Tunnels



Buku ini mendapat julukan “The Next Harry Potter” karena tingkat kefantastisannya diprediksikan sejajar dengan dunia sihir remaja berjidat bergambar kilat menyambar itu.

Buku ini setebal 650 halaman sangat menarik untuk dibaca. Diterbitkan oleh Mizan Fantasi, buku ini berkualitas sangat bagus. Terjemahan dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia cukup dapat dipahami dengan baik.

Dimulai dengan “penggalian” yang dilakukan oleh Dr. Burrows dan anaknya, Will, cerita ini mengisahkan sepenggal hidup Will Burrows yang harus memasuki dunia bawah yang asing namun sangat dekat dengan hidup dan dunia yang dia tinggali saat ini. Ayahnya, Dr. Burrows, seorang arkeolog dan kurator di musium lokal, berubah dari partner “penggalian” menjadi objek pencarian panjangnya. Sang ayah hilang di dunia bawah yang ternyata sangat berbahaya dan sama sekali unik dibandingkan dengan dunia atas alias kehidupan manusia “normal” pada umumnya.

Dunia bawah ini bisa dimasuki melalui lubang dibawah kaki kita. Dimana-mana. Bandingkan dengan dunia sihir imaginasi J.K. Rowling yang bisa dimasuki melalui peron 9 stasiun kereta di London. Namun, manusia harus berhati-hati karena para penghuninya sedang berencana jahat terhadap kehidupan dunia atas alias kita, para manusia “normal”. Will berhadapan dengan mereka.

Koloni bawah tanah ini dipimpin oleh ‘seorang leader’ yang bernama Styx. Will yang awalnya hanya sedang berjuang menemukan kembali ayah tersayangnya, kini harus sekaligus berjuang menggagalkan makar koloni bawah tanah sebelum akhirnya mereka berhasil menghancurkan dunia Will.

Will – terlahir albino – adalah seorang anak lelaki yang memiliki kecerdasan sekaligus keberanian menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya. Sebagai remaja dia tak lepas dari rasa penasaran dan jiwa berontaknya yang kadang menyeretnya menuju kehebohan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sahabatnya, Chester – yang juga bermasalah dengan kulit akibat serangan eksem hebat – Will kerapkali “menggali”.

Ide yang terpapar dalam buku ini secemerlang ide yang ditawarkan oleh J.K. Rowling. Sama dengan Ms. Kathleen, Roderick dan Brian juga berjuang keras (mereka menerbitkan buku mereka sendiri) sebelum akhirnya Tunnels “ditemukan” oleh “penemu” Harry Potter. Kabarnya Relativity Media USA segera membuat film layar lebarnya dengan nilai hak cipta sebesar USD1.000.000.

Catatan prestasi-prestasi menakjubkan Tunnels:
– Diterjemahkan ke dlam 21 bahasa
– Buku bestseller #1 di Prancis, Rumania dan Republik Ceko
– Masuk dafar buku anak terbaik versi “Book Club” paling bergengsi di Inggris
– Total uang muka penerbitan lebih dari USD500.000

Layak untuk dibaca oleh Anda dan anggota keluarga lainnya. Selamat membaca.



IRSHAD MANJI

IRSHAD MANJI

(Penulis buku Beriman Tanpa Rasa Takut)

Pertama saya mendengar nama itu dari Ibu Sri awal tahun ini. Saat itu kami sedang duduk di kursi di selasar rumah sakit Pindad, Bandung memberikan dukungan moril pada sahabat yang sedang menjalani operasi. Tiba-tibaIibu Sri bercerita tentang seorang muslimah asal Afrika yang menggebrak dunia Islam dengan “kejujuran”-nya.

Informasi yang saya terima belum cukup akurat sehingga yang ada dalam bayangan saya adalah seorang wanita hitam legam dengan badan kekar, seperti auditor kami yang bernama Constance Siwadi yang berkantor di Afrika Selatan. Saya tercengang mendapat informasi tersebut dan menyimpannya sampai suatu saat saya sedang berekreasi di Gramedia. Mata saya tiba-tiba terarah pada sebuah buku berjudul Beriman Tanpa Rasa Takut. Bacaan beginian nih yang gue cari, semoga isinya sesuai dengan yang digambarkan judul. Amin.

Pas saya ambil, eh penulisnya Irshad Manji. Saya bertanya-tanya apa ini orang yang diceritakan Ibu Sri ya? Ternyata dia tidak serupa Constance yang asli Afrika, Irshad berdarah Pakistan. Singkat cerita, saya beli.

Saya membacanya dan mengalami kepayahan mental he he he… karena (menurut ukuran intelektual saya yang rendah ini) isinya adalah segala sesuatu yang membuat saya mau tak mau mesti berpikir tentang bagaimana bisa si Irshad ini menjadi seorang penanya yang tak kenal lelah seperti ini? Saya sangat terkesan dengan pemikirannya yang kritis. Jiwanya tak mau terkungkung oleh nilai yang (di)BAKU(kan).

Saya tertarik menyelesaikan membaca buku ini – sekarang belum selesai – tapi tidak punya keberanian untuk membuat resensinya karena begitu besarnya bea alias cost yang harus saya keluarkan jika saya melakukannya. Ada baiknya Anda membaca sendiri buku ini. Dan ada baiknya Anda tidak bersikap judgmental karena Irshad Manji sendiri belum mengambil keputusan final terhadap sikapnya saat ini. Dia sangat terbuka dan menawarkan pada para pembaca untuk berkirim email demi diskusi lebih lanjut tentang pertanyaan-pertanyaan yang popping-up di benaknya dalam menyikapi realitas di dunia ini khususnya yang berhubungan dengan agamanya, Islam.

Saya bersyukur mengenal Irshad Manji sekalipun hanya lewat buku. Ada sebuah kunci berkarat yang mulai bergeser seakan diminyaki membaca buku ini. Aside from kekurangan yang dia punya dan kebencian orang-orang kepadanya (dia ini lesbian, Sudara), saya mendukungnya dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan berpikir. Realitas yang pernah dan sedang dihadapi Irshad telah membentuknya menjadi seperti sekarang ini. Dan, jika saat ini dia terbuka pada kebenaran yang hakiki yang dituntun oleh hati nurani yang bersih, saya yakin Irshad akan menjadi orang yang sangat berbahagia telah mengalami apapun yang dialami saat ini.

Saya ingin Anda membaca kutipan dari buku Irshad berikut:

Agama telah mendorongku untuk tidak tunduk kepada sesuatu pun selain kepada Tuhan yang bersemayam di dalam kesadaranku. Agama mengajariku untuk tidak menyamakan otoritarianisme dengan otoritas. Anda mungkin ingin mendengar lebih jauh tentang hal ini, karena mereka yang menuduh semua keyakinan sebagai hal yang “irasional” kadang kala melupakan bahwa rasionalitas bisa menjadi sebuah fanatisme dalam dirinya sendiri. (hal. 312)

HUJAN BATU, PANEN BERLIAN

HUJAN BATU, PANEN BERLIAN

Dulu sekali saat saya masih es de saya pernah nonton film di TVRI. Kalau tidak salah dalam film itu ada seorang wanita bule yang “berkenalan” dengan manusia gua yang sedang diburu manusia lain (penjahat). Sebagai perwujudan rasa terima kasih, manusia gua tersebut memberikan batu-batu tak berharga pada wanita yang telah menyayangi dan menyelamatkan mereka. Awalnya si wanita sangat kecewa karena gua yang dikabarkan gudang berlian hanyalah gudang batu tak berharga. Namun, di ujung cerita si wanita mengerti bahwa batu-batu kusam tersebut adalah berlian mentah yang bernilai tinggi jika diasah. Dia ingat mengapa sang manusia gua lelaki menghadiahkan kalung batu kepada manusia gua wanita.

Saya menganalogikan batu sebagai masalah yang masih sangat membebani kita. Siapa mau dilempar batu? Pasti dia akan menghindar atau paling tidak berlindung dari batu yang bisa membahayakan dirinya.

Kemudian saya analogikan bahwa kondisi seseorang yang sedang bermasalah adalah seseorang yang harus bertarung dibawah hujan batu. Setelah hujan batu berhenti janganlah berlalu. Kumpulkanlah batu-batu itu. Asahlah dengan sabar. Akan ada hasil yang kemilau jika batu-batu itu diperlakukan dengan ketrampilan tinggi.

Siapa tahu batu-batu tersebut adalah berlian mentah yang belum tersentuh tangan pengasah? Jika bukan berlian bisa saja batu-batu itu menjadi akik atau batu asah lain yang tetap memancarkan keindahan alam? Seburuk apapun batu yang diasah akan kemilau memukau. Warna hanyalah masalah gradasi. Kemilau adalah esensi batu asah.

Jika tidak keduanya? Jangan khawatir, setelah mengasah berbutir-butir batu dengan telaten dan baik maka tak bisa dipungkiri bahwa keahlian mengasah batu dan termasuk mengenali jenis dan ciri batu ada di tangan.

Jika ada hujan batu, berlindunglah sejenak untuk menghindari kebenjolan dan luka badan tetapi pungut dan asahlah semua batu dengan sabar dan teliti hingga berkilau agar Anda mendapatkan salah satu dari hal berikut:

  1. Hikmah agung yang Anda harapkan
  2. Hikmah kecil yang mencerahkan
  3. Hikmah tersembunyi yang tak terbayangkan

Hujan batu, panen berlian…

HE WANNA BE ALONE

HE WANNA BE ALONE

I have a very brave brother who has been my supporter and protector all this time. When I am sad, he is entertaining me. When he is sad, I am entertaining him. When we are sad, we are entertaining each other, laughing together in irony. Yes, we are entertainer without running entertainment business. J

Now, he is being sad but does not want me to entertain him. What is happening? Is he so much sad that he thinks I can’t get him out of the sorrow? Does he think I don’t care? Or, is it I who makes him sad? Maybe…

Sometime, someone wants to be left alone. Owing to that, I’ve gotta be an understanding person, waiting for the clear sky exchanging the dark cloudy horizon. I am waiting for the right time to get enganged to his very daily smile and receptiveness.

It is the first time I can understand my brother’s “weird” request “I am fine, just want to be left alone”. Previously he growled and scolded when he wanted me to leave him alone. But, this time he doesn’t know the deadline. It makes me quite unrest.

I accept it as an honest request though I can’t be alone without a brother’s support and protection. I am independent and capable but he is the one that has made me very much self-actualized. He has changed the world to me into a colorful, meaningful, beautiful painting.

It is difficult to describe what my brother is like because he doesn’t like me to display his photo for sure. Just imagine a man with slanted eyes, scarred right arm, curly front hair, oily face in the morning and cigarette smoking.

He is my brother that wants me now to leave him alone. Until when, Bro? I miss your laughter a lot…

July 26, 2008

SI OTONG & SAYA YANG PELIT

SI OTONG DAN SAYA YANG PELIT

Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang hampir tidak pernah memberikan uang kepada pengemis, pengamen yang ada di bus atau jalan termasuk para ulama yang meminta sedekah untuk mendirikan bangunan tertentu. Saya beranggapan bahwa dengan memberi mereka uang maka saya telah membunuh keinginan mereka untuk “bekerja secara normal”. Saya tidak mau menjadi orang yang melestarikan budaya meminta uang di jalan dengan cara apapun. Saya yakin ada cara yang lebih baik untuk “membiayai” mereka. Sayang sekali pasal di UUD 45 yang menyangkut pemeliharaan fakir miskin tidak dijalankan dengan baik.

Saya rela dikutuk dan didoakan oleh mereka karena saya tidak mau menyisihkan gopekan saya untuk mereka yang telah capek-capek nyanyi atau mendongeng. Saya juga rela ditatap dengan pandangan tajam karena (mungkin) saya adalah sedikit orang yang dengan sangat mudah dihapal karena pelit terhadap mereka. Dan tetap saja saya menerapkan perhitungan saya demi tidak memberikan uang saya pada mereka.

Saya pernah menjumpai seorang anak lelaki berusia sekitar empat tahun. Dia ingusan, debuan, rambutnya pating klenyit (bau tengik, bahasa Jawa), bajunya dekil, matanya penuh kotoran. Si otong ini menumpang bus kami dengan mengantongi segepok amplop putih untuk dibagikan kepada kami semua.

Satu per satu dia geletakkan amplop itu di pangkuan para penumpang mulai dari kursi terdepan. Saya duduk di deretan keempat. Serta merta dengan senyuman saya tolak amplop kucel tersebut sambil menggeleng. Kebetulan saya duduk dengan seorang bapak yang (mungkin) punya prinsip berbeda dengan saya.

Bapak ini mendesis,”Terima aja kenapa sih?” tetapi saya tetap menggeleng dan tetap tersenyum.

Tiba-tiba si otong menangis tersedu-sedu di hadapan kami. Saya cuek saja. Kini saya sodorkan amplop itu kepadanya tanpa memandangnya. Si otong mengambil amplop itu dengan kasar dan menangis lebih keras. Saya tak berubah.

Lalu dia menangis sambil melanjutkan fase pertama pekerjaannya yaitu membagikan amplop. Sebentar lagi mungkin dia akan menyanyikan lagu nestapa yang mengisahkan hidupnya yang malang sebagai orang miskin. Saya sudah bersiap dengan segala kemungkinan termasuk si anak kecil ini menyanyi keras-keras di sebelah saya untuk membuat saya memelas.

Saya tungga-tunggu (adaptasi ke bahasa Jawa) mana suara lagu itu tak juga muncul. Yang saya dengar hanya tangisan yang memilukan. Nangis terus sampai lebih dari sepuluh menit tanpa menyanyi.

Saya agak menyesal karena membuatnya menangis. Bisa jadi ini adalah penolakan pertama bagi kepolosan dan niat baiknya menghibur kami. Duh, Gusti Allah, saya telah melukai jiwa si otong itu. Tapi saya juga tak mau melukai prinsip saya bahwa saya tidak mau memberikan uang pada mereka. Saya terus berdoa, meminta ampun dan berharap suatu saat si otong mengerti mengapa saya menolak amplopnya. Bukan karena jijik atau benci tapi karena perhatian saya yang bentuknya berbeda.

Setelah sekitar hampir seperempat jam, si otong ini berkeliling lagi memunguti amplop putihnya yang mungkin sudah gendut dengan rupiah koin atau kertas. Ketika melewati saya dia melotot sambil mencibir. Ingusnya menggelembung seperti permen karet ditiup.

Setelah si otong (mungkin) turun dari bus, saya mendengar penumpang membahas si otong ini.

“Lu ngasih ya?”
”Iya, gopek. Tuh anak kerjaannya ngamen nangis. Biasanya sih dia nangis di metromini. Gue ketemu di 75. Kenapa sekarang bisa di 138 ya?”

“Ada yang bawa kali.”

“Nyanyi aja nyebelin apalagi nangis. Gue takut dipeperin ingus makanya gue kasih aja seribu.”

Saya masih tetap tersenyum. Untung saya nggak dipeperin ing
us ha ha ha…

PEKERJAAN SAYA, TUHAN SAYA

PEKERJAAN SAYA, TUHAN SAYA

Ada dua orang yang seharusnya saya jenguk karena sakit. Tetapi karena keegoisan saya mempertahankan pekerjaan yang tak ada habisnya maka saya melewatkan kesempatan emas untuk menghibur saudara-saudara saya yang sedang kesusahan tersebut.

“Abi sedang sakit, Mbak Rike, makanya saya hari ini harus pulang cepet. Sekarang di rumah sakit Ashobirin.” Abi adalah panggilan untuk suami Mbak Yanti, Finance Manager di LIA Taruna.

“Mbak Rike, Ibu Tuti dirawat di rumah sakit Tebet. Sudah harus dicuci darah karena fungsi ginjalnya sudah sangat menurun.” Begitu kata Nining, teman saya ketika mengabarkan bahwa Ibu Tuti, pemilik rumah yang sekarang saya tempati, sedang sakit.

“Mbak Rike, kapan main ke Bojong? Gak kangen sama kami?” belum lagi hello-saying seperti ini yang jumlahnya tak sedikit.

Saya sedang meratapi alangkah tidak bagusnya manajemen waktu saya sehingga orang-orang yang saya kasihi tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya karena saya lebih memandang penting pekerjaan saya. Saya ketakutan jika nanti pekerjaan saya yang sudah ketemu deadline hari Minggu tidak bisa selesai. Kalau client mengeluh maka atasan saya bisa saja memarahi saya. Kalau atasan saya memarahi saya maka pekerjaan saya dinilai tidak baik. Jika pekerjaan saya tidak baik nilainya maka kondite buruk akan saya sandang. Saya takut kehilangan pekerjaan. Saya takut pada pekerjaan saya. Pekerjaan saya adalah penguasa saya. Pekerjaan adalah tuhan saya. Saya diperbudak pekerjaan.

Kemudian saya mendapat kabar bahwa Ibu Tuti sudah sampai di rumah. Maka saya berazam dalam hati bahwa saya harus menemui beliau dan bersyukur bahwa beliau telah pulang.

Saya sempat mengatakan pada Mbak Yanti bahwa saya akan ke Ashobirin hari Minggu jika Abi masih ada disana. Jahatnya saya… Tidak seharusnya saya berkata demikian. Seharusnya saya mengatakan semoga lekas sembuh titik tanpa embel-embel apapun.

Dan saya segera membalas sms-sms dari orang-orang yang menyayangi saya itu.

Sms saya

:

Insya Allah, besok aku kesana. Tapi boleh bawa kerjaan ya… Ok?

Balasannya

:

Ok, tapi jangan kerja ya. Kita ngobrol aja, kerjaan kamu masukin ke tong sampah sehari saja.

July 26, 2008

GAIRAH MENULIS, GAIRAH BERBAGI, GAIRAH BERSAUDARA

GAIRAH MENULIS, GAIRAH BERBAGI, GAIRAH BERSAUDARA

Tiap saya ada waktu luang rasanya saya ingin selalu menulis untuk mencurahkan segala ide, perasaan dan pengalaman hidup saya pada Anda semua. Hal itu tidak lain sebagai wujud rasa syukur saya bahwa saya masih memiliki saudara yang sudi memperhatikan saya walau hanya dengan emoticon dan sight-seeing-nya.

Jangan bosan menyambangi blog saya yang sederhana ini. Jangan kaget kalau sehari saya bisa meng-upload lebih dari 3 postingan. Semua adalah cara saya mengeksplotasi hidup saya sebagai pengorbanan kecil demi sesama yang sedang mencari hikmah hidup yang sangat misterius ini.

Selamat menikmati kelana jiwa… Terima kasih pada semua.

BAHAGIAKAH ALMARHUM BAPAK?

BAHAGIAKAH ALMARHUM BAPAK?

Bapak saya meninggal tahun 2001 tepat ketika saya selesai training guru di LIA (dulu T3E). Saya menelpon ke rumah malamnya, mengabarkan bahwa saya akan pulang karena trainig sudah selesai dan kangen bapak. Ibu menyampaikan berita gembira itu kepada beliau. Bapak sedang terbaring di dalam kamar dan pesawat telpon tidak bisa ditarik ke beliau. Katanya beliau senang sekali.

Ternyata keesokan hari itulah, ketika saya dalam perjalanan ke rumah, bapak meninggal. Alangkah menyesalnya saya tidak bisa mencium tangan dan wajah beliau. Saya juga tidak sempat “pamer” pada beliau bahwa saya sudah menjadi guru bahasa Inggris seperti yang sangat beliau inginkan selama ini.

Duh, sedihnya. Saya masih ingat bahwa saya tidak mengeluarkan air mata saking sedihnya. Saya bahkan tersenyum kosong.

Sekarang saya tidak hanya menjadi guru bahawa Inggris. Saya sudah punya triple job yang sangat menyita waktu saya. Saya memang tetap menelpon ibu secara rutin tiap hari berangkat dan/atau pulang kerja. Saya juga tetap berkomunikasi dengan saudara-saudara saya tapi saya hanya sempat pulang ke ibu setahun sekali, sebelumnya saya bisa pulang ke kampung 4 kali setahun karena term break tiap tiga bulan memungkinkan saya untuk libur seminggu dan pulang.

Namun, apakah bapak bahagia kalau saja beliau masih di dunia ini dengan tubuh kasarnya? Apakah bapak bangga? Insya Allah, ya. Tapi apakah bapak bahagia karena kesibukan saya yang membuat saya berpikir untuk sekedar meninggalkan meja untuk pipis… apakah beliau tidak akan menegur saya yang hanya bisa ketemu ibu setahun sekali saat Idul Fitri, itupun hanya beberapa hari? Apakah saya memang harus segera punya pekerjaan yang memungkinkan saya bebas waktu dan biaya?

Saya hanya bisa berbaik sangka karena nyatanya saya tidak bisa klarifikasi pada beliau tentang perasaan beliau saat ini. Saya hanya bisa membayangkan senyumnya yang sangat ganteng dan tulus.

Ada kata yang selalu saya ingat jika beliau sedang bangga karena kami, anak dan istrinya, mencapai prestasi tertentu “Ampuh! Ampuh tenan!”

Bapak saya pasti bahagia, dan akan lebih bahagia da bangga jika saya bisa jauh lebih bisa membuat ibu dan saudara-saudara saya bahagia juga.

Sekarang ini saya sedang sangat sentimentil dan ingin memeluk bapak saya karena jasanya yang luar biasa dalam hidup saya. Saya tidak pernah menyesal bahwa saya dilahirkan menjadi anak keempat dari seorang lelaki yang bernama Jokanan Tjokroatmodjo.

Rest in peace, Bapak. I love you much.

NAIK GAJI

NAIK GAJI

Claudia Barron berkunjung selama 3 hari ke kantor Indonesia dengan agenda evaluasi dan konsolidasi, internal audit in short. Claudia Barron ini Quality Director untuk social compliance auditting company tempat saya nyari duit untuk beli nasi dan lauk untuk sehari-hari.

Pertama ketemu agak jiper juga karena prasangka yang ada adalah dia akan mengevaluasi kerja kami disini kalau perlu kami ditongkrongi satu per satu. Waduh… kerja diliatin bule yang notabene atasan kami. Nervous banget. Bukan bule sih tapi orang Mexico yang lahir dan besar di US. Beliau bungsu dari 11 bersaudara. Usianya sekitar 48-an. Strong, smart, fast-paced, personable dan mandiri. Karakter yang sangat tepat sebagai seorang pemimpin bagi kami yang lemes, lambat, cengeng dan lemah ini.

Ok, Guys! Let’s move. Meeting hari pertama, masih agak ringan karena yang diomongin hanya revenew per tahun dan apa yang harus kami persiapkan ke depan plus iming-iming janji manis yang membuat kami berjingkrakan tak tahu malu.

Tapi setelah itu… ada acara wawancara yang dilakukan tertutup satu per satu. Satu orang bisa mencapai setengah jam. Pakai Bahasa Inggris lagi… Oh, my gosh! (meminjam ekspresi yang paling sering dia ucapkan)

Siangnya makan di rumah makan Padang, satu-satunya pilihan dia karena rasa pedas yang dijanjikan oleh raja cabe di kantor kami dan kriteria yang diajukan Clau: “jalan tidak lebih dari 5 menit”. Makannya sedikit dan banyak sayur.

Keesokan harinya, ada salah satu rekan kami yang diajak serta ke Starbucks Kemang untuk wawancara lanjutan karena Clau sedang ingin sekali minum kopi. Ya Allah, segitunya itu Mexican. Walhasil selama sejam mereka ngobrol di warung kopi itu dan membawa pulang oleh-oleh roti pohon (lapis legit Jerman yang menurut saya masih kalah lezat dibanding lapis legit bikinan langganan ibu saya) dan roti dari Kamome. Sebagai kompensasinya, yang tidak ke Starbucks boleh delivery order pizza. Kata Claudia,”The pizza is not as good as the one in LA. Right, Dod?” (Dia bicara pada bos kami yang dulu ngantornya di LA, kami sih pura-pura nggak denger karena lagi keringetan ditongkrongin seharian. Sementara bos kami hanya tersenyum, mungkin dia lupa rasa pizza LA atau tidak setuju dengan lidah Clau.)

Hari ketiga acara konsolidasi tetek bengek yang bikin kami berdecak kagum membayangkan seberapa sibuk kami akan juggling kerjaan mulai bulan Agustus depan hingga Februari tahun depan.

Acara terakhir adalah wawancara satu per satu lagi tapi kali ini didampingi bos besar Indonesia. Ternyata acara tawar-menawar gaji.

Saya ketiban sampur (terpilih, Bahasa Jawa) dipanggil pertama.

Setelah assessment de el el, Clau tiba pada keputusan terakhir. Saya naik gaji tahun ini.

5.5%

Kabarnya tak ada teman yang melompati angka tersebut. Sampai-sampai salah seorang dari kami menolak menandatangani raise sheet-nya. Clau merayakan kemenangannya bersama kami di Sushi Tei, Senayan City.

July 24, 2008

HOTSPOT YANG LEBIH BERADAB

HOTSPOT YANG LEBIH BERADAB

(silakan baca tulisan sebelumnya)

Setelah mengalami “kecelakaan” karena anak-anak kecil ketika mencari hotspot di WTC Serpong, saya kapok berselancar secara gratis tanpa teman di tempat itu. Trauma kecil.

Syukurlah, ada kabar baik. Lembaga tempat saya mengajar kini menyediakan wifi area secara gratis bagi para guru dan siswa dan para tetamu yang mengunjunginya.

LIA Taruna, Tangerang.

Saya sangat bersyukur pada akhirnya:

  1. Tempat kerja saya yang damai ini menyediakan fasilitas yang bisa “menghibur” warganya.
  2. LIA Taruna menjadi tempat main saya sekaligus mencari informasi yang jauh lebih aman dan nyaman dibanding dengan WTC Serpong.

Sekarang saya tidak mau lagi capek-capek ke WTC Serpong untuk mendapat internet gratis dan nyaman. Saya cukup memanggil Mang Kosim cs, tukang becak yang mangkal di prapatan Kasasi II, dan memintanya mengantarkan saya ke LIA Taruna, Tangerang.

Sekalian iklan he he he…

Syurga dunia.

MENCARI HOT SPOT DI WTC SERPONG

MENCARI HOT SPOT DI WTC SERPONG

Sekarang saya punya jurus jitu untuk ngirit sejak BBM naik. Saya nge-net di area hotspot tiap akhir pekan. Jadi kerjaan saya tiap hari Sabtu atau Minggu jika tidak sedang menikmati kesempatan yang lain adalah hunting hotspot di Tangerang.

Awalnya saya agak canggung karena kok rasanya gimana gitu… selain itu yang biasanya bawa tas kecil maksimal isi mukena, dompet, kamera dan satu buku sekarang tambah notebook dan perangkatnya yang dibutuhkan. Saya serasa menjadi IT programmer profesional yang kemana-mana tak mau lepas dengan “istri pertama?”.

Ada sebuah pengalaman yang sangat mengesankan ketika saya ber-hotspot di WTC Serpong. Rupanya tempat itu adalah favorit para hotspotter muda yang kebanyakan kaum Adam berkumpul. Alhasil semua meja terisi baik oleh para pengunjung yang sedang lapar maupun kelompok pemuda ber-laptop yang sedang serius. Saya hanya bisa celingukan.

Bingo! Dibelakang panggung ada meja dengan 2 kursi. Tak berpenghuni. Maka dengan segera saya menjajahnya dan memulai aksi. Para hotspotter yang – mungkin – sudah langganan disini memandangi saya dengan tatapan asing karena saya memang orang asing bagi mereka. Seandainya mereka perempuan saya mau bergabung dengan mereka tapi karena mereka semua berdada rata, saya memilih menyingkir. Bukan apa-apa, selain laki-laki mereka juga terkesan sangat jago IT (saya sempat mencuri dengan obrolan mereka) sedangkan saya kan gaptek, takut ditertawakan.

Maka dengan percaya diri saya connect ke wireless yang tersedia dan mulai bekerja. Saya tidak sadar bahwa ternyata dibelakang saya ada beberapa makhluk tak diundang turut menikmati gambar-gambar yang tampil di layar monitor. Dan karena tidak terlihat oleh mata saya, saya cuekin saja.

Makin lama mereka ternyata juga makin bertambah. Dan, saya masih malas melihat mereka. Akhirnya salah satu dari mereka berkata-kata.

“Tante, buka gambar hewan-hewan yang di Afrika tadi dong.”

Wow, wow, wow… Ada tujuh orang anak usia SD dan Tk sedang ngeriung dibelakang saya. Rupanya mereka haus hiburan seperti saya juga.

“Oh, ok. Ya udah, tunggu ya.” Saya berpamitan pada teman chat saya untuk melayani “client” saya.

Kami pun bersama-sama browsing gambar-gambar dan video-video hewan dan pemandangan. Saya juga bukakan situs yang berisi pelajaran bahasa Inggris yang fun dan edukatif. Setelah sekitar satu jam, saya melihat indikator battery saya melemah.

“Ok, kapan-kapan lagi ya. Udah low bat nih.”

“Makasih ya Tante.”

“Sama-sama.”

“Eh, Tante, Tante. Tante lagi sedih ya?” tanya si gendut sipit.

“Emangnya kenapa?”

“Tadi kan Tante lagi sekali-sekali chatting curhat kalau lagi sedih karena handphone-nya ilang dan pacarnya lagi marahan juga ha ha ha…”. Si gendut sipit tertawa gembira diikuti cekikikan teman-temannya yang lain.

“Patah hati nih ye… Kasihan deh Tante. Udah pacarnya marahan, hapenya kecopetan pula.”

Saya tersenyum menahan marah. Aduh, susahnya menghadapi anak-anak. Mau marah, mereka masih kecil dan anak orang tak dikenal. Tidak marah, malu di tengah keramaian. Seperti makan buah simalakama. Atau lebih tepatnya adalah saya seperti buah simalakama.

Saya berjanji tidak akan chatting di tengah keramaian seperti ini. Dan saya berjanji nanti akan mengajari anak saya untuk tidak mendekati hotspotter yang sedang sibuk.

Awal Juli 2008

PENJUAL NOVEL DI BUS KOTA ITU TELAH

BAPAK PENJUAL NOVEL DI BUS KOTA ITU TELAH MENYEMBUHKAN PENYAKITKU

(kisah nyata tak terlupakan)

Hidup saya dihiasi dengan mutiara-mutiara hikmah yang kadang-kadang munculnya di tempat yang tak disangka-sangka. Seperti tadi malam sepulang kerja di bus AJA138 di bilangan Slipi Jaya menuju Tangerang.

Tak tahu mengapa saya merasa sangat pening, mual dan tak sabaran. Majalah Femina yang niatnya saya jadikan penutup rasa bosan malahan menjadi semacam beban karena saya sedang membaca tas yang besarnya tidak cukup untuk mengantongi kertas yang ukurannya diatas 25×15 sentimeter. Maka dengan rela tapi terpaksa saya memangkunya dibawah tas.

Bersyukur saya menemukan harta karun minyak cap Kapak yang bisa mengurangi mual. Duh, serasa nenek-nenek.

Tiba-tiba suara yang tak pernah ada sebelumnya muncul. Bukan pengamen, bukan aktor jalanan, bukan penjaja makanan atau mainan, bukan pengemis melainkan penjual novel. Dan, perasaan mual beserta segala atributnya menjadi hilang sama sekali begitu mendengar untaian kata-kata sang bapak yang – saya yakin- sedang berjuang habis-habisan supaya dagangan cepat habis ini. Silakan menikmati.

“Permisi Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, saya membaca sesuatu yang tidak biasa. Saya membawakan untuk Anda sekalian novel-novel yang akan menjadi bacaan menarik. Saya memberikan harga yang sangat menarik pula. Jika Anda pergi ke toko-toko buku besar seperti Gunung Agung dan Gramedia maka Anda akan melihat harganya sekitar limapuluhlima ribu rupiah atau paling tidak limapuluhribu rupiah.

Tetapi disini saya hanya memberikan harga setengahnya. Dengan uang duapuluhlima ribu rupiah Anda telah dapat memiliki novel-novel yang sangat bagus ini. Silakan dilihat dulu. Ada Ayat-Ayat Cinta yang telah difelemkan, ceritanya tentang lelaki sholeh tapi berpoligami. Ada juga Mahabah Cinta tentang orang sholeh juga. Keduanya ditulis oleh Hiburrahman Al Sarizi.

Ini ada juga Laskar Pelangi. Ditulis oleh Andria Herata. Ceritanya tentang orang yang sangat tidak bersyukur kepada Tuhan. Silakan dilihat-lihat dulu. Novel-novel ini sangat menarik. Silakan. Silakan…”

Saya tidak tahu mengapa mual dan pusing saya langsung hilang. Saya tidak tahu apakah rekan-rekan sesama penumpang mendapatkan efek terhadap kebosanan mereka terjebak macet. Yang pasti saya bersyukur karena Tuhan menciptakan sang bapak yang dengan percaya diri menyebutkan kata “lelaki sholeh TETAPI berpoligami” dan “menuduh” si Andria Herata sebagai orang yang “sangat TIDAK bersyukur pada Tuhan”. Mungkin banyak yang tidak setuju namun saya sangat salut dengan paradoks yang disuguhkan oleh keluguan bapak yang mungkin belum sempat membaca novel-novel yang keburu harus dijualnya demi menghidup diri dan (mungkin) anak istrinya atau mungkin beliau menjual novel-novel bajakan yang ceritanya beda.

Lihatlah Saudaraku, Andria Herata juga manusia yang pantas diolok-olok tidak bersyukur pada Tuhannya. Hiburrahman Al Sarizi adalah penulis yang seharusnya dihebohkan oleh ibu-ibu yang tidak suka dimadu dan seharusnya tidak nonton felem Ayat-Ayat Cinta.

Saya ingat bahwa saya sudah pernah baca Laskar Pelangi (sampai habis dua kali) dan Ayat-Ayat Cinta (sampai habis dan tidak mau baca ulang) yang masing-masing ditulis oleh pengarang yang berbeda yaitu Andrea Hirata dan Habiburrahman El-Shirazy jadi saya hanya diam saja. Jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang sama? Apakah si Andrea Hirata juga pernah tidak bersyukur pada Tuhan seperti Andria Herata? Dan apakah si Habiburrahman El-Shirazy juga men-support poligami karena kesholehannya?

Yang pasti saya melihat sisi terang mutiara hati bapak ini. Dia percaya diri dengan keluguannya.

PS:

Jujur saya menyesal tidak membeli salah satu novel beliau walaupun saya tahu ada informasi beliau yang kurang akurat. Semoga Allah memberinya rejeki yang melimpah.

July 21, 2008 8:58pm

SERBA-SERBI UBAN

SERBA-SERBI UBAN

Berapa lembar uban Anda?

Percaya atau tidak, pada usia belum mencapai 30 tahun saya sudah beruban. Malahan seingat saya uban saya sudah unjuk gigi sejak saya SMA kelas tiga. Saya tidak tahu apa sejatinya yang mengundang keberadaan uban saya ini. Apakah memang saya punya potensi untuk kelihatan cepat tua daripada orang lain? Apakah pigmen saya sudah mulai menyurut cara kerjanya? Ataukah memang ini faktor keturunan. Saya tidak tahu, yang saya tahu ubah saya dari dulu jumlahnya tetap tidak berkurang (karena tidak saya cabut) dan tidak bertambah. Dari dulu hingga sekarang jumlahnya 9.

Tak tahu. Saya punya beberapa teman yang koleksi ubannya sangat spektakuler.

Teman saya ada yang beruban sejak usia SMA dan jumlahnya lebih dari duapuluh lembar.

Ada lagi yang beruban secara tiba-tiba.

“Aneh deh. Padahal kemarinnya nggak ada. Tiba-tiba tadi pagi udah ada dua. Darimana datengnya ya?”

Ada lagi yang beruban di tempat yang simetris. Uban beliau muncul di kiri dan kanan bagian depan kepala. Kalau Anda ingat Koes Hendratmo tahun 90an maka Anda bisa membayangkan beliau. Bedanya kalau Koes Hendratmo laki-laki, beliau ini perempuan.

Ada lagi teman saya yang ubannya hanya muncul seminggu saja dan hanya pangkalnya karena setelah itu rambutnya mendadak hitam legam kembali alias disemir.

Ada lagi teman saya yang ubannya membuatnya tersiksa lantaran gatalnya minta ampun. Jadi, tempat uban tumbuh menjadi lecet dan atau berketombe karena saking seringnya digaruk kuku.

Teman saya yang lain sangat bangga karena ubannya tidak kelihatan dari manapun karena tempatnya sangat tersembunyi dan ubannya pendek-pendek, tak lebih dari dua senti katanya. Tetap saja kami tahu karena beliau menunjukkan pada kami dimana tempatnya. Dibelakang telinga.

Seorang teman yang lain ubannya tidak ada yang putih sempurna. Selalu ada campuran warna hitam atau coklat.

Yang lainnya lagi mengeluh karena ubannya tidak berkumpul di satu tempat dengan kata lain ubannya menyebar sehingga beliau agak kesulitan pada saat mengecat rambutnya. Beliau harus mengecat seluruh rambut padahal kegiatan mengecat rambut adalah yang paling beliau benci. Fyi, beliau alergi pada semua jenis cat rambut.

Teman saya yang lain lagi dikerjain uban; uban yang pertama tidak muncul di kepala melainkan di kumis dan alis sehingga kelihatan aneh dan tidak kompak dengan warna rambut kepala.

Ada lagi yang ubannya sudah merata sehingga kami menyebutnya beruban hitam.

Saya sedang berpikir mengapa harus ada uban? Apakah supaya pemiliknya sadar bahwa usianya semakin berkurang? Aduh mak, saya telah beruban sejak SMA jadi apakah umur saya sudah di-warning sejak lama oleh-Nya? Adakah teman Anda punya sesuatu yang unik tentang uban mereka?

STRAWBERRY SHORTCAKE

Cuppycake

You’re my hunny bun, sugar plum, pumpy upmy upmy upmkin.

You’re my sweetie pie.

You’re my cuppy cake,gumdrop,shyummkums pure,

The apple of my eye!

And I love you so, and I want you to know that i’ll always be right here.

And I love to sing this song to you

Because you are so dear!

LIFE… the meaning

Link

SEASON OF LIFE
There was a man who had four sons.
He wanted his sons to learn not to judge things too quickly.
So he sent them each on a quest,in turn,to go and
look at a pear tree that was a great distance away.
The first son went in the winter,
the second in the spring,
the third in summer,
and the youngest son in the fall.
When they had all gone and come back, he called them together to describe what they had seen.
The first son said that the tree was ugly, bent, and twisted.
The second son said no it was covered with green buds and full of promise.
The third son disagreed; he said it was laden with blossoms that smelled so
sweet & looked so beautiful, it was the most graceful thing he had ever seen.
The last son disagreed with all of them; he said it was ripe and drooping with fruit, full of life and fulfilment.
The man then explained to his sons that they were all right, because they had each seen but only one season in the tree’s life.
And that the essence of who they are and the pleasure, joy, and love that come from that life can only be measured at the end, when all the seasons are up.
If you give up when it’s winter,
you will miss the promise of your spring,
the beauty of your summer,
fulfilment of your fall.Don’t l
Don’t judge life by one difficult season.
Persevere through the difficult patches and better times are sure to come some time.
Aspire to inspire before you expire.
Live simply love generously.
Care deeply.
Speak kindly.
Leave the Rest to God.
Happiness keeps you Sweet.
Trials keep you strong.
Failures keep you humble.
Success keeps you Glowing.
But Only GOD keeps You Going

Chat & Trainer

CHATTING DAN TRAINER

Di kantor kami chatting via online messenger sudah menjadi alternatif untuk berkomunikasi di kantor walaupun sebenarnya kami hanya berjarak satu sampai empat meter, notabene bisa saja kami “nyamperin” teman kerja dan kemudian mengutarakan apa maksud kita kepada beliau. Pada kenyataannya kadang kami tidak mau beranjak dari kursi kami.

Mengapa sebegitu ekstremnya cara kami berkomunikasi ini? Saya baru menyadari bahwa kami ini manusia-manusia yang kadang terlalu merasa sibuk dengan diri sendiri sehingga untuk menyapa orang lain pun kami tidak mau menunjukkan sisi kemanusiaan dengan menyapa manis, bukan basa-basi emoticon senyum atau tawa yang bisa dibentuk dengan tanda “titik dua”, “setrip”, “kurung tutup”, atau huruf D.

Mau tahu alasannya yang spesifik?

  1. Kadang kami membutuhkan satu orang saja untuk membantu kita dan takut mengganggu orang lainnya sehingga kami perlu menyapa satu pribadi ini secara khusus.
  2. Pembicaraan kami memang bersifat pribadi atau rahasia.
  3. Kami sungkan sama trainer kami yang memang kurang suka kami ngobrol selagi kerja dengan alasan sangat logis: takut kerjaan tidak beres.

Dan alasan inilah yang kami legalkan untuk ber-chatting ria sesama orang kantor lokal. Kami yang pengecut ini memilih untuk menjadi manusia bisu selagi ngobrol dan budheg selagi mendengarkan. Kami “menyetorkan” segudang kata tanpa merasa perlu menyentuh sisi “fisik” lawan bicara kami.

Lama-lama ketahuan juga bahwa kami ini suka chatting hal kantor tapi tentu saja diselingi sambil melempar simbol-simbol yang kai dapatkan dari teman-teman yang ujungnya kami tertawa-tawa dan disangka tidak sedang bekerja keras. Maka sindiran-sindiran mematikan dari sang trainer. Dan apakah kami berhenti chatting?

Tidak!

Kami tetap chatting dengan topik yang tidak hanya tentang hal kantor dan sedikit curhat masalah pribadi melainkan ngegosipin sang trainer. Chatting tentang trainer inilah yang justru sangat seru karena membuat kami merasa tidak bersalah. Bagaimana tidak merasa bebas “dosa”, lha wong kami selalu bilang begini:

Ah, dia juga chat kok. Aku pernah lihat dia lagi chat sama teman es em a dia. dia juga suka ketawa-ketawa sendiri. Bunyi keyboard dia kan kenceng banget. Kita malah sopan, ngetiknya dipelanin…

Halah, siapa bilang dia gak chat. Denger gak dia dengan semangat nyeritain Che dan nasehat-nasehat dia… Emangnya cuma trainer yang boleh chat.

Cuek aja lah. Yang penting kerjaan selesai. Dia kan iri karena gak bisa ngobrol lebih bayak kayak kita yang dibawah sini.

Garing kaleeee gak boleh chat. Emangnya pacarku disuruh datang kesini tiap makan siang?

Kami seperti sekawanan srigala kelaparan melihat kambing gemuk pada saat ngomongin chat dan trainer kami yang sedang galak. Kami ini bukannya ngomng baik-baik tapi malah menganggap apa yang dilakukan trainer adalah stempel HALAL bagi “kenakalan” kami.

Andai saja trainer kami tahu bahwa saya ngomongin dia di Multiply ini, mungkin Multiply saya juga akan dia obrak-abrik ha ha ha… Maaf ya Bos Trainer J

KECOPETAN

Ponsel tersayang saya dicopet.

Type: Nokia 6630, full dengan segala macam info penting dan curahan hati yang mengiris jiwa

Waktu: Minggu, 6 Juli, 2008 waktu Asar

Lokasi: Ankutan Roda Niaga jurusan Cengkareng-Serpong arah Cengkareng, di sekitar PLN Tangerang.

Modus operandi: Seorang bapak umur 40an (yang seharusnya sudah tidak pantas lagi jadi copet, pantersnya jadi merbot masjid) yang merokok pura-pura memadamkan api rokok yang pura-pura terbang ke kerudung saya. Sambil minta maaf dia dan 2 orang temannya terus berusaha membuat saya sibuk dengan kerudung saya dan beraksi mengamibl ponsel yang saya simpan di kantong tas depan. Saya sendiri dengan bodohnya marah-marah memarahi bapak yang cerdik itu karena dia merokok di kendaraan umum.

Hikmah:

1. Jangan percaya pada orang yang mengatakan kerudung atau baju atau apappun bagian pakaian Anda terbakar api rokoknya sampai badan Anda benar-benar terasa terbakar karena api. Dan… Kalau ada orang merokok di kendaraan umum tabokin saja.

2. Copy semua contacts Anda di komputer atau buku alamat sehingga tidak terjadi kehilangan seperti saya. hilang 500 kontak…

3. Jangan bengong apappun alsannya, dimanapun tempatnya…

4. Saya beli ponsel Nokia type yang lebih bagus… utang di kartu kredit nambah besar. Makin rajin bekerja

Oke… Alhamdulillah, karena saya kurang sedekah saya kecopetan.

GURU SAYA – 3

GURU SAYA – 3

Tulisan ini hanya cuplikan bebas dari sebuah diskusi informal di sebuah kelas yang diajar oleh seorang manusia yang lupa diri. Kurang menarik tapi bisa bermanfaat besar jika direnungkan dalam-dalam.

Masih bicara tentang guru. Kali ini saya tidak akan bicara tentang guru saya yang hebat-hebat itu. Saya akan bicara tentang diri saya sendiri. Saya juga seorang pengajar di sebuah institusi kebanggaan daerah saya. Bangga karena menjadi yang tertua. Bangga karena menjadi yang pertama. Bangga karena menjadi bukan apa-apa.

Saya dibayar untuk mengajari siswa-siswa saya mengerti bahasa asing sekaligus memahami karya sastra yang diproduksi oleh penutur asli bahasa asing tersebut dan atau karya sastra yang ditulis dalam atau diterjemahkan kedalam bahsa asing tersebut. Bersyukur saya dulu pernah kuliah di Fakultas Sastra jurusan Bahasa & Sastra Inggris dan saya mengambil sastra sebagai keahlian khusus saya walaupun pada akhirnya kebanggaan saya belajar sastra menjadi blunder bagi saya.

Ada sebuah paradigma yang pernah saya percaya hingga saat ini dan rasanya sudah kurang relevan lagi untuk saya pertahankan. Saya merasa bahwa siswa-siswa saya harus menghormati saya lebih daripada pihak manapun di lembaga ini. Saya ini pengajar. Saya in yang memberi mereka ilmu. Saya ini yang membuat mereka pinter dan ngerti. Saya ini YANG MEMBERI MEREKA NILAI. SAYA INI YANG MENENTUKAN LULUS TIDAKNYA MEREKA. SAYA ADALAH PENENTU MASA DEPAN MEREKA. Maka… Saya harus menunjukkan OTORITAS saya sebagai PENGAJAR termasuk didalamnya OTORITAS BERPIKIRRRRRRRR!!!

Saya

:

Hari ini kita diskusi saja. Banyak hal dalam sastra yang lebih pas diomongkan bersama daripada dipahami dengan komunikasi satu arah.

Siswa

:

Wah, padahal kami berharap Miss bisa menjelaskan sesuatu pada kita hari ini. Kami ada pertanyaan tentang sastra tapi sebenarnya bukan materi Miss. Ini materi pengajar lain.

Saya

:

Lho, lho, lho. Bagaimana mata ajaran orang lain ditanyakan pada saya? Nanti kalau salah saya yang kena lagi. Kita diskusikan saja topik kita sendiri.

Siswa

:

Miss, bagaimana kalau hari ini kita diskusi bebas saja. Apapaun tentang sastra.

Saya

:

Boleh, boleh…

Siswa

:

Menurut Miss apakah nilai sastra universal?

Saya

:

Bisa y, bisa tidak.

Siswa

:

Mengapa ada dua jawaban?

Saya

:

Karena selalu ada dualisme di dunia ini.

Siswa

:

Apakah dualisme ini mengarah pada suatu kesatuan atau memang dikotomi nilai yang tak pernah bisa ditunggalkan?

Saya

:

Dua. Selalu ada dua.

Siswa

:

Menurut saya tidak, Miss. Sastra bernilai uniersal dan mengarah pada satu nilai yang jelas dan harus bisa ditunggalkan.

Saya

:

Bagaimana penjelasan kalian bisa masuk akal?

Siswa

:

Bagaimana Miss membuat penjelasan Miss masuk akal juga?

Saya

:

Jelas, ada sastra yang menggiring seseorang terhadap terhadap nilai buruk. Ada juga karya yang menggiring seseorang pada nilai baik dan disinilah dua buah nilai yang bertentangan yang diusung oleh suatu karya sastra tidak dapat ditunggalkan. Kedua nilai yang bertentangan akan selamanya berseberangan.

Siswa

:

Berarti Miss menilai sesuatu dari nilai yang sangat rapuh. Pondasi berpikir Miss adalah keterserakan yang mengarahkan Miss sendiri kepada suatu pola berpikir yang berantakan. Dan pola pikir yang berantakan itu membuat Miss meyakini bahwa kejahatan adalah satu dan kebaikan adalah hal yang lain. Pernah Miss Rike berpikir bahwa ternyata sastra buruk dan sastra jelek berangkat dari sebuah paradigma berpikir yang satu?

Saya

:

Ya, saya memahami bahwa sastra adalah sebuah kristalisasi dari pengalaman batin manusia digurat dalam lontar kehidupan dan dicetak untuk populasi tertentu sebagai sebuah proses pencarian diri baik secara fisik maupun mental.

Siswa

:

Bukan hanya itu. Kalau memang seperti itu, Miss nantinya akan mengarahkan kepada sastranya orang jahat dan sastranya orang baik. Seberapa dalam Miss meyakini bahwa sastra memang berangkat dari rangkaian keindahan? Bahwa sastra adalah bentukan kekeruhan yang berevolusi menjadi kebeningan seperti batu tua bertransformasi menjadi berlian? Bahwa sastra yang jorok sekalipun adalah perwujudan syukur terhadap pengalaman hidup yang pantas dihargai baik secara materi maupun immateri?

(Saya bingung menghadapi siswa satu ini. Anaknya ndhak ngawaki tapi sangat kritis pada saat tertentu sampai-sampai kami beranggapan bahwa dia ini edan tahunan. Saya merenung sebentar tapi terinterupsi oleh ledakan komentar sang siswa tersebut)

Siswa

:

Miss, saya tidak mengerti kenapa Miss Rike bisa bingung begini. Padahal semua ide saya itu adalah ide yang saya hapal diluar kepala dan sangat saya terima sebagai sebuah cara berpikir yang bijaksana dan masuk akal tetapi penulisnya sendiri ternyata sekarang berubah pikiran…

(Saya makin bingung.)

Siswa

:

Miss, itu kan ada di artikel sastra Miss Rike tahun lalu??? Ah… Masa lupa sih??? Inilah yang saya suka dari Miss Rike. Sangat suka tantangan dan berusaha memahami sesuatu dari sudut pandang yang bervariasi. Salut, Miss!!!

Lama-lamat saya dengar seseorang melapor pada si gila berkata bahwa artikel itu memang pernah dia baca tapi dia lupa-lupa ingat. Siswa yang lain saling melempar tanya.

Saya tidak bangga dipuji si gila itu. Saya malu. Saya tertampar. Saya terkapar. Saya menyadari kesombongan intelektual saya. Saya berpikir tanpa berpikir. Sebelum bicara saya telah berpikir tapi sebelum proses berpikir itu saya lupa berpikir. Berpikir yang pertama adalah proses mengingat, mengingat apa yang telah saya pahami dan yakini sebelumnya. Berpikir kedua adalah merangkai metode untuk menyampaikan baru kemudian bicara.

Jika saya berpikir sebelum berpikir maka bicara saya akan konsisten karena saya ingat bahwa saya pernah berbicara begini begitu. Atau paling tidak saya ingat bahwa cara berpikir semacam ini adalah evolusi dari cara berpikir saya yang dahulu…

Duh… akal saya sudah tumpul karena “nafsu” berlogika yang saya kebut selama saya “berhadap-hadapan” dengan para penuntut ilmu ini. Saya hanya berdebat, berdebat dan berdebat tanpa memikirkan bahwa keinginan menang debat itu akhirnya membuat saya tidak konsisten dan tidak berpikir jernih. Saya bingung mau jawab apa. Masak saya bilang tidak ingat pernah menulisnya… Malu laaaaar… tapi saya juga tidak sudi berbohong.

Hanya bel yang menjerit keras saja yang menyelamatkan saya dari cengkeraman denawa (raksasa) rasa malu dan bersalah. Untuk mengubur rasa tak berharga yang mungkin sama sekali tak tercium oleh siswa-siswa saya itu saya segera menugaskan mereka untuk membaca paling tidak tiga cerpen yang ditulis oleh Guy de Maupasant dan membuat komparasi dan apresiasi singkatnya mulai dari tema, karakterisasi, plot, setting, simbol, ironi dan apapun yang menarik menurut nilai-nilai yang mereka yakini. Tugas ini memberatkan mereka walaupun mereka mengaku menikmatinya. Saya dan mereka tahu. Tapi, mereka tidak tahu betapa beratnya saya menanggung malu baru saja.

Sungguh saya pernah menjadi guru yang tak tahu diri. Sekarang saya menjadi lebih arif menilai diri saya dan orang-orang yang saya “ajar”.

Wahai para guru, marilah kita menjadi siswa. Jadilah guru bagi dirimu sendiri…

BERPIKIR TERLALU BERAT

BERPIKIR TERLALU BERAT

Tadi saya ngobrol per telepon dengan karib saya yang sedang dalam perjalanan dari Bandung ke Tangerang. Kami berdiskusi tentang tujuan hidup.

Tujuan hidup. Dia menanyakan apa tujuan hidup saya. Saya bingung. Bukan karena saya berpikir. Saya berpikir seperti searching data di drive otak saya. Dan menemukan bahwa tidak ada hasil pencarian. Ternyata Sudara, saya tidak punya tujuan hidup MUNGKIN.

Justru sekaranglah saya berpikir tentang tujuan hidup saya.

Apakah saya ingin mengejar materi sebanyak mungkin?

Apakah saya ingin menjadi orang yang handal dalam bidang saya?

Apakah saya ingin menjadi orang baik? (Kata teman saya ini terlalu general)

Lalu saya berpikir lagi apakah saya ingin mati dikenang baik?

Apakah-apakah yang lain bermunculan dan justru membuat saya makin tidak yakin apakah saya ini mempunyai tujuan hidup yang tepat atau tidak. Saya berpikir terlalu keras sehingga tidak terasa sudah tengah malam dan saya tidak melakukan apa-apa selain termenung memikirkan tujuan hidup saya.

Ketika saya memutuskan untukberhenti memikirkannya, saya mendapati tulisan saya tidak selesai. Saya menghabiskan waktu saya untuk memikirkan tujuan hidup sehingga beberapa sms urgent tidak terbalas tepat waktu. Saya juga lupa mandi sore. Saya juga lupa bahwa gerbang depan harus segera dikunci. Saya juga terlambat memberi makan Tesie, kura-kura saya.

Gara-gara berpikir berat tentang tujuan hidup saya justru lupa bahwa saya sedang hidup dan perlu menunaikan banyak hal tanpa berpikir berat. Saya juga lupa bahwa saya lupa tidak bertanya pada karib saya apa sebenarnya tujuan hidup dia sendiri.

Ternyata tujuan hidup saya yang sangat pasti adalah terus mengingat tugas-tugas saya dan menunaikannya sebaik mungkin.

NEW CATERER

NEW CATERER

Now I must bring two big bags everyday. It’s been one week exactly. One is for my notebook and official stuff. The other is for my friends’ lunch and mine. What’s up?

I am a kind of courier for my colleague. They asked me to “cater” their lunch when they learnt that my lunch box has been a culinary miracle for them. I don’t cook my own lunch. I bring my lunch cooked by Ibu Prayogo. She is a neighbour nextdoor of mine, a widow with three children. Her cooking is excellent and the most importantly free of MSG. Once Sapto, our culinary prodigy, admitted that the “ayam goreng bumbu Cirebon” was great, the whole pack agreed to make me their lunch caterer.

I am not really a caterer since I only pack their lunch in a backpack, “ship” them to office everyday without taking any IDR or USD from them. All money goes to ibu Prayogo. Honestly, I have got a bowl of vegetables soup for bonus; she knows well I love it the best.

Frankly it is an additional load but I am happy to find that my colleagues eat healthier food – no MSG. I am also thinking of offering the many kinds of juices made by Tiwi, Ibu Prayogo’s daughter, but I am not sure. I am not sure that I can bring another bag. I can’t imagine that I will have to bring a work bag on the left shoulder, lunch on my back then another totebag at my right hand.

All this time Ibu Prayogo has been a successful chef of the following recipes (in Indonesian):

  1. Ayam goreng bumbu Cirebon
  2. Ayam pop
  3. Ayam bumbu Bali
  4. Ikan bawal bakar bumbu santan
  5. Sambel mentah
  6. Sambel terasi
  7. Tahu putih goreng setengah matang

I want to show you my additional activities now:

At 6:30am I load the lunch wrapped traditionally using banana leaves inside and paper as the outer wrap. Then, together we un-load the lunch at lunch break. After that we discuss the next day’s menu to be sms-ed to Ibu Prayogo. My colleagues agreed to not order more than two kinds of food only so that it is easier for our excellent cook to cover her job.

Wow, wow, wow… Look at me, I am the new caterer…

GURU SAYA – 2

GURU SAYA – 2

Guru berserakan dalam perjalanan kehidupan saya. Berpuluh, beratus, beribu atau mungkin juga berjuta guru telah mengajari saya ilmu sehingga saya berada berada di level kesadaran yang seperti sekarang ini. Saya masih sangat bodoh dalam perjalanan ini dan saya tidak pernah menyalahkan guru saya. Bukan guru saya yang bodoh bahwa saya tidak pandai. Bukan guru saya yang kurang mumpuni bahwa saya ini tidak berkualitas.

Saya memiliki guru-guru yang tak terkatakan ilmunya namun saya tetap saja menangisi kebodohan saya. Saya masih juga meratapi kejahilan saya.

Boleh percaya atau tidak. Yang saya namakan guru bukan hanya semacam Ibu Dosen yang orang Madura itu saja (Silakan Sudara baca tulisan GURU SAYA – 1). Simaklah pengalaman saya yang sangat memalukan namun mencerahkan ini.

Pelajaran yang kami terima cukup berat, Nahwu Sharaf. Namun sederhana. Sederhana? Ya. Karena beliau tidak mengharuskan kami untuk menghafal seperti pada umumnya pelajaran grammar-nya bahasa Arab ini. Kami hanya diwajibkan untuk mendengar, mencatat jika merasa perlu dan harus berani bertanya jika tidak mudheng. Jika mau menghafal itu adalah nilai ketulusan kami. Dan mau tak mau kami menghafal juga walaupun cepat juga hilang hafalannya. Sekarang ini tidak ada satu wazan pun yang masih saya ingat kecuali satu itupun salah: fa’ala-yaf’alu-fa’lan-wadzaka-faa’ilun. Dasar bodoh!

Selama setahun penuh kami belajar kepada beliau, tanpa biaya. Dengan suka rela beliau berbagi apa yang beliau pahami dengan kami supaya kami dapat mengaplikasikan apa yang benar-baik-indah untuk kehidupan kami. Beliau memang lebih banyak membahas arti “akar kata” bukan hanya pemakaian kata dalam kalimat. Jadi kami memang belajar makna hidup lewat makna akar kata. Beliau mengupas ayat dan hadits per kata bahkan tak jarang per huruf. Tiap huruf ada maknanya, tiap tanda baca ada kandungannya, semua tak ada yang sia-sia. Kami (saya; Dhiana, saat itu masih SMA; Bu Rogaya, ibunda Dhiana; Pak Saring, seorang pedagang asal Cirebon; Pak Sanip, buta mata fisiknya namun mata batinnya bisa menelanjangi Anda!!!) kadang terseok-seok.

“Dikit-dikit aja ngartinya. Yang penting ekhlash. Sukur-sukur ngartinya cepet hatinya ekhlas. Iya pan, Ji?” Dialeknya tak bisa menipu bahwa beliau memang Betawi asli. Ji (kependekan dari haji) adalah panggilan akrab guru saya pada Pak Haji Masrukin yang rumahnya menjadi tempat nyantri kami setiap malam Minggu.

Sebuah pelajaran yang masih sangat saya ingat tentang kebodohan kami adalah sebuah percakapan terakhir kami sebelum guru kami tercinta ini “mengundurkan diri” tak bisa mengajar dengan sebuah alasan yang tak beliau sebutkan walaupun kami paksa.

“Pak, kami kan bodoh, jangankan mengerti Nahwu Sharaf dan hafal Al Qur’an, mengaji saja kami masih grathul-grathul (terbata-bata). Bagaimana bisa tahu bahwa ini ayat atau hadits atau atsar atau syair Arab atau malahan kalimat tiada arti? Apalagi sebentar lagi kami sudah sulit bertemu Bapak.”

“Ya, susah sih orang kagak ngarti mau dibohongin gampang banget,” jawab beliau dengan santai membuat saya malu. Untung tawa teman-teman segera menyelamatkan saya. Bayangkan kalau mereka diam pasti saya makin blingsatan.

“Terus bagaimana ya, Pak? Bisa-bisa kita nggak pernah tahu bahwa yang kami baca adalah kitab palsu.” Maju tak gentar bertanya terus membela rasa malu.

“Gampang…”

“Kan bodoh, Pak. Gampang gimana?”

“Pan ada stempel pemerentah. Depag ngesahin itu kitab. Aman pan?”

“Kalau bukan produksi Indonesia?”

“Makanya belajar Nahwu Sharaf yang bener secara makna akar kata, ntar lama-lama bisa dah ngebedain mana yang asli mana yang palsu. Satu huruf lam-alif beda cara nulis aja sebenernya udah bisa dibilang kagak asli. Suara panjang “a” pake alif di belakang atawa fattah diri (berdiri, maksudnya) aja udah bisa beda. Hati juga kudu bersih buat nyetir Nahwu Sharaf-nya.”

“Aduh susah, Pak.”

“Lhah napa susah? Sapa yang bikin susah?”

“Lho kalau kita kan nggak sepinter Bapak yang bisa membedakan makna lam-alif yang beda makna karena beda nulisnya.”

“Yang bikin susah pan kamu sendiri.”

“Gimana sih Bapak ini?”

“Siapa tadi yang nanya?”

“Saya.”

“Siapa yang ngerasa susah?”

“Saya.”

“Nah, tuh. Makanya jangan banyak nanya. Baca aja terus. Mau kitab palsu kek, mau asli kek. Kamu pan kagak tahu artinya. Lempeng aja yakin sama Allah. Inget, baca bismillah dulu baru dah ngaji. Emang situ mau jadi ahli mbedain kitab asli ama yang palsu?”

“Ya… enggak sih, Pak. Tapi kan pengen tahu.”

“Buat apa?”

“Ya biar tahu aja buat diri sendiri. Siapa tahu suatu saat ketemu yang palsu.”

“Neng! Kalo elmu cuma mangfaat buat diri sendiri, tinggalin dulu dah. Cari noh elmu yang mangfaat buat orang banyak. Contohnya saya dah. Saya ngajar ginian juga kalo muridnya ekhlash. Kalo muridnya mau jualan ayat pake ceramah biar digaji bejuta saya juga kagak sudi. Mending saya nyapu jalanan Jekarta sampe bersih, ketauan mangfaatnya. Jalanan bersih, ati juga bersih, dapet duit.”

“Jadi baca aja gitu, Pak? Tanpa peduli asli apa nggak?”

“Gini nih saya ajarin bodo-bodoan. Cari Quran stempel Depag, baca bismillah, ngaji dah, istiqomah ya. Jangan nyusahin diri. Lempeng aja hidup ini. Kerjain yang bisa, ekhlash. Yang susah-susah jangan ditanyain, ntar puyeng sendiri.”

“Yah, dosa dong…”

“Mana kata dosa? Orang kagak tahu ya kagak dosa… pan udah pernah kita bahas yang termasuk kagak kena beban itu ada tiga golongan: orang gila, orang lupa ama orang kagak tahu. Eneng mah kebanyakan nanya jadi bingung sendiri…”

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… Sebel, sebel, sebel… Malangnya jadi si pandir.

Lihatlah, Sudara. Guru kami mengajari kami untuk berpikir sederhana dalam konteks keikhlasan dan justru itulah yang membuat kami menghargai hidup. Lagi-lagi, kadang ingat, sering lupa, saking bodohnya.

Sampai ketika kami tidak diajar lagi oleh beliau, kami tidak pernah tahu bahwa beliau memang hanya Tukang sapu jalanan Jekarta. Pak Haji Masrukin lah yang menyampaikannya dua minggu kemudian. Pada saat yang sama Pak Haji Masrukin menyampaikan alasan kenapa beliau tidak bisa mengajar kami lagi sejak malam Minggu yang telah lewat.

Rumah beliau (yang secara gambaran adalah sangat sangat sangat sederhana sekali) digusur dan beliau harus pindah ke tempat yang jauh dan agak sulit bagi beliau untuk datang mengajar kami. Kami berpikir bahwa memang hanya sebatas itulah kami dipertemukan dengan beliau.

Saya bersyukur pernah berguru pada teman seperguruan Buya Hamka. Walaupun tak setenar Buya Hamka namun kami menyaksikan kedalaman “elmu”-nya dan merasakan sejuknya keikhlasannya dan keluhuran budinya.

Ah, kenapa saya begitu pelit pada guru? Kenapa guru begitu pelit untuk mengeluh? Kenapa Pak Haji Masrukin tidak memaksa kami membantu “mengongkosi” guru kami? Mengapa mutiara itu tak lama kami genggam?

Siapa nama beliau saya pun tak ingat karena kami hanya memanggilnya Pak, Pak, Pak.

Dimana Bapak sekarang?

Matur nuwun sanget, Pak. Mugi Gusti Allah paring kawilujengan. Amin.

MEMBATIK LAGI

MEMBATIK LAGI

Sudah setahun lebih saya tidak memegang canting. Selama itu saya berkutat dengan kesibukan yang tidak bisa saya ungkapkan secara terperinci. Yang pasti selama kurun waktu itu saya membiarkan kompor kecil saya kering sumbunya, wajan tembaga saya penuh dengan malam beku dan canting saya buntu sama sekali.

Saya ingin membatik lagi. Dulu saya membatik bisa sampai pagi. Saya tidak peduli walaupun saya harus membatik di teras luar supaya asap tidak mengganggu pernafasan di dalam ruangan. Saya tidak peduli bahwa malam itu bisa saja maling celana sedang gentayangan,. Saya tidak peduli pada makhluk-makhluk lain yang sejatinya sedang menggoda saya dengan rupa yang berbeda-beda, dari tikus, cicak, kecoa, laba-laba, semut merah dan yang berpakaian compang-camping atau berpakaian kerajaan menembus dinding… Apa itu ya…

Karya batik saya sudah ada beberapa lemabr baik yang telah sempurna proses pembuatannya maupun yang belum diwarnai atau belum dicanting sebagian atau baru dipola. Semua itu membuat saya terpacu untuk menyelesaikan tugas saya. Tugas saya adalah menyempurnakan karya saya. Saya tidak mau karya saya terbengkalai sebelum purna usia. Apapun tugas dan karya saya yang belum tuntas saya anggap hutang. Dan hutang saya harus terbayar sebelum saya meninggal. Batik saya harus jadi dalam waktu dekat.

Satu batik yang akan segera saya kerjakan adalah sebuah selendang sutera yang ingin saya persembahkan pada ibu saya Lebaran ini. Cantik sekali polanya. Saya membayangkan alangkah cantiknya ibu saya mengenakan selendang sutera pada saat shola Id.

Ok, yang penting sekarang saya telah memiliki waktu lagi untuk membatik. Membatik seperti tidka jauh berbeda dengan kegemaran saya menggambar dan melukis namun jujur adanya membatik membutuhkan kesabaran ekstra. Saya tak heran jika setahun ini saya merasa kesabaran saya tidak sebagus ketika saya aktif membatik.

Ternyata kesabaran bukanlah sebuah kata benda yang dapat kita peroleh begitu saja. Kesabaran adalah buha latihan bersabar dalam kehidupan sehari-hari.

Duh, saya ingin membatik lagi…

GELANG DI PERGELANGAN TANGAN

GELANG DI PERGELANGAN TANGAN

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat dan membahas keberadaan gelang kristal yang melingkar di pergelangan tangan beberapa orang terkenal yang dia jumpai.

Kata karib saya ini orang-orang tersebut adalah orang yang akan “mentransfer” energi positif mereka ke kristal-kristal yang terangkai menjadi gelang tersebut. Jadi pada kristal itulah mereka “menyimpan cadangan” energi positif mereka. Ide yang brilian.

Saya sangat tertarik utnuk mempraktikkannya mendapati bahwa saya adalah orang yang secara sadar setiap saat belum mampu menyelubungi tubuh saya dengan energi positif. Saya perlu menimbun energi positif yang datang pada saat tertentu saja ini pada sebuah benda sehingga saya bisa “manarik tunai” jika saya kehausan energi positif.

Sahabat saya ini tidak menyebutkan secara pasti apa jenis kristal yang dironce menjadi gelang tersebut. Maka dengan kreativitas dan knowledge saya sendiri saya meronce batu yang selama ini telah saya kenal dan saya punya.

Saya memiliki 2 gelang batu muliayaitu: satu roncean colour stones dan satu lagi amethyst diselingi mutiara air tawar. Batu-batu mulia tersebut berasal dari Kalimantan.

GELANG AMETHYST

Amethyst disebut juga batu kecubung yang saya rangkai berwarna ungu muda hingga ungu tua. Karena beberapa hal saya hanya bisa mendapatkan serpihan-serpihan kecil yang sebenarnya merupakan sampah-sampah kecubung dari kecubung besar yang diasah dengan ukuran besar dan utuh. Serpihan kecubung itu saya selingi dengan 8 butir mutiara air tawar kecil. Saya meronce gelang amethyst ini dengan perhitungan yang cukup njelimet. Saya memilih amethyst karena saya adalah Virgo yang disarankan memakai amethyst sebagai gemstone sesuai karakternya. Amethyst adalah lambang keanggunan, keberuntungan. Lalu mutiara adalah tumpukan residu yang membatu karena ketabahan sang kerang menerima “cobaan” eksternal. Media untuk meroncenya adalah tali senar yang melambangkan kekukuhan yang bening dan lembut. Pembukanya adalah logam berwarna perak yang melambangkan kesederhanaan.

Gelang ini tidak saya maksudkan untuk memiliki daya magis keberuntungan atau supaya saya terlihat anggun. Gelang ini bukan pengasihan. Definisi-definisi dari sifat dan pamor batu diatas saya rangkai menjadi gelang yang diharapkan menjadi perlambang yang selalu saya ingat ketika saya memandang dan memakainya. Saya memvisualisasikan permintaan untuk selalu tampil anggun (tentunya dengan berdandan secara wajar setiap hari), beruntung dan selalu tabah menjalani segala cobaan yang menempa saya. Saya memilih jumlah 8 untuk mutiara saya karena angka 8 adalah angka dinamis. Dimana anda menentukan ujung angka 8 maka disitulah Anda memasang ujung dari yang lainnya. 8 mutiara adalah kerinduan saya pada Yangawal dan Yangakhir. Sedangkan tali senar dan logam perak adalah perwujudan doa saya untuk senantiasa dikaruniai ketegaran dan disadarkan akan keserhanaan dalam hidup saya.

GELANG COLOURSTONES

Colour stones dikabarkan dapat menampilkan aura sang pemilik. Saat pemiliknya sedang bad-tempered maka warnanya menjadi gelap. Sedangkan jika sang pemilik sedang tenang maka warna-warna yang ditampilkannya juga menjadi lembut. Warna-warna menjadi terang ketika sang pemakai hatinya ringan gembira. Ada 18 butir colourstones di gelang saya, warnanya bermacam-macam: merah, oranye, kuning, coklat, putih tranparan, putih keruh, hijau lumut, hijau tua dan campuran warna yang tak mampu saya definisikan dengan kata-kata. Tali yang saya pakai adalah senar lentur.

Seperti gelang amethyst-mutiara-senar-perak saya, gelang colourstones saya juga memiliki arti dari permintaan saya kepada Tuhan. Batu-batu warna itu adalah perwujudan kejujuran saya dalam menampilkan rasa dan ide saya. Tidakkah Anda ingin menjadi jujur? Saya ingin. Dan saya ingin menjadi jujur tanpa menyakiti orang lain. Colourstones akan mengungkapkan kemarahan saya namun warna-warnanya tetap cantik dan alamiah. Warna-warna menghiasi emosi saya dengan keindahan. Perwujudan warna batu tersebut adalah perlambang dari emotion management saya. Mengapa berjumlah 18? Sesungguhnya karena memang dengan 18 butir batu itulah pergelangan saya terukur tepat. Angka 18 juga mengingatkan saya pada sebuah surat dari sebuah kitab yang selama ini menjadi panduan rohani saya; surat ke-18 berjudul Gua. Gua yang terisi oleh para pemuda dan hawan kesayangan mereka yang terselamatkan dari kegelapan masanya, mereka ditidurkan selama beratus tahun untuk menemukan kegemilangan jaman baru. Doa saya adalah saya dibiarkan “mati” alias “tidak sadar” akan penderitaan saya. Saya ingi menjalani hidup ini dalam keadaan “mati” atau “tidur sesaat” sebelum kemudian terbangun pada saatnya. Dan pada saat saya bangun dari “mati” saya, saya mendapati bahwa ilmu yang saya bawa tidur ternyata sangat cocok dengan jaman baru tersebut. Dan mengap
a talinya senar lentur? Karena saya ingin menjadi orang yang membawa ilmu di hadapan kehidupan dengan jalan yang lentur, bukan dengan jalan menghakimi berdasarkan dalih dan dalil yang kaku lagi menyakitkan.

Dan, kesimpulan saya mengapa gelang dan bukan perhiasan yang lain? Karena gelang adalah sebuah lingkaran yang tak terputus ketika dipakaikan pada pergelangan tangan. Pergelangan tangan adalah “letak” kehidupan. Di film-film para dokter merasakan tanda kehidupan di pergelangan tangan lho… jadi dengan memakaikan gelang yang penuh makna pada pergelangan tangan juga mengandung harapan bahwa saya mengingat perlambang tersebut selama saya masih berkehidupan.

Terima kasih pada sahabat saya yang telah menginspirasikan pemakaian gelang kristal ini. Gelang saya niscaya bukan hanya cadangan energi. Gelang saya adalah perwujudan gaya dan tujuan hidup saya.

Mau beli gelang? He he he…

GURU SAYA 1

GURU SAYA – 1

Sepuluh tahun yang lalu saya mengikuti kuliah Sejarah Pemikiran Modern. Dosennya adalah seorang wanita Madura yang kritis dan adil. Kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, seringkali bikin mahasiswanya jengkel karena tak ada artinya alias tidak logis. Saat diam, dia berpikir sehingga kami mengira beliau melamun. Suatu hari saya merasa sangat bosan; bukan dengan mata kuliah dan pengajarnya melainkan dengan teman-teman yang berulang kali menguap menahan kantuk, teman-teman lain yang ngerumpi (termasuk ngerumpi-in Bu Dosen) dan bosan dengan kebodohan saya sendiri. Saya pun mengacungkan tangan dan bertanya.

“Silakan,” kata Bu Dosen.

“Siapa sebenarnya yang bisa disebut sebagai guru kita, Bu?”

“Yang mengajarkan tentang makna hidup.”

“Orang tua kita?”

“Bisa.”

“Bagaimana kalau orang tua tidak bisa mengajari anaknya pelajaran hidup?”

“Berarti memang dia tidak bisa disebut guru bagi anak-anaknya.”

“Bagaimana kalau ternyata Ibu belajar tentang hidup justru kepada saya?”

“Maka Anda adalah guru saya.”

“Bagaimana kalau saya ternyata tidak belajar pada siapapun?”

Bu Dosen diam. Para mahasiswa mengomel lirih karena khawatir diskusi ini akan panjang lebar menghabiskan energi mereka. Saya merasa bersalah membuat teman saya terancam lemparan pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawabnya sendiri tapi dia lebih menginginkan para pendengarnya aktif bicara (dengan berpikir sebelummnya tentunya). Saya merasakan panas cubitan sahabat di kiri kanan saya sebagai tanda protes.

“Apa maksud Anda tidak belajar pada siapapun? Apakah Anda benar-benar tidak belajar? Atau Anda belajar namun tidak “diajari”?”

“Saya belajar tapi tidak dengan diajari.”

“Sesungguhnya metode belajar seperti itulah yang paling tepat untuk manusia. Anda ingat sebuah ajaran China yang pernah kita bahas. Aku melihat dan aku lupa. Aku mendengar dan aku lupa. Aku mengalami dan aku ingat.”

“Apakah bisa dibilang bahwa saya adalah guru bagi diri saya sendiri?”

“Apakah Anda ingin menyebutnya demikian?”

Saya bingung. Oh, Ibu Dosen, saya bertanya, jangan ditanya, batin saya pilu. Pertanyaan saya mulai menyiksa tidak hanya mahasiswa yang jumlahnya mencapai 70 orang tapi juga saya sendiri yang dirambati rasa sesal. Ruang tar ber-AC ini menjadi makin panas. Aku mendengar salah seorang merutuk “Dasar, sok pinter. Rasain sekarang bingung sendiri dihabisi Madura.”

“Tidak.’

“Jadi menurut Anda, adakah guru yang tidak kasat mata?”

Wadaw… Apa pula ini bah!

“Tidak mungkin Anda tidak belajar jika tidak ada guru. Guru tidak selalu manusia yang bisa kita berikan penghargaan karena tiap petatah-petitihnya atau tindak-tanduknya diterima sebagai makna oleh seseorang. Guru adalah fasilitator. Perantara.”

Bu Dosen diam sengaja memberi jeda bagi saya (mungkin juga bagi teman-teman) untuk merenung.

“Guru adalah perantara dari tersampaikannya makna kepada seseorang sehingga dia memahami sesuatu.

Jika Anda, Saudari Rike…”

Saya terperangah karena ternyata Bu Dosen ini tahu nama saya. Bagaimana bisa? Saya bukan mahasiswa brilian. Ah, saya tidak mau ge er, bisa saja dia mendengar secara tidak sengaja bahwa mahasiswa goblog ini bernama Rike Jokanan.

Jika Anda tidak merasa ada yang mengajari namun Anda belajar maka carilah perantara itu.”

Saya tidak ta
hu mengapa saya ingin menangis saat itu. Yang saya rasakan adalah suasana sentimentil tak beralasan. Jangan-jangan karena tahu Bu Dosen tahu nama saya ha ha ha…

Jika perantara itu tak bisa Anda definisikan, jangan khawatir. Pada saatnya Anda akan menemukan Guru tersebut. Teruslah belajar dengan metode Anda dan jangan takut untuk tersesat karena Anda memiliki guru. Jangan membayangkan perantara disini sebagai kabel yang menghantarkan listrik atau angin yang menghantarkan suara…”

Suara Bu Dosen Madura makin ringan mengipasi hati saya. Ketika bel tanda jam kuliah habis, suara sorak-sorai lega teman-teman terdengar dan dengan tenang seperti biasa Bu Dosen beruluk salam, saya duduk tertinggal masih berusaha mencari-cari makna kata-kata Bu Dosen. Saya melihat Bu Dosen tersenyum tipis pada saya sebelum meninggalkan ruangan. Teman-teman saya memaki-maki saya. Dan saya tidak juga memahami apa maksud Bu Dosen guru saya tersebut… Hingga 10 tahun kemudian.

Terima kasih Bu Dosen. Anda ternyata guru saya.

Dosen tersebut sekarang masih aktif mengajar di Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Pada saat itu beliau juga mengajar mata kuliah Kesustraan Indonesia dimana saya berkenalan dengan karya-karya Zawawi Imron.

June 29, 2008

DREAM

DOES DREAM MEAN SOMETHING?

A dream can make someone decide an important matter in life. Dream can make someone’s day gloomy until the end of another day. Dream can change someone suddenly. A dream brings smile. A dream brings cry. A dream brings anger.

Does dream really matter?

Which dream does it?

What does dream bring to you?

DIET…

DIET…

I gain weight again. It usually happens when I am very much under stressed. I compensate my stress by eating many things without stopping except when I am reaaly occupied by my drowsiness and my jobs. My weight is the indicator of my stress level. The fatter I am, the more stress I am undergoing.

I have gain 7 kilograms and I have no idea to stop my madness to eat in order to forget my big troubles. It ridiculously becomes such a heavy burden not to munch things. It is not normally called munching because I consume main course as my snacks. Meat, eggs, meatballs, cheese, rice, bread, etc… So, is it munching or craving? I don’t know much. What I need now is just a break to feel the air. I need to breathe my mind that has been so much bedazzled by the facts I have been offered by someone.

Diet…

Yeah. I need to have a diet. What kind of dietery should I choose? I want to have one extremely able to reach the ideal weight ASAP. Yes, as soon as possible. Why???

Because I am going to attend a wedding party next month. Because I have to wear my gown on that day. Because I gain weight and my gown can’t conpromise with me anymore. The zipper even stops before reaching the top of its end. Oh no… I am so fat.

What diet then? Food combining? Protein? Fat? Carbohydrate?

June 27, 2008

11:48pm

JER BASUKI MAWA BEA

JER BASUKI MAWA BEA

Orang Jawa Timur mestinya paham arti kata-kata diatas karena frase tersebut adalah semboyan wilayah Jawa Timur. Jer Basuki Mawa Bea.

Sebagai orang kelahiran Jawa Timur, walaupun ber-KTP Banten, saya sangat bangga terhadap semboyan tersebut. Begitu lugas menantang orang-orang yang pelit, begitu lantang menantang para pemalas, begitu berani menantang orang-orang yang sok ikhlas, begitu indah mewujudkan sebuah prinsip dalam kata-kata elok tanpa jumawa.

Jer Basuki Mawa Bea: Jika mau sukses harus pakai biaya. Mungkin Sudara yang tidak paham dengan adanya kata bea/biaya akan segera berasumsi bahwa orang Jawa Timur dirancang untuk matre.

Kenyataannya tidak demikian karena bea atau biaya disini tidak hanya mengacu pada uang atau materi saja melainkan segala macam cost. Ada psychological cost, financial cost, social cost dan cost-cost lain yang bermakna pengorbanan.

Apakah Anda masih ragu terhadap hebatnya semboyan Jawa Timur ini? Saya akan menantang Anda untuk memahaminya dengan cara bodo-bodoan saja karena saya tidak ahli menerangkan secara ilmiah kepada Sudara sekalian.

Kalau Anda ingin makan, apa yang Anda butuhkan? Tentu saja makanan. Dari mana makanan in Anda dapat? Disinilah Anda dituntut menanggung cost.

Kalau Anda masih bayi, ibu Anda yang menanggung cost-nya. Ibu Anda berkorban, menyusui Anda atau membelikan susu instant untuk Anda.

Kalau Anda balita, masih orang tua Anda yang menanggung cost tersebut.

Kalau Anda usia es de, maka masih orang tua Anda yang harus menanggung cost-nya. Namun jika di usia tersebut Anda adalah anak gelandangan, Anda harus berpikir ulang apakah Anda harus mengemis, mengamen, mencopet atau apalah yang dapat menghasilkan uang untuk membeli makanan atau untuk makanan itu sendiri. Jika Anda mengemis, cost-nya lebih rendah karena hanya berbekal “Mbak, bagi uangnya Mbak…. Belum makan dari setahun lalu…” Jika Anda ingin mengamen, mungkin cost-nya lebih tinggi karena Anda harus menyanyi tambah lagi kalau perlu kincringan atau gitar butut atau botol Aqua berisi kerikil. Kalau Anda mencopet, Anda harus punya skill yang lebih beresikomenentang hukum dan perlu diketahui keahlian mencopet ternyata dilembagakan dalam sebuah “kursus” plus training kilat. Ingat Oliver Twist karya Charles Dickens, Oliver, si anak kecil malang itu, harus rela di-training paksa oleh Badger, pencopet anak senior.

Kalau Anda ingin meraih karir yang sukses, ada juga cost-nya. Anda harus bekerja dengan heroik tak kenal lelah. Insya Allah, gaji Anda naik dan jabatan Anda segera melejit seperti roket. Namun ada cost lain yang harus Anda tanggung setelah sukses. Mungkin keluarga Anda akan kehilangan sebagian waktu untuk bersama Anda. Atau teman-teman sejawat Anda akan iri dan meninggalkan Anda atau yang lebih parah mereka menjegal Anda karena menginginkan kesuksesan serupa. Jangan lupa badan capek pegal-pegal, stres berat dan semacamnya menunggu Anda, usahakan badan dan pikiran tetap fresh.

Lebih-lebih lagi jika negara ini mau bangkit maka ada cost yang ditanggung oleh masing-masing pihak. Ulama, umara dan ummat mesti saling membagi tugas tanpa ada yang dibohongi, tanpa ada yang dirugikan, tanpa ada yang dikibuli. Semua orang mesti rela berkorban BUKAN dikorbankan.

Ulama, jadilah ulama yang benar. Ulama yang seakar dengan kata ilmu haruslah orang-orang yang mengungkapkan kebenaran suatu ilmu. Jika ilmu itu terbukti justru merepotkan negeri tidak perlu sungkan menyisihkannya dan memakai ilmu lain yang benar dan lurus. Orang-orang pinter ini tugasnya memintarkan umara dan ummat bukan untuk minteri (membohongi dengan kepintarannya, bahasa Jawa) ummat demi kepentingan segelintir umara atau diri sendiri. Wahai ulama, engkau bagaikan gentong atau kendi wadah air. Jika kau kotor, maka air yang diteguk oleh para manusia dahaga itu tidak mustahil beracun dan menyakiti atau membunuh mereka. Kalian tahu lebih banyak tentang urusan dosa, bukan?

Umara, jadilah umara yang benar. Umara yang seakar dengan kata amir, pemimpin haruslah orang-orang yang kemampuan leadership-nya dilandasi oleh kemurnian niat memakmurkan orang-orang yang dipimpinnya. Ibarat g
embala, dia pasti mengutamakan kepentingan ternaknya; sebelum dia menemukan lapangan berumput segar manis untuk ternaknya, sang gembala tidak semestinya duduk bersantai di bawah pohon untuk menikmati bekal dan bermain seruling. Ingat, kemungkinan ada srigala disana. Jika ternak habis dimakan srigala mungkin kau masih bisa menangis wahai gembala… Namun jika ternyata ternakmu lebih awas terhadap bahaya yang biasa menyerang mereka karena kelengahanmu yang terus menerus, maka apa yang akan kau lakukan jika srigala-srigala itu siap menerkammu? Jangan pula terlalu sering bermain tongkat pada ternakmu, mereka akan membencimu karenanya. Tongkatmu hanya untuk mendisiplinkan bukan untuk menghukum. Semua harus proporsional. Kau tidak suka diserang ternakmu sendiri bukan?

Ummat, jadilah ummat yang benar. Ummat yang bisa diartikan pengikut. Ummat bisa seumpama ternak yang di-angon sang gembala berseruling. Tak ada salahnya sedikit protes jika rumput di tanah lapang tidak lagi layak disuguhkan kepada kita namun jangan juga terlalu membandel hanya untuk kepentingan sendiri. Janganlah indahnya bunga cantik kesukaan pribadimu membuatmu mberot (tak mau jalan, bahasa Jawa) tak mau mengikuti rombongan yang sedang mengarah ke telaga sejuk di di tepi padang rumput yang hijau segar dan manis. Biarlah, jika nanti gembala kita tidak becus, kita pilih saja gembala lain, kalau mungkin dari kalangan ternak juga. Siapa tahu dia lebih mengerti kita.

Kok saya jadi sok main sanepan (simbolisasi, bahasa Jawa) politik begini ya he he he…

Ok, kembali pada Jer Basuki Mawa Bea; bea adalah biaya adalah cost adalah pengorbanan adalah resiko adalah consequences, yang harus Anda tanggung, yang terlahir bersama langkah yang Anda ambil setiap tarikan nafas kehidupan Anda.

Saya bangga menjadi orang Jawa Timur yang berani mewujudkan Jer Basuki Mawa Bea. Saya telah dan selalu menerima apapun resiko yang harus saya hadapi dari apapun yang telah saya lakoni (lakukan, bahasa Jawa). Dan, Anda pun harus siap dengan apa yang telah Anda lakukan kepada orang Jawa Timur yang paham benar dan nyarujuki (menyetujui, bahasa Jawa) semboyan tersebut. Jangan heran kalau Anda akan bangkrut pada akhirnya karena “mengingkari” apa yang telah Anda setujui diawal sebuah akad dengan seorang Jawa Timur yang ber-Jer-Basuki-Mawa-Bea. Cost dari ketidakjujuran dan pengingkaran Anda adalah cost terberat yang harus Anda tanggung.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!

June 12, 2008

GARAGE SALE

GARAGE SALE

Sudah sejak lama saya pengen mengadakan garage sale di suatu tempat yang peta perekonomiannya kurang memadai. Saya membayangkan barang-barang bekas, yang saya kumpulkan dari para handai-taulan dan teman-teman secara cuma-cuma, dipajang sedemikian rupa sehingga para pembeli tergiur untuk membelinya. Harga yang saya pasang pasti murah.

Tape recorder bekas harga 50ribu.

Laptop bag bandrol 20ribu.

Kipas angin bekas dapat dibeli dengan harga 25ribu

Wajan tembaga 5ribu.

Handbag 10ribu.

Charger hape 5ribu.

BARANG PILIHAN HARGA BANTINGAN!

Baju segala model 7ribu5ratus.

Cermin dinding 10ribu.

Kompor listrik mini 30ribu.

Barang-barang mini 2ribu5ratusan.

Dll…

Garage sale! Garage sale! *teriak gaya penjual bak anti bocor*

Ayo harga murah untuk yang butuh dan cekak uangnya! *teriak gaya pedagang mainan*

Saya sudah mengumpulkan barang-barang tersebut. Saya sudah menghubungi sahabat-sahabat saya untuk mengumpulkan barang-barang bekas mereka yang masih sangat layak dan mereka relakan untuk dibeli dengan harga murah. Mereka antusias. Sangat antusias, melebihi saya pencetus idenya.

Tapi kapan ya bisa terlaksana? Teman-teman saya sudah sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Saya ingin bergerak sendiri tapi saya juga sibuk dengan hidup saya. Saya jadi takut kalau-kalau waktu akan menjadi pelit karena saya perhitungan membelanjakannya demi sesama saya.

Garage sale, garage sale… *mendesah a la pecatur tingkat er te kalah tanding*

June 26, 2008

10:33WIB

MIMPI-MIMPIKU BISA TERBANG, BISAKAH MEMBAWA HIDUPKU SERTA?

MIMPI-MIMPIKU BISA TERBANG, BISAKAH MEMBAWA HIDUPKU SERTA?

Sekarang sedang banyak digelar di hadapan kita tentang pentingnya memvisualisasikan mimpi-mimpi kita secara detil untuk merangsang alam bawah sadar kita untuk mampu mewujudkannya dalam dunia nyata. Tidak hanya satu atau dua buku yang menuliskan seberapa penting dan dahsyatnya kekuatan visualisasi mimpi manusia terhadap niscaya tidaknya sebuah cita-cita. Kita sebut saja buku dan tulisan The Secret dan turunannya, Quantum Ikhlas, Mestakung, dll. Tak sedikit pula buku-buku tersebut dilengkapi dengan CD untuk membantu pemahaman maupun penghayatan. Saking inginnya saya “waras”, saya beli segala macam buku itu. J

Sebagai manusia normal saya juga punya cita-cita baik yang masuk golongan harapan maupun yang dapat dikategorikan sebagai mimpi. Saya membuat dua kotak yang berbeda untuk harapan dan impian karena keduanya memiliki sifat yang berbeda menurut saya.

HARAPAN adalah suatu keinginan yang sudah saya tetapkan secara pasti dan terukur sesuai kapasitas saya saat ini, misalnya:

  • Memiliki koneksi internet yang cepat dan murah
  • Melunasi semua utang saya
  • Naik gaji dengan persentase maksimal
  • Memiliki rumah yang asri hijau dan bersih
  • Mengajak ibu bersantai sejenak saat saya cuti

MIMPI adalah keinginan yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri jika memikirkannya tanpa memikirkan kapasitas saya saat ini, sebagai contoh:

  • Mempunyai perusahaan sendiri dan tidak perlu bekerja di kantor menjadi karyawan
  • Membangun sekolah gratis untuk orang-orang tidak mampu
  • Keliling dunia tanpa harus susah-susah memikirkan waktu dan biaya
  • Memiliki tanah yang luas untuk pertanian dan peternakan organik
  • Mendapatkan pendamping hidup yang sehat, bertanggungjawab dan setia

Dapatkah Anda merasakan perbedaannya?

Saat ini saya sedang belajar memvisualisasikan baik harapan maupun impian saya dengan “harapan” segalanya akan terwujud sebelum purna usia. Saya pernah mendengar “sesuatu terwujud dua kali, yang pertama di pikiran kita dan selanjutnya dalam kenyataan hidup kita”. Dengan keyakinan bahwa kekuatan pikiran menggiring kekuatan “mewujud” saya membiarkan harapan dan impian saya membubung tinggi laksana asap yang tak pernah pudar oleh angin dan hawa.

Harapan terdekat saya adalah saya dapat membagi waktu dengan baik. Saya ingin waktu saya yang “hanya” 24 jam ini bisa saya manfaatkan sebaik mungkin. Saya membayangkan dalam sehari semalam utuh ini saya dapat melakukan pekerjaan berikut (tidak diurut sesuai prioritas):

  1. Menyelesaikan quota harian saya tepat waktu (8,5 jam)
  2. Mengheningkan cipta secara benar
  3. Membaca buku
  4. Menulis
  5. Membereskan kamar
  6. Mendengarkan musik
  7. Menelfon keluarga dan teman-teman saya
  8. Berolahraga
  9. Menggambar
  10. Ngobrol dengan tetangga saya
  11. Mengevaluasi diri saya
  12. Mengimplementasikan paling tidak satu nilai kehidupan secara positif
  13. Mencuci dan menyetrika baju sendiri
  14. Memasak untuk diri sendiri
  15. Menghafalkan paling tidak satu kata dari satu bahasa asing
  16. Mengurus kura-kura saya
  17. Beristirahat secara efektif

Ternyata ada paling tidak 16 hal yang saya ingat ingin saya kerjakan secara konsisten setiap 24 jam saya. Namun pada kenyataannya saya tidak bisa. Dan saya merasa bahwa akhirnya sebagian waktu saya habis hanya untuk membayangkan harapan dan impian saya tanpa benar-benar melangkah untuk mendapatkannya. Ayo kita lihat apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup saya:

  1. Bangun jam 5 pagi untuk mengheningkan cipta lalu mandi, menjemput bekal makan siang, segera berangkat. Di kendaraan menuju kantor hampir 2 jam sebagian besar saya tidur.
  2. Sampai kantor, saya cuci muka dan tangan, bersiap dengan komputer dan segelas besar air minum bekerja. Selama bekerja kadang saya selingi dengan chatting atau bercanda dengan teman. Tidak lupa kemudian makan siang sambil kerja juga. Mengheningkan cipta sekejap mata tanpa meresapi maknanya (kata orang Jawa “jengkang-jengking”, artinya nunggang-nungging saja).
  3. Setelah selesai pekerjaan atau belum selesai dan sudah kecapekan, saya pulang. Di kendaraan tidur atau gelisah karena para seniman jalanan (mereka tidak bermaksud mengganggu tapi saya terganggu kadangkala).
  4. Sampai rumah, saya mandi mengheningkan cipta lalu ngobrol sebentar dengan tetangga. Kadang saya melewatkan waktu saya untuk menelpon ibu dan/atau sahabat dan keluarga.
  5. Kemudian saya buka notebook saya untuk melanjutkan pekerjaan kantor saya yang belum sempurna L, kali ini sambil mendengarkan radio. Kadang saya membaca buku tapi lebih sering membaca tapi sekilas saja.
  6. Setelah 2 atau 3 jam biasanya pekerjaan saya tuntas. Lalu saya “pura-pura” mengevaluasi diri walaupun kenyataannya saya sedang menyesali kehidupan saya yang sehari-harinya begitu-begitu saja.
  7. Tahap mengevaluasi diri ini memakan porsi yang kadang terlalu berlebihan sehingga membuat mata saya tak terpicing sedikitpun. Saya sibuk membayangkan andaikata, seandainya, coba kalau, jikalau, andai saja dan segala khayalan yang membuat kehidupan saya (seharusnya) lebih baik. Biasanya saya sibuk dengan visualisasi harapan dan impian itu sampai pukul 1 atau 2 saat saya benar-benar lelah badan dan syaraf.

Aih, 24 tidak cukup. Inilah hidup saya. Saya berpijak tanah tapi mimpi-mimpi saya terbang. Saya butuh sayap-sayap untuk terbang bersama mimpi saya. Sayap-sayap itu dimana carinya ya? Mungkinkah bisa dibongkar pasang? Saya ngeri kalau-kalau sayap-sayap palsu bisa membuat saya seperti Icarus anak Daedalus yang jatuh karena lilin perekat sayapnya terbakar matahari. Jika ditumbuhkan, berapa lama saya menumbuhkannya? Apa saya harus makan chicken wings tiap hari supaya sayap saya segera tumbuh? Chicken juga tak becus terbang bahkan dia lambang kepengecutan. Oke, saya makan bird wings saya. Mana ada makan sayap burung bikin tumbuh sayap badan manusia? Mimpi…

Rupanya saya masih membutuhkan mimpi lain untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Apa saya memang benar-benar hidup di Republik Mimpi ya? Atau hidup saya hanya mimpi? Tolong! Aku mau mimpiku tercapai bukannya terwujud dalam bingkai impian lain.

June 26, 2008

10:13 WIB