500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI (belum selesai)

500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI

(indikasi woman trafficking?)

Punya suami bule mungkin menjadi semacam kesenangan tertentu bagi sebagian wanita Indonesia. Selain demi memperbaiki keturunan juga mungkin memperbaiki taraf hidup. Atau mungkin saja itu hanya semacam kesenangan atau selara belaka. Tapi kemudian ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan.

Seorang teman saya menjadi istri sirri seorang lelaki Eropa beberapa tahun belakangan. Sudah beberapa kali sebenarnya dia meminta dinikahi secara legal sehingga tidak ada ganjalan untuk melakukan perbuatan hukum seperti memiliki anak, membeli rumah dan lain-lain.

Tadi malam ketika ngobrol dengan beliau, tanpa sengaja saya meledek dia.

“Ah, kali aja suami elo nggak mau nikah legal karena nggak mau deposit 500 juta… Eh, atau jangan-jangan nggak punya duit dia ya? Kali ya…”

“What?!”

Saya terdiam. Waduh, tersinggung dah dia… Atau dia nggak tahu. Saya HHC (harap-harap cemas) menunggu apa reaksi dia selanjutnya. Bisa mati lah aku kalau dia marah.

“Lho emangnya kudu deposit duit?”

“Hoi! Jawab pertanyaan gue dong!”

“Iya, katanya sih 500 juta, Yul… Dan setornya musti ke bank syariah, bisa diambil setelah kurun waktu tertentu…”

“Ya ampun kenapa suami gue nggak bilang kalau ada ketentuan kayak begitu?”

“Tenang… aku belum fixed dengan UU ini. Kita cari info dulu aja…”

Sejak itu emoticon-emoticon yang dia kirimkan adalah L dan tanda menangis semua. Kasihan juga tapi kok ya gimana udah kadung saya membuatnya sedih.

Lalu saya browsing RUU atau UU atau apalah status aturan itu saat ini. Dan yang muncul adalah RUU dengan segudang protes dan cemooh menghiasi postingan yang diunggah di banyak blogs dan websites. Seseorang di kantor saya yang gape tentang aturan perundangan Indonesia juga telah menginformasikan hal tersebut beberapa bulan yang lalu ketika saya ngobrolin pernikahan kakak perempuannya dengan seorang warga negara Amerika Serikat.

Saya sedikit heran juga. Bisa-bisanya pemerintah punya rencana mengadopsi hukum positif di Mesir untuk diberlakukan di Indonesia.

BERSAMBUNG hi hi hi… *seringai ngeselin*

Serang – 15 Juni 2011 – 2:46 siang

Calonarang

CALONARANG

(ocehan kemarahan dalam kejujuran)

Selamat datang di daerah terlarang. Terlarang karena khusus untuk orang-orang yang menghargai keburukan. Calonarang yang terkenal dengan kesaktian hitamnya menjadikanku terinspirasi dalam nyondro (mendeskripsikan, bahasa Indonesia) diri sendiri. Waktu kecil dulu aku mendengar cerita Calonarang dari Mbah Bayan. Beliau adalah tetangga kami ketika kami masih tinggal diantara hutan jati di kawasan Bojonegoro. Tiap sore saya akan bergabung dengan Mbah Bayan putri yang nggelar kloso (menghampar tikar, Bahasa Jawa) di halaman depan tempat beliau dikerumuni cucu-cucu yang berteman denganku. Salah satu cerita yang beliau ceritakan adalah Simbok Calonarang – tentunya cerita ini versi bersambung karena terlalu panjang jika dikisahkan dalam semalam.

Setelah dewasa, saya baca Calonarang-nya Pramoedya Ananta Toer yang membuat pemahaman saya tentang Simbok Calonarang ini makin berwarna.

Ada satu hal yang sedang saya hubungkan dengan diriku.

Aku ini Calonarang.

Yang menari dikerubuti pengikut setia,

Entah setia entah hanya karena tak ada yang diikuti,

Yang pasti mereka jejingkrakan menari mengitari Simbok Calonarang.

Mengorbankan manusia tanpa dosa,

Entah tak berdosa atau hanya karena dibandingkan dengan pengorbanan

Yang tak ada hubungannya dengan kesalahan korban selama hidupnya,

Yang pasti dia harus mati demi upacara Simbok Calonarang.

Simbok Calonarang melakukan kejahatan-kejahatan itu disebabkan oleh kemarahan yang dipendamnya lantaran memang tak ada pilihan lain kecuali memendamnya sedalam dan serapat mungkin. Kadang manusia tak mampu menghadapi kenyataan selain dalam dinding hatinya sendiri. Masalah yang membuatnya marah menjadi semacam magma yang bergejolak dalam jiwa dan menjadi bahan bakar hidupnya. Her anger is her survival. Jika dipadamkannya kemarahan dalam hati maka tamatlah riwayatnya.

Kemarahan inilah yang rupanya juga ada di diriku. Tadinya tak kusangka aku ini semacam Simbok Calonarang. Ada kemarahan yang berkobar-kobar dan di inti kobaran itu ada bara yang kujaga agar abadi. Aku tidak membunuhi orang-orang dan memakai darahnya untuk keramas. Aku juga tidak mau diikuti orang-orang yang menari-nari mengelilingiku sambil ikut-ikutan keramas darah korban tapi aku seperti tidak rela jika ada orang yang mengutarakan kritiknya padaku. Pun jika sudah ada demdam pada orang, aku biasanya menyumpahi mereka (dalam kedalaman hati) supaya mereka sial seumur hidupnya karena kalau “hanya sekedar” mati alangkah beruntungnya. Pokoknya aku ini bener, yang lain bener biarin yang penting aku juga bener.

Sedikit demi sedikit kesadaran akan kemarahan ini mulai menguat dan keinginan untuk keluar dari kemarahan itu makin subur. Dan, aku makin marah. Ironis.

Ada satu orang yang sampai saat ini masih menjadi objek sumpah serapahku. Kusumpahi dia mendapatkan kesialan berupa masalah yang menimpa seseorang yang sampai saat ini tak bisa lepas dari dia. Anaknya. Kalau anak itu sial, aku yakin dia akan menderita seumur hidupnya. Kejadian yang membuatku membenci wanita itu memang cukup tak disangka. Bagaimana bisa Anda menyangka orang yang paling mendukung adalah orang yang paling menentang? Sungguh sebuah ironi, sebuah jebakan. Saya dijebak!!!

Yo wis lah… biarlah Simbok Calonarang itu bertahan untuk beberapa saat dalam jiwa saya. Biarlah kemarahan ini bercokol sebagai tanda bahwa aku juga manusia yang punya emosi negatif. Tapi aku tak mau musnah oleh api ini. Aku mau dong bahagia. Simbok Calonarang bisa saja berubah menjadi Putri Salju. Ya, mari kita mengunjungi negeri salju untuk menetralkan panas Dewa Agni ini.

Salam Calonarang.

Tangerang, 12 Juni 2011 – 9:09 malam

Gambar dipinjam dari http://www.bukucatatan-part1.blogspot.com

KLEPON

KLEPON

Sudah lama nggak makan klepon kok rasanya kangen ya dengan makanan Jawa ini. Makanan yang rasanya “explosive” kalau pinjam deskripsi Rachel Ray tentang rasa masakan yang hebat. Makanya hari Sabtu ini jadwal nulis report jadi prioritas kedua setelah nguleni (mengaduk memakai tangan, Bahasa Jawa) adonan kleponku.

Klepon pertama saya bikin bertahun lalu waktu masih kelas satu es em pe dan kebagian pelajaran Ketrampilan Memasak. Pelajaran Ketrampilan di sekolah saya dibagi dalam kelompok Menjahit, Mengetik dan Memasak. Saya bersyukur dimasukkan sebagai kelompok koki kecil. Sekarang masih terasa semangatnya kalau lihat bahan mentah dan ingat teman-teman yang pernah jadi tim di kelas Memasak.

Klepon adalah makanan yang (biasanya) diwarnai hijau dengan air daun suji, (aslinya) diisi gula Jawa dan ditaburi kelapa muda parut. Ada filosofi klepon yang saya urut sendiri.

Klepon diberi warna hijau sebagai perlambang warna dedaunan dan wakil dari jiwa muda (kalau ada yang bilang kita masih hijau berarti kita dianggap muda kalau bukan goblog he he…). Dalamnya gula Jawa, manis yang mewakili keceriaan dan rasa syukur. Sedangkan parutan kelapa adalah perlambang rasa (sedikit) gurih yang menambah “keriuhan” penampinan si hijau manis di dalm ini.

So….

Kalau mau makan klepon kita bisa serasa muda kembali dan bersyukur bahwa keceriaan dan rasa syukur masih terselip diantara keriuhan merasa muda itu. Tak mengapa sekedar merasa muda. Muda tak mesti dikaitkan dengan usia seseorang. Biar usia uzur tapi jiwa mesti tetap gembira, penuh rasa terima kasih pada alam semesta yang telah mengenalkan kita pada diri kita dan Cinta.

Oke, siapa yang mau klepon?

Ayo bikin sendiri.

Atau beli di pasar.

Klepon oh Klepon… J

Pinang, 2 Juni 2011 – 9:59 malam

Foto dipinjam dari http://lapar.com/makanplus/klepon

WC DAN RINDU RUMAH

WC DAN RINDU RUMAH

Ada semacam kepercayaan “kalau kita bisa buang hajat besar di suatu tempat dengan mudah maka artinya kita kerasan”. Rupanya ada indikasi kepercayaan itu berlaku bagi saya. Bagaimana bisa?

Beberapa minggu lalu saya ditugaskan ke daerah terpencil di provinsi Lampung. Sebuah pabrik pengolahan udang yang luasnya sekitar dua desa termasuk dengan tambak udang dan kawasan pengolahan serta sarana/prasarana untuk karyawan maupun tamu ada disana. Untuk saya dan seorang teman saya disediakan kamar di guesthouse yang menurut saya sih sekelas hotel bintang 3; satu kamar masing-masing tamu.

Saya merasa senang mengunjungi kawasan itu karena memang tak dinyana saya bisa ngambah (menginjakkan kaki, Bahasa Jawa) daerah se-mencil (pelosok, Bahasa Jawa) itu. Dari bandara Radin Inten, Bandar Lampung kami masih harus berkendara mobil hingga hamper empat jam disambung dengan menyeberang sungai sekitar sepuluh menit saja kemudian disambung lagi dengan mobil sekitar 30 menit barulah kami sampai di lokasi.

sampai sana saya kebelet ke WC tapi anehnya sudah beberapa kali nongkrong eh kok nggak terbuang juga sampah dalam perut ini. Akhirnya saya menyerah, menunggu hingga esok pagi tiba. Tapi ternyata sampah tak juga mau keluar; karena kata ibu saya kalau buang air besar tidak boleh dipaksa ya sudahlah saya mengalah saja.

Walhasil seharian kepala saya nyut-nyutan karena tubuh saya pebuh limbah yang tak keluar. Perut rasanya slemet-slemet (mules, Bahasa Jawa) namun apa daya tak kebelet.

Setelah tugas selesai kami berdua diantarkan ke kota Tanjung Karang untuk menginap di sebuah hotel di atas bukit menghadap lautan. kami terpaksa pulang ke kota karena jam 10:00 WIB keesokan harinya kami sudah haru terbang kembali ke Soekarno-Hatta. Kalau berangkat dari tambak wah bisa ketinggalan pak pilot…

Begitu menginjak pintu kamar hotel, perut saya langsung bereaksi dan alhamdulillah limbah yang menumpuk dan memadat tuntas sudah terbuang.

Saya heran mengapa disini saya bisa dengan lancar buang hajat sedangkan di guesthouse tambak saya “menderita”. Setelah beberapa mengingat-ingat, saya berkesimpulan bahwa saya memang tidak kerasan di daerah terpencil. Malamnya saya memang tidak bisa tidur karena suara-suara (misteri) yang entah cuma di pikiran atau memang menyelinap ke kuping saya.

Itu pertanda saya tidak merasa nyaman. Akhirnya metabolisme tubuh tidak normal dan tidak bisa e’ek dengan sukses. Paling tidak itulah penjelasan hubungan antara WC dan rindu rumah.

Cibaligo – Cimahi, 30 Mei 2011 – 1:46

FRIDAY THE 13TH

FRIDAY THE 13TH

Dulu waktu saya masih sekolah, ada film serial TV berjudul Friday the 13th; ada 2 tokoh utama pengelola sebuah took barang antic: Ryan (ponakan lelaki pemilik toko) dan Micki (ponakan perempuan). Tiap jumat ke-13 mereka selalu disibukkan dengan kegiatan menumpas “penghuni barang antik” tentu saja bersama dengan barang antiknya.

Ada sebuah boneka yang mengajari anak-anak yang pernah menjadi pemiliknya untuk berkata “I hate you” kemudian bisa membalaskan dendam sang pemilik kepada siapapun yang dibencinya. Pada akhirnya ketika pemilik sudah tak lagi mau menuruti permintaan si boneka, dia juga akan “tersedot” kea lam barzah dimana mereka mati tidak hidup juga tidak.

Satu-satunya jalan adalah mengalahkan perasaan benci tersebut dengan perasaan cinta. Jadi ketika Ryan dan Micki (eksekutor pemusnahan) menolong para korban boneka tersebut, mereka menebak-nebak apa yang harus dilakukan anak-anak itu untuk lepas dari rengkuhan pintu kematian.

Akhirnya Ryan dan Micki menyuruh mereka mneriakkan kalimat “I love you” kepada anak-anak itu. Bukan usaha yang mudah karena ternyata untuk mengatakan I love you rupanya menjadi kesulitan besar bagi anak-anak yang sudah kadung menanam kebencian.

Dengan segala usaha maka mereka dapat meneriakkan “I love you” dan setelah diulang-ualang berkali-kali kalimat itu seperti mantra… Mereka semua terlepas dari kutukan boneka pembenci. Lalu Ryan dan Micki memasukkan boneka iblis itu kedalam ruangan rahasia dimana mereka memenjara roh-roh jahat.

Friday the 13th atau Jumat ke-13 adalah semacam kepercayaan yang masih diyakini oleh sebagian orang sebagai waktu kesialan. Kalau ditanya percaya atau tidak, sulit untuk menjawabnya karena saya percaya bahwa kata “sial” itu ada karena manusia menciptakannya. Jadi saya rasa kesialan itu sendiri adalah buah perbuatan manusia. Apakah kesialan itu menimpa dia secara langsung atau harus menunggu beberapa saat maka itu hanya urusan timing saja.

Lepas dari Friday the 13th, saya hanya ingin mengatakan bahwa seperti boneka jahat itu, kesialan hanya tercipta karena ada bibit kebencian dalam suatu hati dan dipupuk dengan pembenaran diri yang tak terkendali dan tak berdasar. Entah ini hanya sebuah rumusna asal ngomong atau kengelanturan pikiran yang tak berdasar juga yang pasti kesialan pernah dirasakan oleh seluruh manusia; tinggal tingkat kekerapan atau ukurannya yang berbeda.

Maka serial TV Friday the 3th tentang boneka pembenci itu menjadi semacam pengingat buat saya bahwa membenci membuat saya sial. Apapun akan saya terima walau awalnya ada semacam “perasaan sebal akan apa yang menimpa saya”. Dengan cinta, saya akan terbebas dari kutukan apapun termasuk kutukan “mati tidak, hidup juga enggak”. Sebenarnya kalau kebencian saya hanya menimpa orang lain sih sebodo teuing (egois sekaleee…) tapi nyatanya kebencian selalu mengejar saya pada akhirnya atau malah dari awal hingga akhir. So… saya tak mau lagi membenci. Sebel dikit boleh lah… tapi sedikit pun hanya boleh sebentar saja. Atau kalaupun ada seseorang yang sedang membuat hidup resah dan sial selalu, baiknya berpikir positif “ya sudah, memang itu adalah kesialan dia yang menimpa kita juga”; biar kita nggak pusing-pusing amat mikirin susahnya hidup…

Jadi kalau boleh kusarankan, mencintalah tak perlu membenci biar tidak sial di Friday the 13th ini hi hi hi…

Tautan penting:


http://en.wikipedia.org/wiki/Friday_the_13th:_The_Series

http://en.wikipedia.org/wiki/Friday_the_13th

MENGGUGAT

MENGGUGAT

Berdiri

Di tengah khalayak

Pengadilan

Duhai

Aku menggugat

Atas sebuah keputusan

Ini aku terpuruk,

Katanya.

Cabut hukuman.

Hakim tersenyum.

Atau mungkin

Menahan tawa.

“Berapa?”

Kata wanita itu

“Aku tak ada harga untukmu duhai Hakim mata duitan!

Tak patut kau memutuskan karena kesepakatan.”

Hakim terhenyak.

“Hukuman dicabut.

Terdakwa tidak bersalah!”

Di bawah meja

Hakim membuang amplop

Setebal bantal.

Di kantornya

Segerombolan pasukan

Menunggu untuk segera menangkapnya.

Wanita itu

Tersenyum

Membawa segantang harapan

Dia hidup kembali…

Kramat, 5 Mei 2011 – 4:03 sore

KEMELEKATAN

KEMELEKATAN

(obrolan ringan tentang Bob kucing)

Beberapa orang merasa bahwa cintanya pada dunia tidak sebesar cintanya pada Tuhan. Mereka mengklaim diri bahwa mereka mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Saya meragukan diri saya dalam hal tersebut karena nyatanya memang tidak demikian yang saya alami.

Saya masih belum menikah tapi saya punya kemelekatan yang tak kalah lekat dibanding dengan kemelekatan antara dua pasangan atau anak dan ibunya atau anak dan bapaknya. Saya sangat lekat dengan kucing saya yang saya namai Bob. Kata kuncinya adalah sangat. Sangat adalah kata keterangan yang membuat kata sifat yang mengikutinya berlipat. Kemelekatan saya pada kucing saya berlipat beberapa kali dibanding dengan kemelekatan kepada kucing lain atau hal lain, tentunya kecuali orang-orang yang memang mendapatkan tempat istimewa yang sama dengan si Bob Kucing ini.

Saya tidak menyesal memiliki Bob. Tetapi kata kunci memiliki itulah yang membuat saya agak merasa bersalah. Seharusnya saya tidak pernah mendeklarasikan diri bahwa saya adalah pemilik kucing yang buat saya bagai guardian angel ini. Dengan memiliki Bob saya terbukti tidak siap meninggalkan dia atau ditinggalkan dia. Tiap saya akan dinas ke luar kota, saya selalu berharap saya tidak perlu menginap sehingga tidak perlu meninggalkan dia sendiri atau jikalau sore hingga petang sahabat saya Nining dengan telaten dan sabar menemani piaraan saya itu maka malamnya si meong mesti bobo di luar rumah dan menurut saya itu kurang menyenangkan.

Bob Kucing ini kucing lokal sehingga ada sementara orang yang menganggap saya berlebihan. Sebagian orang Indonesia menganggap bahwa hanya kucing ras-lah yang mesti disayangi dengan cara special seperti: membelikan makanan khusus feline (kucing) dan vitamin segala ubarampen (perlengkapan) kucing, mengobatkannya seperti manusia jika sakit, membiarkannya menikmati rumah seperti anak-anak atau ponakan-ponakan mengharu-biru rumah, menjaganya selayaknya menjaga diri kita… Tidak mengapa karena pendapat boleh berbeda.

Saya tidak sedikitpun merisaukan diri saya kecuali satu: bahwa saya dan Bob mulai saling terikat. Akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan saya baik secara fisik maupun batin. Kalau saya di rumah dia ngikut kemana pun saya bergerak bahkan kalau saya mandi dia nggeluntung (berbaring telungkup, Bahasa Jawa) di keset depan kamar mandi. Kalau saya sedang bekerja malam, dia nongkrong diatas tumpukan kertas atau kalau sedang kesal dia nangkring diatas laptop saya, kadang dia menggoda melompat ke atas TV dan menjatuhkan antene sambil mengeong manja. Kalau saya tidur dia biasanya akan melompat keatas selimut tebal saya: dia tidak pernah mau masuk ke bawah selimut dalam waktu lama karena mungkin merasa panas. Dan, masih banyak lagi kegiatan dia yang menunjukkan keakraban dan kenyamanan kami bersama.

Ada satu lagi: dia mulai bisa merasa tidak suka kalau saya tugas keluar kota dan menginap. Sehari sebelum saya berangkat dia sudah ngroweng (rewel, Bahasa Jawa), nempel-nempel ke kaki atau badan saya, meang-meong kesana-kemari, pura-pura sesak napas dan yang biasanya Cuma mau digendong dalam hitungan 3 – 5 detik jadi bertahan sampai satu menit dan sambil mendekur-dekur pula.

Kemelekatan pada kucing saya sungguh kadang membuat saya bertanya-tanya: pantas saja ada ibu yang akhirnya malas bekerja meninggalkan rumah lha wong ada yang nggondheli di rumah dan mengurus anak tentunya menyebabkan stress yang lebih rendah daripada harus berinteraksi dengan macetnya jalanan dan kompetisi dalam karir (bisa saja saya salah tapi paling tidak inilah kesimpulan saya melihat para ibu yang kadang nggak masuk kerja karena “nggak tega ninggal anak”).

Kemelekatan ini harus saya atasi karena kalau tidak membuat saya tidak produktif dan cenderung menuruti kemalasan. Tentunya Bob Kucing tahu bahwa dia disayang sehingga dia punya strategi untuk “tidak ditinggalkan” atau “tidak diabaikan” karena pa
sti kalau saya pergi orang lainlah yang mengurus dia yang notabene tidak se-rempong saya. Saya selalu memastikan bahwa air minum dia baru dan dari gallon atau direbus dulu (kadang dioplos dengan air hangat), vitamin juga selalu saya takar, makanan saya pastikan dihabiskan sesuai porsi, kaki-kaki saya lap dan dubur & alat vital saya lap, telinga dan gigi saya periksa, hidung saya bersihkan, cek bulu dan ekor dari kutu dan serangga, sering kali juga saya ajak ngobrol sekaligus saya ciumin hidungnya dan adu dahi ha ha ha…

Kemelekatan itu tidak boleh terjadi walau saya sangat menyayangi makhluk yang oleh tetangga sebelah saya dibiling “Halah, cuma kucing aja segitunya”. Bodo ammmmaaaat, kata saya tak kalah bangga ha ha ha…

Begitulah kemelekatan itu begitu besar sehingga pernah saya memimpikan Bob Kucing mati dan paginya saya menangis dan menggendong-gendong dia dan saya ciumi.

“Kamu jangan mati dulu ya, Bob… Paling tidak kau hidup 12 tahun bersamaku; tapi kau boleh mati sebelum aku, biar kau tetap ada yang mengurus…”

Kucingku tadi malam menemaniku mencuci. Dia meringkuk di atas keset kamar mandi sambil mengikuti gerakan saya mencuci. Sesekali dia meang-meong tiap saya panggil namanya. Pagi ini dia memanggil saya, minta keluar. Untungnya saya jug sedang ada acara keluar rumah, jadi kami berangkat bersama.

“Nanti malam pulang jam 7 ya, Bob…”

“Meooooong….” Entah apa artinya, yang pasti rasa sayang kami ada dan saya belajar membuang kemelekatan.

Lia Taruna – Tangerang – 4:12 sore

BERAPA TULISAN?

BERAPA TULISAN?

Berapa tulisan yang telah kau baca? Kata Bu Guru.

Mengapa dia menghitung tulisan?

Sedangkan ibuku sering bertanya “Berapa buku yang telah kau baca, Nak?”

Aku kesulitan

Kesulitan menjawabnya;

Kesulitan menghitungnya.

“Bu Guru, kalau berapa buku yang saya tlah baca saya bisa tahu. Kalau tulisan, saya tak mampu menyediakan jumlahnya.”

“Rasanya tak sulit kau menghitungnya. Katakan saja apa yang kau punya”.

Bu Guru kami sangat manis, jarang memaksa.

Namun hari itu beliau menjadi raksasa

Yang suka memangsa anak-anak yang ketakukannya nampak sangat.

Aku tersenyum kecut lalu menyelinap diantara bayangan teman-teman yang aman karena tak menerima giliran ditanya.

“Ayo… Jangan lama-lama menghitungnya. Bu Guru sudah tak punya banyak waktu. “Berapa kata yang pernah kau baca?”

“Sejuta, Bu,” teriak temanku.

“Semilyar, Bu,” teriak temanku yang lain tak kalah riangnya.

“Setrilyun, Bu,” teriak yang lain lagi tak kalah bangga.

“Lengkap, Bu,” teriak sisa penghuni kelas kecuali si kerdil aku.

Hingga kelas dibubarkan aku tak mampu.

Aku termangu,

Diantara sorak-sorai teman yang dapat memenuhi permintaan guru.

Aku curiga,

Jangan-jangan ini persekongkolan

Mempermalukan aku.

Bertahun kemudian setelah aku tua,

Ibu guru kami berpulang ke rahmatullah,

Aku masih sesekali menyelidiki

Menghitung berapa kata yang telah kubaca.

Sedikit ekonomi dan politik

Cerita pendek, setengah panjang dan bersambung.

Bergambar atau tidak,

Resep menggiurkan,

Humor segar yang kadang lebih serius daripada filsafat dan kewenangan berpikir.

Ini dan itu, bermanfaat atau hanya membunuh waktu.

Semua indah, hanya sedikit kegetiran.

Indah.

Sungguh indah.

Kemudian terdengar kata-kata ibu guruku “Sudah kau hitungkah tulisan yang telah kau baca, Nak?”

Berakhir sudah mimpi panjangku.

“Ampun, Ibu Guru. Hamba hanya membaca satu tulisan. Satu saja.

Dan itu telah cukup untuk selamanya.

Tulisan itu adalah sastra.

Tulisan yang indah.

Tulisan yang su.

Su adalah indah

Sastra adalah tulisan

Tulisan yang indah.

Terima kasih Bu Guru, telah memberikanku sebuah pertanyaan

Yang berhasil membuatku berpikir tak berkesudahan

Untuk sebuah kata:

Susastra.

Tangerang, 24 Maret 2011 jam 9:46 malam

TIDAK BISAKAH KAU TENANG

TIDAK BISAKAH KAU TENANG?

Ini masih berurusan dengan tetangga tepat sebelah rumah. Kali ini urusan makin ruwet. Si bunda menuduhku mempengaruhi pembantunya untuk pulang kampung dengan tujuan mengambilnya sebagai pembantu selepas keluar dari rumah tangganya. Tuduhan itu tidak langsung disampaikan kepada saya. Beliau (entah sengaja entah tidak; lagi-lagi) menyampaikannya melalui tukang sayur. Dasar tukang sayur tak berpendidikan ya langsung saja menyerang saya dengan tuduhan murahan itu.

Saya cuma berkata,”Mpok Salma, kalau saya mau pembantu saya nggak akan mengambil Mbak Asih karena dia malas dan kerjanya tidak rapi.” Sudah itu saja, titik. Setelah itu saya memilih tomat yang ranum-ranum lalu membayarnya dan pergi.

Tetangga nomor tiga sempat menyamperi saya dan berkata,”Mbak Rike, klarifikasi saja. Tolong jelaskan sebenarnya bagaimana.”

“Dik Nuning, saya tidak akan menjelaskan apa-apa karena ini sudah kedua kalinya beliau menyakiti saya dengan tuduhan tidak beralasan.”

Saya sekarang tahu bahwa mereka memang orang-orang yang tidak tenang. Seandainya mereka tenang pasti mereka tidak akan mempertanyakan kenapa saya sekian lama menyendiri dan hidup hanya dengan seekor kucing kampung yang biayanya melebihi biaya kucing ras peliharaan teman mereka.

Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana aku tetap tenang walau orang sekitarku tidak merasa tenang dengan keberadaanku. Apa salahku? Mengganggumu aku tidak. Bahkan sekarang berinteraksi denganmu aku kurangi. Apa lagi yang kau inginkan dari hidupku? Ketidaktenanganku? No way! You’ll never geit it!!!

Kau tidak akan bisa mengusikku sampai kapanpun.

Tangerang, 28 Maret 2011 – 9:35 malam

MBAK PECEL LELE GANG KERAMAT

MBAK PECEL LELE GANG KERAMAT

Tadinya sih saya nggak begitu “ngeh” kalau ada pecel lele uenak di tempat itu sampai suatu hari saya sudah tidak punya ide mau makan atau masak apa. Saya “terpaksa” beli pecel lele sebagai sebentuk pengkhianatan saya terhadap usaha makan sehat alias makan rebus-rebusan saja dengan tujuan supaya tidak terkena penyakit yang berhubungan dengan lemak dan protein tinggi. Sejak itu saya bolak-balik aja beli lele goreng, tentunya kalai sedang benar-benar kelaparan.

Bahwa dia dan keluarga (suami dan satu anak) mesti tidur di sebuah ruko satu petak, bahwa dia harus bangun subuh dan tidur jam 2 malam, bahwa dia harus bekerja keras untuk ketemu bulan, bahwa dia punya cita-cita membesarkan anaknya dengan jauh lebih baik, bahwa dll. Si Mbak ini orangnya ramah sehingga kalau sudah ngomongin cita-citanya sampai saya lupa kalau perut saya lapar. Telinga saya yang merasa kenyang atau tepatnya tergelitik ingin mendengar lebih tentang kehidupan yang tak terpikirkan dalam keadaan normal.

Kadang saya mengeluh kenapa rumah saya kecil, panas, tak berperabot lengkap, tanpa fasilitas premium; kendaraan hanya sekedar motor matic; baju tidak bermerk kecuali beberapa yang merk-nya pun tak bisa dipamerkan kepada orang lain karena sungkan (wong melarat kok wani tuku klambi larang – orang miskin kok berani beli baju mahal); hutang juga segulu (mencekik leher, Bahasa Jawa); dan keluhan-keluhan yang secepat kilat habis disapu curhatan Mbak Pecel Lele Gang Keramat.

Hidup ini tak adil.

Tapi terpaksa aku mesti mengatasi ketakadilan ini. Ketakadilan ini buka semata ketimpangan. Ini adalah sebentuk keseimbangan hidup yang mau tak mau harus ditanggung oleh kita semua. Belajar bijak, saya berani mengatakan bahwa jagat raya ini berisi ketimpangan yang berkelindan membentuk harmonisasi. Siapa yang akan menyewa ruko Mbak Pecel Lele kalau semua orang kaya? Siapa yang akan makan pecel lele gang Keramat kalau semua orang makan di restoran Ritz Carlton? Siapa yang mendengarkan kalau semua orang ingin bercerita? Tak akan ada yang memahami jika keseragaman dipaksakan.

Maka sekarang lebih baik melihat sesuatu dengan mata terbuka, tanpa kacamata kuda yang terkendali kacamata tanpa lensa. Jika harus bersyukur ya bersyukurlah. Jika ingin mengeluh, mengeluhlah dengan elegan.

Mengeluh dengan elegan?

Tidak semua kegusaran mesti disampaiakan. Kadang ada yang perlu ditelan mentah-mentah sebagai airmata. Kegelisahan yang perlu dikomunikasikan demi sebuah solusi bagi maslah baik berupa jalan keluar atau releasing (pelepasang emosi) boleh lah dibagi. Tak ada yang tak punya masalah tetapi tak semua orang merasa perlu masalahnya terselesaiakan. Dan tak semua masalah mau diselesaikan dengan penguraian; beberapa bahkan puas dengan diendapkan.

Mbak Pecel Lele Gang Keramat telah membuat saya menyadari bahwa yang kurasakan hanya dunia kecil yang belum ditautkan dengan dunia lain. Jadi kuucapkan terima kasih kepada Sang Waktu yang telah mempertemukan aku dengan rasa lezat lele goreng Gang Keramat sehingga kesadaran ini muncul dan membuatku makin tenang dan terang benderang.

Salaam,

Rike

Penggilingan – Cakung

4 Juni 2010 – 2:36

LORO BLONYO

loro blonyo

loro blonyo

dua sejoli

berdandan gaya jawa

bertengger di rak pajangan rumah belanda.

loro blonyo

dua sejoli

asal pulau jawa

dibeli oleh mister dan mistress bardot di pulau bali.

loro blonyo

dua sejoli

awalnya duduk anteng

sekarang bisa menggeliat sambil menari.

loro blonyo

dua sejoli

warna sogan pliturnya

bergeser oleh prisma berwarna-warni.

loro blonyo

dua sejoli

pajangan keramat

menyebar kemanapun pemiliknya pergi.

loro bloyo

dua sejoli

gelungan dan blangkon

bertelanjang kepala dan rambut terurai.

lor bloyo

dua sejoli

lambang kebersamaan

menjadi pameran peradaban di masa kini.

loro blonyo

dua sejoli

kayu berukir

yang terganti material: gips, logam, kain blacu atau kertas.

loro blonyo

dua sejoli

tetap berdua

entah terbuat dari apa

entah untuk siapa

entah dimana

entah kapan

entah yang mana

entah bagaimana

tetap loro blonyo

berdua

selamanya

setia.

loro blonyo: dua sejoli

pinang, 24 maret 2011 – 21:05 wib

DI KEJAUHAN

DI KEJAUHAN

Terlihat engkau bermain

Di kejauhan,

Tak peduli pada senja yang tiba bersama masa.

Di kejauhan aku menyapa angin

Yang membawa serta berita gembira

Mereka bahagia…

Mana semburat awan itu:

Yang mengguratkan kesempurnaan cinta,

Yang mengabadikan senyuman di cakrawala?

Kasih adalah ragam bahasa

Yang dinikmati semua orang

Di kejauhan…

Semua terasa indah

Di kejauhan…

Semakin dekat semakin hakikat itu tiada yang dapat dinikmati kecuali ketiadaan.

Benar-benar ketiadaan.

Engkau bermain

Di kejauhan

Memamerkan masa muda dan keceriaan,

Mengundangku untuk bercapai-capai menggapai bulan—

Oh sahabat… jangan paksa aku, bulan indah di kejauhan

Jika berdekatan bulan tak lagi cantik.

Maka bawalah aku ke keindahan yang seindah ketika dia di kejauhan.

Jarak dan tak ada jarak menjadi masalah

Karena ternyata keindahan lebih indah ketika

Di kejauhan…

Pinang, 20 Maret 2011 – 11:15 malam

BERTARUH

BERTARUH

(pemaknaan pencarian oleh seorang yang sedang silau oleh kebenaran)

Berjudi adalah pengibaratan hidup yang dipakai oleh orang yang suka berspekulasi. Tidak salah, bisa jadi juga tidak benar karena sesungguhnya sudut pandang manusia dimaklumi perbedaannya. Sekali dipakai gardu pandang manusia tidak menjadi sebuah tempat tinggal: boleh saja berubah sewaktu-waktu. Jika sekarang ingin sbertaruh, besok ingin bertapa tidak menjadikannya tidak bermakna karena hidup tetap punya makna seburuk apapun kondisi kehidupan seseorang.

Seorang tetangga membuat saya tak habis pikir kenapa saya begitu egois memandang privasi saya.

Seorang wanita dengan seorang suami yang penghasilannya jauh lebih kecil bisa saja menjadi sangat emosional dan dominant dalam rumah tangganya dan itu belum pernah saya alami maka itu beberapa saat yang lalu saya pernah mengutuk kenapa wanita itu mau menikah dengna lelaki itu kalau akhirnya dia marah-marah terus pad suaminya.

Anak-anak yang dinilai lucu dan pintar oleh tetangga ternyata bisa membuat ontran-ontran (huru-hara, Bahasa Jawa) di rumah sendiri. Dan itu baru saya sadari ketika saya harus bertahan menghadapi anak-anak tetangga yang awalnya lucu tetapi menjadi agak menyebalkan setelah mereka berani buka-buka kulkas dan mengambil apapun yang mereka suka tanpa minta ijin kecuali ketahuan oleh saya.

Pembantu yang menurut saya penurut dan malang telah menjadi sebuah boomerang berat dan menyakitkan setelah ternyata selama ini sang pembantu dianggap telah “mengurangi jatah keuangan” sebuah keluarga. Kemudian terdengarlah selentingan bahwa perbudakan mungkin masih bisa dihargai oleh orang tertentu. Baru kemudian saya sadar bahwa akhir-akhir ini saya memilih mencuci baju-baju saya sendiri daripada mengirimkannya ke laundry kiloan; tujuan awal bukan untuk mandiri tetapi untuk mengurangi pengeluaran.

Hidup ini sangat berharga sehingga jika dipertaruhkan akan sangat besar harganya; terutama jika petaruh memenangkan perjudian pribadinya.

Saya tidak akan mempertaruhkan sesuatu karena saya bukan orang yang visioner mampu melihat kemenangan atau kekalahan di depan sana. Saya juga tak akan mendiamkan hidup saya tanpa saya “jual” karena ternyata hidup saya sungguh terlalu berwarna hanya untuk dinikmati apa adanya.

Pertaruhan saya mulai. Kugadaikan kepercayaanku kepada pemilik semesta alam yang sesungguhnya karena aku ingin mendapatkan kemenangan yang tak pernah terbantahkan keniscayaannya. Tapi aku tidak akan membiarkan pemilik alam semesta ini mengatur sendiri permainannya.

Hidup ini indah. Hidup ini judi. Hidup ini patut dinikmati dengan atau tanpa harapan. Karena akhirnya adalah disini juga, tempat yang tak terbantahkan untuk memulai dan mengakhiri.

Salam,

Rike

Tangerang – 20 maret, 2011 – 3:26 sore

MENJADI TETANGGA YANG MENDAMAIKAN

MENJADI TETANGGA YANG MENDAMAIKAN

Tak terasa sudah setahun lebih saya menempati rumah mungil ini. Rasanya jauh lebih lega walaupun secara fisik jauh dibawah dibanding rumah-rumah kost saya yang lalu.

Sebuah cluster mungil (karena hanya terdiri dari enam rumah) menjadi oase bagiku kapanpun aku membutuhkan ketenangan. Rumah kecil dengan perabot minim ini tidak pernah mengecewakanku walaupun sedang mati lampu sekalipun (karena keselnya diterima oleh PLN). Hanya kadang saya merasa kok rumah ini jauh sekali dari “kantor” yang saya datangi. Dan, satu lagi yang menjadi satu-satunya gangguan yang tidak bisa saya atasi sendiri: tetangga yang kurang mendamaikan.

Status “belum menikah” sebuah name-tag yang membuat hati saya serasa tidak di rumah padahal rumah saya tetap di hati. Maaf ya Saudaraku, ini tidak berarti status ini membuat saya minder atau tidak damai lho… Silakan simak ceritanya.

Tetangga sebelah adalah sepasang suami istri muda dengan dua orang putra yang lucu-lucu masing-masing berusia enam dan tiga tahun. Ada seorang pembantu rumah tangga yang kedekatannya dengan anak-anak itu melebihi kedekatan mereka dengan ibunya.

Sebagai tetangga yang baik saya berusaha ramah, menjawab jika disapa dahulu atau menyapa terlebih dahulu. Tetapi ada yang tidak biasa pada sang istri tetangga ini. Senyum sang wanitanya tidak pernah benar-benar saya baca artinya. Awalnya setitik pikiran buruk, lalu berkembang menjadi noda kecurigaan dan bola hitam yang akhirnya benar-benar membutuhkan kreativitas untuk menjadikan kotoran itu hiasan baju saya.

Menurut celotehan sang pembantu yang tiba-tiba saja disuguhkan padahal saya baru saja pulang kantor – entah diminta oleh sang majikan atau atas inisiatif sendiri – sang bunda (majikan perempuan) tidak suka pada saya karena saya tidak segera menikah sehingga punya potensi mengganggu hubungan suami istri yang ada di rumah kedua sampai keenam; rumah saya nomer satu. Oh??? Sinting ini bahan gossip. Kalau sudah jadi gossip bisa kalah ceritera para selebritas Indonesia. Saya versus enam orang lelaki beristri!

“Emang tante mau sampai kapan status lajangnya?” Itu pertanyaan si Asih, pembantu Bapak dan Ibu Syarifuddin.

Apa gerangan yang membuat ibu yang secara fisik jauh lebih menarik daripada saya ini tak gentar mengarang ketakutan terhadap wanita lajang macam saya? Istri-istri di rumah nomor 3, 4, 5 dan 6 tidak pernah menawarkan “dagangan” semacam itu kepada saya. Menanyakan kapan menikah adalah suatu hal yang wajar bagi saya tetapi menciptakan ketakutan kepada wanita lajang karena potensi menggoda ketentraman rumah tangga adalah sakit jiwa entah nomor berapa jika kita meminjam istilah gila Andrea Hirata.

Kecil tetapi menyakitkan, semacam tlusup (serat kayu renik yang masuk ke kulit) di telapak tangan, wanita macam bunda ini perlu belajar dan memperhatikan sebelum menunjuk hidung tetangga. Apakah potensi itu datang dari sang suami atau sang wanita? Atau keduanya atau tidak ada sama sekali kecuali dalam khayalannya.

Padahal selama ini suaminya hanya sekedar ramah menyapa saya seperti juga para suami-suami tetangga menyapa saya.

“Bu/Tante/Mbak Rike, kemarin seminggu dinaas dimana kok Mbak Nining yang nginep dengan suaminya?”

“Wah, emaknya Bob ini jalan-jalan melulu. Jangan lupa oleh-oleh untuk kami ya….”

Apakah sapaan diatas jika ditanggapai dengan keramahan wajar berbahaya? Sungguh sinting ini perempuan muda.

Tahukah Anda? Sekarang saya tidak lagi menyambut ramah anak-anak keluarga Syarifuddin yang ingin memberi makan kucing saya, si Bob atau membuka-buka kulkas mencari sisa-sisa coklat atau kue cucur. Tidak lagi saya bersuka-cita menawarkan oleh-oleh jika saya membawanya dari dinas luar kota – bocoran sedikit: bunda ini terkenal paling pelit he he he… (Jangan harap wadah kita dikembalikan dengan isi; tidak seperti ibu-ibu yang lain yang saling membagi masakan bagaimanapun rasa dan sedikitnya). Saya juga tidak segan-segan menegur sang pembantu untuk tidak lagi memetik daun jeruk purut di halaman saya. Tidak pula saya berniat menyapa mereka jika mereka tidak menyapa saya. Terutama ketika tiba-tiba tadi malam ketika saya sedang duduk di pelataran rumah saya menkmati kuntum Wiajayakusuma yang siap mekar…

“Ngapain diluar?” sapa si bunda dengan sinis. Rupanya tanpa saya sadari ada suami dia yang sedang ngobrol dengan pak guru yang tinggal di rumah nomor 3 beberapa meter dari rumah mereka.

Dalam hati saya berkata “Lho… ini kan rumah gue… Gue mau duduk di halaman kek, di ruang tamu kek, di kamar kek… asal nggak ngegangguin elo mau apa loooo???”

Sekedar dalam hati karena dia bukan orang yang perlu saya jawab. Tetangga yang tidak mendamaikan tidak akan saya jadikan prioritas dalam pergaulan saya. Masih ada tetangga nomor 3 hingga 6 dan tetangga-tetangga diluar pagar yang jauh lebih menyayangi saya tanpa curiga.

Diluar pagar Mpok Salma berteriak,”Rike… Ini sayur asemnya. Mangkoknya balikin isi yak ha ha ha ha…”

Marilah menjadi tetangga yang mendamaikan hati satu sama lain.

Pinang, 5 Maret 2011 – 3:18 sore

SAYUR ASEM A LA RIKE

Description:
eunak seger…

Ingredients:
Komposisi sayuran:
– kacang panjang
– kacang tanah dengan kulit dicuci bersih
– daun so
– buah melinjo muda
– wortel
– papaya muda
– labu Siam
– jagung muda (boleh diserut boleh dengan tongkol)

Bumbu yang dihaluskan:
– bawang merah
– bawang putih
– satu atau dua cabe untuk memberi nuansa pedas
– kemiri 1 biji

Tidak dihaluskan (dikeprak/diremas saja)
– lengkuas
– asam Jawa muda
– daun salam satu (jika suka)

Directions:
Cara memasak
– Rebus air bersama jagung dan kacang tanah berkulit.
– Jika air telah mendidih, masukkan buah melinjo muda, asam dan lengkuas.
– Tak lama kemudian masukkan bumbu yang telah dihaluskan.
– Jika sudah matang jagung dan kacang tanahnya, masukkan wortel, papaya, labu Siam.
– Menjelang semua matang, masukkan daun so.
– Sajikan.

CUKUR TERMAHAL

CUKUR TERMAHAL

Rambut tidak rapi adalah trademark terakhir yang selalu muncul di cermin ketika saya ngaca. Bukan karena saya jelek lho… J Hanya potongan rambut saya saja yang tidak bagus lantaran saya cekrik (gunting, bahasa Jawa) sendiri ketika saya migraine berat dan tidak mau mengonsumsi obat pabrik pada malam itu.

Tidak ada satu pun salon yang ingin saya kunjungi karena saya tidak mau rambut ini makin jelek sehingga tampilan menyeluruh makin amburadul. Maka biarkan saja, apa adanya alias tak bermodel.

Seminggu yang lalu saya mengunjungi seorang kerabat di Semarang sebagai bonus akhir pekan tugas lapangan. Mbak Yayuk, sepupu ipar bagi saya, membuka salon tetapi beberapa tahun ini dia hanya sibuk melayani paes manten (riasan pengantin, Bahasa Jawa) jadi alat-alat yang berhubungan dengan urusan rambut tidak terlalu menjadi perhatiannya.

“Mbak Yuk, potongin rambutku dong. Ini nggak rapi soale tak potong dhewe.”

“Lhah aku udah lama ndhak motong rambut lho, wuk piye?”

“Gak papa lah… asal nggak brondhol wae.”

“Yo wis, bismillah wae yo..”

Akhirnya setelah satu jaman (jaman batu apa jaman es ya?) lebih kepala saya dikerjain Mbak Yayuk, terciptalah sebuah kepala yang kalau dari jauh mirip Conny Dio tapi kalau dari dekat mirip Detective Conan. Kata yang motong rambut saya jadi kelihatan lebih segar dan cantik.

“Coba kalau kamu ndhak main kesini, kamu pasti masih berantakan to yo wuk? Arep nyalon wae kok ndadak ngenteni tekan Semarang…,” candanya.

Silaturahmi membawa berkah. Tapi jelas ini cukur rambut termahal buat saya. Matur nuwun, Mbak Yayuk atas cukurannya… Matur nuwun, kantorku atas tiket gratisnya…

Bandara Ahmad Yani, Semarang

21 Januari 2011 – 5:00 sore