BERJUALAN TERNYATA TAK SEGAMPANG MENULIS

BERJUALAN TERNYATA TAK SEGAMPANG MENULIS

(sharing pedagang batik baru)

Seorang teman saya sekarang tinggal di Pekalongan dan mejadi juragan batik mengikuti jejak sang ibunda. Sebelum menetap di Pekalongan, teman saya ini mengajar di LIA Kelapa Gading kemudian di LIA Yogyakarta. Karena mengikuti sang suami tercinta, dengan suka rela dia mengurus anak-anaknya yang lucu-lucu dan pintar; saat itulah dia berganti profesi dari mengajar ke berjualan.

Awalnya saya ragu apakah dia bisa mempertahankan bisnisnya itu sedangkan selama di Jakarta dia tak pernah sekalipun “menyentuh” dunia bisnis. Kerjanya hanya sekolah dan klenceran (bepergian, Bahasa Jawa) ke luar negeri menikmati fasilitas sebagai anak tunggal berorang tua berada tak pernah kekurangan apa-apa. Haah…

Ternyata memulai dari nol dan sekarang dia berhasil. Bisnisnya maju dan dia menjadi bosnya juragan-juragan batik. Suatu hari dia sms saya dan menawari saya memasarkan batiknya kepada teman-teman di Jabodetabek+sekitarnya dengan harapan cita-citanya menjadi penguasa alam batik berhasil dan (dengan sengak berpretensi) membantu saya untuk lebih cepat mewujudkan cita-cita menjadi bos sayuran organik ha ha ha…

Oke… kirim saja batik elu, kali aja laku. Tapi jangan salah ye, gue gak pernah berdagang secara sukses. Dulu waktu es em a pernah jualan sampul buku dan laku karena memang gambarnya Tommy Page. Waktu kuliah jualan sandal kulit tapi gak untung karena akhirnya sandalnya gue gave away ke para pembeli yang gak kunjung bayar cicilan dengan berbagai alasan. Akhirnya elu tahu sendiri gue cuma bisa jualan omongan dan tulisan, itupun gak terlalu laku, alias sering ditolak he he he…

Sekarang ini saya sudah memasarkan kiriman Nur Dyah (nama teman saya) pada putaran keempat. Saya tidak berjualan sendiri melainkan menyerahkannya kepada teman yang lain. Saya hanya menjadi talang saja. Untung tipis gak papa, yang penting lancar… Sepertinya saya udah kayak Mas Karyo aja ha ha ha…

Itu saja udah bikin saya pusing gak karuan dengan urusan hitungan ini-itu dan kiriman barang yang telat dll.

Sekarang saya sedang belajar untuk menjadi pedagang batik yang lebih teliti mencatat dan meghitung sehingga barang dan labanya jelas larinya kemana. Waduh… Ternyata berdagang itu lebih sulit daripada menulis.

Wish me luck ya…

September 20, 2008

BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

Lebaran sudah dekat. Saya ingat waktu kecil dulu tiap Lebaran saya ribut minta dibelikan baju baru. Sebenarnya itu terjadi hanya sampai kelas empat es de karena sesudahnya saya sudah belajar bahwa baju baru tidak penting. Yang lebih penting adalah baju yang bersih.

Dulu saya dan dua kakak perempuan saya selalu mendapat baju baru menjelang Lebaran. Kami digiring untuk diukur badan di penjahit handal langganan keluarga kami, Mbak Nyo. Mbak Nyo ini adalah salah satu dari dua bersaudara yang berprofesi sebagai penjahit. Mereka adalah peranakan Tionghoa yang menghabiskan hidupnya di tanah air Indonesia ini. Mereka penganut Kong Hu Chu tapi selalu turut merayakan Riyoyo (Lebaran, Bahasa Jawa) bersama kami. Mbak Chu, kakak perempuan Mbak Nyo sering menghantarkan kue-kue kering kepada ibu saya seminggu sebelum Lebaran dan saat mereka memperingati hari besar mereka. Mbak Her, adik terkecil mereka – sekolah bidan saat itu – membantu memberikan sentuhan akhir berupa benik (kancing, Bahasa Jawa) atau sulaman cantik di bagian-bagian tertentu busana kami. Fyi, busana yang mereka buat untuk kami selalu haute couture – one special design for one person one time. Hebat!!!

Berkat Mbak Nyo lah kami tampil rapi dan bersih ditambah lagi elegan memakai baju jahitan Mbak Nyo dan Mbak Chu yang tergolong halus dan mahal di daerah dan jaman kanak-kanak kami. Anak kecil semanis kami memang menjadi manequin hidup yang mempromosikan jahitan mereka.

Ada satu lagi keperluan kami yang lain yaitu mukena. Jaman dulu, mukena gak model-model. Kami menyebutnya mukena blanjuran (one piece, Bahasa Jawa). Warnanya pasti putih dan pasti terbuat dari kain mori (kain yang lazim dipakai untuk membungkus mayat). Mbak Nyo dan Mbak Chu juga yang menangani ini. Mereka membuatkan kami bertiga mukena yang rapi dan berjahit halus. Kata mereka, mereka hanya membuat rukuh (mukena, Bahasa Jawa) untuk Mbak Andri, Mbak Yuda dan Mbak Rike (kami bertiga) tidak untuk orang lain. Orang lain tak bolehi ndandakne (menjahitkan, Bahasa Jawa) baju saja.

“Biar pejabat ndak tak ladeni, Bu. Ndak mau bikin buat sembarang orang. Buat Bu Jokanan thok ae. Ndak mbayar juga ndak papa. Ijoli kaine aja,” kata Mbak Nyo pada ibu saya. (Biar pejabat saya tidak mau melayani, Bu. Tidak mau bikin untuk sembarang orang. Buat Bu Jokanan saja. Tidak dibayar tak apa-apa. Ganti harga kain saja.)

Kalau ingat mereka, saya terharu dan bangga. Di seluruh kecamatan hanya kami bertiga yang memakai mukena bikinan peranakan Tiongkok, dan mereka membuatnya tanpa diminta. Bu Camat (istri Pak Camat), Bu Ndanramil (istri kepala Koramil), Bu Ndansek (istri kepala Polsek), Bu Dokter (istri dokter kecamatan) dab ibu-ibu pejabat lain tidak berhasil sekalipun merayu Mbak Nyo dan Mbak Chu untuk membuatkan mukena yang unik. Sedangkan kami, hanya anak Bu Bidan tapi memakai mukena buatan penjahit kelas satu hue he he he…

Menjelang Lebaran ini, saya teringat kembali keluarga Tiongkok yang sangat baik hati pada kami itu. Koh Chuan, anak tertua di keluarga itu pasti sudah tua sekarang. Koh Chuan ini suka sekali memetikkan jambu gelas untuk kami setiap kami datang untuk ukur badan. Mbak Nyo dan Mbak Chu mungkin sudah punya anak-anak buah yang karyanya pasti juga sehebat mereka. Mbak Her mungkin sudah menjadi bisan teladan dan disayang masyarakat tempat dia bekerja. Saya merindukan mereka setelah 23 tahun tak bersua.

Mereka adalah tetangga-tetangga yang mulia. Yang tidak takut berbaur dengan kami tapi tetap menunjukkan dignity-nya dengan cara menolak membuatkan sesuatu yang memang hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki keberanian yang serupa.

Saya memandang mukena putih dan blus putih yang diberikan oleh Lala, Isal dan ibunya sebagai hadiah ulang tahun. Saya sempat kepikir kapan ya saya bisa memakai baju baru dan mukena baru bikinan Mbak Nyo dan Mbak Chu lagi atau at least baju baru dan mukena baru yang dijahit dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih manusia?

Dedicated to all my brothers and sisters of the same kind with Mbak Nyo, Mbak Chu, Mbak Her and Koh Chuan. Let’s live in harmony.

September 20, 2008

BERANI BELAJAR, BELAJAR BERANI

BERANI BELAJAR, BELAJAR BERANI

Sejak hari pertama saya dilahirkan sebagai manusia melalui ibu saya, saya telah menjadi seorang makhluk pembelajar. Sadar atau tidak, saya telah menjadi murid daris eorang guru yang bernama semesta. Saya belajar bernapas dengan benar, menangis dengan benar, makan dengan benar, bermain dengan benar, bersosialisasi dengan benar dan tentunya satu hal terpenting adalah belajar belajar dengan benar.

Tak selamanya menjadi seorang pembelajar itu menyenangkan. Kadang saya merasa lebih baik tidak belajar sama sekali daripada harus menanggung rasa malu atau sakit tak terkira akibat posis sebagai pembelajar.

Saya telah menikmati udara dunia ini lebih dari seperempat abad. Saya telah melewati masa kanak-kanak, remaja dan dewasa saya jauh dari keluarga. Jika dihitung secara matematis, 75% hidup saya jauh dari orang tua. Bentukan makhluk mandiri itu berupa saya yang sekarang hanya memiliki dua pilihan dalam hidup: belajar secara mandiri dalam segala hal atau tidak survive sama sekali.

Berani belajar adalah sebuah tekad yang telah saya canangkan demi kelangsungan hidup saya yang kata teman-teman saya untuk sementara ini “solitary”. Apapun akan saya usahakan pelajari supaya saya tidak jatuh pada lubang yang sama. Apapun akan saya pikir dan analisis secara agak njelimet sehingga kadang merugikan diri sendiri. Tak heran 12 tahun lalu sepupu saya menyebut saya worry sister karena terlalu banyak mikir ini-itu sebelum melakukan sesuatu. Saya tak ingin hidup saya menggelinidng seperti bola bowling dihantam pelempar amatir. Saya ingin bola bowling saya meluncur cepat dan tepat sasaran menghantam dan menjatuhkan semua pin di ujung sana. Saya tak mau salah sasaran walaupun sesekali menggelindingnya masih melenceng kesana-sini.

Saya makhluk pembelajar yang tak mau berhenti hanya karena seorang atau banyak orang menentang saya. Kalau saya harus mundur itu semata karena memang saya harus belajar mundur BUKAN karena saya menyerah.

Namun saya punya sebuah jurus jita untuk mengimbangi worry yang datang seperti air bah sebagai akibat pancingan terlalu keras berpikir tersebut. Apakah itu?

Saya belajar berani. Saya tak takut dengan akibat perilaku saya karena saya telah memikirkan bahwa selalu ada resiko yang mesti ditanggung. Ada cost yang harus ditunaikan. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Bahkan Tuhan “berjual-beli” dengan kita. Dalam bahasa Arab disebut tijaroh. Dalam agama saya, Allah SWT ditafsirkan membeli amal kita – ini hubungannya dengan motivasi terhadap pemeluk agama untuk berbuah baik dalam kehidupan di dunia sehingga tak merugi sebagai manusia.

Keberanian saya menguji cara belajar saya. Apakah saya berani menanggung malu jika saya mengaku sebagai pelajar di depan anak kecil yang ternyata mengajari saya belajar melupakan kesalahan temannya? Seorang lelaki balita bernama Isal segera berbaikan dengan teman kecil bernama Billy hanya beberapa detik setelah mereka berantem. Padahal saat itu saya berpikir bahwa Isal tak akan segera memaafkan Billy yang telah (saya yakin) dengan sengaja tapi tak tahu resikonya mencopot roda penyeimbang sebelah kiri sepeda kecil Isal. Aksi Billy menyebabkan sepeda Isal terlalu miring ke kiri.

Apakah saya berani belajar berani mengakui ketidakdewasaan saya menghadapi musibah orang lain dengan aksi cepat? Saya segera berkaca pada sepupu saya waktu kecil dulu. Mas Ongko suka sekali meludahi makanan di piringnya supaya tak seorang pun saudara kami yang lebih tua mengambil bagiannya. Fyi, sepupu-sepupu kami yang lebih tua itu jahilnya minta ampun… Suatu hari saya menghindari “musibah” berupa sepupu yang jauh lebih tua yang dengan kemaruk mencicipi makanan saya di piring dengan ganas sambil tertawa-tawa penuh kemenangan. Menconth Mas Ongko, saya segera meludahi makanan saya, sepupu tua saya itu berhenti tertawa menyadari kemarahan saya. Bukannya menghibur, dia malah kabur. Mas Ongko dengan sangat sabar memberikan makanannya yang masih bersih dan kemudian dengan tenang menghabiskan makanan saya yang sudah saya ludahi berkali-kali tadi. Halaaah… Dewasa sekali kamu Mas… Sedangkan sepupu tua tadi tak muncul bertanggung jawab.

Saya sedang mencari format hidup saya yang paling tepat sambil terus berjalan diantara belantara guru berupa semesta. Seperti Diagram Venn, saya bisa saja berganti semesta pembicaraan. Semesta pembicaraan saya b
isa meluas dan menyempit tergantung kodisi saya alami. Jika saya harus berapa pada sebuah lingkaran mandiri itu karena semata saya harus berpikir sendiri. Jika saya harus menjadi irisan itu semata saya harus bersifat netral, bukan mendua. Jika saya hanya diluar lingkaran, maka saya memagn harus tak terlibat pada konflik manapun.

Saya menikmati hidup ini dengan berani belajar dan belajar berani.

Ayo, ajari saya Sudara-Sudara dengan apapun yang membuat saya merayakan kemanusiaan saya.

Revised on September 21, 2008

WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

Winnetou adalah idola masa kecil saya, jaman es de dulu.

Kepala suku Apache ini memberikan inspirasi bagi seorang Rike kecil untuk bersikap outstanding terhadap dirinya sendiri yang selama itu (sebelum membaca komik Old Shatterhand dkk) sebagai seorang pengecut diantara teman-temannya.

Saya termasuk anak yang pemalu dan sedikit bicara waktu kecil walaupun saya termasuk anak yang banyak teman. Biasanya saya akan menjadi pemerhati diantara teman-teman saya yang bicara blah blah blah… lalu saya ikut tertawa terbahak-bahak dengan suara yang membuat teman saya makin kencang tertawa. Tapi ada satu urusan yang teman-teman saya tak punya dan saya punya. Saya berani tampil di depan umum sedangkan teman-teman yang banyak bicara itu hanya sekedar menjadi supporter.

Tak pelak lagi ini berkat Winnetou salah satunya. Winnetou, anak dari Intschu-Tschuna, adalah seorang Indian Apache muda yang berjiwa ksatria yang kemudian “terpaksa” memimpin sukunya setelah ayahnya (dan adiknya, Nscho-tschi) dibantai oleh Santer, bandit tengik tak beradab, pencuri emas kelas kakap (Silakan baca Winnetou I-III, ditambah Winnetou IV lebih ok).

Awalnya saya sangat terkesan dengan si Old Shatterhand karena dia ini bule baik hati yang berbaur dengan suku asli di Amrik sana. Dia bagaikan pahlawan bagi saya; terbayang bagaimana dia menyelamatkan seorang anak Indian ketika kampungnya diserbu suku lain yang sedang terbakar emosi. Keahliannya menembak membuat saya terbuai dengan mimpi “bule keren”. Namun setelah membaca ulang komik lecek karena saking seringnya menjadi rebutan Mbak Andri, Mas Herin, Mbak Yuda, saya dan teman-teman mereka, saya lebih terkesan dengan pribadi Winnetou karena kebijakannya dan keterbukaan alam pikirnya terhadap Old Shatterhand tersebut.

Bagi saya pikiran terbuka sangat penting, jauh lebih penting daripada kepandaian itu sendiri. Banyak orang pandai yang terjengkang oleh jaman karena tak mampu mengulas kemajuan dan perubahan dengan alam pikirnya yang jumut. (Saya sendiri tidak pintar dan masih tertutup ha ha ha…)

Winnetou membiarkan jiwanya direngkuh semesta. Dia menjadi Indian yang saleh karena dia mampu menjaga tradisi Indian-nya dan sekaligus memahami “kesalehan baru” yang dibawa oleh kawan Old Shatterhand itu. Old Shatterhand menganggap bahwa Winnetou masuk agamanya (Katolik) karena selama hidupnya Winnetou menjalankan kesalehan hidup yang dapat dipahami secara Katolik dan masyarakat Indian menganggap bahwa Winnetou masih Indian tulen karena tak satupun dari kemuliaan kepala suku mereka itu yang janggal dimata hukum Indian.

Winnetou seperti sebuah ikon moral bagi saya yang kanak-kanak dan tinggal jauh dari kota besar saat itu. Winnetou “mengajari” saya untuk bersahabat dengan alam. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan perbedaan. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan ketakutan. Winnetou mengajari saya bersahabat dengan kesabaran. Dan, Winnetou mengajari saya bersahabat dengan cinta kasih. Winnetou mengajari saya tentang keterbukaan dan prinsip budaya. Winnetou mengajari saya tentang arti persahabatan. Winnetou mengajari saya bagaimana menemukan emas berkilauan di diri sendiri maupun orang lain.

Winnetou lebih saya kenal daripada saudara saya. Winnetou lebih saya kenal daripada orang tua saya. Winnetou lebih saya kenal daripada guru agama saya. Sempat saya meraskan de javu ketika kuliah dan tinggal di asrama putri lantaran Mbak Aminah Lubis and the gang memanggil saya dengan “Hey you, Indian muslim!”.

Oalah Winnetou, seandainya saya ketemu kau orang, pasti kamu tak taksir habis-habisan. Saya mau kamu ngajari saya naik kuda. Saya mau kamu ngajari saya memanah, berburu kelinci dan menggiring kuda liar. Winnetou sempat menjadi pacar bayangan sebelum akhirnya saya mendapatkan pacar
beneran.
J

Terima kasih Winnetou yang telah tercipta karena adanya Pak Karl May, penulisnya si orang Jerman yang katanya sakit jiwa itu. Terima kasih pada Allah yang telah menciptakan Pak Karl May yang katanya sakit jiwa itu. Orang sakit jiwa kok bisa “mencipta” pribadi sekelas Winnetou. Kata sakit jiwa itu pasti hanya karena mereka tak mampu menjelaskan fenomena.

Revised on September 20, 2008

MODEM RUSAK, GAK BISA SURFING

Subhanallah, paringana sabar duh Gusti.

Modem dari Firstmedia rusak, saya gak bisa ngenet seharian. Padahal niatnya hari ini mau posting borongan lantaran sudah dua hari kerjaan numpuk dan gak sempat posting.

Alhasil pakai telp0n genggam yang bikin jempol kapalan dan mata juling.

Tak ada rotan, akar pun jadi.

PAK SENO MUDIK, KAMI PANIK

PAK SENO MUDIK, KAMI PANIK

Siapa yang mudik tahun ini? Semua perantau seakan berlomba mengacungkan jari seraya berterika say, saya, saya layaknya anak-anak kelas satu es de ketika berebut menjawab pertanyaan mencongak di akhir pertemuan sebuah hari.

Kemarin, September 15 2008, kami dikagetkan oleh halaman sekaligus tempat parkir yang dihiasi dengan dedaunan kering dan kertas, plastik berserakan tak berpola. Wah, Pak Seno belum nyapu halaman nih. Usut punya usut rupanya OB kami, Pak Seno sudah mendahului pulang kampung…

Lagi-lagi tadi pagi, September 16, 2008. Tiba di halaman saya langsung disambut oleh pemandangan tak biasa. Nes, scheduler kami, sedang milang-miling (mencari-cari sesuatu, Bahasa Jawa). Usut punya usut ternyata dia sedang mencari sapu lidi guna menyapu halaman yang ternyata jauh lebih penuh sampah daripada kemarin.

“Rike, Pak Seno baru balik habis Lebaran. Kita harus kerja bakti,” sapa Nes dengan gaya khas Kanton-nya.

Di dalam kantor lantai masih belang-belang. Pak Eko juga sedang sibuk mencari pengki. Saya segera menghidupkan komputer, meng-upload sebuah file lalu bergegas menuju pantry. Disana piring kotor, gelas kotor, mangkuk kotor, pirex kotor, sendok garpu kotor, microwave kotor, segala perangkat kotor…

“Ok, Pak Eko. I’ll do the dishes!” seru saya dari pantry.

Langsung saya tangani dengan sigap seember korahan (perkakas dapur yang kotor, Bahasa Jawa) lalu sambil mencucinya saya berpikir.

Alangkah pentingnya peran Pak Seno dalam keseharian kami. Selama ini kami selalu berpikir bahwa kelangsungan perusahaan ini ada di tangan kami-kami saja. Tak sering terbersit di pikiran bahwa tanpa OB sebuah perusahaan akan mengalami percepatan negatif karena karyawan yang langsung berhadapan dengan client dan data harus juga mengurusi pekerjaan rumah tangga yang secara khusus menjadi tanggung jawab OB.

Saya juga jadi teringat Odah dkk (karakter dalam serial TV OB) yang kadang njengkelin “para penyuruh” dan saya secara otomatis bisa memahami kesenewenan “para pesuruh” menghadapi teriakan dan ketidakpuasan “para penyuruh” itu. Ternyata capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Belum lagi setelah itu harus mengurusi pekerjaan kantor. Belum lagi ini-itu keperluan kecil yang menurut penyuruh sepele namun sesengguhnya menguras tenaga dan emosi. Walah… Kalau sudah begini rasanya Pak Seno menjadi pegawai paling penting di kantor kami.

Siangnya, tidak ada orang yang ngendon di foyer kantor (ini tempat Pak Seno melamun sekaligus menjaga warni-nya dari kejauhan). Warni (warung mini) Pak Seno laris manis bukan oleh kami tapi oleh para sopir dan karyawan kantor kiri kanan kami. Kami ini kerjaannya cuma bikin Pak Seno capek. Payah!

Karena tak ada penjaga ruang tamu maka para salesperson dan peminta sumbangan keluar masuk tanpa mengetuk pintu, lalu berteriak-teriak uluk salam. Salah seorang dari kami menjadi korban ceramah lantaran tak memberikan sedekah di bulan suci Ramadhan. Akhirnya kami mengunci diri dari dalam karena tak mau lagi meladeni kerusuhan demi kerusuhan yang tak luwes kami tangani. Ini adalah praktik LOCK-IN pertama di kantor kami. Padahal kami inilah yang “menghukum” pabrik yang me-LOCK-IN karyawannya untuk bekerja ha ha ha…

Oalah… hari pertama piket kantor.

Pak Seno, maafin ya kalau selama ini sering bikin capek atau kesel. Kami berbuat it
u karena lupa bahwa pekerjaanmu ini sangat melelahkan. Selamat mudik ya, Pak Seno. Semoga pernikahannya lancar; yang paling penting dapat istri yang jauuuuh lebih setia daripada yang dulu.

Fyi, sorenya tak ada satupun dari kami yang mau memakai piring dan gelas kantor. Takut besok pagi numpuk cucian dan kena hukuman korah-korah (cuci piring gelas, Bahasa Jawa) ha ha ha…

OB… Itulah office boy…

BERANGKAT PAGI PULANG PETANG

BERANGKAT PAGI PULANG PETANG

Berangkat pagi pulang petang, itulah kerjaan saya hampir setiap hari. Pagi saya mengejar bis kota, petang saya masih mengejar bis kota. Tak ada lain yang saya kejar selain bis kota yang tiap inch jauhnya membuat saya makin bersemangat. Tak ada yang saya kejar sekuat tenaga selain bis kota karena kesusksesan saya nyengklak bis kota tepat pada waktunya menentukan kecepatan saya mengejar semua yang harus saya selesaikan pada hari itu.

Andai saya terlambat 10 menit maka pekerjaan saya akan terhambat paling tidak satu jam dan otomatis saya harus berlomba dengan waktu yang merambat Dhuhur yang mau tak mau harus mundur juga karena saya “salah” naik bis.

Cobalah renungkan hanya gara-gara tidak bisa mengejar bis jam 6 pagi maka akhirnya saya harus terlambat memulai kerja online saya lalu saya harus terlambat melonggarkan urat syarat saya dengan merenung sejenak diatas selmbar sajadah lusuh saya kemudian saya harus juga menjumpai kemungkinan membawa pulang pekerjaan karena tak terselesaikan lantaran kurang waktu 1 atau 1.5 jam pagi harinya.

Kadang senewen rasanya menemukan diri saya ini tak bisa juga menghadapi tantangan lomba berpacu dengan waktu. Sudah lebih dari setengah abad dan saya tetap kalah sejak saya menyadari bahwa waktu sangat mahal harganya. Kalau saja saya bisa kembali berlompatan menikmati kesenangan dan kesegaran saat kanak-kanak. Tak terkira mungkin senangnya… dengan syarat kemudian saya segera menyadari bahwa waktu tak lagi mau menunggu saya selamanya.

Saya merasakan bahwa makin hari waktu makin kuat dan cepat menggilas apa saja yang saya genggam sembarangan. Saya merasa bahwa waktu tak menebas seperti pedang tapi dia adalah merampas seperti penjajah… Karena kelalaian saya…

Tak pernah saya sangka bahwa saya hidup di dimensi yang punya kekuatan mengguncangkan ketenangan jika menyadarinya. Saya juga segera terpana karena waktu telah meluluhkan rasa penasaran saya menghadapi apa yang tak saya ilmui namun tetap saya harus menghadapinya. Alas! Sungguh hidup ini sangat adil terhadap yang memahaminya…

Duhai, Waktu… Tahukah engkau, aku berangkat pagi pulang petang, mengejar matahari, mengejar bis kota, mengejar pekerjaan dan deadline, mengejar waktu sholat, mengejar apa-apa yang tertulis di agenda lusuh dan di Calendar ponselku… Sungguh bukan karena mereka aku pontang-panting. Sungguh aku berbohong besar telah mengatakan bahwa aku mengejar mereka karena sesungguhnya aku sedang berpacu dengan kamu. Kamu, wahai Waktu telah membuatku iri karena tak pernah tuamu, tak pernah lelahmu, tak pernah pedulimu, tak pernah tak adilmu, tak pernah tumpulmu, tak pernah inkonsistenmu, tak pernah ingkarmu…

Jika saja saya mengenal satu saja makhluk di muka bumi ini yang mengatakan dia punya sedetik lebih banyak dari saya, saya akan kejar dia dan mengobrak-abrik Kerajaan Waktu karena ketidakadilan telah memberi pribadi itu sedetik tambahan padanya.

Sungguh, saya berangkat pagi pulang petang mengejar bis kota yang berselancar di atas papan sang waktu.

PINTU ITU

PINTU ITU…

Kutendang pintu

Tak bersuara

Adakah penghuni di dalam sana?

Yang berbaik hati menyambut kehadiranku?

Ataukah pintu ini telah menguncinya pula?

Bersungut-sungut aku meraih balok

Mendorongnya hingga kuterjengkang

Lama-lama, lamat-lamat kudengar ketukan…

Dari balik sana!

Duh, Gusti…

Ampuni si dungu ini

Aku mengetuk pintuku sendiri –

Dari dalam rumahku….

MEMPERLAKUKAN MY MIND

MEMPERLAKUKAN MY MIND

Setelah meluangkan waktu untuk merenung saya benar-benar menyadari bahwa hidup ini bisa kita anaogikan dengan apa saja berdasarkan dasar apapun yang manusia suka. Mau dibikin susah, mau dibikin enak ya enak tenan. Saya ingat seseorang di Bandung sana yang tak lelah mengingatkan saya untuk selalu berpikiran baik. Dan ada seorang MP-er yang (kelihatannya) jenius dan gila yang mengingatkan saya bahwa segalanya tergantung mind set kita.

Mind set

Tak dipungkiri lagi bahwa yang namanya mind, pikiran yang tak bisa jauh-jauh dengan perasaan adalah sebuah keliaran berpikir yang bisa bergerak acak-adut seperti Gerak Brown yang tampak berantakan namun sebenarnya membentuk pola tertentu. Pola itu hanya akan nampak dengan pengamatan yang seksama kemudian dengan penghitungan yang akurat. Karena itulah maka sering kali kita harus men-set ulang gerak Brown yang berpola acak tersebut sehingga membentuk sebuah gaya yang lebih menonjol polanya daripada kekisruhannya.

Mind partition

Saya bukan ahli IT tapi bolehlah saya katakan bahwa men-set pikiran kita hampir sama dengan upaya mempartisi memori komputer. Yang ini di bagian sini, yang itu di drive A, yang ini di drive B, dll. Selain membuat lebih rapi ternyata juga bermanfaat untuk menyelamatkan memori dari penghapusan total seumpama terjadi apa-apa dengan salah satu bagian memori tersebut.

Mind regulation

Pikiran kita tak jauh dengan perasaan maka kadang pikiran kita dipengaruhi oleh perasaan atau perasaan kita terlalu dikomando oleh pikiran padahal segala sesuatu yang berat sebelah tidak akan membuat kosmos seimbang. Maka kekuatan keduanya mesti diatur dengan regulasi yang mereka buat sendiri. Kawang perlu juga menganggap pikiran dan perasaan sebagai “orang luar” supaya kita tidak merasakan kejumbuhan dikala harus menyeimbangkan keduanya. Jadikan jiwa sebagai moderator dalam perdebatan antara pikiran dan perasaan sehingga tak ada menang tak ada kalah, yang ada hanya kolaborasi.

Mind enrichment

Haus ilmu adalah sifat dasar manusia karena memiliki akal budi. Mind kita tumbuh berkembanga karena proses pengayaan yang kita lakukan sepanjang hayat. Memori yang berarti maupun yang tak berarti bercampur menjadi adonan yang jika pas pengolahannya akan menjadi hidangan semesta yang manfaatnya ibarat zakat bagi si miskin. Proses belajar ini tentunya tak lepas dari peran indera sebagai pintu gerbang rangsangan berupa “ilmu”. Ingat Sudaraku, segala rangsangan luar mesti kita fungsikan sebagai ilmu sehingga seburuk apapun rangsangan itu, kita tidak terpengaruh buruk.

Mind beautifying

Pernahkah Anda merasa bahwa mind Anda ini cantik? Seberapa canti pikiran Anda? Selalulah ingatkan diri bahwa mind ini bisa juga berlaku seperti bunga atau wanita yang keindahan dan kecantikannya tiada tara, tak peduli dari segi apa Anda meniliknya. Pikiran indah ibarat lukisan berwarna pelangi. Warna-warni bertebaran seakan tak beraturan namun membentuk citra-citra yang menyejukkan pandangan. Siapa orang yang tak ingin pikirannya sebentuk lukisan pemandangan alam yang bersih dari asap, limbah sampah dan segala keburaman. Hanya penyeimbangan yang dapat membuat pelangi kita menjelma pendaran gambaran indah alam raya.

Sebenarnya mind set, mind partition, mind regulation, mind enrichment dan mind beautifying adalah kesatuan fungsi yang coba saya mengerti dengan menjadikannya beberapa bagian. Sebuah MIND membuat saya cukup kerepotan karena tak cukup kiranya buat saya menempatkannya sebagai sekedar serangkaian gir-gir yang berputar dan selalu membutuhkan minyak pelumas. MIND saya jauh lebih kompleks sekaligus indah sehingga saya tak mau memperlakukannya seperti mesin yang cuma butuh tetesan pelumas apalagi oli bekas. No way!

Saya berusaha untuk memahami pikiran saya dan menuliskan apa yang saya pahami dalam tulisan ini. Tulisan ini saya buat secepat mung
kin karena takut ide saya segera menguap dan menunggu bentukan lainnya dalam waktu lama. Dalam waktu 10 menit saya berkejaran dengan papan kunci, salip-menyalip dengan kekeritingan pita otak dan keriutan perut lapar. Jika kurang, tambahkanlah. Jika berlebihan, seimbangkanlah. Jika tak benar sama sekali, koreksilah untuk diri Anda sendiri.

Semoga bermanfaat. Saya mau sahur dulu, Sudaraku.

September 12, 2008

3:44am

RINDU MENDALAM

RINDU MENDALAM

Ada hari yang menyenangkan

Datang dan pergi jarang-jarang

Mengitari kelemahan jiwa karna rindu Kekasih

Melayangkan pandangan menerawang gelapnya cuaca

Riuh rendahnya bumi tak mampu menjawab kesepian ini

Rentanya dunia tak membawa kebijakan pada kebodohan ini

Jernihnya air tak juga mencuci gejolak kemarahan ini

Ah, adakah desiran angin berhenti menggoda keletihan ini?

Kekasihku,

Kuraba kehadiran dalam keingkaranku

Kurasai kesetiaan dalam kebandelanku

Sungguh kuciptakan pengagungan dalam kelalaianku

Rupanya jiwaku terluka dalam-dalam

Oleh cacahan belati dan sayatan sembilu

Rasanya obat penawar tak mampu pula meredam

Yang sebenarnya kutunggu hanya sentuhanmu

Haaaaaaaaah, dahaga jiwaku

Percikiku seteguk air

Atau setetes saja sepantasnya

Asal embun itu jatuh dari daunmu

Selamatkan aku dari luka rinduku

September 11, 2008

9:27pm

LUDRUK, KLANGENAN SAYA YANG SAYA RINDUKAN

LUDRUK, KLANGENAN SAYA YANG SAYA RINDUKAN

Saat saya kecil (usia es de) saya tinggal di sebuah rumah (rumah orang tua saya) yang lokasinya sangat strategis yaitu di pinggir jalan raya, berseberangan dengan lapangan sepak bola kecamatan yang difungsikan juga sebagai lapangan untuk acara-acara besar termasuk disewakan kepada kelompok-kelompok hiburan seperti kethoprak tobong, ludruk tobong, pasar malam, layar tancep, dll. Saya ingin sharing tentang ludruk yang sampai kapanpun menjadi sebuah hiburan yang benar-benar tak tergantikan di jiwa saya. Walaupun sekarang saya punya kegemaran nonton film layar lebar, tetap saja ludruk dan kethoprak menjadi juara. Mbak Henny rupanya salah seorang dari penggemar ludruk Cak Kartolo. Semoga bisa ngobati kangen teman belajar dulu, Mbak. Untuk Sudara-Sudara MP, ini sekedar oleh-oleh masa kecil. Silakan dilengkapi kalau dirasa kurang.

Sangat membekas tak terlupakan karena tiap malam saya menyelinap keluar rumah (setelah belajar dibawah inspeksi orang dewasa) untuk sekedar membeli gulali sambil melihat-lihat kali aja ada teman yang nonton. Apalagi kalau malam minggu.. hmmm… saya bisa minta Budhe Sahid (teman kantor ibu saya) untuk nggratisin saya supaya bisa masuk ke area nonton yang dikepung gedheg (dinding dari bambu yang dipotong cukup tebal, Bahasa Jawa).

Satu hal, kakak saya mengadopsi eksistensi grup drama tobong itu dengan membentuk grup ludruk sekaligus kethoprak tanpa nama yang pentasnya di halaman samping rumah kami di dekat sumur. Make-up-nya hanya arang hitam untuk mencoreng muka. Layar-layarnya adalah sprei dan kain panjang ibu saya. Namun setelah diperingatkan Kang Sokran (tukang air kami) untuk tidak terlalu banyak memakai air, kethoprak itu pindah di belakang rumah Yu Suraim yang dekat dengan sumur sungai, tapi kemudian bubar karena kakak saya harus pindah sekolah ke SMPN 1 Bojonegoro. Duh indahnya…

LUDRUK

Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Awalnya ludruk hanya dimainkan oleh para lelaki yang jika diperlukan akan berdandan sebagai wanita.

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek misalnya: tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc (termasuk orang iseng seperti saya).

Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan (tak jarang) diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerankan “Pak Sakerah”, seorang jagoan Madura. Kemudian disusul dengan sekelompok lelaki berkonde yang berjajar menyanyikan tembang-tembang selamat datang. Jula-juli adalah tembang khas ludruk yang selalu dinyanyikan oleh tokoh-tokoh tertentu. Jula-juli ini merupakan parikan (pantun) khas Jawa Timur yang fungsi utamanya adalah pengocok perut penonton yang sering kali juga sarat kritik kepada kondisi sosial masyarakat.

Cak Kartolo adalah seorang pelawak ludruk legendaris asal Surabaya, Jawa Timur. Cak Kartolo adalah pimpinan Ludruk Sawunggaling. Beliau sudah lebih dari 40 tahun hidup dalam dunia seni ludruk. Nama Kartolo dan suaranya yang khas, dengan banyolan yang lugu dan cerdas, dikenal hampir di seluruh Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Selain itu ada pula Basman (masih satu grup dengan Kartolo) yang keluguannya menjadi andalan. Cak Sapari, Cak Munawar dan Ning Tini (sitri Cak Kartolo) termasuk dalam grup ini juga. Pementasan mereka telah direkam dalam kaset dan sekarang juga dapat didapatkan MP3-nya secara gratis ke alamat dibawah; tentu saja dengan mengganti harga keping cakram.

http://www.pakdenono.com/kartolo.htm

TEMA DAN JUDUL PERTUNJUKAN

Ludruk berbeda dengan kethoprak dari Jawa Tengah. Cerita kethoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.

Pak Sakerah

Joko Sembung

Branjang Kawat

Sogol Pendekar Sumur Gemuling

Sarip Tambak Oso

Maling Cluring

Untung Suropati

Babad Suroboyo

Sawunggaling

dll

GRUP LUDRUK YANG PERNAH EKSIS

Kopasgat (ini yang sering saya tonton)

Sawunggaling (ini yang dulu selalu saya tunggu-tunggu di radio)

Grup Karya Budaya Mojokert

Mustika Jaya Jombang

Timbul Jaya Pr
obolinggo

warna Jaya Sidoarjo

Bangun Tresno Lumajang

Taruna Budaya Malang

Irama Budaya Surabaya

Orkanda Malang

Budi Jaya Jombang

Perdana Pasuruan

Pak Sarinten klelekan andha

Cekap semanten atur kawula

LAMPIRAN: (terima kasih pada Mas Tommy Budiawan atas kebaikan hatinya mengijinkan siapa saja menggunakan informasinya tentang ludruk Sawunggaling berikut ini)

1. Banyolan Kartolo CS – Ayam Batu Rante :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ayam-batu-rante-banyolan-kartolo-cs.html

2. Banyolan Kartolo CS – Balik Kucing :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/balik-kucing-banyolan-kartolo-cs.html

3. Banyolan Kartolo CS – Balung Badak :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/balung-badak-banyolan-kartolo-cs.html

4. Banyolan Kartolo CS – Bandul Gurem :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/bandul-gurem-banyolan-kartolo-cs.html

5. Banyolan Kartolo CS – Baseman Pooseng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/baseman-pooseng-banyolan-kartolo-cs.html

6. Banyolan Kartolo CS – Basman Bunglon :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-bunglon-banyolan-kartolo-cs.html

7. Banyolan Kartolo CS – Basman Crongohan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-crongohan-banyolan-kartolo-cs.html

8. Banyolan Kartolo CS – Basman Mantu :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-mantu-banyolan-kartolo-
cs.html

9. Banyolan Kartolo CS – Basman Nyeleweng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-nyeleweng-banyolan-kartolo-cs.html

10. Banyolan Kartolo CS – Bayi Mata Keranjang :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/bayi-mata-keranjang-banyolan-kartolo-cs.html

11. Banyolan Kartolo CS – Berang Ketul :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/berang-ketul-banyolan-kartolo-cs.html

12. Banyolan Kartolo CS – Besut 81 :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/besut-81-banyolan-kartolo-cs.html

13. Banyolan Kartolo CS – Bolah Ruwet :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/bolah-ruwet-banyolan-kartolo-cs.html

14. Banyolan Kartolo CS – Dadung Kepuntir :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/dadung-kepuntir-banyolan-kartolo-cs.html

15. Banyolan Kartolo CS – Dalang Gersang :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/dalang-gersang-banyolan-kartolo-cs.html

16. Banyolan Kartolo CS – Disco Guyonan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/disco-guyonan-banyolan-kartolo-cs.html

17. Banyolan Kartolo CS – Dukun Ulo Entong :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/dukun-ulo-entong-banyolan-kartolo-cs.html

18. Banyolan Kartolo CS – Endoge Welut :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/endoge-welut-banyolan-kartolo-cs.html

19. Banyolan Kartolo CS – Gajah Abuh :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/gajah-abuh-banyolan-kartolo-cs.html

20. Banyolan Kartolo CS – Galian Kendor :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/galian-kendor-banyolan-kartolo-cs.html

21. Banyolan Kartolo CS – Gentong Mengkurep :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/gentong-mengkurep-banyolan-kartolo-cs.html

22. Banyolan Kartolo CS – Gerbong Areng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/gerbong-areng-banyolan-kartolo-cs.html

23. Banyolan Kartolo CS – Jas Ontang Anting :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/jas-ontang-anting-banyolan-kartolo-cs.html

24. Banyolan Kartolo CS – Jrangkong Krinan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/jrangkong-krinan-banyolan-kartolo-cs.html

25. Banyolan Kartolo CS – Juragan Gentong :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/juragan-gentong-banyolan-kartolo-cs.html

26. Banyolan Kartolo CS – Juragan Roti Sepet :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/juragan-roti-sepet-banyolan-kartolo-cs.html

27. Banyolan Kartolo CS – Kartolo Cipeng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kartolo-cipeng-banyolan-kartolo-cs.html

28. Banyolan Kartolo CS – Kartolo Dadi Ratu :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kartolo-dadi-ratu-banyolan-kartolo-cs.html

29. Banyolan Kartolo CS – Kartolo Nyetrip :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kartolo-nyetrip-banyolan-kartolo-cs.html

30. Banyolan Kartolo CS – Kebo Kumpul Kancane :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kebo-kumpul-kancane-banyolan-kartolo-cs.html

31. Banyolan Kartolo CS – Ketemu Jodoh :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ketemu-jodoh-banyolan-kartolo-cs.html

32. Banyolan Kartolo CS – Kidung Jenaka :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kidung-jenaka-banyolan-kartolo-cs.html

33. Banyolan Kartolo CS – Kriwikan Grojokan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kriwikan-grojokan-banyolan-kartolo-cs.html

34. Banyolan Kartolo CS – Kucing Gering :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kucing-gering-banyolan-kartolo-cs.html

35. Banyolan Kartolo CS – Kuro Kandas :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kuro-kandas-banyolan-kartolo-cs.html

36. Banyolan Kartolo CS – Loro Pangkon :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/loro-pangkon-banyolan-kartolo-cs.html

37. Banyolan Kartolo CS – Lutung Mlebu Sarung :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/lutung- mlebu-sarung-banyolan-kartolo-cs.html

38. Banyolan Kartolo CS – Macan Ompong :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/macan-ompong-banyolan-kartolo-cs.html

39. Banyolan Kartolo CS – Manten Puret :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/manten-puret-banyolan-kartolo-cs.html

40. Banyolan Kartolo CS – Mantu Ulo Sowo :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/mantu-ulo-sowo-banyolan-kartolo-cs.html

41. Banyolan Kartolo CS – Marlena Bludreg :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/marlena-bludreg-banyolan-kartolo-cs.html

42. Banyolan Kartolo CS – Marlena Juragan Jambu :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/marlena-juragan-jambu-banyolan-kartolo-cs.html

43. Banyolan Kartolo CS – Nenek Sihir :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/nenek-sihir-banyolan-kartolo-cs.html

44. Banyolan Kartolo CS – Ngedukno Lemah :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ngedukno-lemah-banyolan-kartolo-cs.html

45. Banyolan Kartolo CS – Patih Kabur Kanginan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/patih-kabur-kanginan-banyolan-kartolo-cs.html

46. Banyolan Kartolo CS – Peking Wasiat :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/peking-wasiat-banyolan-kartolo-cs.html

47. Banyolan Kartolo CS – Pemborong Bonafit :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/pemborong-bonafit-banyolan-kartolo-cs.html

48. Banyolan Kartolo CS – Pemburu Cipret :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/pemburu-cipret-banyolan-kartolo-cs.html

49. Banyolan Kartolo CS – Pendekar Remek :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/pendekar-remek-banyolan-kartolo-cs.html

50. Banyolan Kartolo CS – Rabine Cacing Anil :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/rabine-cacing-anil-banyolan-kartolo-cs.html

51. Banyolan Kartolo CS – Ratu Amen :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ratu-amen-banyolan-kartolo-cs.html

52. Banyolan Kartolo CS – Ratu Cacing Anil :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ratu-cacing-anil-banyolan-kartolo-cs.html

53. Banyolan Kartolo CS – Ratune Iwak :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ratune-iwak-banyolan-kartolo-cs.html

54. Banyolan Kartolo CS – Rebut Balung :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/rebut-balung-banyolan-kartolo-cs.html

55. Banyolan Kartolo CS – Rujak Kikil :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/rujak-kikil-banyolan-kartolo-cs.html

56. Banyolan Kartolo CS – Sanggar Seni :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sanggar-seni-banyolan-kartolo-cs.html

57. Banyolan Kartolo CS – Sepor India :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sepor-india-banyolan-kartolo-cs.html

58. Banyolan Kartolo CS – Sinden Bledeg :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sinden-bledeg-banyolan-kartolo-cs.html

59. Banyolan Kartolo CS – Sopir Lori :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sopir-lori-banyolan-kartolo-cs.html

60. Banyolan Kartolo CS – Soto Gagak :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/soto-gagak-banyolan-kartolo-cs.html

61. Banyolan Kartolo CS – Srabi Kecemplung Kalen :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/srabi-kecemplung-kalen-banyolan-kartolo-cs.html

62. Banyolan Kartolo CS – Tandak Wojo :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/tandak-wojo-banyolan-kartolo-cs.html

63. Banyolan Kartolo CS – Tenguk Tenguk Nemu Getuk :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/tenguk-tenguk-nemu-getuk-banyolan-kartolo-cs.html

64. Banyolan Kartolo CS – Trenggiling Sisik Emas :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/trenggiling-sisik-emas-banyolan-kartolo-cs.html

65. Banyolan Kartolo CS – Tumpeng Maut :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/tumpeng-maut-banyolan-kartolo-cs.html

66. Banyolan Kartolo CS – Warung Kintel :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/warung-kintel-banyolan-kartolo-cs.html

67. Banyolan Kartolo CS – Welut Ndas Ireng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/welut-ndas-ireng-banyolan-kartolo-cs.html

BE BUTTERFLY

BE BUTTERFLY

I wrote this September 6, 2005 – a birthday present for myself

It may bore you and feel ridiculous. Yeah, it is a dialogue inside of me. You see that I have been a bit tough to myself he he he…

The end of a butterfly

Butterfly is not forever

Its beauty deals with the time

It will get time’s circular effects:

The start, the medium, the end è a process

You have a process in life. Step by step it changes you. Gradually it leads you to transformation. Slowly but surely you should notice: that process is your vehicle to surf the wave of time. You surf not stay put!

Let’s open our eyes

What have you done to the process?

Prolong it or simplify it?

For yourself you should prolong by reckoning

For others you should simplify by forgiving

Ok?

Not really! Enough time is moderate.

Neither too long nor too short

Egg – Worm – Coccoon – Butterfly

Egg

It’s an early stage when the unsolidity is consolidated. They are formed by the shade, light and air. Then the shell’s broken.

Worm

It’s a phase of collecting energy. Eating, chewing, drinking – all the absorbing or taking action in one phase to be strong to survive in the next phase.

Coccoon

It’s a phase of purifying – fasting.

Butterfly

It’s the victory coming.

1, 2, 3 deals with leaves

4 deals with flowers

If no you haven’t got the 4th phase, you are still a leaf-dealer. Flower is far from the cry. Ok?

NIATAN

telling you all a dream that scared me but now it is just a reminder for me to always remember praying before sleeping

NIATAN

Semalam aku bermimpi

Seseorang menghunus belati

Gambaranku seakan nyata

Mengundang banjir airmata

Ketakutan akan kilau logamnya

Kilatan mata sang penghunus

Sungguh cerminan dendam

Niatan itu ada di matanya

Entah adakah juga niatan di hatinya

NGERJAKAN PE ER DARI SAHABATTTTTTT TOBAAATTTTTTTTTTTTT

NGERJAKAN PE ER DARI SAHABATTTTTTT TOBAAATTTTTTTTTTTTT

(yang sempat buka page ini walaupun gak bikin komen harus bikin PE ER!!!)

Kena, kena, kena. Niatnya cuma nengok Mbak Henny sebelum mandi dan berangkat ke rumah Bu Prayogo untuk konfirmasi tentang makanan yang saya pesen untuk sedekahan. Eh… ternyata tuan rumah ngasih pe er. Sebenernya tadi pagi udah ada teman MP juga yang nyuruh nggarap pe er tapi hanya buat orang tertentu. Gak tahunya ketiban sampur juga… Tobaaaaaaaaaaattttt…

  1. Empat pekerjaan
    1. Akuntan cabutan di RS Mashitoh Bangil karena nggantikan akuntan yang sedang cuti hamil. Gajinya Rp. 147.500 jaman segitu he he he… jadi ngerasakan masuk angin naik kereta Bangil-Surabaya seminggu 3 kali karena masih harus kuliah yang tinggal skripsi.
    2. Sekretaris direktur sebuah marine surveying company di Tanjung Priok sana. Jadi anak perawan di sarang penyamun.
    3. Ngajar sampai sekarang. Bikin awet muda karena ketemu anak es de sampai mahasiswa yang semangatnya tetep seger kayak daun bayem di pagi hari…
    4. Quality Assurance di sebuah social compliance auditting company sampai sekarang. Report, report, report. Deadline, deadline, deadline. Semangat, semangat, semangat!

  1. Empat tempat tinggal
    1. Bojonegoro, disana saya dilahirkan dan belajar tentang persahabatan dan banyak hal
    2. Tulungagung, es de sampai es em a dan belajar banyak hal
    3. Surabaya, kuliah dan belajar banyak hal
    4. Tangerang, nyari duit J dan belajar banyak hal

  1. Empat film yang ditonton berkali-kali
    1. The Lord of The Rings – lima bintang
    2. Finding Nemo – empat bintang
    3. Bee Season – empat bintang
    4. Oliver Twist – empat bintang

  1. Empat makanan kesukaan
    1. Gudhed Jogja dan perangkatnya
    2. Pecel (Madiun, Blitar, Tulungagung, dll) sing penting judulnya pecel
    3. Segala macam salad baik
      lokal maupun interlokal dan SLI (rujak, karedok, gado-gado, ketoprak, salad a la negara manapun)
    4. Pempek Palembang segala jenis tanpa cuka (hindari maag lambuh)

  1. Empat situs favorit
    1. Situs kantor ha ha ha… Bikin pusing tapi bikin hidup bersemangat juga euy.
    2. Multiply, tempatku merasakan sparkling-nya dunia persahabatan
    3. Google, tanpamu aku tak berkutik…
    4. Wikipedia. Ensiklopedia gratis, lengkap dan bisa aku koreksi ha ha ha…

Ternyata gampang-gampang susah mengingat hal-hal kecil yang justru sangat nempel di diri kita. Makasih Mbak Hen udah bikin aku excited ngerjakan pe er. Sekarang kebayang lagi bingungnya siswa dan mahasiswaku mumet karena aku kasih pe er banyak ha ha ha…

ULANG TAHUNKU MENYENANGKAN TENAN TENAN TENAN

ULANG TAHUN DAN PERAYAAN

ULANG TAHUN DAN PERAYAAN

Hari ini saya berulang tahun. Satu tahun lagi usia angka saya bertambah. Dan satu lagi kesempatan untuk melanjutkan hidup ini berkurang. Secara umum, saya tidak merasa hari ini spesial namun ada sesuatu juga akhirnya yang mau tak mau harus saya renungkan diantaranya kenyataan bahwa makin hari saya makin tua dan tanggung jawab untuk bersikap dewasa semakin terasa. Saya tidak boleh tergantung kepada orang lain dalam membuat keputusan. Dan, saya harus mampu mengoptimalkan hidup saya sebagai wahana menjadi manusia yang berguna demi keseimbangan semesta.

Selain itu, tiba-tiba saya tergelitik oleh perayaan ulang tahun yang diidentikkan dengan pesta lengkap dengan kue ulang tahun dan ritual peniupan lilinnya.

Dalam catatan di tabloid NOVS, 679/XIV, 4 Maret 2001, disebutkan bahwa ternyata tradisi ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun. Hmm.. ini memang warisan zaman kegelapan Eropa. Berdasarkan catatan tersebut, awalnya perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas (berwarna emas atau perak) pada orang yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang tahun.

Konon tradisi kue ulang tahun bermula dari bangsa Yunani yang membuat kue berbentuk bulat sebagai simbol bulan purnama untuk Dewi Artemis yang mereka percaya sebagai dewi bulan, kemurnian, perburuan, pelindung kelahiran, dan binatang buas. Artemis memiliki saudara kembar yaitu Apollo (dewa matahari). Dia disebut dewi kelahiran karena dialah yang membantu ibunya dalam kelahiran saudara kembarnya yang lahir sebulan setelah kelahirannya. Orang Yunani kemudian meletakkan beberapa lilin diatas kue, agar kue tersebut bersinar layaknya bulan sungguhan.

Seiring perputaran waktu, bangsa Jerman memprakarsai pembuatan kue tar lapis yang manis dan berhiaskan hiasan dari gula yang cantik. Berbeda dengan bangsa Yunani yang meletakkan lilin diatas kue, orang Jerman yang terkenal sebagai pembuat lilin handal ini hanya meletakkan sebuah lilin ukuran besar di tengah kue. Hal ini menyimbolkan cahaya kehidupan, meniup lilin tersebut akan membawa setiap permintaan ke surga. Konon permintaan itu akan terkabul bila berhasil memadamkan api dalam sekali tiup.

Oh… Begitu to…

Informasi diatas tidak membuat saya alergi terhadap perayaan ulang tahun lho… saya adalah pribadi yang terbuka. Buat saya, segala yang terwujud dan terindera dapat kita pandang sebagai esensi yang benar dengan kekuatan jiwa kita sebagai anugrah Yang Kuasa.

Mau tiup lilin, mau potong tumpeng, mau traktiran makan, mau merenung menyendiri, mau apa kek asalkan tidak merusak itu sah-sah saja. Bukankah tujuan ulang tahun adalah memperingatkan kita bahwa usia kita bertambah dan tanggung jawab kita bertambah maka kedewasaan kita wajib bertambah. Yang akan datang akan selalu berbeda dan semoga membuat kita pribadi yang makin kaya.

Kalaupun saya harus menghitung usia, itu semata-mata karena secara hukum saya harus tahu kapan saya lahir. Sedangkan jiwa saya tak terlalu butuh berulang tahun. Jiwa saya akan hidup selamanya baik dengan atau tanpa raga saya.

Terima kasih kepada kerabat dan sahabat yang telah mewarnai hidup saya sehingga menjadi lukisan terindah yang pernah saya miliki.

PEJAMKAN MATA, BERDOALAH DAN APINYA PADAM SENDIRI

PEJAMKAN MATA, BERDOALAH DAN APINYA PADAM SENDIRI

(puisi ulang tahunku)

Dari mana ide mengucapkan keinginan yang ketika akan meniup lilin kue ulang tahun?

Meneketehe?

Yang saya tahu kue ulang tahunnya diberi lilin sejumlah usia

Atau kadang satu dua lilin mengandung angka

Yang saya tahu kuenya kemudian diiris dan dibagi-bagi

Buat tamu semua

Dulu tak ada yang perlu kuundang rupanya karena mereka tlah berdatangan sendiri

Mengembara dari segala penjuru

Mengucapkan selamat ulang tahun

Berdoa panjang umur dan bahagia

Membawa buntalan kado berbungkus kertas kilau

Saya juga tak tahu mengapa mereka membawa kado-kadoan sebanyak ini?

Balon-balon diisi guntingan kertas kecil yang dibuat semalaman oleh orang kurang kerjaan

Permainan konyol juga disiapkan hanya untuk mengerjai manusia yang baik-baik datang untuk bersuka

Sungguh tak mengerti mengapa kesenangan selalu diniatkan dengan keramaian

Saya tak sabar menunggu usia saya bertambah lagi

Setahun lagi dan berpesta lagi

Menikmati saat saya menjadi pusat perhatian, didoakan dan disalami

Tahun depan kuakan begini

Tahun depan akan kusediakan kue yang lebih besar

Biar yang datang makin banyak

Kado itu kan kutumpuk di dalam gudang

Sebagai tanda kenangan entah dari siapa yang pasti para undangan

Yang namanya tercantum untuk kunjungan balasan, suatu saat nanti

Tapi kemudian tahun lewat silih berganti

Tak ada kue ulang tahun

Tentu saja tak ada lilin

Dan tak ada yang datang juga

Buntalan kado tak mungkin tiba

Semuanya telah berubah

Saya sendiri, di balik kabut, diselimuti sejarah

Tersadar masa meninggalkan saya, menyapa mereka yang lebih perkasa


Hamba bakar berjuta-juta lilin putih

Hamba berdoa meminta pada-Mu

Hingga pagi hamba bersujud

Dan apinya padam sendiri tanpa hamba meniupnya

Happy birthday to myself

A bunch or successful work has been waiting

So, I will always be thankful and happy in celebrating my life every single day

SENYUMKU NYANGKUT DI GIGI

SENYUMKU NYANGKUT DI GIGI

Senyummu untuk saudaramu adalah ibadah, begitu kira-kira terjemahan bebas dari sederet kata arif Sang Nabi. Kalimat mini ini terdengar enteng di telinga. Apa sih susahnya senyum, cukup dengan menarik otot bibir sedikit jadi sudah. Menurut para ahli ototologi (ahli otot ha ha ha) manusia menggerakkan lebih sedikit otot ketika tersenyum dibanding dengan ketika mereka cemberut marah. Otomatis jika Anda tersenyum, akan hemat energi. Jika hemat energi, akan hemat biaya. Jika hemat biaya, …

Pasalnya senyum BUKAN urusan otot. Senyum adalah urusan hajat hidup yang sesekali (singkatan dari sering sekali J) membutuhkan usaha keras untuk mewujudkannya. Seperti kali ini.

Sejak beberapa waktu lalu kami dijanjiin hadiah outing ke kantor pusat karena tim kami disini mencetak prestasi yang ngedap-edapi (mengagumkan, Bahasa Jawa). Tentu kami bersuka cita, paling tidak paspor kami tidak menganggur lagi. Yang bikin optimis adalah sudah ada pembagian siapa bakal sekamar dengan siapa. Tapi ada satu orang yang hobi konyolnya adalah mematahkan semangat orang dengan kalimat “dream on, dream away, lu pade ntar juga memble”.

“Ih, Cik. Optimis dikit po-o”.

“Heleh udah bayak bukti. Mbot gak jadi ke UK. Training Vietam, mana? Outing per trimester mana? Mention others. Dream on, daaah”, sergah Cik Yen jenaka.

Waktu berlalu, monthly meeting tiba dan Pak Bos berkenan berpidato blah blah blah, target ini, kenapa ini, kenapa itu, jangan begini, mesti begitu dan pengumuman penting pun tercetus.

“Kita mesti bentuk panitia kecil nih.”

Semua terlonjak teringat harapan kecil kami.

“Quality Summit di Indonesia nih, yang datang sekitar 50 orang termasuk dari Philippines. Saya sudah hubungi tiga hotel, tinggal nunggu hasil aja. Kalian arrange acara hari ketiga ya, mereka maunya semua serba a la Indonesia, blah blah blah…”

JEGGER!!!

QA Summit di Indonesia? Jadi disini? Jadi kami tidak jadi dapat hadiah jalan-jalan? Jadi lagi-lagi bule-bule jangkung itu yang jalan-jalan? Jadi kerja yang katanya brilliant itu mau dihadiahi dengan kunjungan lagi? Tim Philippines yang anak bawang dan kadang bikin kita disini kalang kabut itu malah dikaruniai kesempatan ini??? Jadi…

Tidak satu pun dari kami menyambut tawaran menjadi panitia. Buktinya Pak Bos tidak berani memaksa. Tandanya lonceng perasaan bersalah berdentang keras tapi seperti biasa orang gedean kena sindrom gengsi minta maaf. Hanya satu orang yang bisa menegakkan leher ketika keluar dari ruang rapat. Siapa lagi kalau bukan Cik Yen. Kerudung kaosnya berkibar-kibar seperti semangatnya yang tak pernah surut. Sepatu kets-nya berdecit-decit bersaing dengan geraman sepatu keds saya.

Kami menekuri pekerjaan kembali. Tugas masih sak dabres (banyak, bahasa Jawa). Senyum kami enggan berkembang, rencana jalan-jalan gratis pupus dan layu, kalau mau jalan berarti rogoh kocek sendiri. Bos pun untuk sementara tak kami hiraukan. Nanya tetek bengek dijawab garing. Akhirnya dia bete sendiri dan berlalu ha ha ha…

Mana lagi senyum ibadah itu? Senyumku nyangkut di gigi. Gemeletuk menyedot energi.

August, 2008 (tough week)

IBU YANG DUDUK DI SEBELAH SAYA

IBU YANG DUDUK DI SEBELAH SAYA

Berangkat kerja kemarin pagi, saya seperi biasa mengambil tempat duduk dekat jendela. Saya hampir pasti selalu mendapat kehormatan untuk mejadi penumpang pertama atau kedua. Setelah bus terisi sekitar seprtiganya, seorang ibu menghempaskan dirinya di sebelah kiri saya. Rambutnya berombak dengan uban menghiasi. Si ibu tampak muram, tanpa senyum di bibirnya yang dipulas dengan warna merah lembut.

Sejenak menempelkan tubuhnya pada saya, tak lama kemudian bergeser ke bangku terpinggir dekat gang. Mungkin karena AC yang deras menyiram tubuhnya. Lalu dengan segera saya dorong tingkap lubang AC dengan buku yang sedang saya baca. Dan, benar, dia kembali duduk tepat di sebelah saya sambil kemudian mengoleskan minyak angin ke sekujur lehernya. Masuk angin.

Si ibu tampak sangat tidak tenang. Menengok ke kiri dan ke kanan tak hentin-henti. Kadang saya sengaja menyadari si ibu ikut mengintip Leo Tolstoy yang sedang saya baca. Saya buka lebar-lebar halaman supaya pandangannya tak terganggu dan lebih mudah membacanya tapi malah kuperhatikan dia palingkan wajahnya. Begitu seterusnya.

Saya makin merasakan ada seseorang yang memperhatikan saya. Siapa lagi kalau bukan si ibu. Saya jagi agak bingung. Dan dari ekor mata saya, dia tahu pandangan matanya tak berkedip. Berminyakkah wajah saya? Segera saya ambil kertas minyak dan menekankannya pada hidung dan bukit pipi saya. Dia melengos lagi.

Merasa tak nyaman membaca, saya masukkan buku ke dalam tas lalu mencoba menulis di telepon genggam saya. Saya merasa terbebas sejenak tapi kaki yang bergoyang-goyang membuat saya tak nyaman. Ternyata si ibu sedang menggoyang-goyangkan kakinya sehingga saya dan orang mengapitnya sontak mengarahkan pandangan pada si ibu. Saya tersenyum. Mbak sebelah kirinya juga tersnyum. Goyangan kaki dihentikan. Matanya dipejamkan.

Begitu lagi. Menengok ke kiri dan ke kanan. Menggoyang-goyang kaki dan memerhatikan wajah saya. Mungkin wajah saya mirip dengan seseorang yang dia kenal. Dan rasa penasaran segera merambati benak saya dan berniatlah saya memperhatikan si ibu aneh ini.

Celana hitam bahan katun tak baru lagi. Blus hijau tosca lengan pendeknya berhias bordia minimalis di daerah krah V modifikasi lekuk-lekuk, berbahan garment kaos kualitas sedang. Tak ada aksesoris kecuali ceplik (giwang, Bahawa Jawa) emas bulat di cuping telinga, jam tangan analog bulat warna perak di pergelangan kiri gemuknya. Sandal jepit hitam bertali biru. Sebuah tas tangan bertali panjang warna hitam dia pangku dan terlihat dipegan erat sekali.

Kegelisahan adalah hiasan terkuat si ibu saat ini. Minyak angin dioleskan lagi. Wangi White Musk dari The Body Shop saya tertindas aroma mint minyak cap Kapak sang ibu. Kakinya digoyangkan keras dan kudengar desah keras mbak di sebelah kiri ibu yang sedang mencoba memejamkan matanya menikmati macet pagi Kebun Jeruk.

Saya beranikan diri menyapa,”Mau kemana, Ibu?”

“Apaan? Ke Slipi”.

Waduh, waduh… Saya jadi nggak enak. Mau ramah ternyata salah orang. Sejak itu mulutnya makin memberengut dan tak sekalipun menatap saya sampai akhirnya dia turun di Slipi.

Mbak yang duduk di sebelah kiri saya menghembuskan napas lega sambil tersenyum pada saya lalu tidur dengan posisi duduk yang lebih santai setelah sekitar satu jam menekuk kaki menghindari goncangan kaki si ibu.

Saya memandang keluar jendela mencari-cari sosok si ibu dan melihatnya naik ojek ke arah Tanah Abang.

Mungkin saya cantik dan ingin mengagumi kecantikan ini. J Atau penampilan saya kurang berkenan di matanya. Atau saya seperti tukang copet yang harus dia awasi karen
a dia membawa uang banyak untuk beli dagangan di Tanah Abang? Atau dia melihat baju saya bermanset rajutan yang unik ini? Atau apa ya?

Kadang alasan seseorang melakukan sesuatu sama sekali tidak match dengan apa yang kita pikirkan dengan keras. Ini dia mengapa sulit rasanya berpikiran positif lantaran apa yang menurut orang lain wajar menjadi tidak wajar karena berbagai jenis kesenjangan. Kesenjangan budaya, kesenjangan usia, kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, kesenjangan politik, kesenjangan dll.

Sesampai di kantor saya segera mencari cermin dan segera mencari apa yang tak beres di wajah saya dan ketika “si orang bijak” datang, saya segera bercerita dan “si orang bijak” ini hanya berkata.

“Biarkan saja.”

Apapun alasan orang melakukan sesuatu pada saya, biarkan. Selama tak merenggut identitas diri saya sebagai manusia tak mengapa. Kadang berpikir positif tidak selalu memerlukan alasan. Biarkan saja. Ya, biarkan saja.

RAMADHAN NOT FOR SALE, PUISI HATI MERANA

RAMADHAN NOT FOR SALE, PUISI HATI MERANA

Ramadhan…

Rasanya kok biasa saja

Tidak ada rasa lapar

Tak ada pula rasa dahaga

Yang mencekam hanya segala ritual

Yang jika tak kukerjakan diancam dosa

Jika kukerjakan, duhai alangkah beratnya…

Ramadhan …

Rupanya telah menjelma menjadi sebuah annual guest

Hanya sebentuk tamu

Hanya sebuah kesementaraan

Yang bisa saja menaburkan suka-cita

Namun di balik hati yang lara,

Mungkinkah dia sebuah mala petaka?

Ramadhan …

Sebegini utamakah kau sebagai bulan?

Sebegini istimewakah kau sebagai masa?

Sebegini tinggikah kau dipuja-puja?

Kemudian sebagian manusia mengeramatkanmu,

Seakan engkau Tuhan mereka

Yang ternyata telah diumpetin dibalik ketiaknya?

Ramadhan …

Menangis aku serupa anak tiri

Yang kehilangan ayah dengan ibu baru atau

Yang kehilangan ibu dengan ayah baru atau

Mengais barokah yang dijanjikan

Dengan perasaan tertekan karena pandangan mata

Yang berlinang menangisi kebodohanku

Ramadhan…

Tivi saja menayangkanmu

Radio saja melagukanmu

Internet saja banjir olehmu

Media cetak saja tak kurang huruf buatmu

Tanah
Abang juga menjualmu

Adakah aku ini satu-satunya yang tak menghargaimu?

Ramadhan…

Jika ternyata aku ini salah memahamimu

Maafkan

Karena aku tak punya lagi kepentingan terhadapmu

Jika ternyata aku ini salah memperlakukanmu

Maafkan

Karena sungguh ku tak mau keintimanku dengan kekasihku tergadai karena aku harus berbagi denganmu

Ramadhan…

Maafkan aku tak bikin kolak

Maafkan aku tak makan 7 butir kurma

Maafkan aku tak tarawih ke masjid

Maafkan aku tak berbuka bersama

Maafkan aku hanya punya Aqua, kacang Garuda dan Kraft sisa

Jika kau tak doyan, aku tak tahu mesti sahur dan buka pakai apa

Ramadhan…

Jika aku satu-satunya yang melalaikanmu

Maafkan

Karena aku membaca langit yang gelap

Jika tak banyak aku berlomba merengkuhmu

Maafkan

Karena berlomba adalah untuk juara, sedangkan aku adalah seorang terpenjara

Ramadhan…

Biarlah disini aku berpesta dengan atau tanpamu

Biarlah disini aku menangis dengan atau tanpamu

Tolong jangan kau marah karena cemburu

Karena kekasihku tak mungkin mencintaimu lebih daripada dia mencintaku

Ramadhan…

Duduklah di tikar pandanmu sesuai janjimu

Lihatlah aku menari

Tari gemulai di depan kekasihku

Dengan atau tanpamu

September 3, 2008 (12:09am)

Flashback Cita-Citaku

FLASHBACK – CITA-CITAKU

Menelanjangi diri saya salah satunya adalah dengan merunut balik cita-cita saya waktu kecil hingga saya dewasa. Saya berusaha membuatnya kronologis, tentang umur silakan menebak dengan sukarela.

  1. Petani
  2. Guru
  3. Pedagang sayuran
  4. Penari Bali
  5. Dokter
  6. Mowgli (tokoh di The Jungle Book-nya Rudyard Kipling)
  7. Membunuh Count Dracula (setelah ditakut-takuti teman-teman kakak saya bahwa Count Cracula menculik anak kecil yang namanya berawalan huruf R yang suka ngusilin orang tua)
  8. Pemilik sirkus
  9. Perawat
  10. Pramugari
  11. Insinyur Pertanian
  12. Punya tanah luas untuk sekolah dan rumah sakit gratis, kebun binatang dan kebun raya
  13. Bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama
  14. Pemain bulutangkis
  15. Relawan
  16. Keliling dunia
  17. Penyanyi
  18. Guru
  19. Penulis
  20. Pelukis
  21. Guide
  22. Duta Besar negara-negara Eropa
  23. Professional Interpreter
  24. Pendakwah
  25. Aktivis NGO
  26. Wartawan
  27. Dosen
  28. Sekolah sampai botak
  29. Istri shalihah
  30. Orang kaya
  31. Orang sukses
  32. Orang beruntung

Mungkin ada juga serial cita-cita saya yang tak sempat terekam lama dan terlupakan begitu saja. Saya cukup senang ternyata saya memiliki jiwa kemaruk dan petualang sehingga “menjadi apapun” menjadi bagian dari hidup saya. Saya tidak tahu apakah hanya saya atau ada juga orang lain yang liar mengasah imajinasinya.

Saya tersenyum sendiri melihat bayangan saya dengan baju-baju profesi berganti-ganti bahkan ketika menjadi Mowgli mau tak mau harus berbaju minim dikelilingi teman-temannya Raksha (si ibu srigala), Father Wolf (si bapak srigala), Bagheera (si macan kumbang), Baloo (si beruang), Kaa (si ular piton), Hathi (si gajah), King Loui (si monyet).

Kalau saya perhatikan, makin kesini kok cita-cita saya makin abstrak, tak terdefinisikan. Sebotak apa? Se-shalihah apa? Sekaya apa? Sesukses apa? Seberuntung apa? Saya bertanya-tanya apakah teori yang mengatakan bahwa makin tua manusia tujuan hidupnya makin sederhana itu benar atau hanya masalah bahasa saja ya. Kalau ini masalah kesederhanaan berpikir, maka saya dilanda tanya mengapa jumlah orang tua yang stress lebih banyak dibanding anak-anak yang kelimpungan mikirin hidup di dunia?

30 hari rumah tuaku telanjang di hadapan Bulan Sang Pengelana

30 hari rumah tuaku telanjang di hadapan Bulan Sang Pengelana

Di masa terkering tahun bulan terhenyakku karena bebunyian yang sontak mengurut dada sunyiku. Mendobrak gudang tuaku memanggil-panggil nama diriku. Siapa diluar? Aku tak sedang mau menyambut tamu, seruku.

Wahai, tuan rumah, mana kesopanan dan adabmu? Malulah kau mengusirku. Aku lelah melewati tiap pintu dan mengetuk semuanya. Tidakkah kau punya tempat berteduh bagi bulan pengembara ini?

Hai, musafir. Rumahku tua dan tak terjaga. Untuk apa kutampung pengunjung yang akan menghinanya? Biarlah kau cari pintu yang lain dan mengetuknya tanpa kecewa.

Duhai, rumahmu renta. Wahai, pintumu lapuk. Adakah kau juga tak berbaju? Jika ya, aku tahu kau malu tanpa busana. Tak mengapa. Mataku buta, ku hanya ‘kan mengindera bisikan bayu, ku hanya ‘kan melihat kobaran pelita… di matamu.

Hai, pengelana. Masuklah. Rumah tuaku menerimamu, yang tahu aku tak punya apa-apa. Cuma percikan api mentari yang membungkusku. Berapa lama kau akan tinggal di rumah tuaku ini?

Terima kasih… 29 atau 30 hari lamanya. Biar kugelar tikar pandanku. Ku ‘kan duduk bersila menonton kau menari di rumah tuamu.

Amboi! Musim panasku membara di genggaman penguasa kemarau yang akan melihat rumah tuaku menari telanjang tak pedulikan jubahnya.

Marhabaan ya Ramadhaan…

TUMPENG, BUCENG, NASI BIASA YANG TIDAK BIASA

TUMPENG atau BUCENG

NASI BIASA YANG TAK BIASA

Akhirnya jadi juga… Tulisan ini saya persembahkan kepada Anda sekalian sebagai persembahan budaya yang masih butuh penambahan disana-sini dari Anda supaya sempurna. Secara khusus tulisan ini adalah tanda mata buat Tante Julie yang walaupun nun jauh disana tapi tetap nyengkuyung (men-support, Bahasa Jawa) lestarinya budaya nenek moyang. Semoga tulisan ini menyadarkan kita semua bahwa dibalik sesuatu yang maujud (nyata oleh mata) ada makna esensial yang tersimpan dan memancarkan kekuatan batin berupa doa.

Sudah berapa lama kita mengenal tumpeng atau buceng? Berapa banyak variasi tumpeng dan buceng yang kita pernah lihat dalam acara-acara adat dan nasional? Dan berapa besar rasa penasaran kita terhadap apa itu tumpeng atau buceng itu?

Tak dapat diketahui pasti sejak kapan tumpeng mengawali eksistensinya. Yang pasti tumpeng adalah salah satu perangkat sesaji yang cawis (tersaji, Bahasa Jawa) untuk keperluan selamatan alias upacara doa. Ada sebagian orang Jawa yang membuat kerata basa (singkatan kata, Bahasa jawa) bahwa tumpeng itu singkatan dari menute ben mempeng (keluarnya terus menerus, Bahasa Jawa) yang dikaitkan dengan keluarnya rejeki dan barokah Allah SWT yang terus-menerus mengucur pada manusia. Sedangkan buceng di-keratabasa sebagai sebute sing kenceng (doanya yang giat, Bahasa Jawa). Ada juga yang beranggapan tumpeng jika nasi kerucut tersebut ukurannya besar, sedangkan buceng jika kerucutnya kecil.

Tumpeng adalah nasi, baik nasi beras biasa maupun nasi ketan, yang dipadatkan menjadi bentuk kerucut. Ukuran kerucut itu bervariasi tergantung kebutuhan dan kemampuan pembuat atau yang berhajat. Konon semakin besar bentuk tumpeng, semakin baik. Nasi putih atau ketan putih adalah standar awal tumpeng. Dipilihnya bentuk kerucut juga bukan tanpa maksud. Bentuk kerucut membedakan tumpeng dengan ambeng. Ambeng adalah nasi yang tidak dibentuk kerucut alias rata-rata saja atau diceta bentuk lain. Proses pembuatan tumpeng dahulu dan sekarang berbeda. Dahulu nasi yang dikaron dimasukkan dan dipadatkan kedalam kukusan kebudia dimasak dan keluar dalam wujud tumpeng. Sedangkan sekarang tumpeng adalah nasi biasa yang dicetak kedalam cetakan setelah dimasak. Sebuah hal kecil yang apabila dikupas akan menghasilkan filosofi hidup yang berbeda pula.

Tumpeng sendiri mesti dilengkapi dengan piranti-piranti lain tergantung pula dengan tujuan doa tersebut. Yang baku, sayur-mayur (tertentu) dan lauk (tertentu) disajikan bersamanya. Komponen tumpeng semua ada makna doanya, yang akan dibahas dalam tulisan ini secara sederhana.

Menjulang bagai gunung yang utuh belum memelus, tumpeng adalah pusat doa, pusat semesta, penyeimbang dunia. Tumpeng dinisbahkan kepada manusia yang didoakan, sebagai gunung di bumi dan juga sebagai kehidupan ini sendiri. Manusia yang didoakan diharapkan menjadi orang yang kehidupannya menanjak naik, berpusat pada puncak kesuksesan lahir dan batin mulus tanpa liku-liku seperti mulusnya tumpeng berpuncak lancip. Diartikan pula sebagai gunung di daratan yang fungsinya adalah sebagai pasak bumi, menyeimbangkan pergerakan tanah dan batuan; jika kita kaikan dengan wayang, gunung(an) merupakan lambang kemakmuran karena daerah sekitar gunung pasti makmur walaupun resiko kena letusannya juga lebih besar.

Tumpeng juga perumpamaan kehidupan jiwa yang menanjak naik, mencapai kesadaran ilahi yang berpucak pada ma’rifat
ullah. Ketika tumpeng telah diiris puncaknya maka hidup ini diresmikan start-nya. Puncak kehidupan inilah tujuan kita, keikhlasan batin adalah hal yang utama. Selain itu, puncak tumpeng tidak akan pernah diberikan kepada orang yang tidak penting, pucuk kecil itu selalu dipersembahkan kepada orang yang (dianggap) spesial diantara semuanya.

Di sekitar tumpeng kita jumpai banyak sekali lauk-pauk dan sayuran rebus plus bumbu-bumbunya. Selain sebagai lauk, satu per satu diterjemahkan ke dalam doa juga.

Iwak pitik (ayam)

Ayam adalah lambang dari jiwa manusia yang sedang didoakan tersebut. Diharapkan object doa (yang dihajatkan) menjadi jiwa yang hidup dan berkarya. Bagian ayam yang utama adalah kepala, kaki dan sayap yang melambangkan baiknya kata-kata dan perilaku manusia.

Endhog pitik (telur ayam)

Telur adalah isyarat bahwa ada potensi yang harus selalu dikembangkan dari si object doa. Tidak boleh hanya diam sebagai telur, harus bisa mewujud menjadi ayam. Awalnya telur ini disajikan beserta kulitnya sebagai perlambang kesatuan wadah dan isi (badan dan jiwa) dan proses dari lahir sampai kemudian menjadi (sebelum makan harus dikupas dulu kaan…). Telur tidak selalu disajikan utuh; kadang dibelah dua namun kulit masih beserta. Dibelah tidaknya telur ini tergantung dari keperluan doa.

Iwak (ikan)

Iwak atau ikan melambangkan hewan air. Ikan lele, ikan yang hidupnya di dasar sungai, adalah pilihan utama karena selain mudah didapat di telatah tanah Jawa, dia juga melambangkan sifat andhap asor (merendah, Bahasa Jawa) yang sangat disarankan dalam budaya Jawa. Sikap andhap asor ini bukan berarti kita membiarkan dihina orang, ini adalah sikap hidup yang mengedepankan kelembutan dan kerendahhatian disertai ketulusan yang bisa membuat jiwa manusia menjadi subur untuk nilai-nilai kebajikan. Ada juga yang melengkapinya dengan ikan asin (gerih pethek atau gerih layur) yang melambangkan gotong royong, seperti kita ketahui ikan laut kecil itu biasanya hidup berkelompok. Sang object doa diingatkan tentang hidup bermsyarakat, senantiasa menjaga kerukunan dengan sesama. Insya Allah, amin…

Bayem (sayur bayam)

Sesuai dengan guru lagunya (suara terakhir) bayem yem yem, maka bayem ini melambangkan ayem tentrem. Doa kedamaian hati.

Kangkung (sayur kangkung)

Anda pasti tahu kangkung adalah tanaman yang dapat hidup di darat maupun di air. Manusia diharapkan bisa beradaptasi dimanapun dia berada. Bukannya disuruh menjadi Deni Manusia Ikan, tapi manusia bisa mempraktikkan “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Di Jakarta kek, di Bandung kek, di Surabaya kah, di Singapore or di Afsel… harus bisa menjadi jiwa yang hidup!!!

Capar/cambah (toge)

Lambang potensi hidup manfaat yang akan terus menerus berkembang hingga menjadi tunas, pohon, berbunga, berbuah dan menyebarkan manfaat kepada semesta. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama. Ayo berlomba-lomba menebarkan manfaat.

Kenikir (daun kenikir)

Kenikir kir kir… Selalulah berpikir. Berpikir tentang alam semesta sebagai ciptaan dan anugerahnya bagi kita semua, Sudara.

Godhong lembayung (daun lembayung, daun kacang panjang)

Lembayung, yung, yung… Mari kita nyengkunyung, mendukung bersama-sama pekerjaan ini supaya segera beressss… Berjamaah melakukan sesuatu.

Kacang lanjaran (kacang panjang)

Konon kabarnya kacang panjang sebagai komponen tumpeng tidak boleh dipotong-potong. Lanjaran berarti panjang merambat tak terputus. Jangan dipotong-potong, biar rejekinya tak terputus. Amin. Ja
ngan lupa, kacang panjang ini juga perwujudan dari kerunutan dan panjangnya berpikir, tak tergesa memutuskan sesuatu. Serta, manusia tidak akan keluar dari lanjaran (jalurnya), tidak keluar dari rel sebagai manusia. Dulu kacangnya direbus saja, sekarang seiring dengan berkembangnya kreativitas pemasak tumpeng, kacang panjang dijadikan hiasan yang dipilin, dikepang, merambat menaiki tumpeng atau mengitarinya. Cantik…

Kluwih (buah timbul)

Sebagian dari kita mungkin bingung mana ya buah kluwih ini? Buah berbentuk bulat, dengan kulit lancip-lancip tapi tidak tajam berwarna hijau. Pohonnya hampir sama dengan pohon buah sukun. Di Jawa orang biasanya memasaknya sebagai sayur lodeh atau dikeringkan santannya. Kluwih wih wih, dadia wong kang linuwih. Jadilah orang yang lebih: lebih baik, lebih bijak, lebih kaya, lebih sukses, lebih cantik, lebih ini, lebih itu dalam kerangka positif dan manfaat bagi semesta.

Samir godhong gedhang (alas daun pisang)

Alas tumpeng semestinya adalah daun pisang. Daun pisang disini mewakili kompenen pisang beserta pohonnya. Pohon pisang hanya hidup sekali dan pasti berbuah sebelum akhirnya mati mengering atau ditebang. Maka hidup sekali ini, alangkah baiknya jika manusia benar-benar optimal menjalankan kehiduan hingga akhirnya ditebang setelah berbuah – mempersembahkan manfaat bagi semesta.

Ok, sekarang kita beralih ke jenis-jenis tumpeng sesuai fungsi upacara doa. Jenis-jenis yang saya sampaikan ini hanya beberapa yang bisa saya dapatkan dari nara sumber dan karena keterbatasan saya maka saya tidak mampu memberikan sebanyak yang saya terima dari para pinisepuh yang saya jadikan nara sumber. Masih ada jenis lain yang bermacam-macam.

  1. Tumpeng Putih

Ini adalah tumpeng yang dilengkapi dengan urapan dibumbui tidak pedas. Jenis sayuran harus ganjil (7, 9 atau 11 jenis) ditata mengelilingi tumpeng. Lauk-pauk standar tersebut diatas adalah standar minimal.

  1. Tumpeng Robyong

Tumpeng ini puncaknya diberi telur rebus tak dikupas, diatas telur ditaruh terasi bakar, bawang merah utuh dan paling atas adalah cabe merah besar. Disekeliling tumpeng ditancapkan berbagai sayuran berbumbu yang ditusuki seperti sate. Tumpeng ini disebut robyong sebagai perlambang bahwa agar banyak orang mengeelilingi dan menyukai orang yang didoakan tersebut. Tumpeng ini dipasang untuk hajatan mantu, khitanan yang sifatnya berbagi kebahagiaan.

  1. Tumpeng Robyong Gundhul

Ujung tumpeng ini diberi seperti tusukan Tumpeng Robyong namun tumpengnya sendiri tidak diberi sayuran. Biasanya dibuat kembar dua tumpeng; yang satu ditancapi telur, yang lain tidak ditancapi telur hanya disyarati dengan ayam hidup. Ayam hidup ini nanti diberikan kepada yang memimpin doa.

  1. Tumpeng Megana

Tumpeng ini dalamnya dibuang kemudian lubang tersbut diisi dengan sayuran yang telah dibumbu megana. Disekeliling tumpeng diberi urapan bumbu megana, ikan asin (gereh) dan bumbunya harus pedas. Tumpeng ini dipasang ketika sedang memperingati weton (hari kelahiran versi Jawa).

  1. Tumpeng Urubing Damar

Wah, yang ini khusus buat Ratu laut Selatan rupanya… tumpengnya kecil saja, puncaknya diberi colok (lampu) dari batang bambu yang ujungnya diberi kapas dan dinyalakan. Duh, Nyai… makan tumpeng lauk api he he he…

  1. Tumpeng Dhuplak

Tumpeng ini puncaknya dipencet lalu diletakkan telur diatasnya, telur rebus. Diberi urapan standar disekeliling tumpeng dan lauk standar ditambah dengan tempe
, tahu dimasak. Tumpeng ini untuk keperluan sesaji.

  1. Tumpeng Kendhit

Tumpeng putih yang tengahnya diberi kendhit (ikat pinggang) yang terbuat dari parutan kunyit. Kendhit ini maksudnya adalah sabuk kuning di pinggang tumpeng. Ada juga yang kendhitnya berwarna hitam.

  1. Tumpeng Panggang

Tumpeng biasa, hanya ditambah ayam ingkung (ayam utuh bakar bumbu Jawa tradisional)

  1. Rumpeng Ropoh

Tumpeng putih yang dialasi pisang raja dan pisang pulut 2 sisir. Tak ketinggalan bebunga juga disertakan. Tumpeng ini juga untuk keperluan sesaji.

  1. Tumpeng Kuning

Ini tumpeng yang bahannya nasi kuning. Boleh dibuat berasa gurih atau tidak. Lauk standar, hanya saja telurnya dibelah dua.

  1. Tumpeng Bango Tulak

Tumpeng ini dwi warna, Sudara-Sudara. Atasnya putih, bawahnya hitam. Gunanya untuk sesaji tulak bala. Hitam dikalahkan oleh putih, gitu maksudnya.

  1. Tumpeng Nila

Tumpeng ini warnanya nila (biru).

  1. Tumpeng Gundhul

Tumpeng ini sesuai namanya tidak disediakan bersama lauk dan sayur. Gundul saja gitu… tumpeng ini sebagai pelengkap doa orang yang pikirannya sedang semrawut. Jadi pikirannya perlu digunduli ha ha ha…

  1. Tumpeng Kencana

Tumpeng ini dibuat dari nasi ketan, lauknya telur dadar yang ditutupkan pada sayuran urap yang disajikan di sekeliling tumpeng. Lauk lain tidak disediakan di sekeliling tupeng.

  1. Tumpeng Pungkur

Tumpeng ini dipakai oleh orang Jawa yang mengadakan selamat kematina (surtanah). Warnanya putih, dibelah dua (secara vertikal) kemudian diletakkan saling membelakangi (tidak disatukan menjadi bentuk tumpeng lagi). Lauknya seperti tumpeng biasa. Melambangkan kehidupan yang telah terbelah antara jiwa dan raga.

  1. Buceng Kuwat

Tumpeng ini terbuat dari beras ketan. Tidak ada lauk yang disediakan. Namun ada kelapa parut yang dimasak dengan gula merah sehingga rasanya manis, sejenis dengan enten-enten untuk isi kue dadar gulung. Buceng kuat ini dijadikan pelengkap ketika oranga sedang berdoa supaya dia dan keluarga seger waras kuat slamet (segar-bugar, kuat dan selamat).

  1. Tumpeng Yuswa

Sebuah tumpeng besar yang dikelilingi dengan tumpeng-tumpeng kecil. Yuswa berarti umur atau usia, sehingga jumlah tumpeng-tumpeng kecil yang mengelilingi tumpeng besar tersebut disesuaikan dengan usia Sri Sultan yang dihitung dengan tarikh Jawa. Tumpeng Yuswa digunakan dalam upacara Tingalan Dalem (ulang tahun Sri Sultan). Makin tua, makin boros he he he…

  1. Tumpeng dll, saya udah kehabisan stok he he he…

Cara penyajian tumpeng juga telah bergeser dari pakemnya (kayak wayang aja ya…). Dahulu tumpeng selalu disajikan pada wadah bundar yang melambangkan orbit yang selalu berbentuk lingkaran (atau elips sejatinya) dan tumpeng sebagai pusatnya dikelilingi oleh berbagai pelengkap lainnya. Sekarang filosofi ini mungkin telah digeser oleh fungsi kreativitas dan keindahan sehingga bisa saja tumpeng diletakkan di wadah segitiga atau segi lainnya selain lingkaran.

Dulu, tidak sembarang orang mendapat ijin untuk memasak tumpeng. Bahkan tumpeng tidak dimasak setiap saat. Memasak tumpeng pun diawali dengan doa: jaman dulu disertai dengan membakar dupa sesuai kapercayaan nenek moyang dahulu. Sekarang cukup dengan keikhlasan dan bacaan Basmalah, Insya Allah doa dalam komponen tumpeng ini diijabah oleh Allah SWT. Amin.

Kabula kajate… (semoga hajatnya terkabul, Bahasa Jawa – ekspresi yang diucapkan tamu undangan upacara doa sembari menyalami pengundang sebelum mereka meninggalkan rumah pengundang dengan menenteng berkat berupa makanan yang dibagi-bagi rata dari tumpeng di tampah.)

Terima kasih kepada sumber info:

Ibuku sayang

Pakpuh Bandi

Majalah Panjebar Semangat – 27/2008

KENAPA DIA? INTERUPSI DISAAT SAYA ASYIK MENULIS

KENAPA DIA? INTERUPSI DISAAT SAYA ASYIK MENULIS

Saya sedang menyusun tulisan tentang tumpeng ketika belum selang satu jam lalu saya mendapati seorang sahabat yang sudah lama sekali “menghilang” dari status “invisible to everyone” di YM list saya tiba-tiba online. Dia ini salah satu sahabat dekat saya. Saya uluk salam, beberapa menit kemudian baru dia jawab salam saya. Kemudia saya bertanya dimana dia sekarang, dia menjawab di Aussie.

Kaget setengah mati karena dia tak pernah mengabari kalau jadi melanjutkan studinya disana. Selama ini yang saya tahu usaha-usaha dia untuk study overseas selalu kandas karena hal yang sangat menyebalkan, sampai-sampai hampir patah arang. Ketika saya tanya sejak kapan dan kenapa gak kabar-kabar, dia malah sign out.

Saya tahu sahabat saya ini hidupnya seakan diliputi ketakutan oleh sebentuk terror yang datangnya dari seorang penguasa media massa di pusat timur pulau ini. Hidupnya seakan terpasung hingga untuk bisa melanjutkan studinya pun dia harus jumpalitan gak karuan, sembunyi-sembunyi dari caplokan jahat itu. Padahal kalau dipikir dengan akal sehat, sahabat saya ini hanya semacam kambing hitam yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak percaya diri. Seandainya saja saya boleh, akan saya ceritakan semuanya. Tapi ini rahasia, yang mesti saya jaga demi kenyamanan dan (lebih-lebih) keselamatan sahabat tersayang saya ini.

Sahabatku, ayo semangat. Aku yakin kamu punya kekuatan yang tersembunyi dibalik kelembutanmu yang tak berdaya itu. Jangan pernah khawatir dengan apapun yang menghadangmu. Biarkan mereka berpesta-pora dibalik popularitas dan hegemoni mereka. Aku yakin kamu survive dan makin sukses.

Jangan pernah sembunyikan sesuatu dariku ya. Kamu tahu kan aku selalu mendukungmu. Ayo dong, isi juga Multiply-mu. Aku udah bikinin sesuai permintaanmu, masak sekarang dianggurin aja?

Ok, love you much… Good luck all the way to heaven.

Aku lanjutkan nulis tentang tumpeng dulu ya. Teman-teman kita di Multiply sudah menunggu. J

KATAK INGIN JADI KERBAU

Katak dalam tempurung…

Saya makhluk cebol bermata belok gaya mengantuk, berkulit licin berkutil-kutil, mulut dan kerongkongan lebar dan besar untuk kepentingan menyanyi dengan suara parau dan berkaki belakang panjang yang dirancang untuk keahlian melompat (yang belakangan menjadi kesenangan).

Menyanyi kencang tanpa malu membanggakan diri sendiri yang merajai dunia bawah kubah tempurung. Melompat girang bergeser kian kemari dalam tempurung tanpa tahu kemana bergeser. Sorong ke kanan, sorong ke kiri, tra la la la la la…

Adakah dunia yang terang dan luas diluar sana? Jika ya, datanglah wahai Kekuatan yang membebaskanku dari kubah kecilku ini. Jikalau nanti Kekuatan itu datang, akankah sang katak menjadi kerbau?

Frog under coconut shell…

I am a small creature with bulging sleepy eyes, slippery pimpled skin, big mouth and throat to sing in uncontrolled tunes and long back legs designed for hopping expertise (recently becoming hobby).

Singing loudly without shame blowing its own trumpet, ruling the kingdom beneath the coconut shell dome. Happily hopping moving the shell around not knowing where to go. Left, right, left, right, tra la la la la la…

Is there a bright and wide world out there? If yes, do come oye Power that release me out of this little dome of mine. And, if the Power comes, will it turn this frog to a buffalo?

Kodhok sajroning bathok murep

Aku ini kewan sing matane mlorok ngantuk, kulite lunyu kutilen, cangkem lan gorokane gedhe minangka kanggo lelagon kanthi swara glorok, lan sikil mburi dawa kang rinancang kanggo mlumpat kapinteran (sing keri-keri dadi kasenengan).

Lelagon ora eram bantere tanpa isin tansah gumedhe sombong, tumindak amindha raja sangisoring kubah bathok murep. Mlumpat kanthi seneng mrana mrene tanpa angerteni menyang endi lungane. Kiwa, tengen, kiwa, tengen, tra la la la la la…

Apa ana donya kang padhang njingglang lan amba ing njaba kana? Yen ana, tumekaa Daya kang isa mbebasake saka kubah cilikku iki. Lan yen wis teka, apa isa Daya iku ndadekake si kodhok malih kebo?

MEGENGAN DAN KUE APEM (adjusted & revised)

MEGENGAN DAN KUE APEM

Mendengar kata itu saya diingatkan kepada tradisi Jawa Islam (atau Islam Jawa?). Megengan ini biasanya dilakukan beberapa hari menjelang tanggal 1 Ramadhan tahun Hijriah. Megengan sendiri berasala dari kata megeng yang artinya menahan atau mengendalikan diri – berhubungan erat dengan tradisi puasa.

Pada saat megengan itu, kaum muslim di telatah tanah Jawa akan mengadakan sedekahan. Dulunya akan ada semacam undangan kepada para tetangga untuk menghadiri sekedar acara “makan-makan” yang dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh yang telah diminta oleh tuan rumah. Setelah berdoa bersama, akan dibagilah makanan yang telah didoakan tersebut kepada para hadirin.

Hidangan biasanya berupa nasi, urapan, ayam atau telur masak sebagai lauknya bisa juga ditambah sambal goreng kentang, kering tempe, mi kuning atau bihun goreng, pisang sebagai buahnya dan tak ketinggalan adalah kue apem. Bisa juga makanan telah disiapkan di wadah-wadah sehingga tidak perlu ada acara pembagian seusai doa. Semua terserah pada sang pengada acara.

Sebenarnya kue apem inilah kue khas megengan di telatah tanah Jawa. Apapun hidangannya, kue apem wajib ada.

Mengapa apem? Mengapa tidak yang lain? Semuanya ada filosofinya. Sedikit berbagi tentang kue apem ini supaya sebagian dari kita bisa lebih memahami orang-orang yang hidup dalam Islam yang tiba di tanah Jawa yang TIDAK PERNAH HAMPA BUDAYA.

Konon kabarnya, para wali kita tercinta sedang memikirkan bagaimana membuat para mu’alaf kuno makin bersemangat menunaikan ibadah puasa dan segala tetek bengek sebelum, selama dan sesudahnya. Seperti kita tahu, sebelum puasa ada anjuran kaum muslim saling memaafkan sesamanya sehingga puasanya bisa tenang dan berkah karena telah tak ada lagi ganjalan dari rasa bersalah berdosa kepada orang lain. Selama bulan Ramadhan ada juga ritualnya. Sesudahnya tentu ada juga.

Nah, orang-orang dulu yang kaya dan pekat budaya lokalnya tidak begitu saja bisa memahami konsep-konsep abstrak Islam Arab (maaf beribu maaf) miskin basa-basi. Para wali sangat memahami budaya Jawa yang kaya simbol sehingga para pemeluk baru Islam tersebut merindukan pengejawentahan konsep Islam Arab kedalam budaya mereka.

Walhasil para wali menganjurkan para warga untuk mengundang para tetangga, orang yang paling berpotensi “terluka” oleh sikap-sikap kita sekeluarga. Kemudian dalam acara undangan tersebut, para warga dianjurkan untuk menjamu mereka sebagai wujud pelaksanaan hadits “barangsiapa beriman pada hari akhir maka muliakanlah tetangga”. Dan, puncaknya mereka diminta untuk meminta maaf kepada para undangan yang notabene para tetangga tersebut.

Dalam budaya Jawa, meminta maaf secara langsung adalah sebuah “penemuan baru”. Tahukah Anda kenapa demikian? Karena dalam budaya Jawa, menyakiti juga merupakan barang mahal. Kalau “merasa” tidak menyakiti, mengapa kudu minta maaf? Dan, ini adalah kenyataan lain dari garapan para wali kita yang bijak bestari tersebut.

Maka para wali menganjurkan pada para warga untuk memasak kue yang bahannya adalah tepung beras, santan, gula dan garam secukupnya dan dimasak: dahulu kue apem hanya satu jenis yaitu apem yang dikukus dan cetakannya daun dibentuk kerucut.

Beras putih, makanan pokok penduduk melambangkan kesucian. Santan yang merupakan sari buah pohon yang manfaat semua bagiannya melambangkan sari atau ketulusan manusia. Gula dan garam melambangkan rasa hati. Daun yang dibentuk kerucut bermakna penerucutan semua kepada satu titik yaitu Allah SWT. Maka jika semua bahan itu dijadikan satu bunyinya adalah kesucian dan ketulusan rasa hati manusia yang ikhlas karena Allah semata.

Para warga penasaran apa nama kue resep wali tersebut?

Apem
adalah karena orang Jawa tidak memiliki konsonan “f” atau “v”. Para wali sendiri berkata demikian:

“Nama kue ini adalah afwun. Afwun artinya memaafkan. Kita orang Islam menyuguhkan kue afwun pada saat menyambut bulan puasa sebagai pernyataan permintaan maaf kita kepada para tetangga. Apa susahnya memberikan afwun ini kepada tetangga kita? Jika tak mau memberikan afwun, kita sendiri yang merugi. Hati gelisah, jiwa merana. Ingatlah Sudaraku, nama kue in adalah afwun.”

“Oh… kue apwun, Wali?”

“Ya. Afwun.”

“Oh ya, apwum ya, Wali?”

“Ya, ini kue apwem ya, Wali?”

“Ho-oh. Sebut saja ini kue apem. Buatlah apem pada saat megengan dan berikan kepada para saudaramu dan katakan maaf kalian kepada mereka dengan tulus ikhlas karena Gusti Allah.” Para wali sepakat menamakannya kue apem. Dasar orang Jawa ya manut saja sama orang bener he he he…

Nah, Sudara sekalian. Sekarang Anda telah memahami mengapa ada kue afwun di telatah tanah Jawa pada saat megengan atau disebut juga munggahan di daerah kulon?

Mohon maaf lahir batin. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Afwun. Apwun. Apwem. Apem.

HIDUP UNTUK MAKAN, MAKAN UNTUK HIDUP

HIDUP UNTUK MAKAN, MAKAN UNTUK HIDUP

Sering kali kita sangat gusar dalam keadaan lapar. Lapar menjadi sangat berharga sehingga apapun akan kita carikan alasan asalkan kita bisa mengusir rasa lapar tersebut.

Sejak usia es de saya telah terbiasa dengan ungkapan “makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan”. Ibu saya selalu berpean untuk makan secukupnya, tidak melebihi apa yang membuat saya cukup kenyang dan kuat untuk beraktivitas. Mulanya saya protes kira-kira sampai usia es em a. Setelah usia kuliah hingga saat ini, saya merasakan bahwa makan banyak tidak membuat saya makin kenyang tapi makin lapar.

Setelah bekerja apalagi. Makan minum sebebasnya gak masalah karena tidak minta siapa-siapa kecuali pada Allah untuk memberikan rejeki lebih. Namun itung punya itung bersikap ekonomis dalam makan lebih baik biar bisa beli lebih banyak buku atau bagi-bagi dikit pada yang butuh (Mang Kosim dkk sahabat saya euy).

Hari Kamis lalu di kantor saya berdebat kecil dengan seorang teman kerja “disaksikan” oleh teman-teman lain yang keheranan kenapa tumben-tumbennya saya mendebat beliau yang biasanya tidak digubris oleh siapapun kalau sudah ngomongin tentang hal ini.

Nes

:

Makan yuk.

Rike

:

Nanti.

Nes

:

Kamu kalau ditawari makan selalu nanti.

Rike

:

Iya. Ini kerjaan belum selesai.

Nes

:

Nanti aja lanjutkan lagi.

Rike

:

Kamu duluan aja ya.

Nes

:

By the way, ada tamu dari LA kok gak ada acara makan-makan sih?

Rike

:

Ya tanya aja sama boss ada lunch keluar gak.

Nes adalah seorang teman yang punya julukan rahasia “the maruk princess”. Cantik, sexy dan baik tapi kalau udah ada makanan tidak pernah ingat bahwa sesama cacing di perut teman-teman masih berdemonstrasi. Pernah suatu saat Pak Eko harus ngumpetin makanan setelah sang putri ngembat jatah dobel.

Nes

:

Gak lah. Tiap ada tamu biasanya kan lunch out kok sekarang gak. Payah.

Rike

:

Itu kamu juga udah bawa makan
an.

Nes

:

Ya kan apa salahnya makan keluar lagi.

Rike

(mulai gerah)

:

Aku sih Nes, kalau boleh minta sama Allah aku akan minta diberi satu kesempatan makan dan tidak perlu makan lagi. Sekali makan kenyang, sehat, puas selebihnya makan hanya untuk syarat aja.

Nes

:

Mana ada begitu? Kalau aku sih maunya makan terus biar bisa merasakan nikmat, enak. Rugi kamu hidup gak makan. Makanya aku kan suka banget pergi pesta. Makanannya enak-enak.

Rike

:

Aku makan untuk hidup bukannya hidup untuk makan.

Nes

:

Makan memang untuk hidup tapi hidup juga untuk makan. Bisa mati kalau gak makan.

Rike

:

Iya d
eh sana makan.

Nes

:

Kamu kalau makan sekali langsung kenyang seumur hidup berarti kamu bisa kayak dewa.

Saya diamkan saja karena ini bakal panjang seperti biasanya. Daripada kepala panas mendingan saya pura-pura budheg (Bahasa Jawa, tuli) saja.

Nes

:

Blah blah blah blah

Saya tidak menimpali sampai akhirnya saya keluar ruangan untuk menghirup udara segar karena memang ini bukan kali pertama saya harus menghadapi seseorang yang berceloteh manja memamerkan pengalaman makan enak dan banyak berlimpah di hotel mewah.

Saya ingat kata-kata ibu saya ketika dulu saya tidak mau berbagi dengan anak-anak tetangga yang perekonomiannya kurang sehingga untuk makan saja mereka harus membuat jadwal: nasi jagung – nasi beras – tiwul – ubi jalar – garut.

Sekarang saya tinggal jauh di ujung kulon berteman dengan orang-orang yang tidak pernah merasakan bagaimana susahnya menelan makanan sementara di sampingnya seorang teman kesulitan menelan ludah karena kelaparan. Saat-saat tertentu juga saya harus menikmati kelezatan dan keberlimpahan yang tak dapat ditolak; bukannya munafik tapi kadang saya tidak bisa benar-benar menikmati karunia ini.

Tiap pulang dari makan-makan dengan teman-teman atau client, saya selalu bercerita pada ibu saya dan mengatakan padanya bahwa saya ingat sama si ini dan si itu waktu makan tadi.

Ibu saya hanya tertawa lalu berujar, “Ya sudahlah, bersyukur saja, bahwa kita ini tidak dicoba dengan kelaparan. Kita dicoba dengan yang lain yang mereka tidak sempat memikirkan bahwa hal itu bisa menjadi cobaan hidup. Mungkin mereka juga gak nyangka bahwa kamu ketakutan juga kehilangan uang sedangkan mereka cuek saja wong gak punya duit. Yang penting berbagilah dengan ikhlash.”

Saya berpikir ulang bahwa rasa lapar teman saya Nes mungkin hanya sebatas rasa lapar tingkat rendah. Namun ada lagi rasa lapar species berbeda yang terselip di hati lain. Rasa lapar akan pujian, rasa lapar akan harta, rasa lapar akan kekuasaan dan rasa lapar terhadap hal-hal lain. Rasa lapar itu tak lagi menjadi rasa lapar namun telah menjelma menjadi keserakahan. Kalau Pak Eko bisa ngumpetin kue moci dari Nes, apa yang bisa kita umpetin dari orang-orang di sekitar kita yang ingin melahap pujian dari kita, harta kita, tenaga kita, kelemahan kita? Yang ada hanya rasa takut terjajah atau rasa muak atau bisa saja kita terinfeksi penyakit itu…

Semoga kita diberi kekuatan untuk mengatur kebutuhan kita dan memenuhinya sewajarnya. Jika lapar, makanlah secukupnya. Beri dan harapkan pujian secukupnya. Harta, miliki sewajarnya. Kekuasaan, jangan sampai membuat kita abusing others.

Apapun rasa lapar yang kita rasakan, niatkan pemenuhannya hanya untuk memuliakan hidup bukan untuk melanggengkan hidup.

NARWHAL, THE SEA UNICORN

NARWHAL

The Sea Unicorn

When you heard the word ivory or tusks, I bet you will imagine an elephant. You will think that the white tusk or ivory is what it means solely. And, if you hear the word horn, you will relate it to goat or cow. However, there is another animal that has it. Have you ever heard about unicorn? For Harry Potter’s movie watchers or fairy tales readers, they can figure it out easily. Unicorn is a horse with an ivory/tusk/horn grown on its forehead. Unicorn is never considered to actually exist. It might be a part of fairy tale, but it the unicorn as an animal came into being from narwhal.

Narwhal is a tusked-whale with compact size of 13 to 16 feet long living around the northern polar seas. Their tusks were linked to the legend of the unicorn and believed to have medicinal, even magical power. At its peak during the Middle Ages, “unicorn horn” was worth ten times its weight in gold. The allegendly unicorn horn in the Middle Ages was actually the narwhal’s ivory. The narwhal tusk is actually the left front tooth of the male which projects up to 3 meters; the length is dependant on the whale and the age.

The tusk of the narwhal was sold by Vikings and other northern traders as the horn of the legendary unicorn which were considered to have magic powers. Reportedly, during the sixteenth century, Queen Elizabeth purchased a narwhal tusk for the cost of ten thousand pounds – the cost of a castle. The tusk was used as her scepter.

The tusk is believed to be a integral part of the mating process, as the males have often been seen crossing tusks during mating season, as well as using them during fighting for dominance and the right to mate with the female narwhals. Female narwhals have a shorter, and straighter tusk.

Even though the tusks grow with age, there is currently no reliable way of determining the age of a narwhal. The spiral tusks are now high priced. Longer tusks fetch higher price: A nine-foot specimen in prime condition may earn $2,000 for a hunter, then $5,000 for a retailer.

The narwhal whale is able to produce a calf once every 3 years with a 15-month gestation period. Newborn calves are dark blue-gray, but as they mature the back transforms to an olive brown and begin to develop the spotting which is most often seen in adults narwhals. Narwhals calves are usually born in July and are rarely born outside deep bays and inlets and remain with the female narwhal for up to twenty months after they are born. As adults the calves can grow to become 4.6 meters and weigh up to 1600 kilograms, if male. The female of the species can grow up to 4 meters and weigh up to 1000 kilograms.

Narwhals are generally seen in groups of twenty to thirty with varying combinations of male, female, and claves. Narwhals can be mainly found in the Atlantic and Russian portions of the Antarctic. Individual narwhals are sometimes seen in the northern portions of the Hudson Bay and Strait, as well as the Baffin Bay, off of the eastern coast of Greenland, and in a relatively narrow area running along the northern end of Greenland to eastern Russia.

The narwhal whale population is estimated to be around 40,000, but has also been suggested to be as high as 50,000 individual whales.

Narwhals, being migratory, travel close to the coasts during the summer months, and travel farther away as the winder freeze starts to set in, and spend their winters in packed ice, and thrive in leads and small holes in the ice. Naturally, the return of the narwhal is a long-anticipated event in the Canadian Arctic. After months of darkness and temperatures as low as minus 40 degrees Fahrenhait, winter gives way to spring, and the sea ice covering Lancaster Sound begins to splinter. Open stretches of water, called leads, become travel lanes for the small whales as they follow the retreating sea ice toward their ancestral summering grounds around Baffin Island. Narwhals parade past in pods of eight or ten, then in grand procession of hundreds.

Narwhals became the part of Inuit hunting culture back to years ago. Now it is more of the social needs for food (its fat, flesh) and shelter (its skin), and trade (all parts including the precious tusks) since the consumptive way of life also spreads to the Inuit ice culture. But due to uncontrolled hunting these animals are endangered now.

(Various sources)

PENYIAR

PENYIAR

Sepulang kantor saya biasanya segera menghidupkan radio (maklum gak punya tivi) dan mendengarkannya sambil menyelesaikan tugas hari itu, mulai ganti baju hingga menyelesaikan pekerjaan kantor yang kadang harus diajak pulang sebagai teman ronda malam.

Ada seorang penyiar yang suaranya terdengar sangat merdu dan menenangkan. Dia seperti mempunyai sebuah power yang menarik hati pendengar untuk betah menjadi kambing congek hingga tengah malam saat dia mengucapkan kata “Bye-bye”.

Lagu-lagunya tidak terlalu spesial karena bisa didengarkan di stasiun manapun. Coba simak:

  1. Terbalik oleh Delon
  2. Sadis oleh Afgan
  3. Satu Jam Saja oleh Asti Asmodiwati
  4. Firasat oleh Marcel
  5. Cinta Sejati oleh Ari Lasso
  6. Kirana oleh Dewa

Biasa-biasa saja bukan? Memang kekuatannya adalah pada penyiar yang membawakan acara tersebut. Sehebat apapun lagunya kalau bukan dia penyairnya saya akan segera meninggalkan gelombang tersebut dan mencari “pengganti” yang benar-benar berbeda, bisa jadi malahan saya loncat ke radio yang sama sekali tidak berlagu kecuali jingle iklan.

Penyiar itu selalu sabar dan menguatkan mengomentari curhat-curhat para pendengar yang beragam; mulai dari kangen suami yang tugas jauh hingga dalam keadaan hamil ditinggal pacar yang ternyata punya istri.

Saya berpikir bahwa penyiar ini adalah orang ter-happy sedunia karena begitu sempurnanya petuah dan komentar yang dilontarkannya pada pendengar yang berinteraksi baik melalui telepon maupun sms dan email. Saya sangat terkesan pada penyiar terutama pada penyiar ini.

Saya juga pernah berpikir bahwa penyiar adalah selalu orang yang paling sedikit masalahnya sehingga bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah atau paling tidak meringankan beban mental yang ditanggung oleh si pencurhat yang sedang on-air. Tahu tidak, saya dulu pernah bermimpi jadi penyiar ha ha ha… Namun, pikiran saya itu telah runtuh segera setelah mengetahui bahwa teman saya yang tak sedikit masalahnya menjadi penyiar di kota tempat saya sekarang bermukim.

Saya pernah diajak ikut siaran sebagai nara sumber pura-pura, daripada nggak ada teman ngobrol katanya. Saya mau, untuk menjawab mimpi saya yang pernah ada di masa lalu tersebut. J

Sekarang saya telah berubah pikiran. Mungkin justru dengan banyak masalah itulah teman saya ini menjadi penyiar. Untuk menghibur diri, untuk meratap tanpa terlihat bahwa dia sedang mengalami masalah itu atau apapun itu yang pasti saya berkesimpulan bahwa penyiar yang baik adalah yang dapat “menyimpan” perasaan pribadinya setiap sedang bertugas kendati hati rasanya mau meledak ketika pendengar ternyata curhat masalah yang sama dengan yang sedang dialaminya.

Penyiar, terima kasih telah menjadi teman saya. Semoga masalahmu juga segera terselesaikan dengan baik. Amin.

Mau tahu stasiun radio favorit bintang 5 versi saya:

  1. Female Radio (Mas Rudi Dahlan mantap deeeeh)
  2. Delta FM (Mas Farhan dan Mbak Shahnaz euy)
  3. Pesona FM (lagu-lagunya pas di hati saya…)
  4. Prambors (Ary Daging & Desta, kalian hebat!)
  5. RRI (Pro 1, Pro 2, Pro 3, Pro 4, Pro 5, Pro 6… Jaya selamanya)