MEMBATIK LAGI

MEMBATIK LAGI

Sudah setahun lebih saya tidak memegang canting. Selama itu saya berkutat dengan kesibukan yang tidak bisa saya ungkapkan secara terperinci. Yang pasti selama kurun waktu itu saya membiarkan kompor kecil saya kering sumbunya, wajan tembaga saya penuh dengan malam beku dan canting saya buntu sama sekali.

Saya ingin membatik lagi. Dulu saya membatik bisa sampai pagi. Saya tidak peduli walaupun saya harus membatik di teras luar supaya asap tidak mengganggu pernafasan di dalam ruangan. Saya tidak peduli bahwa malam itu bisa saja maling celana sedang gentayangan,. Saya tidak peduli pada makhluk-makhluk lain yang sejatinya sedang menggoda saya dengan rupa yang berbeda-beda, dari tikus, cicak, kecoa, laba-laba, semut merah dan yang berpakaian compang-camping atau berpakaian kerajaan menembus dinding… Apa itu ya…

Karya batik saya sudah ada beberapa lemabr baik yang telah sempurna proses pembuatannya maupun yang belum diwarnai atau belum dicanting sebagian atau baru dipola. Semua itu membuat saya terpacu untuk menyelesaikan tugas saya. Tugas saya adalah menyempurnakan karya saya. Saya tidak mau karya saya terbengkalai sebelum purna usia. Apapun tugas dan karya saya yang belum tuntas saya anggap hutang. Dan hutang saya harus terbayar sebelum saya meninggal. Batik saya harus jadi dalam waktu dekat.

Satu batik yang akan segera saya kerjakan adalah sebuah selendang sutera yang ingin saya persembahkan pada ibu saya Lebaran ini. Cantik sekali polanya. Saya membayangkan alangkah cantiknya ibu saya mengenakan selendang sutera pada saat shola Id.

Ok, yang penting sekarang saya telah memiliki waktu lagi untuk membatik. Membatik seperti tidka jauh berbeda dengan kegemaran saya menggambar dan melukis namun jujur adanya membatik membutuhkan kesabaran ekstra. Saya tak heran jika setahun ini saya merasa kesabaran saya tidak sebagus ketika saya aktif membatik.

Ternyata kesabaran bukanlah sebuah kata benda yang dapat kita peroleh begitu saja. Kesabaran adalah buha latihan bersabar dalam kehidupan sehari-hari.

Duh, saya ingin membatik lagi…

GELANG DI PERGELANGAN TANGAN

GELANG DI PERGELANGAN TANGAN

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat dan membahas keberadaan gelang kristal yang melingkar di pergelangan tangan beberapa orang terkenal yang dia jumpai.

Kata karib saya ini orang-orang tersebut adalah orang yang akan “mentransfer” energi positif mereka ke kristal-kristal yang terangkai menjadi gelang tersebut. Jadi pada kristal itulah mereka “menyimpan cadangan” energi positif mereka. Ide yang brilian.

Saya sangat tertarik utnuk mempraktikkannya mendapati bahwa saya adalah orang yang secara sadar setiap saat belum mampu menyelubungi tubuh saya dengan energi positif. Saya perlu menimbun energi positif yang datang pada saat tertentu saja ini pada sebuah benda sehingga saya bisa “manarik tunai” jika saya kehausan energi positif.

Sahabat saya ini tidak menyebutkan secara pasti apa jenis kristal yang dironce menjadi gelang tersebut. Maka dengan kreativitas dan knowledge saya sendiri saya meronce batu yang selama ini telah saya kenal dan saya punya.

Saya memiliki 2 gelang batu muliayaitu: satu roncean colour stones dan satu lagi amethyst diselingi mutiara air tawar. Batu-batu mulia tersebut berasal dari Kalimantan.

GELANG AMETHYST

Amethyst disebut juga batu kecubung yang saya rangkai berwarna ungu muda hingga ungu tua. Karena beberapa hal saya hanya bisa mendapatkan serpihan-serpihan kecil yang sebenarnya merupakan sampah-sampah kecubung dari kecubung besar yang diasah dengan ukuran besar dan utuh. Serpihan kecubung itu saya selingi dengan 8 butir mutiara air tawar kecil. Saya meronce gelang amethyst ini dengan perhitungan yang cukup njelimet. Saya memilih amethyst karena saya adalah Virgo yang disarankan memakai amethyst sebagai gemstone sesuai karakternya. Amethyst adalah lambang keanggunan, keberuntungan. Lalu mutiara adalah tumpukan residu yang membatu karena ketabahan sang kerang menerima “cobaan” eksternal. Media untuk meroncenya adalah tali senar yang melambangkan kekukuhan yang bening dan lembut. Pembukanya adalah logam berwarna perak yang melambangkan kesederhanaan.

Gelang ini tidak saya maksudkan untuk memiliki daya magis keberuntungan atau supaya saya terlihat anggun. Gelang ini bukan pengasihan. Definisi-definisi dari sifat dan pamor batu diatas saya rangkai menjadi gelang yang diharapkan menjadi perlambang yang selalu saya ingat ketika saya memandang dan memakainya. Saya memvisualisasikan permintaan untuk selalu tampil anggun (tentunya dengan berdandan secara wajar setiap hari), beruntung dan selalu tabah menjalani segala cobaan yang menempa saya. Saya memilih jumlah 8 untuk mutiara saya karena angka 8 adalah angka dinamis. Dimana anda menentukan ujung angka 8 maka disitulah Anda memasang ujung dari yang lainnya. 8 mutiara adalah kerinduan saya pada Yangawal dan Yangakhir. Sedangkan tali senar dan logam perak adalah perwujudan doa saya untuk senantiasa dikaruniai ketegaran dan disadarkan akan keserhanaan dalam hidup saya.

GELANG COLOURSTONES

Colour stones dikabarkan dapat menampilkan aura sang pemilik. Saat pemiliknya sedang bad-tempered maka warnanya menjadi gelap. Sedangkan jika sang pemilik sedang tenang maka warna-warna yang ditampilkannya juga menjadi lembut. Warna-warna menjadi terang ketika sang pemakai hatinya ringan gembira. Ada 18 butir colourstones di gelang saya, warnanya bermacam-macam: merah, oranye, kuning, coklat, putih tranparan, putih keruh, hijau lumut, hijau tua dan campuran warna yang tak mampu saya definisikan dengan kata-kata. Tali yang saya pakai adalah senar lentur.

Seperti gelang amethyst-mutiara-senar-perak saya, gelang colourstones saya juga memiliki arti dari permintaan saya kepada Tuhan. Batu-batu warna itu adalah perwujudan kejujuran saya dalam menampilkan rasa dan ide saya. Tidakkah Anda ingin menjadi jujur? Saya ingin. Dan saya ingin menjadi jujur tanpa menyakiti orang lain. Colourstones akan mengungkapkan kemarahan saya namun warna-warnanya tetap cantik dan alamiah. Warna-warna menghiasi emosi saya dengan keindahan. Perwujudan warna batu tersebut adalah perlambang dari emotion management saya. Mengapa berjumlah 18? Sesungguhnya karena memang dengan 18 butir batu itulah pergelangan saya terukur tepat. Angka 18 juga mengingatkan saya pada sebuah surat dari sebuah kitab yang selama ini menjadi panduan rohani saya; surat ke-18 berjudul Gua. Gua yang terisi oleh para pemuda dan hawan kesayangan mereka yang terselamatkan dari kegelapan masanya, mereka ditidurkan selama beratus tahun untuk menemukan kegemilangan jaman baru. Doa saya adalah saya dibiarkan “mati” alias “tidak sadar” akan penderitaan saya. Saya ingi menjalani hidup ini dalam keadaan “mati” atau “tidur sesaat” sebelum kemudian terbangun pada saatnya. Dan pada saat saya bangun dari “mati” saya, saya mendapati bahwa ilmu yang saya bawa tidur ternyata sangat cocok dengan jaman baru tersebut. Dan mengap
a talinya senar lentur? Karena saya ingin menjadi orang yang membawa ilmu di hadapan kehidupan dengan jalan yang lentur, bukan dengan jalan menghakimi berdasarkan dalih dan dalil yang kaku lagi menyakitkan.

Dan, kesimpulan saya mengapa gelang dan bukan perhiasan yang lain? Karena gelang adalah sebuah lingkaran yang tak terputus ketika dipakaikan pada pergelangan tangan. Pergelangan tangan adalah “letak” kehidupan. Di film-film para dokter merasakan tanda kehidupan di pergelangan tangan lho… jadi dengan memakaikan gelang yang penuh makna pada pergelangan tangan juga mengandung harapan bahwa saya mengingat perlambang tersebut selama saya masih berkehidupan.

Terima kasih pada sahabat saya yang telah menginspirasikan pemakaian gelang kristal ini. Gelang saya niscaya bukan hanya cadangan energi. Gelang saya adalah perwujudan gaya dan tujuan hidup saya.

Mau beli gelang? He he he…

GURU SAYA 1

GURU SAYA – 1

Sepuluh tahun yang lalu saya mengikuti kuliah Sejarah Pemikiran Modern. Dosennya adalah seorang wanita Madura yang kritis dan adil. Kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, seringkali bikin mahasiswanya jengkel karena tak ada artinya alias tidak logis. Saat diam, dia berpikir sehingga kami mengira beliau melamun. Suatu hari saya merasa sangat bosan; bukan dengan mata kuliah dan pengajarnya melainkan dengan teman-teman yang berulang kali menguap menahan kantuk, teman-teman lain yang ngerumpi (termasuk ngerumpi-in Bu Dosen) dan bosan dengan kebodohan saya sendiri. Saya pun mengacungkan tangan dan bertanya.

“Silakan,” kata Bu Dosen.

“Siapa sebenarnya yang bisa disebut sebagai guru kita, Bu?”

“Yang mengajarkan tentang makna hidup.”

“Orang tua kita?”

“Bisa.”

“Bagaimana kalau orang tua tidak bisa mengajari anaknya pelajaran hidup?”

“Berarti memang dia tidak bisa disebut guru bagi anak-anaknya.”

“Bagaimana kalau ternyata Ibu belajar tentang hidup justru kepada saya?”

“Maka Anda adalah guru saya.”

“Bagaimana kalau saya ternyata tidak belajar pada siapapun?”

Bu Dosen diam. Para mahasiswa mengomel lirih karena khawatir diskusi ini akan panjang lebar menghabiskan energi mereka. Saya merasa bersalah membuat teman saya terancam lemparan pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawabnya sendiri tapi dia lebih menginginkan para pendengarnya aktif bicara (dengan berpikir sebelummnya tentunya). Saya merasakan panas cubitan sahabat di kiri kanan saya sebagai tanda protes.

“Apa maksud Anda tidak belajar pada siapapun? Apakah Anda benar-benar tidak belajar? Atau Anda belajar namun tidak “diajari”?”

“Saya belajar tapi tidak dengan diajari.”

“Sesungguhnya metode belajar seperti itulah yang paling tepat untuk manusia. Anda ingat sebuah ajaran China yang pernah kita bahas. Aku melihat dan aku lupa. Aku mendengar dan aku lupa. Aku mengalami dan aku ingat.”

“Apakah bisa dibilang bahwa saya adalah guru bagi diri saya sendiri?”

“Apakah Anda ingin menyebutnya demikian?”

Saya bingung. Oh, Ibu Dosen, saya bertanya, jangan ditanya, batin saya pilu. Pertanyaan saya mulai menyiksa tidak hanya mahasiswa yang jumlahnya mencapai 70 orang tapi juga saya sendiri yang dirambati rasa sesal. Ruang tar ber-AC ini menjadi makin panas. Aku mendengar salah seorang merutuk “Dasar, sok pinter. Rasain sekarang bingung sendiri dihabisi Madura.”

“Tidak.’

“Jadi menurut Anda, adakah guru yang tidak kasat mata?”

Wadaw… Apa pula ini bah!

“Tidak mungkin Anda tidak belajar jika tidak ada guru. Guru tidak selalu manusia yang bisa kita berikan penghargaan karena tiap petatah-petitihnya atau tindak-tanduknya diterima sebagai makna oleh seseorang. Guru adalah fasilitator. Perantara.”

Bu Dosen diam sengaja memberi jeda bagi saya (mungkin juga bagi teman-teman) untuk merenung.

“Guru adalah perantara dari tersampaikannya makna kepada seseorang sehingga dia memahami sesuatu.

Jika Anda, Saudari Rike…”

Saya terperangah karena ternyata Bu Dosen ini tahu nama saya. Bagaimana bisa? Saya bukan mahasiswa brilian. Ah, saya tidak mau ge er, bisa saja dia mendengar secara tidak sengaja bahwa mahasiswa goblog ini bernama Rike Jokanan.

Jika Anda tidak merasa ada yang mengajari namun Anda belajar maka carilah perantara itu.”

Saya tidak ta
hu mengapa saya ingin menangis saat itu. Yang saya rasakan adalah suasana sentimentil tak beralasan. Jangan-jangan karena tahu Bu Dosen tahu nama saya ha ha ha…

Jika perantara itu tak bisa Anda definisikan, jangan khawatir. Pada saatnya Anda akan menemukan Guru tersebut. Teruslah belajar dengan metode Anda dan jangan takut untuk tersesat karena Anda memiliki guru. Jangan membayangkan perantara disini sebagai kabel yang menghantarkan listrik atau angin yang menghantarkan suara…”

Suara Bu Dosen Madura makin ringan mengipasi hati saya. Ketika bel tanda jam kuliah habis, suara sorak-sorai lega teman-teman terdengar dan dengan tenang seperti biasa Bu Dosen beruluk salam, saya duduk tertinggal masih berusaha mencari-cari makna kata-kata Bu Dosen. Saya melihat Bu Dosen tersenyum tipis pada saya sebelum meninggalkan ruangan. Teman-teman saya memaki-maki saya. Dan saya tidak juga memahami apa maksud Bu Dosen guru saya tersebut… Hingga 10 tahun kemudian.

Terima kasih Bu Dosen. Anda ternyata guru saya.

Dosen tersebut sekarang masih aktif mengajar di Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Pada saat itu beliau juga mengajar mata kuliah Kesustraan Indonesia dimana saya berkenalan dengan karya-karya Zawawi Imron.

June 29, 2008

DREAM

DOES DREAM MEAN SOMETHING?

A dream can make someone decide an important matter in life. Dream can make someone’s day gloomy until the end of another day. Dream can change someone suddenly. A dream brings smile. A dream brings cry. A dream brings anger.

Does dream really matter?

Which dream does it?

What does dream bring to you?

DIET…

DIET…

I gain weight again. It usually happens when I am very much under stressed. I compensate my stress by eating many things without stopping except when I am reaaly occupied by my drowsiness and my jobs. My weight is the indicator of my stress level. The fatter I am, the more stress I am undergoing.

I have gain 7 kilograms and I have no idea to stop my madness to eat in order to forget my big troubles. It ridiculously becomes such a heavy burden not to munch things. It is not normally called munching because I consume main course as my snacks. Meat, eggs, meatballs, cheese, rice, bread, etc… So, is it munching or craving? I don’t know much. What I need now is just a break to feel the air. I need to breathe my mind that has been so much bedazzled by the facts I have been offered by someone.

Diet…

Yeah. I need to have a diet. What kind of dietery should I choose? I want to have one extremely able to reach the ideal weight ASAP. Yes, as soon as possible. Why???

Because I am going to attend a wedding party next month. Because I have to wear my gown on that day. Because I gain weight and my gown can’t conpromise with me anymore. The zipper even stops before reaching the top of its end. Oh no… I am so fat.

What diet then? Food combining? Protein? Fat? Carbohydrate?

June 27, 2008

11:48pm

JER BASUKI MAWA BEA

JER BASUKI MAWA BEA

Orang Jawa Timur mestinya paham arti kata-kata diatas karena frase tersebut adalah semboyan wilayah Jawa Timur. Jer Basuki Mawa Bea.

Sebagai orang kelahiran Jawa Timur, walaupun ber-KTP Banten, saya sangat bangga terhadap semboyan tersebut. Begitu lugas menantang orang-orang yang pelit, begitu lantang menantang para pemalas, begitu berani menantang orang-orang yang sok ikhlas, begitu indah mewujudkan sebuah prinsip dalam kata-kata elok tanpa jumawa.

Jer Basuki Mawa Bea: Jika mau sukses harus pakai biaya. Mungkin Sudara yang tidak paham dengan adanya kata bea/biaya akan segera berasumsi bahwa orang Jawa Timur dirancang untuk matre.

Kenyataannya tidak demikian karena bea atau biaya disini tidak hanya mengacu pada uang atau materi saja melainkan segala macam cost. Ada psychological cost, financial cost, social cost dan cost-cost lain yang bermakna pengorbanan.

Apakah Anda masih ragu terhadap hebatnya semboyan Jawa Timur ini? Saya akan menantang Anda untuk memahaminya dengan cara bodo-bodoan saja karena saya tidak ahli menerangkan secara ilmiah kepada Sudara sekalian.

Kalau Anda ingin makan, apa yang Anda butuhkan? Tentu saja makanan. Dari mana makanan in Anda dapat? Disinilah Anda dituntut menanggung cost.

Kalau Anda masih bayi, ibu Anda yang menanggung cost-nya. Ibu Anda berkorban, menyusui Anda atau membelikan susu instant untuk Anda.

Kalau Anda balita, masih orang tua Anda yang menanggung cost tersebut.

Kalau Anda usia es de, maka masih orang tua Anda yang harus menanggung cost-nya. Namun jika di usia tersebut Anda adalah anak gelandangan, Anda harus berpikir ulang apakah Anda harus mengemis, mengamen, mencopet atau apalah yang dapat menghasilkan uang untuk membeli makanan atau untuk makanan itu sendiri. Jika Anda mengemis, cost-nya lebih rendah karena hanya berbekal “Mbak, bagi uangnya Mbak…. Belum makan dari setahun lalu…” Jika Anda ingin mengamen, mungkin cost-nya lebih tinggi karena Anda harus menyanyi tambah lagi kalau perlu kincringan atau gitar butut atau botol Aqua berisi kerikil. Kalau Anda mencopet, Anda harus punya skill yang lebih beresikomenentang hukum dan perlu diketahui keahlian mencopet ternyata dilembagakan dalam sebuah “kursus” plus training kilat. Ingat Oliver Twist karya Charles Dickens, Oliver, si anak kecil malang itu, harus rela di-training paksa oleh Badger, pencopet anak senior.

Kalau Anda ingin meraih karir yang sukses, ada juga cost-nya. Anda harus bekerja dengan heroik tak kenal lelah. Insya Allah, gaji Anda naik dan jabatan Anda segera melejit seperti roket. Namun ada cost lain yang harus Anda tanggung setelah sukses. Mungkin keluarga Anda akan kehilangan sebagian waktu untuk bersama Anda. Atau teman-teman sejawat Anda akan iri dan meninggalkan Anda atau yang lebih parah mereka menjegal Anda karena menginginkan kesuksesan serupa. Jangan lupa badan capek pegal-pegal, stres berat dan semacamnya menunggu Anda, usahakan badan dan pikiran tetap fresh.

Lebih-lebih lagi jika negara ini mau bangkit maka ada cost yang ditanggung oleh masing-masing pihak. Ulama, umara dan ummat mesti saling membagi tugas tanpa ada yang dibohongi, tanpa ada yang dirugikan, tanpa ada yang dikibuli. Semua orang mesti rela berkorban BUKAN dikorbankan.

Ulama, jadilah ulama yang benar. Ulama yang seakar dengan kata ilmu haruslah orang-orang yang mengungkapkan kebenaran suatu ilmu. Jika ilmu itu terbukti justru merepotkan negeri tidak perlu sungkan menyisihkannya dan memakai ilmu lain yang benar dan lurus. Orang-orang pinter ini tugasnya memintarkan umara dan ummat bukan untuk minteri (membohongi dengan kepintarannya, bahasa Jawa) ummat demi kepentingan segelintir umara atau diri sendiri. Wahai ulama, engkau bagaikan gentong atau kendi wadah air. Jika kau kotor, maka air yang diteguk oleh para manusia dahaga itu tidak mustahil beracun dan menyakiti atau membunuh mereka. Kalian tahu lebih banyak tentang urusan dosa, bukan?

Umara, jadilah umara yang benar. Umara yang seakar dengan kata amir, pemimpin haruslah orang-orang yang kemampuan leadership-nya dilandasi oleh kemurnian niat memakmurkan orang-orang yang dipimpinnya. Ibarat g
embala, dia pasti mengutamakan kepentingan ternaknya; sebelum dia menemukan lapangan berumput segar manis untuk ternaknya, sang gembala tidak semestinya duduk bersantai di bawah pohon untuk menikmati bekal dan bermain seruling. Ingat, kemungkinan ada srigala disana. Jika ternak habis dimakan srigala mungkin kau masih bisa menangis wahai gembala… Namun jika ternyata ternakmu lebih awas terhadap bahaya yang biasa menyerang mereka karena kelengahanmu yang terus menerus, maka apa yang akan kau lakukan jika srigala-srigala itu siap menerkammu? Jangan pula terlalu sering bermain tongkat pada ternakmu, mereka akan membencimu karenanya. Tongkatmu hanya untuk mendisiplinkan bukan untuk menghukum. Semua harus proporsional. Kau tidak suka diserang ternakmu sendiri bukan?

Ummat, jadilah ummat yang benar. Ummat yang bisa diartikan pengikut. Ummat bisa seumpama ternak yang di-angon sang gembala berseruling. Tak ada salahnya sedikit protes jika rumput di tanah lapang tidak lagi layak disuguhkan kepada kita namun jangan juga terlalu membandel hanya untuk kepentingan sendiri. Janganlah indahnya bunga cantik kesukaan pribadimu membuatmu mberot (tak mau jalan, bahasa Jawa) tak mau mengikuti rombongan yang sedang mengarah ke telaga sejuk di di tepi padang rumput yang hijau segar dan manis. Biarlah, jika nanti gembala kita tidak becus, kita pilih saja gembala lain, kalau mungkin dari kalangan ternak juga. Siapa tahu dia lebih mengerti kita.

Kok saya jadi sok main sanepan (simbolisasi, bahasa Jawa) politik begini ya he he he…

Ok, kembali pada Jer Basuki Mawa Bea; bea adalah biaya adalah cost adalah pengorbanan adalah resiko adalah consequences, yang harus Anda tanggung, yang terlahir bersama langkah yang Anda ambil setiap tarikan nafas kehidupan Anda.

Saya bangga menjadi orang Jawa Timur yang berani mewujudkan Jer Basuki Mawa Bea. Saya telah dan selalu menerima apapun resiko yang harus saya hadapi dari apapun yang telah saya lakoni (lakukan, bahasa Jawa). Dan, Anda pun harus siap dengan apa yang telah Anda lakukan kepada orang Jawa Timur yang paham benar dan nyarujuki (menyetujui, bahasa Jawa) semboyan tersebut. Jangan heran kalau Anda akan bangkrut pada akhirnya karena “mengingkari” apa yang telah Anda setujui diawal sebuah akad dengan seorang Jawa Timur yang ber-Jer-Basuki-Mawa-Bea. Cost dari ketidakjujuran dan pengingkaran Anda adalah cost terberat yang harus Anda tanggung.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!

June 12, 2008

GARAGE SALE

GARAGE SALE

Sudah sejak lama saya pengen mengadakan garage sale di suatu tempat yang peta perekonomiannya kurang memadai. Saya membayangkan barang-barang bekas, yang saya kumpulkan dari para handai-taulan dan teman-teman secara cuma-cuma, dipajang sedemikian rupa sehingga para pembeli tergiur untuk membelinya. Harga yang saya pasang pasti murah.

Tape recorder bekas harga 50ribu.

Laptop bag bandrol 20ribu.

Kipas angin bekas dapat dibeli dengan harga 25ribu

Wajan tembaga 5ribu.

Handbag 10ribu.

Charger hape 5ribu.

BARANG PILIHAN HARGA BANTINGAN!

Baju segala model 7ribu5ratus.

Cermin dinding 10ribu.

Kompor listrik mini 30ribu.

Barang-barang mini 2ribu5ratusan.

Dll…

Garage sale! Garage sale! *teriak gaya penjual bak anti bocor*

Ayo harga murah untuk yang butuh dan cekak uangnya! *teriak gaya pedagang mainan*

Saya sudah mengumpulkan barang-barang tersebut. Saya sudah menghubungi sahabat-sahabat saya untuk mengumpulkan barang-barang bekas mereka yang masih sangat layak dan mereka relakan untuk dibeli dengan harga murah. Mereka antusias. Sangat antusias, melebihi saya pencetus idenya.

Tapi kapan ya bisa terlaksana? Teman-teman saya sudah sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Saya ingin bergerak sendiri tapi saya juga sibuk dengan hidup saya. Saya jadi takut kalau-kalau waktu akan menjadi pelit karena saya perhitungan membelanjakannya demi sesama saya.

Garage sale, garage sale… *mendesah a la pecatur tingkat er te kalah tanding*

June 26, 2008

10:33WIB

MIMPI-MIMPIKU BISA TERBANG, BISAKAH MEMBAWA HIDUPKU SERTA?

MIMPI-MIMPIKU BISA TERBANG, BISAKAH MEMBAWA HIDUPKU SERTA?

Sekarang sedang banyak digelar di hadapan kita tentang pentingnya memvisualisasikan mimpi-mimpi kita secara detil untuk merangsang alam bawah sadar kita untuk mampu mewujudkannya dalam dunia nyata. Tidak hanya satu atau dua buku yang menuliskan seberapa penting dan dahsyatnya kekuatan visualisasi mimpi manusia terhadap niscaya tidaknya sebuah cita-cita. Kita sebut saja buku dan tulisan The Secret dan turunannya, Quantum Ikhlas, Mestakung, dll. Tak sedikit pula buku-buku tersebut dilengkapi dengan CD untuk membantu pemahaman maupun penghayatan. Saking inginnya saya “waras”, saya beli segala macam buku itu. J

Sebagai manusia normal saya juga punya cita-cita baik yang masuk golongan harapan maupun yang dapat dikategorikan sebagai mimpi. Saya membuat dua kotak yang berbeda untuk harapan dan impian karena keduanya memiliki sifat yang berbeda menurut saya.

HARAPAN adalah suatu keinginan yang sudah saya tetapkan secara pasti dan terukur sesuai kapasitas saya saat ini, misalnya:

  • Memiliki koneksi internet yang cepat dan murah
  • Melunasi semua utang saya
  • Naik gaji dengan persentase maksimal
  • Memiliki rumah yang asri hijau dan bersih
  • Mengajak ibu bersantai sejenak saat saya cuti

MIMPI adalah keinginan yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri jika memikirkannya tanpa memikirkan kapasitas saya saat ini, sebagai contoh:

  • Mempunyai perusahaan sendiri dan tidak perlu bekerja di kantor menjadi karyawan
  • Membangun sekolah gratis untuk orang-orang tidak mampu
  • Keliling dunia tanpa harus susah-susah memikirkan waktu dan biaya
  • Memiliki tanah yang luas untuk pertanian dan peternakan organik
  • Mendapatkan pendamping hidup yang sehat, bertanggungjawab dan setia

Dapatkah Anda merasakan perbedaannya?

Saat ini saya sedang belajar memvisualisasikan baik harapan maupun impian saya dengan “harapan” segalanya akan terwujud sebelum purna usia. Saya pernah mendengar “sesuatu terwujud dua kali, yang pertama di pikiran kita dan selanjutnya dalam kenyataan hidup kita”. Dengan keyakinan bahwa kekuatan pikiran menggiring kekuatan “mewujud” saya membiarkan harapan dan impian saya membubung tinggi laksana asap yang tak pernah pudar oleh angin dan hawa.

Harapan terdekat saya adalah saya dapat membagi waktu dengan baik. Saya ingin waktu saya yang “hanya” 24 jam ini bisa saya manfaatkan sebaik mungkin. Saya membayangkan dalam sehari semalam utuh ini saya dapat melakukan pekerjaan berikut (tidak diurut sesuai prioritas):

  1. Menyelesaikan quota harian saya tepat waktu (8,5 jam)
  2. Mengheningkan cipta secara benar
  3. Membaca buku
  4. Menulis
  5. Membereskan kamar
  6. Mendengarkan musik
  7. Menelfon keluarga dan teman-teman saya
  8. Berolahraga
  9. Menggambar
  10. Ngobrol dengan tetangga saya
  11. Mengevaluasi diri saya
  12. Mengimplementasikan paling tidak satu nilai kehidupan secara positif
  13. Mencuci dan menyetrika baju sendiri
  14. Memasak untuk diri sendiri
  15. Menghafalkan paling tidak satu kata dari satu bahasa asing
  16. Mengurus kura-kura saya
  17. Beristirahat secara efektif

Ternyata ada paling tidak 16 hal yang saya ingat ingin saya kerjakan secara konsisten setiap 24 jam saya. Namun pada kenyataannya saya tidak bisa. Dan saya merasa bahwa akhirnya sebagian waktu saya habis hanya untuk membayangkan harapan dan impian saya tanpa benar-benar melangkah untuk mendapatkannya. Ayo kita lihat apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup saya:

  1. Bangun jam 5 pagi untuk mengheningkan cipta lalu mandi, menjemput bekal makan siang, segera berangkat. Di kendaraan menuju kantor hampir 2 jam sebagian besar saya tidur.
  2. Sampai kantor, saya cuci muka dan tangan, bersiap dengan komputer dan segelas besar air minum bekerja. Selama bekerja kadang saya selingi dengan chatting atau bercanda dengan teman. Tidak lupa kemudian makan siang sambil kerja juga. Mengheningkan cipta sekejap mata tanpa meresapi maknanya (kata orang Jawa “jengkang-jengking”, artinya nunggang-nungging saja).
  3. Setelah selesai pekerjaan atau belum selesai dan sudah kecapekan, saya pulang. Di kendaraan tidur atau gelisah karena para seniman jalanan (mereka tidak bermaksud mengganggu tapi saya terganggu kadangkala).
  4. Sampai rumah, saya mandi mengheningkan cipta lalu ngobrol sebentar dengan tetangga. Kadang saya melewatkan waktu saya untuk menelpon ibu dan/atau sahabat dan keluarga.
  5. Kemudian saya buka notebook saya untuk melanjutkan pekerjaan kantor saya yang belum sempurna L, kali ini sambil mendengarkan radio. Kadang saya membaca buku tapi lebih sering membaca tapi sekilas saja.
  6. Setelah 2 atau 3 jam biasanya pekerjaan saya tuntas. Lalu saya “pura-pura” mengevaluasi diri walaupun kenyataannya saya sedang menyesali kehidupan saya yang sehari-harinya begitu-begitu saja.
  7. Tahap mengevaluasi diri ini memakan porsi yang kadang terlalu berlebihan sehingga membuat mata saya tak terpicing sedikitpun. Saya sibuk membayangkan andaikata, seandainya, coba kalau, jikalau, andai saja dan segala khayalan yang membuat kehidupan saya (seharusnya) lebih baik. Biasanya saya sibuk dengan visualisasi harapan dan impian itu sampai pukul 1 atau 2 saat saya benar-benar lelah badan dan syaraf.

Aih, 24 tidak cukup. Inilah hidup saya. Saya berpijak tanah tapi mimpi-mimpi saya terbang. Saya butuh sayap-sayap untuk terbang bersama mimpi saya. Sayap-sayap itu dimana carinya ya? Mungkinkah bisa dibongkar pasang? Saya ngeri kalau-kalau sayap-sayap palsu bisa membuat saya seperti Icarus anak Daedalus yang jatuh karena lilin perekat sayapnya terbakar matahari. Jika ditumbuhkan, berapa lama saya menumbuhkannya? Apa saya harus makan chicken wings tiap hari supaya sayap saya segera tumbuh? Chicken juga tak becus terbang bahkan dia lambang kepengecutan. Oke, saya makan bird wings saya. Mana ada makan sayap burung bikin tumbuh sayap badan manusia? Mimpi…

Rupanya saya masih membutuhkan mimpi lain untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Apa saya memang benar-benar hidup di Republik Mimpi ya? Atau hidup saya hanya mimpi? Tolong! Aku mau mimpiku tercapai bukannya terwujud dalam bingkai impian lain.

June 26, 2008

10:13 WIB

NINE MONTHS LATER

NINE MONTHS LATER


Jack decided to go skiing with his buddy, Bob. So they loaded up Jack’s mini-van and headed north. After driving for a few hours, they got caught in a terrible blizzard. So, they pulled into a nearby farm and asked the attractive lady who answered the door, if they could spend the night.
“I realize it’s terrible weather out there and I have this huge house all to myself, but… I am recently widowed,” she explained.
“I am afraid the neighbours will talk if I let you stay in my house.”
“Don’t worry,” Jack said. “We’ll be happy to sleep in the barn and if the weather breaks, we’ll be gone at first light.”

The lady agreed, and the two men found their way to the barn and settled in for the night. Come morning, weather had cleared and they got on their way. They enjoyed a great weekend of skiing.

About nine months later, Jack got an unexpected letter from an attorney. It took him a few minutes to figure it out but he finally determined that it was form the attorney of that attractive widow he had met on the ski weekend.
He dropped in on his friend, Bob, and asked,
“Bob, do you remember that good-looking widow from the farm we stayed at on our ski-holiday up north about 9months ago?”
“Yes, I do,” said Bob.
Did you… errr…. happen to get up in the middle of the night, go up to the house and pay her a ‘visit’?”
“Wellll…. uhmm… Yes,” Bob said, a little embarrassed about being found out, “I have to admit that I did.”
“And…. did you happen to give her my name instead of telling her your name?”
Bob’s face turned beet red and he said, “Yeah…., look, I am sorry, buddy. I am afraid I did! Why do you ask?”

Jack asnwered calmly “She just died and left me everything”

(And you thought the ending would be different, didn’t you?….You know, you smiled.
Now… keep that smile for the rest of the day, OK?)

IBUKU SAYANG

IBUKU SAYANG

Semua manusia punya ibu kecuali Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa yang beribu Tangan Tuhan. Sebuah keajaiban yang tak perlu dibahas oleh otak budhel (tumpul, bahasa Jawa) seperti milik saya.

Ibu adalah posisi terhormat di budaya masyarakat manapun. Tidak ada peradaban mulia yang tidak menghargai peran dan posisi seorang ibu. Melahirkan-menyusui-mengasuh adalah satu paket hadiah dari Pencipta yang tidak mudah dicapai (achieved status) walaupun paket itu adalah sebuah kodrat alamiah wanita (ascribed status). Maka dari itu bersyukurlah orang-orang yang diciptakan untuk mengemban tugas sebagai ibu. Wahai Sudaraku para wanita, saya ingin berbagi rasa.

Saya manusia biasa maka pasti punya ibu. Ibu saya sudah tua. Namanya Dayah binti Slamet. Lahir di Tulungagung pada October 9, 1944. Wajahnya menyisakan kecantikan muda yang luar biasa. Rambutnya hitam bersembur putih keperakan, kulitnya keriput, badannya gendut, payudaranya kendur, halus budi bahasanya, ingatannya masih hebat, karakter kerasnya mulai bertambah, dan satu lagi yang sesungguhnya sangat mengganggu saya: hobinya menanyakan tentang kapan saya menikah.

Saya paling sebal pada siapapun yang menanyakan hal itu kepada saya. Sebuah pertanyaan bodoh yang diucapkan dengan gaya prihatin bercampur intelek. Seakan pertanyaan itu adalah sebuah habeliauh wajib untuk orang yang tidak bersemangat mengejar mas-mas. Seakan pertanyaan yang menunjukkan bahwa mereka telah mencapai prestasi teratas kehidupan ini: menikah. Apakah berarti bercerai adalah prestasi yang lebih tinggi lagi apalagi kalau kemubeliaun kawin lagi?

Ibu saya ini adalah wanita Jawa yang menurut beliau sendiri pekerjaan utamanya adalah mengabdi pada suami walaupun kenyataannya ibu saya adalah pensiunan bidan yang pernah mengabdi pada negara Pancasila ini. Ibu saya percaya bahwa dengan mengabdi pada suami seorang wanita akan masuk syurga. Beruntunglah beliau memperoleh lelaki yang sempat memberinya syurga, jadi ibu saya tidak harus membual banyak-banyak.

Ibu saya telah melahirkan 5 orang anak: perempuan, laki-laki, perempuan, perempuan, laki-laki. Semuanya lahir tanpa cacat. Jika kemudian hidupnya tidak bahagia maka itu bukanlah bawaan lahir namun akibat dari salah treatment baik oleh galangan (keluarga, bahasa Jawa) maupun golongan (lingkungan pergaulan, bahasa Jawa) atau karena salah persepsi terhadap suatu realitas yang kami hadapi.

Ibu saya suka memasak, membaca dan membuat kliping. Beliau membaca apa saja yang bisa beliau baca terutama koran dan majalah karena beritanya paling up dated sampai-sampai beliau mendapat julukan wartawan dari almarhum bapak saya. Dapatkah Sudara sekalian bayangkan seorang ibu seperti beliau memiliki anak seperti saya yang tidak suka membaca koran atau majalah? (saya lebih suka membaca buku, karya sastra dan essay) Dapatkah Sudara membayangkan alangkah timpangnya pengetahuan populer saya dibanding ibu saya? Huff.. kadang-kadang saya memilih tidak berdiskusi tentang politik dengan beliau. Saya lebih memilih ngobrol enak tentang wayang atau kethoprak (kesenian khas Jawa Tengah) atau ludruk (kesenian khas Jawa Timur yang awalnya hanya dimainkan oleh para lelaki) dengan almarhum bapak saya atau ngobrol tentang rabuk (pupuk, bahasa Jawa) dan tandur (masa tanam padi, bahasa Jawa) dengan Pakpuh (kakak orang tua, bahasa Jawa) daripada saya malu karena sebagai mahasiswa pada saat itu dan “orang Jakarta” saat ini saya tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi di pusat merah putih ini.

Coba Sudara tanyakan nama-nama menteri dari kabinet manapun pasti beliau hapal. Tanyakan kasus-kasus hukum, skandal-skandal politik, gosip-gosip selebritas atau apa saja yang terjadi di negeri antah berantah beliau akan menjawab sekaligus memberikan ulasan yang sangat mengagumkan seakan beliau itu pengamat politk, ekonomi, sosial, budaya, filsafat atau apalah ilmu yang timbul di dunia ini. She is a great popular scientist!

Ibu saya suka memasak sedangkan saya suka tapi jarang mencoba resep-resep terbaru sehingga kalau pulang kampung saya harus rela dinasehati tentang ini itu yang kata ahli ini dan ahli itu bermanfaat untuk kesehatan. Dan setelah kembali ke kota tempat saya tinggal semuanya menguap seperti air dibawah terpaan sinar matahari. Di Jabodetabek semua bisa dibeli he he he…

Ibu saya seorang yang terkenal sabar dan narimo (menerima dengan ikhlas). Menerima dengan sabar kondisi yang semenyakitkan apapun, semenderita apapun dalam hidupnya. Tapi jangan coba-coba Anda menyakiti anak-anaknya. Beliau akan murka seperti bantheng ketaton (banteng terluka). Maka kami anak-anaknya yang normal akan sebisa mungkin menyimpan duka kami dari pengetahuannya sehingga beliau tak akan mencari orang yang menyakiti kami. Bahkan seandainya kami yang benarpun kami tidak akan mengadu banyak padanya, kami akan mengalah di hadapan ibu kami walaupun akan menghantam orang itu beliaum-beliaum dibelakang ibunda kami ini. Sebenarnya ketika ketemu pun ibu tak akan menyakiti orang itu. Kami hanya takut beliau berdoa yang tidak-tidak. Kutukan ibu saya ini terkenal manjur ha ha ha…

Ibu saya adalah bidadari bagi saya karena kecantikannya. Ibu saya adalah profesor ndeso yang saya yakin beliau bisa saja jadi menteri peranan wanita kalau saja kesempatan diberikan padanya. Ibu saya juga seorang bijak bestari ketika saya membutuhkan nasehatnya. Ibu saya adalah pengabdi yang setia baik pada keluarga maupun masyarakat. Ibu saya adalah seorang wanita yang paket melahirkan-menyusui-mengasuh-nya terbuat dari emas dan berlian.

Ibu saya sense or humor-nya tinggi. Apapun bisa jadi bahan tertawaan bagi beliau. Pernah beliau tertawa-tawa ketika seseorang secara tidak sengaja membuat beliau terdorong dari tangga teras sehingga gagang kacamatanya menusuk pelipisnya hingga harus dijahit beberapa jahitan. Biskah Anda bayangkan di saat semua orang khawatir terhadap keselamatannya beliau sendiri tertawa gembira. Ibu saya agak menyebalkan jadinya he hehe…

Namun ibu saya juga manusia biasa yang bikin saya jengkel jika sudah menyamaratakan saya dengan wanita lain yang “kata beliau” NORMAL. Menurut beliau kecintaan saya pada kesendirian saya lebih besar daripada kecintaan saya pada kodrat saya sebagai wanita yang seharusnya melahirkan-menyusui-mengasuh. Menurut beliau saya terlalu banyak melahap bacaan yang nyeleneh sehingga pemikiran saya “keseleo”. Ora Njawani (tidak berjiwa Jawa, bahasa Jawa), kata beliau.

Ibu saya ini begitu hebat. Saya bangga padanya dan hanya memendam kekesalan terhadap satu pertanyaan itu saja.

Ibu saya akan saya nobatkan sebagai wanita paling hebat dan berjasa dengan segala yang dianugerahkan padanya.

I love you, Ibuku sayang…

June 11, 2008

SERULING BAMBU

SERULING BAMBU

Helaan nafas meniupkan kerinduan

Kepada serumpun bambu dengan sebentuk nada

Lagu hatiku

Terbawa Sang Bayu

Duhai rindunya aku pada rumah jiwaku

Yang terpisah sejak dijadikannya aku seruling

Kuhanya mampu melagukan kidung

Meriuhkan heningnya padang rumput

Ditemani nafas kantuk gembala

Ditingkahi rengek manja ternak yang gembira

Diintai srigala jahat

Helaan nafas meniupkan kerinduan

Kepada serumpun bambu dengan nyanyian jiwa

Kenangan tak tertuliskan

Dihantarkan oleh angin

Apakah kau merindukanku wahai serumpun bambu?

Adakah wajahku teringat olehmu?

Ataukah hanya hilangnya seruas batangmu?

June 15, 2008

Cermin

CERMIN

Terpantul wajah hatiku

Berleleran airmata

Menangisi kenangan

Mengharapkan masa

Lalu garis merah menyeberangi telaga mataku

Melontarkan api menyala

Melelehkan batang lilin malam

Menghancurkan berhala cintaku

Cerminku terang benderang

Silau menyerang bola mataku

Uap menjejakkan titik embun di permukaannya

Cerminku berkabut

Berleleran airmata

Menangisiku

Mengharapkan Kekasih

June 15, 2008

INTERLUDE JEDA

INTERLUDE JEDA
JEMBATAN DUA DARATAN

Buku kompilasi artikel yang ditulis oleh dua pengarang dari tabloid PARLE, Syafruddin Azhar dan Kurnia Effendi, ini membuat saya terpana akan kebenaran sebuah ayat suci tentang tidak akan habisnya ilmu Tuhan sekalipun telah dihabiskan pohon di bumi untuk pena dan samudera sebagai tinta bahkan jika didatangkan tujuh lagi. Begitu luas dan dalam ilmu yang diletakkannya di hati-hati yang berpikir.

Saya sengaja membaca dulu pengantar yang ditulis oleh Fahruddin Salim, SE,MM (Pemimpin Redaksi) dan Faisal Baasir, SH (Ketua LPKP). Terpapar di dalamnya tentang perbedaan style yang dipakai oleh masing-masing penulis. Dikataan bahwa tulisan Mas Syafruddin cenderung “berat’ sedangkan tulisan Mas Kurnia cenderung “menyentuh”. Dan terbukti memang demikian.

Bagian pertama buku adalah Interlude. Disini tulisan Mas Syafruddin banyak diwarnai oleh bahasa-bahasa ilmiah, kutipan-kutipan buku atau kitab, terjemahan bahasa asing dan segala hal yang memang membuat tulisan beliau mendapatkan julukan ilmiah dalam arti kandungannya berdasarkan teori-teori yang pernah dirumuskan oleh para cerdik pandai terlihat nyata. Anda akan menemukan nama-nama ilmuan bertebaran di tulisan-tulisan beliau. Mulai dari bumi timur hingga dunia barat ada. Ilmu batin hingga ilmu logika beliau kaya perbendaharaannya. Saya sampai tercengang membaca sekian banyak tulisannya tidak ada pengulangan kutipan yang bertindihan.

Dari judul-judul tulisan beliau kita dapat menghitung apa saja yang memnuhi memorinya: Pak Harto; Selingkuh; Orde Baru; Sontoloyo!; In Vino Veritas; Proletariat Versus Borjuasi; Ahmadinejad; Obama; Alohomora, Expecto Patronum; Honos Alit Artes; Gruda; Konco Wingking; Odius Debt; Politik Minyak; Phallus Monologue; Seppuku; Nyai Ontosoroh; dll. Jika satu judul rata-rata mengandung 5 referensi, berapa buku yang telah Mas Syafruddin baca? Padahal satu judul bisa memuat lebih dari 5 referensi.

Dari beragamnya kutipan dan isitilah yang dipakai oleh Mas Syafruddin bisa kita bayangkan berapa ribu buku yang telah beliau lahap selama hidupnya dan berapa gyga byte memori otak beliau. Otak beliau pasti berharga murah karena telah banyak memori yang terpakai tidak seperti otak saya yang mahal karena masih banyak yang kosong. 

Jeda adalah bagian kedua yang diisi oleh Mas Kurnia Effendi. Beliau berangkat sebagai cerpenis yang notabene lebih bergaya narasi daripada argumentasi atau persuasi murni. Gaya penulisannya memang lancar laksana cerita dan sebagian tulisannya diselipi percakapan antar karakter sehingga pembaca diajak membaca sambil berpikir tentang apa yang ada dibalik tulisan tersebut. Mas Kurnia berperan seperti seorang nenek yang sedang mendongeng kepada cucunya yang pada akhir cerita beliau men-sum-up pelajaran yang dipetik baik dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan. Penulis sukses menyuguhkan gaya cerita dengan kandungan filsafat yang dalam.

Salah satu tulisan Mas Effendi yang menarik adalah tentang Slamet Rahardjo Djarot yang sengaja berlebaran di rumah Bi Sumi dan makan opor ayam yang ternyata sebelum disembelih sempat tertabrak motor. Dalam tulisan ini penulis menggarisbawahi kesederhanaan dan kepolosan sebagai niat baik yang sudah semestinya dihargai. Gaya berseritanya mengalir lancar seperti air sungai yang bening dipecah bebatuan disana-sini. Indah dan merdu.

Perbedaan gaya tulisan ini tidak menandakan siapa yang lebih andai dan siapa yang lebih lihai menulis karena gaya hanyalah masalah pendekatan seseorang terhadap realitas yang dihadapinya. Tidak banyaknya referensi yang Mas Kurnia sebutkan tidak berarti beliau kering ilmu. Ini hanya menunjukkan bahwa proses internalisasi ilmu Mas Kurnia berbeda dari Mas Syafruddin. Ibarat berdagang, Mas Syafruddin seperti sebuah hypermarket yang menyediakan apa saja yang siap saja perlukan; komplit plit plit. Sedangkan Mas Kurnia ibarat sebuah restoran yang menyajikan makanan yang bahan-bahannya dibeli dari hypermarket Mas Syafruddin yang kemudian diolah dengan resep rahasia. Keduanya saling melengkapi dengan keunggulannya masihng-masing.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja. Kedua penulis seakan berkolaborasi seakan rintik hujan mengobati dahaga pembaca di gersangnya kemarau berkepanjangan di kepulauan kelapa. Bagi yang lebih suka gaya ilmiah textbook, Interlude ibarat tambang berlian di perut bumi. Bagi yang suka menyelam dalam lautan nilai-nilai, Jeda menyediakan taburan mutiara.

Selamat membaca Interlude Jeda. Semoga bermanfaat.

RUMAH LABA-LABA

RUMAH LABA-LABA

Selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba.

Saya pernah meyakini hal tersebut diatas secara buta. Saya meyakininya bukan karena ikut-ikutan tapi karena memang telah membuktikan betapa mudahnya rumah laba-laba itu saya hancurkan dengan penghuninya yang putus asa sekalipun. Sekali gantas berantakan sudah jejaring di pojok-pojok kamar saya itu.

Namun saya teringat kata-kata seseorang yang kemudian membuat saya berpikir kembali tentang kebenaran keyakinan saya itu. Benarkan rumah laba-laba adalah selemah-lemahnya rumah? Jika ya, apa penjelasannya. Jika tidak, apa juga penjelasannya. Saya harus menemukan jawabnya.

Berabad-abad yang lalu, dua orang sahabat karib bersembunyi di dalam gua dari kejaran sepasukan manusia biadab yang bermaksud mencelakai mereka. Tiada tempat lain yang lebih aman daripada persembunyian berupa gua yang tak aman itu.

Derap langkah kuda pasukan kavaleri itu sampai di mulut gua. Alangkah paniknya salah seorang dari mereka mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua dan nasib keluarga dan sahabat lain yang masih sangat mebutuhkan keberadaan mereka berdua. Hanya harapan besar pada pertolongan Yang Mahakuasa saja yang membuat mereka merasa aman dalam penjagaan-Nya.

Alam bekerja sesuai dengan hukumnya dalam keteraturan yang tak mungkin berdiri sendiri. Siapa yang penasaran jika laba-laba membuat rumah di mulut gua? Itu sudah biasa, sesuai hukum alam. Dan apa anehnya sepasang merpati bertengger di mulut gua? Semua biasa saja. Gua tak berpenghuni. Hanya seekor tokek nakal saja yang menuntun rasa ingin tahu pasukan itu. Maka pasukan berkuda itupun tak merasa perlu merusak kembali rumah lemah buatan laba-laba di rongga gua berpenghuni sepasang sahabat itu.

Selamatlah dua sahabat itu dari kekejaman pasukan berkuda Quraisy sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah Madinah yang telah penuh sesak oleh manusia dan kerinduan yang membuncah pada Muhammad dan Abu Bakar.

Rumah laba-laba yang lemah telah menolong dua manusia besar. Inilah jawaban pertama saya.

Seorang profesor meneliti benang-benang bahan rumah laba-laba tersebut. Dibuat dari air liurnya sendiri, benang-benang halus tersebut ternyata memiliki kekuatan berlipat ganda dibanding dengan benang baja. Subhanallah. Inilah jawaban kedua saya.

Seorang guru Al Quran saya, almarhum Moenadi, mengatakan budi bahasa yang halus dan tulus hanya muncul dari rasa hati yang halus. Hanya rasa yang telah terasah yang dapat memiliki kekuatan kuat untuk menyusun jalinan persahabatan dan persaudaraan. Kekerasan hati, kata-kata apalagi tindakan hanya akan merusak saja. Begitu juga jalinan rumah laba-laba hanya bisa kuat, jauh lebih kuat dari kawat baja, karena dijalin dengan air liur yang keluarnya dari mulut sang laba-laba yang tulus, dirajut dengan kesabaran dan ketulusan. Tahukan Anda berapa lama sang laba-laba harus ngeces (ngiler) untuk membuat rumahnya berputar-putar membuat jejaring dengan perhitungan yang simetris tiada cacat? Dan berapa lama seorang manusia harus merusaknya? Apakah sang laba-laba menyerang Anda karena Anda telah merusak rumahnya? Tidak! Dia akan membangun kembali rumahnya dengan ilernya yang halus namun kuat disusun dengan besar sudut tertentu membentuk sebuah network yang hebat, kuat, anggun, memerangkap dalam kelemahannya. Ingat, Frodo Baggins pernah terjebak jaring laba-laba dan nyaris mati lemas di The Lord of The Rings karya Tolkiens. Inilah jawaban ketiga saya.

Masih dari Pak Moenadi, logo PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) adalah rumah laba-laba. Mengapa PBB gagal membina jaringannya? Karena landasannya bukan persaudaraan yang tulus dan ikhlas namun materi dan kekuasaan. Ini jawaban keempat saya.

Rumah laba-laba memang lemah secara kasat mata namun dengan rasa hati kita dapat memahami apa yang ada di balik itu, dan dengan perhitungan tepat kita tahu jejaring ini kuat dan akurat. Pertanyaan saya terjawab sudah.

Boleh jadi Anda punya jawaban lain untuk kita semua, Sudara-Sudara.

Terima kasih saya pada Keluarga Besar Al Badiyo di seluruh dunia.

I love you, all. J

June 12, 2008

BERSYUKUR JADI MANUSIA (English version)

BERSYUKUR JADI MANUSIA

(English version)

Mbak Zaitun, English ’93 Airlangga University, is one name I file among them making my life glared and precious. Perhaps it is late to understand her quotation but it really grows me mature. I don’t recall her complete speech but here is a cut of it: Sister, you should always be grateful for being a human being.

I am quite convinced that I exist NOT not in purpose. I am not a universal accident that comes out out of the blue due to a technical problem in a unruled galaxy. I am a body that has been planned for existence; every inch of which has a share to balance the Universe; every movement of which contains energy to balance the Universe; every beat of which owns a function to balance the Universe. I am created for a balance.

I might be the balance itself.

But, why should I have been created as a human being, while I often mumble of its responsibility to be? I feel like to think the whole life to comprehend the secret of being a human being. But let me let you know about what have been the clear reality of not being a not human being. It relieves me somehow though a little and it is sufficient to pay my debt to that Mbak Zaitun, one of informal teachers in my life. Isn’t it right that learners’ debt will be fully paid when they “successfully” digest and apply the knowledge tranferred by their teachers?

This is strange, but true, for truth is always strange. (Lord Byron, 1788 – 1828)

IF I WERE A…

If I had been created as animal, I would have chosen to be a bird coz I have always wanted to fly. If I were a bird, I would fly around the world. Or, a dolphin. If I were a dolphin, I would save as many lost sailors as I could. An elephant, probably. If I were an elephant, I would remember every memory I have before human beings grab all the nature gift of mine. However, what animal can live, laugh and love at the same time in the balaced quality?

As a bird I might be able to fly but can I go around the world without becoming wet under the rain or hot under the sun or cold under the snow? Can I hug my beloved family while flying? Can I eat while flying? Can I sleep while flying?

As a dolphin I might be able to swim and dance in the water. I might save as many sailors as possible before I die but I can never protect myself from bigger danger from the other sea beasts.

As a giant mammal, I can always remember the sweet memory in my life but what can I do when human beings destroy the forests with even their weak limbs? My tears are cheaper than those falling logs. My trunk is cheaper than those clinking gold coins. My existence is cheaper than the human’s ego. Finally I can only play football among the cheering humans’ offsprings.

If I had been created as plants, I would have chosen to become jasmine or orchid or lotus or nephentes or sunflower or the beautiful wild grass for home decoration but then I will decay by the time water in the vase evaporates and water in my body flows out. Or I will be consumed by the herbivore animals.

If I had been created to be unseen creature, I would have chosen to be a witch. I would fly without wings in a pine twig. I would smell sweet. I would sing beautifully. I would live much longer than a human being. But… I would leave my lover old while I am young forever. I would hide timidly when the human beings confidently wander around. I would not live comfortably when I meet them – while meeting them would be a probability for a witch.

If I had been created to be celestial bodies, I would have chosen to be a comet that evolves distantly around the sun. I would not even
know when I would come to one same point after thousands of years. And, I would be lonely in every single inch of my evolution even though I witness a lot of places with a lot of legendary circumstances.

If I had been created to be an abstract thing, I would have chosen to be happiness. It would go around hearts. But happiness is never created as itself. Happiness is created with a twin sister, the sincerity. I have to make a double wish then: being happiness and being twin. Will they be granted? J

Those are all my wishes if I were not a human being like now. Fortunately, I realized soon that being a human being is everything I have been best given.

I don’t have to be a bird to fly. As a human being, I can fly inside a sophisticated bird with sophisticated facilities. I don’t have to be a dolphin to be able to swim in the sea and help sailors for I can swim in the swimming pool – or let’s say I swim in the sea of life and help “other sailors” having been lost in their voyages. I don’t have to be a giant elephant to be able to save an large amount of memories and I am strong enough to protect my own habitat with my small physical though. I don’t have to be any kinds of flower to look beautiful and sweet; as long as I know what I am doing, I look beautiful thoroughly. I don’t have to be a witch to live longer because human being’s good name can live even much longer than a witch’s life. I don’t have to be a comet to experience many great good things. I just have to undergo every single thing patiently and I will be a comet around this mistery life. And I don’t have to pray to be created as sincerity and having the happiness as my twin sister since my heart can bear both of them and I can be sincere and happy at the very moment.

Again and again being a human being is the greatest gift I have ever received from the Owner of the Universe.

Thanks to Mbak Zaitun for saying words enriching my soul.

June 11, 2008

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

Masih terngiang ungkapan Pak Harto, mantan presiden kedua Republik Indonesia, pada saat orang-orang menyinggung tentang tantangan terhadap beliau untuk tidak menjadi presiden lagi: “nggak presiden ra patheken”. Barangkali bagi adik-adik usia 20 than kebawah hal ini bukan sebuah hal yang istimewa namun bagi kami yang lahir di era 70an akan merasa ungkapan ini sebagai arogansi dan ironi.

Saya tidak ingin membahas Pak Harto dan penyakit pathek (sampar, bahasa Jawa) karena saya bukan politikus atau dokter yang kapabel untuk itu. Saya hanya akan menganalogikan ungkapan tersebut dengan ungkapan “nggak kaya nggak patheken” atau nggak kaya nggak masalah.

Saya bukan orang yang kaya dan bukan pula orang yang bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan namun jujur saya pernah membayangkan seandainya saya menjadi orang yang punya banyak uang dan atau fasilitas. Jujur sekarang ini saya termasuk orang yang hidup penuh semangat karena harus melunasi tagihan-tagihan J

Konsep kaya sangat beragam. Mulai dari kaya harta sampai kaya hati. Kalau diberi range bisa saja seperti menjejerkan beragam gradasi warna dari hitam hingga putih. Saya sendiri kurang suka kalau harus mendefinisikan sesuatu karena otak saya sudah lelah memahami definisi yang kadang justru membuat hidup saya jadi beku dan pucat.

Kalau kaya adalah masalah harta, siapa orang terkaya di dunia ini? Saya yakin mereka adalah orang-orang yang namanya pernah di-tally oleh majalah Forbes. Kalau masih masuk majalah Kuncung masih jauh jarak tempuhnya dari jabatan Rang Kayo.

Pernah suatu masa saya suka sekali pura-pura jadi orang kaya, jalan-jalan menghabiskan uang, belanja barang-barang yang tidak saya butuhkan. Saya beli barang-barang yang menurut saya tiada guna. Saya makan dan minum walaupun saya tidak haus atau lapar. Saya minum cairan yang tidak harus saya suka yang penting harganya mahal. Saya pesan makanan tidak enak yang penting bandrolnya paling heboh. Lalu saya juga nonton film walaupun tidak ada yang memenuhi selera saya. Saya juga ikut-ikutan main bowling yang sejatinya bukan olahraga favorit saya hanya supaya dibilang keren. Saya juga membeli tas ber-merk walaupun tas saya di rumah masih utuh, merk-nya pun belum terlepas… J

Saya berlagak kaya untuk membuktikan apakah saya benar-benar pantas menjadi orang kaya baik sekarang maupun nantinya. Istilah yang saya pakai adalah belajar kaya. Biar kalau nanti kaya beneran saya tidak norce (norak).

Setelah sampai rumah saya kalkulasi semua yang saya belanjakan termasuk ongkos taxi yang saya suruh lewat tol walaupun sesungguhnya akan lebih murah dan cepat jika tidak lewat tol. Latihan kaya… jumlahnya belum mencapai 3 juta tapi ternyata sudah cukup membuat saya kaya. Ah, ternyata saya masih penasaran tentang latihan kaya ini. Mungkin bulan depan harus lebih fantastis.

Bulan depannya saya melakukan hal yang sama. Ternyata total nilai yang saya dapatkan lebih kecil dan saya tidak puas. Bulan selanjutnya tidak lebih besar. Dan akhirnya saya menyerah latihan karena ternyata tabungan saya mulai menipis. Tunggakan kartu kredit saya juga melonjak. Aduh bagaimana ini nasib latihan kaya saya?

Secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku tentang orang-orang yang (pasti) super kaya. Mereka adalah para pemilik perusahaan kelas mammoth. Mereka adalah bos-bos yang uangnya (pasti) akan membuat saya mendelik sewot saking banyaknya. Mereka adalah orang-orang yang tidak ribut membayar tagihan kartu kredit karena ada orang yang menguruskan itu untuknya.

Kemudian saya menemukan bahwa ternyata ada salah satu dar
i mereka berkebangsaan Jepang dan menempati rumah kayu dan kertas. Apa yang dia lakukan bukanlah membelanjakan uangnya seperti orang kalap. Dia lebih sering merenung atau berbincang dengan sang istri di rumahnya yang sederhana. Tidak ada kesenangan yang lebih dia sukai selain melatih hobinya menulis kaligrafi.

Saya tidak sempat lagi melanjutkan membaca karena teman saya serta merta menyodorkan sebuah buku lainnya yang menceritakan tentang seorang karyawan Bill Gate yang lebih rela keluar dari pekerjaannya untuk merintis pendirian perpustakaan-perpustakaan di daerah-daerah terpencil di Asia.

Sungguh tak dapat dipercaya. Orang kaya malah mengundurkan diri dari jabatan Rang Kayo. Sedangkan saya yang seharusnya menikmati hidup dengan cara sederhana malah belagu menghambur-hamburkan uang yang serinya pun masih bisa dihapal. Saya merenung lagi apakah perlu saya berlatih kaya dengan cara bergaya seperti orang kaya. Apakah memang jabatan Rang Kayo sebuah status urgent bagi saya? Apakah kalau tidak kaya saya akan patheken?

Saya mengaca. Di cermin saya melihat wajah kusam lagi bodoh, wajah kuyu lagi picik, wajah miskin lagi konyol.

Saya segera membereskan bon-bon pembelian yang saya kumpulkan untuk menghitung pengeluaran saya bulan ini. Saya buang semua ke keranjang sampah lalu saya membuat daftar nama-nama orang yang pantas menerima barang belanjaan yang ternyata sungguh-sungguh tidak ada gunanya untuk saya.

Selama ini saya tidak latihan kaya tapi latihan gila.

June 11, 2008

SONTOLOYO POPULER KEMBALI

SONTOLOYO POPULER KEMBALI

June 10, 2008 sebuah paket ditujukan kepada saya sudah tergeletak di ranjang saat saya tiba dari kantor. Yang bisa saya baca dari bungkusan plastik transparan adalah nama sebuah tabloid: PARLE. Tabloid yang selama ini, jujur, tidak pernah saya kenal.

Tidak ada nama pengirim. Dan yang lebih aneh lagi, saya tidak sedang berlangganan atau menanti datangnya tabloid-tabloid ini. Yang saya tunggu-tunggu kedatangannya adalah sebuah buku berjudul Jeda.

Diantara tumpukan tabloid PARLE ternyata ada sebuah buku. Bingo! Ini dia buku yang dijanjikan oleh seorang MP-er yang halamannya pernah saya kunjungi dan puji.

Terima kasih, Pak. Paketnya udah nyampai. Interlude-Jeda karya Syafruddin Azhar dan Kurnia Effendi.

Tanpa interlude segera saya baca buku berisi artikel-artikel yang dilahirkan oleh dua orang penulis produktif diatas. Bagian pertama adalah Interlude berisi tulisan-tulisan Mas Syafruddin Azhar sedangkan Jeda diisi karya-karya Mas Kurnia Effendi.

Saat membacanya saya “tersandung” oleh sebuah artikel berjudul Sontoloyo. Penulis terinspirasi oleh ungkapan Sontoloyo yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) berarti konyol, tidak beres, bodoh dan dipakai sebagai kata (umpatan). Dalam bahasa Jawa sontoloyo berarti penggembala bebek. Saya juga jadi tahu bahwa kata sontoloyo dipopulerkan kembali oleh presiden pertama kita yang jenius Presiden Soekarno saat dia menulis sebuah tulisan di koran tentang ustadz yang mencabuli santriwatinya dan beliau menyebutnya sebagai Islam sontoloyo.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sekarang banyak sekali sontoloyo yang bergentayangan di atmosphere hidup kita. Kebodohan, ketidakberesan, kekonyolan dan orang-orang yang pantas dimaki dengan kata sontoloyo menyesaki bumi ini tanpa apologi. Hidup ini berkembang layaknya bisul yang makin lama makin mengembang penuh dengan nanah busuk sontoloyo; hanya bisa sembuh jika ditusuk dan dimusnahkan sontoloyo-nya.

Sudah terlalu banyak penyimpangan norma dalam hidup ini. Saya tidak sedang berbicara tentang norma tertulis. Saya berbicara tentang norma yang terlekat dengan dan tertinggi nilainya dalam manusia. Dialah norma kasat mata yang bersemayam dalam mental manusia.

Hati nurani

Sebagian besar manusia telah lupa bagaimana mendengarkan kata hati mereka. Telinga batinnya telah tuli dan suara batin mereka telah habis dan serak meneriakkan ide-ide halusnya.

Sontoloyo!

Mengapa norma tertulis tidak lagi mempan bagi manusia? Bukankah sekarang banyak orang menginginkan hitam diatas putih? Berapa jenis surat kita kenal? Surat tanah, ijazah sekolah, sertifikat kursus, surat gadai, surat cerai, MOU, surat nikah dan sebagainya… semua itu sekedar sontoloyo selagi hati nurani telah dibunuh oleh nafsu: kepentingan dan kebodohan.

Apa gunanya surat tanah kalau ternyata pemerintah maunya menggusur?

Apa hebatnya ijazah sekolah kalau ujiannya nyontek?

Apa nilai sertifikat kursus kalau bisa dibeli dan ketrampilan tak dikuasai?

Apa guna surat gadai kalau ternyata barangnya sudah dilelang?

Apa manfaat surat cerai kalau masih mau berkencan dengan mantan juga?

Apa gunanya MOU kalau sebenarnya tidak saling understand?

Apa gunanya surat nikah kalau masih selingkuh juga?

Yang hitam diatas putih itu hanya di mata fisik kita. Jika mata fisik kita buta maka tak sulit menipu kehidupan yang penuh nafsu ini. Tak perlulah buta, merem atau lengah saja sekejap maka tertipulah kita. Sedangkan mata batin kita melampaui semua itu. Sehitam apapun tipuan manusia diatas putihnya ketulusan maka berkali-kali mata hati kita akan memproduksi air mata dan bibir batin kita akan meneriakkan kata hati dan jika batin kita masih bersemi maka telinga batin kita akan mendengarnya kemudian dengan intuisi kita berjalan dan selamatlah kita bahkan ketika hitam diatas putih itu telah menipu kita.

Jangan takut ditipu orang lantaran kita tidak punya bukti hitam diatas putih. Hitam diatas putih itu hanya ilusi karena sebenarnya batin kita tidak bermain dengan warna. Yang bermain dengan warna hanyalah Sontoloyo!

Sontoloyo kamu klepto!!!

Terimakasih pada Mas Syafruddin Azhar atas Sontoloyo-nya J

June 11, 2008

MENGENALI WAJAH JIWA

MENGENALI WAJAH JIWA

Pagi-pagi sekali saya mendengar suara azan berkumandang dari corong mushollah Al Ikhlas di pojok Blok A komplek kami. Sudah Subuh.

Keadaan pagi itu tak beda jauh dari biasanya. Saya buka pintu kamar menuju tempat wudhu lalu memasang mukena saya. Sholah dua rakaat. Di sujud terakhir saya berlama-lama.

Disana saya melihat Bapak saya yang telah meninggal dunia. Senyumnya mengembang. Masih juga tampan seperti ketika masih hidup. Tak ada bekas pukulan malaikat. Tak ada bekas cambukan. Tak ada sayatan atau luka bakar. Berarti Bapak selamat dari azab kubur. Bapak orang baik walaupun bukan orang yang sangat relijius. Beliau seorang yang sangat jiwa spiritualnya sehingga ritual agama tak terlalu membuatnya kehilangan pegangan. Kebersahajaannya saja yang dapat membuat orang percaya bahwa agama telah membentuknya menjadi manusia tulus dan nrimo. Senyum Bapak saya adalah kebahagiaan tiada tara bagi keluarganya. Salaamun alaiha ya Rabbi…

Lalu saya bertemu dengan guru ngaji saya. Senyumnya masih juga seperti dulu. Tulus. Jenggot Hanoman-nya masih tetap terjaga rapi. Ditangannya ada Al Quran yang dulu waktu hidup dia ajarkan secara istimewa (ukuran kami) namun dicap sesat oleh teman-teman saya yang sangat kuat ngugemi (mengikuti dengan saklek (lurus (tanpa berprasangka (tanpa bertanya (tanpa berpikir (tanpa akal sehat (berharap syurga))))))) Fiqh versi keras. Menurut Psikologi Al Quran yang dia kembangkan, saya adalah manusia Juz 9. ya. Beliau berkeyakinan bahwa tiap juz Al Quran adalah representasi karakter manusia. Itulah yang membuat dia dicap sesat apalagi sejak dia dikerumuni oleh banyak sekali para Doktor dan peneliti yang terkagum-kagum terhadap pembuktian Al Quran. Saya melihat guru ngaji saya ini melambaikan tangannya mengucap salam pada saya tanpa membuka mulutnya. Apakah dia bisu di alam sana?

Lalu saya bertemu dengan dosen saya yang alimnya luar biasa. Saya tak tahu apakah dia sudah meninggal atau belum. Senyumnya tak kalah mengembang. Matanya tak kalah jernih daripada kedua orang yang saya temui sebelumnya. Ada sebuah buku ditangannya. Saya tak tahu buku apa itu. Mungkin buku Fiqh kesayangannya. Atau mungkin buku sastra kebanggaannya yang saat kuliah menjadi senjata pamungkasnya untuk membasmi serangga bodoh yang menggerogoti martabat intelektual dengan keahlian mereka menyontek. Bagaimana tidak… kami mahasiswa boleh open book tapi ketika we opened the book, we found nothing to answer his questions. Damn geniuous lecture he really are!

Lalu saya melihat sosok yang sangat cantik. Ah, benarkah apa yang saya lihat? Ini bukan mimpi?

Saya melihat diri saya sendiri. Tapi saya tidak berbaju. Saya tidak memakai apa-apa. Waduh, apakah seperti ini nasib saya? Telanjang? Polos? Jujur? Atau miskin? Alamak… Dia menatap saya dengan pandangan mengejek. Kurang ajar benar dia menertawakan diri sendiri? Di kepalanya ada rambut yang panjang sepantat (bukan pantatnya serambut ha ha ha…). Lalu ada senyum tak kunjung terkembang. Saya melihat saya dalam versi cantik bukan versi asli, ceria, yang selalu saya citrakan. Inikah jiwa saya? Jiwa yang cantik namun beku? Jangan-jangan itu kuntilanak? Bukan… karena kuntilanak pasti menangis sedangkan image ini tidak berekspresi, hanya diam. Baru saya lihat senyum tipis sebelum dia lenyap disedot arus dingin.

Allaahu akbar, saya bukannya ber-tahiyyat akhir karena ternyata saya tertidur dalam sujud panjang saya.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kanan

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kiri

Apakah saya perlu sholat lagi? J

June 11, 2008

JANGAN BIARKAN SIAPAPUN MENCURI MIMPI KITA!

JANGAN BIARKAN SIAPAPUN MENCURI MIMPI KITA!

Lagi-lagi saya sakit. Bangun tidur tak bisa bergerak, yang bisa keluar hanya air mata. Ada apa sebenarnya? Mau sms saat Subuh pun tak kuat menggerakkan jemari. Suara tak bisa keluar. Nafas rasanya kering. Sakit apakah saya ini? Yang saya ingat tadi malam saya menangis hebat setelah menghubungi seorang maling dennga harapan dia tahu bahwa dia telah mencuri mimpi saya. Tapi yang saya rasakan tetap saja berupa undefined sadness.

Saya terlanjur percaya bahwa segalanya pasti ada sebabnya kecuali sang Causa Prima. Maka ketika jari-jari saya telah bisa menari lagi, saya segera berkirim sms kepada atasan, trainer dan seorang kolega tepercaya saya. Saya minta ijin cuti sakit dan akan membawa surat dokter ketika saya kembali bekerja nanti. Mereka ok. Namun masih ada masalah. Saya tidak kuat pergi ke dokter. Lemas. Saya merasa baru akan bisa mengunjungi dokter nanti sore, seorang teman berjanji akan menemani saya ke dokter. Maka saya harus menguatkan tubuh dulu sambil terus saja berpikir apayang membuat saya sedih dan lemah lahir batin sedemikian hebat.

Sesungguhnya kesedihan ini bersumber dari kemarahan saya. Saya sedang marah sehingga saya sedih karena kemarahan saya. Kemarahan apakah ini yang tak kunjung terputus? Dalam diam saya mencoba relaksasi dan menganalisis dalam kepasrahan.

Hmm…

Gumaman parau berubah menjadi suara-suara lembut yang membimbing saya menuju sebuah titik cahaya. Disana masih ada warna. Merah, kemarahan. Lama saya melintasi merah, masih ada warna. Hijau, kesegaran. Lalu biru, ketenangan, lalu biru muda lalu merah muda seperti bunga teratai lalu putih lalu tak berwarna…

Sejenak saya hidup dalam realitas tanpa warna yang menyejukkan. Sangat singkat namun mampu menjawab segala mencairkan kemarahan saya.

Saya tahu saya masih marah dan masih akan marah dalam beberapa saat ini dan kemungkinan akan sakit lagi namun saya bahagia karena saya tahu kenapa saya marah.

Seseorang memang telah mencuri mimpi saya. Menghempaskan saya untuk mengejar mimpinya dengan membawa hak saya tanpa peduli kewajiban. Namanya pencuri tak prihatin apakah sang tuan rumah bersedih atau tidak. Dia telah mendapatkan apa yang dia incar selama ini. Yang dia incar adalah ketenangan dan keikhlasan saya. Dia telah mencuri ketenangan dan keikhlasan saya dan melarikannya ketika saya sangat lengah. Bahkan kini dia mengklaim bahwa dia telah memiliki keikhlasan dan ketenangan yang sebenarnya adalah milik saya. Pencuri terkutuk!

Kemarahan ini tak akan habis begitu saja hingga pencuri itu tertangkap polisi atau dilindas kereta atau digebugi massa atau biar tenggelam dimakan paus. Namun saya juga harus paham bahwa saya tidak boleh menunggu kapan itu terjadi. Saya tidak perlu penasaran kapan pencuri itu kena batunya; biarlah ini menjadi urusan Yang Berwajib. Yang pasti saya teraniaya dan saya berdoa secara rahasia.

Saya akan mengejar mimpi saya. Saya telah pernah memiliki kekuatan dan ketenangan yang kini hilang itu. Sejatinya saya lebih kaya daripada pencuri bangsat itu. Saya lebih hebat daripada pencuri sialan itu. Saya lebih kuat daripada pencuri jiancuk (umpatan khas Jawa Timur) itu. Dan, saya pasti bisa memiliki apa yang telah pernah saya miliki. Tanpa merebut, tanpa mencuri, tanpa merampas, tanpa menipu.

Wahai Sudara, jangan biarkan siapapun mencuri mimpi-mimpimu.

June 11, 2008

SEKANTONG JAMBU AIR IBU SRI

SEKANTONG JAMBU AIR IBU SRI

Sudah bertahun-tahun saya mengenal ibu yang satu ini dan makin lama makin saya paham betapa hangatnya pribadi beliau.

Dua minggu yang lalu beliau masuk rumah sakit karena DBD dan saya sempat menjenguknya dua kali. Kali pertama adalah hari pertama, itupun tidak sengaja.

Saya sengaja pulang cepat hari itu (Senin May, 2008) karena dua alasan:

  1. Permintaan tolong untuk meleraikan pertengkaran beberapa teman saya.
  2. Asam lambung saya naik dan terasa sangat perih tidak kuat menehan mual dan perih.

Di patas AC 138 jurusan Blok M-Tangerang saya mencoba menghubungi seorang teman kecil saya, Latifah Danirmala (8 tahun, putri pertama Mbak Wulan, sahabat saya) yang buat saya adalah seorang teman curhat yang bisa mengerti saya tanpa saya harus menjelaskan apa masalah saya. Kami saling menghibur dengan tatapan dan cerita-cerita lucu kami.

“Bu Rike, Mbah Titi di rumah sakit dianter ibu tadi pagi. Tapi aku nggak tahu sakitnya apa dan rumah sakitnya dimana. Aku bangunin ayah dulu ya.”

Dari ayah Lala saya mendapat info bahwa mbah putri Lala yang bernama Ibu Sri Murwani dirawat di RS Sari Asih Tangerang.

“Oke Mas, aku langsung kesana aja. Ntar aku tanya ke Mbak Wulan ruangnya apa.”

Segera saya menelpon teman saya yang ternyata urung memerlukan jasa saya sebagai juru damai, yang berantem udah pada nangis nyesel Mbak, kata yang menelpon saya. Dengan bersenjatakan sekantong plastik susu beruang (pada saat diperah si induk beruang harus dibius dulu kali ha ha ha) dan dua bungkus biscuit Roma saya menyambangi Ibu Sri yang ternyata sedang sendiri karena ibu Lala harus pulang dulu mengurus anak-anak. Karena bertepatan dengan makan siang maka saya merasa terpanggil untuk menyuapi beliau. Menunya: nasi putih, sop rasa Aqua, empal dan tempe goreng rasa hambar. Beliau diet garam rupanya.

Kali kedua adalah hari ketiga beliau dirawat, malam hari setelah saya dikabari ayah Lala via Yahoo Messenger bahwa Ibu Sri terserang DBD. Saya bawa Poccari Sweat kalengan untuk si sakit serta CocaCola dan Nescafe untuk yang menemani beliau. Disitu saya punya kesempatan pertama dalam hidup saya untuk mengerjai Ibu Sri: Ayo Ibu, minum angkaknya. Ayo dong. Ini saya maksa lhoo…

Minggu pagi saya menerima sms “Ibu pulang Jumat pagi. Sekarang sudah sembuh berkat bantuan doanya. Semoga sehat selalu”. Karena Ibu Sri hobi jalan-jalan maka saya jawab “Alhamdulillah. Semoga cepat segera kuat biar kita bisa jalan-jalan lagi”.

Minggu June 8, 2008. Saya sedang browsing internet ketika Ibu Sri menantang akan datang sendiri ke tempat saya demi mengantarkan jambu air andalannya. Saya jadi tidak enak karena seharusnya saya yang lebih muda yang harus berkunjung ke beliau yang sudah hampir 60 tahun itu.

Seperti biasa kami saling bertukar cerita dan pengalaman terkini dan ketika saya menunjukkan majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2008 beliau kembali mengenang perjalanan beliau ketika bergabung rombongan Coca Cola Foundation melancong ke Kasepuhan Ciptagelar di Gunung Halimun sana. Ngomong punya ngomong akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan bersama. Ke Kasepuhan Ciptagelar? Tidak… Kami akan ke Green Canyon Cijulang saja yang lebih mudah untuk ditempuh oleh beliau. Andai ibunda saya bisa bergabung ya…

Sambil makan jambu air yang pemiliknya belum pulang saya menunjuk-tunjuk kalender dan sepakat untuk berkunjung kesana bulan Agustus mendatang. Kami tertawa-tawa gembira. Aduh senangnya hati saya, dikunjungi piyantun sepuh (orang tua – bahasa Jawa). H
anya gara-gara setas plastik jambu air belaiu rela nyetir mobil sendiri malam-malam. Pasti bukan hanya karena beberapa buah jambu air yang takut habis dibagi-bagi sedangkan saya yang sudah ngiler sejak beberapa bulan lalu tidak kebagian. Pasti ini demi sebuah silaturahmi.

RENGGINAN DI RUMAH KOST

RENGGINAN DI RUMAH KOST

Orang Jawa tulen pasti tahu rengginan. Rengginan dikenal di seluruh telatah (wilayah) tanah Jawa dengan nama yang berbeda tergantung pemberian masyarakatnya. Dia bisa rengginan, arang-arangginan atau rengginang. Bagi Sudara yang belum tahu rengginan, ketahuilah bahwa dia adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu dibumbui bawang dan garam, dibentuk bulat besarnya sesuai selera lalu dijemur dan jika sudah kering bisa digoreng dan dihidangkan. Rasanya renyah dan gurih. Warna bisa mulai dari putih (warna asli ketan putih), ungu kehitaman (warna asli ketan hitam), merah, kunih, hijau. Sampai saat ini belum ada warna lain.

Bagi anak muda Jawa jaman sekarang rengginan bukan lagi makanan istimewa. Dia sekedar pajangan pelestarian budaya yang kalau tidak di-uri-uri (dilestarikan) akan kualat pada nenek moyang. Terciptalah rengginan dengan rasa manis, rasa keju dan segala rasa yang ujung-ujungnya rengginan-rengginan yang tradisional juga. Makanan kampung.

Kenapa saya pilih rengginan? Karena bagi saya rengginan adalah sebuah perlambang sekaligus kenangan saya pada saat saya kuliah, kost jauh dari orang tua.

Saya dulu kost berpindah-pindah. Dari Gubeng Airlangga III ke Gubeng Airlangga I ke Gubeng Airlangga VI ke Asrama Putri ke Gubeng Kertajaya ke Karangmenjangan. Di salah satu tempat itulah rengginan mendapatkan kehormatan tiada tara.

Saya biasa pulang sebulan sekali ke kota saya yang waktu tempuhnya 3 jam kalau naik bis patas (patas di Jatim selalu pakai AC) atau 4 jam pakai bis non patas. Tiap kembali ke Surabaya saya tak lupa membawa oleh-oleh yang tidak selalu enak dinilai lidah teman-teman saya yang juga berasal dari luar Surabaya; saya yakin mereka kenal rengginan tapi tidak menggemarinya.

Pada suatu hari saya balik ke Surabaya membawa rengginan mentah titipan ibu saya. Saya pribadi bersedia membawa rengginan itu karena saya telah membuktikan bahwa rengginan yang dititipkan itu rasanya Recommended. Sangat tidak biasa. Lezat. Ibu kost dan keluarga mengakuinya.

Namun sayangnya teman-teman saya tidak mempercayainya. Begitu tahu bahwa saya hanya membawa rengginan mereka kecewa dan tertawa-tawa.

Kurang ajar benar mahasiswi-mahasiswi yang mengaku sholehah ini.

Di akhir bulan, biasanya kondisi keuangan kami menipis dan terpaksa kami mengirit termasuk beberapa orang yang uang jatahnya berlipat ganda dibanding uang jatah saya. Mereka inilah yang mengejek rengginan saya.

Dengan kreatif saya dan teman sekamar saya mengeluarkan makanan sakti kami berupa rengginan yang tentu saja telah berkurang karena saya dan dia menikmatinya setiap hari sambil belajar.

Ternyata orang-orang kaya yang sedang melarat itu mau juga memakannya. Awalnya malu-malu, lalu coba-coba kemudian… Wah, ternyata mereka doyan bahkan mereka makan lebih banyak. Kabar baiknya, saya masih ingat merekalah yang menghabiskan rengginan saya.

“Enak lho Mbak… Siapa yang bikin?”

“Ini pasien ibuku melahirkan, trus gak bisa bayar penuh nglunasinnya pakai rengginan. Bener nih enak?”

“Iya. Bener. Masih ada nggak yang mentah? Kita goreng lagi yuk. Biar aku yang beli minyak.”

Saya terkagum-kagum lalu tercenung. Apa benar mereka menikmati rengginan ini? Atau hanya karena mereka sedang mengurangi pengeluaran sambil menunggu ATM mereka penuh kembali?

Saya membayangkan orang-orang kaya di sekitar saya saat ini sebagai teman-teman kuliah saya yang kaya yang menghabiskan rengginan malang itu. Apakah mereka memang menikmati “penjarahan” itu karena mereka menyukai rasa hasil jarahan atau karena mereka mengadakan “perburuan” karena kebutuhan? Saya tidak pernah tahu karena saya tidak menawarkan rengginan lagi sejak saat itu.

MULTI LEVEL MARKRITING

MULTI LEVEL MARKRITING

MLM…

Tiga huruf ini mengingatkan saya ada orang-orang yang kukuh dan gigih dengan apa yang dia yakini dan lakukan.

Sebelum saya menjadi MP-er (Multiplier) seperti sekarang, saya pernah mengajar di sebuah lembaga pendidikan yang sampai saat ini masih saya anggap sebagai rumah saya karena saya sangat dekat secara pribadi dengan personnel-nya. Dengan para students-nya saya juga cukup dekat. Mungkin karena saya suka SKSD (sok kenal sok dekat) dengan mereka sehingga saya pernah dinobatkan menjadi pengajar tertenar. Sebuah gelar yang tidak membuat saya bangga tapi membuat saya sangat bersyukur karena saya diakui punya banyak teman.

Apa hubungannya dengan MLM?

Seorang student saya memiliki cita-cita menjadi historical MLM-er menjadi member termuda yang menduduki peringkat “duta besar bermahkota”. Dia menjadikan saya kaki-nya lalu menjadikan banyak teman saya sebagai kaki-kaki saya dan kaki-kaki dari kaki saya dan seterusnya sehingga posisi student saya ini semakin menjulang tinggi termasuk karena sokongan saya.

Saya salut dengan dia. Percaya diri dan semangatnya yang berkobar-kobar membuat saya malu kenapa waktu muda dulu saya tidak kenal MLM sehingga dalam usia segini saya akan telah memiliki rumah megah dan mobil mewah dan bisa jalan-jalan melihat salju yang berupa es tapi tidak basah. Nasib…

Yang saya ingin ceritakan adalah sebuah cerita lain tentang MLM yang saya alami belum lama ini.

“Mbak, ayo ikut ke seminar kesehatan.”

“Dimana Ta?”

“Di Jakarta.”

Setelah mengiyakan maka kami bikin janji untuk pergi bersama menimba ilmu supaya kita tahu apa yang mesti kita lakukan bila ada keluarga atau orang dekat kita yang sakit.

Pada hari H kami pergi berlima: saya & Novita (yang diundang), Dita & Irfan (yang mengundang) dan supir Dita. Saya sempat heran kalau seminar kok tidak ada undangan. Malahan bayarnya di depan pintu dan kami dibayari.

Tapi saya percaya karena saya lihat di ujung ruangan seperangkat LCD stand by menampilkan tulisan SEMINAR KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN… Di pojok kanan bawah tertulis nama perusahaan obat yang kurang saya kenal (belakangan saya tahu bahwa itu nama supplier di Indonesia).

Setelah beberapa saat menunggu suara musik terdengar bertalu-talu. Saya dan teman lain yang diundang terbengong-bengong karena sang MC memperkenalkan sebuah produk MLM yang pernha saya dengar dari teman lain. Saya lemas. Merasa ditipu, dijebak, dimanfaatkan. Saya tidak semangat. Untuk bertepuk tanganpun saya pelit tapi nggak enak sama pengundang. Di akhir acara kami berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil lalu saya dan teman yang diundang tadi diprospek. Saya bingung mau jawab apa antara menolak dan nggak enak sama teman saya yang mengundang. Teman yang diundang juga begitu.

Saya tidak menyalahkan teman saya yang mengundang itu. Dita adalah salah satu teman terbaik saya. Dia sering men-support saya kalau semangat saya lagi melorot.

Saya hanya menyesal karena secara tidak sengaja saya menceritakan bagaimana student saya
yang sukses karena MLM, lalu saya juga bercerita MLM adalah salah satu cara untuk menjadi kaya. Saya juga bilang seandainya saya jadi MLM-er tangguh maka saya akan bisa kaya raya; saya akan punya kebebasan uang dan waktu. Singkatnya saya bercerita tentang mimpi saya menjadi kaya karena MLM.

Sungguh MLM yang saya bayangkan ini bukan Multi Level Marketing. MLM yang saya maksud adalah Multi Level Markriting karena saya TERBURU-BURU memaknainya sebagai jalan untuk kaya tanpa tahu bahwa saya harus begini, begini, begini, begitu, dll sehingga saya hanya membayangkan kekayaan yang saya perolah sampai otak saya kriting jadinya.

Saya memang hobi cerita tapi sekarang saya nggak mau cerita lagi tentang MLM kepada sembarang orang. Kapoooook…

Sukses untuk para MLM-er yang tangguh.

KESANDUNG GUNUNG

KESANDUNG GUNUNG

Istilah ini saya dapat dari memory otak saya yang terbatas dan kabur ini. Sepertinya ada seorang bijak bestari di masa lalu yang mengingatkan hal ini pada saya. De javu.

Boleh lah kita bertanya-tanya apa iya sih kita ini bisa kesandung gunung? Pertanyaan logis dan masuk akal. Jangankan kesandung, nabrak saja nggak bisa kecuali kita terbang dengan pesawat atau gantole dan kehilangan koordinat lalu mak gabruk. Bisanya kita ini mendaki gunung atau glundhung (jatuh berguling-guling) dari gunung saat mendakinya.

Tapi Sudara, gunung disini bukan gunung fisik seperti Semeru, Kelud, Slamet, Kerinci, Rinjani, Bolo, Klothok, Salak, Welirang, Kendeng, dll sebutkan sendiri namun dia adalah simbol masalah besar yang dihadapi manusia. Nah, seperti pada saat seseorang mendaki gunung, pastinya dia akan sangat berhati-hati. Bahkan ekstra hati-hati. Terbayang di jalan banyak gangguan: manusia lain, alam yang keras, cuaca yang changing, makhluk hidup lain (macan, ular, gendheruwo, lintah, nyamuk, dll) dan hal-hal lain yang masuk dalam budget “angggaran tak terduga”.

Masalah besar cenderung kita perlakukan dengan sangat khusus seperti kita memperlakukan kristal (kalau kita tahu itu kristal kualitas tertinggi dan berharga untuk kita tentunya) sehingga kadang saking takutnya terhadap kegagalan menghadapi masalah tersebut kita malah tidak melakukan apa-apa. Bengong aja. Sedih aja. Nelongso aja.

Lalu apa yang bisa tersandung oleh kaki kita kalau bukan gunung? Dialah KERIKIL alias batu kecil…

Tak sedikit manusia yang tersandung batu saat mereka berjalan. Kedengarannya tidak serius namun jika dianalogkan dengan pembahasan kesandung gunung diatas, bisa saja dampaknya sama besarnya dengan glundhung dari gunung.

“Suster, obat saya diminum jam berapa?”

“Yang penting sebelum makan ya Mbak.”

“Yang merah juga?”

“Iya.”

“Kemarin kok nggak ada warna biru ya Sus? Ini bener obat saya? Tolong cek dulu Sus.”

“Iya lah, Mbak. Masak obat pasien saya tuker-tuker?” Sang suster sedikit meninggikan suaranya tanda tersinggung lalu pergi.

Maka sebagai pasien yang taat meminum obat sebelum makan sembilan tablet yang menurut perasaan saya tidak biasa karena ada satu pil warna biru. Biasanya posisin pil warna biru itu digantikan oleh pil warna hijau muda. Saya juga tidak tahu itu obat apa yang penting glek aja langsung. Baru kemudian saya makan.

Belum selesai makan, saya tersedak. Tenggorokan saya terasa tercekik. Lalu saya sesak napas. Mbak Srikah, sepupu saya yang telah menemani saya di rumah sakit selama 4 hari panik lalu memencet bel dan datanglah suster yang memberikan obat tersebut setelah 15 menit kami menunggu. Saya melihat perubahan fisik saya: ujung-ujung jari saya berwarna hitam, kulit saya memucat, pandangan saya kabur, badan saya dingin dan kebas, kesadaran saya juga perlahan menurun. Saya sempat berpikir saya akan mati dan sekilas mendengar sepupu saya istighfar dan membisiki saya kalimat-kalimat ilaahi.

Apakah menyiapkan obat untuk pasien adalah hal kecil? Ya. Rutin. Mudah. Termasuk kerikil dalam tugas sang suster. Apalagi pasien dirawat hanya karena alergi obat bukan karena sakit jantung atau kanker. Namun karena suster tidak berhati-hati berjalan tersandunglah dia. Dia hampir membunuh seorang Rike yang salah minum obat warna biru dan tidak segera datang saat bel berbunyi dengan alasan bel-nya berisik dipencet berulang-ulang.

Sekarang saya belajar bahwa hal-hal kecil perlu kita perhatikan sesuai porsinya. Seandainya sang suster mau memeriksa obat dalam cangkir plastik mungil sebelum ngeloyor pergi, dia tidak perlu mendapatkan hukuman keras karena “meracuni” pasien. Dan dia tidak perlu sakit hati dicaci-maki dokter. Dia juga tidak malu dianggap tidak becus bekerja.

Oalah sakitnya kesandung kerikil. Anda pilih mana? Kesandung gunung atau kesandung kerikil?

Kalau saya sih pilih makan gado-gado.

HAK PATEN SEBUAH IMPIAN

HAK PATEN SEBUAH IMPIAN


Kisah ini adalah tentang penghargaan terhadap ide seseorang.

Teman terdekat saya memiliki segudang ide yang deras mengalir seakan pikirannya adalah mata air jernih yang tiba2 memancarkan air bah. Dan saya seperti sebuah kuali tanah yang kepenuhan.

Beberapa minggu lalu saat kami menikmati gurihnya tahu goreng dan udang goreng tepung berdua, air bah itu datang lagi.

”Aku ada ide, kita bikin bla bla bla…”

Saya sendiri sang pemikir kelas teri segera mengamini karena yang terbayang di benak saya adalah bisnis yang cocok dengan hobi saya. Orang normal memilih pekerjaan yang dia sukai bukan?

Hingga beberapa saat kemudian karib saya ini tidak juga mengajak saya rembugan ttg bisnis ini maka saya pun langsung mengawalinya.

”Bla bla bla… Ayo kapan? Ntar kalau dalam waktu 2 bulan kamu gak move, ide ini aku jalanin sendiri lho, Bro!” kata saya.

”Iya deh, asal royalti tetep jalan. Traktir n0nt0n atau makan udah cukup,” jawab dia.

”Gak bisa. Kan aku yang kerja… Lagian kamu punya ide bukannya direalisasi sesegera mungkin.” Saya menyergah dengan tegas.

Sekarang saya merenungi apa yang saya katakan pada teman saya bahwa dia tidak berhak mendapat royalti karena sayalah yang mewujudkan konsep menjadi praktik. Kalau hal itu terjadi, alangkah jahatnya saya merebut sebuah impian sukses sesama. Jika saya jadi memakai ide tanpa memperhitungkan proses mengkhayal si pemikir, alangkah bodohnya saya, alangkah sombongnya saya…

Kalau goyang Mbak Inul yang sempat bikin heboh saja dipatenkan, mengapa ide cemerlang tidak? Padahal keduanya sama-sama berawal dari percikan mimpi. Mbak Inul pernah bermimpi terkenal sebagai entertainer. Karib saya bermimpi menjadi seorang pebisnis.

Saya membayangkan Pak Bogan, rekan saya karyawan di Kantor Hak Paten akan sangat sibuk mendata para pendaftar yang ingin mempatenkan penemuan mereka.

Malahan saya sedang berpikir bahwa orang yang mencetuskan ekspresi berikut pantas mendapat hak paten bahasa.

Masak sih…
Iya lah… Masak iya dong. Namanya juga anak sekolah bukan anak sekodong…

Saya yakin hanya orang kreatif yang berani bereksperimen dengan hal baru walau kadang aneh, nyleneh, sinting. Saya gemas mengetahui bahwa saya tergolong manusia yang menghargai ide hanya sebagai sebuah hasil bukan sebuah proses. Dan saya menyesal. Maka saya pun dating kepada karib saya tersebut untuk menyetujui royalty yang dia minta.

”Ok, nanti aku traktir kamu. Tapi jangan bilang-bilang kalau ini ide dari kamu ya Bro,” ujar saya sambil cengengesan.

Ha ha ha…

PEJALAN KAKI AMATIR

PEJALAN KAKI AMATIR

Dari terminal Blok M ke tempat kerja saya berjarak sekitar 2 kilometer. Terlalu pendek untuk ditempuh dengan kendaraan bermotor. Jadi idealnya mesti berjalan kaki. Disinilah tantangan terbesar bagi saya setiap pagi karena berjalan kaki di kota Jakarta bukan sebuah kegiatan yang menyenangkan lantaran banyaknya “godaan”.

Kalau godaan berupa lelaki ganteng bukan hal sulit bagi saya karena subjektivitas saya terhadap keindahan terbilang tinggi. Jadi apa godaannya?

Pernah saya harus merapatkan badan saya ke pagar pembatas halaman dengan trotoar karena para pengendara m0t0r menemukan trotoar sebagai jalur cepat untuk mencapai tujuan.

Pernah juga saya harus keluar trotoar karena sebuah potted plant ukuran jumbo menghadang langkah saya saat harus berpapasan dengan pejalan kaki lain.

Mata juga harus awas karena lubang menganga disana-sini. Biasa-bisa nyemplung basah dan bau atau terbelit kabel entah instansi mana.

Bukan Jakarta namanya kalau tak ada sampah berceceran di persimpangan (sampah ditumpuk di persimpangan untuk memastikan bahwa petugas melihat dan lalu memungutnya), padahal disitu tersedia tempat sampah. Walhasil, sol sepatu saya mesti multi quality: high suspension, anti lengket, anti basah kalau bias juga anti kotor dan bau.

Plus warni (warung mini) yang mengurangi lebar jalur pejalan kaki.

Yang paling mengenaskan adalah sesama manusia yang mencipratkan air lantaran kaca film membuatnya tidak mampu membedakan mana aspal rata mana hitam kubangan air hujan; ditambah musik di m0bilnya membuat teriakan kemarahan senada dengan teriakan Freddie Mercury “We are the champion my friend…” Seakan sedang balapan di Sentul!

Oalah, mau jalan aja kok susah.

Pernah saya berpikir bahwa jalan kaki adalah cara murah dan sehat untuk mencapai kantor. Namun sempat juga saya berpikir naik kendaraan bermotor bisa membuat saya tiba di kantor dalam keadaan lebih tenang dan bersih sehingga tetap merasa nyaman saat bekerja sampai usai nanti.

Alamak, kapan saya bisa hidup tenang sebagai orang kecil? Bagaimana bisa tenang? Sudah saya ini rela hidup sederhana eh masih juga dipersulit. Kalau saya sudah kehilangan kesabaran, saya kemana-mana naik Jaguar saja! Masalahnya untuk seliweran pakai Jaguar saya juga masih harus sabar. Sabar, sabar, sabar…