STRAWBERRY SHORTCAKE

Cuppycake

You’re my hunny bun, sugar plum, pumpy upmy upmy upmkin.

You’re my sweetie pie.

You’re my cuppy cake,gumdrop,shyummkums pure,

The apple of my eye!

And I love you so, and I want you to know that i’ll always be right here.

And I love to sing this song to you

Because you are so dear!

LIFE… the meaning

Link

SEASON OF LIFE
There was a man who had four sons.
He wanted his sons to learn not to judge things too quickly.
So he sent them each on a quest,in turn,to go and
look at a pear tree that was a great distance away.
The first son went in the winter,
the second in the spring,
the third in summer,
and the youngest son in the fall.
When they had all gone and come back, he called them together to describe what they had seen.
The first son said that the tree was ugly, bent, and twisted.
The second son said no it was covered with green buds and full of promise.
The third son disagreed; he said it was laden with blossoms that smelled so
sweet & looked so beautiful, it was the most graceful thing he had ever seen.
The last son disagreed with all of them; he said it was ripe and drooping with fruit, full of life and fulfilment.
The man then explained to his sons that they were all right, because they had each seen but only one season in the tree’s life.
And that the essence of who they are and the pleasure, joy, and love that come from that life can only be measured at the end, when all the seasons are up.
If you give up when it’s winter,
you will miss the promise of your spring,
the beauty of your summer,
fulfilment of your fall.Don’t l
Don’t judge life by one difficult season.
Persevere through the difficult patches and better times are sure to come some time.
Aspire to inspire before you expire.
Live simply love generously.
Care deeply.
Speak kindly.
Leave the Rest to God.
Happiness keeps you Sweet.
Trials keep you strong.
Failures keep you humble.
Success keeps you Glowing.
But Only GOD keeps You Going

Chat & Trainer

CHATTING DAN TRAINER

Di kantor kami chatting via online messenger sudah menjadi alternatif untuk berkomunikasi di kantor walaupun sebenarnya kami hanya berjarak satu sampai empat meter, notabene bisa saja kami “nyamperin” teman kerja dan kemudian mengutarakan apa maksud kita kepada beliau. Pada kenyataannya kadang kami tidak mau beranjak dari kursi kami.

Mengapa sebegitu ekstremnya cara kami berkomunikasi ini? Saya baru menyadari bahwa kami ini manusia-manusia yang kadang terlalu merasa sibuk dengan diri sendiri sehingga untuk menyapa orang lain pun kami tidak mau menunjukkan sisi kemanusiaan dengan menyapa manis, bukan basa-basi emoticon senyum atau tawa yang bisa dibentuk dengan tanda “titik dua”, “setrip”, “kurung tutup”, atau huruf D.

Mau tahu alasannya yang spesifik?

  1. Kadang kami membutuhkan satu orang saja untuk membantu kita dan takut mengganggu orang lainnya sehingga kami perlu menyapa satu pribadi ini secara khusus.
  2. Pembicaraan kami memang bersifat pribadi atau rahasia.
  3. Kami sungkan sama trainer kami yang memang kurang suka kami ngobrol selagi kerja dengan alasan sangat logis: takut kerjaan tidak beres.

Dan alasan inilah yang kami legalkan untuk ber-chatting ria sesama orang kantor lokal. Kami yang pengecut ini memilih untuk menjadi manusia bisu selagi ngobrol dan budheg selagi mendengarkan. Kami “menyetorkan” segudang kata tanpa merasa perlu menyentuh sisi “fisik” lawan bicara kami.

Lama-lama ketahuan juga bahwa kami ini suka chatting hal kantor tapi tentu saja diselingi sambil melempar simbol-simbol yang kai dapatkan dari teman-teman yang ujungnya kami tertawa-tawa dan disangka tidak sedang bekerja keras. Maka sindiran-sindiran mematikan dari sang trainer. Dan apakah kami berhenti chatting?

Tidak!

Kami tetap chatting dengan topik yang tidak hanya tentang hal kantor dan sedikit curhat masalah pribadi melainkan ngegosipin sang trainer. Chatting tentang trainer inilah yang justru sangat seru karena membuat kami merasa tidak bersalah. Bagaimana tidak merasa bebas “dosa”, lha wong kami selalu bilang begini:

Ah, dia juga chat kok. Aku pernah lihat dia lagi chat sama teman es em a dia. dia juga suka ketawa-ketawa sendiri. Bunyi keyboard dia kan kenceng banget. Kita malah sopan, ngetiknya dipelanin…

Halah, siapa bilang dia gak chat. Denger gak dia dengan semangat nyeritain Che dan nasehat-nasehat dia… Emangnya cuma trainer yang boleh chat.

Cuek aja lah. Yang penting kerjaan selesai. Dia kan iri karena gak bisa ngobrol lebih bayak kayak kita yang dibawah sini.

Garing kaleeee gak boleh chat. Emangnya pacarku disuruh datang kesini tiap makan siang?

Kami seperti sekawanan srigala kelaparan melihat kambing gemuk pada saat ngomongin chat dan trainer kami yang sedang galak. Kami ini bukannya ngomng baik-baik tapi malah menganggap apa yang dilakukan trainer adalah stempel HALAL bagi “kenakalan” kami.

Andai saja trainer kami tahu bahwa saya ngomongin dia di Multiply ini, mungkin Multiply saya juga akan dia obrak-abrik ha ha ha… Maaf ya Bos Trainer J

KECOPETAN

Ponsel tersayang saya dicopet.

Type: Nokia 6630, full dengan segala macam info penting dan curahan hati yang mengiris jiwa

Waktu: Minggu, 6 Juli, 2008 waktu Asar

Lokasi: Ankutan Roda Niaga jurusan Cengkareng-Serpong arah Cengkareng, di sekitar PLN Tangerang.

Modus operandi: Seorang bapak umur 40an (yang seharusnya sudah tidak pantas lagi jadi copet, pantersnya jadi merbot masjid) yang merokok pura-pura memadamkan api rokok yang pura-pura terbang ke kerudung saya. Sambil minta maaf dia dan 2 orang temannya terus berusaha membuat saya sibuk dengan kerudung saya dan beraksi mengamibl ponsel yang saya simpan di kantong tas depan. Saya sendiri dengan bodohnya marah-marah memarahi bapak yang cerdik itu karena dia merokok di kendaraan umum.

Hikmah:

1. Jangan percaya pada orang yang mengatakan kerudung atau baju atau apappun bagian pakaian Anda terbakar api rokoknya sampai badan Anda benar-benar terasa terbakar karena api. Dan… Kalau ada orang merokok di kendaraan umum tabokin saja.

2. Copy semua contacts Anda di komputer atau buku alamat sehingga tidak terjadi kehilangan seperti saya. hilang 500 kontak…

3. Jangan bengong apappun alsannya, dimanapun tempatnya…

4. Saya beli ponsel Nokia type yang lebih bagus… utang di kartu kredit nambah besar. Makin rajin bekerja

Oke… Alhamdulillah, karena saya kurang sedekah saya kecopetan.

GURU SAYA – 3

GURU SAYA – 3

Tulisan ini hanya cuplikan bebas dari sebuah diskusi informal di sebuah kelas yang diajar oleh seorang manusia yang lupa diri. Kurang menarik tapi bisa bermanfaat besar jika direnungkan dalam-dalam.

Masih bicara tentang guru. Kali ini saya tidak akan bicara tentang guru saya yang hebat-hebat itu. Saya akan bicara tentang diri saya sendiri. Saya juga seorang pengajar di sebuah institusi kebanggaan daerah saya. Bangga karena menjadi yang tertua. Bangga karena menjadi yang pertama. Bangga karena menjadi bukan apa-apa.

Saya dibayar untuk mengajari siswa-siswa saya mengerti bahasa asing sekaligus memahami karya sastra yang diproduksi oleh penutur asli bahasa asing tersebut dan atau karya sastra yang ditulis dalam atau diterjemahkan kedalam bahsa asing tersebut. Bersyukur saya dulu pernah kuliah di Fakultas Sastra jurusan Bahasa & Sastra Inggris dan saya mengambil sastra sebagai keahlian khusus saya walaupun pada akhirnya kebanggaan saya belajar sastra menjadi blunder bagi saya.

Ada sebuah paradigma yang pernah saya percaya hingga saat ini dan rasanya sudah kurang relevan lagi untuk saya pertahankan. Saya merasa bahwa siswa-siswa saya harus menghormati saya lebih daripada pihak manapun di lembaga ini. Saya ini pengajar. Saya in yang memberi mereka ilmu. Saya ini yang membuat mereka pinter dan ngerti. Saya ini YANG MEMBERI MEREKA NILAI. SAYA INI YANG MENENTUKAN LULUS TIDAKNYA MEREKA. SAYA ADALAH PENENTU MASA DEPAN MEREKA. Maka… Saya harus menunjukkan OTORITAS saya sebagai PENGAJAR termasuk didalamnya OTORITAS BERPIKIRRRRRRRR!!!

Saya

:

Hari ini kita diskusi saja. Banyak hal dalam sastra yang lebih pas diomongkan bersama daripada dipahami dengan komunikasi satu arah.

Siswa

:

Wah, padahal kami berharap Miss bisa menjelaskan sesuatu pada kita hari ini. Kami ada pertanyaan tentang sastra tapi sebenarnya bukan materi Miss. Ini materi pengajar lain.

Saya

:

Lho, lho, lho. Bagaimana mata ajaran orang lain ditanyakan pada saya? Nanti kalau salah saya yang kena lagi. Kita diskusikan saja topik kita sendiri.

Siswa

:

Miss, bagaimana kalau hari ini kita diskusi bebas saja. Apapaun tentang sastra.

Saya

:

Boleh, boleh…

Siswa

:

Menurut Miss apakah nilai sastra universal?

Saya

:

Bisa y, bisa tidak.

Siswa

:

Mengapa ada dua jawaban?

Saya

:

Karena selalu ada dualisme di dunia ini.

Siswa

:

Apakah dualisme ini mengarah pada suatu kesatuan atau memang dikotomi nilai yang tak pernah bisa ditunggalkan?

Saya

:

Dua. Selalu ada dua.

Siswa

:

Menurut saya tidak, Miss. Sastra bernilai uniersal dan mengarah pada satu nilai yang jelas dan harus bisa ditunggalkan.

Saya

:

Bagaimana penjelasan kalian bisa masuk akal?

Siswa

:

Bagaimana Miss membuat penjelasan Miss masuk akal juga?

Saya

:

Jelas, ada sastra yang menggiring seseorang terhadap terhadap nilai buruk. Ada juga karya yang menggiring seseorang pada nilai baik dan disinilah dua buah nilai yang bertentangan yang diusung oleh suatu karya sastra tidak dapat ditunggalkan. Kedua nilai yang bertentangan akan selamanya berseberangan.

Siswa

:

Berarti Miss menilai sesuatu dari nilai yang sangat rapuh. Pondasi berpikir Miss adalah keterserakan yang mengarahkan Miss sendiri kepada suatu pola berpikir yang berantakan. Dan pola pikir yang berantakan itu membuat Miss meyakini bahwa kejahatan adalah satu dan kebaikan adalah hal yang lain. Pernah Miss Rike berpikir bahwa ternyata sastra buruk dan sastra jelek berangkat dari sebuah paradigma berpikir yang satu?

Saya

:

Ya, saya memahami bahwa sastra adalah sebuah kristalisasi dari pengalaman batin manusia digurat dalam lontar kehidupan dan dicetak untuk populasi tertentu sebagai sebuah proses pencarian diri baik secara fisik maupun mental.

Siswa

:

Bukan hanya itu. Kalau memang seperti itu, Miss nantinya akan mengarahkan kepada sastranya orang jahat dan sastranya orang baik. Seberapa dalam Miss meyakini bahwa sastra memang berangkat dari rangkaian keindahan? Bahwa sastra adalah bentukan kekeruhan yang berevolusi menjadi kebeningan seperti batu tua bertransformasi menjadi berlian? Bahwa sastra yang jorok sekalipun adalah perwujudan syukur terhadap pengalaman hidup yang pantas dihargai baik secara materi maupun immateri?

(Saya bingung menghadapi siswa satu ini. Anaknya ndhak ngawaki tapi sangat kritis pada saat tertentu sampai-sampai kami beranggapan bahwa dia ini edan tahunan. Saya merenung sebentar tapi terinterupsi oleh ledakan komentar sang siswa tersebut)

Siswa

:

Miss, saya tidak mengerti kenapa Miss Rike bisa bingung begini. Padahal semua ide saya itu adalah ide yang saya hapal diluar kepala dan sangat saya terima sebagai sebuah cara berpikir yang bijaksana dan masuk akal tetapi penulisnya sendiri ternyata sekarang berubah pikiran…

(Saya makin bingung.)

Siswa

:

Miss, itu kan ada di artikel sastra Miss Rike tahun lalu??? Ah… Masa lupa sih??? Inilah yang saya suka dari Miss Rike. Sangat suka tantangan dan berusaha memahami sesuatu dari sudut pandang yang bervariasi. Salut, Miss!!!

Lama-lamat saya dengar seseorang melapor pada si gila berkata bahwa artikel itu memang pernah dia baca tapi dia lupa-lupa ingat. Siswa yang lain saling melempar tanya.

Saya tidak bangga dipuji si gila itu. Saya malu. Saya tertampar. Saya terkapar. Saya menyadari kesombongan intelektual saya. Saya berpikir tanpa berpikir. Sebelum bicara saya telah berpikir tapi sebelum proses berpikir itu saya lupa berpikir. Berpikir yang pertama adalah proses mengingat, mengingat apa yang telah saya pahami dan yakini sebelumnya. Berpikir kedua adalah merangkai metode untuk menyampaikan baru kemudian bicara.

Jika saya berpikir sebelum berpikir maka bicara saya akan konsisten karena saya ingat bahwa saya pernah berbicara begini begitu. Atau paling tidak saya ingat bahwa cara berpikir semacam ini adalah evolusi dari cara berpikir saya yang dahulu…

Duh… akal saya sudah tumpul karena “nafsu” berlogika yang saya kebut selama saya “berhadap-hadapan” dengan para penuntut ilmu ini. Saya hanya berdebat, berdebat dan berdebat tanpa memikirkan bahwa keinginan menang debat itu akhirnya membuat saya tidak konsisten dan tidak berpikir jernih. Saya bingung mau jawab apa. Masak saya bilang tidak ingat pernah menulisnya… Malu laaaaar… tapi saya juga tidak sudi berbohong.

Hanya bel yang menjerit keras saja yang menyelamatkan saya dari cengkeraman denawa (raksasa) rasa malu dan bersalah. Untuk mengubur rasa tak berharga yang mungkin sama sekali tak tercium oleh siswa-siswa saya itu saya segera menugaskan mereka untuk membaca paling tidak tiga cerpen yang ditulis oleh Guy de Maupasant dan membuat komparasi dan apresiasi singkatnya mulai dari tema, karakterisasi, plot, setting, simbol, ironi dan apapun yang menarik menurut nilai-nilai yang mereka yakini. Tugas ini memberatkan mereka walaupun mereka mengaku menikmatinya. Saya dan mereka tahu. Tapi, mereka tidak tahu betapa beratnya saya menanggung malu baru saja.

Sungguh saya pernah menjadi guru yang tak tahu diri. Sekarang saya menjadi lebih arif menilai diri saya dan orang-orang yang saya “ajar”.

Wahai para guru, marilah kita menjadi siswa. Jadilah guru bagi dirimu sendiri…

BERPIKIR TERLALU BERAT

BERPIKIR TERLALU BERAT

Tadi saya ngobrol per telepon dengan karib saya yang sedang dalam perjalanan dari Bandung ke Tangerang. Kami berdiskusi tentang tujuan hidup.

Tujuan hidup. Dia menanyakan apa tujuan hidup saya. Saya bingung. Bukan karena saya berpikir. Saya berpikir seperti searching data di drive otak saya. Dan menemukan bahwa tidak ada hasil pencarian. Ternyata Sudara, saya tidak punya tujuan hidup MUNGKIN.

Justru sekaranglah saya berpikir tentang tujuan hidup saya.

Apakah saya ingin mengejar materi sebanyak mungkin?

Apakah saya ingin menjadi orang yang handal dalam bidang saya?

Apakah saya ingin menjadi orang baik? (Kata teman saya ini terlalu general)

Lalu saya berpikir lagi apakah saya ingin mati dikenang baik?

Apakah-apakah yang lain bermunculan dan justru membuat saya makin tidak yakin apakah saya ini mempunyai tujuan hidup yang tepat atau tidak. Saya berpikir terlalu keras sehingga tidak terasa sudah tengah malam dan saya tidak melakukan apa-apa selain termenung memikirkan tujuan hidup saya.

Ketika saya memutuskan untukberhenti memikirkannya, saya mendapati tulisan saya tidak selesai. Saya menghabiskan waktu saya untuk memikirkan tujuan hidup sehingga beberapa sms urgent tidak terbalas tepat waktu. Saya juga lupa mandi sore. Saya juga lupa bahwa gerbang depan harus segera dikunci. Saya juga terlambat memberi makan Tesie, kura-kura saya.

Gara-gara berpikir berat tentang tujuan hidup saya justru lupa bahwa saya sedang hidup dan perlu menunaikan banyak hal tanpa berpikir berat. Saya juga lupa bahwa saya lupa tidak bertanya pada karib saya apa sebenarnya tujuan hidup dia sendiri.

Ternyata tujuan hidup saya yang sangat pasti adalah terus mengingat tugas-tugas saya dan menunaikannya sebaik mungkin.

NEW CATERER

NEW CATERER

Now I must bring two big bags everyday. It’s been one week exactly. One is for my notebook and official stuff. The other is for my friends’ lunch and mine. What’s up?

I am a kind of courier for my colleague. They asked me to “cater” their lunch when they learnt that my lunch box has been a culinary miracle for them. I don’t cook my own lunch. I bring my lunch cooked by Ibu Prayogo. She is a neighbour nextdoor of mine, a widow with three children. Her cooking is excellent and the most importantly free of MSG. Once Sapto, our culinary prodigy, admitted that the “ayam goreng bumbu Cirebon” was great, the whole pack agreed to make me their lunch caterer.

I am not really a caterer since I only pack their lunch in a backpack, “ship” them to office everyday without taking any IDR or USD from them. All money goes to ibu Prayogo. Honestly, I have got a bowl of vegetables soup for bonus; she knows well I love it the best.

Frankly it is an additional load but I am happy to find that my colleagues eat healthier food – no MSG. I am also thinking of offering the many kinds of juices made by Tiwi, Ibu Prayogo’s daughter, but I am not sure. I am not sure that I can bring another bag. I can’t imagine that I will have to bring a work bag on the left shoulder, lunch on my back then another totebag at my right hand.

All this time Ibu Prayogo has been a successful chef of the following recipes (in Indonesian):

  1. Ayam goreng bumbu Cirebon
  2. Ayam pop
  3. Ayam bumbu Bali
  4. Ikan bawal bakar bumbu santan
  5. Sambel mentah
  6. Sambel terasi
  7. Tahu putih goreng setengah matang

I want to show you my additional activities now:

At 6:30am I load the lunch wrapped traditionally using banana leaves inside and paper as the outer wrap. Then, together we un-load the lunch at lunch break. After that we discuss the next day’s menu to be sms-ed to Ibu Prayogo. My colleagues agreed to not order more than two kinds of food only so that it is easier for our excellent cook to cover her job.

Wow, wow, wow… Look at me, I am the new caterer…

GURU SAYA – 2

GURU SAYA – 2

Guru berserakan dalam perjalanan kehidupan saya. Berpuluh, beratus, beribu atau mungkin juga berjuta guru telah mengajari saya ilmu sehingga saya berada berada di level kesadaran yang seperti sekarang ini. Saya masih sangat bodoh dalam perjalanan ini dan saya tidak pernah menyalahkan guru saya. Bukan guru saya yang bodoh bahwa saya tidak pandai. Bukan guru saya yang kurang mumpuni bahwa saya ini tidak berkualitas.

Saya memiliki guru-guru yang tak terkatakan ilmunya namun saya tetap saja menangisi kebodohan saya. Saya masih juga meratapi kejahilan saya.

Boleh percaya atau tidak. Yang saya namakan guru bukan hanya semacam Ibu Dosen yang orang Madura itu saja (Silakan Sudara baca tulisan GURU SAYA – 1). Simaklah pengalaman saya yang sangat memalukan namun mencerahkan ini.

Pelajaran yang kami terima cukup berat, Nahwu Sharaf. Namun sederhana. Sederhana? Ya. Karena beliau tidak mengharuskan kami untuk menghafal seperti pada umumnya pelajaran grammar-nya bahasa Arab ini. Kami hanya diwajibkan untuk mendengar, mencatat jika merasa perlu dan harus berani bertanya jika tidak mudheng. Jika mau menghafal itu adalah nilai ketulusan kami. Dan mau tak mau kami menghafal juga walaupun cepat juga hilang hafalannya. Sekarang ini tidak ada satu wazan pun yang masih saya ingat kecuali satu itupun salah: fa’ala-yaf’alu-fa’lan-wadzaka-faa’ilun. Dasar bodoh!

Selama setahun penuh kami belajar kepada beliau, tanpa biaya. Dengan suka rela beliau berbagi apa yang beliau pahami dengan kami supaya kami dapat mengaplikasikan apa yang benar-baik-indah untuk kehidupan kami. Beliau memang lebih banyak membahas arti “akar kata” bukan hanya pemakaian kata dalam kalimat. Jadi kami memang belajar makna hidup lewat makna akar kata. Beliau mengupas ayat dan hadits per kata bahkan tak jarang per huruf. Tiap huruf ada maknanya, tiap tanda baca ada kandungannya, semua tak ada yang sia-sia. Kami (saya; Dhiana, saat itu masih SMA; Bu Rogaya, ibunda Dhiana; Pak Saring, seorang pedagang asal Cirebon; Pak Sanip, buta mata fisiknya namun mata batinnya bisa menelanjangi Anda!!!) kadang terseok-seok.

“Dikit-dikit aja ngartinya. Yang penting ekhlash. Sukur-sukur ngartinya cepet hatinya ekhlas. Iya pan, Ji?” Dialeknya tak bisa menipu bahwa beliau memang Betawi asli. Ji (kependekan dari haji) adalah panggilan akrab guru saya pada Pak Haji Masrukin yang rumahnya menjadi tempat nyantri kami setiap malam Minggu.

Sebuah pelajaran yang masih sangat saya ingat tentang kebodohan kami adalah sebuah percakapan terakhir kami sebelum guru kami tercinta ini “mengundurkan diri” tak bisa mengajar dengan sebuah alasan yang tak beliau sebutkan walaupun kami paksa.

“Pak, kami kan bodoh, jangankan mengerti Nahwu Sharaf dan hafal Al Qur’an, mengaji saja kami masih grathul-grathul (terbata-bata). Bagaimana bisa tahu bahwa ini ayat atau hadits atau atsar atau syair Arab atau malahan kalimat tiada arti? Apalagi sebentar lagi kami sudah sulit bertemu Bapak.”

“Ya, susah sih orang kagak ngarti mau dibohongin gampang banget,” jawab beliau dengan santai membuat saya malu. Untung tawa teman-teman segera menyelamatkan saya. Bayangkan kalau mereka diam pasti saya makin blingsatan.

“Terus bagaimana ya, Pak? Bisa-bisa kita nggak pernah tahu bahwa yang kami baca adalah kitab palsu.” Maju tak gentar bertanya terus membela rasa malu.

“Gampang…”

“Kan bodoh, Pak. Gampang gimana?”

“Pan ada stempel pemerentah. Depag ngesahin itu kitab. Aman pan?”

“Kalau bukan produksi Indonesia?”

“Makanya belajar Nahwu Sharaf yang bener secara makna akar kata, ntar lama-lama bisa dah ngebedain mana yang asli mana yang palsu. Satu huruf lam-alif beda cara nulis aja sebenernya udah bisa dibilang kagak asli. Suara panjang “a” pake alif di belakang atawa fattah diri (berdiri, maksudnya) aja udah bisa beda. Hati juga kudu bersih buat nyetir Nahwu Sharaf-nya.”

“Aduh susah, Pak.”

“Lhah napa susah? Sapa yang bikin susah?”

“Lho kalau kita kan nggak sepinter Bapak yang bisa membedakan makna lam-alif yang beda makna karena beda nulisnya.”

“Yang bikin susah pan kamu sendiri.”

“Gimana sih Bapak ini?”

“Siapa tadi yang nanya?”

“Saya.”

“Siapa yang ngerasa susah?”

“Saya.”

“Nah, tuh. Makanya jangan banyak nanya. Baca aja terus. Mau kitab palsu kek, mau asli kek. Kamu pan kagak tahu artinya. Lempeng aja yakin sama Allah. Inget, baca bismillah dulu baru dah ngaji. Emang situ mau jadi ahli mbedain kitab asli ama yang palsu?”

“Ya… enggak sih, Pak. Tapi kan pengen tahu.”

“Buat apa?”

“Ya biar tahu aja buat diri sendiri. Siapa tahu suatu saat ketemu yang palsu.”

“Neng! Kalo elmu cuma mangfaat buat diri sendiri, tinggalin dulu dah. Cari noh elmu yang mangfaat buat orang banyak. Contohnya saya dah. Saya ngajar ginian juga kalo muridnya ekhlash. Kalo muridnya mau jualan ayat pake ceramah biar digaji bejuta saya juga kagak sudi. Mending saya nyapu jalanan Jekarta sampe bersih, ketauan mangfaatnya. Jalanan bersih, ati juga bersih, dapet duit.”

“Jadi baca aja gitu, Pak? Tanpa peduli asli apa nggak?”

“Gini nih saya ajarin bodo-bodoan. Cari Quran stempel Depag, baca bismillah, ngaji dah, istiqomah ya. Jangan nyusahin diri. Lempeng aja hidup ini. Kerjain yang bisa, ekhlash. Yang susah-susah jangan ditanyain, ntar puyeng sendiri.”

“Yah, dosa dong…”

“Mana kata dosa? Orang kagak tahu ya kagak dosa… pan udah pernah kita bahas yang termasuk kagak kena beban itu ada tiga golongan: orang gila, orang lupa ama orang kagak tahu. Eneng mah kebanyakan nanya jadi bingung sendiri…”

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… Sebel, sebel, sebel… Malangnya jadi si pandir.

Lihatlah, Sudara. Guru kami mengajari kami untuk berpikir sederhana dalam konteks keikhlasan dan justru itulah yang membuat kami menghargai hidup. Lagi-lagi, kadang ingat, sering lupa, saking bodohnya.

Sampai ketika kami tidak diajar lagi oleh beliau, kami tidak pernah tahu bahwa beliau memang hanya Tukang sapu jalanan Jekarta. Pak Haji Masrukin lah yang menyampaikannya dua minggu kemudian. Pada saat yang sama Pak Haji Masrukin menyampaikan alasan kenapa beliau tidak bisa mengajar kami lagi sejak malam Minggu yang telah lewat.

Rumah beliau (yang secara gambaran adalah sangat sangat sangat sederhana sekali) digusur dan beliau harus pindah ke tempat yang jauh dan agak sulit bagi beliau untuk datang mengajar kami. Kami berpikir bahwa memang hanya sebatas itulah kami dipertemukan dengan beliau.

Saya bersyukur pernah berguru pada teman seperguruan Buya Hamka. Walaupun tak setenar Buya Hamka namun kami menyaksikan kedalaman “elmu”-nya dan merasakan sejuknya keikhlasannya dan keluhuran budinya.

Ah, kenapa saya begitu pelit pada guru? Kenapa guru begitu pelit untuk mengeluh? Kenapa Pak Haji Masrukin tidak memaksa kami membantu “mengongkosi” guru kami? Mengapa mutiara itu tak lama kami genggam?

Siapa nama beliau saya pun tak ingat karena kami hanya memanggilnya Pak, Pak, Pak.

Dimana Bapak sekarang?

Matur nuwun sanget, Pak. Mugi Gusti Allah paring kawilujengan. Amin.

MEMBATIK LAGI

MEMBATIK LAGI

Sudah setahun lebih saya tidak memegang canting. Selama itu saya berkutat dengan kesibukan yang tidak bisa saya ungkapkan secara terperinci. Yang pasti selama kurun waktu itu saya membiarkan kompor kecil saya kering sumbunya, wajan tembaga saya penuh dengan malam beku dan canting saya buntu sama sekali.

Saya ingin membatik lagi. Dulu saya membatik bisa sampai pagi. Saya tidak peduli walaupun saya harus membatik di teras luar supaya asap tidak mengganggu pernafasan di dalam ruangan. Saya tidak peduli bahwa malam itu bisa saja maling celana sedang gentayangan,. Saya tidak peduli pada makhluk-makhluk lain yang sejatinya sedang menggoda saya dengan rupa yang berbeda-beda, dari tikus, cicak, kecoa, laba-laba, semut merah dan yang berpakaian compang-camping atau berpakaian kerajaan menembus dinding… Apa itu ya…

Karya batik saya sudah ada beberapa lemabr baik yang telah sempurna proses pembuatannya maupun yang belum diwarnai atau belum dicanting sebagian atau baru dipola. Semua itu membuat saya terpacu untuk menyelesaikan tugas saya. Tugas saya adalah menyempurnakan karya saya. Saya tidak mau karya saya terbengkalai sebelum purna usia. Apapun tugas dan karya saya yang belum tuntas saya anggap hutang. Dan hutang saya harus terbayar sebelum saya meninggal. Batik saya harus jadi dalam waktu dekat.

Satu batik yang akan segera saya kerjakan adalah sebuah selendang sutera yang ingin saya persembahkan pada ibu saya Lebaran ini. Cantik sekali polanya. Saya membayangkan alangkah cantiknya ibu saya mengenakan selendang sutera pada saat shola Id.

Ok, yang penting sekarang saya telah memiliki waktu lagi untuk membatik. Membatik seperti tidka jauh berbeda dengan kegemaran saya menggambar dan melukis namun jujur adanya membatik membutuhkan kesabaran ekstra. Saya tak heran jika setahun ini saya merasa kesabaran saya tidak sebagus ketika saya aktif membatik.

Ternyata kesabaran bukanlah sebuah kata benda yang dapat kita peroleh begitu saja. Kesabaran adalah buha latihan bersabar dalam kehidupan sehari-hari.

Duh, saya ingin membatik lagi…

GELANG DI PERGELANGAN TANGAN

GELANG DI PERGELANGAN TANGAN

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat dan membahas keberadaan gelang kristal yang melingkar di pergelangan tangan beberapa orang terkenal yang dia jumpai.

Kata karib saya ini orang-orang tersebut adalah orang yang akan “mentransfer” energi positif mereka ke kristal-kristal yang terangkai menjadi gelang tersebut. Jadi pada kristal itulah mereka “menyimpan cadangan” energi positif mereka. Ide yang brilian.

Saya sangat tertarik utnuk mempraktikkannya mendapati bahwa saya adalah orang yang secara sadar setiap saat belum mampu menyelubungi tubuh saya dengan energi positif. Saya perlu menimbun energi positif yang datang pada saat tertentu saja ini pada sebuah benda sehingga saya bisa “manarik tunai” jika saya kehausan energi positif.

Sahabat saya ini tidak menyebutkan secara pasti apa jenis kristal yang dironce menjadi gelang tersebut. Maka dengan kreativitas dan knowledge saya sendiri saya meronce batu yang selama ini telah saya kenal dan saya punya.

Saya memiliki 2 gelang batu muliayaitu: satu roncean colour stones dan satu lagi amethyst diselingi mutiara air tawar. Batu-batu mulia tersebut berasal dari Kalimantan.

GELANG AMETHYST

Amethyst disebut juga batu kecubung yang saya rangkai berwarna ungu muda hingga ungu tua. Karena beberapa hal saya hanya bisa mendapatkan serpihan-serpihan kecil yang sebenarnya merupakan sampah-sampah kecubung dari kecubung besar yang diasah dengan ukuran besar dan utuh. Serpihan kecubung itu saya selingi dengan 8 butir mutiara air tawar kecil. Saya meronce gelang amethyst ini dengan perhitungan yang cukup njelimet. Saya memilih amethyst karena saya adalah Virgo yang disarankan memakai amethyst sebagai gemstone sesuai karakternya. Amethyst adalah lambang keanggunan, keberuntungan. Lalu mutiara adalah tumpukan residu yang membatu karena ketabahan sang kerang menerima “cobaan” eksternal. Media untuk meroncenya adalah tali senar yang melambangkan kekukuhan yang bening dan lembut. Pembukanya adalah logam berwarna perak yang melambangkan kesederhanaan.

Gelang ini tidak saya maksudkan untuk memiliki daya magis keberuntungan atau supaya saya terlihat anggun. Gelang ini bukan pengasihan. Definisi-definisi dari sifat dan pamor batu diatas saya rangkai menjadi gelang yang diharapkan menjadi perlambang yang selalu saya ingat ketika saya memandang dan memakainya. Saya memvisualisasikan permintaan untuk selalu tampil anggun (tentunya dengan berdandan secara wajar setiap hari), beruntung dan selalu tabah menjalani segala cobaan yang menempa saya. Saya memilih jumlah 8 untuk mutiara saya karena angka 8 adalah angka dinamis. Dimana anda menentukan ujung angka 8 maka disitulah Anda memasang ujung dari yang lainnya. 8 mutiara adalah kerinduan saya pada Yangawal dan Yangakhir. Sedangkan tali senar dan logam perak adalah perwujudan doa saya untuk senantiasa dikaruniai ketegaran dan disadarkan akan keserhanaan dalam hidup saya.

GELANG COLOURSTONES

Colour stones dikabarkan dapat menampilkan aura sang pemilik. Saat pemiliknya sedang bad-tempered maka warnanya menjadi gelap. Sedangkan jika sang pemilik sedang tenang maka warna-warna yang ditampilkannya juga menjadi lembut. Warna-warna menjadi terang ketika sang pemakai hatinya ringan gembira. Ada 18 butir colourstones di gelang saya, warnanya bermacam-macam: merah, oranye, kuning, coklat, putih tranparan, putih keruh, hijau lumut, hijau tua dan campuran warna yang tak mampu saya definisikan dengan kata-kata. Tali yang saya pakai adalah senar lentur.

Seperti gelang amethyst-mutiara-senar-perak saya, gelang colourstones saya juga memiliki arti dari permintaan saya kepada Tuhan. Batu-batu warna itu adalah perwujudan kejujuran saya dalam menampilkan rasa dan ide saya. Tidakkah Anda ingin menjadi jujur? Saya ingin. Dan saya ingin menjadi jujur tanpa menyakiti orang lain. Colourstones akan mengungkapkan kemarahan saya namun warna-warnanya tetap cantik dan alamiah. Warna-warna menghiasi emosi saya dengan keindahan. Perwujudan warna batu tersebut adalah perlambang dari emotion management saya. Mengapa berjumlah 18? Sesungguhnya karena memang dengan 18 butir batu itulah pergelangan saya terukur tepat. Angka 18 juga mengingatkan saya pada sebuah surat dari sebuah kitab yang selama ini menjadi panduan rohani saya; surat ke-18 berjudul Gua. Gua yang terisi oleh para pemuda dan hawan kesayangan mereka yang terselamatkan dari kegelapan masanya, mereka ditidurkan selama beratus tahun untuk menemukan kegemilangan jaman baru. Doa saya adalah saya dibiarkan “mati” alias “tidak sadar” akan penderitaan saya. Saya ingi menjalani hidup ini dalam keadaan “mati” atau “tidur sesaat” sebelum kemudian terbangun pada saatnya. Dan pada saat saya bangun dari “mati” saya, saya mendapati bahwa ilmu yang saya bawa tidur ternyata sangat cocok dengan jaman baru tersebut. Dan mengap
a talinya senar lentur? Karena saya ingin menjadi orang yang membawa ilmu di hadapan kehidupan dengan jalan yang lentur, bukan dengan jalan menghakimi berdasarkan dalih dan dalil yang kaku lagi menyakitkan.

Dan, kesimpulan saya mengapa gelang dan bukan perhiasan yang lain? Karena gelang adalah sebuah lingkaran yang tak terputus ketika dipakaikan pada pergelangan tangan. Pergelangan tangan adalah “letak” kehidupan. Di film-film para dokter merasakan tanda kehidupan di pergelangan tangan lho… jadi dengan memakaikan gelang yang penuh makna pada pergelangan tangan juga mengandung harapan bahwa saya mengingat perlambang tersebut selama saya masih berkehidupan.

Terima kasih pada sahabat saya yang telah menginspirasikan pemakaian gelang kristal ini. Gelang saya niscaya bukan hanya cadangan energi. Gelang saya adalah perwujudan gaya dan tujuan hidup saya.

Mau beli gelang? He he he…

GURU SAYA 1

GURU SAYA – 1

Sepuluh tahun yang lalu saya mengikuti kuliah Sejarah Pemikiran Modern. Dosennya adalah seorang wanita Madura yang kritis dan adil. Kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, seringkali bikin mahasiswanya jengkel karena tak ada artinya alias tidak logis. Saat diam, dia berpikir sehingga kami mengira beliau melamun. Suatu hari saya merasa sangat bosan; bukan dengan mata kuliah dan pengajarnya melainkan dengan teman-teman yang berulang kali menguap menahan kantuk, teman-teman lain yang ngerumpi (termasuk ngerumpi-in Bu Dosen) dan bosan dengan kebodohan saya sendiri. Saya pun mengacungkan tangan dan bertanya.

“Silakan,” kata Bu Dosen.

“Siapa sebenarnya yang bisa disebut sebagai guru kita, Bu?”

“Yang mengajarkan tentang makna hidup.”

“Orang tua kita?”

“Bisa.”

“Bagaimana kalau orang tua tidak bisa mengajari anaknya pelajaran hidup?”

“Berarti memang dia tidak bisa disebut guru bagi anak-anaknya.”

“Bagaimana kalau ternyata Ibu belajar tentang hidup justru kepada saya?”

“Maka Anda adalah guru saya.”

“Bagaimana kalau saya ternyata tidak belajar pada siapapun?”

Bu Dosen diam. Para mahasiswa mengomel lirih karena khawatir diskusi ini akan panjang lebar menghabiskan energi mereka. Saya merasa bersalah membuat teman saya terancam lemparan pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawabnya sendiri tapi dia lebih menginginkan para pendengarnya aktif bicara (dengan berpikir sebelummnya tentunya). Saya merasakan panas cubitan sahabat di kiri kanan saya sebagai tanda protes.

“Apa maksud Anda tidak belajar pada siapapun? Apakah Anda benar-benar tidak belajar? Atau Anda belajar namun tidak “diajari”?”

“Saya belajar tapi tidak dengan diajari.”

“Sesungguhnya metode belajar seperti itulah yang paling tepat untuk manusia. Anda ingat sebuah ajaran China yang pernah kita bahas. Aku melihat dan aku lupa. Aku mendengar dan aku lupa. Aku mengalami dan aku ingat.”

“Apakah bisa dibilang bahwa saya adalah guru bagi diri saya sendiri?”

“Apakah Anda ingin menyebutnya demikian?”

Saya bingung. Oh, Ibu Dosen, saya bertanya, jangan ditanya, batin saya pilu. Pertanyaan saya mulai menyiksa tidak hanya mahasiswa yang jumlahnya mencapai 70 orang tapi juga saya sendiri yang dirambati rasa sesal. Ruang tar ber-AC ini menjadi makin panas. Aku mendengar salah seorang merutuk “Dasar, sok pinter. Rasain sekarang bingung sendiri dihabisi Madura.”

“Tidak.’

“Jadi menurut Anda, adakah guru yang tidak kasat mata?”

Wadaw… Apa pula ini bah!

“Tidak mungkin Anda tidak belajar jika tidak ada guru. Guru tidak selalu manusia yang bisa kita berikan penghargaan karena tiap petatah-petitihnya atau tindak-tanduknya diterima sebagai makna oleh seseorang. Guru adalah fasilitator. Perantara.”

Bu Dosen diam sengaja memberi jeda bagi saya (mungkin juga bagi teman-teman) untuk merenung.

“Guru adalah perantara dari tersampaikannya makna kepada seseorang sehingga dia memahami sesuatu.

Jika Anda, Saudari Rike…”

Saya terperangah karena ternyata Bu Dosen ini tahu nama saya. Bagaimana bisa? Saya bukan mahasiswa brilian. Ah, saya tidak mau ge er, bisa saja dia mendengar secara tidak sengaja bahwa mahasiswa goblog ini bernama Rike Jokanan.

Jika Anda tidak merasa ada yang mengajari namun Anda belajar maka carilah perantara itu.”

Saya tidak ta
hu mengapa saya ingin menangis saat itu. Yang saya rasakan adalah suasana sentimentil tak beralasan. Jangan-jangan karena tahu Bu Dosen tahu nama saya ha ha ha…

Jika perantara itu tak bisa Anda definisikan, jangan khawatir. Pada saatnya Anda akan menemukan Guru tersebut. Teruslah belajar dengan metode Anda dan jangan takut untuk tersesat karena Anda memiliki guru. Jangan membayangkan perantara disini sebagai kabel yang menghantarkan listrik atau angin yang menghantarkan suara…”

Suara Bu Dosen Madura makin ringan mengipasi hati saya. Ketika bel tanda jam kuliah habis, suara sorak-sorai lega teman-teman terdengar dan dengan tenang seperti biasa Bu Dosen beruluk salam, saya duduk tertinggal masih berusaha mencari-cari makna kata-kata Bu Dosen. Saya melihat Bu Dosen tersenyum tipis pada saya sebelum meninggalkan ruangan. Teman-teman saya memaki-maki saya. Dan saya tidak juga memahami apa maksud Bu Dosen guru saya tersebut… Hingga 10 tahun kemudian.

Terima kasih Bu Dosen. Anda ternyata guru saya.

Dosen tersebut sekarang masih aktif mengajar di Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Pada saat itu beliau juga mengajar mata kuliah Kesustraan Indonesia dimana saya berkenalan dengan karya-karya Zawawi Imron.

June 29, 2008

DREAM

DOES DREAM MEAN SOMETHING?

A dream can make someone decide an important matter in life. Dream can make someone’s day gloomy until the end of another day. Dream can change someone suddenly. A dream brings smile. A dream brings cry. A dream brings anger.

Does dream really matter?

Which dream does it?

What does dream bring to you?

DIET…

DIET…

I gain weight again. It usually happens when I am very much under stressed. I compensate my stress by eating many things without stopping except when I am reaaly occupied by my drowsiness and my jobs. My weight is the indicator of my stress level. The fatter I am, the more stress I am undergoing.

I have gain 7 kilograms and I have no idea to stop my madness to eat in order to forget my big troubles. It ridiculously becomes such a heavy burden not to munch things. It is not normally called munching because I consume main course as my snacks. Meat, eggs, meatballs, cheese, rice, bread, etc… So, is it munching or craving? I don’t know much. What I need now is just a break to feel the air. I need to breathe my mind that has been so much bedazzled by the facts I have been offered by someone.

Diet…

Yeah. I need to have a diet. What kind of dietery should I choose? I want to have one extremely able to reach the ideal weight ASAP. Yes, as soon as possible. Why???

Because I am going to attend a wedding party next month. Because I have to wear my gown on that day. Because I gain weight and my gown can’t conpromise with me anymore. The zipper even stops before reaching the top of its end. Oh no… I am so fat.

What diet then? Food combining? Protein? Fat? Carbohydrate?

June 27, 2008

11:48pm

JER BASUKI MAWA BEA

JER BASUKI MAWA BEA

Orang Jawa Timur mestinya paham arti kata-kata diatas karena frase tersebut adalah semboyan wilayah Jawa Timur. Jer Basuki Mawa Bea.

Sebagai orang kelahiran Jawa Timur, walaupun ber-KTP Banten, saya sangat bangga terhadap semboyan tersebut. Begitu lugas menantang orang-orang yang pelit, begitu lantang menantang para pemalas, begitu berani menantang orang-orang yang sok ikhlas, begitu indah mewujudkan sebuah prinsip dalam kata-kata elok tanpa jumawa.

Jer Basuki Mawa Bea: Jika mau sukses harus pakai biaya. Mungkin Sudara yang tidak paham dengan adanya kata bea/biaya akan segera berasumsi bahwa orang Jawa Timur dirancang untuk matre.

Kenyataannya tidak demikian karena bea atau biaya disini tidak hanya mengacu pada uang atau materi saja melainkan segala macam cost. Ada psychological cost, financial cost, social cost dan cost-cost lain yang bermakna pengorbanan.

Apakah Anda masih ragu terhadap hebatnya semboyan Jawa Timur ini? Saya akan menantang Anda untuk memahaminya dengan cara bodo-bodoan saja karena saya tidak ahli menerangkan secara ilmiah kepada Sudara sekalian.

Kalau Anda ingin makan, apa yang Anda butuhkan? Tentu saja makanan. Dari mana makanan in Anda dapat? Disinilah Anda dituntut menanggung cost.

Kalau Anda masih bayi, ibu Anda yang menanggung cost-nya. Ibu Anda berkorban, menyusui Anda atau membelikan susu instant untuk Anda.

Kalau Anda balita, masih orang tua Anda yang menanggung cost tersebut.

Kalau Anda usia es de, maka masih orang tua Anda yang harus menanggung cost-nya. Namun jika di usia tersebut Anda adalah anak gelandangan, Anda harus berpikir ulang apakah Anda harus mengemis, mengamen, mencopet atau apalah yang dapat menghasilkan uang untuk membeli makanan atau untuk makanan itu sendiri. Jika Anda mengemis, cost-nya lebih rendah karena hanya berbekal “Mbak, bagi uangnya Mbak…. Belum makan dari setahun lalu…” Jika Anda ingin mengamen, mungkin cost-nya lebih tinggi karena Anda harus menyanyi tambah lagi kalau perlu kincringan atau gitar butut atau botol Aqua berisi kerikil. Kalau Anda mencopet, Anda harus punya skill yang lebih beresikomenentang hukum dan perlu diketahui keahlian mencopet ternyata dilembagakan dalam sebuah “kursus” plus training kilat. Ingat Oliver Twist karya Charles Dickens, Oliver, si anak kecil malang itu, harus rela di-training paksa oleh Badger, pencopet anak senior.

Kalau Anda ingin meraih karir yang sukses, ada juga cost-nya. Anda harus bekerja dengan heroik tak kenal lelah. Insya Allah, gaji Anda naik dan jabatan Anda segera melejit seperti roket. Namun ada cost lain yang harus Anda tanggung setelah sukses. Mungkin keluarga Anda akan kehilangan sebagian waktu untuk bersama Anda. Atau teman-teman sejawat Anda akan iri dan meninggalkan Anda atau yang lebih parah mereka menjegal Anda karena menginginkan kesuksesan serupa. Jangan lupa badan capek pegal-pegal, stres berat dan semacamnya menunggu Anda, usahakan badan dan pikiran tetap fresh.

Lebih-lebih lagi jika negara ini mau bangkit maka ada cost yang ditanggung oleh masing-masing pihak. Ulama, umara dan ummat mesti saling membagi tugas tanpa ada yang dibohongi, tanpa ada yang dirugikan, tanpa ada yang dikibuli. Semua orang mesti rela berkorban BUKAN dikorbankan.

Ulama, jadilah ulama yang benar. Ulama yang seakar dengan kata ilmu haruslah orang-orang yang mengungkapkan kebenaran suatu ilmu. Jika ilmu itu terbukti justru merepotkan negeri tidak perlu sungkan menyisihkannya dan memakai ilmu lain yang benar dan lurus. Orang-orang pinter ini tugasnya memintarkan umara dan ummat bukan untuk minteri (membohongi dengan kepintarannya, bahasa Jawa) ummat demi kepentingan segelintir umara atau diri sendiri. Wahai ulama, engkau bagaikan gentong atau kendi wadah air. Jika kau kotor, maka air yang diteguk oleh para manusia dahaga itu tidak mustahil beracun dan menyakiti atau membunuh mereka. Kalian tahu lebih banyak tentang urusan dosa, bukan?

Umara, jadilah umara yang benar. Umara yang seakar dengan kata amir, pemimpin haruslah orang-orang yang kemampuan leadership-nya dilandasi oleh kemurnian niat memakmurkan orang-orang yang dipimpinnya. Ibarat g
embala, dia pasti mengutamakan kepentingan ternaknya; sebelum dia menemukan lapangan berumput segar manis untuk ternaknya, sang gembala tidak semestinya duduk bersantai di bawah pohon untuk menikmati bekal dan bermain seruling. Ingat, kemungkinan ada srigala disana. Jika ternak habis dimakan srigala mungkin kau masih bisa menangis wahai gembala… Namun jika ternyata ternakmu lebih awas terhadap bahaya yang biasa menyerang mereka karena kelengahanmu yang terus menerus, maka apa yang akan kau lakukan jika srigala-srigala itu siap menerkammu? Jangan pula terlalu sering bermain tongkat pada ternakmu, mereka akan membencimu karenanya. Tongkatmu hanya untuk mendisiplinkan bukan untuk menghukum. Semua harus proporsional. Kau tidak suka diserang ternakmu sendiri bukan?

Ummat, jadilah ummat yang benar. Ummat yang bisa diartikan pengikut. Ummat bisa seumpama ternak yang di-angon sang gembala berseruling. Tak ada salahnya sedikit protes jika rumput di tanah lapang tidak lagi layak disuguhkan kepada kita namun jangan juga terlalu membandel hanya untuk kepentingan sendiri. Janganlah indahnya bunga cantik kesukaan pribadimu membuatmu mberot (tak mau jalan, bahasa Jawa) tak mau mengikuti rombongan yang sedang mengarah ke telaga sejuk di di tepi padang rumput yang hijau segar dan manis. Biarlah, jika nanti gembala kita tidak becus, kita pilih saja gembala lain, kalau mungkin dari kalangan ternak juga. Siapa tahu dia lebih mengerti kita.

Kok saya jadi sok main sanepan (simbolisasi, bahasa Jawa) politik begini ya he he he…

Ok, kembali pada Jer Basuki Mawa Bea; bea adalah biaya adalah cost adalah pengorbanan adalah resiko adalah consequences, yang harus Anda tanggung, yang terlahir bersama langkah yang Anda ambil setiap tarikan nafas kehidupan Anda.

Saya bangga menjadi orang Jawa Timur yang berani mewujudkan Jer Basuki Mawa Bea. Saya telah dan selalu menerima apapun resiko yang harus saya hadapi dari apapun yang telah saya lakoni (lakukan, bahasa Jawa). Dan, Anda pun harus siap dengan apa yang telah Anda lakukan kepada orang Jawa Timur yang paham benar dan nyarujuki (menyetujui, bahasa Jawa) semboyan tersebut. Jangan heran kalau Anda akan bangkrut pada akhirnya karena “mengingkari” apa yang telah Anda setujui diawal sebuah akad dengan seorang Jawa Timur yang ber-Jer-Basuki-Mawa-Bea. Cost dari ketidakjujuran dan pengingkaran Anda adalah cost terberat yang harus Anda tanggung.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!

June 12, 2008

GARAGE SALE

GARAGE SALE

Sudah sejak lama saya pengen mengadakan garage sale di suatu tempat yang peta perekonomiannya kurang memadai. Saya membayangkan barang-barang bekas, yang saya kumpulkan dari para handai-taulan dan teman-teman secara cuma-cuma, dipajang sedemikian rupa sehingga para pembeli tergiur untuk membelinya. Harga yang saya pasang pasti murah.

Tape recorder bekas harga 50ribu.

Laptop bag bandrol 20ribu.

Kipas angin bekas dapat dibeli dengan harga 25ribu

Wajan tembaga 5ribu.

Handbag 10ribu.

Charger hape 5ribu.

BARANG PILIHAN HARGA BANTINGAN!

Baju segala model 7ribu5ratus.

Cermin dinding 10ribu.

Kompor listrik mini 30ribu.

Barang-barang mini 2ribu5ratusan.

Dll…

Garage sale! Garage sale! *teriak gaya penjual bak anti bocor*

Ayo harga murah untuk yang butuh dan cekak uangnya! *teriak gaya pedagang mainan*

Saya sudah mengumpulkan barang-barang tersebut. Saya sudah menghubungi sahabat-sahabat saya untuk mengumpulkan barang-barang bekas mereka yang masih sangat layak dan mereka relakan untuk dibeli dengan harga murah. Mereka antusias. Sangat antusias, melebihi saya pencetus idenya.

Tapi kapan ya bisa terlaksana? Teman-teman saya sudah sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Saya ingin bergerak sendiri tapi saya juga sibuk dengan hidup saya. Saya jadi takut kalau-kalau waktu akan menjadi pelit karena saya perhitungan membelanjakannya demi sesama saya.

Garage sale, garage sale… *mendesah a la pecatur tingkat er te kalah tanding*

June 26, 2008

10:33WIB

MIMPI-MIMPIKU BISA TERBANG, BISAKAH MEMBAWA HIDUPKU SERTA?

MIMPI-MIMPIKU BISA TERBANG, BISAKAH MEMBAWA HIDUPKU SERTA?

Sekarang sedang banyak digelar di hadapan kita tentang pentingnya memvisualisasikan mimpi-mimpi kita secara detil untuk merangsang alam bawah sadar kita untuk mampu mewujudkannya dalam dunia nyata. Tidak hanya satu atau dua buku yang menuliskan seberapa penting dan dahsyatnya kekuatan visualisasi mimpi manusia terhadap niscaya tidaknya sebuah cita-cita. Kita sebut saja buku dan tulisan The Secret dan turunannya, Quantum Ikhlas, Mestakung, dll. Tak sedikit pula buku-buku tersebut dilengkapi dengan CD untuk membantu pemahaman maupun penghayatan. Saking inginnya saya “waras”, saya beli segala macam buku itu. J

Sebagai manusia normal saya juga punya cita-cita baik yang masuk golongan harapan maupun yang dapat dikategorikan sebagai mimpi. Saya membuat dua kotak yang berbeda untuk harapan dan impian karena keduanya memiliki sifat yang berbeda menurut saya.

HARAPAN adalah suatu keinginan yang sudah saya tetapkan secara pasti dan terukur sesuai kapasitas saya saat ini, misalnya:

  • Memiliki koneksi internet yang cepat dan murah
  • Melunasi semua utang saya
  • Naik gaji dengan persentase maksimal
  • Memiliki rumah yang asri hijau dan bersih
  • Mengajak ibu bersantai sejenak saat saya cuti

MIMPI adalah keinginan yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri jika memikirkannya tanpa memikirkan kapasitas saya saat ini, sebagai contoh:

  • Mempunyai perusahaan sendiri dan tidak perlu bekerja di kantor menjadi karyawan
  • Membangun sekolah gratis untuk orang-orang tidak mampu
  • Keliling dunia tanpa harus susah-susah memikirkan waktu dan biaya
  • Memiliki tanah yang luas untuk pertanian dan peternakan organik
  • Mendapatkan pendamping hidup yang sehat, bertanggungjawab dan setia

Dapatkah Anda merasakan perbedaannya?

Saat ini saya sedang belajar memvisualisasikan baik harapan maupun impian saya dengan “harapan” segalanya akan terwujud sebelum purna usia. Saya pernah mendengar “sesuatu terwujud dua kali, yang pertama di pikiran kita dan selanjutnya dalam kenyataan hidup kita”. Dengan keyakinan bahwa kekuatan pikiran menggiring kekuatan “mewujud” saya membiarkan harapan dan impian saya membubung tinggi laksana asap yang tak pernah pudar oleh angin dan hawa.

Harapan terdekat saya adalah saya dapat membagi waktu dengan baik. Saya ingin waktu saya yang “hanya” 24 jam ini bisa saya manfaatkan sebaik mungkin. Saya membayangkan dalam sehari semalam utuh ini saya dapat melakukan pekerjaan berikut (tidak diurut sesuai prioritas):

  1. Menyelesaikan quota harian saya tepat waktu (8,5 jam)
  2. Mengheningkan cipta secara benar
  3. Membaca buku
  4. Menulis
  5. Membereskan kamar
  6. Mendengarkan musik
  7. Menelfon keluarga dan teman-teman saya
  8. Berolahraga
  9. Menggambar
  10. Ngobrol dengan tetangga saya
  11. Mengevaluasi diri saya
  12. Mengimplementasikan paling tidak satu nilai kehidupan secara positif
  13. Mencuci dan menyetrika baju sendiri
  14. Memasak untuk diri sendiri
  15. Menghafalkan paling tidak satu kata dari satu bahasa asing
  16. Mengurus kura-kura saya
  17. Beristirahat secara efektif

Ternyata ada paling tidak 16 hal yang saya ingat ingin saya kerjakan secara konsisten setiap 24 jam saya. Namun pada kenyataannya saya tidak bisa. Dan saya merasa bahwa akhirnya sebagian waktu saya habis hanya untuk membayangkan harapan dan impian saya tanpa benar-benar melangkah untuk mendapatkannya. Ayo kita lihat apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup saya:

  1. Bangun jam 5 pagi untuk mengheningkan cipta lalu mandi, menjemput bekal makan siang, segera berangkat. Di kendaraan menuju kantor hampir 2 jam sebagian besar saya tidur.
  2. Sampai kantor, saya cuci muka dan tangan, bersiap dengan komputer dan segelas besar air minum bekerja. Selama bekerja kadang saya selingi dengan chatting atau bercanda dengan teman. Tidak lupa kemudian makan siang sambil kerja juga. Mengheningkan cipta sekejap mata tanpa meresapi maknanya (kata orang Jawa “jengkang-jengking”, artinya nunggang-nungging saja).
  3. Setelah selesai pekerjaan atau belum selesai dan sudah kecapekan, saya pulang. Di kendaraan tidur atau gelisah karena para seniman jalanan (mereka tidak bermaksud mengganggu tapi saya terganggu kadangkala).
  4. Sampai rumah, saya mandi mengheningkan cipta lalu ngobrol sebentar dengan tetangga. Kadang saya melewatkan waktu saya untuk menelpon ibu dan/atau sahabat dan keluarga.
  5. Kemudian saya buka notebook saya untuk melanjutkan pekerjaan kantor saya yang belum sempurna L, kali ini sambil mendengarkan radio. Kadang saya membaca buku tapi lebih sering membaca tapi sekilas saja.
  6. Setelah 2 atau 3 jam biasanya pekerjaan saya tuntas. Lalu saya “pura-pura” mengevaluasi diri walaupun kenyataannya saya sedang menyesali kehidupan saya yang sehari-harinya begitu-begitu saja.
  7. Tahap mengevaluasi diri ini memakan porsi yang kadang terlalu berlebihan sehingga membuat mata saya tak terpicing sedikitpun. Saya sibuk membayangkan andaikata, seandainya, coba kalau, jikalau, andai saja dan segala khayalan yang membuat kehidupan saya (seharusnya) lebih baik. Biasanya saya sibuk dengan visualisasi harapan dan impian itu sampai pukul 1 atau 2 saat saya benar-benar lelah badan dan syaraf.

Aih, 24 tidak cukup. Inilah hidup saya. Saya berpijak tanah tapi mimpi-mimpi saya terbang. Saya butuh sayap-sayap untuk terbang bersama mimpi saya. Sayap-sayap itu dimana carinya ya? Mungkinkah bisa dibongkar pasang? Saya ngeri kalau-kalau sayap-sayap palsu bisa membuat saya seperti Icarus anak Daedalus yang jatuh karena lilin perekat sayapnya terbakar matahari. Jika ditumbuhkan, berapa lama saya menumbuhkannya? Apa saya harus makan chicken wings tiap hari supaya sayap saya segera tumbuh? Chicken juga tak becus terbang bahkan dia lambang kepengecutan. Oke, saya makan bird wings saya. Mana ada makan sayap burung bikin tumbuh sayap badan manusia? Mimpi…

Rupanya saya masih membutuhkan mimpi lain untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Apa saya memang benar-benar hidup di Republik Mimpi ya? Atau hidup saya hanya mimpi? Tolong! Aku mau mimpiku tercapai bukannya terwujud dalam bingkai impian lain.

June 26, 2008

10:13 WIB

NINE MONTHS LATER

NINE MONTHS LATER


Jack decided to go skiing with his buddy, Bob. So they loaded up Jack’s mini-van and headed north. After driving for a few hours, they got caught in a terrible blizzard. So, they pulled into a nearby farm and asked the attractive lady who answered the door, if they could spend the night.
“I realize it’s terrible weather out there and I have this huge house all to myself, but… I am recently widowed,” she explained.
“I am afraid the neighbours will talk if I let you stay in my house.”
“Don’t worry,” Jack said. “We’ll be happy to sleep in the barn and if the weather breaks, we’ll be gone at first light.”

The lady agreed, and the two men found their way to the barn and settled in for the night. Come morning, weather had cleared and they got on their way. They enjoyed a great weekend of skiing.

About nine months later, Jack got an unexpected letter from an attorney. It took him a few minutes to figure it out but he finally determined that it was form the attorney of that attractive widow he had met on the ski weekend.
He dropped in on his friend, Bob, and asked,
“Bob, do you remember that good-looking widow from the farm we stayed at on our ski-holiday up north about 9months ago?”
“Yes, I do,” said Bob.
Did you… errr…. happen to get up in the middle of the night, go up to the house and pay her a ‘visit’?”
“Wellll…. uhmm… Yes,” Bob said, a little embarrassed about being found out, “I have to admit that I did.”
“And…. did you happen to give her my name instead of telling her your name?”
Bob’s face turned beet red and he said, “Yeah…., look, I am sorry, buddy. I am afraid I did! Why do you ask?”

Jack asnwered calmly “She just died and left me everything”

(And you thought the ending would be different, didn’t you?….You know, you smiled.
Now… keep that smile for the rest of the day, OK?)

IBUKU SAYANG

IBUKU SAYANG

Semua manusia punya ibu kecuali Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa yang beribu Tangan Tuhan. Sebuah keajaiban yang tak perlu dibahas oleh otak budhel (tumpul, bahasa Jawa) seperti milik saya.

Ibu adalah posisi terhormat di budaya masyarakat manapun. Tidak ada peradaban mulia yang tidak menghargai peran dan posisi seorang ibu. Melahirkan-menyusui-mengasuh adalah satu paket hadiah dari Pencipta yang tidak mudah dicapai (achieved status) walaupun paket itu adalah sebuah kodrat alamiah wanita (ascribed status). Maka dari itu bersyukurlah orang-orang yang diciptakan untuk mengemban tugas sebagai ibu. Wahai Sudaraku para wanita, saya ingin berbagi rasa.

Saya manusia biasa maka pasti punya ibu. Ibu saya sudah tua. Namanya Dayah binti Slamet. Lahir di Tulungagung pada October 9, 1944. Wajahnya menyisakan kecantikan muda yang luar biasa. Rambutnya hitam bersembur putih keperakan, kulitnya keriput, badannya gendut, payudaranya kendur, halus budi bahasanya, ingatannya masih hebat, karakter kerasnya mulai bertambah, dan satu lagi yang sesungguhnya sangat mengganggu saya: hobinya menanyakan tentang kapan saya menikah.

Saya paling sebal pada siapapun yang menanyakan hal itu kepada saya. Sebuah pertanyaan bodoh yang diucapkan dengan gaya prihatin bercampur intelek. Seakan pertanyaan itu adalah sebuah habeliauh wajib untuk orang yang tidak bersemangat mengejar mas-mas. Seakan pertanyaan yang menunjukkan bahwa mereka telah mencapai prestasi teratas kehidupan ini: menikah. Apakah berarti bercerai adalah prestasi yang lebih tinggi lagi apalagi kalau kemubeliaun kawin lagi?

Ibu saya ini adalah wanita Jawa yang menurut beliau sendiri pekerjaan utamanya adalah mengabdi pada suami walaupun kenyataannya ibu saya adalah pensiunan bidan yang pernah mengabdi pada negara Pancasila ini. Ibu saya percaya bahwa dengan mengabdi pada suami seorang wanita akan masuk syurga. Beruntunglah beliau memperoleh lelaki yang sempat memberinya syurga, jadi ibu saya tidak harus membual banyak-banyak.

Ibu saya telah melahirkan 5 orang anak: perempuan, laki-laki, perempuan, perempuan, laki-laki. Semuanya lahir tanpa cacat. Jika kemudian hidupnya tidak bahagia maka itu bukanlah bawaan lahir namun akibat dari salah treatment baik oleh galangan (keluarga, bahasa Jawa) maupun golongan (lingkungan pergaulan, bahasa Jawa) atau karena salah persepsi terhadap suatu realitas yang kami hadapi.

Ibu saya suka memasak, membaca dan membuat kliping. Beliau membaca apa saja yang bisa beliau baca terutama koran dan majalah karena beritanya paling up dated sampai-sampai beliau mendapat julukan wartawan dari almarhum bapak saya. Dapatkah Sudara sekalian bayangkan seorang ibu seperti beliau memiliki anak seperti saya yang tidak suka membaca koran atau majalah? (saya lebih suka membaca buku, karya sastra dan essay) Dapatkah Sudara membayangkan alangkah timpangnya pengetahuan populer saya dibanding ibu saya? Huff.. kadang-kadang saya memilih tidak berdiskusi tentang politik dengan beliau. Saya lebih memilih ngobrol enak tentang wayang atau kethoprak (kesenian khas Jawa Tengah) atau ludruk (kesenian khas Jawa Timur yang awalnya hanya dimainkan oleh para lelaki) dengan almarhum bapak saya atau ngobrol tentang rabuk (pupuk, bahasa Jawa) dan tandur (masa tanam padi, bahasa Jawa) dengan Pakpuh (kakak orang tua, bahasa Jawa) daripada saya malu karena sebagai mahasiswa pada saat itu dan “orang Jakarta” saat ini saya tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi di pusat merah putih ini.

Coba Sudara tanyakan nama-nama menteri dari kabinet manapun pasti beliau hapal. Tanyakan kasus-kasus hukum, skandal-skandal politik, gosip-gosip selebritas atau apa saja yang terjadi di negeri antah berantah beliau akan menjawab sekaligus memberikan ulasan yang sangat mengagumkan seakan beliau itu pengamat politk, ekonomi, sosial, budaya, filsafat atau apalah ilmu yang timbul di dunia ini. She is a great popular scientist!

Ibu saya suka memasak sedangkan saya suka tapi jarang mencoba resep-resep terbaru sehingga kalau pulang kampung saya harus rela dinasehati tentang ini itu yang kata ahli ini dan ahli itu bermanfaat untuk kesehatan. Dan setelah kembali ke kota tempat saya tinggal semuanya menguap seperti air dibawah terpaan sinar matahari. Di Jabodetabek semua bisa dibeli he he he…

Ibu saya seorang yang terkenal sabar dan narimo (menerima dengan ikhlas). Menerima dengan sabar kondisi yang semenyakitkan apapun, semenderita apapun dalam hidupnya. Tapi jangan coba-coba Anda menyakiti anak-anaknya. Beliau akan murka seperti bantheng ketaton (banteng terluka). Maka kami anak-anaknya yang normal akan sebisa mungkin menyimpan duka kami dari pengetahuannya sehingga beliau tak akan mencari orang yang menyakiti kami. Bahkan seandainya kami yang benarpun kami tidak akan mengadu banyak padanya, kami akan mengalah di hadapan ibu kami walaupun akan menghantam orang itu beliaum-beliaum dibelakang ibunda kami ini. Sebenarnya ketika ketemu pun ibu tak akan menyakiti orang itu. Kami hanya takut beliau berdoa yang tidak-tidak. Kutukan ibu saya ini terkenal manjur ha ha ha…

Ibu saya adalah bidadari bagi saya karena kecantikannya. Ibu saya adalah profesor ndeso yang saya yakin beliau bisa saja jadi menteri peranan wanita kalau saja kesempatan diberikan padanya. Ibu saya juga seorang bijak bestari ketika saya membutuhkan nasehatnya. Ibu saya adalah pengabdi yang setia baik pada keluarga maupun masyarakat. Ibu saya adalah seorang wanita yang paket melahirkan-menyusui-mengasuh-nya terbuat dari emas dan berlian.

Ibu saya sense or humor-nya tinggi. Apapun bisa jadi bahan tertawaan bagi beliau. Pernah beliau tertawa-tawa ketika seseorang secara tidak sengaja membuat beliau terdorong dari tangga teras sehingga gagang kacamatanya menusuk pelipisnya hingga harus dijahit beberapa jahitan. Biskah Anda bayangkan di saat semua orang khawatir terhadap keselamatannya beliau sendiri tertawa gembira. Ibu saya agak menyebalkan jadinya he hehe…

Namun ibu saya juga manusia biasa yang bikin saya jengkel jika sudah menyamaratakan saya dengan wanita lain yang “kata beliau” NORMAL. Menurut beliau kecintaan saya pada kesendirian saya lebih besar daripada kecintaan saya pada kodrat saya sebagai wanita yang seharusnya melahirkan-menyusui-mengasuh. Menurut beliau saya terlalu banyak melahap bacaan yang nyeleneh sehingga pemikiran saya “keseleo”. Ora Njawani (tidak berjiwa Jawa, bahasa Jawa), kata beliau.

Ibu saya ini begitu hebat. Saya bangga padanya dan hanya memendam kekesalan terhadap satu pertanyaan itu saja.

Ibu saya akan saya nobatkan sebagai wanita paling hebat dan berjasa dengan segala yang dianugerahkan padanya.

I love you, Ibuku sayang…

June 11, 2008

SERULING BAMBU

SERULING BAMBU

Helaan nafas meniupkan kerinduan

Kepada serumpun bambu dengan sebentuk nada

Lagu hatiku

Terbawa Sang Bayu

Duhai rindunya aku pada rumah jiwaku

Yang terpisah sejak dijadikannya aku seruling

Kuhanya mampu melagukan kidung

Meriuhkan heningnya padang rumput

Ditemani nafas kantuk gembala

Ditingkahi rengek manja ternak yang gembira

Diintai srigala jahat

Helaan nafas meniupkan kerinduan

Kepada serumpun bambu dengan nyanyian jiwa

Kenangan tak tertuliskan

Dihantarkan oleh angin

Apakah kau merindukanku wahai serumpun bambu?

Adakah wajahku teringat olehmu?

Ataukah hanya hilangnya seruas batangmu?

June 15, 2008

Cermin

CERMIN

Terpantul wajah hatiku

Berleleran airmata

Menangisi kenangan

Mengharapkan masa

Lalu garis merah menyeberangi telaga mataku

Melontarkan api menyala

Melelehkan batang lilin malam

Menghancurkan berhala cintaku

Cerminku terang benderang

Silau menyerang bola mataku

Uap menjejakkan titik embun di permukaannya

Cerminku berkabut

Berleleran airmata

Menangisiku

Mengharapkan Kekasih

June 15, 2008

INTERLUDE JEDA

INTERLUDE JEDA
JEMBATAN DUA DARATAN

Buku kompilasi artikel yang ditulis oleh dua pengarang dari tabloid PARLE, Syafruddin Azhar dan Kurnia Effendi, ini membuat saya terpana akan kebenaran sebuah ayat suci tentang tidak akan habisnya ilmu Tuhan sekalipun telah dihabiskan pohon di bumi untuk pena dan samudera sebagai tinta bahkan jika didatangkan tujuh lagi. Begitu luas dan dalam ilmu yang diletakkannya di hati-hati yang berpikir.

Saya sengaja membaca dulu pengantar yang ditulis oleh Fahruddin Salim, SE,MM (Pemimpin Redaksi) dan Faisal Baasir, SH (Ketua LPKP). Terpapar di dalamnya tentang perbedaan style yang dipakai oleh masing-masing penulis. Dikataan bahwa tulisan Mas Syafruddin cenderung “berat’ sedangkan tulisan Mas Kurnia cenderung “menyentuh”. Dan terbukti memang demikian.

Bagian pertama buku adalah Interlude. Disini tulisan Mas Syafruddin banyak diwarnai oleh bahasa-bahasa ilmiah, kutipan-kutipan buku atau kitab, terjemahan bahasa asing dan segala hal yang memang membuat tulisan beliau mendapatkan julukan ilmiah dalam arti kandungannya berdasarkan teori-teori yang pernah dirumuskan oleh para cerdik pandai terlihat nyata. Anda akan menemukan nama-nama ilmuan bertebaran di tulisan-tulisan beliau. Mulai dari bumi timur hingga dunia barat ada. Ilmu batin hingga ilmu logika beliau kaya perbendaharaannya. Saya sampai tercengang membaca sekian banyak tulisannya tidak ada pengulangan kutipan yang bertindihan.

Dari judul-judul tulisan beliau kita dapat menghitung apa saja yang memnuhi memorinya: Pak Harto; Selingkuh; Orde Baru; Sontoloyo!; In Vino Veritas; Proletariat Versus Borjuasi; Ahmadinejad; Obama; Alohomora, Expecto Patronum; Honos Alit Artes; Gruda; Konco Wingking; Odius Debt; Politik Minyak; Phallus Monologue; Seppuku; Nyai Ontosoroh; dll. Jika satu judul rata-rata mengandung 5 referensi, berapa buku yang telah Mas Syafruddin baca? Padahal satu judul bisa memuat lebih dari 5 referensi.

Dari beragamnya kutipan dan isitilah yang dipakai oleh Mas Syafruddin bisa kita bayangkan berapa ribu buku yang telah beliau lahap selama hidupnya dan berapa gyga byte memori otak beliau. Otak beliau pasti berharga murah karena telah banyak memori yang terpakai tidak seperti otak saya yang mahal karena masih banyak yang kosong. 

Jeda adalah bagian kedua yang diisi oleh Mas Kurnia Effendi. Beliau berangkat sebagai cerpenis yang notabene lebih bergaya narasi daripada argumentasi atau persuasi murni. Gaya penulisannya memang lancar laksana cerita dan sebagian tulisannya diselipi percakapan antar karakter sehingga pembaca diajak membaca sambil berpikir tentang apa yang ada dibalik tulisan tersebut. Mas Kurnia berperan seperti seorang nenek yang sedang mendongeng kepada cucunya yang pada akhir cerita beliau men-sum-up pelajaran yang dipetik baik dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan. Penulis sukses menyuguhkan gaya cerita dengan kandungan filsafat yang dalam.

Salah satu tulisan Mas Effendi yang menarik adalah tentang Slamet Rahardjo Djarot yang sengaja berlebaran di rumah Bi Sumi dan makan opor ayam yang ternyata sebelum disembelih sempat tertabrak motor. Dalam tulisan ini penulis menggarisbawahi kesederhanaan dan kepolosan sebagai niat baik yang sudah semestinya dihargai. Gaya berseritanya mengalir lancar seperti air sungai yang bening dipecah bebatuan disana-sini. Indah dan merdu.

Perbedaan gaya tulisan ini tidak menandakan siapa yang lebih andai dan siapa yang lebih lihai menulis karena gaya hanyalah masalah pendekatan seseorang terhadap realitas yang dihadapinya. Tidak banyaknya referensi yang Mas Kurnia sebutkan tidak berarti beliau kering ilmu. Ini hanya menunjukkan bahwa proses internalisasi ilmu Mas Kurnia berbeda dari Mas Syafruddin. Ibarat berdagang, Mas Syafruddin seperti sebuah hypermarket yang menyediakan apa saja yang siap saja perlukan; komplit plit plit. Sedangkan Mas Kurnia ibarat sebuah restoran yang menyajikan makanan yang bahan-bahannya dibeli dari hypermarket Mas Syafruddin yang kemudian diolah dengan resep rahasia. Keduanya saling melengkapi dengan keunggulannya masihng-masing.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja. Kedua penulis seakan berkolaborasi seakan rintik hujan mengobati dahaga pembaca di gersangnya kemarau berkepanjangan di kepulauan kelapa. Bagi yang lebih suka gaya ilmiah textbook, Interlude ibarat tambang berlian di perut bumi. Bagi yang suka menyelam dalam lautan nilai-nilai, Jeda menyediakan taburan mutiara.

Selamat membaca Interlude Jeda. Semoga bermanfaat.

RUMAH LABA-LABA

RUMAH LABA-LABA

Selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba.

Saya pernah meyakini hal tersebut diatas secara buta. Saya meyakininya bukan karena ikut-ikutan tapi karena memang telah membuktikan betapa mudahnya rumah laba-laba itu saya hancurkan dengan penghuninya yang putus asa sekalipun. Sekali gantas berantakan sudah jejaring di pojok-pojok kamar saya itu.

Namun saya teringat kata-kata seseorang yang kemudian membuat saya berpikir kembali tentang kebenaran keyakinan saya itu. Benarkan rumah laba-laba adalah selemah-lemahnya rumah? Jika ya, apa penjelasannya. Jika tidak, apa juga penjelasannya. Saya harus menemukan jawabnya.

Berabad-abad yang lalu, dua orang sahabat karib bersembunyi di dalam gua dari kejaran sepasukan manusia biadab yang bermaksud mencelakai mereka. Tiada tempat lain yang lebih aman daripada persembunyian berupa gua yang tak aman itu.

Derap langkah kuda pasukan kavaleri itu sampai di mulut gua. Alangkah paniknya salah seorang dari mereka mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua dan nasib keluarga dan sahabat lain yang masih sangat mebutuhkan keberadaan mereka berdua. Hanya harapan besar pada pertolongan Yang Mahakuasa saja yang membuat mereka merasa aman dalam penjagaan-Nya.

Alam bekerja sesuai dengan hukumnya dalam keteraturan yang tak mungkin berdiri sendiri. Siapa yang penasaran jika laba-laba membuat rumah di mulut gua? Itu sudah biasa, sesuai hukum alam. Dan apa anehnya sepasang merpati bertengger di mulut gua? Semua biasa saja. Gua tak berpenghuni. Hanya seekor tokek nakal saja yang menuntun rasa ingin tahu pasukan itu. Maka pasukan berkuda itupun tak merasa perlu merusak kembali rumah lemah buatan laba-laba di rongga gua berpenghuni sepasang sahabat itu.

Selamatlah dua sahabat itu dari kekejaman pasukan berkuda Quraisy sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah Madinah yang telah penuh sesak oleh manusia dan kerinduan yang membuncah pada Muhammad dan Abu Bakar.

Rumah laba-laba yang lemah telah menolong dua manusia besar. Inilah jawaban pertama saya.

Seorang profesor meneliti benang-benang bahan rumah laba-laba tersebut. Dibuat dari air liurnya sendiri, benang-benang halus tersebut ternyata memiliki kekuatan berlipat ganda dibanding dengan benang baja. Subhanallah. Inilah jawaban kedua saya.

Seorang guru Al Quran saya, almarhum Moenadi, mengatakan budi bahasa yang halus dan tulus hanya muncul dari rasa hati yang halus. Hanya rasa yang telah terasah yang dapat memiliki kekuatan kuat untuk menyusun jalinan persahabatan dan persaudaraan. Kekerasan hati, kata-kata apalagi tindakan hanya akan merusak saja. Begitu juga jalinan rumah laba-laba hanya bisa kuat, jauh lebih kuat dari kawat baja, karena dijalin dengan air liur yang keluarnya dari mulut sang laba-laba yang tulus, dirajut dengan kesabaran dan ketulusan. Tahukan Anda berapa lama sang laba-laba harus ngeces (ngiler) untuk membuat rumahnya berputar-putar membuat jejaring dengan perhitungan yang simetris tiada cacat? Dan berapa lama seorang manusia harus merusaknya? Apakah sang laba-laba menyerang Anda karena Anda telah merusak rumahnya? Tidak! Dia akan membangun kembali rumahnya dengan ilernya yang halus namun kuat disusun dengan besar sudut tertentu membentuk sebuah network yang hebat, kuat, anggun, memerangkap dalam kelemahannya. Ingat, Frodo Baggins pernah terjebak jaring laba-laba dan nyaris mati lemas di The Lord of The Rings karya Tolkiens. Inilah jawaban ketiga saya.

Masih dari Pak Moenadi, logo PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) adalah rumah laba-laba. Mengapa PBB gagal membina jaringannya? Karena landasannya bukan persaudaraan yang tulus dan ikhlas namun materi dan kekuasaan. Ini jawaban keempat saya.

Rumah laba-laba memang lemah secara kasat mata namun dengan rasa hati kita dapat memahami apa yang ada di balik itu, dan dengan perhitungan tepat kita tahu jejaring ini kuat dan akurat. Pertanyaan saya terjawab sudah.

Boleh jadi Anda punya jawaban lain untuk kita semua, Sudara-Sudara.

Terima kasih saya pada Keluarga Besar Al Badiyo di seluruh dunia.

I love you, all. J

June 12, 2008

BERSYUKUR JADI MANUSIA (English version)

BERSYUKUR JADI MANUSIA

(English version)

Mbak Zaitun, English ’93 Airlangga University, is one name I file among them making my life glared and precious. Perhaps it is late to understand her quotation but it really grows me mature. I don’t recall her complete speech but here is a cut of it: Sister, you should always be grateful for being a human being.

I am quite convinced that I exist NOT not in purpose. I am not a universal accident that comes out out of the blue due to a technical problem in a unruled galaxy. I am a body that has been planned for existence; every inch of which has a share to balance the Universe; every movement of which contains energy to balance the Universe; every beat of which owns a function to balance the Universe. I am created for a balance.

I might be the balance itself.

But, why should I have been created as a human being, while I often mumble of its responsibility to be? I feel like to think the whole life to comprehend the secret of being a human being. But let me let you know about what have been the clear reality of not being a not human being. It relieves me somehow though a little and it is sufficient to pay my debt to that Mbak Zaitun, one of informal teachers in my life. Isn’t it right that learners’ debt will be fully paid when they “successfully” digest and apply the knowledge tranferred by their teachers?

This is strange, but true, for truth is always strange. (Lord Byron, 1788 – 1828)

IF I WERE A…

If I had been created as animal, I would have chosen to be a bird coz I have always wanted to fly. If I were a bird, I would fly around the world. Or, a dolphin. If I were a dolphin, I would save as many lost sailors as I could. An elephant, probably. If I were an elephant, I would remember every memory I have before human beings grab all the nature gift of mine. However, what animal can live, laugh and love at the same time in the balaced quality?

As a bird I might be able to fly but can I go around the world without becoming wet under the rain or hot under the sun or cold under the snow? Can I hug my beloved family while flying? Can I eat while flying? Can I sleep while flying?

As a dolphin I might be able to swim and dance in the water. I might save as many sailors as possible before I die but I can never protect myself from bigger danger from the other sea beasts.

As a giant mammal, I can always remember the sweet memory in my life but what can I do when human beings destroy the forests with even their weak limbs? My tears are cheaper than those falling logs. My trunk is cheaper than those clinking gold coins. My existence is cheaper than the human’s ego. Finally I can only play football among the cheering humans’ offsprings.

If I had been created as plants, I would have chosen to become jasmine or orchid or lotus or nephentes or sunflower or the beautiful wild grass for home decoration but then I will decay by the time water in the vase evaporates and water in my body flows out. Or I will be consumed by the herbivore animals.

If I had been created to be unseen creature, I would have chosen to be a witch. I would fly without wings in a pine twig. I would smell sweet. I would sing beautifully. I would live much longer than a human being. But… I would leave my lover old while I am young forever. I would hide timidly when the human beings confidently wander around. I would not live comfortably when I meet them – while meeting them would be a probability for a witch.

If I had been created to be celestial bodies, I would have chosen to be a comet that evolves distantly around the sun. I would not even
know when I would come to one same point after thousands of years. And, I would be lonely in every single inch of my evolution even though I witness a lot of places with a lot of legendary circumstances.

If I had been created to be an abstract thing, I would have chosen to be happiness. It would go around hearts. But happiness is never created as itself. Happiness is created with a twin sister, the sincerity. I have to make a double wish then: being happiness and being twin. Will they be granted? J

Those are all my wishes if I were not a human being like now. Fortunately, I realized soon that being a human being is everything I have been best given.

I don’t have to be a bird to fly. As a human being, I can fly inside a sophisticated bird with sophisticated facilities. I don’t have to be a dolphin to be able to swim in the sea and help sailors for I can swim in the swimming pool – or let’s say I swim in the sea of life and help “other sailors” having been lost in their voyages. I don’t have to be a giant elephant to be able to save an large amount of memories and I am strong enough to protect my own habitat with my small physical though. I don’t have to be any kinds of flower to look beautiful and sweet; as long as I know what I am doing, I look beautiful thoroughly. I don’t have to be a witch to live longer because human being’s good name can live even much longer than a witch’s life. I don’t have to be a comet to experience many great good things. I just have to undergo every single thing patiently and I will be a comet around this mistery life. And I don’t have to pray to be created as sincerity and having the happiness as my twin sister since my heart can bear both of them and I can be sincere and happy at the very moment.

Again and again being a human being is the greatest gift I have ever received from the Owner of the Universe.

Thanks to Mbak Zaitun for saying words enriching my soul.

June 11, 2008

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

Masih terngiang ungkapan Pak Harto, mantan presiden kedua Republik Indonesia, pada saat orang-orang menyinggung tentang tantangan terhadap beliau untuk tidak menjadi presiden lagi: “nggak presiden ra patheken”. Barangkali bagi adik-adik usia 20 than kebawah hal ini bukan sebuah hal yang istimewa namun bagi kami yang lahir di era 70an akan merasa ungkapan ini sebagai arogansi dan ironi.

Saya tidak ingin membahas Pak Harto dan penyakit pathek (sampar, bahasa Jawa) karena saya bukan politikus atau dokter yang kapabel untuk itu. Saya hanya akan menganalogikan ungkapan tersebut dengan ungkapan “nggak kaya nggak patheken” atau nggak kaya nggak masalah.

Saya bukan orang yang kaya dan bukan pula orang yang bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan namun jujur saya pernah membayangkan seandainya saya menjadi orang yang punya banyak uang dan atau fasilitas. Jujur sekarang ini saya termasuk orang yang hidup penuh semangat karena harus melunasi tagihan-tagihan J

Konsep kaya sangat beragam. Mulai dari kaya harta sampai kaya hati. Kalau diberi range bisa saja seperti menjejerkan beragam gradasi warna dari hitam hingga putih. Saya sendiri kurang suka kalau harus mendefinisikan sesuatu karena otak saya sudah lelah memahami definisi yang kadang justru membuat hidup saya jadi beku dan pucat.

Kalau kaya adalah masalah harta, siapa orang terkaya di dunia ini? Saya yakin mereka adalah orang-orang yang namanya pernah di-tally oleh majalah Forbes. Kalau masih masuk majalah Kuncung masih jauh jarak tempuhnya dari jabatan Rang Kayo.

Pernah suatu masa saya suka sekali pura-pura jadi orang kaya, jalan-jalan menghabiskan uang, belanja barang-barang yang tidak saya butuhkan. Saya beli barang-barang yang menurut saya tiada guna. Saya makan dan minum walaupun saya tidak haus atau lapar. Saya minum cairan yang tidak harus saya suka yang penting harganya mahal. Saya pesan makanan tidak enak yang penting bandrolnya paling heboh. Lalu saya juga nonton film walaupun tidak ada yang memenuhi selera saya. Saya juga ikut-ikutan main bowling yang sejatinya bukan olahraga favorit saya hanya supaya dibilang keren. Saya juga membeli tas ber-merk walaupun tas saya di rumah masih utuh, merk-nya pun belum terlepas… J

Saya berlagak kaya untuk membuktikan apakah saya benar-benar pantas menjadi orang kaya baik sekarang maupun nantinya. Istilah yang saya pakai adalah belajar kaya. Biar kalau nanti kaya beneran saya tidak norce (norak).

Setelah sampai rumah saya kalkulasi semua yang saya belanjakan termasuk ongkos taxi yang saya suruh lewat tol walaupun sesungguhnya akan lebih murah dan cepat jika tidak lewat tol. Latihan kaya… jumlahnya belum mencapai 3 juta tapi ternyata sudah cukup membuat saya kaya. Ah, ternyata saya masih penasaran tentang latihan kaya ini. Mungkin bulan depan harus lebih fantastis.

Bulan depannya saya melakukan hal yang sama. Ternyata total nilai yang saya dapatkan lebih kecil dan saya tidak puas. Bulan selanjutnya tidak lebih besar. Dan akhirnya saya menyerah latihan karena ternyata tabungan saya mulai menipis. Tunggakan kartu kredit saya juga melonjak. Aduh bagaimana ini nasib latihan kaya saya?

Secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku tentang orang-orang yang (pasti) super kaya. Mereka adalah para pemilik perusahaan kelas mammoth. Mereka adalah bos-bos yang uangnya (pasti) akan membuat saya mendelik sewot saking banyaknya. Mereka adalah orang-orang yang tidak ribut membayar tagihan kartu kredit karena ada orang yang menguruskan itu untuknya.

Kemudian saya menemukan bahwa ternyata ada salah satu dar
i mereka berkebangsaan Jepang dan menempati rumah kayu dan kertas. Apa yang dia lakukan bukanlah membelanjakan uangnya seperti orang kalap. Dia lebih sering merenung atau berbincang dengan sang istri di rumahnya yang sederhana. Tidak ada kesenangan yang lebih dia sukai selain melatih hobinya menulis kaligrafi.

Saya tidak sempat lagi melanjutkan membaca karena teman saya serta merta menyodorkan sebuah buku lainnya yang menceritakan tentang seorang karyawan Bill Gate yang lebih rela keluar dari pekerjaannya untuk merintis pendirian perpustakaan-perpustakaan di daerah-daerah terpencil di Asia.

Sungguh tak dapat dipercaya. Orang kaya malah mengundurkan diri dari jabatan Rang Kayo. Sedangkan saya yang seharusnya menikmati hidup dengan cara sederhana malah belagu menghambur-hamburkan uang yang serinya pun masih bisa dihapal. Saya merenung lagi apakah perlu saya berlatih kaya dengan cara bergaya seperti orang kaya. Apakah memang jabatan Rang Kayo sebuah status urgent bagi saya? Apakah kalau tidak kaya saya akan patheken?

Saya mengaca. Di cermin saya melihat wajah kusam lagi bodoh, wajah kuyu lagi picik, wajah miskin lagi konyol.

Saya segera membereskan bon-bon pembelian yang saya kumpulkan untuk menghitung pengeluaran saya bulan ini. Saya buang semua ke keranjang sampah lalu saya membuat daftar nama-nama orang yang pantas menerima barang belanjaan yang ternyata sungguh-sungguh tidak ada gunanya untuk saya.

Selama ini saya tidak latihan kaya tapi latihan gila.

June 11, 2008

SONTOLOYO POPULER KEMBALI

SONTOLOYO POPULER KEMBALI

June 10, 2008 sebuah paket ditujukan kepada saya sudah tergeletak di ranjang saat saya tiba dari kantor. Yang bisa saya baca dari bungkusan plastik transparan adalah nama sebuah tabloid: PARLE. Tabloid yang selama ini, jujur, tidak pernah saya kenal.

Tidak ada nama pengirim. Dan yang lebih aneh lagi, saya tidak sedang berlangganan atau menanti datangnya tabloid-tabloid ini. Yang saya tunggu-tunggu kedatangannya adalah sebuah buku berjudul Jeda.

Diantara tumpukan tabloid PARLE ternyata ada sebuah buku. Bingo! Ini dia buku yang dijanjikan oleh seorang MP-er yang halamannya pernah saya kunjungi dan puji.

Terima kasih, Pak. Paketnya udah nyampai. Interlude-Jeda karya Syafruddin Azhar dan Kurnia Effendi.

Tanpa interlude segera saya baca buku berisi artikel-artikel yang dilahirkan oleh dua orang penulis produktif diatas. Bagian pertama adalah Interlude berisi tulisan-tulisan Mas Syafruddin Azhar sedangkan Jeda diisi karya-karya Mas Kurnia Effendi.

Saat membacanya saya “tersandung” oleh sebuah artikel berjudul Sontoloyo. Penulis terinspirasi oleh ungkapan Sontoloyo yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) berarti konyol, tidak beres, bodoh dan dipakai sebagai kata (umpatan). Dalam bahasa Jawa sontoloyo berarti penggembala bebek. Saya juga jadi tahu bahwa kata sontoloyo dipopulerkan kembali oleh presiden pertama kita yang jenius Presiden Soekarno saat dia menulis sebuah tulisan di koran tentang ustadz yang mencabuli santriwatinya dan beliau menyebutnya sebagai Islam sontoloyo.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sekarang banyak sekali sontoloyo yang bergentayangan di atmosphere hidup kita. Kebodohan, ketidakberesan, kekonyolan dan orang-orang yang pantas dimaki dengan kata sontoloyo menyesaki bumi ini tanpa apologi. Hidup ini berkembang layaknya bisul yang makin lama makin mengembang penuh dengan nanah busuk sontoloyo; hanya bisa sembuh jika ditusuk dan dimusnahkan sontoloyo-nya.

Sudah terlalu banyak penyimpangan norma dalam hidup ini. Saya tidak sedang berbicara tentang norma tertulis. Saya berbicara tentang norma yang terlekat dengan dan tertinggi nilainya dalam manusia. Dialah norma kasat mata yang bersemayam dalam mental manusia.

Hati nurani

Sebagian besar manusia telah lupa bagaimana mendengarkan kata hati mereka. Telinga batinnya telah tuli dan suara batin mereka telah habis dan serak meneriakkan ide-ide halusnya.

Sontoloyo!

Mengapa norma tertulis tidak lagi mempan bagi manusia? Bukankah sekarang banyak orang menginginkan hitam diatas putih? Berapa jenis surat kita kenal? Surat tanah, ijazah sekolah, sertifikat kursus, surat gadai, surat cerai, MOU, surat nikah dan sebagainya… semua itu sekedar sontoloyo selagi hati nurani telah dibunuh oleh nafsu: kepentingan dan kebodohan.

Apa gunanya surat tanah kalau ternyata pemerintah maunya menggusur?

Apa hebatnya ijazah sekolah kalau ujiannya nyontek?

Apa nilai sertifikat kursus kalau bisa dibeli dan ketrampilan tak dikuasai?

Apa guna surat gadai kalau ternyata barangnya sudah dilelang?

Apa manfaat surat cerai kalau masih mau berkencan dengan mantan juga?

Apa gunanya MOU kalau sebenarnya tidak saling understand?

Apa gunanya surat nikah kalau masih selingkuh juga?

Yang hitam diatas putih itu hanya di mata fisik kita. Jika mata fisik kita buta maka tak sulit menipu kehidupan yang penuh nafsu ini. Tak perlulah buta, merem atau lengah saja sekejap maka tertipulah kita. Sedangkan mata batin kita melampaui semua itu. Sehitam apapun tipuan manusia diatas putihnya ketulusan maka berkali-kali mata hati kita akan memproduksi air mata dan bibir batin kita akan meneriakkan kata hati dan jika batin kita masih bersemi maka telinga batin kita akan mendengarnya kemudian dengan intuisi kita berjalan dan selamatlah kita bahkan ketika hitam diatas putih itu telah menipu kita.

Jangan takut ditipu orang lantaran kita tidak punya bukti hitam diatas putih. Hitam diatas putih itu hanya ilusi karena sebenarnya batin kita tidak bermain dengan warna. Yang bermain dengan warna hanyalah Sontoloyo!

Sontoloyo kamu klepto!!!

Terimakasih pada Mas Syafruddin Azhar atas Sontoloyo-nya J

June 11, 2008

MENGENALI WAJAH JIWA

MENGENALI WAJAH JIWA

Pagi-pagi sekali saya mendengar suara azan berkumandang dari corong mushollah Al Ikhlas di pojok Blok A komplek kami. Sudah Subuh.

Keadaan pagi itu tak beda jauh dari biasanya. Saya buka pintu kamar menuju tempat wudhu lalu memasang mukena saya. Sholah dua rakaat. Di sujud terakhir saya berlama-lama.

Disana saya melihat Bapak saya yang telah meninggal dunia. Senyumnya mengembang. Masih juga tampan seperti ketika masih hidup. Tak ada bekas pukulan malaikat. Tak ada bekas cambukan. Tak ada sayatan atau luka bakar. Berarti Bapak selamat dari azab kubur. Bapak orang baik walaupun bukan orang yang sangat relijius. Beliau seorang yang sangat jiwa spiritualnya sehingga ritual agama tak terlalu membuatnya kehilangan pegangan. Kebersahajaannya saja yang dapat membuat orang percaya bahwa agama telah membentuknya menjadi manusia tulus dan nrimo. Senyum Bapak saya adalah kebahagiaan tiada tara bagi keluarganya. Salaamun alaiha ya Rabbi…

Lalu saya bertemu dengan guru ngaji saya. Senyumnya masih juga seperti dulu. Tulus. Jenggot Hanoman-nya masih tetap terjaga rapi. Ditangannya ada Al Quran yang dulu waktu hidup dia ajarkan secara istimewa (ukuran kami) namun dicap sesat oleh teman-teman saya yang sangat kuat ngugemi (mengikuti dengan saklek (lurus (tanpa berprasangka (tanpa bertanya (tanpa berpikir (tanpa akal sehat (berharap syurga))))))) Fiqh versi keras. Menurut Psikologi Al Quran yang dia kembangkan, saya adalah manusia Juz 9. ya. Beliau berkeyakinan bahwa tiap juz Al Quran adalah representasi karakter manusia. Itulah yang membuat dia dicap sesat apalagi sejak dia dikerumuni oleh banyak sekali para Doktor dan peneliti yang terkagum-kagum terhadap pembuktian Al Quran. Saya melihat guru ngaji saya ini melambaikan tangannya mengucap salam pada saya tanpa membuka mulutnya. Apakah dia bisu di alam sana?

Lalu saya bertemu dengan dosen saya yang alimnya luar biasa. Saya tak tahu apakah dia sudah meninggal atau belum. Senyumnya tak kalah mengembang. Matanya tak kalah jernih daripada kedua orang yang saya temui sebelumnya. Ada sebuah buku ditangannya. Saya tak tahu buku apa itu. Mungkin buku Fiqh kesayangannya. Atau mungkin buku sastra kebanggaannya yang saat kuliah menjadi senjata pamungkasnya untuk membasmi serangga bodoh yang menggerogoti martabat intelektual dengan keahlian mereka menyontek. Bagaimana tidak… kami mahasiswa boleh open book tapi ketika we opened the book, we found nothing to answer his questions. Damn geniuous lecture he really are!

Lalu saya melihat sosok yang sangat cantik. Ah, benarkah apa yang saya lihat? Ini bukan mimpi?

Saya melihat diri saya sendiri. Tapi saya tidak berbaju. Saya tidak memakai apa-apa. Waduh, apakah seperti ini nasib saya? Telanjang? Polos? Jujur? Atau miskin? Alamak… Dia menatap saya dengan pandangan mengejek. Kurang ajar benar dia menertawakan diri sendiri? Di kepalanya ada rambut yang panjang sepantat (bukan pantatnya serambut ha ha ha…). Lalu ada senyum tak kunjung terkembang. Saya melihat saya dalam versi cantik bukan versi asli, ceria, yang selalu saya citrakan. Inikah jiwa saya? Jiwa yang cantik namun beku? Jangan-jangan itu kuntilanak? Bukan… karena kuntilanak pasti menangis sedangkan image ini tidak berekspresi, hanya diam. Baru saya lihat senyum tipis sebelum dia lenyap disedot arus dingin.

Allaahu akbar, saya bukannya ber-tahiyyat akhir karena ternyata saya tertidur dalam sujud panjang saya.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kanan

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kiri

Apakah saya perlu sholat lagi? J

June 11, 2008

JANGAN BIARKAN SIAPAPUN MENCURI MIMPI KITA!

JANGAN BIARKAN SIAPAPUN MENCURI MIMPI KITA!

Lagi-lagi saya sakit. Bangun tidur tak bisa bergerak, yang bisa keluar hanya air mata. Ada apa sebenarnya? Mau sms saat Subuh pun tak kuat menggerakkan jemari. Suara tak bisa keluar. Nafas rasanya kering. Sakit apakah saya ini? Yang saya ingat tadi malam saya menangis hebat setelah menghubungi seorang maling dennga harapan dia tahu bahwa dia telah mencuri mimpi saya. Tapi yang saya rasakan tetap saja berupa undefined sadness.

Saya terlanjur percaya bahwa segalanya pasti ada sebabnya kecuali sang Causa Prima. Maka ketika jari-jari saya telah bisa menari lagi, saya segera berkirim sms kepada atasan, trainer dan seorang kolega tepercaya saya. Saya minta ijin cuti sakit dan akan membawa surat dokter ketika saya kembali bekerja nanti. Mereka ok. Namun masih ada masalah. Saya tidak kuat pergi ke dokter. Lemas. Saya merasa baru akan bisa mengunjungi dokter nanti sore, seorang teman berjanji akan menemani saya ke dokter. Maka saya harus menguatkan tubuh dulu sambil terus saja berpikir apayang membuat saya sedih dan lemah lahir batin sedemikian hebat.

Sesungguhnya kesedihan ini bersumber dari kemarahan saya. Saya sedang marah sehingga saya sedih karena kemarahan saya. Kemarahan apakah ini yang tak kunjung terputus? Dalam diam saya mencoba relaksasi dan menganalisis dalam kepasrahan.

Hmm…

Gumaman parau berubah menjadi suara-suara lembut yang membimbing saya menuju sebuah titik cahaya. Disana masih ada warna. Merah, kemarahan. Lama saya melintasi merah, masih ada warna. Hijau, kesegaran. Lalu biru, ketenangan, lalu biru muda lalu merah muda seperti bunga teratai lalu putih lalu tak berwarna…

Sejenak saya hidup dalam realitas tanpa warna yang menyejukkan. Sangat singkat namun mampu menjawab segala mencairkan kemarahan saya.

Saya tahu saya masih marah dan masih akan marah dalam beberapa saat ini dan kemungkinan akan sakit lagi namun saya bahagia karena saya tahu kenapa saya marah.

Seseorang memang telah mencuri mimpi saya. Menghempaskan saya untuk mengejar mimpinya dengan membawa hak saya tanpa peduli kewajiban. Namanya pencuri tak prihatin apakah sang tuan rumah bersedih atau tidak. Dia telah mendapatkan apa yang dia incar selama ini. Yang dia incar adalah ketenangan dan keikhlasan saya. Dia telah mencuri ketenangan dan keikhlasan saya dan melarikannya ketika saya sangat lengah. Bahkan kini dia mengklaim bahwa dia telah memiliki keikhlasan dan ketenangan yang sebenarnya adalah milik saya. Pencuri terkutuk!

Kemarahan ini tak akan habis begitu saja hingga pencuri itu tertangkap polisi atau dilindas kereta atau digebugi massa atau biar tenggelam dimakan paus. Namun saya juga harus paham bahwa saya tidak boleh menunggu kapan itu terjadi. Saya tidak perlu penasaran kapan pencuri itu kena batunya; biarlah ini menjadi urusan Yang Berwajib. Yang pasti saya teraniaya dan saya berdoa secara rahasia.

Saya akan mengejar mimpi saya. Saya telah pernah memiliki kekuatan dan ketenangan yang kini hilang itu. Sejatinya saya lebih kaya daripada pencuri bangsat itu. Saya lebih hebat daripada pencuri sialan itu. Saya lebih kuat daripada pencuri jiancuk (umpatan khas Jawa Timur) itu. Dan, saya pasti bisa memiliki apa yang telah pernah saya miliki. Tanpa merebut, tanpa mencuri, tanpa merampas, tanpa menipu.

Wahai Sudara, jangan biarkan siapapun mencuri mimpi-mimpimu.

June 11, 2008