
SELINGAN MULTIPLY
Lama juga tak aktif di Multiply ini
Lagi seneng nge-Facebook
Tapi kangen juga sama sahabat-sahabat disini
yang juga ketemu di Facebook
Ayo kawan, kunjungi Facebook
Buat selingan MP aja
Ha ha ha
Kok ngiklan ngene J
graphs of my Universe

SELINGAN MULTIPLY
Lama juga tak aktif di Multiply ini
Lagi seneng nge-Facebook
Tapi kangen juga sama sahabat-sahabat disini
yang juga ketemu di Facebook
Ayo kawan, kunjungi Facebook
Buat selingan MP aja
Ha ha ha
Kok ngiklan ngene J
JADI IBU
Pernah aku membaca
Tipe-tipe pemimpin menurut para ahli
Katanya ada tiga jenisnya
Satu, yang otoriter dan kejam selalu mengendalikan anak buahnya seakan tiada percaya
Dua, yang sangat cuek dan terlalu percaya seakan anak buahnya tak ada kekurangan
Ketiga, yang tengah-tengah, berjiwa demokratis
Kata seseorang ibuku adalah salah satu pemimpinku
Kata temanku di suatu hari
“Ibuku galaknya minta ampun, dia tipe pertama. Tapi tak mengapa, itu untuk kebaikanku juga”.
Kata temanku di hari yang lain
“Ibuku tak memperhatikanku sekaan aku ini bukan anak yang patut diajarainya. Tapi biarlah, dia sangat mempercayaiku, aku akan menjaga amanahnya.”
Teman yang lain menasehatiku
“Jika kau jadi ibu, jangan terlalu galak pada anakmu karena mereka akn menjauhimu. Dan jangan pula terlalu mengumbar kepercayaanmu karena anakmu akan menganggapmu bodoh tiada ajaran dan panduan.”
Sekarang aku tertegun,
Ibuku tak ada di salah satupun tipe itu
Atau mungkin karena aku tak mengenalnya dengan seksama
Sungguhkah?
Jika ya, aku tak peduli
Ibuku tak matang karena kategori ahli
Ibuku terhormat karena kasihnya yang abadi
Jikapun kesalahan dan dosa menaunginya
Itu hanya sebiji sawi
Tak pantas aku memilah-pilah mana dimana atau apa siapa
Biarlah dosa dan kesalahan kusimpan sahaja – menjadi pembelajaran perjalanan
Hanya jasa dan senyum yang kuukir di jiwa – menjadi panduan tujuan hidupku.
Puisi untuk ibuku sangat lugas
Karena aku ingin dia segera mengerti
Bahwa aku anak yang tahu budi
Dan selalu merindu untuk disayangi
Selamat Hari Ibu
December 22, 2008 – 5:11am
YANG BERPASANGAN DALAM HIDUPKU
Jika hidup ini penuh keajaiban maka
Semuanya ajaib
Tak ada satupun yang biasa saja
Dari hembusan nafas pertama hingga tarikan yang terakhir
Mana yang kau hargai lebih tinggi?
Seharusnya tak ada
Karena yang pertama setara dengan cinta ayah bunda
Yang terahir setara dengan cinta seluruh jiwa semesta
Mana yang lebih kau cari?
Keajaiban kelahiran?
Atau
Keajaiban kematian?
Atau
Keajaiban diantaranya?
Atau
Inginkah engkau mengganti keajaiban dengan kewajaran?
Maka
Mana yang kau cari?
Kewajaran kelahiran?
Atau
Kewajaran kematian?
Atau
Kewajaran diantaranya?
Hanya sepasang dalam kehidupanmu
Keajaiban yang wajar
Dan
Kewajaran yang ajaib
Hanya cukup bersiap untuk menyambutnya.
December 13, 2008 – 11:59pm
Dalam keadaan ngelangut saya dapet kerjaan dari Mbak Anggita. Senengnya, ada yang ngundang menulis. Ini sekaligus kado anniversary buat beliau deh.
PR ini ada aturannya :
Jadi begini, berikut hasil pusing-pusing mikir fakta tentang diri sendiri. Memang kalau mikir tentang diri sendiri itu beratnya jauh lebih dari sekarung bijih besi.
1. Sejak kecil hampir tidak pernah sarapan dibawah jam 9:oo pagi.
2. Hobi banget baca dan corat-coret baik nulis maupun nggambar (termasuk bikin batik).
3. Paling sebel kalau harus ke pesta karena harus pakai make-up selain bedak dan lipbalm.
4. Bisa inget detail-detail kejadian jadi kalau nulis buku harian bisa puanjuang pol.
5. Tidak bisa tidur dibawah jam 12 malam.
6. Saya suka kura-kura dan penyu. Saya koleksi pernak-pernik kura-kura dan punya sepasang kura-kura Brasilia (Tesie dan Tucul) tapi si Tucul kabur dan tak tahu rimbanya.
7. Kurang gemar jalan-jalan ke mall.
8. Suka nonton film yang tak banyak berbau kekerasan.
9. Sudah biasa hidup jauh dari keluarga sejak kenal calistung (baca tuling hitung).
10. Termasuk golongan sang pemimpi. Mimpi terbesar adalah: MEWUJUDKAN MIMPI-MIMPI UTAMA SEBELUM USIA 40 TAHUN.
Dan, 10 MP-ers yang mendapat lotre kehormatan menjadi relawan dan relawati adalah sebagai berikut:
Namanya relawan-relawati ya sukarela, gak ada paksaan. Kalau gak bisa bikin pe er, ya silakan nyembelih hewan Qurban saja. Jangan lupa kirimkan daging dan tulangnya ke saya. J
Saya mau kabur dulu ya…
December 2, 2008 – 9:29pm

SALURAN TERSENDAT, BANJIR, MELONGO
Penat bekerja
Lelah dengan rutinitas
Beban masalah
Kenangan buruk yang mendera
Ketakutan akan kegagalan
Semua seperti sampah
Mengambang di aliran sungai
Menyumpal irigasi sawah
Menyumbat saluran air di pemukiman
Memenuhi got pinggir jalan
Air tak sampai ke laut pada waktunya
Atau tak pernah sampai kesana
Air tersendat di perjalanan
Banjir tiba
Melongo
Tak olahraga
Makan sembarangan
Istirahat kurang
Pekerjaan yang tertunda
Agenda berbaris seperti semut berarak
Seperti darah yang mengental dalam pembuluh
Menyumbat alirannya sendiri
Menyempitkan rongga dengan keraknya
Memberati pompa jantung
Bersesakan kepingannya mencari jalur cepat
Darah tak beredar sesuai normalnya
Pembuluh menggelembung karena muatan
Terowongan itu pecah
Stroke tiba
Melongo
Ini bukan tentang kesehatan saja
Ini juga tentang kreativitas
Yang tersumbat sampah
Yang melambat karena terlalu pekat
Yang akhirnya luber tak pada tempatnya
Tak pada jalurnya
Akhirnya juga tak sesuai ukurannya
Seperti puisi ini
Kengawuran tiba
Melongo
Ayo, bersih desa
Pangkas rumput, ilalang dan semak
Tak ketinggalan lancarkan aliran kali dan irigasi
Larahan jalan disapu lagi
Pathok dan kijing kuburan benahi
Obor yang mati minyaki lagi
Pak Lurah…
Gerakkan rakyatnya
Pak Carik…
Ikut kobarkan semangat
Pak Jagabaya…
Kuatkan doanya
Pak Jagatirta…
Kerahkan ilmunya
Pak Bayan, Pak Kamituwa, kang Suta, Kang Nala
Semua tandang
Mengerahakn kreativitas
Di kerajaan kecil
Yang bertahta di nama kita
Ah… puisi ini
Banjir ide
Namanya jug banjir
Airnya keruh
Penuh kecoak dan segala yang berserak
Serba buangan
Semoga mencerahkan…
November 24, 2008 10:27pm
Still I Rise by Maya Angelou
You may write me down in history
With your bitter, twisted lies,
You may trod me in the very dirt
But still, like dust, I’ll rise.
Does my sassiness upset you?
Why are you beset with gloom?
‘Cause I walk like I’ve got oil wells
Pumping in my living room.
Just like moons and like suns,
With the certainty of tides,
Just like hopes springing high,
Still I’ll rise.
Did you want to see me broken?
Bowed head and lowered eyes?
Shoulders falling down like teardrops.
Weakened by my soulful cries.
Does my haughtiness offend you?
Don’t you take it awful hard
‘Cause I laugh like I’ve got gold mines
Diggin’ in my own back yard.
You may shoot me with your words,
You may cut me with your eyes,
You may kill me with your hatefulness,
But still, like air, I’ll rise.
Does my sexiness upset you?
Does it come as a surprise
That I dance like I’ve got diamonds
At the meeting of my thighs?
Out of the huts of history’s shame
I rise
Up from a past that’s rooted in pain
I rise
I’m a black ocean, leaping and wide,
Welling and swelling I bear in the tide.
Leaving behind nights of terror and fear
I rise
Into a daybreak that’s wondrously clear
I rise
Bringing the gifts that my ancestors gave,
I am the dream and the hope of the slave.
I rise
I rise
I rise.
My review:
I have always been Maya Angelou’s reader until now and will always be. I don’t want to give much ado… This poem always becomes my energy. The diction is so trmendously powerful to my soul. The structure of he poem itself brings confidence to me. And, the meaning is so much empowering and encouraging.
Maya, if only Time saves a road for me, I will meet and hug you for a thank-you 🙂
BERKILO-KILO
Hidup tanpa beban masalah bagai sayur tanpa ampas. Bayangkan jika sup Anda hanya berupa kaldu berasa ayam dan bumbu tanpa ada sayur-mayur atau bahan lain mengambang dan/atau menyelam didalamnya. Alangkah lezat tapi tidak enaknya.
Kalau boleh berumpama, kadang hidup terasa mengantongi berkilo-kilo besi dalam perjalanan panjang. Ingin rasanya mengeluarkan semua tumpukan besi itu dan berjalan lempang ke arah terang namun apa daya berkilo-kilo besi itu memang bagian hidup.
Sempat saya berkhayal bagaimana seandainya disuruh mendukung kapas saja. Alangkah ringannya. Alangkah cepatnya perjalanan mencapai tujuan.
Siapa yang tak mau hidupnya enteng? Siapa yang tak mau bebannya diringankan? Siapa yang tak mau perjalanannya singkat dan lancar? Insya Allah, semua tak bakal menolak.
Tapi, segera kembali pikiran ini menggeletar. Berkilo-kilo besi di saku. Berkilo-kilo kapas di punggung. Mana yang mesti dipilih?
Sekarang saya merasa sedang menanggung berkilo-kilo besi di sekujur tubuh sembari mendamba menjadikan besi itu kapas saja. Rupanya saya telah berpikir tentang hal bodoh secara bodoh. Saya telah teken kontrak dengan kehidupan ini bahwa saya akan menanggung sekian kilo beban. Apapun beban itu berupa, beratnya pasti sesuai dengan kesanggupan yang saya tandatangani, sesuai dengan peran dan pilihan-pilihan yang saya tentukan.
Alangkah bodohnya saya. Apa bedanya berkilo-kilo besi dan berkilo-kilo kapas jika ternyata beratnya sama. Bahkan menurut saya berkilo-kilo besi jauh lebih ringkes (tak makan tempat, bahasa Jawa) daripada berkilo-kilo kapas yang pasti jauh lebih rowa (memakan tempat, Bahasa Jawa).
Apa jadinya kalau mesti mendukung berkilo-kilo kapas di punggung? Sudah lah berat, makan tempat pula.
Berarti menanggung berkilo-kilo besi ini jauh lebih patut disyukuri daripada mengharap kapas dengan berat yang sama.
Ah, namanya juga manusia. Maklum kalau angan-angannya sungguh tinggi walaupun kenyataannya apa yang dimilikinya telah pas dengan status dan posisinya.
Nggak ada pilihan lain kecuali nikmati saja. Ayo bersyukur yuuuk…
November 17, 2008
8:39pm
DUNIA MAYA TAK AMAN LAGI BUAT SAYA
Barusan saya nangis sejadi-jadinya telungkup di keyboard laptop saya. Nggak peduli ntar basah atau kepencet trus error. Kali ini saya benar-benar jengkel.
Untuk kedua kalinya Friendster saya dijahilin orang. Sudah 3 kali saya sign-up di Friendster.
Account saya inilah yang bikin saya nangis karena hari ini saya menemukan bahwa saya tidak punya teman lagi sama sekali. Satu-satunya featured friend-pun account-nya tidak bisa saya akses karena dikunci dan ternyata saya bukan lagi teman dia. Dan, lebih kaget lagi setelah log-out dan coba log-in lagi udah nggak bisa – info yang masuk: password saya udah ganti. Ya, Allah. Apa lagi ini?
Dunia maya ini teman saya yang paling menyenangkan saat ini, kenapa dilumpuhkan juga???????????????????????????????????
Sebegitu jahatnya kah orang-orang yang gape IT ini? Apa mereka mendapat kepuasan dengan mengganggu hidup saya? Kalau mereka benci saya, tidakkah ada cara yang lebih beradab daripada menggilas saya yang sudah begitu banyak kehilangan teman dalam satu setengah tahun terakhir ini karena saya harus berkorban demi seseorang yang kurang menyukai mereka? Kalau mereka hanya iseng, apa gunanya?
Mau membuktikan kelihaian Anda? Tidak terbukti!!! Karena Anda hanya bisa membuktikan kelemahan akhlak Anda? Ingin menunjukkan pada saya bahwa Anda IT-talent dan saya gaptek? Toh, Anda hanya bisa membuat saya jengkel.
Ok, kalau Anda kenal saya, saya bersyukur karena Friendster account saya hanya diisengin oleh teman saya tapi saya berdoa semoga Anda dikalahkan oleh kepongahan Anda.
Kalau Anda tidak mengenal saya, semoga Anda dihabisi oleh kepongahan Anda.
Saya berdoa satu kali untuk hacker brengsek ini, tak akan saya ulangi doa itu. Sekali doa, sekali amin, sampai kapan pun tidak terima.
November 15, 2008
7:33pm
CASTING BINTANG SINETRON
Akhir pekan lalu saya (secara nggak sengaja) nonton casting bintang sinetron di sebuah mall.
Seperti kata sang pembawa acara minat masyarakat Tangerang jauh lebih rendah dibanding masyarakat Bekasi dan Jakarta dalam keikutsertaan mereka dalam casting bintang sinetron. Dengan mantap Mas MC mengatakan,”Mungkin karena orang Tangerang belum terlalu sadar pentingnya entertainment kali ya… Jadi hari ini hanya ada 3 peserta casting bintang sinetron! Tepuk tangan!!!”
Pertama seperti biasa pembawa acara memanggil sang castee lalu sang castee memperkenalkan dirinya dengan pede setengah malu-malu. Dan kemudian ada sebuah tugas acting yang didaulatkan kepada sang castee.
Mereka hanya diberi sebuah situasi, mereka harus mengembangkan situasi tersebut dan berlagak lagu di hadapan para pemandu bakat dan para penonton yang tak segan menertawakan dan mencela dengan sadis.
Peserta pertama: seorang ABG lelaki yang ditugasi berakting MARAH. Begini kira-kira yang saya rekam.
“Hey, luh yang disana! Ngapain lu liat-liat gueh?” teriaknya marah.
“Iyeee…” teriak penonton sambil ngakak.
“Emangnya gueh lucuh?” teriaknya agak kehilangan marah.
“Iyeee…” teriak penonton lagi sambil ngakak juga.
“Emangnya gueh aneh?” teriaknya sambil menahan tawa.
“Iyeee…” teriak penonton dengan tawa yang makin meledak.
“Emangnya ha gueh ha gueh marah nih!” Kata “ha” melambangkan tawa yang tertahan.
Penonton makin tergelak.
Peserta kedua adalah seorang ABG perempuan, sekitar 15 tahun. Imut. Dia didapuk menjadi anak tiri yang disekap dalam kamar mandi oleh ibu tirinya. Haduhhh, kalau saya jadi ibu tiri mungkin jadinya malah saya yang disekap sama anak tiri ha ha ha…
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuu…” teriaknya sambil memaksa diri menangis.
“Apaaaaaaaaaaaaaaaaa…” jawab penonton kencang-kencang.
“Ibuuu…” teriaknya mulai menangis.
“Apaaa…” jawab penonton pura-pura menangis.
“Ibu… Tolong aku… Aku disekap dalam kamar mandi…” teriaknya sudah dengan menangis.
“Apaa… Kuncinya ilang! Kamu lompat dari atap aja!” teriak seorang penonton kencang sekali. Yang lain terbahak-bahak.
“Mengapa aku disekap? Mengapa ibu tiri begitu kejam? Mengapa?”
Mengapa melulu sih? Makanya jangan badung-badung ha ha ha…” Beberapa orang berteriak kencang lagi.
“Ibuuu… Tolong anakmu… Anakmu disekap… Tolong aku ibuuuu…” si ABG ini melolong-lolong, suaranya mengiris hati. Saya sampai merinding.
Sebenarnya merinding bukan karena suara dan rintihannya tetapi lebih ke pencitraan kekejaman ibu tiri. Tak sedikit ibu tiri yang baik dan mungkin bisa saja tak kalah baik daripada ibu kandung. Teman sekantor saya (dulu) diasuh oleh ibu tiri dan bapak tiri sekaligus dan tumbuh menjadi anak yang mandiri, cerdas dan sukses. Fyi, ketika ibu kandungnya meninggal sang ayah menikah lagi. Namun tak lama kemudian sang ayah menninggal dan akhirnya si ibu tiri ini menikah dengan lelaki yang lain. Pasangan orangtua tiri inilah yang mengasuh mereka. Kok jadi ngomongin ibu tiri dan bapak tiri he he he…
Dan, peserta terakhir ternyata tidak datang. Hanya tinggal dua peserta saja yang telah berhasil menghidupkan suasana foodcourt yang biasanya hanya ramai dengan denting gelas, piring dan sendok garpu atau musik mengalun memanjakan telinga pengunjung.
Maka ditentukan oleh pemandu bakat bahwa pemenangnya adalah si gadis yang tersekap dalam kamar mandi yang hilang kuncinya. Dia akan dikirim ke Grand Final di mall lain.
Saya sempat melihat si gadis melompat kegirangan memeluk ibu dan (saya tebak) teman-temannya.
Saya tersenyum. Saya ingat dulu waktu latihan teater, Mbak Ummi (pembimbing teater di es em pe negeri Kalangbret) menasehati kami untuk memerankan lakon sewajarnya.
“Jika harus berakting marah, marahlah karena alasan yang biasanya membuat kamu marah. Ketika kau sedih, sedihlah semata kau tahu kau sedang bersedih. Ketika kau takut, jangan kau buat-buat ketakutanmu. Biarkan peranmu keluar dari jiwamu, jangan dibuat seakan sedang marah, seakan sedih atau seakan takut.”
Sebab akting yang berlebihan hanya akan merusak penjiwaan kami terhadap peran yang dilakonkan.
Semua memang harus sewajarnya. Jangan menahan kebahagiaan, jangan menahan keriangan, jangan menahan kemarahan, jangan menahan kekecewaan. Lakoni dengan wajar sesuai waktu dan porsinya. Niscaya kita berhasil menjiwai peran kita di dunia.
Semoga bermanfaat. J
November 2008
In the middle of the night

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA
Membaca beberapa baris dari buku Pram (Pramoedya Ananta Toer); saya merasa disentil untuk berpikir ulang sebagai orang Indonesia Jawa, inlander kata Tuan Besar alias Meneer Daendels dkk.
Nggak nyangka ada kajian semacam ini di kalangan wong Walanda (orang Belanda, Bahasa Jawa). Sementara ini saya hanya tahu bahwa Belanda kesini semata karena kebutuhan mereka akan hasil alam dan penyebaran ideologi yang mereka genggam tanpa pengkajian budaya kita sebagai inang dari parasit yang bernama kompeni Belanda itu. Setelah membaca bagian ini yang ada tinggal rasa penasaran untuk mengkaji lebih dalam tentang kejawaan (baca: ke-inlander-an) yang tersisa dalam diri saya.
Mengapa di Jawa dan bukan di Ambon atau di Sulawesi atau di pulau lainnya? Ternyata ada juga sebab lain mengapa Belanda dengan V.O.C.-nya dan para kompeni itu milih di pulau kecil tapi sesak manusia ini.
Maaf jika nantinya primordialisme tertangkap tanpa zoom karena kesannya hanya menyangkut suku bangsa tertentu (Jawa); saya hanya ingin memaparkan bagaimana Belanda kok krasan dan gendut disini.
Kita punya sejarah yang tua dan berkembang, kaya dan terorganisir, namun sekaligus tanpa arah yang konsisten dan solid. Semoga kesan yang Anda tangkap jauh lebih baik. J
Berikut adalah percakapan antara Jacques Pangemanann (tokoh aku, seorang Menado, Komisaris Besar yang ditugasi menangani Minke dan S.D.I.-nya) dengan Tuan L. (Belanda totok, muda, seorang arsivaris).
“Apa sebab Tuan mengambil Jawa sebagai pokok?”
“Ada rahasia yang sampai sekarang belum juga dapat aku pecahkan, Tuan. Membuat hipotesa sederhana pun aku belum mampu. Cobalah temuan jawabannya: Apa sebab dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah bangsa jawa jauh lebih tinggi daripada latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan-warisan kebudayaan lebih banyak, pada suatu kurun sejarah tertentu? Malahan dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa Eropa tertentu dalam bidang-bidang tertentu? Ha, aku lihat Tuan terheran-heran.”
Aku tidak terheran-heran. Setiap kali seorang pembesar memuji-muji kelebihan bangsa jawa dibandingkan bangsa Hindia yang lain, ada sesuatu yang mengganjal dalam perasaanku. Aku tahu pada suatu kali tentu aku membutuhkan ilmu dan pengetahuan tentang bangsa jawa. Maka sekarang aku harus melayaninya sedang ia naik semangat bicara tentang Jawa.
“Tidakkah itu,” tanyaku.
“Disebabkan karena kekuasaan Belanda di Hindia memusat di jawa sejak semual?”
“Kenyataan justru sebaliknya, tuan Pangemanann. Adminstrasi Hindia Belanda dipusatkan di jawa, justru karena sebab tersebut. Jawa sebelum datang orang Eropa sudah punya organisasi sosial yang menyebabkan mungkinnya kesejahteraan sosial ekonomi dan kebudayaan.”
“Kalau setinggi itu puji-pujian Tuan pada bangsa Jawa, mengapa mereka toh dapat dikalahkan oleh bangsa Eropa?”
“Panjang persoalannya, Tuan,” ia angkat gelas brendinya dan disentuhkan pada gelasku,”Semoga Tuan akan sukses sebagai ahli kolonial!”
“Dan sukses untuk Tuan sebagai ahli Jawa,” jawabku.
…
“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbed
aan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannnya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip.”
“Tuan mengada-ada lagi,” kataku memancing lebih lanjut.
“Sebaiknya Tuan belajar tentang Jawa. Setiap ahli kolonial Hindia mempunyai persoalan bangsa yang luar biasa ini. Tentu aku tidak mengada-ada, Tuan. Bangsa ini sendiri yang meninggalkan jejak-jejaknya, bukan sekedar dalam batu dan tembaga atau cerita-cerita omong-kosong. Bagaimana watak seperti itu muncul tentu disebabkan karena perang ke perang tak habis-habisnya. Orang merindukan perdamaian, maka orang pun meninggalkan prinsip. Penyair besar di masa Hayam Wuruk, abad empatbelas, Mpu Tantular, Tuan, telah merumuskan watak penyesuaian ini dalam sebuah bait dari syair-syairnya.”
“Syairs?!” seruku tidak percaya.
“Ya, Tuan, syair tertulis dalam abad ke empatbelas. Begini kira-kira terjemahannya: Buddha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva, yang tertinggi di antara dewa-dewa. Buddha yang dimuliakan adalah alam semesta. Bagaimana mungkin menceraikannya? Wujud Jina dan wujud Shiva adalah satu. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan.” … Penyair lain dalam masa yang sama, Prapanca, yang pada waktu itu juga superintendent gereja Buddha Jawa, menulis syair Negarakertagama, menulis dalam kedudukannya yang tinggi itu, kedudukan bertanggung-jawab. Dia juga mempersatukan Shiva dengan Buddha. Itulah arus umum ke arah kompromi, melupakan prinsip-prinsip.”
“Tapi itu persoalan agama, Tuan,: bentakku.
“Pada jamannya, Tuan, agama itu adalah juga politik, soal kekuasaan. Bukankah demikian juga di Eropa dalam jaman yang lebih muda? bukankah 80 tahun di Nederland melawan Spanyol adalah Protestantisme bertahan terhadap Katolisisme, yang melahirkan Nederland menjadi negara merdeka? Juga di Jawa, raja yang satu digulingkan oleh raja yang lain karena kelainan agama, yang satu pengikut Vishnu, yang lain Shiva dan seterusnya.”
Aku dapat mengerti, tetapi bahwa orang Jawa sudah menuliskan syair dalam abad ke empatbelas …
“Mereka sudah menulis waktu sebagian terbesar bangsa-bangsa Eropa sekarang masih buta huruf, Tuan. Bukti menunjukkan peninggalan-peninggalan tulisan mereka dari abad ke delapan. Dalam abad itu bangsa Belanda baru berkenalan dengan agama Nasrani, baru mengenal tulisan dari kejauhan, belum lagi dapat membaca, malahan mereka membunuh penyebar injil golongan termula, Bonifacius. Bukankah begitu?”
Dengan sejujur hatiku aku akui orang ini tahu mendalam tentang Jawa di masalewat dan Jawa di masasekarang.
…
“Pemikiran resmi pada waktu Majapahit justru sampai pada puncak perkembangannya, adalah salah satu unsur kematian bangsa itu sendiri, bersumber pada Prapanca dan Tantular. Orang semakin tidak mengindahkan prinsip. Begitu juga waktu Islam masuk ke Jawa nyaris seratus tahun kemudian. Orang mencari kesamaan antara Shiva-Buddhisme dengan Islam. Juga Islam diterima tanpa prinsip, diambil syariatnya. Dalam puluhan tahun terbiasa meninggalkan prinsip ini Eropa datang, Eropa yang justru berkukuhan pada prinsip. Orang Eropa lebih kecil jumlahnya, tapi menang prinsip.”
(dikutip dari novel RUMAH KACA, Pramoedya Ananta Toer)
Semoga bermanfaat.
November 12, 2008 – 11:44pm
KEMBALI KE TRACK AWAL
Akhir-akhir ini banyak tulisan kontak yang mengangkat topik teman, saya sendiri juga. Rasanya seperti diingatkan kembali bahwa dimana pun berada seseorang tidak akan lepas dari ketidakcocokan baik tentang hal kecil ataupun besar. Ketidakcocokan sebenarnya awalnya bukan benar-benar ketidakcocokan melainkan karena salah paham dan sikap yang kurang terbuka untuk mengakui kesalahan atau untuk mengingatkan teman atas kesalahan tersebut.
Saya sendiri merasa harus mengkaji ulang kembali apakah rasa percaya saya menjadi perekat pertemanan dan perkenalan atau justru membuat perasaan tak nyaman karena ternyata ada sebuah protes baik langsung maupun tak langsung tentang keramahan saya. Terima kasih kepada online buddy dan friend saya di MP yang sempat terganggu. Saya jadi bingung aja, kenapa gak ngomong langsung. Ngegosip udah jadi budaya rupanya bahkan untuk menyelesaikan masalah ha ha ha…
Apapun itu… maafkan saya.
Rupanya saya udah melupakan track saya. Ok, kembali ke khittah –track awal saya!!! Menulis…
SELAMAT HARI PAHLAWAN


KEANEHAN PADA MICROSOFT
(kalau hoax kok bener ya?)
Dari milis with magic. Saya udah nyoba, dan memang magical… J
MAGIC #1
Orang India menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membuat
FOLDER di komputer dengan program Microsoft manapun dengan judul folder
“CON”, “LPT1”, “COM1”. Cobalah dengan membuat sebuah folder dengan nama CON atau con. Bukalah My Document/File/New/Folder lalu ketik CON atau Con atau con. Apa yang terjadi?
MAGIC #2
Bagi anda para pengguna Windows, lakukanlah hal berikut ini:
1) Buka sebuah notepad file kosong
2) Ketiklah “Bush hid the facts” (tanpa tanda kutip ya)
3) Save di mana pun anda suka
4) Tutuplah dan bukalah kembali file tersebut.
Aneh bukan?
MAGIC #3
Microsoft Crazy Facts
Cobalah hal yang menarik ini, sungguh aneh! Bahkan Bill Gates sendiri
tidak menemukan jawabannya kenapa ini bisa terjadi! Hal ini ditemukan oleh
orang Brazil. Cobalah!
1) Buka program Microsoft Word dan ketik: =rand (200, 99)
2) Kemudian anda ENTER
Apa yang anda temukan? Menarik bukan? Coba aja…..
OK, FINE
Some can accept us as we are
Some cannot understand our signs
Some want us to be their friends
Some don’t want us to be in their circles
So, what?
It is life
I can choose
I might not be chosen though
They may choose
They might not be chosen though
So, what?
It is life
I will enjoy it the way I am
With
Or
Without
…
November 9, 2008 – 7:11pm
KERAMAIAN YANG MENGASINGKAN
Saat ini saya sedang menikmati akhir pekan sambil nongkrong di mall, nyari hot spot. Bosan juga nge-net di rumah, pengen suasana beda, yang ramai cenderung riuh, yang berbau makanan dan yang dekat toko buku. Lagi-lagi WTC Serpong karena Lippo Karawaci jaraknya bikin letiiih…
Makan dulu, ternyata nyari tempat susah. Ruame banget. Naik ke Gramedia, setelah mencuri baca beberapa komik Asterix dan bayar buku, saya cek movie yang ternyata masih memajang Journey to the Center of the Earth sebagai CO-MING-SO-ON. Ya akhirnya saya kembali lagi ke foodcourt untuk mencari tempat yang pas untuk nge-net.
Ternyata sedang ada lomba modern dance, lomba mewarnai dan casting bintang sinetron… Lomba modern dance dan mewarnai tak asing lagi tapi casting bintang sinetron ini bikin saya penasaran buanget. Kayak apa sih? Apa kayak dulu ketika saya celemongan di dunia teater saat masih usia es em pe. Kalau ya, berarti biasa aja. Kalau beda, bedanya dimana mau tahu (di postingan berikutnya).
Acara lomba mewarnai sudah dimulai sejak pagi. Sekarang lomba dance dimulai. Wow, dari kejauhan penarinya meliuk-liuk. Hebat anak muda sekarang. Kreativitas nge-mix jenis musik demi background gerakan mereka keren abisss. Exposure terhadap gerakan sangat luas; menilik ketika saya masih es de dan es em pe bisanya cuma nari Gembira, Gambyong, Pendet dan Legong ha ha ha… pakai kemben dulu sudah seksi abis, sekarang para penari itu bajunya hmmm… seksinya alamakjan, apa ibunya gak nonton ya anak perempuannya hampir telanjang gitu, udah gitu jogetnya seksi abisss boo… Mbak Inul dan Mbak Persik kalah dah.
Tentang casting bintang sinetron, menurut pembawa acara, ada yang berbeda dari Tangerang. Katanya di Tangerang peminat casting-nya jauh lebih sedikit daripada di Jakarta dan Bekasi. Saya jadi mmikir, apa benar kata sang pembawa acara bahwa Jakarta dan bekasi masyarakatnya lebih melek entertainment. Orang Tangerang belum terlalu butuh hiburan.
Wow… Kalau ya, saya akan sangat bahagia karena termasuk dalam golongan orang yang tak banyak membutuhkan hiburan dengan kata lain saya termasuk orang yang tingkat stres-nya lebih rendah dibanding teman-teman lain di Jakarta dan Bekasi. Alhamdulillah…
Saya kembali lagi memelototi layar laptop saya masih dengan posisi meja menghadap panggung yang sudah tak terlihat lagi dipagari kerumunan penonton yang tersirep para penari muda tersebut.
Saya mikir sambil browsing. Apa saya terlambat mengikuti perkembangan jaman? Atau memang saya harus rela digilas perubahan jaman? Atau saya harus merubah jaman sesuai dengan tata nilai yang saya yakini? Memangnya siapa saya? Mendidik diri sendiri saja masih belepotan, mau ngatur orang lain.
Saya juga mikir apa orang-orang itu sebegitu cepatnya membuka dirinya terhadap perkembangan jaman sehingga kesannya mereka begitu permisif terhadap apa saja yang berbau gemerlapan berbungkus “kemajuan jaman”.
Lalu apa sebenarnya kemajuan jaman itu sendiri? Ataukah yang sesungguhnya maju itu justru mundur
Tanya berkelebat seperti kilatan cahaya memenuhi benak, berloncatan melintasi quantumnya, membentuk kulit atom yang menyihir saya menjadi makhluk kerdil dengan kepala bertengkorak kaca kristal tak ditumbuhi rambut.
Ah, dunia ini makin tua dan aku makin asing disini.
November 9, 2008 – 3:38pm
Foodcourt WTC Serpong
TIADA GARIS MELAINKAN TITIK
(esensi benda yang tak sesungguhnya absolut)
Mili, senti, desi, meter, deka, hekto, kilo…
Apa kau menamakannya jika bukan satuan panjang?
Panjang yang kau lewati ialah jarak?
Jarak bukan ruang sebenar
Dia sekedar jeda antara dua titik yang mesti kutempuhi
Selagi kau menimbang berat dacinmu
Sebagai imbalan terwujudnya anganku
Ada garis menghubungkan dua titik
Garis lurus atau lengkung
Garis nyata atau abstrak
Ruas kunyit kau hitung garis, juga ruas bambu dan tebu.
Seruas kunyit berasa getir.
Seruas bambu berasa tawar.
Seruas tebu berasa manis.
Tapi
Ketika belum meruas,
Kau sebut apa jika bukan dua titik bertumpu satu?
Atau satu titik berpribadi dua?
Adakah getir kunyit?
Atau tawar rebung?
Atau manisnya tebu?
Titik menjauh terbawa regangan masa.
Titik mengembang terisi pulasan rasa.
Masa dan rasa memanjangkan banjaran titik
Sambung menyambung menjadi sebilah garis
terukur satuan nisbi.
Kau sebut titik itu kecil?
Sekecil apa?
Bolehkah bulatan yang kau pijak ini kusebut titik –
Padahal ada bertrilyun garis melintang pukang?
Atau boleh kusebut jarak antara kita dengan Batara Surya itu garis
Sedangkan multi galaksi tak hingga
Mengingkari sang bola api raksasa?
Mata mensuperiorkan garis
Titik tersipu di balik kejujuran hatimu
Garis memeluk titik dalam buai rahasianya
Titik menjunjung garis dalam kekuatan rahasianya
Mana yang kau mau dalam keberadaanku? Sebagai titik atau garis?
Atau keduanya?
Tiada garis melainkan titik.
November 3, 2008 – 3:44pm
Gambar merupakan sebuah struktur kimia apabila dilihat oleh mata telanjang berbentuk benda.
DEG-DEGAN
Lagi deg-degan menunggu sesuatu yang dibilang pasti enggak, dibilang nggak pasti kok udah ada tanda-tanda kepastian. December? January? May?
Ya deh, may be yes may be no.
Pikiran jadi berkabut. Pengennya hanya kerja keras, ngumpulin uang sebanyak-banyaknya biar bisa beli buku banyak, beli rumah dengan halaman cukup luas buat nanem bunga anggrek dan pohon jamblang putih, mengakali dunia dan nyenengin orang-orang tersayang.
November 6, 2008 – 9:28pm

JADI PREMAN SESAAT
Suatu malam di penghujung October 2008, saya mau tak mau harus minta tolong abang becak lagi untuk mengantarkan saya bawa belanjaan masuk komplek. Saya agak amazed melihat abang becak yang berpenampilan rapi. Hem putih, celana katun dan bersepatu. Ada perasaan aneh menggayuti pikiran saya. Kayaknya abang ini bakalan sial deh, pikir saya.
Saya tidak langsung pulang melainkan mampir dulu ke Bu Prayogo, tetangga yang dulu pernah melayani jasa catering untuk saya dan teman-teman kantor. Setelah ngobrol tentang beberapa hal, saya pamit pulang. Setelah ritual pulang kantor selesai, saya mencari-cari handphone yang biasanya ada di saku dalam tas.
Wow, nggak ada. Di meja, nggak ada juga. Di tumpukan buku yang sedang saya baca, nggak ada. Segera saya bergegas ke tempat cucian; duh, jangan-jangan kerendem. Alhamdulillah tak terendam; karena memang nggak ada disana. Semua sudut saya gerayangi dan tidak ada penampakan.
Rumah Bu Prayogo…
“Tiwi… Ibu… Trayen…”
“Iya, Mbak?”
“Ada handphone saya ketinggalan nggak?”
“Enggak tuh.”
“Tadi saya duduk di meja makan.”
“Nggak ada tuh, Mbak…. Masuk aja, Mbak.”
Ternyata memang nggak ada. Wah, pasti ketinggalan di becak nih.
Dengan segera saya menuju pangkalan becak Mang Kosim dan mereka bergegas “mengawal” saya menuju pangkalan depan komplek.
“Permisi, Abang tadi yang ngantar saya ya?”
“Oh, iya Neng.”
”Ada handphone ketinggalan di becak Abang nggak?”
“Enggak Neng… Saya tadi nggak sempat periksa, Neng.”
“Abang setelah ngantar saya masih narik lagi apa kosong sama sekali?”
“Ada narik satu lagi, Neng. Kali aja penumpangnya yang nemu…” Si abang becak berhenti lama namun tiba-tiba berseru,”Eh, itu Neng mungkin temen saya Aziz tahu. Tadi habis saya narik, dia sempat ngelongok ke becak trus duduk sebentaran eh, terus nggak tahu kamana sampai sekarang teu kelihatan. Pedahal biasanya mah nongkrong di dieu sampai malam. Tidurna juga di dieu.”
“Aziz-nya dimana?” tanya saya.
“Teu ngartos, Neng. Saya yakin Aziz tahu, Neng. Saya mah sumpah pakai Quran juga berani. Begini ini saya kena getahnya.”
“Lho, Bang. Saya kan cuma nanya. Kalau abang nggak tahu ya nggak papa, tapi sekarang saya mau tanya rumah Aziz mana?”
“Di kontrakan.”
“Kontrakannya mana?” saya mulai mendesak.
“Dia mah tidurnya di dieu.”
Wah… Rusuh nih si abang. Terpaksa saya main ancam. Saya bilang saya mau lapor polisi tapi rupanya dengan sigap dia mengingatkan bahwa saya nggak bisa seenaknya karena nggak ada bukti. Hmm… Benar juga kalau gitu.
“Mang Kosim, anterin saya ke kiai kek, pusing deh urusan sama orang nggak takut dosa.” Saya segera naik becak Mang Kosim. Mang Kosim sendiri kebingungan dan mengarahkan becak ke arah… kantor polisi ha ha ha…
“Neng, Neng, Neng… Tunggu. Saya carikan Aziz dulu,” teriak abang becak yang tadi mau disumpah Al Quran.
Setelah lama berselang Aziz tak juga tiba bahkan setelah para abang becak melesat bersama becak-becaknya karena ketakutan pada tuah kiai. Padahal kiai siapa saya juga tak kenal ha ha ha… Mang Bogang ikut tertawa sesudah kejadian itu.
Tak berapa lama tukang parkir yang tadi janji pada saya untuk mencari Aziz tiba.
“Teh, si Aziz udah ketemu tapi malah pergi ke arah selatan ke Babakan sama si Rusdi. Gini aja, Teh. Kalau nanti handphone-nya ketemu Teteh mau memory card atau SIM card-nya saja?” tanya si tukang parkir dengan percaya diri.
Saya mulai naik pitam. Enak saja ini gerombolan lelaki mempermainkan saya.
“Eh, Mas. Saya kesini nanyain handphone saya ketinggalan di becak atau enggak. Kalau memang kalian nggak lihat ya sudah, jangan dioper-oper ke Aziz lah ke Rusdi lah. Lagian ngapain saya mau memory card atau SIM card? Saya itu ketinggalan hape bukan kartu doang!!! Ok, kalau tukang becak yang sering saya sewa becaknya nggak mau bantu, saya juga bisa bertindak kasar. Jangan mentang-mentang saya perempuan ya!”
Seketika saya ingat bahwa saya punya teman yang punya pengaruh di kalangan pedagang dan tukang becak dalam komplek (tukang becak yang berurusan dengan saya adanya di pintu komplek). Saya segera melesat menuju Blok A2.
“Assalamu’alaikum… Aji, Aji… bukain pintu dooong. Aduh tolongin gue dong. Masak handphone gue mau ilang lagi. Itu ketinggalan di abang becak Ceria Mart tapi nggak ada yang mau ngaku malahan handphone gue di-bargain-bargain.” Saya berondong teman se-gang saya dengan request maksa.
“Halah… Kenapa nggak dari tadi sih? Ini udah jam sepuluh lewat gue udah mau tidur.”
“Ya, udah kek. Tidurnya entaran aja. cepet keburu handphone gue dilelang. Mereka kayaknya udah bawa ke counter di Babakan.”
“Sapa nama abangnya?”
“Aziz.”
Dari jauh abang becak yang bergerombol kelihatan makin banyak. Tadinya hanya enam, sekarang sekitar 10 orang. A
duh, ntar kalau ada apa-apa kami cuma berdua nih.
“Eh, siapa yang lihat hape temen saya?”
“Ah, eh, Pak Haji. Itu si Aziz, Pak Haji. Ini si eneng temen Pak Haji?”
“Iya. Mana Aziz-nya? Kenapa nemu handphone nggak dibalikin ke yang punya? Kalian kan makan dari orang komplek kenapa masih mau dimakan juga?”
“Ini Pak Haji, si Aziz tadi yang simpen.”
“Ya kan kamu tahu eneng ini rumahnya mana kok nggak cepet dibalikin. Trus kemana Aziz sekarang? Ntar kalau macem-macem nggak usah lah mangkal disini lagi.”
“Iya, Pak Haji nanti saya suruh Aziz ke rumah Pak Haji.”
“Jangan ke rumah saya. Ke rumah si eneng ini. Cepet. Apa mesti didodor satu satu ini sama Pak RW?”
“Iya Pak Haji.”
“Cepet!”
Pukul 10:45 malam Aziz datang membawa handphone saya yang sudah sempat menjadikan saya preman amatiran. Melihat wajahnya saya nggak tega. Saya selipkan lembaran pink di telapak tangannya yang terasa dingin sekali. 100 ribu itu ide si Aji – nama aslinya Haryanto tapi karena sudah haji, kita panggil dia Aji aja biar gampang he he he…
“Terima kasih, Teteh. Saya nggak…”
“Udah, udah… Gua udah ngantuk nih. Besok aja lu datang ke tempat gua ya. Gua tunggu,” potong Aji sambil beruluk salam.
Kerumunan itu pun bubar dan saya segera kabur ke kamar. Terkenang gaya preman saya yang sempat berhasil ketika saya memaki kata “kiai” dan tidak mempan ketika saya memakai kata “polisi”. Saya berpikir apakah memang mantra kiai lebih sakti daripada interogasi polisi ya?
Belum lama saya dengar Aji memperingatkan Aziz kalau begitu lagi nggak akan dikasih pinjam uang. Halah… Hidup ini indah ya kalau semua orang jujur.
Bersyukur saya bisa jadi preman walaupun harus nyatut nama agama. Makasih Aji. Makasih “kiai”. J
November 4, 4:28am
Based on true story di akhir October, 2008
PERMAINAN DAN SENDA GURAU
Terimakasih kepada para manusia yang dengan senang hati menangisiku dengan pengharapan, menampariku dengan pencapaian, merongrongku dengan keceriaan, meludahiku dengan ilmu.
Kalian tak lain hanyalah anak panah waktu sedangkan aku seekor burung di ujung penglihatanmu. Kita tak kunjung lelah berkejaran sebelum sang penunggang kuda mengistirahatkan lengan dari busurnya.
Kau permainannya, aku senda guraunya.
November 3, 2008 – 4:06pm
Terbang seperti burung
Berputar seperti gasing
Berdesing seperti peluru
Mendesis seperti semburan kembang api
Melintas di jalur lurus (yang pasti berbelok)
Tass!!!
Kutersungkur kesakitan.
Lemparkan saja
Kutahu kau memburu ketabahanku
Kusadar kau menginginkan keikhlasanku
Kucium rencanamu—
Membuatku tak berdaya di tempatku—
Supaya tak mengikuti langkahmu
Amboi…
Kau lupa kau bukan orang Aborigin
Yang ahli melemparkan boomerang dan menangkapnya
Sebentar lagi instrumen itu kembali pada punggungmu
Tass!!!
Kau tersungkur kesakitan.
Aku masih tersenyum geli
Melihat mata sombongmu mengemis
Mendapati jiwamu meronta
Memanggilku dalam diam
Haruskah kutertawakan si pengirim boomerang
Atau kutolong ia walau telah melukaiku?
November 2, 2008 – 6:29pm


MEMBANGUN BERARTI MENGHANCURKAN
(ironi kehidupan terkasar yang pernah saya maknai)
Tak jarang pembangunan membikin orang miris karena ternyata ada bagian dari masa lalu yang harus dikorbankan oleh pembangun(an). Filosofi ini agak ironis (boleh juga dibilang ngawur) tapi perlu dipahami bahwa petak hidup ini kadang hanya bisa subur dengan eksistensi rantai ironi (dan galengan* ngawurisme).
“Membangun berarti menghancurkan” adalah ironi terkasar yang pernah saya pahami dan maknai sampai saat ini. Pembangunan yang saya maksud bukan hanya berkaitan dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh para penggede yang kerjaannya ngurusin** rakyat. Yang saya maksud adalah segala pembangunan dan segala pembangun. Nah, sebutkan Sudara, pembangunan mana yang tidak pakai menghancurkan?
Jika Anda ingin membangun rumah, Anda terlebih dulu harus menghancurkan lapisan-lapisan tanah untuk keperluan pondasi atau Anda hanya sekedar menghancurkan bagian tertentu rumah atau bangunan lama. Tanpa itu, Anda tidak mungkin membangun kecuali Anda membangun rumah diatas genteng tanpa menghancurkan apapun. Mustahil karena perangkat pembangunan pun didapat dari hasil merusak; katakan lah batu bata dibuat dengan cara mengeruk permukaan tanah yang seharusnya bisa ditanemin kacang-kacangan.
Jika Anda ingin membangun sistem baru maka Anda mesti merombak (baca: menghancurkan) sistem lama dengan atau tanpa menghilangkan segelintir patahan sistem tersebut. Ganti orang kadang tidak perlu asal mereka masih bisa diberdayakan sebagai mur dan baut dalam mesin yang anyar (menurut para ahli lho).
Jika Anda ingin membangun jalan baru maka harus ada pengrusakan hutan, pemangkasan bukit, penggusuran warung atau pagar atau bahkan teras dan ruang tamu orang yang bahkan selama hidupnya mungkin belum pernah mengganggu kenyamanan manusia lain termasuk keluarga Anda.
Maka, wahai Pembangun, yang merajai kemuliaan fisik atau non fisik. Jangan pernah bilang bahwa pembangunan adalah untuk kebaikan semua orang. Mau tak mau, suka tak suka, ikhlas tak ikhlas, dalam jangka waktu pendek atau dalam kurun waktu lama atau bahkan selamanya akan ada orang lain yang Anda rugikan… karena pada sudut pandang mereka pembangunan yang Anda lakukan adalah perancangan sistem yang ideal hanya menurut sirkulasi daya pikirmu. Anda tak akan bisa memperbaiki sistem yang telah ada kecuali hanya secuil. Yang Anda bangun adalah peradaban sebagai pelarian dari sistem lama yang pernah membuat Anda tak puas.
Sekeras apapun kau berusaha membuat pihak-pihak tersebut mengerti tentang penting dan mendesaknya pembangunan tersebut mungkin tak akan berhasil sebab mereka tak mendapatkan dampak yang Anda iming-imingkan. Jika Anda tak bisa menjamin apa yang Anda ucapkan, cukuplah berikrar dan mencaci dalam hati saja. Biarkan saja korban Anda usang dimakan keserakahanmu.
Namun ingat dia akan berjuang melawan “kemungkaranmu” dan mengutuk Anda atau suatu saat menjadikan Anda korban dibangunnya sistem selanjutnya.
Tahukah Anda bahwa hikmah yang terpetik oleh pihak tersebut adalah: tersulutnya api juang demi membuktikan bahwa sistem Anda rapuh dan bobrok – tak patut berjaya. Dia akan mencabut akar-akar sistem Anda jauh lebih bersih daripada bersihnya Anda mencukur gundul perasaan optimis mereka – niscaya akar Anda hilang tanpa sisa dan didirikannya peradaban baru yang lebih sehat bebas dari cengkeraman pondasimu yang busuk dan membatu.
Pembangunan harus dimulai dengan penghancuran. Dimana posisi saya dan Anda? Tergantung seberapa perlu kita menjadi pembangun dan seberapa merugi kita sebagai korbannya.
Semoga bermanfaat dan membuat kita semua lebih bijak.
* galengan: pematang sawah (Bahasa Jaw
a)
** ngurusin: bisa berarti mengurusi atau bikin kurus (Bahasa Indonesia)
November 1, 2008 – 5:25pm (Blue03)


AKU INGIN
(kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)
AKU INGIN
Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Tak tahu kenapa akhir-akhir ini saya lebih menikmati menulis puisi daripada bentuk lainnya. Atau paling tidak kalaupun ada genre lain, tetap puisi yang saya share dengan orang lain. Saya hanya merasa puisi membuat saya lebih total berekspresi. Saya mempunyai ruang yang sangat luas untuk mengeksplor emosi saya dengan permainan kata-kata entah dipahami sebagai belati bermata dua atau kata-kata bersayap. Saya hanya ingin mengeluarkan apa yang sedang saya nikmati jauh di lubuk hati saya. J
Puisi Aku Ingin diatas muncul beberapa minggu terakhir dan kembali mengeruhkan secawan air yang telah sempat memjernih beberapa saat, siap untuk diminum. Apalagi setelah seorang MP-er nge-posting puisi ini beserta musikalisasinya; saya merasa air dalam cawan itu tak akan pernah saya minum. Akan saya pandangi sampai puisi berjudul Aku Ingin di dalamnya kembali mengendap.
Jika kemudian air berubah bening, puisi Aku Ingin itu akan terus berada di cawan hati. Dikala haus, kutuang cairan yang kuingini: air atau anggur lalu kulihat puisimu bertebaran dalam adukannya kemudian berputar berpusar mengendap mendiami dasar cawan hatiku. Baru kureguk sebagai pelepas dahaga. Aku Ingin telah menjelma obat disaat kusakit, racun disaat kusehat. Aku Ingin akan tetap di tempatnya hingga benar-benar tiada.
Sebegitu hebat Bapak Sapardi melambangkan kekuatan cinta. Bagai kayu kepada api; sebegitu pasrahnya sang kayu hingga terbakar habis pun tak mengeluh. Dibuatnya sang api menari ditup bayu hingga dia sendiri habis menjadi abu. Tidak kah romantis… Abu itu hanya perubahan wujud, tak ada esensi yang berubah; hanya perubahan massa, tak ada energi yang bener-bener musnah. Ku telah menjadi kayu yang terbakar api. Ku telah terbakar cinta dan menunggu fase abu, ditebar di lautan dengan atau tanpa upacara.
Lalu awan hanya mewujud sekejap dan tiba-tiba turun hujan tanpa ada pamitan air kepada mendung. Pernahkah mendung menyeru air untuk mengempiskannya? Hujan turun tanpa aba-aba; seperti juga cinta yang tak perlu kriteria. Mendung hanya perlu kehilangan warna; dari hitam menjadi biru semburat putih gemilang pertanda keikhlasan yang tak terukur membebaskan cintanya mengembara untuk suatu saat nanti berkumpul kembali dalam jalinan yaang tak terdefinisikan. Mana hujan ketika dia bersama mendung?
Apa yang telah api lakukan kepada kayu? Menghabiskannya.
Apa yang telah hujan lakukan kepada awan? Meniadakannya.
Kayu habis, api mati.
Mendung sirna, hujan reda.
Dimanakah cinta?
Pada api dan hujan?
Atau pada kayu dan awan?
Atau tidak pada keduanya?
Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.
Yang tak membuatku merasa ditiadakan walaupun telah dihabiskan.
Yang tak membuatku merasa diabaikan walaupun telah ditiadakan.
Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.
Bagai cinta seorang kekasih kepada Kekasihnya.
Bagai cinta seorang kekasih kepada kekasihnya.
October 31, 2008 – 12:12am
KERINDUAN
Kerinduan adalah gelembung udara yang mengurungku, membangkitkan kesadaran tentang sebuah kehidupan yang membalut hati namun tak teraba-terasa oleh syaraf jariku.
Jika gelembung itu pecah maka hadirlah aliran udara mengipasi jantung yang berkeringat berpacu mengejar namamu. Sehabis itu atas nama cinta terderaku oleh pudarnya keyakinan bahwa rindu itu terformulasi obatnya. Rindu tertawar oleh bahagia. Dua titik terpadu bercengkerama melantunkan rayu syahdu menggelora. Waktu terhenti setatapan mata.
Lalu kuhirup udara ketika detik menepukku. Lagi, gelembung itu membungkusku saat kuhembuskan napasku mengantar langkahmu.
October 31, 2008 – 1:16am



KITAB-KITAB, BACAANKU
Kitab baru yang kubaca ini tak kalah tebalnya dengan kitab tuaku
Kitab tuaku kubaca setiap hari walau hanya selarik dua di salah satu halamannya
saja
Cukup lah untuk orang malas macam aku
Kitab baru yang kubaca ini pasti tak hanya kubaca selarik dua di beberapa halaman saja
Akan kutuntaskan hingga tulisan di sampulnya
Cukup lah untuk orang malas macam aku
Mengapa kitab yang harusnya kukaji kubaca selarik kalimatnya
saja?
Sedangkan kitab baruku ini kuhabiskan dan menelan lebih banyak waktuku?
Cukup lah untuk orang malas macam aku
Mungkin karena kupikir si tua siap kapan pun kumau
Mungkin yang lama tak mudah kucerna jalan ceritanya
Mungkin yang ini lebih jelas alur ceritanya
Mungkin yang belakangan akan segera dimakan rayap jika tak segera kulahap
Yang pasti
Kitab tuaku tetap jadi warna celupku
Yang pasti
Kitab tuaku tetap kudekap mesra
Yang pasti
Kitab baruku mewarnai indah jiwaku
Yang pasti
Kitab baruku menajamkan gradasi jiwa
Segala kitab, segala masa, segala kubaca sekuatku
Cukup lah untuk orang malas macam aku
October 29, 2008 – 10:36pm
Keterangan gambar:
1. Multi-galaksi – kitab yang terbentang
2. Library of Congress, USA & dome (kubah) di dalamnya. Saya pengen kesana. Kalau boleh sekalian nginep dan baca gratis sepuasnya. J
SELAMAT PAGI!
Revised!
Dari “Selamat tidur, sayang…”
Menjadi “Selamat pagi, dunia!”
October 29, 2008 – 8:28am
TRAUMA
Kujatuh di parit
Yang penuh dengan batu
Sulit ‘tuk bangkit kembali
Karena tungkaiku terkilir,
Kepala pening,
Mata berkunang-kunang.
Duh, Gusti
Jalan mana lagi yang mesti kulewati
Kalau hanya ada yang satu ini?
Ini rupanya yang dinamakan trauma.
October 25, 2008 – 10:19pm

DI
Disana – kulihat – matamu
Membidik hatiku
Disini hatiku
Meratapi panjangnya jalan
October 25, 2008 – 4:48pm
TRILOGI SERASA
SERASA DI ANGKASA
Seperti bernapas di angkasa
Sesak miskin udara mengalir ke rongga dada
Tapi air mata tak mau lagi bermain selancar di pipi
Hanya raungan singa marah dalam hati
Desau angin menyiulkan nada kekeringan
Kecipak danau di gua mengetukkan nada kerinduan
Kuteriakkan
Kuteriakkan sekali lagi
Kapan kau buai aku di pelukanMu?
October 24, 2008 – 10:32pm
SERASA DIPELUK BUMI
Seperti bernapas dalam pelukan bumi
Sesak tak ada hawa sama sekali
Tapi teriakan tak lagi bersuara
Hanya rintihan hati tak berirama
Kerjap bintang-bintang tertimbun tanah
Rona muka bulan berlabur susah
Kuhentakkan
Kuhentakkan sekali lagi
Kapankah Kau buka belenggu?
October 24, 2008 – 10:37pm
SERASA DIAYUN ANGIN
Seperti berayun-ayun di buaian tanpa tali
Berayun kesana kemari, bebas tanpa henti
Meluncur dari titik ekstrim kiri ke ekstrim kanan
Tak berkurang momentum berpercepatan
Pendulum itu berbandul aku
Berpendaran energy penuh ragu
Kuhentikan
Kuhentikan sekali lagi
Kutunggu tandaMu sebelum ku kembali melaju
October 24, 2008 – 10:42pm
RECTO VERSO
Semangat baca yang selalu ada ketika membaca tulisan Dee (Dewi Lestari) memang masih disana ketika aku membaca buku terbarunya yang bertajuk Recto Verso.
Terdapat 11 cerita pendek dirangkum dalam buku itu dan 11 lagu di CD dengan tajuk yang serupa, Recto Verso. Setiap cerita pendek ditemani oleh satu lagu dengan judul sama persis dan didesain dengan kerangka yang sama juga. Perkelindanan antara cerpen dan lagu inilah “senjata” Dee untuk memikat para pembaca. Dia menyebut karya ini sebagai hibrida; dalam hal ini mari kita sebut sebagai produk persilangan dua jenis karya seni yang berbeda bentuk dan sifatnya sehingga menghasilkan sebuah karya seni baru dengan sifat yang baru sebagai kombinasi dari sifat berbeda di awalnya.
Recto Verso sendiri berrati dua halaman yang berhadapan. Verso adalah halaman sebelah kiri, Recto adalah halaman sebelah kanan. Cerpen dan lagu itu dimaksudkan sebagai simbol dua halaman yang berhadapan yang notabene adalah halaman yang menampung topik yang bersambungan; dua hal yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan.
Membaca cerita pendek di buku ini tak membuat saya mengalami kebosanan karena seperti biasa kosakata dan gaya cerita Dee memang sudah khas. Filosofis sekaligus lugas, alur lambat sekaligus dengan kejutan. Lembut sekaligus kuat. Gaya Dee masih seperti dulu.
Tapi… jujur adanya bahwa saya merasakan kekuatan yang menghilang dari tulisan Dee dalam Recto Verso. Di buku-bukunya yang lalu (Supernova dan Filosofi Kopi), saya menemukan Dee yang tak sedikitpun memiliki “kecengengan” sekalipun harus menceritakan kisah patah hati. Dalam Recto Verso ini aroma curhat sangat kuat seperti harumnya asap yang menyeruak dari seduhan kopi luwak.
Beberapa cerita yang mengundang kesan melankolis kental menurut saya adalah Curhat Buat Sahabat, Selamat Ulang Tahun, Hanya Isyarat, Peluk, Grow a Day Older, Firasat dan Back to Heaven’s Light.
Lagu-lagu yang dibawakan oleh Dee dan 2 vokalis lainnya semua beraliran easy listening dan slow. Tak satupun lagu berirama menghentak. Kesan yang saya tangkap adalah kepolosan seperti gaya cerita dalam bukunya. Tak ada hentakan sama sekali. Lagu yang menurut saya memiliki kekuatan lebih adalah Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat dan Firasat (lagu ini pernah dipopulerkan oleh Marcel, mantan suami Dee).
Entah benar atau tidak, saya menyimpulkan bahwa buku ini lahir dari kejujuran perasaan dan pergulatan batin Dee selama 2 tahun sebelum akhirnya cerai dengan sang suami saat itu. Tak salah jika aliran sungai cerita itu adalah pengikhlasan kepergian orang yang dicinta oleh orang yang mencinta.
Lepas dari kuat atau tidaknya gaya yang pernah Dee tawarkan melalui buku-buku sebelumnya, Dee masih tetap tampil berbeda dari pengusung sastra wangi yang pernah ada. Saya beri bintang 3 dari 5.
Recto verso bisa dibeli sekaligus sebagai paket (buku dan CD) atau satuan (buku saja atau CD saja.
Dengar fiksinya, baca musiknya.
http://www.dee-rectoverso.com/
October 19, 2008 – 4:01am

KACAMATA KITA
Awalnya sangat sederhana yaitu ketika melihat seseorang yang memakai kacamata hitam dengan senyum manisnya tapi ketika dilepas, terlihat sangat kentara matanya bengkak akibat menangis.
Kacamatanya telah dengan sukses menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya sehingga orang lain “tertipu” karena mengira bahwa dia baik-baik saja. Kacamata disini mari kita arikan sebagai keceriaan buatan karena memang dalam bermasyarakat kita tak disarankan mengumbar kesedihan kita. Tetap ceria adalah penawaran pribadi yang akan membuat pergaulan makin mutualis. Tidak adalah yang ingin punya banyak teman karena senyum yang selalu mengembang.
Kacamata bisa juga diartikan lain. Jika Anda memakai kacamata berwarna hijau maka sekeliling Anda akan berwarna hijau; jika hitam, berwarna gelap; jika merah, berwarna merah; dan seterusnya sesuai warna kaca yang Anda tempelkan di bingkainya. Kacamata dengan fungsi warna ini perlu dicermati secara lebih mendalam. Jika kacamata penutup kesedihan hanya akan membuat orang lain bersuka dan diri kita lebih nyaman, maka kacamata jenis ini bisa saja merubah dunia sang pemakai.
Jika kita tak sadar bahwa pandangan kita terhalang oleh kaca mata kita, kita tak bisa lagi memandang dunia sebagai mana adanya. dunia menjadi seperti yang “terhalang” oleh warna kaca yang kita pasangkan pada bingkai kacamata kita. Jika kaca yang kita pasang sedih, dunia jadi sediiiiih terooos. Jika terlalu ceria, maka ketawa terus tanpa sadar bahwa dunia tidak hanya sarat dengan tawa. Jika terlalu keras, maka dunia tak punya warna sama sekali. Maka jika Anda ingin merubah dunia, jangan repot-repot mengecat dengan warna-warna yang sesuai dengan kriteria Anda; tapi lepas saja kacamata Anda. Gampang kaaan…
Jika terpaksa memakai kacamata untuk menormalkan jarak fokus, kaca berwarna bening adalah pilihan terbaik. Jika kaca yang Anda kenakan jernih maka Anda akan mampu menangkap segala warna. Tidak hanya warna pelangi mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu) tapi segenap gradasi dapat Anda tangkap dengan kejernihan pandangan Anda. Tapi jujur, beningnya pandangan membutuhkan latihan. Yang biasanya mata ketutupan warna hitam, kini harus berjumpa warna-warna terang. Bisa silau sesaat… Yang biasanya berkutat dengan warna gonjreng, kini mesti rela berbagi menikmati warna yang muram. Bisa rabun sebentar…
Dunia ini penuh warna. Tak mudah tuk menerimanya tapi tak bijak untuk mengabaikannya. Ayo semua kita gambar cita-cita kita pada kanvas dunia dengan warna alami yang mencerahkan dan mengayakan jiwa dan raga kita. Kalau memang masih perlu kacamata, ada baiknya dipakai seperlunya sesuai fungsi sehingga jiwa kita tak tersiksa hanya karena kita tak mampu melewatkan usia kita untuk mengecat dunia ini dengan warna yang kita inginkan.
Dunia…. Sambutlah aku, kubuang kacamata warnaku. Kusongsong engkau dengan suka cita. Tak perlu lagi aku tersenyum dengan kacamata hitam tuk menyembunyikan mata bengkak karena engkau tak akan mengabaikanku hanya karena aku bisa tertawa sambil menangis ataupun menangis sambil tertawa.
October 19, 2008 – 12:12am
You must be logged in to post a comment.