SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

Selepas nonton Seven Pounds yang dibintangi oleh Will Smith saya melamun tentang keputusasaan, ketakbergunaan, cinta dan penyesalan. Rasa cinta yang besar membuat Tim (pemeran utama oleh Will Smith) menyesali diri akibat kecelakaan karena kekhilafannya sehingga nyawa istrinya terenggut. Penyesalan yang mendalam tumbuh menjadi rasa bersalah, keputusasaan dan perasaan tak berguna sebagai seorang manusia.

Saya nangis selama menonton karena film-nya memang menggerogoti kesadaran akan rasa tak berguna yang mungkin saja hadir pada manusia entah dalam waktu lama maupun sesaat.

Seberapa banyak waktu yang kita lewatkan untuk orang-orang yang kita cintai sebelum segalanya tak tertolong lantaran sebuah kata sederhana: terlambat.

Tak ada orang yang lebih menyesal karena terlambat kecuali mereka yang pernah terlambat. Saya termasuk salah seorang diantaranya. Saya menyesal karena terlambat melakukan banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan jauh hari sebelum sekarang. Tak ada satu kata pun yang dapat dilakukan kecuali berandai-andai untuk menghentikan penyesalan saya. Tapi ada sebuah resep mujarab yang sedang saya terapkan pada diri sebagai pengganti aksi berandai-andai; sadar bahwa berandai-andai juga tak baik hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah berandai-andai.

Mungkin perlu memaksa diri untuk melakukan segalanya dengan kesadaran. Kesadaran terhadap mengapa saya melakukan sesuatu dan kesadaran untuk apa saya melakukannya. Mengapa saya harus tidur tepat waktunya adalah karena tubuh saya perlu beristirahat sesuai porsi. Dan untuk apa; supaya dia siap untuk melanjutkan kehidupannya.

Tim berpikir bahwa 7 detik kelalaiannya (baca message di PDA saat nyetir) yang berujung kematian istrinya dapat dia tebus dengan menemukan 7 manusia baik dan membagikan karunia tubuh saat tubuhnya mati nanti. Pada Ben (saudara lelakinya) dia berikan sebelah paru-parunya, pada Holly dia donorkan hati kanannya, pada seorang pelatih hockey dia berikan satu ginjalnya, pada seorang anak kecil dia donorkan sumsum tulang belakangnya, pada Connie dia hibahkan seluruh hartanya, pada Ezra dia berikan matanya dan puncaknya pada Emily (pada siapa dia jatuh cinta selanjutnya) dia berikan jantungnya. Tapi sayangnya dia menyiksa tubuhnya dengan jalan bunuh diri supaya 2 orang terakhir itu dapat menerima organ tubuhnya. Mengapa dia melakukan itu dan untuk apa, saya mengerti tapi tak masuk di akal saya.

Selanjutnya apakah kita mesti menguji bahwa orang-orang yang berhak kita bagi karunia adalah orang-orang baik seperti yang dilakukan Tim, lagi-lagi saya tak tahu. Yang membuat saya terkesan adalah bahwa Tim melakukan penyelidikan terhadap pribadi-pribadi tersebut sendiri dan pada saat yang bersamaan rasa sakit akan kehilangan orang yang dicintainya tumbuh makin besar. Jika saya Tim maka saya hanya akan menyesal terus dan makan sebanyak mungkin dan marah pada keadaan tanpa merasa perlu meninggalkan kebajikan untuk orang-orang yang hidup di sekitar saya. Mungkin saya akan merusak diri dan memperburuk keadaan dengan jalan tak mengindahkan apapun yang seharusnya saya perhatikan. Saya hanya akan merutuk kenapa terlambat melakukan ini atau itu tanpa berusaha merelakan bahwa ada kemuliaan lain yang bisa menebus segala bentuk keterlambatan itu.

Saya merenungi Seven Pounds sambil juga bertanya-tanya mengapa ada orang rela mati lalu memberikan apa-apa yang bisa dia berikan kepada orang lain untuk menebus kesalahan yang dia lakukan kepada orang yang lain lagi.

Saya masih bertanya-tanya bisakah saya serela Tim yang menderita untuk kebahagiaan orang lain. Kalau cinta Tim pada almarhum istrinya cukup membuatnya menjadi martyr bagi 7 nama, cinta apa yang mampu membuat saya rela menderita lahir batin seperti itu?

Dedicated to Tim in Seven Pounds dan para martyr yang telah menemukan
cinta sejatinya

March 9, 2009 – 9:32pm

KAOS KELAS

KAOS KELAS

Seragam

Semua orang akrab dengan kata itu. Tapi berapa orang yang benar-benar sadar bahwa kata itu telah menjadi sebuah sikap hidup untuk sebagian orang. Tak yakin? Mari kita periksa apakah kita ini penganut sikap seragam atau penganut paham tak seragam.

Siapa diantara Anda yang dulu sekolah (TK, SD, SMP, SMA bahkan kuliah) tak memakai seragam. Saya haqqul yaqin orang-orang angkatan saya mengatakan “aku seragaman rek”. Bahkan saya masih inget sepupu saya sekolah di sebuah es em a yang merekomendasikan tas sekolah seragam yang bertuliskan nama es em a-nya. Saya juga memakai seragam saat lomba paduan suara padahal apa urgensinya seragam jika ternyata suara yang dipadu begitu memukau sehingga harusnya menang – para juri paduan suara tutuplah matamu dan dengarkan keindahan suara kami. Saya juga inget di kelas mesti bersikap seragam, belajarlah dengan cara yang saya pakai karena kalau gak ya gak bakal sukses. Saya juga latihan menari memakai sampur (selendang) seragam – semua sampur bermotif jumputan, kalau beda gak enak ati. Belum lagi waktu kuliah ada rekomendasi jas almamater, seragam lagi deh. Ada keikhlasan, kadang kebanggaan tapi di sisi yang tersembunyi ada beban yang membuat saya harus begini dan begitu karena saya berseragam tersebut.

Seragam adalah identitas suatu kelompok. Jas biru gambar Dewa Wisnu nyengklak Garuda adalah jas Universitas Airlangga, jas kuning dengan lambang tertentu punyanya UI, loreng-loreng itu tentara, putih abu-abu anak es em a, jilbab hitam bercadar kemungkinan muslimah salafi, muslimah HT pakai gamis (tidak berlaku sebaliknya secara mutlak), orang NU lelaki sholatnya kalau gak sarungan gak NU, kalau antingnya di hidung artinya kaum punk ingusan, kalau antingnya di lidah anak punk suka pedes, seragam korpri, seragam ini, seragam itu. Itu yang kelihatan mata, belum lagi yang berupa sikap.

Kalau gak seragam maka Anda dianggap tidak tercakup dalam komunitas tersebut atau minimal mbalelo alias renegade. Dan tahu tidak rasanya menjadi kaum melenceng? Merasa terbuang. Jika kuat, dia akan bertahan. Jika tak kuat akan mati atau pindah ke seragam lain – ironis.

Ada sebuah seragam yang membuat saya merasa tak dipaksa berseragam. Namanya kaos kelas. Dua kali punya kaos kelas. Kelas satu es em a: 1-3 dan kelas Fisika-2. Saya ingat sekali seluruh penghuni didaulat untuk membuat desain, sempat ndak sempat nggawea design ya cah ben adil (sempat nggak sempat harus bikin design supaya adil). Kami semua bersemangat karena kami sadar tak ada satu pihak pun yang ingin mendominasi terciptanya kaos kelas tersebut.

Rapat kelas yang kacau balau akhirnya berakhir dengan kemenangan kesepakatan tanpa keterpaksaan dan memilih salah satu dari kami yang paling tahu tentang perkaosan untuk bikin kaos dan bendahara kelas harus nombok demi terakomodirnya ketersediaan kaos sesuai jumlah anggota keluarga. Gak ada yang gak kebagian. Ndak usah sumelang kabeh oleh kaos tapi aja lali mbayare cah (Jangan khawatir semua dapat kaos tapi jangan lpa bayarnya ya teman).

Dalam sebuah sistem yang telah diseragamkan apakah kita boleh membuat pilihan untuk berbeda? Yes, of course. Saya memilih sebuah komunitas kecil yang membuat kemerdekaan saya bertahan lebih lama tanpa harus imun terhadap keseragaman yang mengikat. Saya punya kaos kelas di sekolah saya, saya punya kaos kelas di di luar kampus dan dipakai ketika mengabdi pada masyarakat. Saya punya kaos kelas di kantor lama saya. Saya punya kaos kelas di keluarga saya. Saya punya kaos kelas di masyarakat yang sibuk mau centrang partai mana. Bahkan diluar kelas sya dulu, saya punya kaos kelas. Saya juga punya kaos kelas yang jumlahnya Cuma satu yaitu yang saya pakai sendirian! Saya punya kaos kelas dimanapun saya perlu kemerdekaan!!!

Jika Anda butuh kemerdekaan di dunia yang tak pernah luput dari keseragaman yang mengikat dan kadang mengungkung ini, sebagian manusia mema
ng perlu berpikir tentang membuat KASO KELAS.

Mengenang kaos kelas 1-3 dan Fisika-2 SMA 1 Tulungagung.

March 7, 2009 – 9:28pm

PAUS MENGUNGSI

PAUS MENGUNGSI

Para penduduk Kampung Terumbu Karang mengambang megap-megap. Dipaksa berjemur di bangkai kapal tanker minyak yang meledak semalam…

Seekor paus jantan oleng, lelah badan dan jiwa memandangi kekasihnya tergores-gores pasir meninggalkan tepian mencapai lautan…

Manusia di bawah nyiur bersorak-sorai menjinjing tali, parang dan keranjang: dibawah atap wanitanya menumbuk merica, kunyit bumbu seafood…

Anak-anak nelayan menjerit kegirangan. Paus mendendangkan nada-nada duka menghela kekasihnya ke tengah samudera…

Sepasang paus mendengus, menyelam, menguras isi kantung napasnya, menyemburkan minyak yang mengotori daging dan jiwanya…

Kapal raksasa membisu menunggu jadwal evakuasi. Di tepian masih juga riuh, manusia luput menangkap paus raksasa, menyeret lusinan lumba-lumba…

Sebagai monumen bagi cintaku dan perairan dunia

January 23, 2009 – 7.06pm

MERASA SYUKUR

MERASA BERUNTUNG

Tak ubahnya angin malam, aku menghembuskan hawa pada kegelapan yang menggeletar menanti fajar. Tapi ada kalanya angin malam mengilukan tulang belulang tua yang reot dan rapuh menjelang senja.

Tapi aku merasa beruntung mengenalmu dalam keadaan buta. Aku meraih tanganmu yang lembut dalam keadaan mati rasa. Aku mencium wangimu pada saat hidungku tersumbat. Aku menjilatmu dengan kelunya lidah. Merasakan kehadiranmu dalam kehampaan.

Inderaku ambil cuti justru ketika mengenalmu.

Aku seperti manusia menang lotre trilyunan rupiah padahal hanya butuh seringgit uang untuk hidup selama hidupnya.

Merasa beruntung bukan lagi merasakan kanugrahan yang besarnya tertakar oleh mata yang terbelalak, mulut yang terperangah, hidung yang mendengus bernafsu, hati yang berdebar, pori-pori yang bergetar. Keberuntungan semata kedamaian indera yang sedang libur mencobai desiran hawa…

February 14, 2009 — 1.02am

IDENTITAS WANITA

IDENTITAS IMPIAN SAYA SEBAGAI WANITA

Ngobrol dengan seorang teman membuat saya makin menyadari bahwa kehilangan diri sendiri adalah kehilangan terbesar bagi manusia yang merdeka.

Kehilangan diri sendiri? Ungkapan apa lagi ini?

Saya mengenal seorang wanita. Saya belum pernah bertemu langsung karena memang saya mengenalnya dari postingan-postingan beliau di Multiply ini. Saya mereka-reka sendiri stgatus beliau ini dan berkesimpulanlah saya bahwa wanita ini seusia saya, pendatang dari “Jawa”, ceria dan mandiri; dan yang terpenting adalah bahwa dia wanita single.

Ternyata saya benar kecuali tentang satu hal: bahwa dia lajang. Wanita ini seorang ibu bagi tiga orang anak yang lucu-lucu dan pasti sangat potensial untuk membuat orang tuanya selalu bahagia dan bangga. Anake ki jan lucu-lucu poool….

Apa yang membuat saya menyimpulkan bahwa beliau single?

Bukan semata-mata bahwa penampilan beliau sangat ngenomi (bahasa Jawa: kelihatan/terkesan muda). Bukan! Tetapi lebih karena curhat dan tulisan beliau yang jika saya selami lebih seperti ide dan opini seorang wanita yang tidak mewakili siapapun di belakangnya.

Wanita ini begitu independen. Beliau tidak pernah (paling tidak belum pernah sampai saat ini) mengatasnamakan pengalamannya sebagai seorang ibu untuk mengomentari sesuatu. Beliau juga belum pernah membuat postingan tentang putra-putrinya seperti yang biasanya dilakukan oleh (maaf kalau istilah berikut kurang berkenan) emak-emak yang biasanya ngomongin anak-anaknya he he he…

Begitu saya sempat mendapat kesempatan berbincang dengan beliau, saya terkesima dengan hasil “wawancanda” saya. Beliau begitu lugas dan merdeka menyuarakan opini dan idenya tentang bagaimana menjalani hidupnya sebagai wanita yang merangkap status istri, ibu, karyawan dan sebagai seorang makhluk individu.

Saya segera menyuarakan kejujuran saya bahwa kalau kelak saya menjadi seorang istri dan ibu, saya tetap memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menulis seperti ketika saya masih lajang. Saya berharap bahwa tugas saya sebagai seorang istri tidak membuat saya kehilangan identitas saya sebagai seorang pribadi. Saya ingin tetap dipanggil Rike walaupun nama belakang saya sudah bukan nama bapak saya. Saya tidak mau dipanggil – misalnya – Mama Loren hanya karena nama anak saya Loren atau dipanggil – misalnya – Ummu Hafiz karena nama anak saya Hafiz.

Saya ingin tetap mempertahankan saya sebagai seorang pribadi yang tak terlalu risau dengan hadirnya anak-anak saya sehingga saya harus selalu mengatasnamakan mereka dalam berbuat. Saya akan tetap menimang mereka tanpa harus khawatir orang-orang tidak tahu bahwa saya menimang mereka. Saya akan tetap menampilkan saya sebagai pribadi tanpa takut terhadap komentar “Halah, ABG” atau “Kayak masih lajang aja” atau “Kok nggak keibuan gitu sih”. Biar… Saya akan menjadi modified Rike tanpa kehilangan jati diri saya.

Kalau saya harus bisa menjaga privasi pasangan saya asalkan dia tidak mengabaikan dan menduakan saya, mengapa dia tidak? Kalau saya memberikan kebebasan yang bertanggung jawab terhadap anak-anak saya, mengapa mereka tidak memberikan kebebasan yang bertanggungjawab terhadap saya tanpa menghargai status saya ibu mereka?

Saya jadi ingat kata-kata seorang wanita yang “tiba-tiba” harus menjadi ibu setelah hanya selama 12 bulan sempat menjadi istri seorang lelaki.

“Rike, kamu nikmati sebaik-baiknya masa lajang kamu. Ambil hikmah bahwa belum menikahnya kamu adalah sebuah tenggang yang diberikan supaya kamu bisa berbuat lebih banyak. Perkuat karakter supaya kamu nggak menyesal nanti. Aku merasa waktu dan perhatianku tersedot oleh keberadaan suami dan anakku. Bukannya aku tidak bahagia; aku hanya merasa ba
hwa ketika masih single aku kurang mengembangkan diri sehingga sekarang aku nggak punya identitas sendiri. Aku harus menjadi Mama Rama atau Nyonya Yusuf dan dikenal sebagai Meutia hanya ketika di kantor. Bahkan mamaku sendiri mengenalku sebagai istrinya Mas Yusuf atau mamanya Rama bukan lagi sebagai anak yang pengen dimanja juga. Sebel ihhh… Petik pelajaran dariku ya, Rike sayang,” kata Meutia, sahabat saya.

Malam Minggu ini sungguh mengesankan buat saya. Mungkin saya tidak bisa mengungkapkan ide tentang identitas ini dengan baik kepada Anda sekalian tapi saya harap Sahabat sekalian tidak berpikiran bahwa saya menganggap ibu yang bangga terhadap putra-putrinya sebagai wanita tanpa identitas. Bukan itu. Saya hanya ingin tetap menyadarai bahwa Rike selalu ada diantara kehebohan dunia keluarga yang akan menghiasinya.

Hidup ini penuh dengan jalan untuk mengekspresikan keberadaan diri masing-masing. Saya menghargai semua Sahabat yang membuat saya tak berhenti bersyukur dengan segala kekurangan yang saya pahami.

Terima kasih, Mbak Dewi…

Catatan: Nama yang digaris-bawah adalah nama samaran.

January 24, 2009 – 1,03am

SAKIT GIGI

GIGIKU SAYANG, GIGIKU GOYANG

Aku sakit gigi

Gigiku sedang mengerang

Biar kompak, aku ikut mengerang

Dan kekompakan itu

Justru menambah beban derita:

Sudah gigiku cenut-cenut, hatiku keriput seperti kacang kisut.

Wahai, gigiku sayang

Sabarlah engkau

Aku juga akan sabar

Makanya aku sekarang pasang koyo Cap Cabe

Biar panasnya memijitimu dari luar dinding rongga mulutku.

Ok, ggiku

Kalau kau tak juga membaik

Terpaksa

Sekali lagi, terpaksa

Aku mengunjunginya

Siapa lagi kalau bukan

Seorang dokter gigi cantik, anggun, cerdas

Tapi kejam dan hobi mengobok-obok mulutku!!!

Duh, Gusti…

Matur nuwun atas sakit giginya

Saya bisa membuat puisi karenanya.

January 23, 2009 – 11:19pm

PIDATO OBAMA DAN TEBAKAN SAYA

PIDATO OBAMA DAN TEBAKAN SAYA

(diiringi senyum tanpa ekspresi)

Saya pernah berharap Obama akan memasukkan secara spesifik tentang konflik Israel-Palestina ke dalam pidatonya namun saya pernah menebak bahwa Obama tidak akan memasukkan “Israel-Palestina” dalam pidato kepresidenan pertamanya.

Terjawab sudah apa yang saya lihat dari balik kacamata gelap saya. Saya tidak sedang bersikap sinis. Saya hanya berusaha mencoba realistis bahwa seorang presiden Amerika Serikat, sehebat dan seobjektif apapun dia, dia akan mengedepankan kepentingan bangsa dan negaranya: kepentingan ipoleksosbudhankamnas Amerika Serikat.

Jika ada sebagian orang luar Amerika Serikat yang berharap begitu besar bahwa naiknya Barack Hussein Obama sebagai presiden kulit hitam kesekian Amerika Serikat akan membawa angin segar untuk konflik Timur Tengah (baca: Israel versus Palestina) itu hak mereka, namun segeralah tahu bahkan Obama pun tidak menyinggungnya sama sekali di dalam pidatonya.

Konflik Israel dan Palestina adalah sebuah isu politik terbesar saat ini dan AS mau tidak mau adalah salah satu aktor yang perannya tidak kecil. Eeeeh… ternyata ndak disinggung. Lha gimana dong, Mas Obama? Kenapa gak nyapa Israel “Eh, Israel, temenku, ojo nakal-nakal karo tetanggamu yooo… Ora apik… Ora sopan… Mbok ayo ciptakan perdamaian bersama-sama. Mesakake wong sing ora ngerti kuwi lho…”.

Tapi yang aneh, kenapa disebut-sebut kata Afghanistan. Ayolaaah… Obama, gak usah perang-perangan. Gak usah merasa diri Anda sebagai bangsa paling edan di dunia ini. Dan kenapa Anda berteriak “for those who blah blah blah, we will defeat you!!!” Walah, Mas Obama… sampeyan ini lho kok gaya tenan… Sampeyan bukan Gusti Allah, kok mau defeat bangsa lain yang menurut pemerintahan Anda “nakal”. Sampeyan masih mau jadi pulisi ndunya (polisi dunia) tah?

Ingat lho ya… sampeyan bilang “honesty, hard work, courage, blah blah blah… and those are TRUE” jadi nanti kalau ternyata sampeyan gak jujur dll, sampeyan akan kualat. Saya tidak mengutuk Obama, saya cuma mengingatkan diri sendiri dengan “gaya karambol” dengan target diri saya sendiri. Pletak! Wadaw!

Oke, saya tidak punya kepentingan apa-apa selain bahwa apapun alasannya perang harus diakhiri. Musuh terbesar adalah kemarahan dalam diri kita yang berkobar tak kenal waktu hingga akhirnya gelombang kegelisahan dalam diri ini menenang.

Saya juga tidak sedang membenci Obama dan bangsa-negaranya. Saya hanya sedang berbagi dengan Anda sekalian bahwa tebakan saya benar namun harapan saya tidak terpenuhi.Bagaimanapun Obama menawarkan perubahan demi citra dan cita bangsanya. Obama sedang memulai pekerjaan panjangnya (4 tahun) demi mewujudkan mimpi pribadi dan kelompoknya.

Kita, yang di Indonesia sini, mari kita bekerja keras secara jujur dan berani untuk mewujudkan mimpi kita yang bisa jadi jauh lebih besar dan mulia daripada mimpi Obama. Gak usah tergantung pada Obama. Gantungkan harapanmu pada Yang-Tak-Butuh-Bergantung. Kita bisa tanpa berharap pada bangsa dan negara lain karena orang Indonesia ditakdirkan menjadi besar sebagai dirinya sendiri.

Saya hanya bisa berdoa pada Gusti Allah bahwa saya dimasukkan kedalam gol
ongan orang-orang yang beruntung dunia dan akhirat. Amin…

January 21, 2009 – 1:11am

TATO DI PUNGGUNG BUKIT

TATO DI PUNGGUNG BUKIT

Berhari-hari kutahan gatal yang menyerang

Jika kugaruk gambarnya tak akan menawan

Dasar tukang tato amatir

Kenapa dia pakai cara jadul untuk bikin tato?

Apa tak ada metode bikin tato yang lebih elegan

Dan yang penting tak terlalu menyakitkan?

Seminggu kemudian

Akarnya mulai menyelinap di pembuluh darahku

Lalu kesegaran menghidupkan batang

Pupus-pupus hijau muncul suka-rela

Memperpanjang harapan mengacung ke langit

Berharap tak lagi ditebang di usia muda.

Tato di punggung bukit

Ditorehkan oleh segerombolan remaja pecinta alam

Mencangkuli tanah tanpa ampun

Hanya untuk mengibarkan bendera kelompok mereka

Supaya dikenal lewat reboisasi

Tak apa, yang penting segera tumbuh tato temporer di punggung polosku.

January 16, 2009 – 11.05pm

Mari cintai hutan, tanem dan rawat pepohonan

MENDUKUNG SAUDARAKU DIK AGUS KRIBO

AGUS KRIBO YANG MENYEBUT DIRINYA KEREN

(dirimu bikin otakku ikutan kribo bo bo!)

Agus Kribo? Dengan jumlah kontak sekian juta orang pasti tak ada pilihan lain buat saya kecuali setuju untuk menilainya sebagai orang yang suka berteman sekaligus suka ngocol. Bayangkan jika dia harus mengklik maka telunjuknya pasti sudah berkenalan dengan begitu banyak nama para Mpers dan bikin mereka (termasuk saya) nyengir kuda lumping.

Tak banyak yang saya tahu dari Dik Agus ini, Sidang Pembaca, karena memang saya belum pernah kopdar sama beliau. Kenal hanya sekedar komen-mengkomen di Multiply dan sapa-menyapa di Messenger jadi saya menulis ini sekedar untuk memenuhi undangan demi kebahagiaan seorang adik yang manja dan tengil. Hiks.

Ada satu kualitas Dik Agus yang sampai saat ini tidak saya miliki dan entah kapan saya bisa memilikinya. Keduanya adalah kreativitas dan kepe-dean yang tak main-main.

Banyak Mpers yang percaya diri tapi baru Agus Kribo yang pernah berlomba pantun dengan niat lillaahi ta’ala mengisi waktu sebelum dan sesudah sahur. Dengan niat ikhlas karena Allah pula dia memuji diri sendiri sehingga dia bisa mengingat bahwa kekerenannya ini tak lebih daripada karunia-Nya semata. Saya juga yakin usahanya yang gigih men-support saya untuk menulis tentang dia baik lewat YM, Facebook maupun sms adalah karena ikhlas karena Allah. Subhanallah…

Dan, itu juga menunjukkan kreativitasnya lho Sudara… Bikin pantun tak semudah bikin keonaran. Apalagi jika harus berlomba, dikomentari para Sidang Pembaca yang kadang kala kejamnya bukan buatan.

Ya inilah yang saya kenal tentang seorang Agus Kribo. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin…

Terjemah buku berpandu kamus

Kamus hilang kerjaan kacau

Gara-gara undangan Agus

Orang tenang jadi meracau

December 2008

RESOLUSI 2009

RESOLUSI 2009

Saya Rike Anggraeni, kadang saya menyingkatnya menjadi RAngg,- atau Rike Angg,- atau Keani (Rike Anggraeni). Saya juga suka memakai nama orang tua lelaki saya dibelakang nama pertama saya: Rike Jokanan.

Tadinya nggak bikin resolusi tahun baru tapi kok tiba-tiba ada begitu saja. Segala yang saya inginkan harus berakar pada: Kalau kita bahagia, orang-orang di sekitar kita akan bahagia; maka saya harus bahagia.

1. Mau bekerja lebih keras, berprestasi lebih bagus dan dapat salary raise lebih tinggi (resolusi rutin rasanya).

2. Kembali jadi orang yang percaya pada takdir baik. Rasanya hampa dan terkoyak-koyak mempercayai kecelakaan sebagai takdir buruk. Tahun 2008 adalah tahun terburuk saya secara pribadi, jangan sampai terulang lagi. Wahai Tuhanku sayang, tolong aku ya…

3. Ketemu jodoh yang baik dan terbaik (baik menurut kriteria pribadi; terbaik sebagai anugerah Allah Yang Mahakuasa).

4. Meningkatkan tabungan berlipat ganda, baik tabungan yang bisa disentuh panca indera maupun yang dirasakan hati dan jiwa.

5. Menyelesaikan sebuah pekerjaan pribadi yang merupakan impian sejak masih ABG. Harus tahun ini karena waktu terus bergulir dan saya tak mau lagi terlindas olehnya.

6. Membaca segala buku yang membuat hidup saya kembali berwarna dan meluas, mendalam dan mencerahkan. Ayo, siapa yang mau berbagi buku bagus kepada saya (ID: Keani), kunjungi www.goodreads.com.

7. Melancong, melancong, melancong!!!

SELAMAT TAHUN BARU 2009!!!

99galleries.com

99galleries.com | Forward This Picture To Your Friends

JADI IBU

JADI IBU

Pernah aku membaca

Tipe-tipe pemimpin menurut para ahli

Katanya ada tiga jenisnya

Satu, yang otoriter dan kejam selalu mengendalikan anak buahnya seakan tiada percaya

Dua, yang sangat cuek dan terlalu percaya seakan anak buahnya tak ada kekurangan

Ketiga, yang tengah-tengah, berjiwa demokratis

Kata seseorang ibuku adalah salah satu pemimpinku

Kata temanku di suatu hari

“Ibuku galaknya minta ampun, dia tipe pertama. Tapi tak mengapa, itu untuk kebaikanku juga”.

Kata temanku di hari yang lain

“Ibuku tak memperhatikanku sekaan aku ini bukan anak yang patut diajarainya. Tapi biarlah, dia sangat mempercayaiku, aku akan menjaga amanahnya.”

Teman yang lain menasehatiku

“Jika kau jadi ibu, jangan terlalu galak pada anakmu karena mereka akn menjauhimu. Dan jangan pula terlalu mengumbar kepercayaanmu karena anakmu akan menganggapmu bodoh tiada ajaran dan panduan.”

Sekarang aku tertegun,

Ibuku tak ada di salah satupun tipe itu

Atau mungkin karena aku tak mengenalnya dengan seksama

Sungguhkah?

Jika ya, aku tak peduli

Ibuku tak matang karena kategori ahli

Ibuku terhormat karena kasihnya yang abadi

Jikapun kesalahan dan dosa menaunginya

Itu hanya sebiji sawi

Tak pantas aku memilah-pilah mana dimana atau apa siapa

Biarlah dosa dan kesalahan kusimpan sahaja – menjadi pembelajaran perjalanan

Hanya jasa dan senyum yang kuukir di jiwa – menjadi panduan tujuan hidupku.

Puisi untuk ibuku sangat lugas

Karena aku ingin dia segera mengerti

Bahwa aku anak yang tahu budi

Dan selalu merindu untuk disayangi

Selamat Hari Ibu

December 22, 2008 – 5:11am

YANG BERPASANGAN DALAM HIDUP

YANG BERPASANGAN DALAM HIDUPKU

Jika hidup ini penuh keajaiban maka

Semuanya ajaib

Tak ada satupun yang biasa saja

Dari hembusan nafas pertama hingga tarikan yang terakhir

Mana yang kau hargai lebih tinggi?

Seharusnya tak ada

Karena yang pertama setara dengan cinta ayah bunda

Yang terahir setara dengan cinta seluruh jiwa semesta

Mana yang lebih kau cari?

Keajaiban kelahiran?

Atau

Keajaiban kematian?

Atau

Keajaiban diantaranya?

Atau

Inginkah engkau mengganti keajaiban dengan kewajaran?

Maka

Mana yang kau cari?

Kewajaran kelahiran?

Atau

Kewajaran kematian?

Atau

Kewajaran diantaranya?

Hanya sepasang dalam kehidupanmu

Keajaiban yang wajar

Dan

Kewajaran yang ajaib

Hanya cukup bersiap untuk menyambutnya.

December 13, 2008 – 11:59pm

JOB DAN MBAK ANGGITA

PE ER LAGI…

Dalam keadaan ngelangut saya dapet kerjaan dari Mbak Anggita. Senengnya, ada yang ngundang menulis. Ini sekaligus kado anniversary buat beliau deh.

PR ini ada aturannya :

  • Setiap Blogger harus memuat kembali peraturan ini di blognya.
  • Setiap Blogger membuat 10 fakta/kebiasaan tentang dirinya.
  • Pada akhir penulisan 10 fakta tersebut, dilanjutkan untuk memilih sepuluh orang yang belum menuliskan fakta tentang diri mereka masing-masing.
  • Meninggalkan komentar untuk mereka yang ditandai dan undang mereka untuk membaca blog kamu.

Jadi begini, berikut hasil pusing-pusing mikir fakta tentang diri sendiri. Memang kalau mikir tentang diri sendiri itu beratnya jauh lebih dari sekarung bijih besi.

1. Sejak kecil hampir tidak pernah sarapan dibawah jam 9:oo pagi.

2. Hobi banget baca dan corat-coret baik nulis maupun nggambar (termasuk bikin batik).

3. Paling sebel kalau harus ke pesta karena harus pakai make-up selain bedak dan lipbalm.

4. Bisa inget detail-detail kejadian jadi kalau nulis buku harian bisa puanjuang pol.

5. Tidak bisa tidur dibawah jam 12 malam.

6. Saya suka kura-kura dan penyu. Saya koleksi pernak-pernik kura-kura dan punya sepasang kura-kura Brasilia (Tesie dan Tucul) tapi si Tucul kabur dan tak tahu rimbanya.

7. Kurang gemar jalan-jalan ke mall.

8. Suka nonton film yang tak banyak berbau kekerasan.

9. Sudah biasa hidup jauh dari keluarga sejak kenal calistung (baca tuling hitung).

10. Termasuk golongan sang pemimpi. Mimpi terbesar adalah: MEWUJUDKAN MIMPI-MIMPI UTAMA SEBELUM USIA 40 TAHUN.

Dan, 10 MP-ers yang mendapat lotre kehormatan menjadi relawan dan relawati adalah sebagai berikut:

  1. Aveline Agrippina
  2. Mbak Henny
  3. Mas Ohtrie
  4. Dik Bambang
  5. Dik Agus Kribo
  6. Mbak Dewi Ekha
  7. Mbak Indah
  8. Dhanuh Suwardi
  9. Mas Aji Klewang
  10. Mas Darto

Namanya relawan-relawati ya sukarela, gak ada paksaan. Kalau gak bisa bikin pe er, ya silakan nyembelih hewan Qurban saja. Jangan lupa kirimkan daging dan tulangnya ke saya. J

Saya mau kabur dulu ya…

December 2, 2008 – 9:29pm

SALURAN TERSENDAT, BANJIR, MELONGO

SALURAN TERSENDAT, BANJIR, MELONGO

Penat bekerja

Lelah dengan rutinitas

Beban masalah

Kenangan buruk yang mendera

Ketakutan akan kegagalan

Semua seperti sampah

Mengambang di aliran sungai

Menyumpal irigasi sawah

Menyumbat saluran air di pemukiman

Memenuhi got pinggir jalan

Air tak sampai ke laut pada waktunya

Atau tak pernah sampai kesana

Air tersendat di perjalanan

Banjir tiba

Melongo

Tak olahraga

Makan sembarangan

Istirahat kurang

Pekerjaan yang tertunda

Agenda berbaris seperti semut berarak

Seperti darah yang mengental dalam pembuluh

Menyumbat alirannya sendiri

Menyempitkan rongga dengan keraknya

Memberati pompa jantung

Bersesakan kepingannya mencari jalur cepat

Darah tak beredar sesuai normalnya

Pembuluh menggelembung karena muatan

Terowongan itu pecah

Stroke tiba

Melongo

Ini bukan tentang kesehatan saja

Ini juga tentang kreativitas

Yang tersumbat sampah

Yang melambat karena terlalu pekat

Yang akhirnya luber tak pada tempatnya

Tak pada jalurnya

Akhirnya juga tak sesuai ukurannya

Seperti puisi ini

Kengawuran tiba

Melongo

Ayo, bersih desa

Pangkas rumput, ilalang dan semak

Tak ketinggalan lancarkan aliran kali dan irigasi

Larahan jalan disapu lagi

Pathok dan kijing kuburan benahi

Obor yang mati minyaki lagi

Pak Lurah…

Gerakkan rakyatnya

Pak Carik…

Ikut kobarkan semangat

Pak Jagabaya…

Kuatkan doanya

Pak Jagatirta…

Kerahkan ilmunya

Pak Bayan, Pak Kamituwa, kang Suta, Kang Nala

Semua tandang

Mengerahakn kreativitas

Di kerajaan kecil

Yang bertahta di nama kita

Ah… puisi ini

Banjir ide

Namanya jug banjir

Airnya keruh

Penuh kecoak dan segala yang berserak

Serba buangan

Semoga mencerahkan…

November 24, 2008 10:27pm

STILL I RISE (poem by Maya Angelou)

Still I Rise by Maya Angelou

You may write me down in history
With your bitter, twisted lies,
You may trod me in the very dirt
But still, like dust, I’ll rise.

Does my sassiness upset you?
Why are you beset with gloom?
‘Cause I walk like I’ve got oil wells
Pumping in my living room.

Just like moons and like suns,
With the certainty of tides,
Just like hopes springing high,
Still I’ll rise.

Did you want to see me broken?
Bowed head and lowered eyes?
Shoulders falling down like teardrops.
Weakened by my soulful cries.

Does my haughtiness offend you?
Don’t you take it awful hard
‘Cause I laugh like I’ve got gold mines
Diggin’ in my own back yard.

You may shoot me with your words,
You may cut me with your eyes,
You may kill me with your hatefulness,
But still, like air, I’ll rise.

Does my sexiness upset you?
Does it come as a surprise
That I dance like I’ve got diamonds
At the meeting of my thighs?

Out of the huts of history’s shame
I rise
Up from a past that’s rooted in pain
I rise
I’m a black ocean, leaping and wide,
Welling and swelling I bear in the tide.
Leaving behind nights of terror and fear
I rise
Into a daybreak that’s wondrously clear
I rise
Bringing the gifts that my ancestors gave,
I am the dream and the hope of the slave.
I rise
I rise
I rise.

My review:
I have always been Maya Angelou’s reader until now and will always be. I don’t want to give much ado… This poem always becomes my energy. The diction is so trmendously powerful to my soul. The structure of he poem itself brings confidence to me. And, the meaning is so much empowering and encouraging.

Maya, if only Time saves a road for me, I will meet and hug you for a thank-you 🙂

BERKILO-KILO

BERKILO-KILO

Hidup tanpa beban masalah bagai sayur tanpa ampas. Bayangkan jika sup Anda hanya berupa kaldu berasa ayam dan bumbu tanpa ada sayur-mayur atau bahan lain mengambang dan/atau menyelam didalamnya. Alangkah lezat tapi tidak enaknya.

Kalau boleh berumpama, kadang hidup terasa mengantongi berkilo-kilo besi dalam perjalanan panjang. Ingin rasanya mengeluarkan semua tumpukan besi itu dan berjalan lempang ke arah terang namun apa daya berkilo-kilo besi itu memang bagian hidup.

Sempat saya berkhayal bagaimana seandainya disuruh mendukung kapas saja. Alangkah ringannya. Alangkah cepatnya perjalanan mencapai tujuan.

Siapa yang tak mau hidupnya enteng? Siapa yang tak mau bebannya diringankan? Siapa yang tak mau perjalanannya singkat dan lancar? Insya Allah, semua tak bakal menolak.

Tapi, segera kembali pikiran ini menggeletar. Berkilo-kilo besi di saku. Berkilo-kilo kapas di punggung. Mana yang mesti dipilih?

Sekarang saya merasa sedang menanggung berkilo-kilo besi di sekujur tubuh sembari mendamba menjadikan besi itu kapas saja. Rupanya saya telah berpikir tentang hal bodoh secara bodoh. Saya telah teken kontrak dengan kehidupan ini bahwa saya akan menanggung sekian kilo beban. Apapun beban itu berupa, beratnya pasti sesuai dengan kesanggupan yang saya tandatangani, sesuai dengan peran dan pilihan-pilihan yang saya tentukan.

Alangkah bodohnya saya. Apa bedanya berkilo-kilo besi dan berkilo-kilo kapas jika ternyata beratnya sama. Bahkan menurut saya berkilo-kilo besi jauh lebih ringkes (tak makan tempat, bahasa Jawa) daripada berkilo-kilo kapas yang pasti jauh lebih rowa (memakan tempat, Bahasa Jawa).

Apa jadinya kalau mesti mendukung berkilo-kilo kapas di punggung? Sudah lah berat, makan tempat pula.

Berarti menanggung berkilo-kilo besi ini jauh lebih patut disyukuri daripada mengharap kapas dengan berat yang sama.

Ah, namanya juga manusia. Maklum kalau angan-angannya sungguh tinggi walaupun kenyataannya apa yang dimilikinya telah pas dengan status dan posisinya.

Nggak ada pilihan lain kecuali nikmati saja. Ayo bersyukur yuuuk…

November 17, 2008

8:39pm

DUNIA MAYA TAK AMAN LAGI BUAT SAYA

DUNIA MAYA TAK AMAN LAGI BUAT SAYA

Barusan saya nangis sejadi-jadinya telungkup di keyboard laptop saya. Nggak peduli ntar basah atau kepencet trus error. Kali ini saya benar-benar jengkel.

Untuk kedua kalinya Friendster saya dijahilin orang. Sudah 3 kali saya sign-up di Friendster.

  1. Pakai email account di Plasa.com yang tak tahu kenapa nggak bisa diakses. Di-hack orang; semua di-update dengan info tentang saya yang lucu-lucu dan tidak umum contoh kesukaan saya ndengerin wayang kulit di stasiun radio tertentu, kesukaan saya bikin puisi, dan kesukaan saya yang hanya teman dekat dan keluarga yang tahu. Saya menyimpulkan hackernya kenal saya. Entah apa tujuannya tapi biarlah saya menjahatinya dengan menganggapnya bloody moron friend.
  2. Friendster account saya yang kedua memakai alamat email yahoo. Sempat saya hapus ketika saya putus cinta. Saya down berat. Amat sangat berat sekali dan terluka!!!
  3. Saya bikin account Friendster lagi tepatnya dibikinin yang baru sama teman-teman saya yang ternyata masih pada sayang sama saya sehingga nggak rela saya hilang dari peredaran alam maya. Dan ternyata dalam waktu singkat saya udah punya 77 teman yang dengan suka rela mengg-add dan beberapa saya add.

Account saya inilah yang bikin saya nangis karena hari ini saya menemukan bahwa saya tidak punya teman lagi sama sekali. Satu-satunya featured friend-pun account-nya tidak bisa saya akses karena dikunci dan ternyata saya bukan lagi teman dia. Dan, lebih kaget lagi setelah log-out dan coba log-in lagi udah nggak bisa – info yang masuk: password saya udah ganti. Ya, Allah. Apa lagi ini?

Dunia maya ini teman saya yang paling menyenangkan saat ini, kenapa dilumpuhkan juga???????????????????????????????????

Sebegitu jahatnya kah orang-orang yang gape IT ini? Apa mereka mendapat kepuasan dengan mengganggu hidup saya? Kalau mereka benci saya, tidakkah ada cara yang lebih beradab daripada menggilas saya yang sudah begitu banyak kehilangan teman dalam satu setengah tahun terakhir ini karena saya harus berkorban demi seseorang yang kurang menyukai mereka? Kalau mereka hanya iseng, apa gunanya?

Mau membuktikan kelihaian Anda? Tidak terbukti!!! Karena Anda hanya bisa membuktikan kelemahan akhlak Anda? Ingin menunjukkan pada saya bahwa Anda IT-talent dan saya gaptek? Toh, Anda hanya bisa membuat saya jengkel.

Ok, kalau Anda kenal saya, saya bersyukur karena Friendster account saya hanya diisengin oleh teman saya tapi saya berdoa semoga Anda dikalahkan oleh kepongahan Anda.

Kalau Anda tidak mengenal saya, semoga Anda dihabisi oleh kepongahan Anda.

Saya berdoa satu kali untuk hacker brengsek ini, tak akan saya ulangi doa itu. Sekali doa, sekali amin, sampai kapan pun tidak terima.

November 15, 2008

7:33pm

Casting Bintang Sinetron

CASTING BINTANG SINETRON

Akhir pekan lalu saya (secara nggak sengaja) nonton casting bintang sinetron di sebuah mall.

Seperti kata sang pembawa acara minat masyarakat Tangerang jauh lebih rendah dibanding masyarakat Bekasi dan Jakarta dalam keikutsertaan mereka dalam casting bintang sinetron. Dengan mantap Mas MC mengatakan,”Mungkin karena orang Tangerang belum terlalu sadar pentingnya entertainment kali ya… Jadi hari ini hanya ada 3 peserta casting bintang sinetron! Tepuk tangan!!!”

Pertama seperti biasa pembawa acara memanggil sang castee lalu sang castee memperkenalkan dirinya dengan pede setengah malu-malu. Dan kemudian ada sebuah tugas acting yang didaulatkan kepada sang castee.

Mereka hanya diberi sebuah situasi, mereka harus mengembangkan situasi tersebut dan berlagak lagu di hadapan para pemandu bakat dan para penonton yang tak segan menertawakan dan mencela dengan sadis.

Peserta pertama: seorang ABG lelaki yang ditugasi berakting MARAH. Begini kira-kira yang saya rekam.

“Hey, luh yang disana! Ngapain lu liat-liat gueh?” teriaknya marah.

“Iyeee…” teriak penonton sambil ngakak.

“Emangnya gueh lucuh?” teriaknya agak kehilangan marah.

“Iyeee…” teriak penonton lagi sambil ngakak juga.

“Emangnya gueh aneh?” teriaknya sambil menahan tawa.

“Iyeee…” teriak penonton dengan tawa yang makin meledak.

“Emangnya ha gueh ha gueh marah nih!” Kata “ha” melambangkan tawa yang tertahan.

Penonton makin tergelak.

Peserta kedua adalah seorang ABG perempuan, sekitar 15 tahun. Imut. Dia didapuk menjadi anak tiri yang disekap dalam kamar mandi oleh ibu tirinya. Haduhhh, kalau saya jadi ibu tiri mungkin jadinya malah saya yang disekap sama anak tiri ha ha ha…

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuu…” teriaknya sambil memaksa diri menangis.

“Apaaaaaaaaaaaaaaaaa…” jawab penonton kencang-kencang.

“Ibuuu…” teriaknya mulai menangis.

“Apaaa…” jawab penonton pura-pura menangis.

“Ibu… Tolong aku… Aku disekap dalam kamar mandi…” teriaknya sudah dengan menangis.

“Apaa… Kuncinya ilang! Kamu lompat dari atap aja!” teriak seorang penonton kencang sekali. Yang lain terbahak-bahak.

“Mengapa aku disekap? Mengapa ibu tiri begitu kejam? Mengapa?”

Mengapa melulu sih? Makanya jangan badung-badung ha ha ha…” Beberapa orang berteriak kencang lagi.

“Ibuuu… Tolong anakmu… Anakmu disekap… Tolong aku ibuuuu…” si ABG ini melolong-lolong, suaranya mengiris hati. Saya sampai merinding.

Sebenarnya merinding bukan karena suara dan rintihannya tetapi lebih ke pencitraan kekejaman ibu tiri. Tak sedikit ibu tiri yang baik dan mungkin bisa saja tak kalah baik daripada ibu kandung. Teman sekantor saya (dulu) diasuh oleh ibu tiri dan bapak tiri sekaligus dan tumbuh menjadi anak yang mandiri, cerdas dan sukses. Fyi, ketika ibu kandungnya meninggal sang ayah menikah lagi. Namun tak lama kemudian sang ayah menninggal dan akhirnya si ibu tiri ini menikah dengan lelaki yang lain. Pasangan orangtua tiri inilah yang mengasuh mereka. Kok jadi ngomongin ibu tiri dan bapak tiri he he he…

Dan, peserta terakhir ternyata tidak datang. Hanya tinggal dua peserta saja yang telah berhasil menghidupkan suasana foodcourt yang biasanya hanya ramai dengan denting gelas, piring dan sendok garpu atau musik mengalun memanjakan telinga pengunjung.

Maka ditentukan oleh pemandu bakat bahwa pemenangnya adalah si gadis yang tersekap dalam kamar mandi yang hilang kuncinya. Dia akan dikirim ke Grand Final di mall lain.

Saya sempat melihat si gadis melompat kegirangan memeluk ibu dan (saya tebak) teman-temannya.

Saya tersenyum. Saya ingat dulu waktu latihan teater, Mbak Ummi (pembimbing teater di es em pe negeri Kalangbret) menasehati kami untuk memerankan lakon sewajarnya.

“Jika harus berakting marah, marahlah karena alasan yang biasanya membuat kamu marah. Ketika kau sedih, sedihlah semata kau tahu kau sedang bersedih. Ketika kau takut, jangan kau buat-buat ketakutanmu. Biarkan peranmu keluar dari jiwamu, jangan dibuat seakan sedang marah, seakan sedih atau seakan takut.”

Sebab akting yang berlebihan hanya akan merusak penjiwaan kami terhadap peran yang dilakonkan.

Semua memang harus sewajarnya. Jangan menahan kebahagiaan, jangan menahan keriangan, jangan menahan kemarahan, jangan menahan kekecewaan. Lakoni dengan wajar sesuai waktu dan porsinya. Niscaya kita berhasil menjiwai peran kita di dunia.

Semoga bermanfaat. J

November 2008

In the middle of the night

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

Membaca beberapa baris dari buku Pram (Pramoedya Ananta Toer); saya merasa disentil untuk berpikir ulang sebagai orang Indonesia Jawa, inlander kata Tuan Besar alias Meneer Daendels dkk.

Nggak nyangka ada kajian semacam ini di kalangan wong Walanda (orang Belanda, Bahasa Jawa). Sementara ini saya hanya tahu bahwa Belanda kesini semata karena kebutuhan mereka akan hasil alam dan penyebaran ideologi yang mereka genggam tanpa pengkajian budaya kita sebagai inang dari parasit yang bernama kompeni Belanda itu. Setelah membaca bagian ini yang ada tinggal rasa penasaran untuk mengkaji lebih dalam tentang kejawaan (baca: ke-inlander-an) yang tersisa dalam diri saya.

Mengapa di Jawa dan bukan di Ambon atau di Sulawesi atau di pulau lainnya? Ternyata ada juga sebab lain mengapa Belanda dengan V.O.C.-nya dan para kompeni itu milih di pulau kecil tapi sesak manusia ini.

Maaf jika nantinya primordialisme tertangkap tanpa zoom karena kesannya hanya menyangkut suku bangsa tertentu (Jawa); saya hanya ingin memaparkan bagaimana Belanda kok krasan dan gendut disini.

Kita punya sejarah yang tua dan berkembang, kaya dan terorganisir, namun sekaligus tanpa arah yang konsisten dan solid. Semoga kesan yang Anda tangkap jauh lebih baik. J

Berikut adalah percakapan antara Jacques Pangemanann (tokoh aku, seorang Menado, Komisaris Besar yang ditugasi menangani Minke dan S.D.I.-nya) dengan Tuan L. (Belanda totok, muda, seorang arsivaris).

“Apa sebab Tuan mengambil Jawa sebagai pokok?”

“Ada rahasia yang sampai sekarang belum juga dapat aku pecahkan, Tuan. Membuat hipotesa sederhana pun aku belum mampu. Cobalah temuan jawabannya: Apa sebab dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah bangsa jawa jauh lebih tinggi daripada latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan-warisan kebudayaan lebih banyak, pada suatu kurun sejarah tertentu? Malahan dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa Eropa tertentu dalam bidang-bidang tertentu? Ha, aku lihat Tuan terheran-heran.”

Aku tidak terheran-heran. Setiap kali seorang pembesar memuji-muji kelebihan bangsa jawa dibandingkan bangsa Hindia yang lain, ada sesuatu yang mengganjal dalam perasaanku. Aku tahu pada suatu kali tentu aku membutuhkan ilmu dan pengetahuan tentang bangsa jawa. Maka sekarang aku harus melayaninya sedang ia naik semangat bicara tentang Jawa.

“Tidakkah itu,” tanyaku.

“Disebabkan karena kekuasaan Belanda di Hindia memusat di jawa sejak semual?”

“Kenyataan justru sebaliknya, tuan Pangemanann. Adminstrasi Hindia Belanda dipusatkan di jawa, justru karena sebab tersebut. Jawa sebelum datang orang Eropa sudah punya organisasi sosial yang menyebabkan mungkinnya kesejahteraan sosial ekonomi dan kebudayaan.”

“Kalau setinggi itu puji-pujian Tuan pada bangsa Jawa, mengapa mereka toh dapat dikalahkan oleh bangsa Eropa?”

“Panjang persoalannya, Tuan,” ia angkat gelas brendinya dan disentuhkan pada gelasku,”Semoga Tuan akan sukses sebagai ahli kolonial!”

“Dan sukses untuk Tuan sebagai ahli Jawa,” jawabku.

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbed
aan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannnya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip.”

“Tuan mengada-ada lagi,” kataku memancing lebih lanjut.

“Sebaiknya Tuan belajar tentang Jawa. Setiap ahli kolonial Hindia mempunyai persoalan bangsa yang luar biasa ini. Tentu aku tidak mengada-ada, Tuan. Bangsa ini sendiri yang meninggalkan jejak-jejaknya, bukan sekedar dalam batu dan tembaga atau cerita-cerita omong-kosong. Bagaimana watak seperti itu muncul tentu disebabkan karena perang ke perang tak habis-habisnya. Orang merindukan perdamaian, maka orang pun meninggalkan prinsip. Penyair besar di masa Hayam Wuruk, abad empatbelas, Mpu Tantular, Tuan, telah merumuskan watak penyesuaian ini dalam sebuah bait dari syair-syairnya.”

“Syairs?!” seruku tidak percaya.

“Ya, Tuan, syair tertulis dalam abad ke empatbelas. Begini kira-kira terjemahannya: Buddha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva, yang tertinggi di antara dewa-dewa. Buddha yang dimuliakan adalah alam semesta. Bagaimana mungkin menceraikannya? Wujud Jina dan wujud Shiva adalah satu. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan.” … Penyair lain dalam masa yang sama, Prapanca, yang pada waktu itu juga superintendent gereja Buddha Jawa, menulis syair Negarakertagama, menulis dalam kedudukannya yang tinggi itu, kedudukan bertanggung-jawab. Dia juga mempersatukan Shiva dengan Buddha. Itulah arus umum ke arah kompromi, melupakan prinsip-prinsip.”

“Tapi itu persoalan agama, Tuan,: bentakku.

“Pada jamannya, Tuan, agama itu adalah juga politik, soal kekuasaan. Bukankah demikian juga di Eropa dalam jaman yang lebih muda? bukankah 80 tahun di Nederland melawan Spanyol adalah Protestantisme bertahan terhadap Katolisisme, yang melahirkan Nederland menjadi negara merdeka? Juga di Jawa, raja yang satu digulingkan oleh raja yang lain karena kelainan agama, yang satu pengikut Vishnu, yang lain Shiva dan seterusnya.”

Aku dapat mengerti, tetapi bahwa orang Jawa sudah menuliskan syair dalam abad ke empatbelas …

“Mereka sudah menulis waktu sebagian terbesar bangsa-bangsa Eropa sekarang masih buta huruf, Tuan. Bukti menunjukkan peninggalan-peninggalan tulisan mereka dari abad ke delapan. Dalam abad itu bangsa Belanda baru berkenalan dengan agama Nasrani, baru mengenal tulisan dari kejauhan, belum lagi dapat membaca, malahan mereka membunuh penyebar injil golongan termula, Bonifacius. Bukankah begitu?”

Dengan sejujur hatiku aku akui orang ini tahu mendalam tentang Jawa di masalewat dan Jawa di masasekarang.

“Pemikiran resmi pada waktu Majapahit justru sampai pada puncak perkembangannya, adalah salah satu unsur kematian bangsa itu sendiri, bersumber pada Prapanca dan Tantular. Orang semakin tidak mengindahkan prinsip. Begitu juga waktu Islam masuk ke Jawa nyaris seratus tahun kemudian. Orang mencari kesamaan antara Shiva-Buddhisme dengan Islam. Juga Islam diterima tanpa prinsip, diambil syariatnya. Dalam puluhan tahun terbiasa meninggalkan prinsip ini Eropa datang, Eropa yang justru berkukuhan pada prinsip. Orang Eropa lebih kecil jumlahnya, tapi menang prinsip.”

(dikutip dari novel RUMAH KACA, Pramoedya Ananta Toer)

Semoga bermanfaat.

November 12, 2008 – 11:44pm

KEMBALI KE TRACK AWAL

KEMBALI KE TRACK AWAL

Akhir-akhir ini banyak tulisan kontak yang mengangkat topik teman, saya sendiri juga. Rasanya seperti diingatkan kembali bahwa dimana pun berada seseorang tidak akan lepas dari ketidakcocokan baik tentang hal kecil ataupun besar. Ketidakcocokan sebenarnya awalnya bukan benar-benar ketidakcocokan melainkan karena salah paham dan sikap yang kurang terbuka untuk mengakui kesalahan atau untuk mengingatkan teman atas kesalahan tersebut.

Saya sendiri merasa harus mengkaji ulang kembali apakah rasa percaya saya menjadi perekat pertemanan dan perkenalan atau justru membuat perasaan tak nyaman karena ternyata ada sebuah protes baik langsung maupun tak langsung tentang keramahan saya. Terima kasih kepada online buddy dan friend saya di MP yang sempat terganggu. Saya jadi bingung aja, kenapa gak ngomong langsung. Ngegosip udah jadi budaya rupanya bahkan untuk menyelesaikan masalah ha ha ha…

Apapun itu… maafkan saya.

Rupanya saya udah melupakan track saya. Ok, kembali ke khittah –track awal saya!!! Menulis…

KEANEHAN PADA MICROSOFT (kalau hoax kok bener ya?)

KEANEHAN PADA MICROSOFT

(kalau hoax kok bener ya?)

Dari milis with magic. Saya udah nyoba, dan memang magical… J


MAGIC #1
Orang India menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membuat
FOLDER di komputer dengan program Microsoft manapun dengan judul folder
“CON”, “LPT1”, “COM1”. Cobalah dengan membuat sebuah folder dengan nama CON atau con. Bukalah My Document/File/New/Folder lalu ketik CON atau Con atau con. Apa yang terjadi?

MAGIC #2
Bagi anda para pengguna Windows, lakukanlah hal berikut ini:
1) Buka sebuah notepad file kosong
2) Ketiklah “Bush hid the facts” (tanpa tanda kutip ya)
3) Save di mana pun anda suka
4) Tutuplah dan bukalah kembali file tersebut.
Aneh bukan?

MAGIC #3
Microsoft Crazy Facts
Cobalah hal yang menarik ini, sungguh aneh! Bahkan Bill Gates sendiri
tidak menemukan jawabannya kenapa ini bisa terjadi! Hal ini ditemukan oleh
orang Brazil. Cobalah!
1) Buka program Microsoft Word dan ketik: =rand (200, 99)
2) Kemudian anda ENTER
Apa yang anda temukan? Menarik bukan? Coba aja…..

OK

OK, FINE

Some can accept us as we are

Some cannot understand our signs

Some want us to be their friends

Some don’t want us to be in their circles

So, what?

It is life

I can choose

I might not be chosen though

They may choose

They might not be chosen though

So, what?

It is life

I will enjoy it the way I am

With

Or

Without

November 9, 2008 – 7:11pm

KERAMAIAN YANG MENGASINGKAN

KERAMAIAN YANG MENGASINGKAN

Saat ini saya sedang menikmati akhir pekan sambil nongkrong di mall, nyari hot spot. Bosan juga nge-net di rumah, pengen suasana beda, yang ramai cenderung riuh, yang berbau makanan dan yang dekat toko buku. Lagi-lagi WTC Serpong karena Lippo Karawaci jaraknya bikin letiiih…

Makan dulu, ternyata nyari tempat susah. Ruame banget. Naik ke Gramedia, setelah mencuri baca beberapa komik Asterix dan bayar buku, saya cek movie yang ternyata masih memajang Journey to the Center of the Earth sebagai CO-MING-SO-ON. Ya akhirnya saya kembali lagi ke foodcourt untuk mencari tempat yang pas untuk nge-net.

Ternyata sedang ada lomba modern dance, lomba mewarnai dan casting bintang sinetron… Lomba modern dance dan mewarnai tak asing lagi tapi casting bintang sinetron ini bikin saya penasaran buanget. Kayak apa sih? Apa kayak dulu ketika saya celemongan di dunia teater saat masih usia es em pe. Kalau ya, berarti biasa aja. Kalau beda, bedanya dimana mau tahu (di postingan berikutnya).

Acara lomba mewarnai sudah dimulai sejak pagi. Sekarang lomba dance dimulai. Wow, dari kejauhan penarinya meliuk-liuk. Hebat anak muda sekarang. Kreativitas nge-mix jenis musik demi background gerakan mereka keren abisss. Exposure terhadap gerakan sangat luas; menilik ketika saya masih es de dan es em pe bisanya cuma nari Gembira, Gambyong, Pendet dan Legong ha ha ha… pakai kemben dulu sudah seksi abis, sekarang para penari itu bajunya hmmm… seksinya alamakjan, apa ibunya gak nonton ya anak perempuannya hampir telanjang gitu, udah gitu jogetnya seksi abisss boo… Mbak Inul dan Mbak Persik kalah dah.

Tentang casting bintang sinetron, menurut pembawa acara, ada yang berbeda dari Tangerang. Katanya di Tangerang peminat casting-nya jauh lebih sedikit daripada di Jakarta dan Bekasi. Saya jadi mmikir, apa benar kata sang pembawa acara bahwa Jakarta dan bekasi masyarakatnya lebih melek entertainment. Orang Tangerang belum terlalu butuh hiburan.

Wow… Kalau ya, saya akan sangat bahagia karena termasuk dalam golongan orang yang tak banyak membutuhkan hiburan dengan kata lain saya termasuk orang yang tingkat stres-nya lebih rendah dibanding teman-teman lain di Jakarta dan Bekasi. Alhamdulillah…

Saya kembali lagi memelototi layar laptop saya masih dengan posisi meja menghadap panggung yang sudah tak terlihat lagi dipagari kerumunan penonton yang tersirep para penari muda tersebut.

Saya mikir sambil browsing. Apa saya terlambat mengikuti perkembangan jaman? Atau memang saya harus rela digilas perubahan jaman? Atau saya harus merubah jaman sesuai dengan tata nilai yang saya yakini? Memangnya siapa saya? Mendidik diri sendiri saja masih belepotan, mau ngatur orang lain.

Saya juga mikir apa orang-orang itu sebegitu cepatnya membuka dirinya terhadap perkembangan jaman sehingga kesannya mereka begitu permisif terhadap apa saja yang berbau gemerlapan berbungkus “kemajuan jaman”.

Lalu apa sebenarnya kemajuan jaman itu sendiri? Ataukah yang sesungguhnya maju itu justru mundur

Tanya berkelebat seperti kilatan cahaya memenuhi benak, berloncatan melintasi quantumnya, membentuk kulit atom yang menyihir saya menjadi makhluk kerdil dengan kepala bertengkorak kaca kristal tak ditumbuhi rambut.

Ah, dunia ini makin tua dan aku makin asing disini.

November 9, 2008 – 3:38pm

Foodcourt WTC Serpong

TIADA GARIS MELAINKAN TITIK

TIADA GARIS MELAINKAN TITIK

(esensi benda yang tak sesungguhnya absolut)

Mili, senti, desi, meter, deka, hekto, kilo…

Apa kau menamakannya jika bukan satuan panjang?

Panjang yang kau lewati ialah jarak?

Jarak bukan ruang sebenar

Dia sekedar jeda antara dua titik yang mesti kutempuhi

Selagi kau menimbang berat dacinmu

Sebagai imbalan terwujudnya anganku

Ada garis menghubungkan dua titik

Garis lurus atau lengkung

Garis nyata atau abstrak

Ruas kunyit kau hitung garis, juga ruas bambu dan tebu.

Seruas kunyit berasa getir.

Seruas bambu berasa tawar.

Seruas tebu berasa manis.

Tapi

Ketika belum meruas,

Kau sebut apa jika bukan dua titik bertumpu satu?

Atau satu titik berpribadi dua?

Adakah getir kunyit?

Atau tawar rebung?

Atau manisnya tebu?

Titik menjauh terbawa regangan masa.

Titik mengembang terisi pulasan rasa.

Masa dan rasa memanjangkan banjaran titik

Sambung menyambung menjadi sebilah garis

terukur satuan nisbi.

Kau sebut titik itu kecil?

Sekecil apa?

Bolehkah bulatan yang kau pijak ini kusebut titik –

Padahal ada bertrilyun garis melintang pukang?

Atau boleh kusebut jarak antara kita dengan Batara Surya itu garis

Sedangkan multi galaksi tak hingga

Mengingkari sang bola api raksasa?

Mata mensuperiorkan garis

Titik tersipu di balik kejujuran hatimu

Garis memeluk titik dalam buai rahasianya

Titik menjunjung garis dalam kekuatan rahasianya

Mana yang kau mau dalam keberadaanku? Sebagai titik atau garis?

Atau keduanya?

Tiada garis melainkan titik.

November 3, 2008 – 3:44pm

Gambar merupakan sebuah struktur kimia apabila dilihat oleh mata telanjang berbentuk benda.

DEG-DEGAN

DEG-DEGAN

Lagi deg-degan menunggu sesuatu yang dibilang pasti enggak, dibilang nggak pasti kok udah ada tanda-tanda kepastian. December? January? May?

Ya deh, may be yes may be no.

Pikiran jadi berkabut. Pengennya hanya kerja keras, ngumpulin uang sebanyak-banyaknya biar bisa beli buku banyak, beli rumah dengan halaman cukup luas buat nanem bunga anggrek dan pohon jamblang putih, mengakali dunia dan nyenengin orang-orang tersayang.

November 6, 2008 – 9:28pm

JADI PREMAN SESAAT

JADI PREMAN SESAAT

Suatu malam di penghujung October 2008, saya mau tak mau harus minta tolong abang becak lagi untuk mengantarkan saya bawa belanjaan masuk komplek. Saya agak amazed melihat abang becak yang berpenampilan rapi. Hem putih, celana katun dan bersepatu. Ada perasaan aneh menggayuti pikiran saya. Kayaknya abang ini bakalan sial deh, pikir saya.

Saya tidak langsung pulang melainkan mampir dulu ke Bu Prayogo, tetangga yang dulu pernah melayani jasa catering untuk saya dan teman-teman kantor. Setelah ngobrol tentang beberapa hal, saya pamit pulang. Setelah ritual pulang kantor selesai, saya mencari-cari handphone yang biasanya ada di saku dalam tas.

Wow, nggak ada. Di meja, nggak ada juga. Di tumpukan buku yang sedang saya baca, nggak ada. Segera saya bergegas ke tempat cucian; duh, jangan-jangan kerendem. Alhamdulillah tak terendam; karena memang nggak ada disana. Semua sudut saya gerayangi dan tidak ada penampakan.

Rumah Bu Prayogo…

“Tiwi… Ibu… Trayen…”

“Iya, Mbak?”

“Ada handphone saya ketinggalan nggak?”

“Enggak tuh.”

“Tadi saya duduk di meja makan.”

“Nggak ada tuh, Mbak…. Masuk aja, Mbak.”

Ternyata memang nggak ada. Wah, pasti ketinggalan di becak nih.

Dengan segera saya menuju pangkalan becak Mang Kosim dan mereka bergegas “mengawal” saya menuju pangkalan depan komplek.

“Permisi, Abang tadi yang ngantar saya ya?”

“Oh, iya Neng.”

”Ada handphone ketinggalan di becak Abang nggak?”

“Enggak Neng… Saya tadi nggak sempat periksa, Neng.”

“Abang setelah ngantar saya masih narik lagi apa kosong sama sekali?”

“Ada narik satu lagi, Neng. Kali aja penumpangnya yang nemu…” Si abang becak berhenti lama namun tiba-tiba berseru,”Eh, itu Neng mungkin temen saya Aziz tahu. Tadi habis saya narik, dia sempat ngelongok ke becak trus duduk sebentaran eh, terus nggak tahu kamana sampai sekarang teu kelihatan. Pedahal biasanya mah nongkrong di dieu sampai malam. Tidurna juga di dieu.”

“Aziz-nya dimana?” tanya saya.

“Teu ngartos, Neng. Saya yakin Aziz tahu, Neng. Saya mah sumpah pakai Quran juga berani. Begini ini saya kena getahnya.”

“Lho, Bang. Saya kan cuma nanya. Kalau abang nggak tahu ya nggak papa, tapi sekarang saya mau tanya rumah Aziz mana?”

“Di kontrakan.”

“Kontrakannya mana?” saya mulai mendesak.

“Dia mah tidurnya di dieu.”

Wah… Rusuh nih si abang. Terpaksa saya main ancam. Saya bilang saya mau lapor polisi tapi rupanya dengan sigap dia mengingatkan bahwa saya nggak bisa seenaknya karena nggak ada bukti. Hmm… Benar juga kalau gitu.

“Mang Kosim, anterin saya ke kiai kek, pusing deh urusan sama orang nggak takut dosa.” Saya segera naik becak Mang Kosim. Mang Kosim sendiri kebingungan dan mengarahkan becak ke arah… kantor polisi ha ha ha…

“Neng, Neng, Neng… Tunggu. Saya carikan Aziz dulu,” teriak abang becak yang tadi mau disumpah Al Quran.

Setelah lama berselang Aziz tak juga tiba bahkan setelah para abang becak melesat bersama becak-becaknya karena ketakutan pada tuah kiai. Padahal kiai siapa saya juga tak kenal ha ha ha… Mang Bogang ikut tertawa sesudah kejadian itu.

Tak berapa lama tukang parkir yang tadi janji pada saya untuk mencari Aziz tiba.

“Teh, si Aziz udah ketemu tapi malah pergi ke arah selatan ke Babakan sama si Rusdi. Gini aja, Teh. Kalau nanti handphone-nya ketemu Teteh mau memory card atau SIM card-nya saja?” tanya si tukang parkir dengan percaya diri.

Saya mulai naik pitam. Enak saja ini gerombolan lelaki mempermainkan saya.

“Eh, Mas. Saya kesini nanyain handphone saya ketinggalan di becak atau enggak. Kalau memang kalian nggak lihat ya sudah, jangan dioper-oper ke Aziz lah ke Rusdi lah. Lagian ngapain saya mau memory card atau SIM card? Saya itu ketinggalan hape bukan kartu doang!!! Ok, kalau tukang becak yang sering saya sewa becaknya nggak mau bantu, saya juga bisa bertindak kasar. Jangan mentang-mentang saya perempuan ya!”

Seketika saya ingat bahwa saya punya teman yang punya pengaruh di kalangan pedagang dan tukang becak dalam komplek (tukang becak yang berurusan dengan saya adanya di pintu komplek). Saya segera melesat menuju Blok A2.

“Assalamu’alaikum… Aji, Aji… bukain pintu dooong. Aduh tolongin gue dong. Masak handphone gue mau ilang lagi. Itu ketinggalan di abang becak Ceria Mart tapi nggak ada yang mau ngaku malahan handphone gue di-bargain-bargain.” Saya berondong teman se-gang saya dengan request maksa.

“Halah… Kenapa nggak dari tadi sih? Ini udah jam sepuluh lewat gue udah mau tidur.”

“Ya, udah kek. Tidurnya entaran aja. cepet keburu handphone gue dilelang. Mereka kayaknya udah bawa ke counter di Babakan.”

“Sapa nama abangnya?”

“Aziz.”

Dari jauh abang becak yang bergerombol kelihatan makin banyak. Tadinya hanya enam, sekarang sekitar 10 orang. A
duh, ntar kalau ada apa-apa kami cuma berdua nih.

“Eh, siapa yang lihat hape temen saya?”

“Ah, eh, Pak Haji. Itu si Aziz, Pak Haji. Ini si eneng temen Pak Haji?”

“Iya. Mana Aziz-nya? Kenapa nemu handphone nggak dibalikin ke yang punya? Kalian kan makan dari orang komplek kenapa masih mau dimakan juga?”

“Ini Pak Haji, si Aziz tadi yang simpen.”

“Ya kan kamu tahu eneng ini rumahnya mana kok nggak cepet dibalikin. Trus kemana Aziz sekarang? Ntar kalau macem-macem nggak usah lah mangkal disini lagi.”

“Iya, Pak Haji nanti saya suruh Aziz ke rumah Pak Haji.”

“Jangan ke rumah saya. Ke rumah si eneng ini. Cepet. Apa mesti didodor satu satu ini sama Pak RW?”

“Iya Pak Haji.”

“Cepet!”

Pukul 10:45 malam Aziz datang membawa handphone saya yang sudah sempat menjadikan saya preman amatiran. Melihat wajahnya saya nggak tega. Saya selipkan lembaran pink di telapak tangannya yang terasa dingin sekali. 100 ribu itu ide si Aji – nama aslinya Haryanto tapi karena sudah haji, kita panggil dia Aji aja biar gampang he he he…

“Terima kasih, Teteh. Saya nggak…”

“Udah, udah… Gua udah ngantuk nih. Besok aja lu datang ke tempat gua ya. Gua tunggu,” potong Aji sambil beruluk salam.

Kerumunan itu pun bubar dan saya segera kabur ke kamar. Terkenang gaya preman saya yang sempat berhasil ketika saya memaki kata “kiai” dan tidak mempan ketika saya memakai kata “polisi”. Saya berpikir apakah memang mantra kiai lebih sakti daripada interogasi polisi ya?

Belum lama saya dengar Aji memperingatkan Aziz kalau begitu lagi nggak akan dikasih pinjam uang. Halah… Hidup ini indah ya kalau semua orang jujur.

Bersyukur saya bisa jadi preman walaupun harus nyatut nama agama. Makasih Aji. Makasih “kiai”. J

November 4, 4:28am

Based on true story di akhir October, 2008

PERMAINAN DAN SENDA GURAU

PERMAINAN DAN SENDA GURAU

Terimakasih kepada para manusia yang dengan senang hati menangisiku dengan pengharapan, menampariku dengan pencapaian, merongrongku dengan keceriaan, meludahiku dengan ilmu.

Kalian tak lain hanyalah anak panah waktu sedangkan aku seekor burung di ujung penglihatanmu. Kita tak kunjung lelah berkejaran sebelum sang penunggang kuda mengistirahatkan lengan dari busurnya.

Kau permainannya, aku senda guraunya.

November 3, 2008 – 4:06pm