MENAKAR KEPEKAAN HATI

MENAKAR KEPEKAAN HATI

Kepekaan hati adalah sebuah harta yang mahal harganya. Apalagi kalau carinya di kota besar, kepekaan hati seperti harta karun yang dicari oleh hanya segelintir orang lantaran hanya sedikit saja yang percaya dengan keberadaan kepekaan hati dan manfaatnya.

Menjabarkan arti kepekaan hati juga – buat saya – sulit. Memikirkannya saja agak berat apaplagi kalau mesti memahaminya. Uh! Buang-buang waktu aja!

Tapi tiba-tiba saya terpaksa mau memikirkannya ketika beberapa potongan kisah hidup saya dihampiri oleh manusia-manusia yang rupanya pada saat-saat tertentu dijadikan tamu untuk mengetuk kelembutan hati saya. Saya dengan terpaksa pula membiarkan hati saya digedor-gedor demi membuktikan hati saya masih mempan disebut peka.

Malam-malam tiap jam 10:00 WIB ada seorang lelaki usia paruh baya yang selalu lewat depan pagar. Dia berprofesi tukang pijat keliling yang membawa kaleng berisi entah kelereng entah kerikil sebagai tanda kedatangannya. Saya pernah meminjam jasanya keitika pergelangan kaki saya terkilir. Tetangga-tetangga saya juga. Sekali tugas beliau mendapat bayaran ala kadarnya. Tidak ada patokan harga; seikhlasnya saja: ada yang kasih 15ribu, 20ribu, yang paling sering 10ribu.

Lama-lama kami mengenalnya dengan cukup baik karena memang si bapak ini memiliki kepribadian yang cukup hangat. Beliau tidak banyak bicara tapi senyumnya selalu terpasang. Mata teduhnya – yang menurut saya merangkum kehidupan yang berat – membuat kami memandangnya dengan rendah hati juga. Dari seorang ibu kami tahu bahwa sebenarnya belaiu masih punya keluarga di kampung sekitar pantai selatan. Beliau harus meninggalkan mereka untuk “cari uang” demi anak dan cucunya yang masih juga tergantung padanya yang penghasilannya juga tak sampai sejuta sebulan.

Kata si ibu itu si bapak paruh baya sering berpuasa ketika uangnya hanya cukup untuk dikirim ke kampung. Beliau sendiri kontrak rumah ramai-ramai bersama tukang pijit lain yang umumnya masih jauh lebih muda. namun kami sering menjumpainya “pulang” ke mushola di ujung gang. Beliau tidur di teras masjid. Tiap ditanya beliau hanya menjawab,”Orang tua sih manja. Maunya tidur tenang. Makanya saya mengalah saja sama yang muda-muda. Biarkan mereka menikmati masa mudanya.”

Ada sebuah kebiasaan yang sangat saya perhatikan dari si bapak ini. Ada kalanya si bapak sudah lewat depan rumah saat jam mennunjukkan pukul 7:00 WIB. Rupanya itu terjadi apabila sepi pelanggan.

Sudah sebulan ini si bapak lewat depan rumah tiap jam 7:00 WIB, bahkan tak jarang saya lihat beliau bersila di mushola saat gerimis datang.

Saya ingat pada almarhum bapak saya yang pendiam, senyumnya hangat, matanya ramah. Si bapak ini makin kurus saja ya, kata ibu tetangga. Saya mendengar anak tetangga berujar bahwa bapak ini sedang banyak puasa karena sedang mengirit, yang pijit sudah makin berkurang.

“Tukang-tukang pijat yang muda-muda udah pada pulang kampung makanya dia gak punya kontrakan lagi. Katanya sih mau gabung sama mang Kosim dan tukang becak lain. Tapi gak tahu juga sih soalnya minat pijat makin rendah. Makin banyak panti pijat kali ya, Rik? Tahu sendiri di mal-mal ada kursi pijat bayar cuma 10ribu. Tapi kalau pulang kampung gimana, sawahnya udah digade, gak ada uang untuk nebus.”

Saya hanya tertegun. Dari arah mushola saya melihat si bapak bergegas akan melanjutkan pekerjaannya. Beliau berjalan melewati kami. Senyumnya tetap hangat. Matanya makin cekung karena kekurusan dan beban hidupnya. Saya tak tega melihatnya. Saya bingung mau bagaimana. Kalau hanya memberi uang atau sesuatu, saya takut beliau tak enak hati. Kalau minta pijat dulu, saya tidak sedang keseleo. Maka saya hanya melihatnya berlalu sembari menjawab salamnya.

“Pak!”

“Iya, Neng?”

“Dua hari lagi ke rumah saya ya.”

“Ada yang mau dipijit, Neng?”

“Mmm… enggak, Pak. Ada titipan dari bapak saya.”

“Baik, insya Allah.”

Saya tunggu-tunggu si bapak tak pernah datang ke rumah. Saya tidak tahu bagaimana kabar beliau. Yang saya rasakan hanya satu. Kepekaan hati saya masih terhalang rasa tak enak. Kepekaan hati saya belum hidup karena masih menerapkan alasan kepantasan. Kepekaan hati saya masih belum teruji karena masih menunggu 2 x 24jam.

Kepekaan hati ini ada dimana ya? Bagaimana bentuknya ya? Apakah masih ada yang memilikinya setiap saat? Tanpa menunggu 2 hari lagi? Masihkah aku terampuni…

Saya masih tetap berpesan kepada Mang Kosim supaya meminta si bapak tukang pijit untuk datang mengambil titipan dari bapak saya. Mungkin bapak saya marah-marah karena anaknya yang bodoh ini mencatut namanya. Ah, untuk melakukan hal baik saja saya harus mencatut nama, tak heran ya jika ada orang mencatut nama orang untuk berbuat jahat.

Saya memang berencana memberikan semua baju almarhum bapak kepada si bapak tukang pijit ini. Saya masih menyimpan beberapa lembar di lemari saya.

17 AGUSTUS 2008

17 AGUSTUS 2008

(tak terlalu penting, hanya omong kosong)

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang keberapa tahun ini? Mungkin masih cukup banyak yang menjawab pertanyaan ini tanpa harus berpikir. Namun ternyata tidak sedikit pula yang menjawab dengan menerawang menghitung dulu atau bahkan ada yang tertawa-tawa geli sambil menjawab “Aduh, gue lupa tuh, Rike. Keberapa sih? Enampuluhan gitu deeeeeh. Lu nasionalis banget sih??? Ha ha ha… Hari gini…”

Jujur saja, saya juga masih perlu menghitung; 2008 – 1945 = 63 tahun

63 tahun kita berjalan dari titik tolak yang disebut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustu 1945. Pada saat itu kata Indonesia telah diakui sebagai sebuah nama wilayah, bangsa, kesatuan kedaulatan yang diinterpretasikan sebagai negara. Patut bersyukur bahwa kita mendapatkannya. Masalah bagaimana ngramut (memelihara, Bahasa Jawa) itu urusan keri (belakangan, Bahasa Jawa).

Membincangkan kata merdeka bukan lagi hal menarik karena definisinya bisa panjang dari range yang paling positif sampai dengan negatif; dua ekstrim yang akan selamanya ada dan tidak perlu membuat kita risau. Saya ingin membicarakan sesuatu yang agak lain. Yaitu renungan saya.

Tadi malam saya menyempatkan diri mengadakan RENUNGAN PRIBADI setelah menyaksikan ke-63 tahunnya usia Republik ini. Saya melakukannya sebagai seorang yang TIDAK menguasai sejarah. Saya melakukannya sebagai seorang rakyat jelata yang memandang dirinya kurang beruntung hidup dalam alam politik yang agak kurang kondusif sekaligus sangat beruntung karena dilahirkan dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Saya hidup di alam yang penuh bias namun tetap berjuang menetapkan keadilan bersikap yang dilandasi keseimbangan dalam berpikir.

Apa yang saya dapatkan dalam proses merenung tersebut Sudaraku tercinta?

Saya bersedih karena ternyata saya masih terjajah oleh keinginan yang sebenarnya bukan benar-benar dilandasi oleh semangat untuk menjadi melainkan oleh semangat untuk memiliki. Saya masih berharap ini dan itu karena semata-mata ingin, bukan karena butuh. Saya berdoa karena menganggap bahwa keinginan saya belum terakomodir oleh Sang Murbeng Dumadi (Sang Pencipta, bahasa Jawa). Saya juga menganggap bahwa para pemimpin (maksud saya POLITIKUS) Indonesia masih menganggap bahwa yang namanya pembangunan adalah terwujudnya ide-ide mereka walaupun sebenarnya TIDAK BERMANFAAT UNTUK KHALAYAK RAMAI DALAM JANGKA WAKTU YANG PANJANG.

Saya juga masih punya rasa malu dan gengsi menjadi warga negara kelas embuh (tidak tahu, Bahasa jawa), ini karena semata-mata saya minder mengetahui bahwa saya ini warga negara kelas bebek. Saya ngikut aja kemana arus mengalir. Bukan karena apa-apa Sudara-Sudara. Ini semata karena saya tak bisa berenang dengan baik. Saya ini hanya semacam buih yang kelihatan semarak namun mudah terombang-ambing oleh gelombang. Saya belum bisa menjadi gelombang. Alih-alih menentang arus, yang ada malah menjadi bahan tertawaan karena miskin ilmu dan miskin kepribadian.

Saya kemudian mulai berpikir ulang. Buat apa saya berdoa kalau ternyata doa saya bukan esensi dari kebutuhan jiwa saya yang jujur. Saya meminta karena saya ingin bukan karena tergerak oleh kearifan jiwa menyikapi kebutuhannya. Saya pernah berdoa “Ya Allah, saya mau kaya supaya bisa berbagi dengan keluarga dan orang-orang yang memerlukan” padahal saya tahu bahwa denganberamal dalam kondisi sekarang saya akan tetap miskin – tidak akan menjadi jatuh miskin – sebab sejatinya saya tidak punya apa-apa. Saya juga pernah berdoa “Ya Allah, menangkanlah partai politik ini biar negara ini diurus oleh orang-orang yang tepercaya. Kami sudah bosan dengan keadaan yang begini-begini saja” padahal saya juga justru BELUM tahu apakah memang mereka memiliki konsep yang jelas-jelas cocok dengan kebhinekaan kita. Mereka boleh mengatakan konsep mereka paling jempol tapi keadilan tidak diukur oleh konsep baku melainkan oleh konsep kejernihan berpikir.

Aduh, aduh… renungan saya membawa saya pada bagaimana kalau saya mati sebelum cita-cita saya tercapai padahal kenyataannya saya tidak pernah benar-benar punya cita-cita. Cita-cita saya hanyalah segumpal
kekecewaan yang harus saya balas dengan kutub sebaliknya. Saya bodoh, saya mau kuliah lagi. Saya miskin, saya pengen banyak uang. Saya jelek, saya pengen bisa beli alat dan jasa kecantikan. Saya belum punya ini, saya harus punya ini. Saya belum punya itu, saya harus punya itu. Semua dikendalikan oleh keinginan dalam diri saya.

Panjang sekali karena memang renungan saya berlangsung semalaman. Masih banyak yang harus saya sampaikan kepada Anda sebagai bentuk curhat dan sharing namun saya tidak mampu karena kemiskinan ilmu dan kepribadian itu tadi. Ilmu dan semesta ini terlalu luas untuk disombongkan. Airmata seringkali cukup untuk mengungkapkan rasa, termasuk rasa gembira sekalipun.

Hari ini saya kembali memelototi komputer saya. Kembali bekerja karena saya berjanji pada Account Representative saya di Hong Kong bahwa hari ini juga saya menyelesaikan pekerjaan yang mencapai deadline tanggal 21 Agustus dengan alasan “Selasa saya mau lihat lomba di sebuah sekolah kampung tempat teman saya ngajar dengan bayaran yang sangat minim”. Karena dia oke, maka saya harus menepati janji.

Ok, Sudara-Sudara. Apakah Anda punya pekerjaan yang harus segera dikerjakan? Jika ya, segera tuntaskan. Jika tidak segera dituntaskan, Anda tidak akan segera merdeka.

Allahu Akbar! Merdeka!!!

TEKS PROKLAMASI

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

KELINCI UCUL KI NARTO SABDO

Kelinci Ucul

Artist: Ki Narto Sabdo

ngubengi kutho sateruse,
ing ndeso ndeso
mergo aku anggoleki sing tak tresnani,
kelinciku ucul

lungo mengetan, suroboyo,
terus nyang mbali,
mengulon lungo nyang mbandung,
ora ketemu,
terus aku nyang jakarta,

jebul ora ketemu,
adhuh kelinciku,
ojo mbletho aku,
terus bali, nyang semarang,
kelinciku wus ono kandang

lan jebulane grusa grusu,
keburu nepsu,
wekasane montang manting,
ragade akeh,
aku dhewe kang kebanting

—————————————————————————————————————————————

Saya sempat bingung kok Ki Nato Sabdo bicara tentang kelinci beliau yang ucul (lepas dari kandang). Saya bertanya-tanya kok Ki Dalang ini juga suka miara kelinci. Eh, eh, eh… dipikir-pikir ternyata kelinci yang itu to??? He he he…

Intermezzo kelinci ya Sudara

SWADESI

SWADESI

Pertama kali saya kenal kata swadesi adalah ketika saya berusia SD, berpuluh tahun yang lalu. Seingat saya ketika saya mendengar kata swadesi maka saya langsung ingat atasan batik dan bawahan putih bersaku dua. Saya ingat sekali penampilan saya sangat lucu. Batik saya berwarna biru cenderung abu-abu dengan warna-warna ceria kecil-kecil. Bawahan putih saya sangat kekanak-kanakan karena alih-alih memakai rok lipit seperti teman-teman lain, saya malah dipakaikan rok gelembung dengan dua saku kiri kanan yang punya tali hias. Tapi saya enjoy saja karena kata Pak Budi (guru Kesenian kami yang galak tapi menyenangkan) asal batik itu sudah swadesi. Katanya lagi manfaatnya besar untuk kecintaan kita pada Indonesia. Kami hanya bengong saja, namanya juga anak kelas dua es de kampung (SDN Sugihwaras 3, Kec. Sugihwaras Kab. Bojonegoro Prov. Jawa Timur).

Bertahun kemudian saya memahami arti kata Swadesi ternyata tak terbatas pada batik.

Swa artinya mandiri; desi artinya desa alias negeri sendiri. Maka swadesi adalah gerakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri secara mandiri, sedapat mungkin tidak tergantung pada pihak lain terutama yang memiliki pretensi kurang mulia dibalik kebaikannya. Swadesi dipelopori oleh Mahatma Karamchand Gandhi, seorang bijak bestari asal India yang menjadi pemimpin non-formal rakyat India pada masa pendudukan Inggris.

Sedikit dari pelajaran Sejarah Dunia yang pernah saya dapat dari Ibu guru tercinta Bu Kus, Gandhi memang benar-benar mencukupi kebutuhannya secara mandiri: bercocok-tanam dan beternak sendiri, memasak sendiri bahkan menenun sendiri kain yang dipakaikan kepada tubuhnya. Gandhi benar-benar ber-swadesi dengan kesederhanaannya di belantara kemodernan penjajah Inggris. Orang seperti Gandhi Insya Allah tidak akan mati tubuh maupun jiwanya hanya karena embargo ekonomi karena dia telah tahu apa arti pemenuhan kebutuhan yang sebenarnya. Beliau telah menemukan dirinya tanpa harus takut kehilangan lagi karena orang lain mengambilnya karena sejatinya soliditas kepribadian yang mandiri tidak bisa direbut oleh siapapun.

Adakah saya memiliki semangat swadesi yang dulu pernah digembar-gemborkan pada masa kecil? Bagaimana seandainya saya terpaksa tidak bisa lagi makan kecuali makan singkong bakar? Bagaimana kalau ternyata suatu saat saya tidak bisa lagi makan Australian beef? Bagaimana seandainya Brazil tak bisa lagi menyuplai kebutuhan kedelai kita? Bagaimana jika suatu saat film-film Hollywood tak lagi diputar? Bagaimana kalau suatu saat saya memang harus bekerja untuk kebutuhan sendiri? Sudah siapkah saya menyandang predikat swa? Kita pernah berhasil dengan swasembada beras bertahun lalu. Kita pernah berhasil dengan swadaya masyarakat sebagai perwujudan gotong-royong. Kita pernah nyaris dapat mempertahankannya sebagai karakter sampai akhirnya kita tersadar bahwa telah melupakan sebuah “baut kecil” yang hilang dalam semangat swadesi kita yaitu: tidak selaras dengan alam.

Kita ber-swa dengan cara mengeksploitasi alam. Kita ber-swa dengan cara memaksa makhluk NON-MANUSIA untuk mencukupi kita. Belum berswadesi. Kita tak bisa berbagi dengan sesama ciptaan.

Kembali lagi kepada swadesi masa kecil saya. Mengapa batik? Apa bedanya batik dulu dan batik sekarang? Mari kita renungkan bersama.

Pada saat itu saya tidak pernah menyadari bahwa batik adalah “milik saya”. Batik adalah semangat saya sehingga perlu saya pakai sebagai seragam sekolah. Batik adalah identitas saya sebagai orang Indonesia. Saya masih ingat juga Dik Nanik dan Dik Tutik memakai batik hasil JAHITAN TANGAN emaknya yang bahan bajunya adalah KAIN PANJANG embahnya. Subhanallah. Itulah batik kami di masa lalu.

Batik masa kini? Saya ikut berbahagia karena batik menjadi semacam produk yang fashionable. Bahkan Nelson Mandela pun menggemarinya dan memakainya pada acara-acara penting. Namun saya ragu apakah kita masih mau berpikir tentang sebuah esensi memakai batik dan bukan pakaian lain. Masihkah kita mau memakai batik jikalau batik tak lagi menjadi trend sekalipun. Masihkah kita makan nasi Padang atau nasi timbel Sunda atau nasi pecel Madiun yang sehat jika ternyata makanan cepat saji ala barat lebih mudah dan tidak ribet?

Saya ingat Muhammad di Jazirah Arab, Mahatma di India, para sunan yang berkelana di tanah Jawa, Dalai Lama di Tibet, Romo Mangun di Jogja, Pak Joko dosen HI Unair yang kendaraannya adalah sepeda mini sederhana, Pak Budidharma dosen Filsafat Unair yang sangat bersahaja, Pak Sumitro dan pak Shahab dosen Sastra Unair yang lebih memilih kereta daripada mobil untuk berkendara. Mereka pengusung swadesi di tiap-tiap masa dan area
nya. Saya tidak tahu apakah saya terlalu mengada-ada. Yang saya rasakan saat ini adalah bahwa saya sangat rindu hidup secara bersahaja namun penuh harga diri baik sebagai seorang pribadi maupun sebagai anggota keluarga yang bernama Nusantara.

Babies….Babies..Babies….

Link

This is a collection of photos of babies with their cute and sweet costumes. Choose one of them… If I were still a baby, I would ask my mother to put me in some of them he he he… I have a baby later, I will put him/her in some of them, too 🙂

Thanks to aabab01 for permitting me to share 🙂

PRABU JAYABAYA

PRABU JAYABAYA

Sesuai dengan janji saya kepada seorang teman, Madelyncute, saya berusaha membuat posting tentang Prabu Jayabaya. Niat saya hanya satu: menawarkan kekayaan ilmu Allah yang terserak dimanapun itu. Akurat tidaknya informasi tentang Prabu Jayabaya ini jangan membuat kita mayang mentoleh (ragu, bahasa Jawa) terhadap niatan kita untuk mengambil hikmah sejarah apapun yang melintasi hidup kita. Semoga bermanfaat.

Tidak banyak sumber yang bercerita tentang raja yang satu ini. Ramalan Jayabaya lebih terkenal daripada sang pemilik nama itu sendiri.

Prabu Jayabaya atau Ratu Jayabaya atau Sri Mapanji Jayabaya atau Sri Aji Jayabaya atau Sri Jayabhaya (buah cinta dari kisah romantis Raden Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Chandra Kirana) memerintah Kerajaan Kediri di Jawa Timur dari tahun 1135 sampai 1157 Masehi. Raja Jawa yang satu ini disebut juga sebagai ahli nujum selain sebagai pemimpin yang mumpuni. Dia telah meramalkan keruntuhan kerajaannya sekaligus berjayanya kembali kerajaan tanah Jawa di masa depan. Disinyalir kedatangan Belanda dan Jepang telah ada di “penglihatan” sang raja.

Prabu Jayabaya mempersatukan kembali tanah Jawa yang sebelumnya terpecah belah sejak masa pasca mangkatnya Prabu Airlangga. Ratu Jayabaya terkenal karena keadilan dan kemakmuran Kerajaan Kediri dibawah pemerintahannya. Dia juga disinyalir sebagai perwujudan Batara Wishnu, dewa yang dipercayai sebagai pengatur alam semesta dalam kepercayaan Hindu. Dia dimasukkan dalam jajaran Ratu Adil yang dilahirkan dalam masa gelap pada tiap akhir perputaran jaman – Ratu Adil diidentikkan dengan tokoh yang tugasnya mengembalikan keadilan tatanan sosial negeri Jawa sekaligus harmonisasi seluruh alam semesta.

Pada jaman Ratu Jayabaya, sastra Jawa berkembang pesat didukung oleh situasi sosial, politik, dan ekonomi yang cukup kondusif. Mpu Sedah dan Mpu Panuluh merupakan dua mpu sastra tersohor yang hidup di jaman raja tersebut (julukan mpu diberikan pada para ilmuwan Jawa kuno tanpa memandang ilmu yang dikuasainya; bisa ilmu sastra, ilmu perang, ilmu pertanian, dll). Mereka menulis serat Kakawin Bharatayudha yang diadaptasi dari kisah dari India.

Jangka Jayabaya sendiri (sekarang lebih dikenal dengan Ramalan Jayabaya) merupakan sebuah karya yang dinisbatkan kepada sang raja oleh sebagian orang menilik bahwa beliau hidup di jaman yang “kaya sastra” atau bahkan lantaran dialah tokoh dibalik berkembangnya sastra Jawa saat itu. Golongan ini meyakini bahwa semua “ramalan” yang terdapat dalam jangka Jayabaya tersebut adalah ide dan vision sang raja yang didiktekan kepada para juru tulisnya kemudian dirangkum dalam sebuah serat yang diberi pengantar termasuk cuplikan tentang sebagian karakter dan kisah hidup sang raja.

Ada lagi yang berpendapat bahwa Ramalan Jayabaya itu sesungguhnya bukanlah karya sang maharaja melainkan karya orang lain yang kemudian dianggap sebagai karya Jayabaya. Dikisahkan dalam Jangka Jayabaya bahwa Raja Jayabaya pernah berguru kepada seorang ulama terkemuka dari jazirah Arab yang sedang mengembara ke Asia Tenggara. Ulama itu bernama Syech Ali Syamsu Zein, dalam ‘Jangka Jayabaya musabar’ disebut Ngali Samsujen dan adapula yang menyebutnya Maulana Ali Syamsu Zein. Jadi menurut golongan ini, Jangka Jayabaya “hanya” meminjam nama sang raja sebagai judul saja sekaligus mengisahkan sekelumit perjalanan sang saja.

Dipercaya bahwa Ratu Jayabaya tidak pernah meninggal melainkan moksa atau hilang jiwa dan raga dari dunia begitu saja tanpa melewati proses kematian normal sebagai manusia biasa. Analogikan dengan Nabi Isa yang diangkat ke langit. Moksa hanya dicapai oleh orang-orang pinilih (pilihan) menurut ajaran Hindu. Desa Menang Kec. Kab. Kediri Prov. Jawa Timur dipercaya sebagai tempat moksa Sri Aji Jayabaya (sekarang menjadi kunjungan wisata bernama Petilasan Sri Aji Joyoboyo).

PANCASILA, YANG RINGAN-RINGAN SAJA

PANCASILA

  1. Ketuhanan Yang Mahaesa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah skebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Jika Pancasila bisa bicara, maka dia akan menjerit-jerit pada manusia Indonesia bahwa dia dirumuskan bukan untuk tujuan yang tidak baik. Siapa tahu dia juga menyesal karena telah ada? Dia tidak merasa sempurna. Dia sendiri tidak pernah merasa sakti. Dia juga tak pernah merasa menjadi ideologi. Kita hanya berlebihan memandang Pancasila baik dari kutub positif maupun negatif. Yang bisa saya terima secara netral adalah bahwa Pancasila adalah sebuah tanda mata, pencapaian kebijaksanaan para fouding fathers kita yang dengan sukarela berpikir, berjuang mengorbankan banyak hal untuk manusia-manusia yang kelak (mereka sangka) akan melanjutkan perjuangan mereka menjaga keutuhan negara yang disatukan semata untuk kesejahteraan BUKAN untuk saling menguasai antar kelompok satu terhadap kelompok lain.

Pernahkan Anda mendengar sebuah atau banyak pertengkaran yang terjadi karena meributkan Pancasila? Pancasila yang jumlahnya hanya lima saja dan tidak terlalu berbahaya jika hanya ditulis sebagai dasar perjalanan sebuah usaha dagang telah menjadi (atau tepatnya dijadikan) kambing hitam kebangkrutan bangsa. Berapa banyak organisasi yang harus terbelah karena Pancasila? Berapa orang harus adu jotos diawali dengan perdebatan tentang Pancasila?

Bagi saya Pancasila bukan sebuah kredo yang menjerat kemerdekaan saya dalam menjalankan tugas saya sebagai apapun. Sebagai warga negara, saya tidak pernah dites untuk membuktikan kesetiaan saya. Sebagai pegawai, saya tidak pernah dipajaki karena tidak mengerti kandungan Pancasila. Sebagai pemeluk agama tertentu saya juga tidak dipantau karena tidak menamakan diri saya pemeluk agama dengan embel-embel Pancasila atau beribadah di masjid Pancasila. Saya hanya belajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang selalu dengan gemilang menyumbangkan nilai 9 selama saya sekolah dan A saat kuliah. Saya hanya pernah diwajibkan untuk mengikuti Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dulu sekali dan tidak pernah sedikitpun rasa benci atau suka saya pada Pancasila bertambah atau berkurang. Pancasila ya Pancasila, dasar negara Indonesia.

Saya mungkin terlalu ignorant terhadap Pancasila. Atau mungkin terlalu berani menerima Pancasila tanpa reserve. Saya hanya menganggap Pancasila sebagai satu-satunya oleh-oleh utuh yang diberikan founding father saya selain teks proklamasi.

(August 7, 2008)

AGUSTUSAN, MERDEKA SEHARI SAJA

MERDEKA SEHARI SAJA

AGUSTUSAN

Orang Indonesia mana yang tidak kenal kata Agustusan? Istilah yang identik dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini hampir pasti akrab dengan telinga mereka. Dan, tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Agustusan adalah hari yang paling ditunggu-tungu kehadirannya setelah Hari Raya Besar keagamaan semacam Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Nyepi dan Waisak.

Anda sendiri, apa yang paling Anda rindukan dari hari jadi bangsa kita ini? Upacaranya? Sirine tepat jam 10 pagi sebagai tanda waktu Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno didampingin Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945 silam? Renungan? Atau acara-acara seru di RT/RW, desa, komplek perumahan, kecamatan, kabupaten, provinsi atau nasional? Atau yang lain? Bagus jika ternyata Anda masih memilih salah satunya. Mari kita hayati kemerdekaan walau cuma setahun sekali dan dengan cara yang sangat sederhana.

Agustus dinobatkan menjadi bulan merdeka disini.

Kapan lagi bapak-bapak bisa bebas pakai daster batik sambil main bola di lapangan?

Kapan murid-murid bisa liar bercita-cita selain lewat karnaval yang memungkinkan mereka menjadi apapun atau siapapun di hari itu? Fyi, saya pernah dengan inisiatif sendiri minta berdandan jadi perawat perang, penari Bali, R.A. Kartini, wartawan, dll. Saya juga pernah menghias sepeda saya gila-gilaan saat pawai sepeda.

Kapan lagi juga ibu-ibu da mbak-mbak bisa tarik tambang atau balapan karung tanpa bingung masalah setrikaan, cucian atau pekerjaan rumah lainnya?

Dan, kapan lagi anak-anak bisa berbaur dalam acara yang tidak benar-benar diatur untuk menunjukkan keahlian mereka? Dulu waktu masih kecil tiap Agustusan (ada acara semacam pasar malam 16, 17, 18 Agustus di lapangan sepakbola dekat sekolah) saya dan teman-teman pergi kesana sehabis Maghrib daftar main judi yang bervariasi mulai dari lempar kalung rotan ke leher bebek, lempar bola tenis ke hadiah yang kita inginkan, juga judi tebak gambar dengan hadiah telur ayam. Asyik…

Agustusan mewakili kesyukuran akan adanya kemerdekaan. Biarkan jiwa Anda berpawai dengan bergabung dalam lomba-lomba yang pada hari biasa dianggap tidak wajar. Kenalilah bahwa jiwa lain juga ingin merdeka paling tidak pada hari itu. Mungkin kita bisa bercengkerama bersama tetangga-tetangga ngobrolin para pahlawan yang mungkin namanya tak kita temukan di memori kita. Dan bisa juga memberikan kesempatan pada anak-anak yang ingin sekali bergabung dengan tetangga-tetangga yang mungkin tidak mereka kenal dengan baik; mereka butuh support supaya tidak malu atau gengsi berlomba konyol. Kapan lagi wahai orang tua, kalian membiarkan anak-anak bebas sejenak dari persaingan akademis atau prestise demi membiarkan mereka menikmati kemenangan dan kekalahannya dengan cara yang sama: tertawa bersama. Ayo, Ibu-Ibu, Mbak-Mbak, Adik-Adik, ikut lomba senam, merangkai bunga, hias tumpeng, dandan tanpa cermin, pasang dasi, dll.

Agustusan milik kita, Sudara. Siapa yang akan memperingatinya kalau bukan pemiliknya? Ayo lepas egomu. Merdekakan dia sehari saja.

Merdeka!

GOOGLE EARTH…

EALAAAH… GOOGLE EARTH…

Google Earth saya kenal lewat seorang rekan yang putranya bersekolah di STAN yang kelak apabila lulus akan bekerja sebagai pegawai yang tugasnya menaksir harga tanah dan lain sebagainya (saya tidak begitu mengenal profesi ini).

Google Earth telah membuka mata saya lebar alias terbelalak karena saya bisa melihat atap rumah orangtua saya yang jaraknya berkilo-kilometer dari tempat saya sekarang. Satu lagi, saya bisa memberi tanda pada peta dunia dimana letak rumah keluarga saya. Hebat! Rumah ibu saya masuk peta! Saya gembira naudzubillah ketika untuk kesekian kalinya berhasil membantu teman-teman saya menandai rumah-rumah mereka dan tempat-tempat “penting” atas rekomendasi mereka. Coba bayangkan, apakah Anda bisa membeli peta yang memuat tulisan “SD Jatimulyo 3” atau “Agus Mulyana’s Residence” atau “LIA Taruna” atau “Dalemipun Bu Bidan Dajah Jabon” atau tulisan konyol lainnya? Anda bisa “membantu pembuat peta melengkapi karyanya” lewat Google Earth. Subhanallah.

Dengan peta global hasil pencitraan satelit NASA ini, saya bisa melihat bentuk besar Waduk Gajah Mungkur yang menurut saya tidak mirip gajah yang berdiri membelakangi saya. Sekarang bentuk tampak atas Penjara Laki-laki Dewasa Tangerang juga tidak membuat banyak orang di sekitar saya penasaran. Dan, begitu luas air laut menyelimuti daratan kita. Kami sungguh-sungguh merasakan benar betapa kecilnya kami ini.

Saya kemudian mulai berpikir bagaimana seandainya dengan layanan ini seorang pencuri bisa melihat rumah mana di komplek mana yang bisa secara optimal dirampok dan rumah mana yang perlu ditinggalkan saja karena minim properti. Konon, teman kantor saya tahu bahwa tetangganya di kawasan Halim, Jakarta memiliki kolam renang yang biru mendayu juga dari Google Earth. Tetangga yang tinggal berdampingan bertahun-tahun baru diketahui memiliki kolam renang setelah dia mengenal Google Earth.

Itu Google Earth standar. Untuk Google Earth Advance, kita harus bayar. Wah, saya hanya bisa membayangkan apa saja yang bisa saya tandai dengan Google Earth Advance ini. Apakah saya bisa melihat jalan-jalan tikus di seluruh dunia? Ataukah teman saya bisa melihat orang yang sedang berenang di kolam renangnya? Ataukah saya bisa mencari harta karun? Atau saya bisa juga melihat apa yang konon dilihat oleh para ahli strategi militer Amerika Serikat di daerah Irak jika mereka ternyata mampu mengambangkan penginderaan satelit yang jauh lebih advanced daripada layanan ini?

Saya tidak tahu apakah Google Earth edisi lengkap juga dapat saya optimalkan sehingga menyaingi Friendster atau Facebook demi menemukan teman-teman lama saya yang saya rindukan kehadirannya.

Teknologi semakin canggih. Manusia semakin dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang memungkinkkan mereka untuk membuat pekerjaan dan kegiatan lain jauh lebih efektif dan efisien. Namun ada pertanyaan yang mengganggu benak saya sendiri: apakah manusia bisa tetap mengendalikan diri dalam menggunakan teknologi sehingga teknologi tetap menjadi alat yang (idealnya) ada dan hanya ada demi membuat hidup SEMUA orang menjadi lebih damai?

Kadang kemudahan dan kecanggihan justru membawa efek kengerian yang tak terkira.

Ramalan Jayabaya

Link

Ramalan ini dipegang kuat oleh para budayawan terutama yang masih lekat dengan budaya jawa. Bunyi ramalan adalah sebagai berikut, kebenarannya anda boleh percaya boleh tidak, namanya juga ramalan.

1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.

2. Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.

3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berlayar di ruang angkasa.

4. Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan lubuk.

5. Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.

6. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.

8. Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.

9. Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.

10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.

11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik

12. Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.

13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.

* Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.

14. Ora ngendahake hukum Allah— Tak peduli akan hukum Allah.

15. Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.

16. Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.

17. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.

18. Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.

19. Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.

20. Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.

21. Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.

22. Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.

23. Nantang bapa— Menantang ayah.

24. Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.

25. Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.

26. Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.

27. Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.

28. Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil

29. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil

30. Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil

31. Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.

32. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru malu.

33. Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.

34. Wegah nyambut gawe — Malas menunaikan kerja.

35. Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.

36. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.

37. Wong bener thenger-thenger — Si benar termangu-mangu.

38. Wong salah bungah — Si salah gembira ria.

39. Wong apik ditampik-tampik— Si baik ditolak ditampik.

40. Wong jahat munggah pangkat— Si jahat naik pangkat.

41. Wong agung kasinggung— Yang mulia dilecehkan

42. Wong ala kapuja— Yang jahat dipuji-puji.

43. Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.

44. Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan

45. Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.

46. Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.

47. Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.

48. Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.

49. Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar pasangan.

50. Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.

51. Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.

52. Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).

53. Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.

54. Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.

55. Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.

56. Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.

57. Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.

58. Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.

59. Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.

60. Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.

61. Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.

62. Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.

63. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.

64. Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.

65. Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.

66. Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.

67. Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.

68. Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Di mana-mana perempuan lacur

69. Akeh laknat— Banyak kutukan

70. Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.

71. Anak mangan bapak—Anak makan bapak.

72. Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.

73. Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.

74. Guru disatru—Guru dimusuhi.

75. Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.

76. Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.

77. Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.

78. Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.

79. Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.

80. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.

81. Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.

82. Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.

83. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.

84. Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.

85. Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.

86. Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.

87. Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.

88. Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.

89. Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.

90. Sing curang garang— Yang curang berkuasa.

91. Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.

92. Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.

93. Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.

94. Akeh barang haram—Banyak barang haram.

95. Akeh anak haram—Banyak anak haram.

96. Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.

97. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.

98. Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.

99. Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.

100. Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.

101. Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.

102. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.

103. Sing kebat kliwat—Siapa tangkas lepas.

104. Sing telah sambat—Siapa terlanjur menggerutu.

105. Sing gedhe kesasar—Si besar tersasar.

106. Sing cilik kepleset—Si kecil terpeleset.

107. Sing anggak ketunggak—Si congkak terbentur.

108. Sing wedi mati—Si takut mati.

109. Sing nekat mbrekat—Si nekat mendapat berkat.

110. Sing jerih ketindhih—Si hati kecil tertindih

111. Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur

112. Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.

113. Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.

114. Sing waras nggaga
s—Yang sehat pikiran berpikir.

115. Wong tani ditaleni—Si tani diikat.

116. Wong dora ura-ura—Si bohong menyanyi-nyanyi

117. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.

118. Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.

119. Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.

120. Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.

121. Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.

122. Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.

123. Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.

124. Anak lali bapak—Anak lupa bapa.

125. Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.

126. Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.

127. Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.

128. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.

129. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.

130. Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.

131. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.

132. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.

133. Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.

134. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.

135. Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.

136. Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.

137. Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.

138. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.

139. Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.

140. Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.

141. Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.

142. Akeh bandha musna ora karuan lungane—Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe Banyak harta hilang entah ke mana, Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.

143. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.

144. Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.

145. Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.

146. Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.

147. Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.

148. Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.

149. Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.

150. Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.

151. Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.

152. Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

153. Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.

154. Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.

155. Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.

156. Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit

157. Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.

158. Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang

159. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.

160. Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.

161. Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi

162. Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci

163. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.

164. Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.

165. Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.

166. Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.

167. Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.

168. Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.

169. Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.

170. Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh

171. Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.

172. Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.

173. Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.

174. Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.

175. Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.

176. Agama ditantang—Agama ditantang.

177. Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.

178. Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.

179. Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.

180. Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.

181. Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan

182. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.

183. Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.

184. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.

185. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.

186. Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.

187. Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.

188. Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.

189. Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.

190. Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.

191. Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.

192. Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga

193. Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.

194. Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.

195. Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.

196. Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.

197. Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.

198. Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.

199. Buruh mangluh—Buruh menangis.

200. Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.

201. Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.

202. Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.

203. Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.

204. Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.

205. Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.

206. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.

207. Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal separo.

208. Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.

209. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.

210. Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.

211. Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.

212. Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.

213. Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.

214. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

wikipedia indonesia.

KEKUATAN, PUNYAKAH KITA?

KEKUATAN

Punyakah Kita?

Pada dasarnya manusia tidak punya kekuatan. Yang mereka punya adalah tanggung jawab dan oleh karena tanggung jawab itulah Tuhan memberikan pilihan-pilihan.

Banyak orang mencari kekuatan. Berbagai pihak memperebutkan kekuatan. Kekuatan seperti sebuah magnet yang mampu menarik bijih-bijih besi yang ada dalam jiwa manusia ke segala penjuru kutubnya. Secara alami tercipta kelompok-kelompo sebagai konsekuensi alamiah hasil gaya tarik-menarik yang ditimbulkan oleh perebutan tersebut. Manusia sendiri akan merasa kebingungan ketika ditanya apakah power itu. Apakah uang? Apakah kedudukan? Apakah kebebasan? Apakah kekuasaan? Apakah ada yang lain yang bisa merepresentasikan kata kekuatan?

Ada daya dalam kekuatan yang diincar oleh banyak pihak di dunia walaupun sesungguhnya mereka tidak pernha memiliki kekuatan alias power tersebut. Jika uang adalah yang mereka maksud sebagai power karena bisa “membeli” apapun dan siapapun maka sebenarnya diia tidak pernah memiliki uang karena uang itu akan terus menerus mengalir keluar, menjauhi dirinya untuk menarik apa dan siapa yang pada akhirnya juga hilang.

Jika ternyata kekuatan dia dapat dari kedudukan maka sebenarnya kedudukan itu akan berakhir seiring dengan kebosanan yang menimpa para penguasa yang pada akhirnya menyadari bahwa kedudukan justru merupakan tingkat perbudakan yang paling tinggi. Tidak percaya? Begini ya, Sudara. Jika Anda menjadi kepala keluarga maka Anda hanya harus melayani istri dan anak-anak Anda atau nantinya cucu atau cicit setelah itu peran Anda akan digantikan oleh kepikunana. Kalau Anda seorang ketua RT maka Anda harus melayani lebih banyak pihak termasuk yang sebenarnya adalah orang-orang yang tidak menyayangi Anda seperti halnya keluargayang selalu menginginkan kebahagiaan Anda. Selanjutnya jika Anda seorang lurah, maka makin banyak orang yang harus Anda layani. Bagaimana kalau Anda seorang camat? Lalu walikota atau bupati? Atau gubernur? Atau presiden? Makin tinggi jabatan/keudukan Anda maka makin banyak orang yang harus Anda servis, makin rendah tingkat ketuanan Anda secara hakiki. Maka dapatkah Anda membayangkan ketika kita ini disebut sebagai khalifah fil arld, pemimpin di bumi. Sadarkah Anda bahwa tingkat ketuanan Anda sangat rendah dan tingkat kebudakan Anda sangat tinggi! Karena semakin luas wilayah Anda dan semakin banyak manusia yang harus Anda layani. Makanya jangan keburu bangga… Anda semua adalah budak Sang Raja!

Jika kekuatan adalah kebebasan maka sama juga karena semakin kita merasa bebas semakin banyak yang harus Anda korbankan. Anda harus mengorbankan nama baik Anda. Anda harus juga merelakan diri diserang kiri kanan karena jika Anda ingin bebas maka Anda juga harus senantiasa berpikir tentang ruang bebas orang lain. Anda tidak bisa seenaknya tidur diatas bis tanpa membiarkan pengamen bebas berteriak mencari nafkah di kawasan bebas itu. Kalau tidak mau repot ya naik mobil sendiri saja dan bikin jalan sendiri jika ingin bebas macet tapi Anda juga harus rela jika ada orang lain yang memiliki lebih banyak kebebasan lebih. Nah, apakah kebebasan adalah power? Sangat relatif karena masih banyak pesaing.

Ataukah kekuatan Anda adalah kekuasaan Anda? Saya tidak tahu. Para penguasa mengklaim bahwa kekuasaan mereka memberikan mereka kemudahan dan kenyamanan hidup karena pelayanan dari para “budak” mereka. Benarkah? Apa yang diinginkan para budak sang penguasa tersebut? Apakah mereka perlu uang? Bisa saja; maka secara tidak sadar sang penguasa ini dikuasai oleh kelemahan sang budak yang alih-alih ikhlas mengabdi eh malahan mengharap sesuatu; bisa saj sang budak ini minta sedikit kekuasaan untuk menguasai budak lain yang ada dibawahnya. Jika terjadi perbudakan multi level seperti ini maka yang ada adalah bentuk kekuatan berdasarkan kedudukan. Saling menyokong untuk mendapatkan power adalah sebuah lingkaran setan. Sang penguasa merasa menguasai budaknya. Budaknya merasa sang penguasa terikat terhadap jasanya. Begitu seterusnya. Dan pada akhirnya kata power hanya bersifat situasional, kondisional, nisbi, sementara.

Maka itu marilah kita fokus kepada tanggung jawab kita. Sebagai pegawai tanggungjwab kita menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar. Sebagai warga negara, kita menjaga disiplin pribadi demi ketertiban umum. Sebagai kekasih, kita rela mencintai dengan pengharapan yang minim. Sebagai pemimpin, kita bertanggung jawab memberikan tauladan supaya pendukung kita mencontoh sikap baik kita. Sebagai manusia, bertanggungjawab atas kemanusiaannya.

Bagi saya dua pilihan sudah cukup karena saya punya kemerdekaan berpikir yang membuat saya bisa menggandakan berbagai pilihan dari hanya sepasang pilihan tersebut.

baik

?

buruk

sendiri

?

bersama

kiri

?

kanan

atas

?

bawah

satu

?

lebih dari satu

kuat

?

lemah

benar

?

salah

cinta

?

benci

dll

?

dll

Untuk apa tanda tanya ditengah-tengah sepasang kata yang (bisa dibilang) berlawanan itu? Itu adalah tanda BERPIKIR. Mana yang Anda pilih dalam melaksanakan tanggung jawab Anda? Tentukan pilihan dengan berpikir sebelumnya. Jangan sampai lewatkan proses yang satu ini.

Kelak jika Anda ditawari untuk memilih mana yang paling utama: apakah uang, kedudukan, kebebasan atau kekuasaan, tanyakan pada diri Anda dulu apakah Anda benar-benar menginginkannya atau hanya merasa tertarik oleh daya tariknya yang berupa power yang maya.

BUNGA TOMOHON

BUNGA TOMOHON

(sebuah bukti kekayaan & keindahan alam Indonesia)

Tomohon adalah sebuah kota yang terletak 22 kilometer di sebelah selatan Manado. Dengan ketinggian 700 – 1200 meter di atas permukaan laut, Tomohon merupakan kawasan gembur di garis (abstrak) Wallace.

Kota ini terkenal dengan bunganya. Sebagai daerah subur, Tomohon menjadi daerah pusat perkebunan tanaman hias spesifik Indonesia. Bisnis bunga menjadi faktor penggerak ekonomi masyarakat. Tomohon tak kekurangan bunga. Pada tahun 2005 pemerintah kota menetapkan Tomohon sebagai Kota Bunga.

Sebuah bukti kongkrit akan kekayaan bunga kota Tomohon adalah dengan diselenggarakannya Tournament of Flowers (ToF) atau pawai kendaraan hias yang berlangsung 3 Juli 2008 silam. Acara ini adalah acara puncak dari Tomohon Festival Flower (TFF). Masih ingat festival bunga Pasadena di Amerika Serikat? Kita patut bangga bahwa kita juga memilikinya disini.

46 buah float (kendaraan hias) mewakili 46 pemerintah kota di Indonesia. Mereka mencitrakan ikon kota masing-masing. Ada burung garuda raksasa dari Banjarmasin, bebek bermahkota emas dari Jambi, ikan sura dan buaya dari Surabaya, kerang dan mutiara dari Ambon, miniatur masjid Baiturrahman dari Banda Aceh, burung cendrawasih dari Manokwari, dan sebagainya.

Dan yang perlu diketahui adalah bahwa seluruh bunga yang diperlukan untuk keperluan menghias seluruh float tersebut dipenuhi hampir seluruhnya oleh “cadangan” bunga kota Tomohon. Para petani bunga menyediakan sekitar 20 juta tangkai bunga. Sekitar 14 juta tangkai digunakan untuk mendekorasi float-float yang berpawai tersebut. Dan, pada tanggal 6 juli 2008, 9 juta tangkai bunga disusun membentuk karpet bunga berukuran 80×50 meter. Prestasi ini dicatat oleh MURI (Musium Rekor Indonesia) sebagai karpet bunga terbesar di dunia. Sebuah pencapaian yang patut dikenang.

Indonesia tanah air beta. Pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala. Slalu dipuja-puja bangsa. Disana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata.

Semoga kita kembali seperti semua. Menjadi bangsa dan negara yang bermartabat dengan budaya yang terus lestari dan makin beradab. Amin.

Saya tidak mau malu jadi orang Indonesia.

BERKATA BENAR ADALAH ESENSI, BERKATA DENGAN BENAR ADALAH SENI

BERKATA BENAR ADALAH ESENSI

BERKATA DENGAN BENAR ADALAH SENI

(sebuah ide pribadi tanpa landasan teori para ahli)

Membicarakan marketing dengan teman-teman saya membuat diskusi kami agak meruncing karena satu kelompok mengatakan bahwa kita mesti jujur apapun kondisinya. Satu kelompok lagi yakin bahwa seni marketing tidak bisa lepas dari diplomasi yang kadang-kadang sulit dibedakan dengan kebohongan sekecil apapun kadarnya. Dan ujungnya mereka tidak bisa bertemu di satu titik kecuali bahwa keduanya bertujuan menjual sebanyak mungkin barang dagangannya.

Saya sendiri seperti biasa hanya menjadi perekam karena tidak pandai bersikap, lebih suka mendengarkan saja sembari belajar. Jujurkah saya? Atau sedang berdiplomasi menyelamatkan dagangan berupa harga diri?

Berkata benar dalam hal ini adalah mengatakan kondisi sesuatu atau seseorang sesuai dengan kondisi apa adanya. jika ada yang bertanya tentang sesuatu maka Anda mesti segera menjawab dengan gamblang seperti hal-nya ketika Anda membacakan spec komputer kepada orang yang membutuhkannya.

Contoh:

Intel Pentium dual-core processor T2370

Mobile Intel graphics

512 MB DDR2

120 GB HDD

Bluetooth 2.0+EDR

Itu jika Anda berjualan komputer berdasarkan spec yang bisa dipesan.

Nah sekarang Anda harus bersaing dengan teman Anda yang juga menjual komputer tetapi dengan merek dagang yang berbeda dari yang sedang Anda jual. Maka apakah Anda akan menawarkan dengan cara yang sama?

Disinilah kemudian muncul istilah dari kelompok kedua: berkata dengan benar. Dengan sangat bersemangat mereka mengatakan bahwa merek A bisa jadi memang lebih bagus kualitasnya dibanding merek B dengan spec utama sama persis. Namun apa daya jika mereka harus jualan sampai barang ludes, maka penawaran harus dikemas secara cantik dan menarik walau kadang harus sedikit bullshit demi profit.

Ada seorang teman saya bekerja sebagai Region Manager sebuah perusahaan farmasi tua berkantor pusat di kota Bandung. Dengan sangat sadar sebagai seorang teman dia melarang saya untuk meminum obat sakit kepala produksi pabrik obat tempat dia bekerja namun dengan sangat hati-hati juga dia berpesan kepada saya untuk tidak menyebarkan kepada khalayak ramai bahwa obat sakit kepala produksi pabriknya kalah manjur dibanding obat sakit kepala produksi pabrik lain. Dengan jujur pula dia mengakui bahwa di depan dokter atau apoteker dia akan mengatakan bahwa obat sakit kepalanya lebih murah sehingga akan lebih cepat laku dan “dicari” karena kualitas yang tidak jauh berbeda daripada produk pabrik lain walaupun sebenarnya relatif kurang aman dikonsumsi. Kemudian dia akan membuat komparasi ringan antara keduanya, tak ketinggalan disertai contoh kasus jika kebetulan dokter dan apoteker bertanya lebih lanjut. Belum lagi jika mereka bertanya sudah ada berapa dokter dan apotek yang membeli obat ini dan bagaimana peluang marketnya dan sebagainya. Belum lagi jika mereka bertanya bagaimana dengan diskon obat dan segala macam yang membuatnya berpikir ulang tentang profit perusahaan yang berpengaruh pada bonus akhir tahun. Kadang resiko terpeleset kebohongan tak tertahankan karena kadang tujuan jual habis tak mudah ditandingi oleh tujuan ideal manapun.

Saya sebagai pendengar akhirnya menyerah karena kedua belah pihak tak kunjung mencapai satu kesepakatan. Saya sebagai moderator pasif akhirnya bertanya yang mana nih yang mau disepakati.

Dengan sangat polos say
a berkata,”Berkata benar adalah esensi, berkata dengan benar adalah seni. Idealnya keduanya harus berjalan berbarengan karena kalau jujur tapi ngawur ya akan ada pihak yang sakit hati tapi kalau hanya berfokus pada gaya bertutur kadang yang terkesan jadi banyak bunganya.”

Mereka memandang saya dengan sinis. Saya si orang bodoh dengan sangat cuek meninggalkan mereka yang tak kunjung sampai pada keputusannya. Kebanyakan diskusi, nggak ada aksinya. Capek.

“Oke, atau pilih saja salah satu. Kalau mau jadi tukang rakit komputer, berkatalah benar. Kalau mau jualan merek dagang tertentu ya berkatalah secara benar. Suka-suka lu pade deh. Gue sih enggak mau jualan. Beli aja, namanya juga orang kaya,” kata saya.

Mereka mendelik. Saya masih berpikir bagaimana menggabungkan keduanya menjadi sebuah keahlian berkomunikasi yang tak tertandingi sehingga saya bisa menjual diri saya secara jujur tanpa mengececwakan pelanggan. J

Dedicated to someone in Bandung

NATIONAL GEOGRAPHIC

I READ NATIONAL GEOGRAPHIC

Inspiring people to dare about the planet

The National Geographic Society is chartered in Washiton D.C., as a nonprofit scientific and educational organization “for the increase and diffusion of geographic knowledge.” Since 1888 the Society has supported more than 8,000 explorations and research projects, adding to knowledge of earth, sea, and sky. (from NG in every edition)

And, the National Geographic Society monthly publishes National Geographic, the global scientific journal-magazine with yellow square framing the cover picture of its each edition. Those regular publication is also mainly to share the reports yielded from the explorations and research projects finaced by the Society.

The National Geographic covers social and geographical topics at all time. Pictures are of its great attraction. Research and exploration articles are always served as remarkable news that unspeakably contributes to readers’ realm of knowledge and curiosity. And, provided to its never-changing missions of inspiring people to care about the planet, the National Geographic strives to unveil a bunch of mysteries culturally, socially and geographically enheritted by the universe traced on earth. As a result, the National Geographic is the one and only periodical that is best chosen for both academic and non-academic readers.

I first knew this magazine only back to eight years ago when by accident I read one incomplete edition in our English course’s allegedly reading-room upstairs. As a reading lover, I always went to that reading room hoping to find a scrap to read. Fyi, we only had our institutional magazines for students and teachers to read. As I remember the incomplete scrap of the National Geographic was exploring the the Angkor Wat in Cambodia (may 1982 edition). Btw, what I mean a scrap is a scrap or let’s say editions of books or periodicals with important pages gone away. Because in order to be able to read the whole article and to see the complete pictures, I needed to put transparent tape on the pages. And, the “repaired mags” is still here!!! I was so happy to “make” a magazine. And, I was amazed; how come that there was a magazine like this. I was asking our manager whether we could subscribe that National Geographic. But at that he just said,”Nobody reads here. We have Reader’s Digest and nobody reads it. Why should I buy another one?”

When finally I gave up, the manager found that the course has to establish a more-defined library than an allegedly-reading-room. And, thanks God that the National Geographic was the first candidate aside from Time and Newsweek magazines. And, since then I have become the National Geographic avid readers.

One of my favorite the National Geographic’s edition:

All editions are lovable for me but I want to underline one edition in particular. It is The Big Thaw of June 2007 edition. I am an equatorian here in Indonesia and have never experienced those four seasons in my life. I have been dreaming to visit a site on earth where I can touch the ice. And, when I read that the ice is melting in one part of this globe, I began to worry of my chance to touch it is becoming so smaller. I was crazy then. J

It’s no surprise that a warming climate is melting the world’s glaciers and polar ice. But no one expected it to happen this fast (NG, page 56). I was thinking: if the pole is melting faster than the prediction, how about the other parts of the world? And, the representative pictures of how the effect of quick melting made me a kind of confused of what has been happening to this globe. Two pictures of Chacaltaya Glacier, Bolivia taken in two different years (1994 and 2005) are enough of a warning for me that the ice is “hotter” now.

“In 1995, when we predicted the disappearance of the glaciers, very few people believed us,: Ramirez says. “We were accused of being alarmist. But now it has come to pass.” Global warming apparently struck these glaciers a roundabout blow… They saw little direct effect from the slight warming of the atmosphere in recent year. What devastated the glaciers was a relentless series of El Ninos—episodes of waring in the waters f the equatorial pasific. (NG, page 69)

I can’t only imagine what possibly will happen at the end of the day if it goes worse and worse. Do I still have my dreams to visit snowy sites? Can I visit the “present” icy places on the poles? Hope the National Geographic find another past of icy places I expect to bring about in my dreams… and reality.

I care about the globe. I want to save the globe. And, I read the National Geographic.

The National Geographic has been my window to see out of my own shell, the neighborhood inside and outside this magnificent home planet. In one statement, National Geographic has its own flag carrying a big mission to introduce global phenomenon, problems and (hopefully always) the anticipating factors to me.

I read the National Geographic.

Tunnels



Buku ini mendapat julukan “The Next Harry Potter” karena tingkat kefantastisannya diprediksikan sejajar dengan dunia sihir remaja berjidat bergambar kilat menyambar itu.

Buku ini setebal 650 halaman sangat menarik untuk dibaca. Diterbitkan oleh Mizan Fantasi, buku ini berkualitas sangat bagus. Terjemahan dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia cukup dapat dipahami dengan baik.

Dimulai dengan “penggalian” yang dilakukan oleh Dr. Burrows dan anaknya, Will, cerita ini mengisahkan sepenggal hidup Will Burrows yang harus memasuki dunia bawah yang asing namun sangat dekat dengan hidup dan dunia yang dia tinggali saat ini. Ayahnya, Dr. Burrows, seorang arkeolog dan kurator di musium lokal, berubah dari partner “penggalian” menjadi objek pencarian panjangnya. Sang ayah hilang di dunia bawah yang ternyata sangat berbahaya dan sama sekali unik dibandingkan dengan dunia atas alias kehidupan manusia “normal” pada umumnya.

Dunia bawah ini bisa dimasuki melalui lubang dibawah kaki kita. Dimana-mana. Bandingkan dengan dunia sihir imaginasi J.K. Rowling yang bisa dimasuki melalui peron 9 stasiun kereta di London. Namun, manusia harus berhati-hati karena para penghuninya sedang berencana jahat terhadap kehidupan dunia atas alias kita, para manusia “normal”. Will berhadapan dengan mereka.

Koloni bawah tanah ini dipimpin oleh ‘seorang leader’ yang bernama Styx. Will yang awalnya hanya sedang berjuang menemukan kembali ayah tersayangnya, kini harus sekaligus berjuang menggagalkan makar koloni bawah tanah sebelum akhirnya mereka berhasil menghancurkan dunia Will.

Will – terlahir albino – adalah seorang anak lelaki yang memiliki kecerdasan sekaligus keberanian menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya. Sebagai remaja dia tak lepas dari rasa penasaran dan jiwa berontaknya yang kadang menyeretnya menuju kehebohan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sahabatnya, Chester – yang juga bermasalah dengan kulit akibat serangan eksem hebat – Will kerapkali “menggali”.

Ide yang terpapar dalam buku ini secemerlang ide yang ditawarkan oleh J.K. Rowling. Sama dengan Ms. Kathleen, Roderick dan Brian juga berjuang keras (mereka menerbitkan buku mereka sendiri) sebelum akhirnya Tunnels “ditemukan” oleh “penemu” Harry Potter. Kabarnya Relativity Media USA segera membuat film layar lebarnya dengan nilai hak cipta sebesar USD1.000.000.

Catatan prestasi-prestasi menakjubkan Tunnels:
– Diterjemahkan ke dlam 21 bahasa
– Buku bestseller #1 di Prancis, Rumania dan Republik Ceko
– Masuk dafar buku anak terbaik versi “Book Club” paling bergengsi di Inggris
– Total uang muka penerbitan lebih dari USD500.000

Layak untuk dibaca oleh Anda dan anggota keluarga lainnya. Selamat membaca.



IRSHAD MANJI

IRSHAD MANJI

(Penulis buku Beriman Tanpa Rasa Takut)

Pertama saya mendengar nama itu dari Ibu Sri awal tahun ini. Saat itu kami sedang duduk di kursi di selasar rumah sakit Pindad, Bandung memberikan dukungan moril pada sahabat yang sedang menjalani operasi. Tiba-tibaIibu Sri bercerita tentang seorang muslimah asal Afrika yang menggebrak dunia Islam dengan “kejujuran”-nya.

Informasi yang saya terima belum cukup akurat sehingga yang ada dalam bayangan saya adalah seorang wanita hitam legam dengan badan kekar, seperti auditor kami yang bernama Constance Siwadi yang berkantor di Afrika Selatan. Saya tercengang mendapat informasi tersebut dan menyimpannya sampai suatu saat saya sedang berekreasi di Gramedia. Mata saya tiba-tiba terarah pada sebuah buku berjudul Beriman Tanpa Rasa Takut. Bacaan beginian nih yang gue cari, semoga isinya sesuai dengan yang digambarkan judul. Amin.

Pas saya ambil, eh penulisnya Irshad Manji. Saya bertanya-tanya apa ini orang yang diceritakan Ibu Sri ya? Ternyata dia tidak serupa Constance yang asli Afrika, Irshad berdarah Pakistan. Singkat cerita, saya beli.

Saya membacanya dan mengalami kepayahan mental he he he… karena (menurut ukuran intelektual saya yang rendah ini) isinya adalah segala sesuatu yang membuat saya mau tak mau mesti berpikir tentang bagaimana bisa si Irshad ini menjadi seorang penanya yang tak kenal lelah seperti ini? Saya sangat terkesan dengan pemikirannya yang kritis. Jiwanya tak mau terkungkung oleh nilai yang (di)BAKU(kan).

Saya tertarik menyelesaikan membaca buku ini – sekarang belum selesai – tapi tidak punya keberanian untuk membuat resensinya karena begitu besarnya bea alias cost yang harus saya keluarkan jika saya melakukannya. Ada baiknya Anda membaca sendiri buku ini. Dan ada baiknya Anda tidak bersikap judgmental karena Irshad Manji sendiri belum mengambil keputusan final terhadap sikapnya saat ini. Dia sangat terbuka dan menawarkan pada para pembaca untuk berkirim email demi diskusi lebih lanjut tentang pertanyaan-pertanyaan yang popping-up di benaknya dalam menyikapi realitas di dunia ini khususnya yang berhubungan dengan agamanya, Islam.

Saya bersyukur mengenal Irshad Manji sekalipun hanya lewat buku. Ada sebuah kunci berkarat yang mulai bergeser seakan diminyaki membaca buku ini. Aside from kekurangan yang dia punya dan kebencian orang-orang kepadanya (dia ini lesbian, Sudara), saya mendukungnya dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan berpikir. Realitas yang pernah dan sedang dihadapi Irshad telah membentuknya menjadi seperti sekarang ini. Dan, jika saat ini dia terbuka pada kebenaran yang hakiki yang dituntun oleh hati nurani yang bersih, saya yakin Irshad akan menjadi orang yang sangat berbahagia telah mengalami apapun yang dialami saat ini.

Saya ingin Anda membaca kutipan dari buku Irshad berikut:

Agama telah mendorongku untuk tidak tunduk kepada sesuatu pun selain kepada Tuhan yang bersemayam di dalam kesadaranku. Agama mengajariku untuk tidak menyamakan otoritarianisme dengan otoritas. Anda mungkin ingin mendengar lebih jauh tentang hal ini, karena mereka yang menuduh semua keyakinan sebagai hal yang “irasional” kadang kala melupakan bahwa rasionalitas bisa menjadi sebuah fanatisme dalam dirinya sendiri. (hal. 312)

HUJAN BATU, PANEN BERLIAN

HUJAN BATU, PANEN BERLIAN

Dulu sekali saat saya masih es de saya pernah nonton film di TVRI. Kalau tidak salah dalam film itu ada seorang wanita bule yang “berkenalan” dengan manusia gua yang sedang diburu manusia lain (penjahat). Sebagai perwujudan rasa terima kasih, manusia gua tersebut memberikan batu-batu tak berharga pada wanita yang telah menyayangi dan menyelamatkan mereka. Awalnya si wanita sangat kecewa karena gua yang dikabarkan gudang berlian hanyalah gudang batu tak berharga. Namun, di ujung cerita si wanita mengerti bahwa batu-batu kusam tersebut adalah berlian mentah yang bernilai tinggi jika diasah. Dia ingat mengapa sang manusia gua lelaki menghadiahkan kalung batu kepada manusia gua wanita.

Saya menganalogikan batu sebagai masalah yang masih sangat membebani kita. Siapa mau dilempar batu? Pasti dia akan menghindar atau paling tidak berlindung dari batu yang bisa membahayakan dirinya.

Kemudian saya analogikan bahwa kondisi seseorang yang sedang bermasalah adalah seseorang yang harus bertarung dibawah hujan batu. Setelah hujan batu berhenti janganlah berlalu. Kumpulkanlah batu-batu itu. Asahlah dengan sabar. Akan ada hasil yang kemilau jika batu-batu itu diperlakukan dengan ketrampilan tinggi.

Siapa tahu batu-batu tersebut adalah berlian mentah yang belum tersentuh tangan pengasah? Jika bukan berlian bisa saja batu-batu itu menjadi akik atau batu asah lain yang tetap memancarkan keindahan alam? Seburuk apapun batu yang diasah akan kemilau memukau. Warna hanyalah masalah gradasi. Kemilau adalah esensi batu asah.

Jika tidak keduanya? Jangan khawatir, setelah mengasah berbutir-butir batu dengan telaten dan baik maka tak bisa dipungkiri bahwa keahlian mengasah batu dan termasuk mengenali jenis dan ciri batu ada di tangan.

Jika ada hujan batu, berlindunglah sejenak untuk menghindari kebenjolan dan luka badan tetapi pungut dan asahlah semua batu dengan sabar dan teliti hingga berkilau agar Anda mendapatkan salah satu dari hal berikut:

  1. Hikmah agung yang Anda harapkan
  2. Hikmah kecil yang mencerahkan
  3. Hikmah tersembunyi yang tak terbayangkan

Hujan batu, panen berlian…

HE WANNA BE ALONE

HE WANNA BE ALONE

I have a very brave brother who has been my supporter and protector all this time. When I am sad, he is entertaining me. When he is sad, I am entertaining him. When we are sad, we are entertaining each other, laughing together in irony. Yes, we are entertainer without running entertainment business. J

Now, he is being sad but does not want me to entertain him. What is happening? Is he so much sad that he thinks I can’t get him out of the sorrow? Does he think I don’t care? Or, is it I who makes him sad? Maybe…

Sometime, someone wants to be left alone. Owing to that, I’ve gotta be an understanding person, waiting for the clear sky exchanging the dark cloudy horizon. I am waiting for the right time to get enganged to his very daily smile and receptiveness.

It is the first time I can understand my brother’s “weird” request “I am fine, just want to be left alone”. Previously he growled and scolded when he wanted me to leave him alone. But, this time he doesn’t know the deadline. It makes me quite unrest.

I accept it as an honest request though I can’t be alone without a brother’s support and protection. I am independent and capable but he is the one that has made me very much self-actualized. He has changed the world to me into a colorful, meaningful, beautiful painting.

It is difficult to describe what my brother is like because he doesn’t like me to display his photo for sure. Just imagine a man with slanted eyes, scarred right arm, curly front hair, oily face in the morning and cigarette smoking.

He is my brother that wants me now to leave him alone. Until when, Bro? I miss your laughter a lot…

July 26, 2008

SI OTONG & SAYA YANG PELIT

SI OTONG DAN SAYA YANG PELIT

Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang hampir tidak pernah memberikan uang kepada pengemis, pengamen yang ada di bus atau jalan termasuk para ulama yang meminta sedekah untuk mendirikan bangunan tertentu. Saya beranggapan bahwa dengan memberi mereka uang maka saya telah membunuh keinginan mereka untuk “bekerja secara normal”. Saya tidak mau menjadi orang yang melestarikan budaya meminta uang di jalan dengan cara apapun. Saya yakin ada cara yang lebih baik untuk “membiayai” mereka. Sayang sekali pasal di UUD 45 yang menyangkut pemeliharaan fakir miskin tidak dijalankan dengan baik.

Saya rela dikutuk dan didoakan oleh mereka karena saya tidak mau menyisihkan gopekan saya untuk mereka yang telah capek-capek nyanyi atau mendongeng. Saya juga rela ditatap dengan pandangan tajam karena (mungkin) saya adalah sedikit orang yang dengan sangat mudah dihapal karena pelit terhadap mereka. Dan tetap saja saya menerapkan perhitungan saya demi tidak memberikan uang saya pada mereka.

Saya pernah menjumpai seorang anak lelaki berusia sekitar empat tahun. Dia ingusan, debuan, rambutnya pating klenyit (bau tengik, bahasa Jawa), bajunya dekil, matanya penuh kotoran. Si otong ini menumpang bus kami dengan mengantongi segepok amplop putih untuk dibagikan kepada kami semua.

Satu per satu dia geletakkan amplop itu di pangkuan para penumpang mulai dari kursi terdepan. Saya duduk di deretan keempat. Serta merta dengan senyuman saya tolak amplop kucel tersebut sambil menggeleng. Kebetulan saya duduk dengan seorang bapak yang (mungkin) punya prinsip berbeda dengan saya.

Bapak ini mendesis,”Terima aja kenapa sih?” tetapi saya tetap menggeleng dan tetap tersenyum.

Tiba-tiba si otong menangis tersedu-sedu di hadapan kami. Saya cuek saja. Kini saya sodorkan amplop itu kepadanya tanpa memandangnya. Si otong mengambil amplop itu dengan kasar dan menangis lebih keras. Saya tak berubah.

Lalu dia menangis sambil melanjutkan fase pertama pekerjaannya yaitu membagikan amplop. Sebentar lagi mungkin dia akan menyanyikan lagu nestapa yang mengisahkan hidupnya yang malang sebagai orang miskin. Saya sudah bersiap dengan segala kemungkinan termasuk si anak kecil ini menyanyi keras-keras di sebelah saya untuk membuat saya memelas.

Saya tungga-tunggu (adaptasi ke bahasa Jawa) mana suara lagu itu tak juga muncul. Yang saya dengar hanya tangisan yang memilukan. Nangis terus sampai lebih dari sepuluh menit tanpa menyanyi.

Saya agak menyesal karena membuatnya menangis. Bisa jadi ini adalah penolakan pertama bagi kepolosan dan niat baiknya menghibur kami. Duh, Gusti Allah, saya telah melukai jiwa si otong itu. Tapi saya juga tak mau melukai prinsip saya bahwa saya tidak mau memberikan uang pada mereka. Saya terus berdoa, meminta ampun dan berharap suatu saat si otong mengerti mengapa saya menolak amplopnya. Bukan karena jijik atau benci tapi karena perhatian saya yang bentuknya berbeda.

Setelah sekitar hampir seperempat jam, si otong ini berkeliling lagi memunguti amplop putihnya yang mungkin sudah gendut dengan rupiah koin atau kertas. Ketika melewati saya dia melotot sambil mencibir. Ingusnya menggelembung seperti permen karet ditiup.

Setelah si otong (mungkin) turun dari bus, saya mendengar penumpang membahas si otong ini.

“Lu ngasih ya?”
”Iya, gopek. Tuh anak kerjaannya ngamen nangis. Biasanya sih dia nangis di metromini. Gue ketemu di 75. Kenapa sekarang bisa di 138 ya?”

“Ada yang bawa kali.”

“Nyanyi aja nyebelin apalagi nangis. Gue takut dipeperin ingus makanya gue kasih aja seribu.”

Saya masih tetap tersenyum. Untung saya nggak dipeperin ing
us ha ha ha…

PEKERJAAN SAYA, TUHAN SAYA

PEKERJAAN SAYA, TUHAN SAYA

Ada dua orang yang seharusnya saya jenguk karena sakit. Tetapi karena keegoisan saya mempertahankan pekerjaan yang tak ada habisnya maka saya melewatkan kesempatan emas untuk menghibur saudara-saudara saya yang sedang kesusahan tersebut.

“Abi sedang sakit, Mbak Rike, makanya saya hari ini harus pulang cepet. Sekarang di rumah sakit Ashobirin.” Abi adalah panggilan untuk suami Mbak Yanti, Finance Manager di LIA Taruna.

“Mbak Rike, Ibu Tuti dirawat di rumah sakit Tebet. Sudah harus dicuci darah karena fungsi ginjalnya sudah sangat menurun.” Begitu kata Nining, teman saya ketika mengabarkan bahwa Ibu Tuti, pemilik rumah yang sekarang saya tempati, sedang sakit.

“Mbak Rike, kapan main ke Bojong? Gak kangen sama kami?” belum lagi hello-saying seperti ini yang jumlahnya tak sedikit.

Saya sedang meratapi alangkah tidak bagusnya manajemen waktu saya sehingga orang-orang yang saya kasihi tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya karena saya lebih memandang penting pekerjaan saya. Saya ketakutan jika nanti pekerjaan saya yang sudah ketemu deadline hari Minggu tidak bisa selesai. Kalau client mengeluh maka atasan saya bisa saja memarahi saya. Kalau atasan saya memarahi saya maka pekerjaan saya dinilai tidak baik. Jika pekerjaan saya tidak baik nilainya maka kondite buruk akan saya sandang. Saya takut kehilangan pekerjaan. Saya takut pada pekerjaan saya. Pekerjaan saya adalah penguasa saya. Pekerjaan adalah tuhan saya. Saya diperbudak pekerjaan.

Kemudian saya mendapat kabar bahwa Ibu Tuti sudah sampai di rumah. Maka saya berazam dalam hati bahwa saya harus menemui beliau dan bersyukur bahwa beliau telah pulang.

Saya sempat mengatakan pada Mbak Yanti bahwa saya akan ke Ashobirin hari Minggu jika Abi masih ada disana. Jahatnya saya… Tidak seharusnya saya berkata demikian. Seharusnya saya mengatakan semoga lekas sembuh titik tanpa embel-embel apapun.

Dan saya segera membalas sms-sms dari orang-orang yang menyayangi saya itu.

Sms saya

:

Insya Allah, besok aku kesana. Tapi boleh bawa kerjaan ya… Ok?

Balasannya

:

Ok, tapi jangan kerja ya. Kita ngobrol aja, kerjaan kamu masukin ke tong sampah sehari saja.

July 26, 2008

GAIRAH MENULIS, GAIRAH BERBAGI, GAIRAH BERSAUDARA

GAIRAH MENULIS, GAIRAH BERBAGI, GAIRAH BERSAUDARA

Tiap saya ada waktu luang rasanya saya ingin selalu menulis untuk mencurahkan segala ide, perasaan dan pengalaman hidup saya pada Anda semua. Hal itu tidak lain sebagai wujud rasa syukur saya bahwa saya masih memiliki saudara yang sudi memperhatikan saya walau hanya dengan emoticon dan sight-seeing-nya.

Jangan bosan menyambangi blog saya yang sederhana ini. Jangan kaget kalau sehari saya bisa meng-upload lebih dari 3 postingan. Semua adalah cara saya mengeksplotasi hidup saya sebagai pengorbanan kecil demi sesama yang sedang mencari hikmah hidup yang sangat misterius ini.

Selamat menikmati kelana jiwa… Terima kasih pada semua.

BAHAGIAKAH ALMARHUM BAPAK?

BAHAGIAKAH ALMARHUM BAPAK?

Bapak saya meninggal tahun 2001 tepat ketika saya selesai training guru di LIA (dulu T3E). Saya menelpon ke rumah malamnya, mengabarkan bahwa saya akan pulang karena trainig sudah selesai dan kangen bapak. Ibu menyampaikan berita gembira itu kepada beliau. Bapak sedang terbaring di dalam kamar dan pesawat telpon tidak bisa ditarik ke beliau. Katanya beliau senang sekali.

Ternyata keesokan hari itulah, ketika saya dalam perjalanan ke rumah, bapak meninggal. Alangkah menyesalnya saya tidak bisa mencium tangan dan wajah beliau. Saya juga tidak sempat “pamer” pada beliau bahwa saya sudah menjadi guru bahasa Inggris seperti yang sangat beliau inginkan selama ini.

Duh, sedihnya. Saya masih ingat bahwa saya tidak mengeluarkan air mata saking sedihnya. Saya bahkan tersenyum kosong.

Sekarang saya tidak hanya menjadi guru bahawa Inggris. Saya sudah punya triple job yang sangat menyita waktu saya. Saya memang tetap menelpon ibu secara rutin tiap hari berangkat dan/atau pulang kerja. Saya juga tetap berkomunikasi dengan saudara-saudara saya tapi saya hanya sempat pulang ke ibu setahun sekali, sebelumnya saya bisa pulang ke kampung 4 kali setahun karena term break tiap tiga bulan memungkinkan saya untuk libur seminggu dan pulang.

Namun, apakah bapak bahagia kalau saja beliau masih di dunia ini dengan tubuh kasarnya? Apakah bapak bangga? Insya Allah, ya. Tapi apakah bapak bahagia karena kesibukan saya yang membuat saya berpikir untuk sekedar meninggalkan meja untuk pipis… apakah beliau tidak akan menegur saya yang hanya bisa ketemu ibu setahun sekali saat Idul Fitri, itupun hanya beberapa hari? Apakah saya memang harus segera punya pekerjaan yang memungkinkan saya bebas waktu dan biaya?

Saya hanya bisa berbaik sangka karena nyatanya saya tidak bisa klarifikasi pada beliau tentang perasaan beliau saat ini. Saya hanya bisa membayangkan senyumnya yang sangat ganteng dan tulus.

Ada kata yang selalu saya ingat jika beliau sedang bangga karena kami, anak dan istrinya, mencapai prestasi tertentu “Ampuh! Ampuh tenan!”

Bapak saya pasti bahagia, dan akan lebih bahagia da bangga jika saya bisa jauh lebih bisa membuat ibu dan saudara-saudara saya bahagia juga.

Sekarang ini saya sedang sangat sentimentil dan ingin memeluk bapak saya karena jasanya yang luar biasa dalam hidup saya. Saya tidak pernah menyesal bahwa saya dilahirkan menjadi anak keempat dari seorang lelaki yang bernama Jokanan Tjokroatmodjo.

Rest in peace, Bapak. I love you much.

NAIK GAJI

NAIK GAJI

Claudia Barron berkunjung selama 3 hari ke kantor Indonesia dengan agenda evaluasi dan konsolidasi, internal audit in short. Claudia Barron ini Quality Director untuk social compliance auditting company tempat saya nyari duit untuk beli nasi dan lauk untuk sehari-hari.

Pertama ketemu agak jiper juga karena prasangka yang ada adalah dia akan mengevaluasi kerja kami disini kalau perlu kami ditongkrongi satu per satu. Waduh… kerja diliatin bule yang notabene atasan kami. Nervous banget. Bukan bule sih tapi orang Mexico yang lahir dan besar di US. Beliau bungsu dari 11 bersaudara. Usianya sekitar 48-an. Strong, smart, fast-paced, personable dan mandiri. Karakter yang sangat tepat sebagai seorang pemimpin bagi kami yang lemes, lambat, cengeng dan lemah ini.

Ok, Guys! Let’s move. Meeting hari pertama, masih agak ringan karena yang diomongin hanya revenew per tahun dan apa yang harus kami persiapkan ke depan plus iming-iming janji manis yang membuat kami berjingkrakan tak tahu malu.

Tapi setelah itu… ada acara wawancara yang dilakukan tertutup satu per satu. Satu orang bisa mencapai setengah jam. Pakai Bahasa Inggris lagi… Oh, my gosh! (meminjam ekspresi yang paling sering dia ucapkan)

Siangnya makan di rumah makan Padang, satu-satunya pilihan dia karena rasa pedas yang dijanjikan oleh raja cabe di kantor kami dan kriteria yang diajukan Clau: “jalan tidak lebih dari 5 menit”. Makannya sedikit dan banyak sayur.

Keesokan harinya, ada salah satu rekan kami yang diajak serta ke Starbucks Kemang untuk wawancara lanjutan karena Clau sedang ingin sekali minum kopi. Ya Allah, segitunya itu Mexican. Walhasil selama sejam mereka ngobrol di warung kopi itu dan membawa pulang oleh-oleh roti pohon (lapis legit Jerman yang menurut saya masih kalah lezat dibanding lapis legit bikinan langganan ibu saya) dan roti dari Kamome. Sebagai kompensasinya, yang tidak ke Starbucks boleh delivery order pizza. Kata Claudia,”The pizza is not as good as the one in LA. Right, Dod?” (Dia bicara pada bos kami yang dulu ngantornya di LA, kami sih pura-pura nggak denger karena lagi keringetan ditongkrongin seharian. Sementara bos kami hanya tersenyum, mungkin dia lupa rasa pizza LA atau tidak setuju dengan lidah Clau.)

Hari ketiga acara konsolidasi tetek bengek yang bikin kami berdecak kagum membayangkan seberapa sibuk kami akan juggling kerjaan mulai bulan Agustus depan hingga Februari tahun depan.

Acara terakhir adalah wawancara satu per satu lagi tapi kali ini didampingi bos besar Indonesia. Ternyata acara tawar-menawar gaji.

Saya ketiban sampur (terpilih, Bahasa Jawa) dipanggil pertama.

Setelah assessment de el el, Clau tiba pada keputusan terakhir. Saya naik gaji tahun ini.

5.5%

Kabarnya tak ada teman yang melompati angka tersebut. Sampai-sampai salah seorang dari kami menolak menandatangani raise sheet-nya. Clau merayakan kemenangannya bersama kami di Sushi Tei, Senayan City.

July 24, 2008

HOTSPOT YANG LEBIH BERADAB

HOTSPOT YANG LEBIH BERADAB

(silakan baca tulisan sebelumnya)

Setelah mengalami “kecelakaan” karena anak-anak kecil ketika mencari hotspot di WTC Serpong, saya kapok berselancar secara gratis tanpa teman di tempat itu. Trauma kecil.

Syukurlah, ada kabar baik. Lembaga tempat saya mengajar kini menyediakan wifi area secara gratis bagi para guru dan siswa dan para tetamu yang mengunjunginya.

LIA Taruna, Tangerang.

Saya sangat bersyukur pada akhirnya:

  1. Tempat kerja saya yang damai ini menyediakan fasilitas yang bisa “menghibur” warganya.
  2. LIA Taruna menjadi tempat main saya sekaligus mencari informasi yang jauh lebih aman dan nyaman dibanding dengan WTC Serpong.

Sekarang saya tidak mau lagi capek-capek ke WTC Serpong untuk mendapat internet gratis dan nyaman. Saya cukup memanggil Mang Kosim cs, tukang becak yang mangkal di prapatan Kasasi II, dan memintanya mengantarkan saya ke LIA Taruna, Tangerang.

Sekalian iklan he he he…

Syurga dunia.

MENCARI HOT SPOT DI WTC SERPONG

MENCARI HOT SPOT DI WTC SERPONG

Sekarang saya punya jurus jitu untuk ngirit sejak BBM naik. Saya nge-net di area hotspot tiap akhir pekan. Jadi kerjaan saya tiap hari Sabtu atau Minggu jika tidak sedang menikmati kesempatan yang lain adalah hunting hotspot di Tangerang.

Awalnya saya agak canggung karena kok rasanya gimana gitu… selain itu yang biasanya bawa tas kecil maksimal isi mukena, dompet, kamera dan satu buku sekarang tambah notebook dan perangkatnya yang dibutuhkan. Saya serasa menjadi IT programmer profesional yang kemana-mana tak mau lepas dengan “istri pertama?”.

Ada sebuah pengalaman yang sangat mengesankan ketika saya ber-hotspot di WTC Serpong. Rupanya tempat itu adalah favorit para hotspotter muda yang kebanyakan kaum Adam berkumpul. Alhasil semua meja terisi baik oleh para pengunjung yang sedang lapar maupun kelompok pemuda ber-laptop yang sedang serius. Saya hanya bisa celingukan.

Bingo! Dibelakang panggung ada meja dengan 2 kursi. Tak berpenghuni. Maka dengan segera saya menjajahnya dan memulai aksi. Para hotspotter yang – mungkin – sudah langganan disini memandangi saya dengan tatapan asing karena saya memang orang asing bagi mereka. Seandainya mereka perempuan saya mau bergabung dengan mereka tapi karena mereka semua berdada rata, saya memilih menyingkir. Bukan apa-apa, selain laki-laki mereka juga terkesan sangat jago IT (saya sempat mencuri dengan obrolan mereka) sedangkan saya kan gaptek, takut ditertawakan.

Maka dengan percaya diri saya connect ke wireless yang tersedia dan mulai bekerja. Saya tidak sadar bahwa ternyata dibelakang saya ada beberapa makhluk tak diundang turut menikmati gambar-gambar yang tampil di layar monitor. Dan karena tidak terlihat oleh mata saya, saya cuekin saja.

Makin lama mereka ternyata juga makin bertambah. Dan, saya masih malas melihat mereka. Akhirnya salah satu dari mereka berkata-kata.

“Tante, buka gambar hewan-hewan yang di Afrika tadi dong.”

Wow, wow, wow… Ada tujuh orang anak usia SD dan Tk sedang ngeriung dibelakang saya. Rupanya mereka haus hiburan seperti saya juga.

“Oh, ok. Ya udah, tunggu ya.” Saya berpamitan pada teman chat saya untuk melayani “client” saya.

Kami pun bersama-sama browsing gambar-gambar dan video-video hewan dan pemandangan. Saya juga bukakan situs yang berisi pelajaran bahasa Inggris yang fun dan edukatif. Setelah sekitar satu jam, saya melihat indikator battery saya melemah.

“Ok, kapan-kapan lagi ya. Udah low bat nih.”

“Makasih ya Tante.”

“Sama-sama.”

“Eh, Tante, Tante. Tante lagi sedih ya?” tanya si gendut sipit.

“Emangnya kenapa?”

“Tadi kan Tante lagi sekali-sekali chatting curhat kalau lagi sedih karena handphone-nya ilang dan pacarnya lagi marahan juga ha ha ha…”. Si gendut sipit tertawa gembira diikuti cekikikan teman-temannya yang lain.

“Patah hati nih ye… Kasihan deh Tante. Udah pacarnya marahan, hapenya kecopetan pula.”

Saya tersenyum menahan marah. Aduh, susahnya menghadapi anak-anak. Mau marah, mereka masih kecil dan anak orang tak dikenal. Tidak marah, malu di tengah keramaian. Seperti makan buah simalakama. Atau lebih tepatnya adalah saya seperti buah simalakama.

Saya berjanji tidak akan chatting di tengah keramaian seperti ini. Dan saya berjanji nanti akan mengajari anak saya untuk tidak mendekati hotspotter yang sedang sibuk.

Awal Juli 2008

PENJUAL NOVEL DI BUS KOTA ITU TELAH

BAPAK PENJUAL NOVEL DI BUS KOTA ITU TELAH MENYEMBUHKAN PENYAKITKU

(kisah nyata tak terlupakan)

Hidup saya dihiasi dengan mutiara-mutiara hikmah yang kadang-kadang munculnya di tempat yang tak disangka-sangka. Seperti tadi malam sepulang kerja di bus AJA138 di bilangan Slipi Jaya menuju Tangerang.

Tak tahu mengapa saya merasa sangat pening, mual dan tak sabaran. Majalah Femina yang niatnya saya jadikan penutup rasa bosan malahan menjadi semacam beban karena saya sedang membaca tas yang besarnya tidak cukup untuk mengantongi kertas yang ukurannya diatas 25×15 sentimeter. Maka dengan rela tapi terpaksa saya memangkunya dibawah tas.

Bersyukur saya menemukan harta karun minyak cap Kapak yang bisa mengurangi mual. Duh, serasa nenek-nenek.

Tiba-tiba suara yang tak pernah ada sebelumnya muncul. Bukan pengamen, bukan aktor jalanan, bukan penjaja makanan atau mainan, bukan pengemis melainkan penjual novel. Dan, perasaan mual beserta segala atributnya menjadi hilang sama sekali begitu mendengar untaian kata-kata sang bapak yang – saya yakin- sedang berjuang habis-habisan supaya dagangan cepat habis ini. Silakan menikmati.

“Permisi Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, saya membaca sesuatu yang tidak biasa. Saya membawakan untuk Anda sekalian novel-novel yang akan menjadi bacaan menarik. Saya memberikan harga yang sangat menarik pula. Jika Anda pergi ke toko-toko buku besar seperti Gunung Agung dan Gramedia maka Anda akan melihat harganya sekitar limapuluhlima ribu rupiah atau paling tidak limapuluhribu rupiah.

Tetapi disini saya hanya memberikan harga setengahnya. Dengan uang duapuluhlima ribu rupiah Anda telah dapat memiliki novel-novel yang sangat bagus ini. Silakan dilihat dulu. Ada Ayat-Ayat Cinta yang telah difelemkan, ceritanya tentang lelaki sholeh tapi berpoligami. Ada juga Mahabah Cinta tentang orang sholeh juga. Keduanya ditulis oleh Hiburrahman Al Sarizi.

Ini ada juga Laskar Pelangi. Ditulis oleh Andria Herata. Ceritanya tentang orang yang sangat tidak bersyukur kepada Tuhan. Silakan dilihat-lihat dulu. Novel-novel ini sangat menarik. Silakan. Silakan…”

Saya tidak tahu mengapa mual dan pusing saya langsung hilang. Saya tidak tahu apakah rekan-rekan sesama penumpang mendapatkan efek terhadap kebosanan mereka terjebak macet. Yang pasti saya bersyukur karena Tuhan menciptakan sang bapak yang dengan percaya diri menyebutkan kata “lelaki sholeh TETAPI berpoligami” dan “menuduh” si Andria Herata sebagai orang yang “sangat TIDAK bersyukur pada Tuhan”. Mungkin banyak yang tidak setuju namun saya sangat salut dengan paradoks yang disuguhkan oleh keluguan bapak yang mungkin belum sempat membaca novel-novel yang keburu harus dijualnya demi menghidup diri dan (mungkin) anak istrinya atau mungkin beliau menjual novel-novel bajakan yang ceritanya beda.

Lihatlah Saudaraku, Andria Herata juga manusia yang pantas diolok-olok tidak bersyukur pada Tuhannya. Hiburrahman Al Sarizi adalah penulis yang seharusnya dihebohkan oleh ibu-ibu yang tidak suka dimadu dan seharusnya tidak nonton felem Ayat-Ayat Cinta.

Saya ingat bahwa saya sudah pernah baca Laskar Pelangi (sampai habis dua kali) dan Ayat-Ayat Cinta (sampai habis dan tidak mau baca ulang) yang masing-masing ditulis oleh pengarang yang berbeda yaitu Andrea Hirata dan Habiburrahman El-Shirazy jadi saya hanya diam saja. Jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang sama? Apakah si Andrea Hirata juga pernah tidak bersyukur pada Tuhan seperti Andria Herata? Dan apakah si Habiburrahman El-Shirazy juga men-support poligami karena kesholehannya?

Yang pasti saya melihat sisi terang mutiara hati bapak ini. Dia percaya diri dengan keluguannya.

PS:

Jujur saya menyesal tidak membeli salah satu novel beliau walaupun saya tahu ada informasi beliau yang kurang akurat. Semoga Allah memberinya rejeki yang melimpah.

July 21, 2008 8:58pm

SERBA-SERBI UBAN

SERBA-SERBI UBAN

Berapa lembar uban Anda?

Percaya atau tidak, pada usia belum mencapai 30 tahun saya sudah beruban. Malahan seingat saya uban saya sudah unjuk gigi sejak saya SMA kelas tiga. Saya tidak tahu apa sejatinya yang mengundang keberadaan uban saya ini. Apakah memang saya punya potensi untuk kelihatan cepat tua daripada orang lain? Apakah pigmen saya sudah mulai menyurut cara kerjanya? Ataukah memang ini faktor keturunan. Saya tidak tahu, yang saya tahu ubah saya dari dulu jumlahnya tetap tidak berkurang (karena tidak saya cabut) dan tidak bertambah. Dari dulu hingga sekarang jumlahnya 9.

Tak tahu. Saya punya beberapa teman yang koleksi ubannya sangat spektakuler.

Teman saya ada yang beruban sejak usia SMA dan jumlahnya lebih dari duapuluh lembar.

Ada lagi yang beruban secara tiba-tiba.

“Aneh deh. Padahal kemarinnya nggak ada. Tiba-tiba tadi pagi udah ada dua. Darimana datengnya ya?”

Ada lagi yang beruban di tempat yang simetris. Uban beliau muncul di kiri dan kanan bagian depan kepala. Kalau Anda ingat Koes Hendratmo tahun 90an maka Anda bisa membayangkan beliau. Bedanya kalau Koes Hendratmo laki-laki, beliau ini perempuan.

Ada lagi teman saya yang ubannya hanya muncul seminggu saja dan hanya pangkalnya karena setelah itu rambutnya mendadak hitam legam kembali alias disemir.

Ada lagi teman saya yang ubannya membuatnya tersiksa lantaran gatalnya minta ampun. Jadi, tempat uban tumbuh menjadi lecet dan atau berketombe karena saking seringnya digaruk kuku.

Teman saya yang lain sangat bangga karena ubannya tidak kelihatan dari manapun karena tempatnya sangat tersembunyi dan ubannya pendek-pendek, tak lebih dari dua senti katanya. Tetap saja kami tahu karena beliau menunjukkan pada kami dimana tempatnya. Dibelakang telinga.

Seorang teman yang lain ubannya tidak ada yang putih sempurna. Selalu ada campuran warna hitam atau coklat.

Yang lainnya lagi mengeluh karena ubannya tidak berkumpul di satu tempat dengan kata lain ubannya menyebar sehingga beliau agak kesulitan pada saat mengecat rambutnya. Beliau harus mengecat seluruh rambut padahal kegiatan mengecat rambut adalah yang paling beliau benci. Fyi, beliau alergi pada semua jenis cat rambut.

Teman saya yang lain lagi dikerjain uban; uban yang pertama tidak muncul di kepala melainkan di kumis dan alis sehingga kelihatan aneh dan tidak kompak dengan warna rambut kepala.

Ada lagi yang ubannya sudah merata sehingga kami menyebutnya beruban hitam.

Saya sedang berpikir mengapa harus ada uban? Apakah supaya pemiliknya sadar bahwa usianya semakin berkurang? Aduh mak, saya telah beruban sejak SMA jadi apakah umur saya sudah di-warning sejak lama oleh-Nya? Adakah teman Anda punya sesuatu yang unik tentang uban mereka?

STRAWBERRY SHORTCAKE

Cuppycake

You’re my hunny bun, sugar plum, pumpy upmy upmy upmkin.

You’re my sweetie pie.

You’re my cuppy cake,gumdrop,shyummkums pure,

The apple of my eye!

And I love you so, and I want you to know that i’ll always be right here.

And I love to sing this song to you

Because you are so dear!

LIFE… the meaning

Link

SEASON OF LIFE
There was a man who had four sons.
He wanted his sons to learn not to judge things too quickly.
So he sent them each on a quest,in turn,to go and
look at a pear tree that was a great distance away.
The first son went in the winter,
the second in the spring,
the third in summer,
and the youngest son in the fall.
When they had all gone and come back, he called them together to describe what they had seen.
The first son said that the tree was ugly, bent, and twisted.
The second son said no it was covered with green buds and full of promise.
The third son disagreed; he said it was laden with blossoms that smelled so
sweet & looked so beautiful, it was the most graceful thing he had ever seen.
The last son disagreed with all of them; he said it was ripe and drooping with fruit, full of life and fulfilment.
The man then explained to his sons that they were all right, because they had each seen but only one season in the tree’s life.
And that the essence of who they are and the pleasure, joy, and love that come from that life can only be measured at the end, when all the seasons are up.
If you give up when it’s winter,
you will miss the promise of your spring,
the beauty of your summer,
fulfilment of your fall.Don’t l
Don’t judge life by one difficult season.
Persevere through the difficult patches and better times are sure to come some time.
Aspire to inspire before you expire.
Live simply love generously.
Care deeply.
Speak kindly.
Leave the Rest to God.
Happiness keeps you Sweet.
Trials keep you strong.
Failures keep you humble.
Success keeps you Glowing.
But Only GOD keeps You Going