… because

… because

… because considering is way farther from trusting, let me just notice when you really lay your hand on me.

… because blurred is way worse than dark, let me just close my eyes and see where you halt.

… because nowhere is “now and “here” combined together, let me just chew your signs and carve words of wisdom with my teeth.

… because having you is way later than supper, let me just continue fasting until you really make me sick of waiting.

… because this is a poem to describe what hope can do to itself, let me just let myself go.

… hi you and You, how come you let me go without your letting yourselves go?

October 12, 2009 – 1:40am

PINGIN

PINGIN

Pingin makan tapi tak lapar

Pingin minum tapi tak ngelak*

Pingin tidur tapi tak ngantuk

Pingin istirahat tapi tak payah

Ya sudah, kumakan saja

Ya sudah, kuminum saja

Ya sudah, kutidur saja

Ya sudah, ku leren** saja

Akhirnya…

Banyak yang tertunda

Gara-gara pingin

Gara-gara maksa.

Pingin ikut Pesta Blogger 2009 tapi ada undangan walimah

Pingin bisa melakukan semua

Dalam waktu yang sama

Aaaahhhh… aku ini asli menungsa*** biasa

Keterangan tanda (*)

* ngelak: haus

** leren: rehat

*** menungsa: manusia

October 23, 2009 – 4:49 sore

Barito II – of wanting many things

PROMOSIIN GUE DONG

PROMOSIIN GUE DONG…

Salah seorang teman saya berkesempatan mendapat promosi jabatan. Dia sekarang atasan kami. Yang tadinya bisa jenggut-jenggutan, sekarang jenggutan untuk dia melembut. Yang tadinya menyumpah-serapahinya, sekarang rem cacian-nya lebih pakem. Yang tadinya berani ngomongin kesalahan dia apa secara langsung, sekarang…. Hmmm….

Yang terakhir itu yang sedang dicurhatkan kepada saya.

Ceritanya nih ada yang lagi hobi banget main game baru yang baru dipromosikan oleh teman. Jadi bos baru main game baru. BARU + BARU = GOSIP SERU…

“Kok Si Heboh main game melulu sih, Ke? Bukannya promosi jabatan berarti nambah workload ya?”

Saya cuma bisa bengong karena memang rasa penasaran sempat ada di benak juga. Hanya saja saya tidak terlalu ambil pusing lantaran workload sudah cukup berat untuk berbagi rasa tentang workload orang lain. Biarlah orang lain mengeluh tentang kerjaannya yang susahnya minta ampun, hanya Allah yang tahu. Biar saya menghayati bagaimana beratnya keluhan bertemu dengan sulitnya dokumen yang sedang di- review.

Tapi, jujur saja saya sempat menyentil bos baru itu dengan nada guyon. Ini terjadi sebelum teman ini curhat.

“Aduuuh… mau dong naik pangkat, naik gaji tapi bisa banyak-banyak main game ha ha ha….”

Karena saat itu semua sedang geguyonan, saya mendapat kesan yang mendalam bahwa guyonan saya itu benar-benar diterima sebagai sekedar guyonan. Syukurlah… Jangan cari musuh!

Kembali pada curhatan teman tentang bos yang main game baru, saya mulai berpikir berbeda. Saya rasa bos saya itu memang menanggung workload yang jauh lebih tinggi tetapi bentuknya berbeda dengan yang dulu dia ampu. Kalau sekarang dia hanya harus mengawasi kami bekerja dengan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar; walhasil dia tetap bisa bekerja sambil main game agak lamaan dikiiiit daripada orang lain yang suka main game di kantor….

Lalu saya bergumam dalam hati,”Ah, mengapa mesti saya pikirkan hal init oh bos saya dijadikan bos karena dia berkualitas menjadi seorang bos. Jadi kalaupun dia banyak main game, itu hanya luarnya saja. Mungkin otak dia sedang memikirkan flow-chart dan beragam dokumen yang tidak pernah saya kuasai sebagai seorang anak buah. Udah, kerja, kerja, kerja… ngempi dan fesbukan kadang kala saja… Jangan sampai kerjaan pekan ini sampai terutang pekan depan. Amin.”

Lalu saya lihat ada orang lain yang nge-game di fesbuk dan komputernya kenceng juga melebihi bos; makin males lah saya mengurusi hal itu.

Saya jawab kalimat teman yang curhat pada saya itu:

“Gimana ya, Bos. Aku masih banyak kerjaan jadi gak bisa ikutan bos main game juga he he he…”

Kerja yuk kerja….

October 21, 2009 – 12:51pm – obrolan di YM dengan teman kantor

APAKAH KEADILAN ITU?

Benarkah orang tua memperlakukan semua anaknya secara adil? Ataukah memang ada anak kesayangan atau semacamnya?

Dunia ini penuh warna

Yang suram membuat yang cerah tampak terang

Yang terang membuat yang suram makin tenggelam.

Apakah keadilan itu?

October 16, 2009 – 4:47 (right before going home)

KUDENGAR LANTUNAN KITABKU

Sehari lima kali kubuka kitabku

Melantunkan ayat-ayat yang kadang terlalu asing

Mengetuk-ketuk hatiku

Menanyainya apakah aku mengenalnya.

Datangnya bagai tamu jauh

Yang singgah di rumah

Demi segelas air

Menanggulangi dahaga

Yang harus sirna sebelum perjalanan dilanjutkan.

Kadang enam kali

Di penghujung malam kala ketakutan diwakili oleh remang kudukku.

Kadang tujuh kali

Di saat yang tak kutahu apa sebabnya.

Kitabku seperti mulai menghafal

Bahwa sekali, dua kali, tiga kali, emapt kali, lima kali, enam kali, tujuh kali atau kali lain terlewati.

Aku tak lagi membacanya.

Maka kitabku membaca dirinya sendiri.

Lantunannya lebih indah

Daripada suaraku yang mengharapkan ramainya pujian.

Dengarkan.

Lantunan kitabku

Meramaikan jiwa sepiku

Yang menggapai-gapai dari sedotan lumpur hidup

Yang rakus menghisapku

Sampai dunia tak mengenalku lagi.

Kudengar lantunan kitabku

Menjatuhkan jemarinya

Menarikku

Entah kemana

12 September 2009 – 3:25 pagi menjelang sahur

The Palace of Illusions

Buku ini berisi cerita wayang Mahabharata versi India, dikisahkan dari point of view Mbak Drupadi. Bagus juga lho…

Lumayan buat refresh ingatan tentang komiknya Oom R. A. Kosasih dan cerita wayang versi Jawa yang melingkar di pita kaset almarhum Kanjeng Rama.

Drupadi alias Panchali digambarkan sebagai perempuan yang banyak bertanya, kurang sabaran, anti kemapanan, suka belajar dan beberapa kualitas yang tidak biasa dimiliki oleh perempuan wayang lainnya.

Dalam versi ini, Drupadi mempraktikkan poliandri. kelima ksatria Pandhawa dia persuami.

Setelah membacanya, saya mencatat sebuah kesan mendalam yang tertoreh di puisi miskin berikut ini. Semoga berkenan dengan cara saya berbagi. Selamat menikmati.

THE PALLACE OF ILLUSIONS IN A POETIC REVIEW

Kudapati kemarahan Panchali di dasar hatiku.
Pertanyaannya sambung-menyambung dengan lipatan penasaranku.
Rasa gundah dan rindu menjadi jurang, menganga didasari duri panas yang siap menghanguskan keberanianku.
Apalah arti istana tanpa ratunya
Sebagaimana pemerintahan tanpa raja?
Matahari memanjati batang-batang kelapa dan dari puncaknya dia meluncur terjun ke lautan, waktuku menuai janji kekasihku tlah tiba.
Tak peduli lagi pada sara cemburu atau ketepatan cintaku,
Aku mesti menagih catatan dewata.

Tak usah disesali, duka dan suka seperti kue lapis manis:
Sama rasa beda warna dan aroma.
Perang mesti datang, menghantarkan istanaku kembali
Sebelum sang surya benar-benar lenyap dimakan cakrawala.

Dan di penghujung laga, aku remas hati yang dahaga kesumat dan cinta.
Wahai Penyesalan, salahkah aku memercikkan api yang mengobarkan banjir kematian?
Mati jasad,
Mati akal,
Mati hati.
Jujur catatan hidupku adalah jalan kecil yang kukira tak dilalui kecuali oleh pemberani istimewa.
Nyatanya, aku digelayuti paa dewa yang haus kemenangan terhadap pesaingnya…

Kini tinggal nuraniku saja.

Kasasi – 12:00malam

WHERE ARE MY FIREFLIES?

You used to blink;
You used to gleam;
You used to glow;
In my heart.

You used to fly;
You used to dance;
You used to play;
In my nights.

Where are my fireflies?
Where are my fireflies?
Where are my fireflies?
I miss you my fireflies.

In summer night here came fireflies ages ago –
Brightening the spinning earth green and young.
The fireflies visited earthlings even the dead;
It was.

When I go out to darkness,
Only one firefly I meet.
It blinks, gleams and glows
Weakly; losing its enthusiasm.

Oye fireflies,
Do you not exist? Do you blend your light to the artificial light?
If no, where are you?
If yes, do you do it coz you give up or adapt?

Fireflies,
Don’t leave my nature.
I love your small lanterns.
I love your silent existence.
Fireflies, my rare guides.

Jakarta-Tangerang on Varion – June 27, 2009 – around Maghrib time

LOVE

LOVE

In what system do you manifest your existence?
Is it in a marriage with which one man and one woman agree with one commitment?
Is it in a religion in which some people claim themselves right anf the rest wrong?
Is it in a community in which leaders and follower judge each other?
Or…
Is it in nothing where anybody can’t understand anything?

I am happy and sad at the same second on the same dot along one unlimited line.
Answer me.
My paper is still blank.
My sincerity is still pure.
Love…

Ciledug on Vario
June 18, 2009 – around Maghrib time

BAKIAK WAK HAJI

BAKIAK WAK HAJI

Bakiak Wak Haji

Berkelontangan

Menghajar tanah kering yang sedang mengantuk

Menyayati jalanan kampung yang mulus

Membangunkan pikiran-pikiran santri

Menjengkelkan telinga-telinga malaas

Menggoreskan sejarah bising yang sunyi

Tapi…

Wak Haji tak berhenti berjalan

Walau surau terlewati

Muadzin menjerit memanggilnya

Jamaah bertepuk tangan mengingatkannya

Anak-anak berceloteh keheranan

Ibu-ibu berbisik-bisk jengkel.

Bakiak Wak Haji

Makin lama makin tipis hilang bunyi

Tanah tertawa kegelian serasa dielus tangan putri

Jalanan kampung serasa diluluri

Santri-santri menjadi murah senyum

Telinga-telinga malas hidup kembali

Imama muda memimpin sembahyang

Tepukan lembut disapa santun bacaan benar

Anak-anak tetap sembahyang sambil berlari

Ibu-ibu terbuai doa khusyu’nya sendiri

Wak Haji tetap berbakiak

Bakiaknya setua jumlah uban di kepalanya

Bakiak Wak Haji

Semakin tua

Semakin mengaji…

Kasasi – August 15, 2009 – 9:14pm

BERKATA MANUSIA

BERKATA MANUSIA

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa takdir tak pernah merugikan manusia tapi rasanya tak mungkin karena rupanya hidup kadang tak adil”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa tak ada pilihan lain selain takdir yang kita jalani tapi rasanya tak mungkin karena rupanya yang saat ini mesti diganti”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa hidup ini penuh hikmah tapi rasanya tak mungkin karena rupanya lebih banyak orang yang tak menemukannya”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa Tuhan akan memberi kita jalan keluar bagi segala urusan tapi rasanya tak mungkin karena ruapanya manusia niscaya mesti berusaha menciptakan solusinya”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa aku bisa menyelesaikan segalanya tapi tak mungkin karena rupanya waktu dan ruang kita adalah dimensi yang sangat trerbatas”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa aku punya sesuatu tapi rasanya tak mungkin karena ternyata yang kukatakan milikku selalu berlalu seperti terbangnya debu dari atas meja”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku ingin percaya bahwa aku tak percaya tapi rasanya tak mungkin karena aku terus menerus percaya dengan segala yang tak kupercaya adanya”.

Berkata manusia

“Sesungguhnya aku sungguh percaya adanya sesuatu yang dapat dipercaya namun sangat sulit untuk dilakukannya dan sebaliknya. Semuanya lengkap seperti sisi-sisi berlian yang jika satunya tak berkilau yang lain memantulkan cahaya dan berlian itu tak berubah nilainya”.

Kasasi – July 5, 2009 – 9:27pm

STATUS FACEBOOK

Seseorang di Facebook memasang status seperti ini:

tak mungkin lari dari nurani… dari luka, dari cinta dan dari waktu… tuk berbagi.

Saya sempat lega namun ketika di barisan comment saya mendapati…

Yg penting bs lari dr tanggung jwb.

(yang penting bisa lari dari tanggung jawab, tulis ulangan)

… Seketika itu saya berpikir. Ya… manusia model begini jauh lebih banyak jumlahnya he he he… lalu saya menutup laman orang tersebut dengan harapan mendapatkan status FB lain yang biasanya lucu-lucu dan membuat saya berkali-kali berpikir tentang tanggung jawab.

Tangerang – May 15, 2009 – 12:26 dini hari

EMAS TETAP EMAS

EMAS TETAP EMAS

“Emas tetap emas,” kata seseorang

Bak seorang motivator meluncur nasehat-nasehatnya

Ya, memang emas tetap emas

Siapa bilang dia bisa membatu menjadi berlian?

Berlian tetap berlian

Siapa bilang dia bisa mencair menjadi anggur

Menemani malam-malam pencinta yang mabuk asmara?

Garestra

May 14, 2009 – 12:17 dini hari

PENJARAKU DIMANA?

PENJARAKU DIMANA?

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung penghuninya

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung petugasnya

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung para pengunjungnya

Dunia ini ibarat penjara yang mengurung tubuh-tubuh dalam dindingnya

Itu kataku tadi malam…

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup kejam untuk mengurung mimpiku

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup sempit membatasi ruang gerakku

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup megah mengangkangi kemerdekaanku

Dunia ini adalah penjara yang tak cukup kokoh menjaga perjalananku

Inilah yang kudapatkan pagi ini…

Malam dan pagi tak mengubah penjara

Malam dan pagi hanya meminjamkan cahaya

Tidur dan bangun tak mengubah penjara

Tidur dan bangun hanya menyembunyikan kesadarannya

Apakah kau merasa terpenjara?

Cobalah sentuh jerujinya

Jika nyata, maka ya

Jika tak nyata, hanya kau yang tahu jawabnya…

Garestra

May 7, 2009 – 12:51am

SUKA MENGACA?

SUKA MENGACA?

Jarang mengaca membuat saya pede habis terhadap penampilan saya tanpa berpikir bahwa dandanan ini amburadul atau kurang menarik. Salah satu konsekuensi tidak mengaca adalah saya tidak berani pakai bedak agak banyak, tidak berani pakai kerudung lebih trendy, tidak berani pakai baju modis; karena jika berani melakukannya tanpa cermin, penampilan akan makin amburadul.

Nah, sering saya melihat orang-orang yang bersimpangan jalan atau bertemu muka baik sengaja maupun tidak. Saya melihat ada yang biasa saja, ada yang luar biasa. Yang biasa jelas biasa saja, tak ada yang membuatnya menonjol atau paling tidak penampilan fisiknya menutupi keluarbiasaan di baliknya. Yang luar biasa ada dua jenis: yang luar biasa cantik dan yang luar biasa amburadul.

Sempat saya bertemu seorang wanita luar biasa di tempat yang biasa. Tempat ini membuatnya makin ruarrrr biassa… Di terminal Blok M yang layaknya terminal bis di Indonesia, berdiri seorang wanita yang tingginya sekitar 170 cm-an, rambutnya sebahu tebal hitam, rok sedikit diatas lutut,blus ukuran pas badan, tas kerja yang elegan dan sepatu yang kinclong. Saya rasa semua mata lelaki tertuju padanya. Mata saya juga tapi hanya melirik karena kalau terlalu mencolok, takut dibilang lesbian.

Saya berpikir, pasti tadi pagi berangkat kerja si mbak ini jauh lebih segar dan rapi. Caranya mengunyah makanan sungguh sangat feminin (gimana ya?). Caranya mencangklong tas juga sangat peragawati (gimana coba?). Apalagi caranya berdiri: tegak, kedua kakinya dijaraki (diberi jarak maksudnya) 20 cm dan lehernya melengkung sedikit seperti mengepit buah apel dengan dagunya. Sungguh seorang wanita cantik dengan sikap tubuh yang anggun.

Saya mulai berandai-andai. Seandainya aku secantik dia. seandainya aku setinggi-langsing dia. Seandainya aku se-pede dia. Seandainya aku sememukau dia. Seandainya aku seperti dia. Apalagi ketika menyadari bahwa para lelaki yang memandangi si mbak ini tak ada satupun yang celometan (berkata-kata nakal, bahasa Jawa). Ideal sekali! Cantik dan tidak diresehi.

Rasanya kok susah untuk tidak bersyukur dengan kondisi si mbak ini ya… Duh, Gusti senengnya jadi dia.

Tiba-tiba saya melihat si mbak mundur perlahan membuat saya beringsut khawatir ketabrak. Dan…

Ooo…

All of a sudden alias ujug-ujug saya bersyukur…

Terima kasih bahwa aku bukan dia. Terima kasih bahwa aku adalah aku. Terima kasih bahwa aku belum sempat mengaguminya lebih jauh. Si mbak tadi buang sampah di saluran air. Dan itu sudah cukup bagi saya untuk tidak menginginkan posisinya, bagaimanapun cantiknya dia. Mungkin tidak ada yang menyadari tapi saya menyadarinya dalam keadaan sangat prihatin dan jauh dari rasa iri atau dengki atau mencela.

Di dalam bis saya menyadari si mbak itu lagi-lagi membuang kulit-kulit permen di bawah bangku yang didudukinya.

Saya kembali berpikir bahwa saya sanggup mengumpulkan sampah sehari dalam kantong plastik di tas saya sampai saya menemukan tempat sampah sedangkan si mbak ini tidak adalah karena jika beliau nyampah di tas maka orang yang tidak secantik dia tidak punya nilai lebih di mata dunia. Duh Gusti… terima kasih saya Kau jadikan aku wanita pengumpul sampah…

Untung saya tak suka mengaca…

February 26, 2009 — 9:33pm

JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK

JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK

Judul sangat penting perannya dalam sebuah komposisi. Komposisi bisa berarti apapun: tulisan, musik, rangkaian bunga, kumpulan peristiwa hidup Anda, bahkan alam semesta adalah komposisi. Tanpa judul sebuah komposisi akan sulit dideskripsikan atau mudah tapi dengan usaha yang lebih berdurasi. Judul sebagai label menjadi semacam nama diri yang embantu manusia bertransaksi dalam kehidupan.

Apa sih yang nggak ada judul? Buku ada judulnya, film ada judulnya (film porno ada judulnya selalu gak sih?), toko ada judulnya (nama toko maksudnya), sekolah ada judulnya, mata pelajaran ada judulnya, nama gedung (paling tidak pakai abjad dan nomer), benda-benda. Bahkan Anda manusia pun berjudul – judul Anda adalah Novita (nama), Cipit (nama panggilan), anak cengeng (julukan), Manager Keuangan (posisi Anda di kantor), si pelit (julukan Anda di kalangan sahabat), dll.

Tanpa judul, dunia tidak lengkap. Judul adalah bentuk lain kode yang kadang orisinal kadang tidak. Ketika Anda masuk perpustakaan, Anda mencari buku sesuai judul tetapi petugas perpustakaan akan mencari buku yang Anda maksud dengan kode lain yang jauh lebih membantu dalam bidangnya. Maka mana yang orisinal, judul buku atau kode perpustakaan? Jika Anda pengunjung perpustakaan, Anda ngeyel bahwa judul buku adalah kode orisinal namun jika Anda pustakawan Anda mungkin akan mengatakan kode DDC adalah kode yang standardized dan reasonable di dalam sistemnya.

Tapi kadang judul menjadi sesuatu yang diagung-agungkan tanpa disadari bahwa isinya jauh lebih penting dibahas.

Judul bisa saja disejajarkan dengan kulit atau tampilan luar atau kesan selayang pandang atau pengenalan sesaat yang bisa saja memberikan kata kunci bagi sebuah kenyataan tapi juga bisa menyesatkan bagi para pembaca yang hanya bisa membaca tanpa mau memahami lebih lanjut kenyataan di belakangnya.

Pembaca yang baik bisa jadi adalah pembaca yang mampu memahami bacaan dengan sekali baca; atau pembaca yang mau membaca berulang-ulang tanpa bosan; atau pembaca yang memahami komposisi hanya dari membaca judul; atau mungkin Anda memiliki definisi yang berbeda tentang pembaca yang baik. Namun buat saya pembaca yang baik adalah pembaca yang sanggup menyelesaikan bacaannya sampai akhir sebagai rasa tanggung jawabnya memilih bacaan dan mampu memahami bacaan itu sebagai tambahan ilmu untuk mengapresiasi diri.

Jika Anda pergi ke toko roti dan ternyata roti yang ingin Anda beli bungkusnya dan bentuknya tidak menarik, apakah Anda akan membeli roti tersebut? Jika Anda tak mementingkan bungkus maka Anda akan membelinya karena roti itu baru mateng, sehat dan murah. Tapi jika Anda mementingkan bungkus, bisa saja Anda mendesah kecewa dan mengganti pilihan Anda karena roti sehat dan murah itu hanya satu-satunya dan bungkusnya tidak sesuai dengan ekspektasi Anda.

Kalau ada lelaki ganteng dan gagah/perempuan yang seksi jelita, kaya, pintar, alim, dewasa; apakah Anda akan mau menjadi istri/suaminya? Bisa saja Anda bilang ya. Tapi bisa saja Anda bilang tidak kalau Anda tahu dia punya penyakit paling mematikan dan menular. Judul awal membuat Anda terkesan sementara dan melarikan diri kemudian.

Kalau ada seseorang dengan kondisi yang sebaliknya dari yang diatas, meminta Anda menjadi istri/suaminya; apakah Anda akan bilang tidak? Bisa saja, karena tampilan awalnya tidak memesona Anda. Padahal bisa saja dia itu Jaka Kendil yang bisa berubah ganteng dan anak raja jika kemudian Anda mau berkorban sedikiiit saja dengan meneriama dia apa adanya. Atau bisa saja memang dia itu tidak baik setidak-baik tampilan luarnya.

Judul bisa berarti judul.

Judul bisa berarti simbol.

Judul bisa berarti tampilan awal.

Judul bisa berarti pengenalan yang mungkin hanya sepersekian persen dari isi.

Judul bisa berarti bungkus roti.

Judul bisa berarti nama.

Judul bisa berarti bentuk fisik.

Judul bisa berarti julukan.

Judul bisa berarti kode.

Judul bisa berarti first-sight alluring thing.

Judul bisa berarti apapun sesuai yang Anda pahami tentang kata judul.

Aaah… kadang judul penting, kadang tidak sebegitu penting tapi judul tidak pernah tidak penting. Yang perlu direnungkan hanyalah seberapa besar Anda memerlukan judul ketika Anda telah secara sempurna memahami isinya?

Apakah Anda terbantu atau tersesat oleh judul komposisi ini?

Saturday, March 14, 2009 — 11:00am

SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

Selepas nonton Seven Pounds yang dibintangi oleh Will Smith saya melamun tentang keputusasaan, ketakbergunaan, cinta dan penyesalan. Rasa cinta yang besar membuat Tim (pemeran utama oleh Will Smith) menyesali diri akibat kecelakaan karena kekhilafannya sehingga nyawa istrinya terenggut. Penyesalan yang mendalam tumbuh menjadi rasa bersalah, keputusasaan dan perasaan tak berguna sebagai seorang manusia.

Saya nangis selama menonton karena film-nya memang menggerogoti kesadaran akan rasa tak berguna yang mungkin saja hadir pada manusia entah dalam waktu lama maupun sesaat.

Seberapa banyak waktu yang kita lewatkan untuk orang-orang yang kita cintai sebelum segalanya tak tertolong lantaran sebuah kata sederhana: terlambat.

Tak ada orang yang lebih menyesal karena terlambat kecuali mereka yang pernah terlambat. Saya termasuk salah seorang diantaranya. Saya menyesal karena terlambat melakukan banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan jauh hari sebelum sekarang. Tak ada satu kata pun yang dapat dilakukan kecuali berandai-andai untuk menghentikan penyesalan saya. Tapi ada sebuah resep mujarab yang sedang saya terapkan pada diri sebagai pengganti aksi berandai-andai; sadar bahwa berandai-andai juga tak baik hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah berandai-andai.

Mungkin perlu memaksa diri untuk melakukan segalanya dengan kesadaran. Kesadaran terhadap mengapa saya melakukan sesuatu dan kesadaran untuk apa saya melakukannya. Mengapa saya harus tidur tepat waktunya adalah karena tubuh saya perlu beristirahat sesuai porsi. Dan untuk apa; supaya dia siap untuk melanjutkan kehidupannya.

Tim berpikir bahwa 7 detik kelalaiannya (baca message di PDA saat nyetir) yang berujung kematian istrinya dapat dia tebus dengan menemukan 7 manusia baik dan membagikan karunia tubuh saat tubuhnya mati nanti. Pada Ben (saudara lelakinya) dia berikan sebelah paru-parunya, pada Holly dia donorkan hati kanannya, pada seorang pelatih hockey dia berikan satu ginjalnya, pada seorang anak kecil dia donorkan sumsum tulang belakangnya, pada Connie dia hibahkan seluruh hartanya, pada Ezra dia berikan matanya dan puncaknya pada Emily (pada siapa dia jatuh cinta selanjutnya) dia berikan jantungnya. Tapi sayangnya dia menyiksa tubuhnya dengan jalan bunuh diri supaya 2 orang terakhir itu dapat menerima organ tubuhnya. Mengapa dia melakukan itu dan untuk apa, saya mengerti tapi tak masuk di akal saya.

Selanjutnya apakah kita mesti menguji bahwa orang-orang yang berhak kita bagi karunia adalah orang-orang baik seperti yang dilakukan Tim, lagi-lagi saya tak tahu. Yang membuat saya terkesan adalah bahwa Tim melakukan penyelidikan terhadap pribadi-pribadi tersebut sendiri dan pada saat yang bersamaan rasa sakit akan kehilangan orang yang dicintainya tumbuh makin besar. Jika saya Tim maka saya hanya akan menyesal terus dan makan sebanyak mungkin dan marah pada keadaan tanpa merasa perlu meninggalkan kebajikan untuk orang-orang yang hidup di sekitar saya. Mungkin saya akan merusak diri dan memperburuk keadaan dengan jalan tak mengindahkan apapun yang seharusnya saya perhatikan. Saya hanya akan merutuk kenapa terlambat melakukan ini atau itu tanpa berusaha merelakan bahwa ada kemuliaan lain yang bisa menebus segala bentuk keterlambatan itu.

Saya merenungi Seven Pounds sambil juga bertanya-tanya mengapa ada orang rela mati lalu memberikan apa-apa yang bisa dia berikan kepada orang lain untuk menebus kesalahan yang dia lakukan kepada orang yang lain lagi.

Saya masih bertanya-tanya bisakah saya serela Tim yang menderita untuk kebahagiaan orang lain. Kalau cinta Tim pada almarhum istrinya cukup membuatnya menjadi martyr bagi 7 nama, cinta apa yang mampu membuat saya rela menderita lahir batin seperti itu?

Dedicated to Tim in Seven Pounds dan para martyr yang telah menemukan
cinta sejatinya

March 9, 2009 – 9:32pm

KAOS KELAS

KAOS KELAS

Seragam

Semua orang akrab dengan kata itu. Tapi berapa orang yang benar-benar sadar bahwa kata itu telah menjadi sebuah sikap hidup untuk sebagian orang. Tak yakin? Mari kita periksa apakah kita ini penganut sikap seragam atau penganut paham tak seragam.

Siapa diantara Anda yang dulu sekolah (TK, SD, SMP, SMA bahkan kuliah) tak memakai seragam. Saya haqqul yaqin orang-orang angkatan saya mengatakan “aku seragaman rek”. Bahkan saya masih inget sepupu saya sekolah di sebuah es em a yang merekomendasikan tas sekolah seragam yang bertuliskan nama es em a-nya. Saya juga memakai seragam saat lomba paduan suara padahal apa urgensinya seragam jika ternyata suara yang dipadu begitu memukau sehingga harusnya menang – para juri paduan suara tutuplah matamu dan dengarkan keindahan suara kami. Saya juga inget di kelas mesti bersikap seragam, belajarlah dengan cara yang saya pakai karena kalau gak ya gak bakal sukses. Saya juga latihan menari memakai sampur (selendang) seragam – semua sampur bermotif jumputan, kalau beda gak enak ati. Belum lagi waktu kuliah ada rekomendasi jas almamater, seragam lagi deh. Ada keikhlasan, kadang kebanggaan tapi di sisi yang tersembunyi ada beban yang membuat saya harus begini dan begitu karena saya berseragam tersebut.

Seragam adalah identitas suatu kelompok. Jas biru gambar Dewa Wisnu nyengklak Garuda adalah jas Universitas Airlangga, jas kuning dengan lambang tertentu punyanya UI, loreng-loreng itu tentara, putih abu-abu anak es em a, jilbab hitam bercadar kemungkinan muslimah salafi, muslimah HT pakai gamis (tidak berlaku sebaliknya secara mutlak), orang NU lelaki sholatnya kalau gak sarungan gak NU, kalau antingnya di hidung artinya kaum punk ingusan, kalau antingnya di lidah anak punk suka pedes, seragam korpri, seragam ini, seragam itu. Itu yang kelihatan mata, belum lagi yang berupa sikap.

Kalau gak seragam maka Anda dianggap tidak tercakup dalam komunitas tersebut atau minimal mbalelo alias renegade. Dan tahu tidak rasanya menjadi kaum melenceng? Merasa terbuang. Jika kuat, dia akan bertahan. Jika tak kuat akan mati atau pindah ke seragam lain – ironis.

Ada sebuah seragam yang membuat saya merasa tak dipaksa berseragam. Namanya kaos kelas. Dua kali punya kaos kelas. Kelas satu es em a: 1-3 dan kelas Fisika-2. Saya ingat sekali seluruh penghuni didaulat untuk membuat desain, sempat ndak sempat nggawea design ya cah ben adil (sempat nggak sempat harus bikin design supaya adil). Kami semua bersemangat karena kami sadar tak ada satu pihak pun yang ingin mendominasi terciptanya kaos kelas tersebut.

Rapat kelas yang kacau balau akhirnya berakhir dengan kemenangan kesepakatan tanpa keterpaksaan dan memilih salah satu dari kami yang paling tahu tentang perkaosan untuk bikin kaos dan bendahara kelas harus nombok demi terakomodirnya ketersediaan kaos sesuai jumlah anggota keluarga. Gak ada yang gak kebagian. Ndak usah sumelang kabeh oleh kaos tapi aja lali mbayare cah (Jangan khawatir semua dapat kaos tapi jangan lpa bayarnya ya teman).

Dalam sebuah sistem yang telah diseragamkan apakah kita boleh membuat pilihan untuk berbeda? Yes, of course. Saya memilih sebuah komunitas kecil yang membuat kemerdekaan saya bertahan lebih lama tanpa harus imun terhadap keseragaman yang mengikat. Saya punya kaos kelas di sekolah saya, saya punya kaos kelas di di luar kampus dan dipakai ketika mengabdi pada masyarakat. Saya punya kaos kelas di kantor lama saya. Saya punya kaos kelas di keluarga saya. Saya punya kaos kelas di masyarakat yang sibuk mau centrang partai mana. Bahkan diluar kelas sya dulu, saya punya kaos kelas. Saya juga punya kaos kelas yang jumlahnya Cuma satu yaitu yang saya pakai sendirian! Saya punya kaos kelas dimanapun saya perlu kemerdekaan!!!

Jika Anda butuh kemerdekaan di dunia yang tak pernah luput dari keseragaman yang mengikat dan kadang mengungkung ini, sebagian manusia mema
ng perlu berpikir tentang membuat KASO KELAS.

Mengenang kaos kelas 1-3 dan Fisika-2 SMA 1 Tulungagung.

March 7, 2009 – 9:28pm

PAUS MENGUNGSI

PAUS MENGUNGSI

Para penduduk Kampung Terumbu Karang mengambang megap-megap. Dipaksa berjemur di bangkai kapal tanker minyak yang meledak semalam…

Seekor paus jantan oleng, lelah badan dan jiwa memandangi kekasihnya tergores-gores pasir meninggalkan tepian mencapai lautan…

Manusia di bawah nyiur bersorak-sorai menjinjing tali, parang dan keranjang: dibawah atap wanitanya menumbuk merica, kunyit bumbu seafood…

Anak-anak nelayan menjerit kegirangan. Paus mendendangkan nada-nada duka menghela kekasihnya ke tengah samudera…

Sepasang paus mendengus, menyelam, menguras isi kantung napasnya, menyemburkan minyak yang mengotori daging dan jiwanya…

Kapal raksasa membisu menunggu jadwal evakuasi. Di tepian masih juga riuh, manusia luput menangkap paus raksasa, menyeret lusinan lumba-lumba…

Sebagai monumen bagi cintaku dan perairan dunia

January 23, 2009 – 7.06pm

MERASA SYUKUR

MERASA BERUNTUNG

Tak ubahnya angin malam, aku menghembuskan hawa pada kegelapan yang menggeletar menanti fajar. Tapi ada kalanya angin malam mengilukan tulang belulang tua yang reot dan rapuh menjelang senja.

Tapi aku merasa beruntung mengenalmu dalam keadaan buta. Aku meraih tanganmu yang lembut dalam keadaan mati rasa. Aku mencium wangimu pada saat hidungku tersumbat. Aku menjilatmu dengan kelunya lidah. Merasakan kehadiranmu dalam kehampaan.

Inderaku ambil cuti justru ketika mengenalmu.

Aku seperti manusia menang lotre trilyunan rupiah padahal hanya butuh seringgit uang untuk hidup selama hidupnya.

Merasa beruntung bukan lagi merasakan kanugrahan yang besarnya tertakar oleh mata yang terbelalak, mulut yang terperangah, hidung yang mendengus bernafsu, hati yang berdebar, pori-pori yang bergetar. Keberuntungan semata kedamaian indera yang sedang libur mencobai desiran hawa…

February 14, 2009 — 1.02am

IDENTITAS WANITA

IDENTITAS IMPIAN SAYA SEBAGAI WANITA

Ngobrol dengan seorang teman membuat saya makin menyadari bahwa kehilangan diri sendiri adalah kehilangan terbesar bagi manusia yang merdeka.

Kehilangan diri sendiri? Ungkapan apa lagi ini?

Saya mengenal seorang wanita. Saya belum pernah bertemu langsung karena memang saya mengenalnya dari postingan-postingan beliau di Multiply ini. Saya mereka-reka sendiri stgatus beliau ini dan berkesimpulanlah saya bahwa wanita ini seusia saya, pendatang dari “Jawa”, ceria dan mandiri; dan yang terpenting adalah bahwa dia wanita single.

Ternyata saya benar kecuali tentang satu hal: bahwa dia lajang. Wanita ini seorang ibu bagi tiga orang anak yang lucu-lucu dan pasti sangat potensial untuk membuat orang tuanya selalu bahagia dan bangga. Anake ki jan lucu-lucu poool….

Apa yang membuat saya menyimpulkan bahwa beliau single?

Bukan semata-mata bahwa penampilan beliau sangat ngenomi (bahasa Jawa: kelihatan/terkesan muda). Bukan! Tetapi lebih karena curhat dan tulisan beliau yang jika saya selami lebih seperti ide dan opini seorang wanita yang tidak mewakili siapapun di belakangnya.

Wanita ini begitu independen. Beliau tidak pernah (paling tidak belum pernah sampai saat ini) mengatasnamakan pengalamannya sebagai seorang ibu untuk mengomentari sesuatu. Beliau juga belum pernah membuat postingan tentang putra-putrinya seperti yang biasanya dilakukan oleh (maaf kalau istilah berikut kurang berkenan) emak-emak yang biasanya ngomongin anak-anaknya he he he…

Begitu saya sempat mendapat kesempatan berbincang dengan beliau, saya terkesima dengan hasil “wawancanda” saya. Beliau begitu lugas dan merdeka menyuarakan opini dan idenya tentang bagaimana menjalani hidupnya sebagai wanita yang merangkap status istri, ibu, karyawan dan sebagai seorang makhluk individu.

Saya segera menyuarakan kejujuran saya bahwa kalau kelak saya menjadi seorang istri dan ibu, saya tetap memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menulis seperti ketika saya masih lajang. Saya berharap bahwa tugas saya sebagai seorang istri tidak membuat saya kehilangan identitas saya sebagai seorang pribadi. Saya ingin tetap dipanggil Rike walaupun nama belakang saya sudah bukan nama bapak saya. Saya tidak mau dipanggil – misalnya – Mama Loren hanya karena nama anak saya Loren atau dipanggil – misalnya – Ummu Hafiz karena nama anak saya Hafiz.

Saya ingin tetap mempertahankan saya sebagai seorang pribadi yang tak terlalu risau dengan hadirnya anak-anak saya sehingga saya harus selalu mengatasnamakan mereka dalam berbuat. Saya akan tetap menimang mereka tanpa harus khawatir orang-orang tidak tahu bahwa saya menimang mereka. Saya akan tetap menampilkan saya sebagai pribadi tanpa takut terhadap komentar “Halah, ABG” atau “Kayak masih lajang aja” atau “Kok nggak keibuan gitu sih”. Biar… Saya akan menjadi modified Rike tanpa kehilangan jati diri saya.

Kalau saya harus bisa menjaga privasi pasangan saya asalkan dia tidak mengabaikan dan menduakan saya, mengapa dia tidak? Kalau saya memberikan kebebasan yang bertanggung jawab terhadap anak-anak saya, mengapa mereka tidak memberikan kebebasan yang bertanggungjawab terhadap saya tanpa menghargai status saya ibu mereka?

Saya jadi ingat kata-kata seorang wanita yang “tiba-tiba” harus menjadi ibu setelah hanya selama 12 bulan sempat menjadi istri seorang lelaki.

“Rike, kamu nikmati sebaik-baiknya masa lajang kamu. Ambil hikmah bahwa belum menikahnya kamu adalah sebuah tenggang yang diberikan supaya kamu bisa berbuat lebih banyak. Perkuat karakter supaya kamu nggak menyesal nanti. Aku merasa waktu dan perhatianku tersedot oleh keberadaan suami dan anakku. Bukannya aku tidak bahagia; aku hanya merasa ba
hwa ketika masih single aku kurang mengembangkan diri sehingga sekarang aku nggak punya identitas sendiri. Aku harus menjadi Mama Rama atau Nyonya Yusuf dan dikenal sebagai Meutia hanya ketika di kantor. Bahkan mamaku sendiri mengenalku sebagai istrinya Mas Yusuf atau mamanya Rama bukan lagi sebagai anak yang pengen dimanja juga. Sebel ihhh… Petik pelajaran dariku ya, Rike sayang,” kata Meutia, sahabat saya.

Malam Minggu ini sungguh mengesankan buat saya. Mungkin saya tidak bisa mengungkapkan ide tentang identitas ini dengan baik kepada Anda sekalian tapi saya harap Sahabat sekalian tidak berpikiran bahwa saya menganggap ibu yang bangga terhadap putra-putrinya sebagai wanita tanpa identitas. Bukan itu. Saya hanya ingin tetap menyadarai bahwa Rike selalu ada diantara kehebohan dunia keluarga yang akan menghiasinya.

Hidup ini penuh dengan jalan untuk mengekspresikan keberadaan diri masing-masing. Saya menghargai semua Sahabat yang membuat saya tak berhenti bersyukur dengan segala kekurangan yang saya pahami.

Terima kasih, Mbak Dewi…

Catatan: Nama yang digaris-bawah adalah nama samaran.

January 24, 2009 – 1,03am

SAKIT GIGI

GIGIKU SAYANG, GIGIKU GOYANG

Aku sakit gigi

Gigiku sedang mengerang

Biar kompak, aku ikut mengerang

Dan kekompakan itu

Justru menambah beban derita:

Sudah gigiku cenut-cenut, hatiku keriput seperti kacang kisut.

Wahai, gigiku sayang

Sabarlah engkau

Aku juga akan sabar

Makanya aku sekarang pasang koyo Cap Cabe

Biar panasnya memijitimu dari luar dinding rongga mulutku.

Ok, ggiku

Kalau kau tak juga membaik

Terpaksa

Sekali lagi, terpaksa

Aku mengunjunginya

Siapa lagi kalau bukan

Seorang dokter gigi cantik, anggun, cerdas

Tapi kejam dan hobi mengobok-obok mulutku!!!

Duh, Gusti…

Matur nuwun atas sakit giginya

Saya bisa membuat puisi karenanya.

January 23, 2009 – 11:19pm

PIDATO OBAMA DAN TEBAKAN SAYA

PIDATO OBAMA DAN TEBAKAN SAYA

(diiringi senyum tanpa ekspresi)

Saya pernah berharap Obama akan memasukkan secara spesifik tentang konflik Israel-Palestina ke dalam pidatonya namun saya pernah menebak bahwa Obama tidak akan memasukkan “Israel-Palestina” dalam pidato kepresidenan pertamanya.

Terjawab sudah apa yang saya lihat dari balik kacamata gelap saya. Saya tidak sedang bersikap sinis. Saya hanya berusaha mencoba realistis bahwa seorang presiden Amerika Serikat, sehebat dan seobjektif apapun dia, dia akan mengedepankan kepentingan bangsa dan negaranya: kepentingan ipoleksosbudhankamnas Amerika Serikat.

Jika ada sebagian orang luar Amerika Serikat yang berharap begitu besar bahwa naiknya Barack Hussein Obama sebagai presiden kulit hitam kesekian Amerika Serikat akan membawa angin segar untuk konflik Timur Tengah (baca: Israel versus Palestina) itu hak mereka, namun segeralah tahu bahkan Obama pun tidak menyinggungnya sama sekali di dalam pidatonya.

Konflik Israel dan Palestina adalah sebuah isu politik terbesar saat ini dan AS mau tidak mau adalah salah satu aktor yang perannya tidak kecil. Eeeeh… ternyata ndak disinggung. Lha gimana dong, Mas Obama? Kenapa gak nyapa Israel “Eh, Israel, temenku, ojo nakal-nakal karo tetanggamu yooo… Ora apik… Ora sopan… Mbok ayo ciptakan perdamaian bersama-sama. Mesakake wong sing ora ngerti kuwi lho…”.

Tapi yang aneh, kenapa disebut-sebut kata Afghanistan. Ayolaaah… Obama, gak usah perang-perangan. Gak usah merasa diri Anda sebagai bangsa paling edan di dunia ini. Dan kenapa Anda berteriak “for those who blah blah blah, we will defeat you!!!” Walah, Mas Obama… sampeyan ini lho kok gaya tenan… Sampeyan bukan Gusti Allah, kok mau defeat bangsa lain yang menurut pemerintahan Anda “nakal”. Sampeyan masih mau jadi pulisi ndunya (polisi dunia) tah?

Ingat lho ya… sampeyan bilang “honesty, hard work, courage, blah blah blah… and those are TRUE” jadi nanti kalau ternyata sampeyan gak jujur dll, sampeyan akan kualat. Saya tidak mengutuk Obama, saya cuma mengingatkan diri sendiri dengan “gaya karambol” dengan target diri saya sendiri. Pletak! Wadaw!

Oke, saya tidak punya kepentingan apa-apa selain bahwa apapun alasannya perang harus diakhiri. Musuh terbesar adalah kemarahan dalam diri kita yang berkobar tak kenal waktu hingga akhirnya gelombang kegelisahan dalam diri ini menenang.

Saya juga tidak sedang membenci Obama dan bangsa-negaranya. Saya hanya sedang berbagi dengan Anda sekalian bahwa tebakan saya benar namun harapan saya tidak terpenuhi.Bagaimanapun Obama menawarkan perubahan demi citra dan cita bangsanya. Obama sedang memulai pekerjaan panjangnya (4 tahun) demi mewujudkan mimpi pribadi dan kelompoknya.

Kita, yang di Indonesia sini, mari kita bekerja keras secara jujur dan berani untuk mewujudkan mimpi kita yang bisa jadi jauh lebih besar dan mulia daripada mimpi Obama. Gak usah tergantung pada Obama. Gantungkan harapanmu pada Yang-Tak-Butuh-Bergantung. Kita bisa tanpa berharap pada bangsa dan negara lain karena orang Indonesia ditakdirkan menjadi besar sebagai dirinya sendiri.

Saya hanya bisa berdoa pada Gusti Allah bahwa saya dimasukkan kedalam gol
ongan orang-orang yang beruntung dunia dan akhirat. Amin…

January 21, 2009 – 1:11am

TATO DI PUNGGUNG BUKIT

TATO DI PUNGGUNG BUKIT

Berhari-hari kutahan gatal yang menyerang

Jika kugaruk gambarnya tak akan menawan

Dasar tukang tato amatir

Kenapa dia pakai cara jadul untuk bikin tato?

Apa tak ada metode bikin tato yang lebih elegan

Dan yang penting tak terlalu menyakitkan?

Seminggu kemudian

Akarnya mulai menyelinap di pembuluh darahku

Lalu kesegaran menghidupkan batang

Pupus-pupus hijau muncul suka-rela

Memperpanjang harapan mengacung ke langit

Berharap tak lagi ditebang di usia muda.

Tato di punggung bukit

Ditorehkan oleh segerombolan remaja pecinta alam

Mencangkuli tanah tanpa ampun

Hanya untuk mengibarkan bendera kelompok mereka

Supaya dikenal lewat reboisasi

Tak apa, yang penting segera tumbuh tato temporer di punggung polosku.

January 16, 2009 – 11.05pm

Mari cintai hutan, tanem dan rawat pepohonan

MENDUKUNG SAUDARAKU DIK AGUS KRIBO

AGUS KRIBO YANG MENYEBUT DIRINYA KEREN

(dirimu bikin otakku ikutan kribo bo bo!)

Agus Kribo? Dengan jumlah kontak sekian juta orang pasti tak ada pilihan lain buat saya kecuali setuju untuk menilainya sebagai orang yang suka berteman sekaligus suka ngocol. Bayangkan jika dia harus mengklik maka telunjuknya pasti sudah berkenalan dengan begitu banyak nama para Mpers dan bikin mereka (termasuk saya) nyengir kuda lumping.

Tak banyak yang saya tahu dari Dik Agus ini, Sidang Pembaca, karena memang saya belum pernah kopdar sama beliau. Kenal hanya sekedar komen-mengkomen di Multiply dan sapa-menyapa di Messenger jadi saya menulis ini sekedar untuk memenuhi undangan demi kebahagiaan seorang adik yang manja dan tengil. Hiks.

Ada satu kualitas Dik Agus yang sampai saat ini tidak saya miliki dan entah kapan saya bisa memilikinya. Keduanya adalah kreativitas dan kepe-dean yang tak main-main.

Banyak Mpers yang percaya diri tapi baru Agus Kribo yang pernah berlomba pantun dengan niat lillaahi ta’ala mengisi waktu sebelum dan sesudah sahur. Dengan niat ikhlas karena Allah pula dia memuji diri sendiri sehingga dia bisa mengingat bahwa kekerenannya ini tak lebih daripada karunia-Nya semata. Saya juga yakin usahanya yang gigih men-support saya untuk menulis tentang dia baik lewat YM, Facebook maupun sms adalah karena ikhlas karena Allah. Subhanallah…

Dan, itu juga menunjukkan kreativitasnya lho Sudara… Bikin pantun tak semudah bikin keonaran. Apalagi jika harus berlomba, dikomentari para Sidang Pembaca yang kadang kala kejamnya bukan buatan.

Ya inilah yang saya kenal tentang seorang Agus Kribo. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin…

Terjemah buku berpandu kamus

Kamus hilang kerjaan kacau

Gara-gara undangan Agus

Orang tenang jadi meracau

December 2008

RESOLUSI 2009

RESOLUSI 2009

Saya Rike Anggraeni, kadang saya menyingkatnya menjadi RAngg,- atau Rike Angg,- atau Keani (Rike Anggraeni). Saya juga suka memakai nama orang tua lelaki saya dibelakang nama pertama saya: Rike Jokanan.

Tadinya nggak bikin resolusi tahun baru tapi kok tiba-tiba ada begitu saja. Segala yang saya inginkan harus berakar pada: Kalau kita bahagia, orang-orang di sekitar kita akan bahagia; maka saya harus bahagia.

1. Mau bekerja lebih keras, berprestasi lebih bagus dan dapat salary raise lebih tinggi (resolusi rutin rasanya).

2. Kembali jadi orang yang percaya pada takdir baik. Rasanya hampa dan terkoyak-koyak mempercayai kecelakaan sebagai takdir buruk. Tahun 2008 adalah tahun terburuk saya secara pribadi, jangan sampai terulang lagi. Wahai Tuhanku sayang, tolong aku ya…

3. Ketemu jodoh yang baik dan terbaik (baik menurut kriteria pribadi; terbaik sebagai anugerah Allah Yang Mahakuasa).

4. Meningkatkan tabungan berlipat ganda, baik tabungan yang bisa disentuh panca indera maupun yang dirasakan hati dan jiwa.

5. Menyelesaikan sebuah pekerjaan pribadi yang merupakan impian sejak masih ABG. Harus tahun ini karena waktu terus bergulir dan saya tak mau lagi terlindas olehnya.

6. Membaca segala buku yang membuat hidup saya kembali berwarna dan meluas, mendalam dan mencerahkan. Ayo, siapa yang mau berbagi buku bagus kepada saya (ID: Keani), kunjungi www.goodreads.com.

7. Melancong, melancong, melancong!!!

SELAMAT TAHUN BARU 2009!!!

99galleries.com

99galleries.com | Forward This Picture To Your Friends

JADI IBU

JADI IBU

Pernah aku membaca

Tipe-tipe pemimpin menurut para ahli

Katanya ada tiga jenisnya

Satu, yang otoriter dan kejam selalu mengendalikan anak buahnya seakan tiada percaya

Dua, yang sangat cuek dan terlalu percaya seakan anak buahnya tak ada kekurangan

Ketiga, yang tengah-tengah, berjiwa demokratis

Kata seseorang ibuku adalah salah satu pemimpinku

Kata temanku di suatu hari

“Ibuku galaknya minta ampun, dia tipe pertama. Tapi tak mengapa, itu untuk kebaikanku juga”.

Kata temanku di hari yang lain

“Ibuku tak memperhatikanku sekaan aku ini bukan anak yang patut diajarainya. Tapi biarlah, dia sangat mempercayaiku, aku akan menjaga amanahnya.”

Teman yang lain menasehatiku

“Jika kau jadi ibu, jangan terlalu galak pada anakmu karena mereka akn menjauhimu. Dan jangan pula terlalu mengumbar kepercayaanmu karena anakmu akan menganggapmu bodoh tiada ajaran dan panduan.”

Sekarang aku tertegun,

Ibuku tak ada di salah satupun tipe itu

Atau mungkin karena aku tak mengenalnya dengan seksama

Sungguhkah?

Jika ya, aku tak peduli

Ibuku tak matang karena kategori ahli

Ibuku terhormat karena kasihnya yang abadi

Jikapun kesalahan dan dosa menaunginya

Itu hanya sebiji sawi

Tak pantas aku memilah-pilah mana dimana atau apa siapa

Biarlah dosa dan kesalahan kusimpan sahaja – menjadi pembelajaran perjalanan

Hanya jasa dan senyum yang kuukir di jiwa – menjadi panduan tujuan hidupku.

Puisi untuk ibuku sangat lugas

Karena aku ingin dia segera mengerti

Bahwa aku anak yang tahu budi

Dan selalu merindu untuk disayangi

Selamat Hari Ibu

December 22, 2008 – 5:11am

YANG BERPASANGAN DALAM HIDUP

YANG BERPASANGAN DALAM HIDUPKU

Jika hidup ini penuh keajaiban maka

Semuanya ajaib

Tak ada satupun yang biasa saja

Dari hembusan nafas pertama hingga tarikan yang terakhir

Mana yang kau hargai lebih tinggi?

Seharusnya tak ada

Karena yang pertama setara dengan cinta ayah bunda

Yang terahir setara dengan cinta seluruh jiwa semesta

Mana yang lebih kau cari?

Keajaiban kelahiran?

Atau

Keajaiban kematian?

Atau

Keajaiban diantaranya?

Atau

Inginkah engkau mengganti keajaiban dengan kewajaran?

Maka

Mana yang kau cari?

Kewajaran kelahiran?

Atau

Kewajaran kematian?

Atau

Kewajaran diantaranya?

Hanya sepasang dalam kehidupanmu

Keajaiban yang wajar

Dan

Kewajaran yang ajaib

Hanya cukup bersiap untuk menyambutnya.

December 13, 2008 – 11:59pm