mereka akan segera mengenal jejak yang mereka tinggalkan baik itu keceriaan dengan saya, keindahan berbaginya atau jawaban-jawaban yang dilontarkannya dan membuat saya memahami diri saya sendiri. Ada juga yang suatu saat nanti akan terharu atau menyesal karena luka-luka dalam yang ditinggalkannya justru membuat pohon jiwa saya berlekuk-lekuk indah tak seindah pohon jiwa mereka.
Temanku, bintangku. Kita berjumpa karena kita pernah berjumpa dan akan berjumpa di tempat yang lebih indah.
Salam.
Keramat, 25 Februari & 1 Maret 2010 – 10:20 & 10:02 malam
NOT EVERYBODY NEEDS TO KNOW THAT

NOT EVERYBODY NEEDS TO KNOW THAT
Not everybody needs to know that you are smart;
Not everybody needs to know that you are nice;
Not everybody needs to know that you are creative;
Not everybody needs to know that you are polite;
Not everybody needs to know that you are understanding;
Not everybody needs to know that you are responsible;
Not everybody needs to know that you are fair;
Not everybody needs to know that you are patient;
Not everybody needs to know that you are contemplative;
Not everybody needs to know that you are wise;
Not everybody needs to know that you are honest;
Not everybody needs to know that you are true;
But everybody needs to know that you are likely to do things wrong because you are a pupil.
Keramat – end of February 2010
LUPA

LUPA
Sepanjang jalan pulang tadi sebuah outline tulisan sudah siap tertuang begitu kelar pekerjaan rumah. Sepertinya ide sederhana itu cukup layak untuk mewakili sedebu pikiran saya.
|
Membersihkan pasir kucing |
√ |
|
Membuang sampah |
√ |
|
Mengepel lantai |
√ |
|
Menyiapkan makan pagi |
√ |
|
Merendam pakaian |
√ |
|
Dll yang kecil-kecil |
√ |
Beres.
Duduklah saya di depa
n laptop tersayang.
Siap mengetik.
Duh aku lupa!
Ide apa gerangan yang tadi siap diekspresikan? Topik apa yang tadi membuat saya tersenyum lebar antara Kebayoran dan Tangerang? Sekarang dimana terselipnya untaian kata yang tadinya berjejer seperti rantai karbon persenyawaan kimia alam raya?
Ah sungguh namanya lupa itu absolutnya tidak ingat.
Hanya dalam hitungan jam ide saya lenyap. Seperti ludesnya debu tipis di sapu lap basah.
Lhadalah! Kalau baru beberapa jam saja pikiran sudah tak mampu mengingat, apa tah lagi memoriku yang paling dahulu? Memoriku yang paling tua, berkerak di dasar gudang bawah sadarku. Ada jutaan ingatan yang bertumpuk kemudian lapuk menua/membusuk rusak dan merusak/mengeras dan mengerak/bertumpuk dan terjepit/menyepi: menjadi fosil yang hanya bisa dipindai dengan zat kimia mahal dalam proses fusi dan fisi berupa ketelatenan mengekspresikan keingintahuan tentang memori yang – mari kita namakan – khazanah yang tersembunyi.
Ada bagian paling purba dalam memoriku yang sangat berharga tapi belum juga kuingat. Mungkin karena tertutup jutaan kemuraman dan keceriaan hari-hari. Terabaikan…
Wow! Bagaimana aku bisa mengingatnya kembali ya? Dulu aku pernah hidup di alam jiwa dan mengenal kalian semua. Kalau sekarang ternyata saya lupa kita pernah saling mengenal, itu karena ingatan ini sudah menjadi batu tua. Tulang-belulang ingatanku lebih tua dari batubara. Lebih renta daripada prasasti tertua.
Ingatan: yang hilang dari manusia karena terlalu sibuk mengurus badan daripada yang dihantarkan badan.
Tak salah. Lupa adalah kewajaran yang dalam agama tidak dicatat dosa. Pemaklumannya disetarakan dengan tidak berdosanya orang gila.
Singkatnya, tak mengapa lupa karena yang pernah direkam pasti bisa diputar ulang jika dan hanya jika kasetnya bisa ditemukan diantara tumpukan data di perpustakaan jiwaku.
Maaf, ide yang tadi saya siapakan tak bisa saya sajikan. Karena LUPA. Insya Allah, saya akan mempersembahkannya pada Anda jika dan hanya jika sudah INGAT.
Wahai ingatan purbaku, kembalilah. Aku ingin mendengarkan kepingan album jiwaku. J
Keramat – 15 Februari 2010 – 9:42 malam
SIMBOL ATAU MAKNA MANA YANG LEBIH PENTING (bagian 2)

SIMBOL ATAU MAKNA
Mana Yang Lebih Penting?
(Bagian 2)
Sekali simbol terungkap maka akan segera terbuka pulalah lapisan pembatas cakrawala kita. Seperti lapisan pelangi yang sebenarnya bukan mejikuhibiniu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu tak cukup mewakili warna yang ada di semesta raya ini.
Merah berarti berani? Benarkah? Itu hanya budaya kita. Menurut budaya lain, merah adalah simbol kegembiraan. Di budaya yang lain lagi, mereka menyebut merah berarti darah alias kematian. Budaya yang lain bisa saja menyebut kualitas lain. Hitam bisa saja berarti apa saja tergantung apa yang dilihat seseorang dibalik warna hitam. Alangkah jamaknya makna yang dapat ditangkap dari sebuah simbol.
Mana yang lebih penting?
Simbol atau makna?
Atau keduanya?
Tak bisa keduanya, harus ada salah satu mengalah pada yang lain. Lihatlah foto diatas judul tulisan saya ini. Apa yang Anda lihat? Simbol atau makna?
Bisa saja Anda segera berkesimpulan bahwa gambar diatas penuh makna. Artinya Anda menganggap bahwa lukisan tersebut merupakan simbol yang dibaliknya tersimpan lika-liku pelajaran yang membuat pemaknanya memahami sesuatu.
Mungkin juga Anda berkata “gambar diatas hanya simbol” maka Anda telah siap dengan kepelikan yang akan Anda buat sendiri untuk menjadikannya penuh makna.
Jadi ada saat kwtika Anda memahami sesuatu sebagai simbol; saat yang bersamaan orang lain menjadikannya makna. Sebaliknya, juga bisa.
Ada sebuah persyaratan mutlak supaya sesuatu menjadi simbol sekaligus makna pada saat yang bersamaan. Dan itulah ketika dua pandangan yang bertentangan mampu memahami simbol dan makna sebagai suatu kesatuan.
Contohnya:
Seorang istri menganggap anak adalah investasi yang nanti kalau si anak udah gede mereka bisa menjadi tempat mereka berteduh sambil menunggu Pengelana menjemputnya. Sang suami menganggap anak itu sebagai beban yang harus segera dibebaskan dengan kerja keras sehingga disaat sang ayah tua dia sudah tak harus dibebani urusan anak lagi. Apakah keduanya memandang dengan persepsi yang sama? Tidak!
Sang ibu memahami anak sebagai sebuah makna yang apabila diselami akan menjadikannya bahagia: makna yang mendalam bisa membuat sang ibu bertahan menghadapi kesakitan batin “disakiti” anak. Sang ayah memahami keberadaan anak sebagai simbol perjuangan jika sudah tuntas akan menjadi penuh makna dengan datangnya: kemenangan.
Apakah Anda ingin berpikir sebaliknya? Tak mengapa. Saya terima. Karena seumpama mengupas bawang, Anda berhak menguliti apa yang baru saja saya kuliti. Jika mata Anda telah pedih Anda boleh juga berhenti atau tak berhenti.
Ukuran simbol dan makna: sekuat Anda, batas keletihan tak terukur karena Pemilik simbol dan makna sungguh tak berbatas apa-apa.
Keramat – Februari 2010 – 9:53 malam
CAT
The eyes you have
Blinking like glowing lake
In which hist0ry is f0rg0tten
By reality they make.
Cat,
I guess I kn0w it.
SIMBOL ATAU MAKNA: MANA YANG LEBIH PENTING (1)

SIMBOL ATAU MAKNA
Mana Yang Lebih Penting?
Barangkali simbol adalah elemen termenarik jika bukan terpenting dalam karya sastra. Tanpa simbol karya sastra terasa kurang nyastra. Semua genre bisa sangat sarat simbol demi tercapainya tujuan dilahirkannya karya sastra: menyampaikan makna.
Walaupun menyampaikan makna adalah sebuah “tugas mulia” sastrawan dalam membangun karyanya, jangan harap makna itu selalu dilukiskan secara gamblang tanpa terjadinya kesalahpahaman antara makna yang dimaksud oleh pekarya dan makna yang dipahami oleh penikmat. Jangan juga sangka “selisih nol” akan terjadi antar sesama penikmat dalam memaknai simbol yang sama. Sering kali timbul multi-interpretasi yang disebabkan oleh banyak faktor.
Jadi simbol sangat mungkin diapresiasi secara berbeda; rasio perbedaannya pun tak hingga; dan tak bisa diprediksi.
Coba Anda maknai puisi berikut, lalu Anda bisa men-share dengan jujur tentang makna yang tertangkap oleh rasa Anda.
Wanting is – What?
Summer Redundant,
Blueness abundant,
– Where is the blot?
(dari JOCOSERIA – Robert Browning)
Bagi manusia yang gemar sastra seperti saya, banyak realitas yang kemudian menjadi potensial diinterpretasikan. Kecintaan kepada dunia sastra membuat saya terobsesi untuk tidak pernah puas dengan interpretasi tunggal atau satu-satunya interpretasi yang benar sebab kebenaran dibalik simbol yang kita interpretasikan ibarat sebutir bawang yang jika dikupas selapis kulitnya maka yang kita lihat adalah kulit dalam yang terbungkus kulit luar. Lalu setelah kulit kedua maka ada kulit ketiga, keempat, kelima dan seterusnya hingga akhirnya kita menemukan lapisan yang terakhir di ujung keletihan.
Jikalau kulit adalah simbol maka maknanya adalah kulit berikutnya. Dan kulit kedua tersebut menjadi simbol baru yang niscaya terkelupas. Jika masih ada energi dan waktu, singkaplah kulit ketiga sebagai simbol berikutnya. Kulit keempat sebagai rahasia ternyata tak jadi rahasia lagi karena beberapa saat kemudian kulit kelima muncul sebagai makna selanjutnya. Begitu seterusnya.
Apa modal mengupas bawang? Pisau kah? Sejatinya mengupas bawang tidak mutlak mememerlukan pisau tajam. Ujung jari dan sedikit peran kuku sudah cukup karena kulit bawang yang sangat tipis perlu ditarik secara hati-hati supaya yang dibungkusnya tidak terluka. Dalam hal pengungkapan makna, hanya dibutuhkan kepekaan jiwa berkat kelembutan hati. Tak terlalu penting apakah sang pencari makna seorang jenius atau tidak untuk bisa memahami simbol yang membungkus makna berupa kebenaran (nisbi). Tuhan tidak pelit kepala orang yang tidak intelek. Gusti Allah itu sayang pada jiwa yang merendah kepada-Nya. Jadi mengapa orang yang IQ-nya tinggi mesti takut mengupas simbol? Dan mengapa yang EQ dan SQ-nya tinggi tidak mencobanya pula?
Dari manakah kelembutan itu? Dari kesadaran diri bahwa jiwa ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Masing-masing kita adalah elemen sebuah jaringan yang dirajut dengan sangat kalkulatif. Ibarat rumah laba-laba, sudut dan jari-jarinya sangat presisi; benang-benangnya lebih kuat dari tali baja sekalipun. Dan network ini hanya terbukti kuat jika jiwa-jiwa yang membentuknya benar-benar terajut dengan kesadaran yang sama.
Jadi Sudara-Sudaraku, apabila kita menghidupkan kesadaran bahwa dibalik badan-badan kasar ini adalah rajutan kesadaran yang tak terpisahkan maka alangkah indahnya kenyataan ini. Kenyataan yang dihiasi simbol-simbol yang siap diungkapkan sehingga tersingkaplah khazanah yang selama ini terbungkus rapat seperti tersegel kerasnya pikiran manusia.
Jika berdzikir adalah pelembut hatimu, maka berdzikirlah. Jika merenung adalah pelembut jiwamu, maka mernunglah. Jika bermeditasi adalah pelembut jiwamu, bermeditasilah. Hanya engkau yang tepat tahu pelembut yang mana yang memberimu kesadaran terjernih.
Kesadaran itu telah ada; dia adalah api abadi menunggu hembusan angin kelembutan yang mengantar cahaya benderang. Hembusan yang kencang mengobarkannya atau meredupkannya. Hidupkah kelembutan, sadarilah kesadaran, maknailah kehidupan.
Simbol dan makna menyelimuti kita; menunggu hidupnya kelembutan dan kesadaran kita untuk menguaknya. Jangan sampai terlalmbat: mana simbol, mana makna. Tak mengapa terbalik menandainya.
(bersambung)
Keramat – 21 Januari 2010 – 10:10 malam
INGIN PULANG DIAM-DIAM

INGIN PULANG DIAM-DIAM
Aku ingin diam
Seribu bahasa;
Mengundang kunang-kunang
‘Tuk memanduku pulang.
Syeh Yusuf – Januari 2010 – 10:52 pagi
BATU LONCATAN
Kemarin mengapung
Sekarang tenggelam,
Melesak ke dalam lumpur:
Aku kehilangan batu loncatan.
Syeh Yusuf – Januari 2010 – 10:55 pagi
HIDUP (KEMBALI)
Orang-orangan sawah
Tiba-tiba hidup berlarian, mengejar
Burung yang lapar.
Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:02 pagi
POWER RANGER MERAH
Kalau berubah itu biasa—
Jadi Power Ranger merah itu istimewa:
Dari warnanya saja engkau tahu
Apa kebisaanku.
Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:06 pagi
TERBANGUN
Kulepas selimut,
Mencari hawa segar keluar bidang tidurku.
Malam,
Lipatlah selimutmu. Kita bergegas menjemput-
Nya.
Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:12 pagi
SETAPAK
Sempit;
Mendadak mengarah tak kemanapun;
Setapak ini biar kutinggalkan saja.
LIA Thamrin – Januari 2010 – 4:44 sore
GELAK TAWA
Gigi putih,
Gusi yang menyembul,
Otot yang tertarik,
Suara yang meretakkan dinding,
Rambu-rambu keceriaan hati
Yang lama terpenjara.
Tertawa saja walau tak lucu.
LIA Thamrin – Januari 2010 – 4:51 sore
MAHARAYA
Tandanya keheningan
Penggambarannya puncak kebutaan
Pengenalannya terangnya kegelapan
Ah Sang Maharaya.
LIA Thamrin – Januari 2010 – 5:00 sore
AYO
Tadi pagi kamu datang
Meraih jemariku
Mengajakku berangkat.
Ayo!
Keramat – February 8, 2010 – 11:11 malam
TAKUT BERBEDA ATAU TAKUT SAMA?

TAKUT BERBEDA ATAU TAKUT SAMA?
Semakin tua usia, semakin banyak pertanyaan meletup-letup di kepala saya seperti lapangan penuh kawah lumpur yang bergantian memuntahkan rebusan dari dasarnya. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang sedang-sedang saja. Ada yang bersuara, ada yang lembut, ada juga yang tertahan. Ada yang melejit tinggi, ada yang meluber ke segala arah, ada juga yang tertahan sebelum meledak. Duh, pertanyaan-pertanyaanku ini memenuhi arena belajarku.
Akhir-akhir ini kucurigai ketakutanku bahwa aku tidak lagi mampu menghidupkan kehidupan pikiranku yang selama ini menjadi energi terbesar untuk menjadi aku yang sekarang ini. Aku mulai tak punya nyali bertanya.
Ada beberapa pihak yang kurasakan sedang berusaha mematikan potensiku dengan jalan menggembosi semangatku untuk membuka diri terhadap segala keniscayaan Yang Benar. Ada lagi pihak lain yang ingin membelokkan niatan saya: dari menyibak tirai menjadi merobek tirai, keduanya bertujuan sama (membuka tabir) tapi berefek beda. Ada juga yang tetap percaya diri menemani saya seperti induk burung melepas anak-anaknya terbang tanpa sekolah. Terima kasih semua.
Saya sedang memilah kebenaran… saya tahu itu. Dianggap salah oleh sebagian pihak… saya tahu itu. Dinilai berlebihan dalam membuka pikiran saya… saya sadar itu. Pendeknya saya sedang berevolusi secara spiritual dalam keadaan sadar tidak dibawah pengaruh siapapun dan reaksi sekitar sungguh beragam: positif, negatif, netral.
Dus, ketakutan itu bukanlah bahwa saya menjadi sendiri diantara belantara tirai dan kegelapan melainkan sendiri dan kesepian karena tak lagi mampu memantik api abadi yang seharusnya menyala terus sampai akhirnya cahaya ini mesti berkelana kepada Sang Sumber; layaknya Gadis Korek Api mati kedinginan kehabisan batang korek api yang memercikkan api penghangat tubuhnya. Mati sendirian, kedinginan sementara orang-orang berpesta di depan perapiannya.
Ketakutan ini wujud ragam kebingungan: apakah takut sama ataukah takut berbeda?
Apakah takut sama?
Siapa yang tak bangga merasa unik dan istimewa? Menjadi manusia yang mumpuni, menjadi pribadi yang tak tersamai dalam artian punya pencapaian yang tak biasa. Apa keinginanku? Aku ingin orang mengenalku tanpa terkenal, aku ingin orang menghargaiku tanpa aku harus membului diriku dengan bulu mereka. Intinya aku tak ingin menjadi biasa-biasa saja karena menjadi biasa berarti tidak menjadi apa-apa. Ini wajar tetapi ternyata kemungkinan justru sebaliknya.
Apakah takut berbeda?
Alangkah sedihnya menjadi orang yang tak dianggap pantas menyatu dalam suatu sistem sedangkan sistem itu sedang memuatnya. Seakan menjadi kucing yang sejak lahir hidup bersama kawanan macan, diasuh oleh induk macan bersama-sama gogor-gogor (anak-anak macan, Bahasa Jawa) saudara angkatnya. Ketika mereka tahu aku bukan macan, apakah mereka akan memakanku atau mempermainkanku seperti kucing membolak-balik tikus yang klenger dibawah tangkapannya?
Apakah aku takut?
Inilah pertanyaan sebenarnya. Dan saya masih belum punya jawabannya.
Keramat, 8 Februari 2010 – 11:05 malam
TERTIPU
tertipu
oleh gemerisik daun, wangi kembang setaman, ranum butir mengkilap yang disuguhkan bumi.
terpelanting
oleh juluran otot pohon raksasa, sulur beringin, pokok patah yg dipasang sebagai jebakan kijang.
terjerembab
dalam selimut kejantanan, rayuan maut dusta dan elusan sementara yg hanya bertahan ketika dekat.
tertipu
oleh kelihaian pemburu rusa dan para pembantunya yg tak lama lagi menikmati dagingku berbumbu racun yg tadinya melumuri senjata mereka.
December 30, 2008 – 1.00am
TUHAN BERWARNA DI MASA KECILKU
TUHAN BERWARNA DI MASA KECILKU
Bicara tentang tuhan seakan bicara tentang “what is inside a storage room”. Gudang di rumah ibu saya remang-remang dan jendelanya menghadap ke gudang rumah sebelah. Ruang itu hanya terang ketika ibu atau kakak perempuan saya mengambil sesuatu. Selebihnya pitch black.
Kenapa saya bicara tuhan hari ini? Karena ingatan saya tiba-tiba terbang ke masa kecil yang ternyata cukup spiritual. Topik percakapan saya dengan teman kecil saya adalah mimpi dan pertemuan manusia dengan tuhan.
…
“Aku kemarin ketemu Gusti Allah, Mbak,” kata adik teman saya.
“Dimana, Dik?” tanya saya
“Di bawah pohon waru itu lho. Aku dijak ngomong tapi aku wegah.” (Aku diajak ngobrol tapi nggak mau: Bahasa Jawa)
“Apa dia bilang kalau dia Gusti Allah, Dik?” tanyaku penasaran.
“Gak, tapi aku tahu kalau dia itu Gusti Allah”.
“Warnanya apa, Dik?” Saya masih penasaran.
“Abang.” (merah: bahasa Jawa)
“Mosok rupane siji thok, Dik?” (masak warnanya cuma satu?; Bahasa Jawa)
“Ada hijaunya sedikit. Dan dia bawa tasbeh.” (tasbih, Bahasa Jawa)
“Kemarin pasiennya ibuku juga ada Gusti Allah-nya, dia teriak-teriak. Dia bilang katanya dia itu Gusti Allah. Sama ibuku dikasih makan terus dia bilang terima kasih terus pulang. Gusti Allah ki tibake gendheng yo, Dik…”. (Gusti Allah ternyata gila ya: Bahasa Jawa)
…
Begitu bebasnya kami bicara tentang tuhan saat itu tanpa ada yang menangkap walaupun kami ngobrol di hadapan seorang perwira yang sensitif SARA. Malahan beliau dan istrinya tergelak gembira melihat kami bertiga.
Indahnya masa itu ketika bicara ngawur tentang tuhan tidak membuat kami merasa berdosa dan juga tak membangkitkan amarah orang di sekitar kita. Kadang saya berpikir mengapa usia yang makin tua justru membuat manusia semakin pemarah dan tertutup.
Tuhan menjadi sangat ekslusif. Bahkan belum sempat bicara lebih lanjut pun sudah langsung ada plang besar dipasang “tak akan mampu memikirkan tuhan”. Kesantunan menjadi kriteria utama sebelum kemudian ada ilmu dan akhirnya kejujuran baru boleh diperankan. Jadi bicara jujur tentang tuhan sangat terbatas karena kalau tidak sesuai dengan kesantunan kepada tuhan dan keterbatasan ilmu tentangnya maka terlarang hukumnya.
Bagaimana kita bisa dekat dengan Tuhan jika berbicara tentangnya pun seakan diberangus? Bagaimana pikiran ini akan terbuka jika ternyata Tuhan hanya sebatas indoktrinasi.
Bukankah Tuhan ingin dikenal oleh ciptaan-Nya? Bagaimana kalau ternyata cara para ilmuwan mengenalkan Tuhan kurang tepat sehingga banyak manusia akhirnya mati kafir? Kafir dalam hal ini adalah “tertutup” dari pengetahuan tentang Tuhan yang sejatinya. Bagaimana kalau ternyata Tuhan telah dipolitisir untuk kepentingan golongan tertentu yang sedang berkuasa? Bagaimana aku bisa merasakan berwarnanya Tuhan jika tak kutemukan suasana yang tepat untuk ngobrol tentang Tuhan?
Alangkah lucunya ekspresi adik temanku yang mengatakan tuhan berwarna merah-hijau membawa tasbih. Dan alangkah lugunya aku yang menganggap orang yang mengaku tuhan adalah Tuhan padahal
dia adalah orang gila yang tiap pasaran Kliwon datang ke klinik orang tua kami karena tiap pasaran Kliwon orang-orang pedalaman “turun” ke pasar sekaligus suntik sehat atau berobat kepada bapak dan ibuku.
Oh, Tuhan… Engkau begitu berwarna bagi manusia mini yang matanya jujur. Engkau juga gila karena membiarkan dirimu dikenal secara tak benar sehingga banyak yang menyembah tuhan yang bukan sebenar-benarnya Tuhan.
Banyak orang bersaksi tentang Engkau, sedangkan mereka bersaksi palsu semata-mata karena begitu harusnya.
Duh Gusti Allah, yang pasti Engkau ini Mahasegala. Bagaimanapun orang yang mengenal-Mu pun hanya mampu berkata: tak ada yang menyerupai dia. Seorang Musa pun langsung semaput melihat gunung yang hancur melihat-Mu. Aku hanya bisa berkata: embuh lah (entah: Bahasa Jawa).
Banyak orang merindukan bicara tentang Tuhan karena kamarahannya sudah di ubun-ubun dan Tuhan masih disembunyikan oleh penguasa di gudang ilmu yang gelap gulita.
Keramat – 9:08 malam 17 Januari 2010
REALITAS KECIL YANG (AGAK) MENGGUNCANG
REALITAS KECIL YANG (AGAK) MENGGUNCANG
Dulu waktu masih sekolah saya gemar berkelana baik sendiri maupun bersama-sama teman mengelilingi wilayah yang tak seberapa luasnya tapi sungguh membuat jiwa kami seakan mengembara ke seluruh alam semesta. Lebay!
Di setiap perjalan (hampir di setiap perjalanan tepatnya) kami selalu mendapatkan realitas baru yang sering kali mengagetkan jiwa muda kami.
Salah satunya adalah sebuah kenyataan relijius yang sesungguhnya hal sepele namun mengguncang iman kami (saat itu) walau sesaat.
Berapa jumlah ayat dalam Al Quran? 6666
Angka cantik bukan? Kembar empat!
Tapi setelah guru kami menyuruh kami menghitungnya di rumah, kami mendapatkan hasil yang sangat signifikan bedanya. Jumlah ayat dalam kitab kami adalah 6***. Silakan dihituhg sendiri ya Sudaraku… Bahkan setelah ditambahkan 113+1 basmalah pun tak bisa sampai 6666.
Banyak hal kecil yang membuat kita “ingkar” terhadap kepercayaan kita. Tetapi biasanya kemudian kita akan memaklumi kebenaran “baru” tersebut setelah membuktikan dengan pengalaman.
Ada lagi hal kecil yang pernah mengguncang keyakinan muda saya. Dulu saya sangat percaya bahwa Syeh Siti Jenar dihukum pancung oleh salah satu dari 9 wali yang berkumpul bersama. Namun setelah saya mudeng karena sekolah dan diskusi dengan teman-teman, saya baru tahu bahwa para wali yang diceritakan berkumpul bersama itu berada pada dimensi waktu yang berbeda. Mana bisa orang yang sudah mati hadir iktu mengerubuti Syeh Siti Jenar yang akan dibinasakan bersama ajarannya itu?
Hanya diri kita yang bisa menentukan apakah kita akan percaya pada sebuah teks tanpa mengalami konteks-nya. Atau kita menjaring konteks dan mengintegrasikannya dalam teks. Itu pilihan pribadi masing-masing. Yang paling penting adalah, jangan pernah berhenti menyerapi energi yang tak habis-habisnya ini senyampang jiwa kita masih punya kendaraan berupa badan yang jika nanti lapuk maka jiwa kita pun harus segera bersiap dengan “charged battery” untuk pulang ke rumah.
Mempercayai kebenaran kadang mengerikan karena harus menghadapi “kekalahan” oleh revisi-revisi alami yang ditawarkan kebenaran itu sendiri.
Kalau kepercayaan kita masih bisa diuji, maka ujilah dengan realitas-realitas yang ada. Jangan takut atau ragu karena sesungguhnya kalau memang itu kebenaran maka akan teruji, tetap cemerlang atau bahkan makin benderang.
Keramat – 14 januari 2010
SIAPA YANG KAFIR, SIAPA YANG TIDAK

SIAPA YANG KAFIR, SIAPA YANG TIDAK
Ini tulisan yang sudah tersimpan dan tak jadi-jadi karena menunggu “thread” situasi. Dan inilah saat yang tepat untuk mempublikasikannya. Sumonggo.
Transkripsi QS Al Kaafiruun
- Yaa ayyuhal kaafiruun.
- Laa a’budu maa ta’buduun.
- Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud.
- Wa laa ana ‘aabidun maa a’battum.
- Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud.
- Lakum dienukum waliyadiin.
Terjemahan Bahasa Indonesia (Terjemahan Dept. Agama RI)
- Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
- aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
- Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
- Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
- Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
- Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku”.
Terjemahan Bahasa Inggris (Abdallah Yousuf Ali)
- Say: O ye that rejects Faith.
- I worship not that which you worship.
- And I will not worship that which you worship.
- And I will not worship that which ye have been wont to worship.
- Nor will ye worship that which I worship.
- To you be your Way, and to me mine.
Ini sebuah dialog nyata tapi tak tampak antara dua realitas satu entitas. Antara jiwa dan badan saya yang ternyata saling mengenal dengan baik sehingga sangat senang saling mengolok tanpa marah berkepanjangan. Mana yang bicara dan mana yang disapa tidak dibatasi. Bisa saja sang badan yang sedang bicara kepada sang jiwa atau sebaliknya.
Apakah yang disembah badan dan yang disembah jiwa sama ataukah beda? Silakan berdebat dengan diri Anda sendiri. Tetapi saya hanya ingin mengingatkan bahwa
ketika Anda sholat maka secara fisik Anda menghadap tembok atau gebyok atau kalau Anda sedang berdiri di belakang imam maka Anda menghadap seorang lelaki atau perempuan; bisa juga Anda menghadap sederet sesama makmum. Jadi secara fisik Anda tidak sedang menghadap Tuhan. Memangnya tuhan bisa mbok lihat sama matamu po? Maaf ini sarkasme yang memaksa Anda untuk marah tapi Anda memang harus menghadapi kemarahan jika ingin dewasa.
Karena itu jiwa saya berkata: Hai, kau badan yang tertutup terhadap yang kasat mata, aku (jiwa) tak akan menyembah apa yang kau sembah. Kau nyium lantai, aku nggak mau ikut. Kau nyium Hajar Aswad, aku wegah. Kau nyiumin buku, aku wegah. Kau kelaparan, aku tak kenal nasi atau hamburger; kau tidur, aku bisa jalan-jalan kemana-mana tanpa mengantuk; kau merapuh, aku makin benderang.
Kamu duhai badan bukan pula penyembah apa yang aku (jiwa) sembah. Bagaimana tanah bisa mencapai keilahiyahan. Badan, kau ini hanya sebatas detak jantung. Apa yang kau sembelih tak akan sampai pada Ruh Yang Agung. Dagingnya dimakan tetangga atau keluarga atau kamu sendiri. Ruh yang Agung, Allah SWT hanya menerima niat dan keikhlashanmu. Dimanakah niat dan keikhlashan itu? Ada padaku, jiwa ini.
Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
Mana peduli aku pada tembok? Pada tikar? Pada sajadah? Pada lantai? Pada kopyah? Pada mukena? Pada siapa yang mengimamiku? Pada siapa yang memakmumiku? Duh, jiwa ini terlalu terlena oleh pikatan Yang Maha. Aku tak pernah dilahirkan menjadi suatu bangsa, agama, rasa, suku atau hal lain yang menempel pada badan pinjaman tanah-air-api-angin ini.
Dan duhai badan, kau jangan memaksa menyembah apa yang aku puja. Kau memang harus menghadap tembok. Kau memang harus bersujud di atas lantai. Kamu memang harus bergerak begini dan begitu menurut apa yang diikatkan padamu sejak lahir oleh orang tua atau masyarakat atau budaya dan pendidikanmu. Kau jangan ikuti aku. Aku sanggup sujud setahun penuh bahkan seumur hidupku; seperti malaikat tertentu yang ditugaskan untuk bersujud selamanya. Kalau kamu kelamaan sujud; berarti kau tak adil pada dirimu, keluargamu, teman-temanmu, lingkunganmu dan duniamu. Rugi kan ngikutin aku melulu?
Sudahlah, jangan kau paksa aku untuk mengikuti caramu duhai badan. Kita mengabdi bersama-sama saja. Kau dengan membentur-benturkan dirimu pada dunia fisik dan aku dengan terbang bebas menemui Yang Maha.
Kalau ternyata kita belum kompak, ya jangan berantem. Kita sedang mensinkronkan getaran kita sehingga suatu saat nanti kita benar-benar siap saling mengerti dan memutuskan untuk berjalan bersama-sama; menghadapi perpisahan kita. Kau diserap tanah, aku melesat ke rumah.
Sudara-sudaraku, kalau seseorang tak seperti yang kau harapkan, sesungguhnya itu bukan masalah maqom (makam, tingkatan) karena yang belum mati tak bisa dimakamkan oleh yang mati; apalagi kalau sama-sama mati: mana bisa saling memaqomkan?
Brangkali yang dia perlukan hanya jeda, dimana tak seorangpun mengisinya kecuali Yang Menentukan. Jangan gusar, kau tak bersalah dan dia pun belum tentu tersesat.
Jakarta&Tangerang; akhir 2000 – Januari 2010
MUSA MENCARI HARUN
MUSA MENCARI HARUN?
Apakah aku ini seorang yang kesepian?
Aku tak tahu;
Apakah aku ini seorang pencari ilmu?
Aku juga tak tahu;
Apakah aku ini seorang pencinta?
Aku tak tahu;
Apakah aku ini seorang yang gagal?
Aku juga tak tahu;
Apakah aku ini seorang yang marah?
Sepertinya hanya itu yang kutahu.
Aku marah dan marah lagi.
Aku marah berulang kali.
Aku marah berlama-lama.
Tahan sekali kemarahanku?
Api di dadaku ini tak segera padam
Mungkin karena aku tak mau memadamkannya.
Aku bertarung melawan pemadam kemarahanku
Karena kukira api ini sumber segalanya.
Dengan api ini lingkaranku menjadi terang;
Dengan api ini aku merasa aman;
Dengan api ini aku melanjutkan hidupku;
Yang gontai menyeret langkah berat
Satu-satu.
Berpuluh bingkai kaca kudatangi
Kebertanya pada cermin-cermin itu
“Duhai Sang Cermin, apakah aku ini sesungguhnya?
Adakah yang lebih malang daripadaku?
Adakah yang lebih beruntung daripadaku?
Apakah akhir perjalananku?”
Cermin satu,
Cermin dua,
Cermin tiga,
Dan cermin yang lain-lainnya
Mereka menjawabku tanpa ampun;
Memantulkan apa yang mau mereka pantulkan;
Memantulkan apa yang mereka suka.
Kadang sesuatu yang tak sesungguhnya padaku ada
Kebohongan tentang diriku kah?
Bukan.
Itu sesuatu yang terpantul di retakan mereka.
Lalu kudapati kini cermin-cermin mungkin tak rata atau retak atau berdebu.
Ku ber-ja-lan.
Sekubangan air menghadangku
Menggodaku untuk berkaca
Karena segala yang mengkilat kukira memantulkan
Dan yang kutemukan pun hanya bayangan gelap tubuhku.
Kutersungkur.
Menangis.
Meraung.
Mencabiki kesadaranku
Yang belum juga terbit dari malamnya.
Lalu kutertidur lelah.
Mana oh manakah Harunku?
Atau jika beruntung kudapat Shofuraku?
Oh… datanglah Ibu Musa
Biar kumenyusu padanya,
Kemudian dikenalkan pada saudara perempuan dan
Saudara lelakiku yang kelak menjadi juru bicaraku.
Atau antarkanlah aku pada Nabi Syuaib.
Biarpun 10 masa aku mesti bekerja
Kuberharap itu ada.
Angka 10 begitu menggoda
Tetapi manakah dia?
Tertipukah aku?
Atau kesabaranku hanya sebanding Musa muda yang banyak tanya?
Hanya sekedar keluargaku dan keluarga Syuaib kah ujung pencarianku?
Atau aku berjalan lebih jauh lagi?
Aku tak mungkin menjadi Musa Sang Nabi dalam kitab.
Aku hanya ingin mengalami Musa yang bernubuwah.
Biarkan aku sampai di Gunung.
Biarkan aku diguyur Cahaya.
Biarkan aku berlidah kelu.
Biarkan aku pingsan.
Biarkan aku sejenak membuang asma dan sifat —melebur dalam wujudnya.
Jangan halangi.
Sedangkan kini aku baru sekedar Musa mencari Harun
Sehingga jika keberuntungan membawaku pada Nabi Syuaib, kuakan bertemu Shofura.
Keramat – 11 Desember 2009 – 9:00 malam
DULU SEKARANG
DULU SEKARANG
Ada seorang murid
Yang tiap hari dilontari tebakan oleh gurunya
Maka belajar ia tiada henti.
Menghapal
Supaya bisa menjawab pertanyaan suhu.
Bicaranya seperti rekaman ensiklopedia audio
Yang membuat orang terjatuh rahangnya karena terpana.
Lalu diluluskannya murid itu
Menjadi guru ia
Yang menjawab pertanyaan barisan pasukan mau tahu
Bersenjatakan pertanyaan.
Lama, lama, lama…
Guru muda jenuh
Karena ilmunya sungguh beku
Tak cair
Apalagi bertumbuh.
Kemudian dia belajar bertanya
Karena konon semakin ia cerdas bertanya
Maka cerdas juga jawaban yang ia tuai.
Namun jawaban telah membingungkannya
Membuatnya berputar-putar
Bak keledai di penggilingan gandum.
Rasa lelahnya mencapai atap dunia
Yang jika tertembus tak bisa lagi ia pulang.
Maka
Sekarang
Diputuskannya
Untuk diam
Karena
Dalam diam
Ia
Menghargai jawabnya.
11 Januari 2010 – Barito
BERTEDUH DIBAWAH CEMARA

BERTEDUH DIBAWAH CEMARA
Hari makin larut
Di ujung jalan matahari tinggal menunggu gelap sempurna
Kakiku terhenti mengharap jeda
Sebuah batu ceper besar disiapkan bagi para pejalan yang kelelahan
Tepat di bawah cemara yang setia menggugurkan daunnya
Menjadi kasur empuk para pesinggahnya.
Cemara berdesau
Menyambutku dengan ceria,
Menyanyikan lagu diiringi siulan angin.
Cemara bercerita tentang orang-orang yang pernah tertidur
Lalu bangun melanjutkan perjalanan.
Cemara juga menggumamkan tempat-tempat mereka yang tak mau lagi melanjutkan perjalanan dan memilih tidur selamanya.
Kurapatkan selimutku
Angin begitu akrab dengan cemara
Mereka bercengkerama seakan tak peduli getirnya rasa beku
Yang menusuki kulit, daging dan tulangku yang makin renta.
Kain ini tak cukup tebal untuk melindungi badanku
Tapi masih juga kurapatkan sehingga badanku meringkuk kaku.
Aku kedinginan.
Malam tiba
Diiringi bintang-bintang dan bulan yang bergabung bersama angin
Menambahkan intrumen musik dibelakang lagu cemara.
Kisah-kisahnya ternyata tak hanya tentang kami para pengembara
Melainkan juga tentang dewa-dewi yang tersesat di hutan ini.
Tawa Mars dan Venus membuat cemara semakin bersemangat.
Badanku membatu
Tapi telinga dan jantungku tetap berfungsi.
Cerita cemara menyelusup ke dalam cuping kupingku lalu menghidupkan jantungku.
Kadang detaknya cepat, kadang tak bergairah.
Hanya karena cemara perasaanku bisa seperti ini?
Andai malam tak datang, aku tak bakal bergelung kaku disini.
Oh, Matahari
Segeralah terbit. Aku tak tahan cerita cemara.
Kudengar bintang-bin
tang riuh rendah menertawakan sebuah kisah.
Bulan tertawa lembut seperti seorang putri.
Angin tertawa hingga tersedak.
Mars dan Venus saling meledek membumbui berita.
Cemara…
Kisah apakah itu? Yang panjang tak membuat pendengarmu jemu?
Kurapatkan telingaku pada angin.
Biar kudengar dengan baik runtutannya.
Mereka berbicara tentang kaki yang katanya seperti sebatang kayu.
Mereka berbicara tentang rambutku yang seperti ijuk.
Mereka berbicara tentang tanganku yang seperti dahan.
Mereka berbicara tentang bibirku yang seperti rekahan tanah kering.
Mereka bicara tentang mataku yang seperti danau keruh.
Mereka bicara tentang punggungku yang seperti batu gunung.
Mereka bicara tentang hidungku yang seperti buah pir.
Mereka bicara, mereka bicara hanya tentang aku.
Semalaman.
Dan hanya memburukiku.
Cemara…
Mengapa kuberhenti disini?
Mengapa?
Hanya karena aku takut berjalan di malam hari.
Hanya karena kusangka perjalanan harus ditempuh saat siang.
Hanya karena aku merasa sendiri.
Cemara…
Kutarik selimutku
Kutarik semua ototku,
Kuterbangun
Membangunkan kau dan teman-temanmu dari gelak-tawamu.
Bergegas
Kulanjutkan perjalanan.
Mengejar matahari
Hingga bumi jadi persegi!!!
Selamat tinggal, cemara.
Telinga dan jantung ini masih milikku.
Jl. Syekh Yusuf – 19 Desember 2009 – 11:00 pagi
yang
yang
yang membuatku risau tidak pernah orang lain tetapi sekedar sebilah jiwa yang berkarat dan tumpul; tak mampu lagi mengiris kaca yang harus dibelah.
yang membuatku gusar tidak pernah orang lain tetapi sekedar sepercik api yang tiba-tiba hampir mati; ditiup angin semilir lalu membakar mulut yang menyumbangkan udara.
yang membuatku tenang juga tidak pernah diamnya para munafik melainkan ketika aku menerima dengan segenap hatiku celaan dan sindiran yang menyesaki hati mereka.
yang akan kutempuh tak kan kubenahi hanya karena tak sesuai dengan suara yang masuk ke telinga badanku.
yang ditujukan untuk hidup hakikiku saja yang tak kuabaikan.
amiiin…
I’m not afraid if I am different from you all. This is it.
I dedicate this poem to myself who is still searching for myself and to my friends who have been my light in the dark. Thanks to you all J
November 12, 2009 – siang
SOEMPAH LOE PEMOEDA?

SOEMPAH LOE PEMOEDA?
Mengabadikan Soempah Pemoeda secara pribadi dan sederhana walau tertunda
Setelah lewat beberapa hari saya baru merasakan krenteking ati (gerakan hati, Bahasa Jawa) untuk mengabadikan peristiwa Soempah Pemoeda dalam tulisan sederhana seperti biasa. Jujur, hilangnya rasa kepedulian terhadap sejarah Indonesia serasa menebal akhir-akhir ini. Perasaan melu andarbeni (rasa memiliki, Bahasa Jawa) terhadap bangsa ini serasa menipis. Dan, maaf saya tak malu mengakuinya karena justru kesadaran inilah akan menjadi bahan bakar yang menyalakan semangat kembali kepada cinta Indonesia sewajarnya saja.
Bermula dari kelupaan isi Sumpah Pemuda. Bagaimana bisa lupa bunyi “mantra sakral” yang telah bertahun terpatri seperti prasasti batu fosil? Ternyata saya kalah dengan Wikipedia yang bisa mengingat secara lengkap versi asli dan EYD.
Sumpah Pemuda versi orisinal:
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
(dari Wikipedia)
Ada tiga elemen penting yang diikat dalam sumpah keramat tersebut:
- Tumpah darah – tanah air Indonesia
- Bangsa – bangsa Indonesia
- Bahasa – bahasa Indonesia
Ada pemuda unggulan tahun 1920-an yang suka berkorespondensi lalu sepakat untuk bersama-sama memahami makna tumpah darah, bangsa dan bahasa. Tak begitu penting saya ungkapkan siapa saja mereka karena sumber lain jauh lebih akurat daripada pengetahuan saya tentang peristiwa tersebut; dan lagi para pemuda itu sekarang tak muda lagi – tak terlalu bernafsu untuk kita ingat jasanya… J
Tumpah darah, identik dengan tempat kelahiran. Apakah Anda lahir di bagian NKRI? Jika ya, apakah Anda mengakuinya sebagai tanah tumpah darah? Atau kalau Anda tidak lair ceprot (sejak lahir, Bahasa Jawa) di tanah Nusantara, apakah ada rasa bahwa Indonesia adalah tanah air-mu? Tanah air ini membuka kesempatan bagi orang yang tidak lahir di Indonesia tetapi memiliki komitmen untuk mencintai kekayaan alam dan budaya Indonesia. Banyak lho orang “luar” yang boyongan dan menetap sampai mati disini. Bahkan di kantor Aminef saya pernah bertemu seorang profesor yang bahasa Jawanya lebih mlipis (halus, Bahasa Jawa) karena sudah bertahun-tahun tinggal di Jogjakarta dan mengakui pulau ini sebagai negerinya. Beliau merasa dihargai di tanah gudangnya simbol ini.
Jadi tak aneh jika banyak yang pindah kewarganegaraan karena memang di tanah tumpah darah ini penghargaan tidak dilakukan dengan benar. Coba sebut nama Anggun C. Sasmi. Dia pindah karena ingin menggapai karir yang lebih cemerlang dan itu sangat erat hubungannya dengan apresiasi seni untuknya. Belum lama ini ada sekelompok ilmuwan kita yang memilih berdomisili diluar tanah tumpah darahnya karena bermasalah dengan pengakuan dan penghargaan juga.
Kalau sudah main pindah-pindah begini, apakah pertanda cinta tumpha darah/tanah ari berkurang? Entahlah, Anda punya standar tersendiri untuk memberikan penilaian.
Bangsa
Dengan sangat menyesal saya mengaku bahwa kata “bangsa” sangat luas jangkauannya. Kata ini juga berkaitan erat dengan kata wangsa. Ijinkan saya membuat semacam daftar yang mengarahkan Anda sekalian kepada pengertian yang berbeda-beda terhadap kata bangsa.
– Bangsa Indonesia
Sekelompok orang yang dinaungi oleh sebuah negara bernama Indonesia
– Bangsa Amerika
Sekelompok orang yang dinaungi oleh (mungkin) sebuah negara yang bernama United States of America atau bisa juga orang-orang yang bernaung dibawah panji bernama Benua Amerika.
– Bangsa Yahudi
Bisa saja mengacu pada suku Yahudi atau agama Yahudi
– Wangsa Syailendra
Sebuah keluarga yang berkuasa di sebuah wilayah; wangsa memiliki makna paralel dengan dinasti atau keluarga.
– Bangsawan (bangsa+wan)
Anggota keluarga priyayi/penguasa feodal mengklaim diri mereka linuwih (lebih, Bahasa Jawa) dibanding kelompok selainnya. Saya masih bertanya-tanya mengapa ada segolongan orang disebut (menyebut dirinya) bangsawan. Apakah mereka mempunyai kriteria sebagai orang yang berbangsa? Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki gelar bangsawan? Apakah yang disebut terakhir ini tidak berbangsa? Saya lebih suka menyimpulkan bahwa bangsawan adalah orang-orang yang dianggap memiliki martabat tinggi. Jadi kalau Anda tidak termasuk orang yang bergelar bangsawan, bersiaplah bersedih karena Anda tidak akan termasuk dalam bangsa apapun ha ha ha…
– Bangsane kewan (kewan: hewan dalam Bahasa Jawa)
Sementara orang mentahbiskan bangsawan sebagai akronim dari bangsane kewan. Akronim plesetan ini secara siluman muncul sebagai sindiran pada para bangsawan yang tingkahnya seperti binatang; tak layak dijadikan anutan bagi golongan dibawahnya. Nah looo…
Seberapa besar rasa kebangsaan Anda? Apakah Anda bangga hanya karena bukan menjadi orang berkewarganegaraan selain Indonesia? Ataukah ada yang lebih membuat Anda merasa perlu menjaga kebangsa-Indonesiaan Anda? Apa itu? Apakah Anda sudah merasa menjadi keluarga besar Indonesia? Jika ya, atas alas an apa? Jika tidak mengapa?
Bahasa – orang bisu pun punya bahasa. Mereka berkomunikasi dengan isyarat yang telah disepakati bersama dan membuat mereka saling memahami. Apakah Bahasa Indonesia telah menjadi alat komunikasi? Tentunya jawabnya sudah; sudah semakin banyak penduduk Indonesia yang menggunakan bahasa nasional ini sebagai alat komunikasi sehari-hari. Di daerah pelosok tertentu kemampuan berbahasa Indonesia menjadi tolok ukur bergengsinya sebuah keluarga. Dulu; duluuuuu sekali, keluarga saya termasuk dalam golongan yang punya akses cukup luas dan besar karena kami bisa berbahasa Indonesia dengan lancar ha ha ha…
Di sisi lain bahasa bisa dipahami bukan sebagai sekedar alat komunikasi. Jikalau kata bahasa ini kita arahkan kepada definisi “kemampuan kita dipahami dan memahami sebagai sebuah entitas”, maka ada baiknya keahlian berkomunikasi kita sebagai Indonesia perlu dikaji dan diuji lagi. Apakah kita mudah dicirikan sebagai orang Indonesia? Apakah kita dengan gamblang menampilkan sosok Indonesia kita? Apakah kita dengan rela memahami saudara sesama Indonesia? Apakah kita dengan rela dipahami sebagai Indonesia? Apakah kita mau dan mampu memperkenalkan diri kita sebagai sosok unik Indonesia. Atau kita sendiri masih bingung terhadap perlunya memahami dan dipahami sebagai Indonesia?
Atau sebaliknya, kita berusaha menyamarkan Indonesia dengan budaya tamu sehin
gga dengan mudah orang akan memberikan predikat: Islam Indonesia, Islam Jawa, Indonesia Jawa, dll…
Duh, Mak… ternyata Soempah Pemoeda ini telah membuat saya bertanya-tanya apakah saya pantas menjadi keturunan para “Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll”? Mereka telah rela melupakan keberagaman mereka untuk berdiri bersama demi sumpah (tanpa serapah) untuk mengakui satu-nya Indonesia. Satu-nya Indoensia tak membuat mereka harus seragam. Lihat foto diatas: bajunya pun beda, kulitnya pun beda, agamanya pun beda, suku berbeda pula, status ekonomi dan sosial bisa jadi njomplang (tidak sama) dan saya yakin mereka secara pribadi memiliki agenda yang mesti mereka korbankan demi berkumpulnya mereka. Jadi apakah gerangan yang “memaksa” mereka untuk menjadi satu Indonesia di titik tersebut?
Satunya Indonesia menurut saya adalah ketika orang-orang Indonesia merasa bahwa bumi Indonesia merupakan pijakan kakinya, yang membuatnya bergetar ketika ditayangkan gambarnya; baik itu gambar penuh haru biru kesukaan atau kedukaan. Apakah Anda merasakan hatimu bergetar jika memandang alam lokal Indonesia yang indahnya (bisa saja) kalah dengan alam negeri lain? Dan, apakah bencana di wilayah Indonesia seberang sana mampu menggugah kepedihan hatimu?
Satunya Indonesia bisa juga ketika dengan suka rela beberapa saat lalu kita mengenakan batik secara serentak untuk menunjukkan (pada siapa?) bahwa kita semua peduli dan cinta batik sebagai kekayaan kita yang sempat di-klaim tetangga. Lalu suatu saat kita dengan bangga mengakui secara internasional bahwa wayang sebagai warisan budaya kita walaupun kalau disuruh nonton wayang semalam suntuk pasti nge-les melulu.
Satunya Indonesia juga ketika para WNI di luar negeri memperingati Kemerdekaan RI 17 Agustus dengan lomba balap karung dan makan krupuk di kantor kedutaan atau konjen negara masing-masing; juga ketika kita bersorak-sorak menyemangati Liem Swie King sedang bertanding badminton merebut Piala Thomas.
Tapi kok saya nggak terlalu tertarik ngomong politik ya… secara politis Indonesia dijubeli oleh para oportunis yang menunggangi rakyatnya demi kepentingan dan tujuan mereka. Ooooh… dalam hal ini Indonesia sungguh terpecah-belah dan tak mudah dipahami walau masih tetap dicintai oleh penduduknya dengan sisa-sisa kepercayaannya.
Mulut saya sudah berbusa kalau harus membaca tulisan ini untuk Sudara sekalian. Tumpah darah/ tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia memiliki kekuatan magis menggerakkan tiap kutub magnet jiwa yang beragam menuju satu pusat kutub kesatuan. Kesepakatan untuk men-SATU itu tak cukup berarti jika hanya sekedar nangkring di tataran abstrak. Buat apa bersumpah jika hanya sekedar menipu khalayak? Buat apa berjanji kalau tak ditepati? Untungnya hanya di kepercayaan sesaat, selanjutnya hujatan datang silih berganti.
Ada satu hal yang saya yakin pasti membuat berbagai jenis sumpah membawa TUAH; yaitu: kuatnya tekad untuk mencapai tujuan sumpah tersebut. Sesuatu yang membuat semua pusaran dalam dada-dada itu menjadi karya nyata untuk BERBUAT demi merubah keadaan yang tak dapat diterima tersebut. Bukankah para pemoeda dulu bersumpah karena resah dengan kondisi yang tak kunjung membaik?
Jadi apa dong relevansi Sumpah Pemuda dengan kesadaran pribadi saya?
Saya bertanya pada diri sendiri dengan bahasa serampangan berikut:
- Sumpah lu pemuda? Kalau ya, mana semangatmu?
- Atau lu udah pada tua? Kalau tidak, kenapa kamu loyo?
- Atau mungkin lu masih kanak-kanak? Kalau bukan, mengapa kamu cengengesan melulu?
6 Oktober 2009 – 10:44 malam – Kasasi IV
SOEMPAH LOE PEMOEDA?

SOEMPAH LOE PEMOEDA?
Mengabadikan Soempah Pemoeda secara pribadi dan sederhana walau tertunda
Setelah lewat beberapa hari saya baru merasakan krenteking ati (gerakan hati, Bahasa Jawa) untuk mengabadikan peristiwa Soempah Pemoeda dalam tulisan sederhana seperti biasa. Jujur, hilangnya rasa kepedulian terhadap sejarah Indonesia serasa menebal akhir-akhir ini. Perasaan melu andarbeni (rasa memiliki, Bahasa Jawa) terhadap bangsa ini serasa menipis. Dan, maaf saya tak malu mengakuinya karena justru kesadaran inilah akan menjadi bahan bakar yang menyalakan semangat kembali kepada cinta Indonesia sewajarnya saja.
Bermula dari kelupaan isi Sumpah Pemuda. Bagaimana bisa lupa bunyi “mantra sakral” yang telah bertahun terpatri seperti prasasti batu fosil? Ternyata saya kalah dengan Wikipedia yang bisa mengingat secara lengkap versi asli dan EYD.
Sumpah Pemuda versi orisinal:
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
(dari Wikipedia)
Ada tiga elemen penting yang diikat dalam sumpah keramat tersebut:
- Tumpah darah – tanah air Indonesia
- Bangsa – bangsa Indonesia
- Bahasa – bahasa Indonesia
Ada pemuda unggulan tahun 1920-an yang suka berkorespondensi lalu sepakat untuk bersama-sama memahami makna tumpah darah, bangsa dan bahasa. Tak begitu penting saya ungkapkan siapa saja mereka karena sumber lain jauh lebih akurat daripada pengetahuan saya tentang peristiwa tersebut; dan lagi para pemuda itu sekarang tak muda lagi – tak terlalu bernafsu untuk kita ingat jasanya… J
Tumpah darah, identik dengan tempat kelahiran. Apakah Anda lahir di bagian NKRI? Jika ya, apakah Anda mengakuinya sebagai tanah tumpah darah? Atau kalau Anda tidak lair ceprot (sejak lahir, Bahasa Jawa) di tanah Nusantara, apakah ada rasa bahwa Indonesia adalah tanah air-mu? Tanah air ini membuka kesempatan bagi orang yang tidak lahir di Indonesia tetapi memiliki komitmen untuk mencintai kekayaan alam dan budaya Indonesia. Banyak lho orang “luar” yang boyongan dan menetap sampai mati disini. Bahkan di kantor Aminef saya pernah bertemu seorang profesor yang bahasa Jawanya lebih mlipis (halus, Bahasa Jawa) karena sudah bertahun-tahun tinggal di Jogjakarta dan mengakui pulau ini sebagai negerinya. Beliau merasa dihargai di tanah gudangnya simbol ini.
Jadi tak aneh jika banyak yang pindah kewarganegaraan karena memang di tanah tumpah darah ini penghargaan tidak dilakukan dengan benar. Coba sebut nama Anggun C. Sasmi. Dia pindah karena ingin menggapai karir yang lebih cemerlang dan itu sangat erat hubungannya dengan apresiasi seni untuknya. Belum lama ini ada sekelompok ilmuwan kita yang memilih berdomisili diluar tanah tumpah darahnya karena bermasalah dengan pengakuan dan penghargaan juga.
Kalau sudah main pindah-pindah begini, apakah pertanda cinta tumpha darah/tanah ari berkurang? Entahlah, Anda punya standar tersendiri untuk memberikan penilaian.
Bangsa
Dengan sangat menyesal saya mengaku bahwa kata “bangsa” sangat luas jangkauannya. Kata ini juga berkaitan erat dengan kata wangsa. Ijinkan saya membuat semacam daftar yang mengarahkan Anda sekalian kepada pengertian yang berbeda-beda terhadap kata bangsa.
– Bangsa Indonesia
Sekelompok orang yang dinaungi oleh sebuah negara bernama Indonesia
– Bangsa Amerika
Sekelompok orang yang dinaungi oleh (mungkin) sebuah negara yang bernama United States of America atau bisa juga orang-orang yang bernaung dibawah panji bernama Benua Amerika.
– Bangsa Yahudi
Bisa saja mengacu pada suku Yahudi atau agama Yahudi
– Wangsa Syailendra
Sebuah keluarga yang berkuasa di sebuah wilayah; wangsa memiliki makna paralel dengan dinasti atau keluarga.
– Bangsawan (bangsa+wan)
Anggota keluarga priyayi/penguasa feodal mengklaim diri mereka linuwih (lebih, Bahasa Jawa) dibanding kelompok selainnya. Saya masih bertanya-tanya mengapa ada segolongan orang disebut (menyebut dirinya) bangsawan. Apakah mereka mempunyai kriteria sebagai orang yang berbangsa? Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki gelar bangsawan? Apakah yang disebut terakhir ini tidak berbangsa? Saya lebih suka menyimpulkan bahwa bangsawan adalah orang-orang yang dianggap memiliki martabat tinggi. Jadi kalau Anda tidak termasuk orang yang bergelar bangsawan, bersiaplah bersedih karena Anda tidak akan termasuk dalam bangsa apapun ha ha ha…
– Bangsane kewan (kewan: hewan dalam Bahasa Jawa)
Sementara orang mentahbiskan bangsawan sebagai akronim dari bangsane kewan. Akronim plesetan ini secara siluman muncul sebagai sindiran pada para bangsawan yang tingkahnya seperti binatang; tak layak dijadikan anutan bagi golongan dibawahnya. Nah looo…
Seberapa besar rasa kebangsaan Anda? Apakah Anda bangga hanya karena bukan menjadi orang berkewarganegaraan selain Indonesia? Ataukah ada yang lebih membuat Anda merasa perlu menjaga kebangsa-Indonesiaan Anda? Apa itu? Apakah Anda sudah merasa menjadi keluarga besar Indonesia? Jika ya, atas alas an apa? Jika tidak mengapa?
Bahasa – orang bisu pun punya bahasa. Mereka berkomunikasi dengan isyarat yang telah disepakati bersama dan membuat mereka saling memahami. Apakah Bahasa Indonesia telah menjadi alat komunikasi? Tentunya jawabnya sudah; sudah semakin banyak penduduk Indonesia yang menggunakan bahasa nasional ini sebagai alat komunikasi sehari-hari. Di daerah pelosok tertentu kemampuan berbahasa Indonesia menjadi tolok ukur bergengsinya sebuah keluarga. Dulu; duluuuuu sekali, keluarga saya termasuk dalam golongan yang punya akses cukup luas dan besar karena kami bisa berbahasa Indonesia dengan lancar ha ha ha…
Di sisi lain bahasa bisa dipahami bukan sebagai sekedar alat komunikasi. Jikalau kata bahasa ini kita arahkan kepada definisi “kemampuan kita dipahami dan memahami sebagai sebuah entitas”, maka ada baiknya keahlian berkomunikasi kita sebagai Indonesia perlu dikaji dan diuji lagi. Apakah kita mudah dicirikan sebagai orang Indonesia? Apakah kita dengan gamblang menampilkan sosok Indonesia kita? Apakah kita dengan rela memahami saudara sesama Indonesia? Apakah kita dengan rela dipahami sebagai Indonesia? Apakah kita mau dan mampu memperkenalkan diri kita sebagai sosok unik Indonesia. Atau kita sendiri masih bingung terhadap perlunya memahami dan dipahami sebagai Indonesia?
Atau sebaliknya, kita berusaha menyamarkan Indonesia dengan bu
daya tamu sehingga dengan mudah orang akan memberikan predikat: Islam Indonesia, Islam Jawa, Indonesia Jawa, dll…
Duh, Mak… ternyata Soempah Pemoeda ini telah membuat saya bertanya-tanya apakah saya pantas menjadi keturunan para “Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll”? Mereka telah rela melupakan keberagaman mereka untuk berdiri bersama demi sumpah (tanpa serapah) untuk mengakui satu-nya Indonesia. Satu-nya Indoensia tak membuat mereka harus seragam. Lihat foto diatas: bajunya pun beda, kulitnya pun beda, agamanya pun beda, suku berbeda pula, status ekonomi dan sosial bisa jadi njomplang (tidak sama) dan saya yakin mereka secara pribadi memiliki agenda yang mesti mereka korbankan demi berkumpulnya mereka. Jadi apakah gerangan yang “memaksa” mereka untuk menjadi satu Indonesia di titik tersebut?
Satunya Indonesia menurut saya adalah ketika orang-orang Indonesia merasa bahwa bumi Indonesia merupakan pijakan kakinya, yang membuatnya bergetar ketika ditayangkan gambarnya; baik itu gambar penuh haru biru kesukaan atau kedukaan. Apakah Anda merasakan hatimu bergetar jika memandang alam lokal Indonesia yang indahnya (bisa saja) kalah dengan alam negeri lain? Dan, apakah bencana di wilayah Indonesia seberang sana mampu menggugah kepedihan hatimu?
Satunya Indonesia bisa juga ketika dengan suka rela beberapa saat lalu kita mengenakan batik secara serentak untuk menunjukkan (pada siapa?) bahwa kita semua peduli dan cinta batik sebagai kekayaan kita yang sempat di-klaim tetangga. Lalu suatu saat kita dengan bangga mengakui secara internasional bahwa wayang sebagai warisan budaya kita walaupun kalau disuruh nonton wayang semalam suntuk pasti nge-les melulu.
Satunya Indonesia juga ketika para WNI di luar negeri memperingati Kemerdekaan RI 17 Agustus dengan lomba balap karung dan makan krupuk di kantor kedutaan atau konjen negara masing-masing; juga ketika kita bersorak-sorak menyemangati Liem Swie King sedang bertanding badminton merebut Piala Thomas.
Tapi kok saya nggak terlalu tertarik ngomong politik ya… secara politis Indonesia dijubeli oleh para oportunis yang menunggangi rakyatnya demi kepentingan dan tujuan mereka. Ooooh… dalam hal ini Indonesia sungguh terpecah-belah dan tak mudah dipahami walau masih tetap dicintai oleh penduduknya dengan sisa-sisa kepercayaannya.
Mulut saya sudah berbusa kalau harus membaca tulisan ini untuk Sudara sekalian. Tumpah darah/ tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia memiliki kekuatan magis menggerakkan tiap kutub magnet jiwa yang beragam menuju satu pusat kutub kesatuan. Kesepakatan untuk men-SATU itu tak cukup berarti jika hanya sekedar nangkring di tataran abstrak. Buat apa bersumpah jika hanya sekedar menipu khalayak? Buat apa berjanji kalau tak ditepati? Untungnya hanya di kepercayaan sesaat, selanjutnya hujatan datang silih berganti.
Ada satu hal yang saya yakin pasti membuat berbagai jenis sumpah membawa TUAH; yaitu: kuatnya tekad untuk mencapai tujuan sumpah tersebut. Sesuatu yang membuat semua pusaran dalam dada-dada itu menjadi karya nyata untuk BERBUAT demi merubah keadaan yang tak dapat diterima tersebut. Bukankah para pemoeda dulu bersumpah karena resah dengan kondisi yang tak kunjung membaik?
Jadi apa dong relevansi Sumpah Pemuda dengan kesadaran pribadi saya?
Saya bertanya pada diri sendiri dengan bahasa serampangan berikut:
- Sumpah lu pemuda? Kalau ya, mana semangatmu?
- Atau lu udah pada tua? Kalau tidak, kenapa kamu loyo?
- Atau mungkin lu masih kanak-kanak? Kalau bukan, mengapa kamu cengengesan melulu?
6 Oktober 2009 – 10:44 malam – Kasasi IV





You must be logged in to post a comment.