SIMBOL ATAU MAKNA: MANA YANG LEBIH PENTING (1)

SIMBOL ATAU MAKNA

Mana Yang Lebih Penting?

Barangkali simbol adalah elemen termenarik jika bukan terpenting dalam karya sastra. Tanpa simbol karya sastra terasa kurang nyastra. Semua genre bisa sangat sarat simbol demi tercapainya tujuan dilahirkannya karya sastra: menyampaikan makna.

Walaupun menyampaikan makna adalah sebuah “tugas mulia” sastrawan dalam membangun karyanya, jangan harap makna itu selalu dilukiskan secara gamblang tanpa terjadinya kesalahpahaman antara makna yang dimaksud oleh pekarya dan makna yang dipahami oleh penikmat. Jangan juga sangka “selisih nol” akan terjadi antar sesama penikmat dalam memaknai simbol yang sama. Sering kali timbul multi-interpretasi yang disebabkan oleh banyak faktor.

Jadi simbol sangat mungkin diapresiasi secara berbeda; rasio perbedaannya pun tak hingga; dan tak bisa diprediksi.

Coba Anda maknai puisi berikut, lalu Anda bisa men-share dengan jujur tentang makna yang tertangkap oleh rasa Anda.

Wanting is – What?

Summer Redundant,

Blueness abundant,

– Where is the blot?

(dari JOCOSERIA – Robert Browning)

Bagi manusia yang gemar sastra seperti saya, banyak realitas yang kemudian menjadi potensial diinterpretasikan. Kecintaan kepada dunia sastra membuat saya terobsesi untuk tidak pernah puas dengan interpretasi tunggal atau satu-satunya interpretasi yang benar sebab kebenaran dibalik simbol yang kita interpretasikan ibarat sebutir bawang yang jika dikupas selapis kulitnya maka yang kita lihat adalah kulit dalam yang terbungkus kulit luar. Lalu setelah kulit kedua maka ada kulit ketiga, keempat, kelima dan seterusnya hingga akhirnya kita menemukan lapisan yang terakhir di ujung keletihan.

Jikalau kulit adalah simbol maka maknanya adalah kulit berikutnya. Dan kulit kedua tersebut menjadi simbol baru yang niscaya terkelupas. Jika masih ada energi dan waktu, singkaplah kulit ketiga sebagai simbol berikutnya. Kulit keempat sebagai rahasia ternyata tak jadi rahasia lagi karena beberapa saat kemudian kulit kelima muncul sebagai makna selanjutnya. Begitu seterusnya.

Apa modal mengupas bawang? Pisau kah? Sejatinya mengupas bawang tidak mutlak mememerlukan pisau tajam. Ujung jari dan sedikit peran kuku sudah cukup karena kulit bawang yang sangat tipis perlu ditarik secara hati-hati supaya yang dibungkusnya tidak terluka. Dalam hal pengungkapan makna, hanya dibutuhkan kepekaan jiwa berkat kelembutan hati. Tak terlalu penting apakah sang pencari makna seorang jenius atau tidak untuk bisa memahami simbol yang membungkus makna berupa kebenaran (nisbi). Tuhan tidak pelit kepala orang yang tidak intelek. Gusti Allah itu sayang pada jiwa yang merendah kepada-Nya. Jadi mengapa orang yang IQ-nya tinggi mesti takut mengupas simbol? Dan mengapa yang EQ dan SQ-nya tinggi tidak mencobanya pula?

Dari manakah kelembutan itu? Dari kesadaran diri bahwa jiwa ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Masing-masing kita adalah elemen sebuah jaringan yang dirajut dengan sangat kalkulatif. Ibarat rumah laba-laba, sudut dan jari-jarinya sangat presisi; benang-benangnya lebih kuat dari tali baja sekalipun. Dan network ini hanya terbukti kuat jika jiwa-jiwa yang membentuknya benar-benar terajut dengan kesadaran yang sama.

Jadi Sudara-Sudaraku, apabila kita menghidupkan kesadaran bahwa dibalik badan-badan kasar ini adalah rajutan kesadaran yang tak terpisahkan maka alangkah indahnya kenyataan ini. Kenyataan yang dihiasi simbol-simbol yang siap diungkapkan sehingga tersingkaplah khazanah yang selama ini terbungkus rapat seperti tersegel kerasnya pikiran manusia.

Jika berdzikir adalah pelembut hatimu, maka berdzikirlah. Jika merenung adalah pelembut jiwamu, maka mernunglah. Jika bermeditasi adalah pelembut jiwamu, bermeditasilah. Hanya engkau yang tepat tahu pelembut yang mana yang memberimu kesadaran terjernih.

Kesadaran itu telah ada; dia adalah api abadi menunggu hembusan angin kelembutan yang mengantar cahaya benderang. Hembusan yang kencang mengobarkannya atau meredupkannya. Hidupkah kelembutan, sadarilah kesadaran, maknailah kehidupan.

Simbol dan makna menyelimuti kita; menunggu hidupnya kelembutan dan kesadaran kita untuk menguaknya. Jangan sampai terlalmbat: mana simbol, mana makna. Tak mengapa terbalik menandainya.

(bersambung)

Keramat – 21 Januari 2010 – 10:10 malam

INGIN PULANG DIAM-DIAM

INGIN PULANG DIAM-DIAM

Aku ingin diam

Seribu bahasa;

Mengundang kunang-kunang

‘Tuk memanduku pulang.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 10:52 pagi

BATU LONCATAN

Kemarin mengapung

Sekarang tenggelam,

Melesak ke dalam lumpur:

Aku kehilangan batu loncatan.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 10:55 pagi

HIDUP (KEMBALI)

Orang-orangan sawah

Tiba-tiba hidup berlarian, mengejar

Burung yang lapar.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:02 pagi

POWER RANGER MERAH

Kalau berubah itu biasa—

Jadi Power Ranger merah itu istimewa:

Dari warnanya saja engkau tahu

Apa kebisaanku.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:06 pagi

TERBANGUN

Kulepas selimut,

Mencari hawa segar keluar bidang tidurku.

Malam,

Lipatlah selimutmu. Kita bergegas menjemput-

Nya.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:12 pagi

SETAPAK

Sempit;

Mendadak mengarah tak kemanapun;

Setapak ini biar kutinggalkan saja.

LIA Thamrin – Januari 2010 – 4:44 sore

GELAK TAWA

Gigi putih,

Gusi yang menyembul,

Otot yang tertarik,

Suara yang meretakkan dinding,

Rambu-rambu keceriaan hati

Yang lama terpenjara.

Tertawa saja walau tak lucu.

LIA Thamrin – Januari 2010 – 4:51 sore

MAHARAYA

Tandanya keheningan

Penggambarannya puncak kebutaan

Pengenalannya terangnya kegelapan

Ah Sang Maharaya.

LIA Thamrin – Januari 2010 – 5:00 sore

AYO

Tadi pagi kamu datang

Meraih jemariku

Mengajakku berangkat.

Ayo!

Keramat – February 8, 2010 – 11:11 malam

TAKUT BERBEDA ATAU TAKUT SAMA?

TAKUT BERBEDA ATAU TAKUT SAMA?

Semakin tua usia, semakin banyak pertanyaan meletup-letup di kepala saya seperti lapangan penuh kawah lumpur yang bergantian memuntahkan rebusan dari dasarnya. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang sedang-sedang saja. Ada yang bersuara, ada yang lembut, ada juga yang tertahan. Ada yang melejit tinggi, ada yang meluber ke segala arah, ada juga yang tertahan sebelum meledak. Duh, pertanyaan-pertanyaanku ini memenuhi arena belajarku.

Akhir-akhir ini kucurigai ketakutanku bahwa aku tidak lagi mampu menghidupkan kehidupan pikiranku yang selama ini menjadi energi terbesar untuk menjadi aku yang sekarang ini. Aku mulai tak punya nyali bertanya.

Ada beberapa pihak yang kurasakan sedang berusaha mematikan potensiku dengan jalan menggembosi semangatku untuk membuka diri terhadap segala keniscayaan Yang Benar. Ada lagi pihak lain yang ingin membelokkan niatan saya: dari menyibak tirai menjadi merobek tirai, keduanya bertujuan sama (membuka tabir) tapi berefek beda. Ada juga yang tetap percaya diri menemani saya seperti induk burung melepas anak-anaknya terbang tanpa sekolah. Terima kasih semua.

Saya sedang memilah kebenaran… saya tahu itu. Dianggap salah oleh sebagian pihak… saya tahu itu. Dinilai berlebihan dalam membuka pikiran saya… saya sadar itu. Pendeknya saya sedang berevolusi secara spiritual dalam keadaan sadar tidak dibawah pengaruh siapapun dan reaksi sekitar sungguh beragam: positif, negatif, netral.

Dus, ketakutan itu bukanlah bahwa saya menjadi sendiri diantara belantara tirai dan kegelapan melainkan sendiri dan kesepian karena tak lagi mampu memantik api abadi yang seharusnya menyala terus sampai akhirnya cahaya ini mesti berkelana kepada Sang Sumber; layaknya Gadis Korek Api mati kedinginan kehabisan batang korek api yang memercikkan api penghangat tubuhnya. Mati sendirian, kedinginan sementara orang-orang berpesta di depan perapiannya.

Ketakutan ini wujud ragam kebingungan: apakah takut sama ataukah takut berbeda?

Apakah takut sama?

Siapa yang tak bangga merasa unik dan istimewa? Menjadi manusia yang mumpuni, menjadi pribadi yang tak tersamai dalam artian punya pencapaian yang tak biasa. Apa keinginanku? Aku ingin orang mengenalku tanpa terkenal, aku ingin orang menghargaiku tanpa aku harus membului diriku dengan bulu mereka. Intinya aku tak ingin menjadi biasa-biasa saja karena menjadi biasa berarti tidak menjadi apa-apa. Ini wajar tetapi ternyata kemungkinan justru sebaliknya.

Apakah takut berbeda?

Alangkah sedihnya menjadi orang yang tak dianggap pantas menyatu dalam suatu sistem sedangkan sistem itu sedang memuatnya. Seakan menjadi kucing yang sejak lahir hidup bersama kawanan macan, diasuh oleh induk macan bersama-sama gogor-gogor (anak-anak macan, Bahasa Jawa) saudara angkatnya. Ketika mereka tahu aku bukan macan, apakah mereka akan memakanku atau mempermainkanku seperti kucing membolak-balik tikus yang klenger dibawah tangkapannya?

Apakah aku takut?

Inilah pertanyaan sebenarnya. Dan saya masih belum punya jawabannya.

Keramat, 8 Februari 2010 – 11:05 malam

TERTIPU

tertipu

oleh gemerisik daun, wangi kembang setaman, ranum butir mengkilap yang disuguhkan bumi.

terpelanting

oleh juluran otot pohon raksasa, sulur beringin, pokok patah yg dipasang sebagai jebakan kijang.

terjerembab

dalam selimut kejantanan, rayuan maut dusta dan elusan sementara yg hanya bertahan ketika dekat.

tertipu

oleh kelihaian pemburu rusa dan para pembantunya yg tak lama lagi menikmati dagingku berbumbu racun yg tadinya melumuri senjata mereka.

December 30, 2008 – 1.00am

TUHAN BERWARNA DI MASA KECILKU

TUHAN BERWARNA DI MASA KECILKU

Bicara tentang tuhan seakan bicara tentang “what is inside a storage room”. Gudang di rumah ibu saya remang-remang dan jendelanya menghadap ke gudang rumah sebelah. Ruang itu hanya terang ketika ibu atau kakak perempuan saya mengambil sesuatu. Selebihnya pitch black.

Kenapa saya bicara tuhan hari ini? Karena ingatan saya tiba-tiba terbang ke masa kecil yang ternyata cukup spiritual. Topik percakapan saya dengan teman kecil saya adalah mimpi dan pertemuan manusia dengan tuhan.

“Aku kemarin ketemu Gusti Allah, Mbak,” kata adik teman saya.

“Dimana, Dik?” tanya saya

“Di bawah pohon waru itu lho. Aku dijak ngomong tapi aku wegah.” (Aku diajak ngobrol tapi nggak mau: Bahasa Jawa)

“Apa dia bilang kalau dia Gusti Allah, Dik?” tanyaku penasaran.

“Gak, tapi aku tahu kalau dia itu Gusti Allah”.

“Warnanya apa, Dik?” Saya masih penasaran.

Abang.” (merah: bahasa Jawa)

Mosok rupane siji thok, Dik?” (masak warnanya cuma satu?; Bahasa Jawa)

“Ada hijaunya sedikit. Dan dia bawa tasbeh.” (tasbih, Bahasa Jawa)

“Kemarin pasiennya ibuku juga ada Gusti Allah-nya, dia teriak-teriak. Dia bilang katanya dia itu Gusti Allah. Sama ibuku dikasih makan terus dia bilang terima kasih terus pulang. Gusti Allah ki tibake gendheng yo, Dik…”. (Gusti Allah ternyata gila ya: Bahasa Jawa)

Begitu bebasnya kami bicara tentang tuhan saat itu tanpa ada yang menangkap walaupun kami ngobrol di hadapan seorang perwira yang sensitif SARA. Malahan beliau dan istrinya tergelak gembira melihat kami bertiga.

Indahnya masa itu ketika bicara ngawur tentang tuhan tidak membuat kami merasa berdosa dan juga tak membangkitkan amarah orang di sekitar kita. Kadang saya berpikir mengapa usia yang makin tua justru membuat manusia semakin pemarah dan tertutup.

Tuhan menjadi sangat ekslusif. Bahkan belum sempat bicara lebih lanjut pun sudah langsung ada plang besar dipasang “tak akan mampu memikirkan tuhan”. Kesantunan menjadi kriteria utama sebelum kemudian ada ilmu dan akhirnya kejujuran baru boleh diperankan. Jadi bicara jujur tentang tuhan sangat terbatas karena kalau tidak sesuai dengan kesantunan kepada tuhan dan keterbatasan ilmu tentangnya maka terlarang hukumnya.

Bagaimana kita bisa dekat dengan Tuhan jika berbicara tentangnya pun seakan diberangus? Bagaimana pikiran ini akan terbuka jika ternyata Tuhan hanya sebatas indoktrinasi.

Bukankah Tuhan ingin dikenal oleh ciptaan-Nya? Bagaimana kalau ternyata cara para ilmuwan mengenalkan Tuhan kurang tepat sehingga banyak manusia akhirnya mati kafir? Kafir dalam hal ini adalah “tertutup” dari pengetahuan tentang Tuhan yang sejatinya. Bagaimana kalau ternyata Tuhan telah dipolitisir untuk kepentingan golongan tertentu yang sedang berkuasa? Bagaimana aku bisa merasakan berwarnanya Tuhan jika tak kutemukan suasana yang tepat untuk ngobrol tentang Tuhan?

Alangkah lucunya ekspresi adik temanku yang mengatakan tuhan berwarna merah-hijau membawa tasbih. Dan alangkah lugunya aku yang menganggap orang yang mengaku tuhan adalah Tuhan padahal
dia adalah orang gila yang tiap pasaran Kliwon datang ke klinik orang tua kami karena tiap pasaran Kliwon orang-orang pedalaman “turun” ke pasar sekaligus suntik sehat atau berobat kepada bapak dan ibuku.

Oh, Tuhan… Engkau begitu berwarna bagi manusia mini yang matanya jujur. Engkau juga gila karena membiarkan dirimu dikenal secara tak benar sehingga banyak yang menyembah tuhan yang bukan sebenar-benarnya Tuhan.

Banyak orang bersaksi tentang Engkau, sedangkan mereka bersaksi palsu semata-mata karena begitu harusnya.

Duh Gusti Allah, yang pasti Engkau ini Mahasegala. Bagaimanapun orang yang mengenal-Mu pun hanya mampu berkata: tak ada yang menyerupai dia. Seorang Musa pun langsung semaput melihat gunung yang hancur melihat-Mu. Aku hanya bisa berkata: embuh lah (entah: Bahasa Jawa).

Banyak orang merindukan bicara tentang Tuhan karena kamarahannya sudah di ubun-ubun dan Tuhan masih disembunyikan oleh penguasa di gudang ilmu yang gelap gulita.

Keramat – 9:08 malam 17 Januari 2010

REALITAS KECIL YANG (AGAK) MENGGUNCANG

REALITAS KECIL YANG (AGAK) MENGGUNCANG

Dulu waktu masih sekolah saya gemar berkelana baik sendiri maupun bersama-sama teman mengelilingi wilayah yang tak seberapa luasnya tapi sungguh membuat jiwa kami seakan mengembara ke seluruh alam semesta. Lebay!

Di setiap perjalan (hampir di setiap perjalanan tepatnya) kami selalu mendapatkan realitas baru yang sering kali mengagetkan jiwa muda kami.

Salah satunya adalah sebuah kenyataan relijius yang sesungguhnya hal sepele namun mengguncang iman kami (saat itu) walau sesaat.

Berapa jumlah ayat dalam Al Quran? 6666

Angka cantik bukan? Kembar empat!

Tapi setelah guru kami menyuruh kami menghitungnya di rumah, kami mendapatkan hasil yang sangat signifikan bedanya. Jumlah ayat dalam kitab kami adalah 6***. Silakan dihituhg sendiri ya Sudaraku… Bahkan setelah ditambahkan 113+1 basmalah pun tak bisa sampai 6666.

Banyak hal kecil yang membuat kita “ingkar” terhadap kepercayaan kita. Tetapi biasanya kemudian kita akan memaklumi kebenaran “baru” tersebut setelah membuktikan dengan pengalaman.

Ada lagi hal kecil yang pernah mengguncang keyakinan muda saya. Dulu saya sangat percaya bahwa Syeh Siti Jenar dihukum pancung oleh salah satu dari 9 wali yang berkumpul bersama. Namun setelah saya mudeng karena sekolah dan diskusi dengan teman-teman, saya baru tahu bahwa para wali yang diceritakan berkumpul bersama itu berada pada dimensi waktu yang berbeda. Mana bisa orang yang sudah mati hadir iktu mengerubuti Syeh Siti Jenar yang akan dibinasakan bersama ajarannya itu?

Hanya diri kita yang bisa menentukan apakah kita akan percaya pada sebuah teks tanpa mengalami konteks-nya. Atau kita menjaring konteks dan mengintegrasikannya dalam teks. Itu pilihan pribadi masing-masing. Yang paling penting adalah, jangan pernah berhenti menyerapi energi yang tak habis-habisnya ini senyampang jiwa kita masih punya kendaraan berupa badan yang jika nanti lapuk maka jiwa kita pun harus segera bersiap dengan “charged battery” untuk pulang ke rumah.

Mempercayai kebenaran kadang mengerikan karena harus menghadapi “kekalahan” oleh revisi-revisi alami yang ditawarkan kebenaran itu sendiri.

Kalau kepercayaan kita masih bisa diuji, maka ujilah dengan realitas-realitas yang ada. Jangan takut atau ragu karena sesungguhnya kalau memang itu kebenaran maka akan teruji, tetap cemerlang atau bahkan makin benderang.

Keramat – 14 januari 2010

SIAPA YANG KAFIR, SIAPA YANG TIDAK

SIAPA YANG KAFIR, SIAPA YANG TIDAK

Ini tulisan yang sudah tersimpan dan tak jadi-jadi karena menunggu “thread” situasi. Dan inilah saat yang tepat untuk mempublikasikannya. Sumonggo.

Transkripsi QS Al Kaafiruun

  1. Yaa ayyuhal kaafiruun.
  2. Laa a’budu maa ta’buduun.
  3. Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud.
  4. Wa laa ana ‘aabidun maa a’battum.
  5. Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud.
  6. Lakum dienukum waliyadiin.

Terjemahan Bahasa Indonesia (Terjemahan Dept. Agama RI)

  1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
  2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
  3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
  4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
  5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
  6. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku”.

Terjemahan Bahasa Inggris (Abdallah Yousuf Ali)

  1. Say: O ye that rejects Faith.
  2. I worship not that which you worship.
  3. And I will not worship that which you worship.
  4. And I will not worship that which ye have been wont to worship.
  5. Nor will ye worship that which I worship.
  6. To you be your Way, and to me mine.

Ini sebuah dialog nyata tapi tak tampak antara dua realitas satu entitas. Antara jiwa dan badan saya yang ternyata saling mengenal dengan baik sehingga sangat senang saling mengolok tanpa marah berkepanjangan. Mana yang bicara dan mana yang disapa tidak dibatasi. Bisa saja sang badan yang sedang bicara kepada sang jiwa atau sebaliknya.

Apakah yang disembah badan dan yang disembah jiwa sama ataukah beda? Silakan berdebat dengan diri Anda sendiri. Tetapi saya hanya ingin mengingatkan bahwa
ketika Anda sholat maka secara fisik Anda menghadap tembok atau gebyok atau kalau Anda sedang berdiri di belakang imam maka Anda menghadap seorang lelaki atau perempuan; bisa juga Anda menghadap sederet sesama makmum. Jadi secara fisik Anda tidak sedang menghadap Tuhan. Memangnya tuhan bisa mbok lihat sama matamu po? Maaf ini sarkasme yang memaksa Anda untuk marah tapi Anda memang harus menghadapi kemarahan jika ingin dewasa.

Karena itu jiwa saya berkata: Hai, kau badan yang tertutup terhadap yang kasat mata, aku (jiwa) tak akan menyembah apa yang kau sembah. Kau nyium lantai, aku nggak mau ikut. Kau nyium Hajar Aswad, aku wegah. Kau nyiumin buku, aku wegah. Kau kelaparan, aku tak kenal nasi atau hamburger; kau tidur, aku bisa jalan-jalan kemana-mana tanpa mengantuk; kau merapuh, aku makin benderang.

Kamu duhai badan bukan pula penyembah apa yang aku (jiwa) sembah. Bagaimana tanah bisa mencapai keilahiyahan. Badan, kau ini hanya sebatas detak jantung. Apa yang kau sembelih tak akan sampai pada Ruh Yang Agung. Dagingnya dimakan tetangga atau keluarga atau kamu sendiri. Ruh yang Agung, Allah SWT hanya menerima niat dan keikhlashanmu. Dimanakah niat dan keikhlashan itu? Ada padaku, jiwa ini.

Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

Mana peduli aku pada tembok? Pada tikar? Pada sajadah? Pada lantai? Pada kopyah? Pada mukena? Pada siapa yang mengimamiku? Pada siapa yang memakmumiku? Duh, jiwa ini terlalu terlena oleh pikatan Yang Maha. Aku tak pernah dilahirkan menjadi suatu bangsa, agama, rasa, suku atau hal lain yang menempel pada badan pinjaman tanah-air-api-angin ini.

Dan duhai badan, kau jangan memaksa menyembah apa yang aku puja. Kau memang harus menghadap tembok. Kau memang harus bersujud di atas lantai. Kamu memang harus bergerak begini dan begitu menurut apa yang diikatkan padamu sejak lahir oleh orang tua atau masyarakat atau budaya dan pendidikanmu. Kau jangan ikuti aku. Aku sanggup sujud setahun penuh bahkan seumur hidupku; seperti malaikat tertentu yang ditugaskan untuk bersujud selamanya. Kalau kamu kelamaan sujud; berarti kau tak adil pada dirimu, keluargamu, teman-temanmu, lingkunganmu dan duniamu. Rugi kan ngikutin aku melulu?

Sudahlah, jangan kau paksa aku untuk mengikuti caramu duhai badan. Kita mengabdi bersama-sama saja. Kau dengan membentur-benturkan dirimu pada dunia fisik dan aku dengan terbang bebas menemui Yang Maha.

Kalau ternyata kita belum kompak, ya jangan berantem. Kita sedang mensinkronkan getaran kita sehingga suatu saat nanti kita benar-benar siap saling mengerti dan memutuskan untuk berjalan bersama-sama; menghadapi perpisahan kita. Kau diserap tanah, aku melesat ke rumah.

Sudara-sudaraku, kalau seseorang tak seperti yang kau harapkan, sesungguhnya itu bukan masalah maqom (makam, tingkatan) karena yang belum mati tak bisa dimakamkan oleh yang mati; apalagi kalau sama-sama mati: mana bisa saling memaqomkan?

Brangkali yang dia perlukan hanya jeda, dimana tak seorangpun mengisinya kecuali Yang Menentukan. Jangan gusar, kau tak bersalah dan dia pun belum tentu tersesat.

Jakarta&Tangerang; akhir 2000 – Januari 2010

MUSA MENCARI HARUN

MUSA MENCARI HARUN?

Apakah aku ini seorang yang kesepian?

Aku tak tahu;

Apakah aku ini seorang pencari ilmu?

Aku juga tak tahu;

Apakah aku ini seorang pencinta?

Aku tak tahu;

Apakah aku ini seorang yang gagal?

Aku juga tak tahu;

Apakah aku ini seorang yang marah?

Sepertinya hanya itu yang kutahu.

Aku marah dan marah lagi.

Aku marah berulang kali.

Aku marah berlama-lama.

Tahan sekali kemarahanku?

Api di dadaku ini tak segera padam

Mungkin karena aku tak mau memadamkannya.

Aku bertarung melawan pemadam kemarahanku

Karena kukira api ini sumber segalanya.

Dengan api ini lingkaranku menjadi terang;

Dengan api ini aku merasa aman;

Dengan api ini aku melanjutkan hidupku;

Yang gontai menyeret langkah berat

Satu-satu.

Berpuluh bingkai kaca kudatangi

Kebertanya pada cermin-cermin itu

“Duhai Sang Cermin, apakah aku ini sesungguhnya?

Adakah yang lebih malang daripadaku?

Adakah yang lebih beruntung daripadaku?

Apakah akhir perjalananku?”

Cermin satu,

Cermin dua,

Cermin tiga,

Dan cermin yang lain-lainnya

Mereka menjawabku tanpa ampun;

Memantulkan apa yang mau mereka pantulkan;

Memantulkan apa yang mereka suka.

Kadang sesuatu yang tak sesungguhnya padaku ada

Kebohongan tentang diriku kah?

Bukan.

Itu sesuatu yang terpantul di retakan mereka.

Lalu kudapati kini cermin-cermin mungkin tak rata atau retak atau berdebu.

Ku ber-ja-lan.

Sekubangan air menghadangku

Menggodaku untuk berkaca

Karena segala yang mengkilat kukira memantulkan

Dan yang kutemukan pun hanya bayangan gelap tubuhku.

Kutersungkur.

Menangis.

Meraung.

Mencabiki kesadaranku

Yang belum juga terbit dari malamnya.

Lalu kutertidur lelah.

Mana oh manakah Harunku?

Atau jika beruntung kudapat Shofuraku?

Oh… datanglah Ibu Musa

Biar kumenyusu padanya,

Kemudian dikenalkan pada saudara perempuan dan

Saudara lelakiku yang kelak menjadi juru bicaraku.

Atau antarkanlah aku pada Nabi Syuaib.

Biarpun 10 masa aku mesti bekerja

Kuberharap itu ada.

Angka 10 begitu menggoda

Tetapi manakah dia?

Tertipukah aku?

Atau kesabaranku hanya sebanding Musa muda yang banyak tanya?

Hanya sekedar keluargaku dan keluarga Syuaib kah ujung pencarianku?

Atau aku berjalan lebih jauh lagi?

Aku tak mungkin menjadi Musa Sang Nabi dalam kitab.

Aku hanya ingin mengalami Musa yang bernubuwah.

Biarkan aku sampai di Gunung.

Biarkan aku diguyur Cahaya.

Biarkan aku berlidah kelu.

Biarkan aku pingsan.

Biarkan aku sejenak membuang asma dan sifat —melebur dalam wujudnya.

Jangan halangi.

Sedangkan kini aku baru sekedar Musa mencari Harun

Sehingga jika keberuntungan membawaku pada Nabi Syuaib, kuakan bertemu Shofura.

Keramat – 11 Desember 2009 – 9:00 malam

DULU SEKARANG

DULU SEKARANG

Ada seorang murid

Yang tiap hari dilontari tebakan oleh gurunya

Maka belajar ia tiada henti.

Menghapal

Supaya bisa menjawab pertanyaan suhu.

Bicaranya seperti rekaman ensiklopedia audio

Yang membuat orang terjatuh rahangnya karena terpana.

Lalu diluluskannya murid itu

Menjadi guru ia

Yang menjawab pertanyaan barisan pasukan mau tahu

Bersenjatakan pertanyaan.

Lama, lama, lama…

Guru muda jenuh

Karena ilmunya sungguh beku

Tak cair

Apalagi bertumbuh.

Kemudian dia belajar bertanya

Karena konon semakin ia cerdas bertanya

Maka cerdas juga jawaban yang ia tuai.

Namun jawaban telah membingungkannya

Membuatnya berputar-putar

Bak keledai di penggilingan gandum.

Rasa lelahnya mencapai atap dunia

Yang jika tertembus tak bisa lagi ia pulang.

Maka

Sekarang

Diputuskannya

Untuk diam

Karena

Dalam diam

Ia

Menghargai jawabnya.

11 Januari 2010 – Barito

BERTEDUH DIBAWAH CEMARA

BERTEDUH DIBAWAH CEMARA

Hari makin larut

Di ujung jalan matahari tinggal menunggu gelap sempurna

Kakiku terhenti mengharap jeda

Sebuah batu ceper besar disiapkan bagi para pejalan yang kelelahan

Tepat di bawah cemara yang setia menggugurkan daunnya

Menjadi kasur empuk para pesinggahnya.

Cemara berdesau

Menyambutku dengan ceria,

Menyanyikan lagu diiringi siulan angin.

Cemara bercerita tentang orang-orang yang pernah tertidur

Lalu bangun melanjutkan perjalanan.

Cemara juga menggumamkan tempat-tempat mereka yang tak mau lagi melanjutkan perjalanan dan memilih tidur selamanya.

Kurapatkan selimutku

Angin begitu akrab dengan cemara

Mereka bercengkerama seakan tak peduli getirnya rasa beku

Yang menusuki kulit, daging dan tulangku yang makin renta.

Kain ini tak cukup tebal untuk melindungi badanku

Tapi masih juga kurapatkan sehingga badanku meringkuk kaku.

Aku kedinginan.

Malam tiba

Diiringi bintang-bintang dan bulan yang bergabung bersama angin

Menambahkan intrumen musik dibelakang lagu cemara.

Kisah-kisahnya ternyata tak hanya tentang kami para pengembara

Melainkan juga tentang dewa-dewi yang tersesat di hutan ini.

Tawa Mars dan Venus membuat cemara semakin bersemangat.

Badanku membatu

Tapi telinga dan jantungku tetap berfungsi.

Cerita cemara menyelusup ke dalam cuping kupingku lalu menghidupkan jantungku.

Kadang detaknya cepat, kadang tak bergairah.

Hanya karena cemara perasaanku bisa seperti ini?

Andai malam tak datang, aku tak bakal bergelung kaku disini.

Oh, Matahari

Segeralah terbit. Aku tak tahan cerita cemara.

Kudengar bintang-bin
tang riuh rendah menertawakan sebuah kisah.

Bulan tertawa lembut seperti seorang putri.

Angin tertawa hingga tersedak.

Mars dan Venus saling meledek membumbui berita.

Cemara…

Kisah apakah itu? Yang panjang tak membuat pendengarmu jemu?

Kurapatkan telingaku pada angin.

Biar kudengar dengan baik runtutannya.

Mereka berbicara tentang kaki yang katanya seperti sebatang kayu.

Mereka berbicara tentang rambutku yang seperti ijuk.

Mereka berbicara tentang tanganku yang seperti dahan.

Mereka berbicara tentang bibirku yang seperti rekahan tanah kering.

Mereka bicara tentang mataku yang seperti danau keruh.

Mereka bicara tentang punggungku yang seperti batu gunung.

Mereka bicara tentang hidungku yang seperti buah pir.

Mereka bicara, mereka bicara hanya tentang aku.

Semalaman.

Dan hanya memburukiku.

Cemara…

Mengapa kuberhenti disini?

Mengapa?

Hanya karena aku takut berjalan di malam hari.

Hanya karena kusangka perjalanan harus ditempuh saat siang.

Hanya karena aku merasa sendiri.

Cemara…

Kutarik selimutku

Kutarik semua ototku,

Kuterbangun

Membangunkan kau dan teman-temanmu dari gelak-tawamu.

Bergegas

Kulanjutkan perjalanan.

Mengejar matahari

Hingga bumi jadi persegi!!!

Selamat tinggal, cemara.

Telinga dan jantung ini masih milikku.

Jl. Syekh Yusuf – 19 Desember 2009 – 11:00 pagi

yang

yang

yang membuatku risau tidak pernah orang lain tetapi sekedar sebilah jiwa yang berkarat dan tumpul; tak mampu lagi mengiris kaca yang harus dibelah.

yang membuatku gusar tidak pernah orang lain tetapi sekedar sepercik api yang tiba-tiba hampir mati; ditiup angin semilir lalu membakar mulut yang menyumbangkan udara.

yang membuatku tenang juga tidak pernah diamnya para munafik melainkan ketika aku menerima dengan segenap hatiku celaan dan sindiran yang menyesaki hati mereka.

yang akan kutempuh tak kan kubenahi hanya karena tak sesuai dengan suara yang masuk ke telinga badanku.

yang ditujukan untuk hidup hakikiku saja yang tak kuabaikan.

amiiin…

I’m not afraid if I am different from you all. This is it.

I dedicate this poem to myself who is still searching for myself and to my friends who have been my light in the dark. Thanks to you all J

November 12, 2009 – siang

SOEMPAH LOE PEMOEDA?

SOEMPAH LOE PEMOEDA?

Mengabadikan Soempah Pemoeda secara pribadi dan sederhana walau tertunda

Setelah lewat beberapa hari saya baru merasakan krenteking ati (gerakan hati, Bahasa Jawa) untuk mengabadikan peristiwa Soempah Pemoeda dalam tulisan sederhana seperti biasa. Jujur, hilangnya rasa kepedulian terhadap sejarah Indonesia serasa menebal akhir-akhir ini. Perasaan melu andarbeni (rasa memiliki, Bahasa Jawa) terhadap bangsa ini serasa menipis. Dan, maaf saya tak malu mengakuinya karena justru kesadaran inilah akan menjadi bahan bakar yang menyalakan semangat kembali kepada cinta Indonesia sewajarnya saja.

Bermula dari kelupaan isi Sumpah Pemuda. Bagaimana bisa lupa bunyi “mantra sakral” yang telah bertahun terpatri seperti prasasti batu fosil? Ternyata saya kalah dengan Wikipedia yang bisa mengingat secara lengkap versi asli dan EYD.

Sumpah Pemuda versi orisinal:

Pertama

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:

Pertama

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

(dari Wikipedia)

Ada tiga elemen penting yang diikat dalam sumpah keramat tersebut:

  1. Tumpah darah – tanah air Indonesia
  2. Bangsa – bangsa Indonesia
  3. Bahasa – bahasa Indonesia

Ada pemuda unggulan tahun 1920-an yang suka berkorespondensi lalu sepakat untuk bersama-sama memahami makna tumpah darah, bangsa dan bahasa. Tak begitu penting saya ungkapkan siapa saja mereka karena sumber lain jauh lebih akurat daripada pengetahuan saya tentang peristiwa tersebut; dan lagi para pemuda itu sekarang tak muda lagi – tak terlalu bernafsu untuk kita ingat jasanya… J

Tumpah darah, identik dengan tempat kelahiran. Apakah Anda lahir di bagian NKRI? Jika ya, apakah Anda mengakuinya sebagai tanah tumpah darah? Atau kalau Anda tidak lair ceprot (sejak lahir, Bahasa Jawa) di tanah Nusantara, apakah ada rasa bahwa Indonesia adalah tanah air-mu? Tanah air ini membuka kesempatan bagi orang yang tidak lahir di Indonesia tetapi memiliki komitmen untuk mencintai kekayaan alam dan budaya Indonesia. Banyak lho orang “luar” yang boyongan dan menetap sampai mati disini. Bahkan di kantor Aminef saya pernah bertemu seorang profesor yang bahasa Jawanya lebih mlipis (halus, Bahasa Jawa) karena sudah bertahun-tahun tinggal di Jogjakarta dan mengakui pulau ini sebagai negerinya. Beliau merasa dihargai di tanah gudangnya simbol ini.

Jadi tak aneh jika banyak yang pindah kewarganegaraan karena memang di tanah tumpah darah ini penghargaan tidak dilakukan dengan benar. Coba sebut nama Anggun C. Sasmi. Dia pindah karena ingin menggapai karir yang lebih cemerlang dan itu sangat erat hubungannya dengan apresiasi seni untuknya. Belum lama ini ada sekelompok ilmuwan kita yang memilih berdomisili diluar tanah tumpah darahnya karena bermasalah dengan pengakuan dan penghargaan juga.

Kalau sudah main pindah-pindah begini, apakah pertanda cinta tumpha darah/tanah ari berkurang? Entahlah, Anda punya standar tersendiri untuk memberikan penilaian.

Bangsa

Dengan sangat menyesal saya mengaku bahwa kata “bangsa” sangat luas jangkauannya. Kata ini juga berkaitan erat dengan kata wangsa. Ijinkan saya membuat semacam daftar yang mengarahkan Anda sekalian kepada pengertian yang berbeda-beda terhadap kata bangsa.

Bangsa Indonesia

Sekelompok orang yang dinaungi oleh sebuah negara bernama Indonesia

Bangsa Amerika

Sekelompok orang yang dinaungi oleh (mungkin) sebuah negara yang bernama United States of America atau bisa juga orang-orang yang bernaung dibawah panji bernama Benua Amerika.

Bangsa Yahudi

Bisa saja mengacu pada suku Yahudi atau agama Yahudi

Wangsa Syailendra

Sebuah keluarga yang berkuasa di sebuah wilayah; wangsa memiliki makna paralel dengan dinasti atau keluarga.

Bangsawan (bangsa+wan)

Anggota keluarga priyayi/penguasa feodal mengklaim diri mereka linuwih (lebih, Bahasa Jawa) dibanding kelompok selainnya. Saya masih bertanya-tanya mengapa ada segolongan orang disebut (menyebut dirinya) bangsawan. Apakah mereka mempunyai kriteria sebagai orang yang berbangsa? Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki gelar bangsawan? Apakah yang disebut terakhir ini tidak berbangsa? Saya lebih suka menyimpulkan bahwa bangsawan adalah orang-orang yang dianggap memiliki martabat tinggi. Jadi kalau Anda tidak termasuk orang yang bergelar bangsawan, bersiaplah bersedih karena Anda tidak akan termasuk dalam bangsa apapun ha ha ha…

Bangsane kewan (kewan: hewan dalam Bahasa Jawa)

Sementara orang mentahbiskan bangsawan sebagai akronim dari bangsane kewan. Akronim plesetan ini secara siluman muncul sebagai sindiran pada para bangsawan yang tingkahnya seperti binatang; tak layak dijadikan anutan bagi golongan dibawahnya. Nah looo…

Seberapa besar rasa kebangsaan Anda? Apakah Anda bangga hanya karena bukan menjadi orang berkewarganegaraan selain Indonesia? Ataukah ada yang lebih membuat Anda merasa perlu menjaga kebangsa-Indonesiaan Anda? Apa itu? Apakah Anda sudah merasa menjadi keluarga besar Indonesia? Jika ya, atas alas an apa? Jika tidak mengapa?

Bahasa – orang bisu pun punya bahasa. Mereka berkomunikasi dengan isyarat yang telah disepakati bersama dan membuat mereka saling memahami. Apakah Bahasa Indonesia telah menjadi alat komunikasi? Tentunya jawabnya sudah; sudah semakin banyak penduduk Indonesia yang menggunakan bahasa nasional ini sebagai alat komunikasi sehari-hari. Di daerah pelosok tertentu kemampuan berbahasa Indonesia menjadi tolok ukur bergengsinya sebuah keluarga. Dulu; duluuuuu sekali, keluarga saya termasuk dalam golongan yang punya akses cukup luas dan besar karena kami bisa berbahasa Indonesia dengan lancar ha ha ha…

Di sisi lain bahasa bisa dipahami bukan sebagai sekedar alat komunikasi. Jikalau kata bahasa ini kita arahkan kepada definisi “kemampuan kita dipahami dan memahami sebagai sebuah entitas”, maka ada baiknya keahlian berkomunikasi kita sebagai Indonesia perlu dikaji dan diuji lagi. Apakah kita mudah dicirikan sebagai orang Indonesia? Apakah kita dengan gamblang menampilkan sosok Indonesia kita? Apakah kita dengan rela memahami saudara sesama Indonesia? Apakah kita dengan rela dipahami sebagai Indonesia? Apakah kita mau dan mampu memperkenalkan diri kita sebagai sosok unik Indonesia. Atau kita sendiri masih bingung terhadap perlunya memahami dan dipahami sebagai Indonesia?

Atau sebaliknya, kita berusaha menyamarkan Indonesia dengan budaya tamu sehin
gga dengan mudah orang akan memberikan predikat: Islam Indonesia, Islam Jawa, Indonesia Jawa, dll…

Duh, Mak… ternyata Soempah Pemoeda ini telah membuat saya bertanya-tanya apakah saya pantas menjadi keturunan para “Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll”? Mereka telah rela melupakan keberagaman mereka untuk berdiri bersama demi sumpah (tanpa serapah) untuk mengakui satu-nya Indonesia. Satu-nya Indoensia tak membuat mereka harus seragam. Lihat foto diatas: bajunya pun beda, kulitnya pun beda, agamanya pun beda, suku berbeda pula, status ekonomi dan sosial bisa jadi njomplang (tidak sama) dan saya yakin mereka secara pribadi memiliki agenda yang mesti mereka korbankan demi berkumpulnya mereka. Jadi apakah gerangan yang “memaksa” mereka untuk menjadi satu Indonesia di titik tersebut?

Satunya Indonesia menurut saya adalah ketika orang-orang Indonesia merasa bahwa bumi Indonesia merupakan pijakan kakinya, yang membuatnya bergetar ketika ditayangkan gambarnya; baik itu gambar penuh haru biru kesukaan atau kedukaan. Apakah Anda merasakan hatimu bergetar jika memandang alam lokal Indonesia yang indahnya (bisa saja) kalah dengan alam negeri lain? Dan, apakah bencana di wilayah Indonesia seberang sana mampu menggugah kepedihan hatimu?

Satunya Indonesia bisa juga ketika dengan suka rela beberapa saat lalu kita mengenakan batik secara serentak untuk menunjukkan (pada siapa?) bahwa kita semua peduli dan cinta batik sebagai kekayaan kita yang sempat di-klaim tetangga. Lalu suatu saat kita dengan bangga mengakui secara internasional bahwa wayang sebagai warisan budaya kita walaupun kalau disuruh nonton wayang semalam suntuk pasti nge-les melulu.

Satunya Indonesia juga ketika para WNI di luar negeri memperingati Kemerdekaan RI 17 Agustus dengan lomba balap karung dan makan krupuk di kantor kedutaan atau konjen negara masing-masing; juga ketika kita bersorak-sorak menyemangati Liem Swie King sedang bertanding badminton merebut Piala Thomas.

Tapi kok saya nggak terlalu tertarik ngomong politik ya… secara politis Indonesia dijubeli oleh para oportunis yang menunggangi rakyatnya demi kepentingan dan tujuan mereka. Ooooh… dalam hal ini Indonesia sungguh terpecah-belah dan tak mudah dipahami walau masih tetap dicintai oleh penduduknya dengan sisa-sisa kepercayaannya.

Mulut saya sudah berbusa kalau harus membaca tulisan ini untuk Sudara sekalian. Tumpah darah/ tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia memiliki kekuatan magis menggerakkan tiap kutub magnet jiwa yang beragam menuju satu pusat kutub kesatuan. Kesepakatan untuk men-SATU itu tak cukup berarti jika hanya sekedar nangkring di tataran abstrak. Buat apa bersumpah jika hanya sekedar menipu khalayak? Buat apa berjanji kalau tak ditepati? Untungnya hanya di kepercayaan sesaat, selanjutnya hujatan datang silih berganti.

Ada satu hal yang saya yakin pasti membuat berbagai jenis sumpah membawa TUAH; yaitu: kuatnya tekad untuk mencapai tujuan sumpah tersebut. Sesuatu yang membuat semua pusaran dalam dada-dada itu menjadi karya nyata untuk BERBUAT demi merubah keadaan yang tak dapat diterima tersebut. Bukankah para pemoeda dulu bersumpah karena resah dengan kondisi yang tak kunjung membaik?

Jadi apa dong relevansi Sumpah Pemuda dengan kesadaran pribadi saya?

Saya bertanya pada diri sendiri dengan bahasa serampangan berikut:

  1. Sumpah lu pemuda? Kalau ya, mana semangatmu?
  2. Atau lu udah pada tua? Kalau tidak, kenapa kamu loyo?
  3. Atau mungkin lu masih kanak-kanak? Kalau bukan, mengapa kamu cengengesan melulu?

6 Oktober 2009 – 10:44 malam – Kasasi IV

SOEMPAH LOE PEMOEDA?

SOEMPAH LOE PEMOEDA?

Mengabadikan Soempah Pemoeda secara pribadi dan sederhana walau tertunda

Setelah lewat beberapa hari saya baru merasakan krenteking ati (gerakan hati, Bahasa Jawa) untuk mengabadikan peristiwa Soempah Pemoeda dalam tulisan sederhana seperti biasa. Jujur, hilangnya rasa kepedulian terhadap sejarah Indonesia serasa menebal akhir-akhir ini. Perasaan melu andarbeni (rasa memiliki, Bahasa Jawa) terhadap bangsa ini serasa menipis. Dan, maaf saya tak malu mengakuinya karena justru kesadaran inilah akan menjadi bahan bakar yang menyalakan semangat kembali kepada cinta Indonesia sewajarnya saja.

Bermula dari kelupaan isi Sumpah Pemuda. Bagaimana bisa lupa bunyi “mantra sakral” yang telah bertahun terpatri seperti prasasti batu fosil? Ternyata saya kalah dengan Wikipedia yang bisa mengingat secara lengkap versi asli dan EYD.

Sumpah Pemuda versi orisinal:

Pertama

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:

Pertama

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

(dari Wikipedia)

Ada tiga elemen penting yang diikat dalam sumpah keramat tersebut:

  1. Tumpah darah – tanah air Indonesia
  2. Bangsa – bangsa Indonesia
  3. Bahasa – bahasa Indonesia

Ada pemuda unggulan tahun 1920-an yang suka berkorespondensi lalu sepakat untuk bersama-sama memahami makna tumpah darah, bangsa dan bahasa. Tak begitu penting saya ungkapkan siapa saja mereka karena sumber lain jauh lebih akurat daripada pengetahuan saya tentang peristiwa tersebut; dan lagi para pemuda itu sekarang tak muda lagi – tak terlalu bernafsu untuk kita ingat jasanya… J

Tumpah darah, identik dengan tempat kelahiran. Apakah Anda lahir di bagian NKRI? Jika ya, apakah Anda mengakuinya sebagai tanah tumpah darah? Atau kalau Anda tidak lair ceprot (sejak lahir, Bahasa Jawa) di tanah Nusantara, apakah ada rasa bahwa Indonesia adalah tanah air-mu? Tanah air ini membuka kesempatan bagi orang yang tidak lahir di Indonesia tetapi memiliki komitmen untuk mencintai kekayaan alam dan budaya Indonesia. Banyak lho orang “luar” yang boyongan dan menetap sampai mati disini. Bahkan di kantor Aminef saya pernah bertemu seorang profesor yang bahasa Jawanya lebih mlipis (halus, Bahasa Jawa) karena sudah bertahun-tahun tinggal di Jogjakarta dan mengakui pulau ini sebagai negerinya. Beliau merasa dihargai di tanah gudangnya simbol ini.

Jadi tak aneh jika banyak yang pindah kewarganegaraan karena memang di tanah tumpah darah ini penghargaan tidak dilakukan dengan benar. Coba sebut nama Anggun C. Sasmi. Dia pindah karena ingin menggapai karir yang lebih cemerlang dan itu sangat erat hubungannya dengan apresiasi seni untuknya. Belum lama ini ada sekelompok ilmuwan kita yang memilih berdomisili diluar tanah tumpah darahnya karena bermasalah dengan pengakuan dan penghargaan juga.

Kalau sudah main pindah-pindah begini, apakah pertanda cinta tumpha darah/tanah ari berkurang? Entahlah, Anda punya standar tersendiri untuk memberikan penilaian.

Bangsa

Dengan sangat menyesal saya mengaku bahwa kata “bangsa” sangat luas jangkauannya. Kata ini juga berkaitan erat dengan kata wangsa. Ijinkan saya membuat semacam daftar yang mengarahkan Anda sekalian kepada pengertian yang berbeda-beda terhadap kata bangsa.

Bangsa Indonesia

Sekelompok orang yang dinaungi oleh sebuah negara bernama Indonesia

Bangsa Amerika

Sekelompok orang yang dinaungi oleh (mungkin) sebuah negara yang bernama United States of America atau bisa juga orang-orang yang bernaung dibawah panji bernama Benua Amerika.

Bangsa Yahudi

Bisa saja mengacu pada suku Yahudi atau agama Yahudi

Wangsa Syailendra

Sebuah keluarga yang berkuasa di sebuah wilayah; wangsa memiliki makna paralel dengan dinasti atau keluarga.

Bangsawan (bangsa+wan)

Anggota keluarga priyayi/penguasa feodal mengklaim diri mereka linuwih (lebih, Bahasa Jawa) dibanding kelompok selainnya. Saya masih bertanya-tanya mengapa ada segolongan orang disebut (menyebut dirinya) bangsawan. Apakah mereka mempunyai kriteria sebagai orang yang berbangsa? Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki gelar bangsawan? Apakah yang disebut terakhir ini tidak berbangsa? Saya lebih suka menyimpulkan bahwa bangsawan adalah orang-orang yang dianggap memiliki martabat tinggi. Jadi kalau Anda tidak termasuk orang yang bergelar bangsawan, bersiaplah bersedih karena Anda tidak akan termasuk dalam bangsa apapun ha ha ha…

Bangsane kewan (kewan: hewan dalam Bahasa Jawa)

Sementara orang mentahbiskan bangsawan sebagai akronim dari bangsane kewan. Akronim plesetan ini secara siluman muncul sebagai sindiran pada para bangsawan yang tingkahnya seperti binatang; tak layak dijadikan anutan bagi golongan dibawahnya. Nah looo…

Seberapa besar rasa kebangsaan Anda? Apakah Anda bangga hanya karena bukan menjadi orang berkewarganegaraan selain Indonesia? Ataukah ada yang lebih membuat Anda merasa perlu menjaga kebangsa-Indonesiaan Anda? Apa itu? Apakah Anda sudah merasa menjadi keluarga besar Indonesia? Jika ya, atas alas an apa? Jika tidak mengapa?

Bahasa – orang bisu pun punya bahasa. Mereka berkomunikasi dengan isyarat yang telah disepakati bersama dan membuat mereka saling memahami. Apakah Bahasa Indonesia telah menjadi alat komunikasi? Tentunya jawabnya sudah; sudah semakin banyak penduduk Indonesia yang menggunakan bahasa nasional ini sebagai alat komunikasi sehari-hari. Di daerah pelosok tertentu kemampuan berbahasa Indonesia menjadi tolok ukur bergengsinya sebuah keluarga. Dulu; duluuuuu sekali, keluarga saya termasuk dalam golongan yang punya akses cukup luas dan besar karena kami bisa berbahasa Indonesia dengan lancar ha ha ha…

Di sisi lain bahasa bisa dipahami bukan sebagai sekedar alat komunikasi. Jikalau kata bahasa ini kita arahkan kepada definisi “kemampuan kita dipahami dan memahami sebagai sebuah entitas”, maka ada baiknya keahlian berkomunikasi kita sebagai Indonesia perlu dikaji dan diuji lagi. Apakah kita mudah dicirikan sebagai orang Indonesia? Apakah kita dengan gamblang menampilkan sosok Indonesia kita? Apakah kita dengan rela memahami saudara sesama Indonesia? Apakah kita dengan rela dipahami sebagai Indonesia? Apakah kita mau dan mampu memperkenalkan diri kita sebagai sosok unik Indonesia. Atau kita sendiri masih bingung terhadap perlunya memahami dan dipahami sebagai Indonesia?

Atau sebaliknya, kita berusaha menyamarkan Indonesia dengan bu
daya tamu sehingga dengan mudah orang akan memberikan predikat: Islam Indonesia, Islam Jawa, Indonesia Jawa, dll…

Duh, Mak… ternyata Soempah Pemoeda ini telah membuat saya bertanya-tanya apakah saya pantas menjadi keturunan para “Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll”? Mereka telah rela melupakan keberagaman mereka untuk berdiri bersama demi sumpah (tanpa serapah) untuk mengakui satu-nya Indonesia. Satu-nya Indoensia tak membuat mereka harus seragam. Lihat foto diatas: bajunya pun beda, kulitnya pun beda, agamanya pun beda, suku berbeda pula, status ekonomi dan sosial bisa jadi njomplang (tidak sama) dan saya yakin mereka secara pribadi memiliki agenda yang mesti mereka korbankan demi berkumpulnya mereka. Jadi apakah gerangan yang “memaksa” mereka untuk menjadi satu Indonesia di titik tersebut?

Satunya Indonesia menurut saya adalah ketika orang-orang Indonesia merasa bahwa bumi Indonesia merupakan pijakan kakinya, yang membuatnya bergetar ketika ditayangkan gambarnya; baik itu gambar penuh haru biru kesukaan atau kedukaan. Apakah Anda merasakan hatimu bergetar jika memandang alam lokal Indonesia yang indahnya (bisa saja) kalah dengan alam negeri lain? Dan, apakah bencana di wilayah Indonesia seberang sana mampu menggugah kepedihan hatimu?

Satunya Indonesia bisa juga ketika dengan suka rela beberapa saat lalu kita mengenakan batik secara serentak untuk menunjukkan (pada siapa?) bahwa kita semua peduli dan cinta batik sebagai kekayaan kita yang sempat di-klaim tetangga. Lalu suatu saat kita dengan bangga mengakui secara internasional bahwa wayang sebagai warisan budaya kita walaupun kalau disuruh nonton wayang semalam suntuk pasti nge-les melulu.

Satunya Indonesia juga ketika para WNI di luar negeri memperingati Kemerdekaan RI 17 Agustus dengan lomba balap karung dan makan krupuk di kantor kedutaan atau konjen negara masing-masing; juga ketika kita bersorak-sorak menyemangati Liem Swie King sedang bertanding badminton merebut Piala Thomas.

Tapi kok saya nggak terlalu tertarik ngomong politik ya… secara politis Indonesia dijubeli oleh para oportunis yang menunggangi rakyatnya demi kepentingan dan tujuan mereka. Ooooh… dalam hal ini Indonesia sungguh terpecah-belah dan tak mudah dipahami walau masih tetap dicintai oleh penduduknya dengan sisa-sisa kepercayaannya.

Mulut saya sudah berbusa kalau harus membaca tulisan ini untuk Sudara sekalian. Tumpah darah/ tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia memiliki kekuatan magis menggerakkan tiap kutub magnet jiwa yang beragam menuju satu pusat kutub kesatuan. Kesepakatan untuk men-SATU itu tak cukup berarti jika hanya sekedar nangkring di tataran abstrak. Buat apa bersumpah jika hanya sekedar menipu khalayak? Buat apa berjanji kalau tak ditepati? Untungnya hanya di kepercayaan sesaat, selanjutnya hujatan datang silih berganti.

Ada satu hal yang saya yakin pasti membuat berbagai jenis sumpah membawa TUAH; yaitu: kuatnya tekad untuk mencapai tujuan sumpah tersebut. Sesuatu yang membuat semua pusaran dalam dada-dada itu menjadi karya nyata untuk BERBUAT demi merubah keadaan yang tak dapat diterima tersebut. Bukankah para pemoeda dulu bersumpah karena resah dengan kondisi yang tak kunjung membaik?

Jadi apa dong relevansi Sumpah Pemuda dengan kesadaran pribadi saya?

Saya bertanya pada diri sendiri dengan bahasa serampangan berikut:

  1. Sumpah lu pemuda? Kalau ya, mana semangatmu?
  2. Atau lu udah pada tua? Kalau tidak, kenapa kamu loyo?
  3. Atau mungkin lu masih kanak-kanak? Kalau bukan, mengapa kamu cengengesan melulu?

6 Oktober 2009 – 10:44 malam – Kasasi IV

… because

… because

… because considering is way farther from trusting, let me just notice when you really lay your hand on me.

… because blurred is way worse than dark, let me just close my eyes and see where you halt.

… because nowhere is “now and “here” combined together, let me just chew your signs and carve words of wisdom with my teeth.

… because having you is way later than supper, let me just continue fasting until you really make me sick of waiting.

… because this is a poem to describe what hope can do to itself, let me just let myself go.

… hi you and You, how come you let me go without your letting yourselves go?

October 12, 2009 – 1:40am

PINGIN

PINGIN

Pingin makan tapi tak lapar

Pingin minum tapi tak ngelak*

Pingin tidur tapi tak ngantuk

Pingin istirahat tapi tak payah

Ya sudah, kumakan saja

Ya sudah, kuminum saja

Ya sudah, kutidur saja

Ya sudah, ku leren** saja

Akhirnya…

Banyak yang tertunda

Gara-gara pingin

Gara-gara maksa.

Pingin ikut Pesta Blogger 2009 tapi ada undangan walimah

Pingin bisa melakukan semua

Dalam waktu yang sama

Aaaahhhh… aku ini asli menungsa*** biasa

Keterangan tanda (*)

* ngelak: haus

** leren: rehat

*** menungsa: manusia

October 23, 2009 – 4:49 sore

Barito II – of wanting many things

PROMOSIIN GUE DONG

PROMOSIIN GUE DONG…

Salah seorang teman saya berkesempatan mendapat promosi jabatan. Dia sekarang atasan kami. Yang tadinya bisa jenggut-jenggutan, sekarang jenggutan untuk dia melembut. Yang tadinya menyumpah-serapahinya, sekarang rem cacian-nya lebih pakem. Yang tadinya berani ngomongin kesalahan dia apa secara langsung, sekarang…. Hmmm….

Yang terakhir itu yang sedang dicurhatkan kepada saya.

Ceritanya nih ada yang lagi hobi banget main game baru yang baru dipromosikan oleh teman. Jadi bos baru main game baru. BARU + BARU = GOSIP SERU…

“Kok Si Heboh main game melulu sih, Ke? Bukannya promosi jabatan berarti nambah workload ya?”

Saya cuma bisa bengong karena memang rasa penasaran sempat ada di benak juga. Hanya saja saya tidak terlalu ambil pusing lantaran workload sudah cukup berat untuk berbagi rasa tentang workload orang lain. Biarlah orang lain mengeluh tentang kerjaannya yang susahnya minta ampun, hanya Allah yang tahu. Biar saya menghayati bagaimana beratnya keluhan bertemu dengan sulitnya dokumen yang sedang di- review.

Tapi, jujur saja saya sempat menyentil bos baru itu dengan nada guyon. Ini terjadi sebelum teman ini curhat.

“Aduuuh… mau dong naik pangkat, naik gaji tapi bisa banyak-banyak main game ha ha ha….”

Karena saat itu semua sedang geguyonan, saya mendapat kesan yang mendalam bahwa guyonan saya itu benar-benar diterima sebagai sekedar guyonan. Syukurlah… Jangan cari musuh!

Kembali pada curhatan teman tentang bos yang main game baru, saya mulai berpikir berbeda. Saya rasa bos saya itu memang menanggung workload yang jauh lebih tinggi tetapi bentuknya berbeda dengan yang dulu dia ampu. Kalau sekarang dia hanya harus mengawasi kami bekerja dengan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar; walhasil dia tetap bisa bekerja sambil main game agak lamaan dikiiiit daripada orang lain yang suka main game di kantor….

Lalu saya bergumam dalam hati,”Ah, mengapa mesti saya pikirkan hal init oh bos saya dijadikan bos karena dia berkualitas menjadi seorang bos. Jadi kalaupun dia banyak main game, itu hanya luarnya saja. Mungkin otak dia sedang memikirkan flow-chart dan beragam dokumen yang tidak pernah saya kuasai sebagai seorang anak buah. Udah, kerja, kerja, kerja… ngempi dan fesbukan kadang kala saja… Jangan sampai kerjaan pekan ini sampai terutang pekan depan. Amin.”

Lalu saya lihat ada orang lain yang nge-game di fesbuk dan komputernya kenceng juga melebihi bos; makin males lah saya mengurusi hal itu.

Saya jawab kalimat teman yang curhat pada saya itu:

“Gimana ya, Bos. Aku masih banyak kerjaan jadi gak bisa ikutan bos main game juga he he he…”

Kerja yuk kerja….

October 21, 2009 – 12:51pm – obrolan di YM dengan teman kantor

APAKAH KEADILAN ITU?

Benarkah orang tua memperlakukan semua anaknya secara adil? Ataukah memang ada anak kesayangan atau semacamnya?

Dunia ini penuh warna

Yang suram membuat yang cerah tampak terang

Yang terang membuat yang suram makin tenggelam.

Apakah keadilan itu?

October 16, 2009 – 4:47 (right before going home)

KUDENGAR LANTUNAN KITABKU

Sehari lima kali kubuka kitabku

Melantunkan ayat-ayat yang kadang terlalu asing

Mengetuk-ketuk hatiku

Menanyainya apakah aku mengenalnya.

Datangnya bagai tamu jauh

Yang singgah di rumah

Demi segelas air

Menanggulangi dahaga

Yang harus sirna sebelum perjalanan dilanjutkan.

Kadang enam kali

Di penghujung malam kala ketakutan diwakili oleh remang kudukku.

Kadang tujuh kali

Di saat yang tak kutahu apa sebabnya.

Kitabku seperti mulai menghafal

Bahwa sekali, dua kali, tiga kali, emapt kali, lima kali, enam kali, tujuh kali atau kali lain terlewati.

Aku tak lagi membacanya.

Maka kitabku membaca dirinya sendiri.

Lantunannya lebih indah

Daripada suaraku yang mengharapkan ramainya pujian.

Dengarkan.

Lantunan kitabku

Meramaikan jiwa sepiku

Yang menggapai-gapai dari sedotan lumpur hidup

Yang rakus menghisapku

Sampai dunia tak mengenalku lagi.

Kudengar lantunan kitabku

Menjatuhkan jemarinya

Menarikku

Entah kemana

12 September 2009 – 3:25 pagi menjelang sahur

The Palace of Illusions

Buku ini berisi cerita wayang Mahabharata versi India, dikisahkan dari point of view Mbak Drupadi. Bagus juga lho…

Lumayan buat refresh ingatan tentang komiknya Oom R. A. Kosasih dan cerita wayang versi Jawa yang melingkar di pita kaset almarhum Kanjeng Rama.

Drupadi alias Panchali digambarkan sebagai perempuan yang banyak bertanya, kurang sabaran, anti kemapanan, suka belajar dan beberapa kualitas yang tidak biasa dimiliki oleh perempuan wayang lainnya.

Dalam versi ini, Drupadi mempraktikkan poliandri. kelima ksatria Pandhawa dia persuami.

Setelah membacanya, saya mencatat sebuah kesan mendalam yang tertoreh di puisi miskin berikut ini. Semoga berkenan dengan cara saya berbagi. Selamat menikmati.

THE PALLACE OF ILLUSIONS IN A POETIC REVIEW

Kudapati kemarahan Panchali di dasar hatiku.
Pertanyaannya sambung-menyambung dengan lipatan penasaranku.
Rasa gundah dan rindu menjadi jurang, menganga didasari duri panas yang siap menghanguskan keberanianku.
Apalah arti istana tanpa ratunya
Sebagaimana pemerintahan tanpa raja?
Matahari memanjati batang-batang kelapa dan dari puncaknya dia meluncur terjun ke lautan, waktuku menuai janji kekasihku tlah tiba.
Tak peduli lagi pada sara cemburu atau ketepatan cintaku,
Aku mesti menagih catatan dewata.

Tak usah disesali, duka dan suka seperti kue lapis manis:
Sama rasa beda warna dan aroma.
Perang mesti datang, menghantarkan istanaku kembali
Sebelum sang surya benar-benar lenyap dimakan cakrawala.

Dan di penghujung laga, aku remas hati yang dahaga kesumat dan cinta.
Wahai Penyesalan, salahkah aku memercikkan api yang mengobarkan banjir kematian?
Mati jasad,
Mati akal,
Mati hati.
Jujur catatan hidupku adalah jalan kecil yang kukira tak dilalui kecuali oleh pemberani istimewa.
Nyatanya, aku digelayuti paa dewa yang haus kemenangan terhadap pesaingnya…

Kini tinggal nuraniku saja.

Kasasi – 12:00malam

WHERE ARE MY FIREFLIES?

You used to blink;
You used to gleam;
You used to glow;
In my heart.

You used to fly;
You used to dance;
You used to play;
In my nights.

Where are my fireflies?
Where are my fireflies?
Where are my fireflies?
I miss you my fireflies.

In summer night here came fireflies ages ago –
Brightening the spinning earth green and young.
The fireflies visited earthlings even the dead;
It was.

When I go out to darkness,
Only one firefly I meet.
It blinks, gleams and glows
Weakly; losing its enthusiasm.

Oye fireflies,
Do you not exist? Do you blend your light to the artificial light?
If no, where are you?
If yes, do you do it coz you give up or adapt?

Fireflies,
Don’t leave my nature.
I love your small lanterns.
I love your silent existence.
Fireflies, my rare guides.

Jakarta-Tangerang on Varion – June 27, 2009 – around Maghrib time

LOVE

LOVE

In what system do you manifest your existence?
Is it in a marriage with which one man and one woman agree with one commitment?
Is it in a religion in which some people claim themselves right anf the rest wrong?
Is it in a community in which leaders and follower judge each other?
Or…
Is it in nothing where anybody can’t understand anything?

I am happy and sad at the same second on the same dot along one unlimited line.
Answer me.
My paper is still blank.
My sincerity is still pure.
Love…

Ciledug on Vario
June 18, 2009 – around Maghrib time

BAKIAK WAK HAJI

BAKIAK WAK HAJI

Bakiak Wak Haji

Berkelontangan

Menghajar tanah kering yang sedang mengantuk

Menyayati jalanan kampung yang mulus

Membangunkan pikiran-pikiran santri

Menjengkelkan telinga-telinga malaas

Menggoreskan sejarah bising yang sunyi

Tapi…

Wak Haji tak berhenti berjalan

Walau surau terlewati

Muadzin menjerit memanggilnya

Jamaah bertepuk tangan mengingatkannya

Anak-anak berceloteh keheranan

Ibu-ibu berbisik-bisk jengkel.

Bakiak Wak Haji

Makin lama makin tipis hilang bunyi

Tanah tertawa kegelian serasa dielus tangan putri

Jalanan kampung serasa diluluri

Santri-santri menjadi murah senyum

Telinga-telinga malas hidup kembali

Imama muda memimpin sembahyang

Tepukan lembut disapa santun bacaan benar

Anak-anak tetap sembahyang sambil berlari

Ibu-ibu terbuai doa khusyu’nya sendiri

Wak Haji tetap berbakiak

Bakiaknya setua jumlah uban di kepalanya

Bakiak Wak Haji

Semakin tua

Semakin mengaji…

Kasasi – August 15, 2009 – 9:14pm

BERKATA MANUSIA

BERKATA MANUSIA

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa takdir tak pernah merugikan manusia tapi rasanya tak mungkin karena rupanya hidup kadang tak adil”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa tak ada pilihan lain selain takdir yang kita jalani tapi rasanya tak mungkin karena rupanya yang saat ini mesti diganti”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa hidup ini penuh hikmah tapi rasanya tak mungkin karena rupanya lebih banyak orang yang tak menemukannya”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa Tuhan akan memberi kita jalan keluar bagi segala urusan tapi rasanya tak mungkin karena ruapanya manusia niscaya mesti berusaha menciptakan solusinya”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa aku bisa menyelesaikan segalanya tapi tak mungkin karena rupanya waktu dan ruang kita adalah dimensi yang sangat trerbatas”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa aku punya sesuatu tapi rasanya tak mungkin karena ternyata yang kukatakan milikku selalu berlalu seperti terbangnya debu dari atas meja”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa aku tak percaya tapi rasanya tak mungkin karena aku terus menerus percaya dengan segala yang tak kupercaya adanya”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku sungguh percaya adanya sesuatu yang dapat dipercaya namun sangat sulit untuk dilakukannya dan sebaliknya. Semuanya lengkap seperti sisi-sisi berlian yang jika satunya tak berkilau yang lain memantulkan cahaya dan berlian itu tak berubah nilainya”.

Kasasi – July 5, 2009 – 9:27pm

STATUS FACEBOOK

Seseorang di Facebook memasang status seperti ini:

tak mungkin lari dari nurani… dari luka, dari cinta dan dari waktu… tuk berbagi.

Saya sempat lega namun ketika di barisan comment saya mendapati…

Yg penting bs lari dr tanggung jwb.

(yang penting bisa lari dari tanggung jawab, tulis ulangan)

… Seketika itu saya berpikir. Ya… manusia model begini jauh lebih banyak jumlahnya he he he… lalu saya menutup laman orang tersebut dengan harapan mendapatkan status FB lain yang biasanya lucu-lucu dan membuat saya berkali-kali berpikir tentang tanggung jawab.

Tangerang – May 15, 2009 – 12:26 dini hari

EMAS TETAP EMAS

EMAS TETAP EMAS

“Emas tetap emas,” kata seseorang

Bak seorang motivator meluncur nasehat-nasehatnya

Ya, memang emas tetap emas

Siapa bilang dia bisa membatu menjadi berlian?

Berlian tetap berlian

Siapa bilang dia bisa mencair menjadi anggur

Menemani malam-malam pencinta yang mabuk asmara?

Garestra

May 14, 2009 – 12:17 dini hari

PENJARAKU DIMANA?

PENJARAKU DIMANA?

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung penghuninya

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung petugasnya

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung para pengunjungnya

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung tubuh-tubuh dalam dindingnya

Itu kataku tadi malam…

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup kejam untuk mengurung mimpiku

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup sempit membatasi ruang gerakku

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup megah mengangkangi kemerdekaanku

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup kokoh menjaga perjalananku

Inilah yang kudapatkan pagi ini…

Malam dan pagi tak mengubah penjara

Malam dan pagi hanya meminjamkan cahaya

Tidur dan bangun tak mengubah penjara

Tidur dan bangun hanya menyembunyikan kesadarannya

Apakah kau merasa terpenjara?

Cobalah sentuh jerujinya

Jika nyata, maka ya

Jika tak nyata, hanya kau yang tahu jawabnya…

Garestra

May 7, 2009 – 12:51am

SUKA MENGACA?

SUKA MENGACA?

Jarang mengaca membuat saya pede habis terhadap penampilan saya tanpa berpikir bahwa dandanan ini amburadul atau kurang menarik. Salah satu konsekuensi tidak mengaca adalah saya tidak berani pakai bedak agak banyak, tidak berani pakai kerudung lebih trendy, tidak berani pakai baju modis; karena jika berani melakukannya tanpa cermin, penampilan akan makin amburadul.

Nah, sering saya melihat orang-orang yang bersimpangan jalan atau bertemu muka baik sengaja maupun tidak. Saya melihat ada yang biasa saja, ada yang luar biasa. Yang biasa jelas biasa saja, tak ada yang membuatnya menonjol atau paling tidak penampilan fisiknya menutupi keluarbiasaan di baliknya. Yang luar biasa ada dua jenis: yang luar biasa cantik dan yang luar biasa amburadul.

Sempat saya bertemu seorang wanita luar biasa di tempat yang biasa. Tempat ini membuatnya makin ruarrrr biassa… Di terminal Blok M yang layaknya terminal bis di Indonesia, berdiri seorang wanita yang tingginya sekitar 170 cm-an, rambutnya sebahu tebal hitam, rok sedikit diatas lutut,blus ukuran pas badan, tas kerja yang elegan dan sepatu yang kinclong. Saya rasa semua mata lelaki tertuju padanya. Mata saya juga tapi hanya melirik karena kalau terlalu mencolok, takut dibilang lesbian.

Saya berpikir, pasti tadi pagi berangkat kerja si mbak ini jauh lebih segar dan rapi. Caranya mengunyah makanan sungguh sangat feminin (gimana ya?). Caranya mencangklong tas juga sangat peragawati (gimana coba?). Apalagi caranya berdiri: tegak, kedua kakinya dijaraki (diberi jarak maksudnya) 20 cm dan lehernya melengkung sedikit seperti mengepit buah apel dengan dagunya. Sungguh seorang wanita cantik dengan sikap tubuh yang anggun.

Saya mulai berandai-andai. Seandainya aku secantik dia. seandainya aku setinggi-langsing dia. Seandainya aku se-pede dia. Seandainya aku sememukau dia. Seandainya aku seperti dia. Apalagi ketika menyadari bahwa para lelaki yang memandangi si mbak ini tak ada satupun yang celometan (berkata-kata nakal, bahasa Jawa). Ideal sekali! Cantik dan tidak diresehi.

Rasanya kok susah untuk tidak bersyukur dengan kondisi si mbak ini ya… Duh, Gusti senengnya jadi dia.

Tiba-tiba saya melihat si mbak mundur perlahan membuat saya beringsut khawatir ketabrak. Dan…

Ooo…

All of a sudden alias ujug-ujug saya bersyukur…

Terima kasih bahwa aku bukan dia. Terima kasih bahwa aku adalah aku. Terima kasih bahwa aku belum sempat mengaguminya lebih jauh. Si mbak tadi buang sampah di saluran air. Dan itu sudah cukup bagi saya untuk tidak menginginkan posisinya, bagaimanapun cantiknya dia. Mungkin tidak ada yang menyadari tapi saya menyadarinya dalam keadaan sangat prihatin dan jauh dari rasa iri atau dengki atau mencela.

Di dalam bis saya menyadari si mbak itu lagi-lagi membuang kulit-kulit permen di bawah bangku yang didudukinya.

Saya kembali berpikir bahwa saya sanggup mengumpulkan sampah sehari dalam kantong plastik di tas saya sampai saya menemukan tempat sampah sedangkan si mbak ini tidak adalah karena jika beliau nyampah di tas maka orang yang tidak secantik dia tidak punya nilai lebih di mata dunia. Duh Gusti… terima kasih saya Kau jadikan aku wanita pengumpul sampah…

Untung saya tak suka mengaca…

February 26, 2009 — 9:33pm

JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK

JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK

Judul sangat penting perannya dalam sebuah komposisi. Komposisi bisa berarti apapun: tulisan, musik, rangkaian bunga, kumpulan peristiwa hidup Anda, bahkan alam semesta adalah komposisi. Tanpa judul sebuah komposisi akan sulit dideskripsikan atau mudah tapi dengan usaha yang lebih berdurasi. Judul sebagai label menjadi semacam nama diri yang embantu manusia bertransaksi dalam kehidupan.

Apa sih yang nggak ada judul? Buku ada judulnya, film ada judulnya (film porno ada judulnya selalu gak sih?), toko ada judulnya (nama toko maksudnya), sekolah ada judulnya, mata pelajaran ada judulnya, nama gedung (paling tidak pakai abjad dan nomer), benda-benda. Bahkan Anda manusia pun berjudul – judul Anda adalah Novita (nama), Cipit (nama panggilan), anak cengeng (julukan), Manager Keuangan (posisi Anda di kantor), si pelit (julukan Anda di kalangan sahabat), dll.

Tanpa judul, dunia tidak lengkap. Judul adalah bentuk lain kode yang kadang orisinal kadang tidak. Ketika Anda masuk perpustakaan, Anda mencari buku sesuai judul tetapi petugas perpustakaan akan mencari buku yang Anda maksud dengan kode lain yang jauh lebih membantu dalam bidangnya. Maka mana yang orisinal, judul buku atau kode perpustakaan? Jika Anda pengunjung perpustakaan, Anda ngeyel bahwa judul buku adalah kode orisinal namun jika Anda pustakawan Anda mungkin akan mengatakan kode DDC adalah kode yang standardized dan reasonable di dalam sistemnya.

Tapi kadang judul menjadi sesuatu yang diagung-agungkan tanpa disadari bahwa isinya jauh lebih penting dibahas.

Judul bisa saja disejajarkan dengan kulit atau tampilan luar atau kesan selayang pandang atau pengenalan sesaat yang bisa saja memberikan kata kunci bagi sebuah kenyataan tapi juga bisa menyesatkan bagi para pembaca yang hanya bisa membaca tanpa mau memahami lebih lanjut kenyataan di belakangnya.

Pembaca yang baik bisa jadi adalah pembaca yang mampu memahami bacaan dengan sekali baca; atau pembaca yang mau membaca berulang-ulang tanpa bosan; atau pembaca yang memahami komposisi hanya dari membaca judul; atau mungkin Anda memiliki definisi yang berbeda tentang pembaca yang baik. Namun buat saya pembaca yang baik adalah pembaca yang sanggup menyelesaikan bacaannya sampai akhir sebagai rasa tanggung jawabnya memilih bacaan dan mampu memahami bacaan itu sebagai tambahan ilmu untuk mengapresiasi diri.

Jika Anda pergi ke toko roti dan ternyata roti yang ingin Anda beli bungkusnya dan bentuknya tidak menarik, apakah Anda akan membeli roti tersebut? Jika Anda tak mementingkan bungkus maka Anda akan membelinya karena roti itu baru mateng, sehat dan murah. Tapi jika Anda mementingkan bungkus, bisa saja Anda mendesah kecewa dan mengganti pilihan Anda karena roti sehat dan murah itu hanya satu-satunya dan bungkusnya tidak sesuai dengan ekspektasi Anda.

Kalau ada lelaki ganteng dan gagah/perempuan yang seksi jelita, kaya, pintar, alim, dewasa; apakah Anda akan mau menjadi istri/suaminya? Bisa saja Anda bilang ya. Tapi bisa saja Anda bilang tidak kalau Anda tahu dia punya penyakit paling mematikan dan menular. Judul awal membuat Anda terkesan sementara dan melarikan diri kemudian.

Kalau ada seseorang dengan kondisi yang sebaliknya dari yang diatas, meminta Anda menjadi istri/suaminya; apakah Anda akan bilang tidak? Bisa saja, karena tampilan awalnya tidak memesona Anda. Padahal bisa saja dia itu Jaka Kendil yang bisa berubah ganteng dan anak raja jika kemudian Anda mau berkorban sedikiiit saja dengan meneriama dia apa adanya. Atau bisa saja memang dia itu tidak baik setidak-baik tampilan luarnya.

Judul bisa berarti judul.

Judul bisa berarti simbol.

Judul bisa berarti tampilan awal.

Judul bisa berarti pengenalan yang mungkin hanya sepersekian persen dari isi.

Judul bisa berarti bungkus roti.

Judul bisa berarti nama.

Judul bisa berarti bentuk fisik.

Judul bisa berarti julukan.

Judul bisa berarti kode.

Judul bisa berarti first-sight alluring thing.

Judul bisa berarti apapun sesuai yang Anda pahami tentang kata judul.

Aaah… kadang judul penting, kadang tidak sebegitu penting tapi judul tidak pernah tidak penting. Yang perlu direnungkan hanyalah seberapa besar Anda memerlukan judul ketika Anda telah secara sempurna memahami isinya?

Apakah Anda terbantu atau tersesat oleh judul komposisi ini?

Saturday, March 14, 2009 — 11:00am