NINE MONTHS LATER

NINE MONTHS LATER


Jack decided to go skiing with his buddy, Bob. So they loaded up Jack’s mini-van and headed north. After driving for a few hours, they got caught in a terrible blizzard. So, they pulled into a nearby farm and asked the attractive lady who answered the door, if they could spend the night.
“I realize it’s terrible weather out there and I have this huge house all to myself, but… I am recently widowed,” she explained.
“I am afraid the neighbours will talk if I let you stay in my house.”
“Don’t worry,” Jack said. “We’ll be happy to sleep in the barn and if the weather breaks, we’ll be gone at first light.”

The lady agreed, and the two men found their way to the barn and settled in for the night. Come morning, weather had cleared and they got on their way. They enjoyed a great weekend of skiing.

About nine months later, Jack got an unexpected letter from an attorney. It took him a few minutes to figure it out but he finally determined that it was form the attorney of that attractive widow he had met on the ski weekend.
He dropped in on his friend, Bob, and asked,
“Bob, do you remember that good-looking widow from the farm we stayed at on our ski-holiday up north about 9months ago?”
“Yes, I do,” said Bob.
Did you… errr…. happen to get up in the middle of the night, go up to the house and pay her a ‘visit’?”
“Wellll…. uhmm… Yes,” Bob said, a little embarrassed about being found out, “I have to admit that I did.”
“And…. did you happen to give her my name instead of telling her your name?”
Bob’s face turned beet red and he said, “Yeah…., look, I am sorry, buddy. I am afraid I did! Why do you ask?”

Jack asnwered calmly “She just died and left me everything”

(And you thought the ending would be different, didn’t you?….You know, you smiled.
Now… keep that smile for the rest of the day, OK?)

IBUKU SAYANG

IBUKU SAYANG

Semua manusia punya ibu kecuali Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa yang beribu Tangan Tuhan. Sebuah keajaiban yang tak perlu dibahas oleh otak budhel (tumpul, bahasa Jawa) seperti milik saya.

Ibu adalah posisi terhormat di budaya masyarakat manapun. Tidak ada peradaban mulia yang tidak menghargai peran dan posisi seorang ibu. Melahirkan-menyusui-mengasuh adalah satu paket hadiah dari Pencipta yang tidak mudah dicapai (achieved status) walaupun paket itu adalah sebuah kodrat alamiah wanita (ascribed status). Maka dari itu bersyukurlah orang-orang yang diciptakan untuk mengemban tugas sebagai ibu. Wahai Sudaraku para wanita, saya ingin berbagi rasa.

Saya manusia biasa maka pasti punya ibu. Ibu saya sudah tua. Namanya Dayah binti Slamet. Lahir di Tulungagung pada October 9, 1944. Wajahnya menyisakan kecantikan muda yang luar biasa. Rambutnya hitam bersembur putih keperakan, kulitnya keriput, badannya gendut, payudaranya kendur, halus budi bahasanya, ingatannya masih hebat, karakter kerasnya mulai bertambah, dan satu lagi yang sesungguhnya sangat mengganggu saya: hobinya menanyakan tentang kapan saya menikah.

Saya paling sebal pada siapapun yang menanyakan hal itu kepada saya. Sebuah pertanyaan bodoh yang diucapkan dengan gaya prihatin bercampur intelek. Seakan pertanyaan itu adalah sebuah habeliauh wajib untuk orang yang tidak bersemangat mengejar mas-mas. Seakan pertanyaan yang menunjukkan bahwa mereka telah mencapai prestasi teratas kehidupan ini: menikah. Apakah berarti bercerai adalah prestasi yang lebih tinggi lagi apalagi kalau kemubeliaun kawin lagi?

Ibu saya ini adalah wanita Jawa yang menurut beliau sendiri pekerjaan utamanya adalah mengabdi pada suami walaupun kenyataannya ibu saya adalah pensiunan bidan yang pernah mengabdi pada negara Pancasila ini. Ibu saya percaya bahwa dengan mengabdi pada suami seorang wanita akan masuk syurga. Beruntunglah beliau memperoleh lelaki yang sempat memberinya syurga, jadi ibu saya tidak harus membual banyak-banyak.

Ibu saya telah melahirkan 5 orang anak: perempuan, laki-laki, perempuan, perempuan, laki-laki. Semuanya lahir tanpa cacat. Jika kemudian hidupnya tidak bahagia maka itu bukanlah bawaan lahir namun akibat dari salah treatment baik oleh galangan (keluarga, bahasa Jawa) maupun golongan (lingkungan pergaulan, bahasa Jawa) atau karena salah persepsi terhadap suatu realitas yang kami hadapi.

Ibu saya suka memasak, membaca dan membuat kliping. Beliau membaca apa saja yang bisa beliau baca terutama koran dan majalah karena beritanya paling up dated sampai-sampai beliau mendapat julukan wartawan dari almarhum bapak saya. Dapatkah Sudara sekalian bayangkan seorang ibu seperti beliau memiliki anak seperti saya yang tidak suka membaca koran atau majalah? (saya lebih suka membaca buku, karya sastra dan essay) Dapatkah Sudara membayangkan alangkah timpangnya pengetahuan populer saya dibanding ibu saya? Huff.. kadang-kadang saya memilih tidak berdiskusi tentang politik dengan beliau. Saya lebih memilih ngobrol enak tentang wayang atau kethoprak (kesenian khas Jawa Tengah) atau ludruk (kesenian khas Jawa Timur yang awalnya hanya dimainkan oleh para lelaki) dengan almarhum bapak saya atau ngobrol tentang rabuk (pupuk, bahasa Jawa) dan tandur (masa tanam padi, bahasa Jawa) dengan Pakpuh (kakak orang tua, bahasa Jawa) daripada saya malu karena sebagai mahasiswa pada saat itu dan “orang Jakarta” saat ini saya tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi di pusat merah putih ini.

Coba Sudara tanyakan nama-nama menteri dari kabinet manapun pasti beliau hapal. Tanyakan kasus-kasus hukum, skandal-skandal politik, gosip-gosip selebritas atau apa saja yang terjadi di negeri antah berantah beliau akan menjawab sekaligus memberikan ulasan yang sangat mengagumkan seakan beliau itu pengamat politk, ekonomi, sosial, budaya, filsafat atau apalah ilmu yang timbul di dunia ini. She is a great popular scientist!

Ibu saya suka memasak sedangkan saya suka tapi jarang mencoba resep-resep terbaru sehingga kalau pulang kampung saya harus rela dinasehati tentang ini itu yang kata ahli ini dan ahli itu bermanfaat untuk kesehatan. Dan setelah kembali ke kota tempat saya tinggal semuanya menguap seperti air dibawah terpaan sinar matahari. Di Jabodetabek semua bisa dibeli he he he…

Ibu saya seorang yang terkenal sabar dan narimo (menerima dengan ikhlas). Menerima dengan sabar kondisi yang semenyakitkan apapun, semenderita apapun dalam hidupnya. Tapi jangan coba-coba Anda menyakiti anak-anaknya. Beliau akan murka seperti bantheng ketaton (banteng terluka). Maka kami anak-anaknya yang normal akan sebisa mungkin menyimpan duka kami dari pengetahuannya sehingga beliau tak akan mencari orang yang menyakiti kami. Bahkan seandainya kami yang benarpun kami tidak akan mengadu banyak padanya, kami akan mengalah di hadapan ibu kami walaupun akan menghantam orang itu beliaum-beliaum dibelakang ibunda kami ini. Sebenarnya ketika ketemu pun ibu tak akan menyakiti orang itu. Kami hanya takut beliau berdoa yang tidak-tidak. Kutukan ibu saya ini terkenal manjur ha ha ha…

Ibu saya adalah bidadari bagi saya karena kecantikannya. Ibu saya adalah profesor ndeso yang saya yakin beliau bisa saja jadi menteri peranan wanita kalau saja kesempatan diberikan padanya. Ibu saya juga seorang bijak bestari ketika saya membutuhkan nasehatnya. Ibu saya adalah pengabdi yang setia baik pada keluarga maupun masyarakat. Ibu saya adalah seorang wanita yang paket melahirkan-menyusui-mengasuh-nya terbuat dari emas dan berlian.

Ibu saya sense or humor-nya tinggi. Apapun bisa jadi bahan tertawaan bagi beliau. Pernah beliau tertawa-tawa ketika seseorang secara tidak sengaja membuat beliau terdorong dari tangga teras sehingga gagang kacamatanya menusuk pelipisnya hingga harus dijahit beberapa jahitan. Biskah Anda bayangkan di saat semua orang khawatir terhadap keselamatannya beliau sendiri tertawa gembira. Ibu saya agak menyebalkan jadinya he hehe…

Namun ibu saya juga manusia biasa yang bikin saya jengkel jika sudah menyamaratakan saya dengan wanita lain yang “kata beliau” NORMAL. Menurut beliau kecintaan saya pada kesendirian saya lebih besar daripada kecintaan saya pada kodrat saya sebagai wanita yang seharusnya melahirkan-menyusui-mengasuh. Menurut beliau saya terlalu banyak melahap bacaan yang nyeleneh sehingga pemikiran saya “keseleo”. Ora Njawani (tidak berjiwa Jawa, bahasa Jawa), kata beliau.

Ibu saya ini begitu hebat. Saya bangga padanya dan hanya memendam kekesalan terhadap satu pertanyaan itu saja.

Ibu saya akan saya nobatkan sebagai wanita paling hebat dan berjasa dengan segala yang dianugerahkan padanya.

I love you, Ibuku sayang…

June 11, 2008

SERULING BAMBU

SERULING BAMBU

Helaan nafas meniupkan kerinduan

Kepada serumpun bambu dengan sebentuk nada

Lagu hatiku

Terbawa Sang Bayu

Duhai rindunya aku pada rumah jiwaku

Yang terpisah sejak dijadikannya aku seruling

Kuhanya mampu melagukan kidung

Meriuhkan heningnya padang rumput

Ditemani nafas kantuk gembala

Ditingkahi rengek manja ternak yang gembira

Diintai srigala jahat

Helaan nafas meniupkan kerinduan

Kepada serumpun bambu dengan nyanyian jiwa

Kenangan tak tertuliskan

Dihantarkan oleh angin

Apakah kau merindukanku wahai serumpun bambu?

Adakah wajahku teringat olehmu?

Ataukah hanya hilangnya seruas batangmu?

June 15, 2008

INTERLUDE JEDA

INTERLUDE JEDA
JEMBATAN DUA DARATAN

Buku kompilasi artikel yang ditulis oleh dua pengarang dari tabloid PARLE, Syafruddin Azhar dan Kurnia Effendi, ini membuat saya terpana akan kebenaran sebuah ayat suci tentang tidak akan habisnya ilmu Tuhan sekalipun telah dihabiskan pohon di bumi untuk pena dan samudera sebagai tinta bahkan jika didatangkan tujuh lagi. Begitu luas dan dalam ilmu yang diletakkannya di hati-hati yang berpikir.

Saya sengaja membaca dulu pengantar yang ditulis oleh Fahruddin Salim, SE,MM (Pemimpin Redaksi) dan Faisal Baasir, SH (Ketua LPKP). Terpapar di dalamnya tentang perbedaan style yang dipakai oleh masing-masing penulis. Dikataan bahwa tulisan Mas Syafruddin cenderung “berat’ sedangkan tulisan Mas Kurnia cenderung “menyentuh”. Dan terbukti memang demikian.

Bagian pertama buku adalah Interlude. Disini tulisan Mas Syafruddin banyak diwarnai oleh bahasa-bahasa ilmiah, kutipan-kutipan buku atau kitab, terjemahan bahasa asing dan segala hal yang memang membuat tulisan beliau mendapatkan julukan ilmiah dalam arti kandungannya berdasarkan teori-teori yang pernah dirumuskan oleh para cerdik pandai terlihat nyata. Anda akan menemukan nama-nama ilmuan bertebaran di tulisan-tulisan beliau. Mulai dari bumi timur hingga dunia barat ada. Ilmu batin hingga ilmu logika beliau kaya perbendaharaannya. Saya sampai tercengang membaca sekian banyak tulisannya tidak ada pengulangan kutipan yang bertindihan.

Dari judul-judul tulisan beliau kita dapat menghitung apa saja yang memnuhi memorinya: Pak Harto; Selingkuh; Orde Baru; Sontoloyo!; In Vino Veritas; Proletariat Versus Borjuasi; Ahmadinejad; Obama; Alohomora, Expecto Patronum; Honos Alit Artes; Gruda; Konco Wingking; Odius Debt; Politik Minyak; Phallus Monologue; Seppuku; Nyai Ontosoroh; dll. Jika satu judul rata-rata mengandung 5 referensi, berapa buku yang telah Mas Syafruddin baca? Padahal satu judul bisa memuat lebih dari 5 referensi.

Dari beragamnya kutipan dan isitilah yang dipakai oleh Mas Syafruddin bisa kita bayangkan berapa ribu buku yang telah beliau lahap selama hidupnya dan berapa gyga byte memori otak beliau. Otak beliau pasti berharga murah karena telah banyak memori yang terpakai tidak seperti otak saya yang mahal karena masih banyak yang kosong. 

Jeda adalah bagian kedua yang diisi oleh Mas Kurnia Effendi. Beliau berangkat sebagai cerpenis yang notabene lebih bergaya narasi daripada argumentasi atau persuasi murni. Gaya penulisannya memang lancar laksana cerita dan sebagian tulisannya diselipi percakapan antar karakter sehingga pembaca diajak membaca sambil berpikir tentang apa yang ada dibalik tulisan tersebut. Mas Kurnia berperan seperti seorang nenek yang sedang mendongeng kepada cucunya yang pada akhir cerita beliau men-sum-up pelajaran yang dipetik baik dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan. Penulis sukses menyuguhkan gaya cerita dengan kandungan filsafat yang dalam.

Salah satu tulisan Mas Effendi yang menarik adalah tentang Slamet Rahardjo Djarot yang sengaja berlebaran di rumah Bi Sumi dan makan opor ayam yang ternyata sebelum disembelih sempat tertabrak motor. Dalam tulisan ini penulis menggarisbawahi kesederhanaan dan kepolosan sebagai niat baik yang sudah semestinya dihargai. Gaya berseritanya mengalir lancar seperti air sungai yang bening dipecah bebatuan disana-sini. Indah dan merdu.

Perbedaan gaya tulisan ini tidak menandakan siapa yang lebih andai dan siapa yang lebih lihai menulis karena gaya hanyalah masalah pendekatan seseorang terhadap realitas yang dihadapinya. Tidak banyaknya referensi yang Mas Kurnia sebutkan tidak berarti beliau kering ilmu. Ini hanya menunjukkan bahwa proses internalisasi ilmu Mas Kurnia berbeda dari Mas Syafruddin. Ibarat berdagang, Mas Syafruddin seperti sebuah hypermarket yang menyediakan apa saja yang siap saja perlukan; komplit plit plit. Sedangkan Mas Kurnia ibarat sebuah restoran yang menyajikan makanan yang bahan-bahannya dibeli dari hypermarket Mas Syafruddin yang kemudian diolah dengan resep rahasia. Keduanya saling melengkapi dengan keunggulannya masihng-masing.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja. Kedua penulis seakan berkolaborasi seakan rintik hujan mengobati dahaga pembaca di gersangnya kemarau berkepanjangan di kepulauan kelapa. Bagi yang lebih suka gaya ilmiah textbook, Interlude ibarat tambang berlian di perut bumi. Bagi yang suka menyelam dalam lautan nilai-nilai, Jeda menyediakan taburan mutiara.

Selamat membaca Interlude Jeda. Semoga bermanfaat.

RUMAH LABA-LABA

RUMAH LABA-LABA

Selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba.

Saya pernah meyakini hal tersebut diatas secara buta. Saya meyakininya bukan karena ikut-ikutan tapi karena memang telah membuktikan betapa mudahnya rumah laba-laba itu saya hancurkan dengan penghuninya yang putus asa sekalipun. Sekali gantas berantakan sudah jejaring di pojok-pojok kamar saya itu.

Namun saya teringat kata-kata seseorang yang kemudian membuat saya berpikir kembali tentang kebenaran keyakinan saya itu. Benarkan rumah laba-laba adalah selemah-lemahnya rumah? Jika ya, apa penjelasannya. Jika tidak, apa juga penjelasannya. Saya harus menemukan jawabnya.

Berabad-abad yang lalu, dua orang sahabat karib bersembunyi di dalam gua dari kejaran sepasukan manusia biadab yang bermaksud mencelakai mereka. Tiada tempat lain yang lebih aman daripada persembunyian berupa gua yang tak aman itu.

Derap langkah kuda pasukan kavaleri itu sampai di mulut gua. Alangkah paniknya salah seorang dari mereka mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua dan nasib keluarga dan sahabat lain yang masih sangat mebutuhkan keberadaan mereka berdua. Hanya harapan besar pada pertolongan Yang Mahakuasa saja yang membuat mereka merasa aman dalam penjagaan-Nya.

Alam bekerja sesuai dengan hukumnya dalam keteraturan yang tak mungkin berdiri sendiri. Siapa yang penasaran jika laba-laba membuat rumah di mulut gua? Itu sudah biasa, sesuai hukum alam. Dan apa anehnya sepasang merpati bertengger di mulut gua? Semua biasa saja. Gua tak berpenghuni. Hanya seekor tokek nakal saja yang menuntun rasa ingin tahu pasukan itu. Maka pasukan berkuda itupun tak merasa perlu merusak kembali rumah lemah buatan laba-laba di rongga gua berpenghuni sepasang sahabat itu.

Selamatlah dua sahabat itu dari kekejaman pasukan berkuda Quraisy sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah Madinah yang telah penuh sesak oleh manusia dan kerinduan yang membuncah pada Muhammad dan Abu Bakar.

Rumah laba-laba yang lemah telah menolong dua manusia besar. Inilah jawaban pertama saya.

Seorang profesor meneliti benang-benang bahan rumah laba-laba tersebut. Dibuat dari air liurnya sendiri, benang-benang halus tersebut ternyata memiliki kekuatan berlipat ganda dibanding dengan benang baja. Subhanallah. Inilah jawaban kedua saya.

Seorang guru Al Quran saya, almarhum Moenadi, mengatakan budi bahasa yang halus dan tulus hanya muncul dari rasa hati yang halus. Hanya rasa yang telah terasah yang dapat memiliki kekuatan kuat untuk menyusun jalinan persahabatan dan persaudaraan. Kekerasan hati, kata-kata apalagi tindakan hanya akan merusak saja. Begitu juga jalinan rumah laba-laba hanya bisa kuat, jauh lebih kuat dari kawat baja, karena dijalin dengan air liur yang keluarnya dari mulut sang laba-laba yang tulus, dirajut dengan kesabaran dan ketulusan. Tahukan Anda berapa lama sang laba-laba harus ngeces (ngiler) untuk membuat rumahnya berputar-putar membuat jejaring dengan perhitungan yang simetris tiada cacat? Dan berapa lama seorang manusia harus merusaknya? Apakah sang laba-laba menyerang Anda karena Anda telah merusak rumahnya? Tidak! Dia akan membangun kembali rumahnya dengan ilernya yang halus namun kuat disusun dengan besar sudut tertentu membentuk sebuah network yang hebat, kuat, anggun, memerangkap dalam kelemahannya. Ingat, Frodo Baggins pernah terjebak jaring laba-laba dan nyaris mati lemas di The Lord of The Rings karya Tolkiens. Inilah jawaban ketiga saya.

Masih dari Pak Moenadi, logo PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) adalah rumah laba-laba. Mengapa PBB gagal membina jaringannya? Karena landasannya bukan persaudaraan yang tulus dan ikhlas namun materi dan kekuasaan. Ini jawaban keempat saya.

Rumah laba-laba memang lemah secara kasat mata namun dengan rasa hati kita dapat memahami apa yang ada di balik itu, dan dengan perhitungan tepat kita tahu jejaring ini kuat dan akurat. Pertanyaan saya terjawab sudah.

Boleh jadi Anda punya jawaban lain untuk kita semua, Sudara-Sudara.

Terima kasih saya pada Keluarga Besar Al Badiyo di seluruh dunia.

I love you, all. J

June 12, 2008

BERSYUKUR JADI MANUSIA (English version)

BERSYUKUR JADI MANUSIA

(English version)

Mbak Zaitun, English ’93 Airlangga University, is one name I file among them making my life glared and precious. Perhaps it is late to understand her quotation but it really grows me mature. I don’t recall her complete speech but here is a cut of it: Sister, you should always be grateful for being a human being.

I am quite convinced that I exist NOT not in purpose. I am not a universal accident that comes out out of the blue due to a technical problem in a unruled galaxy. I am a body that has been planned for existence; every inch of which has a share to balance the Universe; every movement of which contains energy to balance the Universe; every beat of which owns a function to balance the Universe. I am created for a balance.

I might be the balance itself.

But, why should I have been created as a human being, while I often mumble of its responsibility to be? I feel like to think the whole life to comprehend the secret of being a human being. But let me let you know about what have been the clear reality of not being a not human being. It relieves me somehow though a little and it is sufficient to pay my debt to that Mbak Zaitun, one of informal teachers in my life. Isn’t it right that learners’ debt will be fully paid when they “successfully” digest and apply the knowledge tranferred by their teachers?

This is strange, but true, for truth is always strange. (Lord Byron, 1788 – 1828)

IF I WERE A…

If I had been created as animal, I would have chosen to be a bird coz I have always wanted to fly. If I were a bird, I would fly around the world. Or, a dolphin. If I were a dolphin, I would save as many lost sailors as I could. An elephant, probably. If I were an elephant, I would remember every memory I have before human beings grab all the nature gift of mine. However, what animal can live, laugh and love at the same time in the balaced quality?

As a bird I might be able to fly but can I go around the world without becoming wet under the rain or hot under the sun or cold under the snow? Can I hug my beloved family while flying? Can I eat while flying? Can I sleep while flying?

As a dolphin I might be able to swim and dance in the water. I might save as many sailors as possible before I die but I can never protect myself from bigger danger from the other sea beasts.

As a giant mammal, I can always remember the sweet memory in my life but what can I do when human beings destroy the forests with even their weak limbs? My tears are cheaper than those falling logs. My trunk is cheaper than those clinking gold coins. My existence is cheaper than the human’s ego. Finally I can only play football among the cheering humans’ offsprings.

If I had been created as plants, I would have chosen to become jasmine or orchid or lotus or nephentes or sunflower or the beautiful wild grass for home decoration but then I will decay by the time water in the vase evaporates and water in my body flows out. Or I will be consumed by the herbivore animals.

If I had been created to be unseen creature, I would have chosen to be a witch. I would fly without wings in a pine twig. I would smell sweet. I would sing beautifully. I would live much longer than a human being. But… I would leave my lover old while I am young forever. I would hide timidly when the human beings confidently wander around. I would not live comfortably when I meet them – while meeting them would be a probability for a witch.

If I had been created to be celestial bodies, I would have chosen to be a comet that evolves distantly around the sun. I would not even
know when I would come to one same point after thousands of years. And, I would be lonely in every single inch of my evolution even though I witness a lot of places with a lot of legendary circumstances.

If I had been created to be an abstract thing, I would have chosen to be happiness. It would go around hearts. But happiness is never created as itself. Happiness is created with a twin sister, the sincerity. I have to make a double wish then: being happiness and being twin. Will they be granted? J

Those are all my wishes if I were not a human being like now. Fortunately, I realized soon that being a human being is everything I have been best given.

I don’t have to be a bird to fly. As a human being, I can fly inside a sophisticated bird with sophisticated facilities. I don’t have to be a dolphin to be able to swim in the sea and help sailors for I can swim in the swimming pool – or let’s say I swim in the sea of life and help “other sailors” having been lost in their voyages. I don’t have to be a giant elephant to be able to save an large amount of memories and I am strong enough to protect my own habitat with my small physical though. I don’t have to be any kinds of flower to look beautiful and sweet; as long as I know what I am doing, I look beautiful thoroughly. I don’t have to be a witch to live longer because human being’s good name can live even much longer than a witch’s life. I don’t have to be a comet to experience many great good things. I just have to undergo every single thing patiently and I will be a comet around this mistery life. And I don’t have to pray to be created as sincerity and having the happiness as my twin sister since my heart can bear both of them and I can be sincere and happy at the very moment.

Again and again being a human being is the greatest gift I have ever received from the Owner of the Universe.

Thanks to Mbak Zaitun for saying words enriching my soul.

June 11, 2008

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

Masih terngiang ungkapan Pak Harto, mantan presiden kedua Republik Indonesia, pada saat orang-orang menyinggung tentang tantangan terhadap beliau untuk tidak menjadi presiden lagi: “nggak presiden ra patheken”. Barangkali bagi adik-adik usia 20 than kebawah hal ini bukan sebuah hal yang istimewa namun bagi kami yang lahir di era 70an akan merasa ungkapan ini sebagai arogansi dan ironi.

Saya tidak ingin membahas Pak Harto dan penyakit pathek (sampar, bahasa Jawa) karena saya bukan politikus atau dokter yang kapabel untuk itu. Saya hanya akan menganalogikan ungkapan tersebut dengan ungkapan “nggak kaya nggak patheken” atau nggak kaya nggak masalah.

Saya bukan orang yang kaya dan bukan pula orang yang bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan namun jujur saya pernah membayangkan seandainya saya menjadi orang yang punya banyak uang dan atau fasilitas. Jujur sekarang ini saya termasuk orang yang hidup penuh semangat karena harus melunasi tagihan-tagihan J

Konsep kaya sangat beragam. Mulai dari kaya harta sampai kaya hati. Kalau diberi range bisa saja seperti menjejerkan beragam gradasi warna dari hitam hingga putih. Saya sendiri kurang suka kalau harus mendefinisikan sesuatu karena otak saya sudah lelah memahami definisi yang kadang justru membuat hidup saya jadi beku dan pucat.

Kalau kaya adalah masalah harta, siapa orang terkaya di dunia ini? Saya yakin mereka adalah orang-orang yang namanya pernah di-tally oleh majalah Forbes. Kalau masih masuk majalah Kuncung masih jauh jarak tempuhnya dari jabatan Rang Kayo.

Pernah suatu masa saya suka sekali pura-pura jadi orang kaya, jalan-jalan menghabiskan uang, belanja barang-barang yang tidak saya butuhkan. Saya beli barang-barang yang menurut saya tiada guna. Saya makan dan minum walaupun saya tidak haus atau lapar. Saya minum cairan yang tidak harus saya suka yang penting harganya mahal. Saya pesan makanan tidak enak yang penting bandrolnya paling heboh. Lalu saya juga nonton film walaupun tidak ada yang memenuhi selera saya. Saya juga ikut-ikutan main bowling yang sejatinya bukan olahraga favorit saya hanya supaya dibilang keren. Saya juga membeli tas ber-merk walaupun tas saya di rumah masih utuh, merk-nya pun belum terlepas… J

Saya berlagak kaya untuk membuktikan apakah saya benar-benar pantas menjadi orang kaya baik sekarang maupun nantinya. Istilah yang saya pakai adalah belajar kaya. Biar kalau nanti kaya beneran saya tidak norce (norak).

Setelah sampai rumah saya kalkulasi semua yang saya belanjakan termasuk ongkos taxi yang saya suruh lewat tol walaupun sesungguhnya akan lebih murah dan cepat jika tidak lewat tol. Latihan kaya… jumlahnya belum mencapai 3 juta tapi ternyata sudah cukup membuat saya kaya. Ah, ternyata saya masih penasaran tentang latihan kaya ini. Mungkin bulan depan harus lebih fantastis.

Bulan depannya saya melakukan hal yang sama. Ternyata total nilai yang saya dapatkan lebih kecil dan saya tidak puas. Bulan selanjutnya tidak lebih besar. Dan akhirnya saya menyerah latihan karena ternyata tabungan saya mulai menipis. Tunggakan kartu kredit saya juga melonjak. Aduh bagaimana ini nasib latihan kaya saya?

Secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku tentang orang-orang yang (pasti) super kaya. Mereka adalah para pemilik perusahaan kelas mammoth. Mereka adalah bos-bos yang uangnya (pasti) akan membuat saya mendelik sewot saking banyaknya. Mereka adalah orang-orang yang tidak ribut membayar tagihan kartu kredit karena ada orang yang menguruskan itu untuknya.

Kemudian saya menemukan bahwa ternyata ada salah satu dar
i mereka berkebangsaan Jepang dan menempati rumah kayu dan kertas. Apa yang dia lakukan bukanlah membelanjakan uangnya seperti orang kalap. Dia lebih sering merenung atau berbincang dengan sang istri di rumahnya yang sederhana. Tidak ada kesenangan yang lebih dia sukai selain melatih hobinya menulis kaligrafi.

Saya tidak sempat lagi melanjutkan membaca karena teman saya serta merta menyodorkan sebuah buku lainnya yang menceritakan tentang seorang karyawan Bill Gate yang lebih rela keluar dari pekerjaannya untuk merintis pendirian perpustakaan-perpustakaan di daerah-daerah terpencil di Asia.

Sungguh tak dapat dipercaya. Orang kaya malah mengundurkan diri dari jabatan Rang Kayo. Sedangkan saya yang seharusnya menikmati hidup dengan cara sederhana malah belagu menghambur-hamburkan uang yang serinya pun masih bisa dihapal. Saya merenung lagi apakah perlu saya berlatih kaya dengan cara bergaya seperti orang kaya. Apakah memang jabatan Rang Kayo sebuah status urgent bagi saya? Apakah kalau tidak kaya saya akan patheken?

Saya mengaca. Di cermin saya melihat wajah kusam lagi bodoh, wajah kuyu lagi picik, wajah miskin lagi konyol.

Saya segera membereskan bon-bon pembelian yang saya kumpulkan untuk menghitung pengeluaran saya bulan ini. Saya buang semua ke keranjang sampah lalu saya membuat daftar nama-nama orang yang pantas menerima barang belanjaan yang ternyata sungguh-sungguh tidak ada gunanya untuk saya.

Selama ini saya tidak latihan kaya tapi latihan gila.

June 11, 2008

SONTOLOYO POPULER KEMBALI

SONTOLOYO POPULER KEMBALI

June 10, 2008 sebuah paket ditujukan kepada saya sudah tergeletak di ranjang saat saya tiba dari kantor. Yang bisa saya baca dari bungkusan plastik transparan adalah nama sebuah tabloid: PARLE. Tabloid yang selama ini, jujur, tidak pernah saya kenal.

Tidak ada nama pengirim. Dan yang lebih aneh lagi, saya tidak sedang berlangganan atau menanti datangnya tabloid-tabloid ini. Yang saya tunggu-tunggu kedatangannya adalah sebuah buku berjudul Jeda.

Diantara tumpukan tabloid PARLE ternyata ada sebuah buku. Bingo! Ini dia buku yang dijanjikan oleh seorang MP-er yang halamannya pernah saya kunjungi dan puji.

Terima kasih, Pak. Paketnya udah nyampai. Interlude-Jeda karya Syafruddin Azhar dan Kurnia Effendi.

Tanpa interlude segera saya baca buku berisi artikel-artikel yang dilahirkan oleh dua orang penulis produktif diatas. Bagian pertama adalah Interlude berisi tulisan-tulisan Mas Syafruddin Azhar sedangkan Jeda diisi karya-karya Mas Kurnia Effendi.

Saat membacanya saya “tersandung” oleh sebuah artikel berjudul Sontoloyo. Penulis terinspirasi oleh ungkapan Sontoloyo yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) berarti konyol, tidak beres, bodoh dan dipakai sebagai kata (umpatan). Dalam bahasa Jawa sontoloyo berarti penggembala bebek. Saya juga jadi tahu bahwa kata sontoloyo dipopulerkan kembali oleh presiden pertama kita yang jenius Presiden Soekarno saat dia menulis sebuah tulisan di koran tentang ustadz yang mencabuli santriwatinya dan beliau menyebutnya sebagai Islam sontoloyo.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sekarang banyak sekali sontoloyo yang bergentayangan di atmosphere hidup kita. Kebodohan, ketidakberesan, kekonyolan dan orang-orang yang pantas dimaki dengan kata sontoloyo menyesaki bumi ini tanpa apologi. Hidup ini berkembang layaknya bisul yang makin lama makin mengembang penuh dengan nanah busuk sontoloyo; hanya bisa sembuh jika ditusuk dan dimusnahkan sontoloyo-nya.

Sudah terlalu banyak penyimpangan norma dalam hidup ini. Saya tidak sedang berbicara tentang norma tertulis. Saya berbicara tentang norma yang terlekat dengan dan tertinggi nilainya dalam manusia. Dialah norma kasat mata yang bersemayam dalam mental manusia.

Hati nurani

Sebagian besar manusia telah lupa bagaimana mendengarkan kata hati mereka. Telinga batinnya telah tuli dan suara batin mereka telah habis dan serak meneriakkan ide-ide halusnya.

Sontoloyo!

Mengapa norma tertulis tidak lagi mempan bagi manusia? Bukankah sekarang banyak orang menginginkan hitam diatas putih? Berapa jenis surat kita kenal? Surat tanah, ijazah sekolah, sertifikat kursus, surat gadai, surat cerai, MOU, surat nikah dan sebagainya… semua itu sekedar sontoloyo selagi hati nurani telah dibunuh oleh nafsu: kepentingan dan kebodohan.

Apa gunanya surat tanah kalau ternyata pemerintah maunya menggusur?

Apa hebatnya ijazah sekolah kalau ujiannya nyontek?

Apa nilai sertifikat kursus kalau bisa dibeli dan ketrampilan tak dikuasai?

Apa guna surat gadai kalau ternyata barangnya sudah dilelang?

Apa manfaat surat cerai kalau masih mau berkencan dengan mantan juga?

Apa gunanya MOU kalau sebenarnya tidak saling understand?

Apa gunanya surat nikah kalau masih selingkuh juga?

Yang hitam diatas putih itu hanya di mata fisik kita. Jika mata fisik kita buta maka tak sulit menipu kehidupan yang penuh nafsu ini. Tak perlulah buta, merem atau lengah saja sekejap maka tertipulah kita. Sedangkan mata batin kita melampaui semua itu. Sehitam apapun tipuan manusia diatas putihnya ketulusan maka berkali-kali mata hati kita akan memproduksi air mata dan bibir batin kita akan meneriakkan kata hati dan jika batin kita masih bersemi maka telinga batin kita akan mendengarnya kemudian dengan intuisi kita berjalan dan selamatlah kita bahkan ketika hitam diatas putih itu telah menipu kita.

Jangan takut ditipu orang lantaran kita tidak punya bukti hitam diatas putih. Hitam diatas putih itu hanya ilusi karena sebenarnya batin kita tidak bermain dengan warna. Yang bermain dengan warna hanyalah Sontoloyo!

Sontoloyo kamu klepto!!!

Terimakasih pada Mas Syafruddin Azhar atas Sontoloyo-nya J

June 11, 2008

MENGENALI WAJAH JIWA

MENGENALI WAJAH JIWA

Pagi-pagi sekali saya mendengar suara azan berkumandang dari corong mushollah Al Ikhlas di pojok Blok A komplek kami. Sudah Subuh.

Keadaan pagi itu tak beda jauh dari biasanya. Saya buka pintu kamar menuju tempat wudhu lalu memasang mukena saya. Sholah dua rakaat. Di sujud terakhir saya berlama-lama.

Disana saya melihat Bapak saya yang telah meninggal dunia. Senyumnya mengembang. Masih juga tampan seperti ketika masih hidup. Tak ada bekas pukulan malaikat. Tak ada bekas cambukan. Tak ada sayatan atau luka bakar. Berarti Bapak selamat dari azab kubur. Bapak orang baik walaupun bukan orang yang sangat relijius. Beliau seorang yang sangat jiwa spiritualnya sehingga ritual agama tak terlalu membuatnya kehilangan pegangan. Kebersahajaannya saja yang dapat membuat orang percaya bahwa agama telah membentuknya menjadi manusia tulus dan nrimo. Senyum Bapak saya adalah kebahagiaan tiada tara bagi keluarganya. Salaamun alaiha ya Rabbi…

Lalu saya bertemu dengan guru ngaji saya. Senyumnya masih juga seperti dulu. Tulus. Jenggot Hanoman-nya masih tetap terjaga rapi. Ditangannya ada Al Quran yang dulu waktu hidup dia ajarkan secara istimewa (ukuran kami) namun dicap sesat oleh teman-teman saya yang sangat kuat ngugemi (mengikuti dengan saklek (lurus (tanpa berprasangka (tanpa bertanya (tanpa berpikir (tanpa akal sehat (berharap syurga))))))) Fiqh versi keras. Menurut Psikologi Al Quran yang dia kembangkan, saya adalah manusia Juz 9. ya. Beliau berkeyakinan bahwa tiap juz Al Quran adalah representasi karakter manusia. Itulah yang membuat dia dicap sesat apalagi sejak dia dikerumuni oleh banyak sekali para Doktor dan peneliti yang terkagum-kagum terhadap pembuktian Al Quran. Saya melihat guru ngaji saya ini melambaikan tangannya mengucap salam pada saya tanpa membuka mulutnya. Apakah dia bisu di alam sana?

Lalu saya bertemu dengan dosen saya yang alimnya luar biasa. Saya tak tahu apakah dia sudah meninggal atau belum. Senyumnya tak kalah mengembang. Matanya tak kalah jernih daripada kedua orang yang saya temui sebelumnya. Ada sebuah buku ditangannya. Saya tak tahu buku apa itu. Mungkin buku Fiqh kesayangannya. Atau mungkin buku sastra kebanggaannya yang saat kuliah menjadi senjata pamungkasnya untuk membasmi serangga bodoh yang menggerogoti martabat intelektual dengan keahlian mereka menyontek. Bagaimana tidak… kami mahasiswa boleh open book tapi ketika we opened the book, we found nothing to answer his questions. Damn geniuous lecture he really are!

Lalu saya melihat sosok yang sangat cantik. Ah, benarkah apa yang saya lihat? Ini bukan mimpi?

Saya melihat diri saya sendiri. Tapi saya tidak berbaju. Saya tidak memakai apa-apa. Waduh, apakah seperti ini nasib saya? Telanjang? Polos? Jujur? Atau miskin? Alamak… Dia menatap saya dengan pandangan mengejek. Kurang ajar benar dia menertawakan diri sendiri? Di kepalanya ada rambut yang panjang sepantat (bukan pantatnya serambut ha ha ha…). Lalu ada senyum tak kunjung terkembang. Saya melihat saya dalam versi cantik bukan versi asli, ceria, yang selalu saya citrakan. Inikah jiwa saya? Jiwa yang cantik namun beku? Jangan-jangan itu kuntilanak? Bukan… karena kuntilanak pasti menangis sedangkan image ini tidak berekspresi, hanya diam. Baru saya lihat senyum tipis sebelum dia lenyap disedot arus dingin.

Allaahu akbar, saya bukannya ber-tahiyyat akhir karena ternyata saya tertidur dalam sujud panjang saya.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kanan

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kiri

Apakah saya perlu sholat lagi? J

June 11, 2008

JANGAN BIARKAN SIAPAPUN MENCURI MIMPI KITA!

JANGAN BIARKAN SIAPAPUN MENCURI MIMPI KITA!

Lagi-lagi saya sakit. Bangun tidur tak bisa bergerak, yang bisa keluar hanya air mata. Ada apa sebenarnya? Mau sms saat Subuh pun tak kuat menggerakkan jemari. Suara tak bisa keluar. Nafas rasanya kering. Sakit apakah saya ini? Yang saya ingat tadi malam saya menangis hebat setelah menghubungi seorang maling dennga harapan dia tahu bahwa dia telah mencuri mimpi saya. Tapi yang saya rasakan tetap saja berupa undefined sadness.

Saya terlanjur percaya bahwa segalanya pasti ada sebabnya kecuali sang Causa Prima. Maka ketika jari-jari saya telah bisa menari lagi, saya segera berkirim sms kepada atasan, trainer dan seorang kolega tepercaya saya. Saya minta ijin cuti sakit dan akan membawa surat dokter ketika saya kembali bekerja nanti. Mereka ok. Namun masih ada masalah. Saya tidak kuat pergi ke dokter. Lemas. Saya merasa baru akan bisa mengunjungi dokter nanti sore, seorang teman berjanji akan menemani saya ke dokter. Maka saya harus menguatkan tubuh dulu sambil terus saja berpikir apayang membuat saya sedih dan lemah lahir batin sedemikian hebat.

Sesungguhnya kesedihan ini bersumber dari kemarahan saya. Saya sedang marah sehingga saya sedih karena kemarahan saya. Kemarahan apakah ini yang tak kunjung terputus? Dalam diam saya mencoba relaksasi dan menganalisis dalam kepasrahan.

Hmm…

Gumaman parau berubah menjadi suara-suara lembut yang membimbing saya menuju sebuah titik cahaya. Disana masih ada warna. Merah, kemarahan. Lama saya melintasi merah, masih ada warna. Hijau, kesegaran. Lalu biru, ketenangan, lalu biru muda lalu merah muda seperti bunga teratai lalu putih lalu tak berwarna…

Sejenak saya hidup dalam realitas tanpa warna yang menyejukkan. Sangat singkat namun mampu menjawab segala mencairkan kemarahan saya.

Saya tahu saya masih marah dan masih akan marah dalam beberapa saat ini dan kemungkinan akan sakit lagi namun saya bahagia karena saya tahu kenapa saya marah.

Seseorang memang telah mencuri mimpi saya. Menghempaskan saya untuk mengejar mimpinya dengan membawa hak saya tanpa peduli kewajiban. Namanya pencuri tak prihatin apakah sang tuan rumah bersedih atau tidak. Dia telah mendapatkan apa yang dia incar selama ini. Yang dia incar adalah ketenangan dan keikhlasan saya. Dia telah mencuri ketenangan dan keikhlasan saya dan melarikannya ketika saya sangat lengah. Bahkan kini dia mengklaim bahwa dia telah memiliki keikhlasan dan ketenangan yang sebenarnya adalah milik saya. Pencuri terkutuk!

Kemarahan ini tak akan habis begitu saja hingga pencuri itu tertangkap polisi atau dilindas kereta atau digebugi massa atau biar tenggelam dimakan paus. Namun saya juga harus paham bahwa saya tidak boleh menunggu kapan itu terjadi. Saya tidak perlu penasaran kapan pencuri itu kena batunya; biarlah ini menjadi urusan Yang Berwajib. Yang pasti saya teraniaya dan saya berdoa secara rahasia.

Saya akan mengejar mimpi saya. Saya telah pernah memiliki kekuatan dan ketenangan yang kini hilang itu. Sejatinya saya lebih kaya daripada pencuri bangsat itu. Saya lebih hebat daripada pencuri sialan itu. Saya lebih kuat daripada pencuri jiancuk (umpatan khas Jawa Timur) itu. Dan, saya pasti bisa memiliki apa yang telah pernah saya miliki. Tanpa merebut, tanpa mencuri, tanpa merampas, tanpa menipu.

Wahai Sudara, jangan biarkan siapapun mencuri mimpi-mimpimu.

June 11, 2008

SEKANTONG JAMBU AIR IBU SRI

SEKANTONG JAMBU AIR IBU SRI

Sudah bertahun-tahun saya mengenal ibu yang satu ini dan makin lama makin saya paham betapa hangatnya pribadi beliau.

Dua minggu yang lalu beliau masuk rumah sakit karena DBD dan saya sempat menjenguknya dua kali. Kali pertama adalah hari pertama, itupun tidak sengaja.

Saya sengaja pulang cepat hari itu (Senin May, 2008) karena dua alasan:

  1. Permintaan tolong untuk meleraikan pertengkaran beberapa teman saya.
  2. Asam lambung saya naik dan terasa sangat perih tidak kuat menehan mual dan perih.

Di patas AC 138 jurusan Blok M-Tangerang saya mencoba menghubungi seorang teman kecil saya, Latifah Danirmala (8 tahun, putri pertama Mbak Wulan, sahabat saya) yang buat saya adalah seorang teman curhat yang bisa mengerti saya tanpa saya harus menjelaskan apa masalah saya. Kami saling menghibur dengan tatapan dan cerita-cerita lucu kami.

“Bu Rike, Mbah Titi di rumah sakit dianter ibu tadi pagi. Tapi aku nggak tahu sakitnya apa dan rumah sakitnya dimana. Aku bangunin ayah dulu ya.”

Dari ayah Lala saya mendapat info bahwa mbah putri Lala yang bernama Ibu Sri Murwani dirawat di RS Sari Asih Tangerang.

“Oke Mas, aku langsung kesana aja. Ntar aku tanya ke Mbak Wulan ruangnya apa.”

Segera saya menelpon teman saya yang ternyata urung memerlukan jasa saya sebagai juru damai, yang berantem udah pada nangis nyesel Mbak, kata yang menelpon saya. Dengan bersenjatakan sekantong plastik susu beruang (pada saat diperah si induk beruang harus dibius dulu kali ha ha ha) dan dua bungkus biscuit Roma saya menyambangi Ibu Sri yang ternyata sedang sendiri karena ibu Lala harus pulang dulu mengurus anak-anak. Karena bertepatan dengan makan siang maka saya merasa terpanggil untuk menyuapi beliau. Menunya: nasi putih, sop rasa Aqua, empal dan tempe goreng rasa hambar. Beliau diet garam rupanya.

Kali kedua adalah hari ketiga beliau dirawat, malam hari setelah saya dikabari ayah Lala via Yahoo Messenger bahwa Ibu Sri terserang DBD. Saya bawa Poccari Sweat kalengan untuk si sakit serta CocaCola dan Nescafe untuk yang menemani beliau. Disitu saya punya kesempatan pertama dalam hidup saya untuk mengerjai Ibu Sri: Ayo Ibu, minum angkaknya. Ayo dong. Ini saya maksa lhoo…

Minggu pagi saya menerima sms “Ibu pulang Jumat pagi. Sekarang sudah sembuh berkat bantuan doanya. Semoga sehat selalu”. Karena Ibu Sri hobi jalan-jalan maka saya jawab “Alhamdulillah. Semoga cepat segera kuat biar kita bisa jalan-jalan lagi”.

Minggu June 8, 2008. Saya sedang browsing internet ketika Ibu Sri menantang akan datang sendiri ke tempat saya demi mengantarkan jambu air andalannya. Saya jadi tidak enak karena seharusnya saya yang lebih muda yang harus berkunjung ke beliau yang sudah hampir 60 tahun itu.

Seperti biasa kami saling bertukar cerita dan pengalaman terkini dan ketika saya menunjukkan majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2008 beliau kembali mengenang perjalanan beliau ketika bergabung rombongan Coca Cola Foundation melancong ke Kasepuhan Ciptagelar di Gunung Halimun sana. Ngomong punya ngomong akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan bersama. Ke Kasepuhan Ciptagelar? Tidak… Kami akan ke Green Canyon Cijulang saja yang lebih mudah untuk ditempuh oleh beliau. Andai ibunda saya bisa bergabung ya…

Sambil makan jambu air yang pemiliknya belum pulang saya menunjuk-tunjuk kalender dan sepakat untuk berkunjung kesana bulan Agustus mendatang. Kami tertawa-tawa gembira. Aduh senangnya hati saya, dikunjungi piyantun sepuh (orang tua – bahasa Jawa). H
anya gara-gara setas plastik jambu air belaiu rela nyetir mobil sendiri malam-malam. Pasti bukan hanya karena beberapa buah jambu air yang takut habis dibagi-bagi sedangkan saya yang sudah ngiler sejak beberapa bulan lalu tidak kebagian. Pasti ini demi sebuah silaturahmi.

RENGGINAN DI RUMAH KOST

RENGGINAN DI RUMAH KOST

Orang Jawa tulen pasti tahu rengginan. Rengginan dikenal di seluruh telatah (wilayah) tanah Jawa dengan nama yang berbeda tergantung pemberian masyarakatnya. Dia bisa rengginan, arang-arangginan atau rengginang. Bagi Sudara yang belum tahu rengginan, ketahuilah bahwa dia adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu dibumbui bawang dan garam, dibentuk bulat besarnya sesuai selera lalu dijemur dan jika sudah kering bisa digoreng dan dihidangkan. Rasanya renyah dan gurih. Warna bisa mulai dari putih (warna asli ketan putih), ungu kehitaman (warna asli ketan hitam), merah, kunih, hijau. Sampai saat ini belum ada warna lain.

Bagi anak muda Jawa jaman sekarang rengginan bukan lagi makanan istimewa. Dia sekedar pajangan pelestarian budaya yang kalau tidak di-uri-uri (dilestarikan) akan kualat pada nenek moyang. Terciptalah rengginan dengan rasa manis, rasa keju dan segala rasa yang ujung-ujungnya rengginan-rengginan yang tradisional juga. Makanan kampung.

Kenapa saya pilih rengginan? Karena bagi saya rengginan adalah sebuah perlambang sekaligus kenangan saya pada saat saya kuliah, kost jauh dari orang tua.

Saya dulu kost berpindah-pindah. Dari Gubeng Airlangga III ke Gubeng Airlangga I ke Gubeng Airlangga VI ke Asrama Putri ke Gubeng Kertajaya ke Karangmenjangan. Di salah satu tempat itulah rengginan mendapatkan kehormatan tiada tara.

Saya biasa pulang sebulan sekali ke kota saya yang waktu tempuhnya 3 jam kalau naik bis patas (patas di Jatim selalu pakai AC) atau 4 jam pakai bis non patas. Tiap kembali ke Surabaya saya tak lupa membawa oleh-oleh yang tidak selalu enak dinilai lidah teman-teman saya yang juga berasal dari luar Surabaya; saya yakin mereka kenal rengginan tapi tidak menggemarinya.

Pada suatu hari saya balik ke Surabaya membawa rengginan mentah titipan ibu saya. Saya pribadi bersedia membawa rengginan itu karena saya telah membuktikan bahwa rengginan yang dititipkan itu rasanya Recommended. Sangat tidak biasa. Lezat. Ibu kost dan keluarga mengakuinya.

Namun sayangnya teman-teman saya tidak mempercayainya. Begitu tahu bahwa saya hanya membawa rengginan mereka kecewa dan tertawa-tawa.

Kurang ajar benar mahasiswi-mahasiswi yang mengaku sholehah ini.

Di akhir bulan, biasanya kondisi keuangan kami menipis dan terpaksa kami mengirit termasuk beberapa orang yang uang jatahnya berlipat ganda dibanding uang jatah saya. Mereka inilah yang mengejek rengginan saya.

Dengan kreatif saya dan teman sekamar saya mengeluarkan makanan sakti kami berupa rengginan yang tentu saja telah berkurang karena saya dan dia menikmatinya setiap hari sambil belajar.

Ternyata orang-orang kaya yang sedang melarat itu mau juga memakannya. Awalnya malu-malu, lalu coba-coba kemudian… Wah, ternyata mereka doyan bahkan mereka makan lebih banyak. Kabar baiknya, saya masih ingat merekalah yang menghabiskan rengginan saya.

“Enak lho Mbak… Siapa yang bikin?”

“Ini pasien ibuku melahirkan, trus gak bisa bayar penuh nglunasinnya pakai rengginan. Bener nih enak?”

“Iya. Bener. Masih ada nggak yang mentah? Kita goreng lagi yuk. Biar aku yang beli minyak.”

Saya terkagum-kagum lalu tercenung. Apa benar mereka menikmati rengginan ini? Atau hanya karena mereka sedang mengurangi pengeluaran sambil menunggu ATM mereka penuh kembali?

Saya membayangkan orang-orang kaya di sekitar saya saat ini sebagai teman-teman kuliah saya yang kaya yang menghabiskan rengginan malang itu. Apakah mereka memang menikmati “penjarahan” itu karena mereka menyukai rasa hasil jarahan atau karena mereka mengadakan “perburuan” karena kebutuhan? Saya tidak pernah tahu karena saya tidak menawarkan rengginan lagi sejak saat itu.

MULTI LEVEL MARKRITING

MULTI LEVEL MARKRITING

MLM…

Tiga huruf ini mengingatkan saya ada orang-orang yang kukuh dan gigih dengan apa yang dia yakini dan lakukan.

Sebelum saya menjadi MP-er (Multiplier) seperti sekarang, saya pernah mengajar di sebuah lembaga pendidikan yang sampai saat ini masih saya anggap sebagai rumah saya karena saya sangat dekat secara pribadi dengan personnel-nya. Dengan para students-nya saya juga cukup dekat. Mungkin karena saya suka SKSD (sok kenal sok dekat) dengan mereka sehingga saya pernah dinobatkan menjadi pengajar tertenar. Sebuah gelar yang tidak membuat saya bangga tapi membuat saya sangat bersyukur karena saya diakui punya banyak teman.

Apa hubungannya dengan MLM?

Seorang student saya memiliki cita-cita menjadi historical MLM-er menjadi member termuda yang menduduki peringkat “duta besar bermahkota”. Dia menjadikan saya kaki-nya lalu menjadikan banyak teman saya sebagai kaki-kaki saya dan kaki-kaki dari kaki saya dan seterusnya sehingga posisi student saya ini semakin menjulang tinggi termasuk karena sokongan saya.

Saya salut dengan dia. Percaya diri dan semangatnya yang berkobar-kobar membuat saya malu kenapa waktu muda dulu saya tidak kenal MLM sehingga dalam usia segini saya akan telah memiliki rumah megah dan mobil mewah dan bisa jalan-jalan melihat salju yang berupa es tapi tidak basah. Nasib…

Yang saya ingin ceritakan adalah sebuah cerita lain tentang MLM yang saya alami belum lama ini.

“Mbak, ayo ikut ke seminar kesehatan.”

“Dimana Ta?”

“Di Jakarta.”

Setelah mengiyakan maka kami bikin janji untuk pergi bersama menimba ilmu supaya kita tahu apa yang mesti kita lakukan bila ada keluarga atau orang dekat kita yang sakit.

Pada hari H kami pergi berlima: saya & Novita (yang diundang), Dita & Irfan (yang mengundang) dan supir Dita. Saya sempat heran kalau seminar kok tidak ada undangan. Malahan bayarnya di depan pintu dan kami dibayari.

Tapi saya percaya karena saya lihat di ujung ruangan seperangkat LCD stand by menampilkan tulisan SEMINAR KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN… Di pojok kanan bawah tertulis nama perusahaan obat yang kurang saya kenal (belakangan saya tahu bahwa itu nama supplier di Indonesia).

Setelah beberapa saat menunggu suara musik terdengar bertalu-talu. Saya dan teman lain yang diundang terbengong-bengong karena sang MC memperkenalkan sebuah produk MLM yang pernha saya dengar dari teman lain. Saya lemas. Merasa ditipu, dijebak, dimanfaatkan. Saya tidak semangat. Untuk bertepuk tanganpun saya pelit tapi nggak enak sama pengundang. Di akhir acara kami berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil lalu saya dan teman yang diundang tadi diprospek. Saya bingung mau jawab apa antara menolak dan nggak enak sama teman saya yang mengundang. Teman yang diundang juga begitu.

Saya tidak menyalahkan teman saya yang mengundang itu. Dita adalah salah satu teman terbaik saya. Dia sering men-support saya kalau semangat saya lagi melorot.

Saya hanya menyesal karena secara tidak sengaja saya menceritakan bagaimana student saya
yang sukses karena MLM, lalu saya juga bercerita MLM adalah salah satu cara untuk menjadi kaya. Saya juga bilang seandainya saya jadi MLM-er tangguh maka saya akan bisa kaya raya; saya akan punya kebebasan uang dan waktu. Singkatnya saya bercerita tentang mimpi saya menjadi kaya karena MLM.

Sungguh MLM yang saya bayangkan ini bukan Multi Level Marketing. MLM yang saya maksud adalah Multi Level Markriting karena saya TERBURU-BURU memaknainya sebagai jalan untuk kaya tanpa tahu bahwa saya harus begini, begini, begini, begitu, dll sehingga saya hanya membayangkan kekayaan yang saya perolah sampai otak saya kriting jadinya.

Saya memang hobi cerita tapi sekarang saya nggak mau cerita lagi tentang MLM kepada sembarang orang. Kapoooook…

Sukses untuk para MLM-er yang tangguh.

KESANDUNG GUNUNG

KESANDUNG GUNUNG

Istilah ini saya dapat dari memory otak saya yang terbatas dan kabur ini. Sepertinya ada seorang bijak bestari di masa lalu yang mengingatkan hal ini pada saya. De javu.

Boleh lah kita bertanya-tanya apa iya sih kita ini bisa kesandung gunung? Pertanyaan logis dan masuk akal. Jangankan kesandung, nabrak saja nggak bisa kecuali kita terbang dengan pesawat atau gantole dan kehilangan koordinat lalu mak gabruk. Bisanya kita ini mendaki gunung atau glundhung (jatuh berguling-guling) dari gunung saat mendakinya.

Tapi Sudara, gunung disini bukan gunung fisik seperti Semeru, Kelud, Slamet, Kerinci, Rinjani, Bolo, Klothok, Salak, Welirang, Kendeng, dll sebutkan sendiri namun dia adalah simbol masalah besar yang dihadapi manusia. Nah, seperti pada saat seseorang mendaki gunung, pastinya dia akan sangat berhati-hati. Bahkan ekstra hati-hati. Terbayang di jalan banyak gangguan: manusia lain, alam yang keras, cuaca yang changing, makhluk hidup lain (macan, ular, gendheruwo, lintah, nyamuk, dll) dan hal-hal lain yang masuk dalam budget “angggaran tak terduga”.

Masalah besar cenderung kita perlakukan dengan sangat khusus seperti kita memperlakukan kristal (kalau kita tahu itu kristal kualitas tertinggi dan berharga untuk kita tentunya) sehingga kadang saking takutnya terhadap kegagalan menghadapi masalah tersebut kita malah tidak melakukan apa-apa. Bengong aja. Sedih aja. Nelongso aja.

Lalu apa yang bisa tersandung oleh kaki kita kalau bukan gunung? Dialah KERIKIL alias batu kecil…

Tak sedikit manusia yang tersandung batu saat mereka berjalan. Kedengarannya tidak serius namun jika dianalogkan dengan pembahasan kesandung gunung diatas, bisa saja dampaknya sama besarnya dengan glundhung dari gunung.

“Suster, obat saya diminum jam berapa?”

“Yang penting sebelum makan ya Mbak.”

“Yang merah juga?”

“Iya.”

“Kemarin kok nggak ada warna biru ya Sus? Ini bener obat saya? Tolong cek dulu Sus.”

“Iya lah, Mbak. Masak obat pasien saya tuker-tuker?” Sang suster sedikit meninggikan suaranya tanda tersinggung lalu pergi.

Maka sebagai pasien yang taat meminum obat sebelum makan sembilan tablet yang menurut perasaan saya tidak biasa karena ada satu pil warna biru. Biasanya posisin pil warna biru itu digantikan oleh pil warna hijau muda. Saya juga tidak tahu itu obat apa yang penting glek aja langsung. Baru kemudian saya makan.

Belum selesai makan, saya tersedak. Tenggorokan saya terasa tercekik. Lalu saya sesak napas. Mbak Srikah, sepupu saya yang telah menemani saya di rumah sakit selama 4 hari panik lalu memencet bel dan datanglah suster yang memberikan obat tersebut setelah 15 menit kami menunggu. Saya melihat perubahan fisik saya: ujung-ujung jari saya berwarna hitam, kulit saya memucat, pandangan saya kabur, badan saya dingin dan kebas, kesadaran saya juga perlahan menurun. Saya sempat berpikir saya akan mati dan sekilas mendengar sepupu saya istighfar dan membisiki saya kalimat-kalimat ilaahi.

Apakah menyiapkan obat untuk pasien adalah hal kecil? Ya. Rutin. Mudah. Termasuk kerikil dalam tugas sang suster. Apalagi pasien dirawat hanya karena alergi obat bukan karena sakit jantung atau kanker. Namun karena suster tidak berhati-hati berjalan tersandunglah dia. Dia hampir membunuh seorang Rike yang salah minum obat warna biru dan tidak segera datang saat bel berbunyi dengan alasan bel-nya berisik dipencet berulang-ulang.

Sekarang saya belajar bahwa hal-hal kecil perlu kita perhatikan sesuai porsinya. Seandainya sang suster mau memeriksa obat dalam cangkir plastik mungil sebelum ngeloyor pergi, dia tidak perlu mendapatkan hukuman keras karena “meracuni” pasien. Dan dia tidak perlu sakit hati dicaci-maki dokter. Dia juga tidak malu dianggap tidak becus bekerja.

Oalah sakitnya kesandung kerikil. Anda pilih mana? Kesandung gunung atau kesandung kerikil?

Kalau saya sih pilih makan gado-gado.

HAK PATEN SEBUAH IMPIAN

HAK PATEN SEBUAH IMPIAN


Kisah ini adalah tentang penghargaan terhadap ide seseorang.

Teman terdekat saya memiliki segudang ide yang deras mengalir seakan pikirannya adalah mata air jernih yang tiba2 memancarkan air bah. Dan saya seperti sebuah kuali tanah yang kepenuhan.

Beberapa minggu lalu saat kami menikmati gurihnya tahu goreng dan udang goreng tepung berdua, air bah itu datang lagi.

”Aku ada ide, kita bikin bla bla bla…”

Saya sendiri sang pemikir kelas teri segera mengamini karena yang terbayang di benak saya adalah bisnis yang cocok dengan hobi saya. Orang normal memilih pekerjaan yang dia sukai bukan?

Hingga beberapa saat kemudian karib saya ini tidak juga mengajak saya rembugan ttg bisnis ini maka saya pun langsung mengawalinya.

”Bla bla bla… Ayo kapan? Ntar kalau dalam waktu 2 bulan kamu gak move, ide ini aku jalanin sendiri lho, Bro!” kata saya.

”Iya deh, asal royalti tetep jalan. Traktir n0nt0n atau makan udah cukup,” jawab dia.

”Gak bisa. Kan aku yang kerja… Lagian kamu punya ide bukannya direalisasi sesegera mungkin.” Saya menyergah dengan tegas.

Sekarang saya merenungi apa yang saya katakan pada teman saya bahwa dia tidak berhak mendapat royalti karena sayalah yang mewujudkan konsep menjadi praktik. Kalau hal itu terjadi, alangkah jahatnya saya merebut sebuah impian sukses sesama. Jika saya jadi memakai ide tanpa memperhitungkan proses mengkhayal si pemikir, alangkah bodohnya saya, alangkah sombongnya saya…

Kalau goyang Mbak Inul yang sempat bikin heboh saja dipatenkan, mengapa ide cemerlang tidak? Padahal keduanya sama-sama berawal dari percikan mimpi. Mbak Inul pernah bermimpi terkenal sebagai entertainer. Karib saya bermimpi menjadi seorang pebisnis.

Saya membayangkan Pak Bogan, rekan saya karyawan di Kantor Hak Paten akan sangat sibuk mendata para pendaftar yang ingin mempatenkan penemuan mereka.

Malahan saya sedang berpikir bahwa orang yang mencetuskan ekspresi berikut pantas mendapat hak paten bahasa.

Masak sih…
Iya lah… Masak iya dong. Namanya juga anak sekolah bukan anak sekodong…

Saya yakin hanya orang kreatif yang berani bereksperimen dengan hal baru walau kadang aneh, nyleneh, sinting. Saya gemas mengetahui bahwa saya tergolong manusia yang menghargai ide hanya sebagai sebuah hasil bukan sebuah proses. Dan saya menyesal. Maka saya pun dating kepada karib saya tersebut untuk menyetujui royalty yang dia minta.

”Ok, nanti aku traktir kamu. Tapi jangan bilang-bilang kalau ini ide dari kamu ya Bro,” ujar saya sambil cengengesan.

Ha ha ha…

PEJALAN KAKI AMATIR

PEJALAN KAKI AMATIR

Dari terminal Blok M ke tempat kerja saya berjarak sekitar 2 kilometer. Terlalu pendek untuk ditempuh dengan kendaraan bermotor. Jadi idealnya mesti berjalan kaki. Disinilah tantangan terbesar bagi saya setiap pagi karena berjalan kaki di kota Jakarta bukan sebuah kegiatan yang menyenangkan lantaran banyaknya “godaan”.

Kalau godaan berupa lelaki ganteng bukan hal sulit bagi saya karena subjektivitas saya terhadap keindahan terbilang tinggi. Jadi apa godaannya?

Pernah saya harus merapatkan badan saya ke pagar pembatas halaman dengan trotoar karena para pengendara m0t0r menemukan trotoar sebagai jalur cepat untuk mencapai tujuan.

Pernah juga saya harus keluar trotoar karena sebuah potted plant ukuran jumbo menghadang langkah saya saat harus berpapasan dengan pejalan kaki lain.

Mata juga harus awas karena lubang menganga disana-sini. Biasa-bisa nyemplung basah dan bau atau terbelit kabel entah instansi mana.

Bukan Jakarta namanya kalau tak ada sampah berceceran di persimpangan (sampah ditumpuk di persimpangan untuk memastikan bahwa petugas melihat dan lalu memungutnya), padahal disitu tersedia tempat sampah. Walhasil, sol sepatu saya mesti multi quality: high suspension, anti lengket, anti basah kalau bias juga anti kotor dan bau.

Plus warni (warung mini) yang mengurangi lebar jalur pejalan kaki.

Yang paling mengenaskan adalah sesama manusia yang mencipratkan air lantaran kaca film membuatnya tidak mampu membedakan mana aspal rata mana hitam kubangan air hujan; ditambah musik di m0bilnya membuat teriakan kemarahan senada dengan teriakan Freddie Mercury “We are the champion my friend…” Seakan sedang balapan di Sentul!

Oalah, mau jalan aja kok susah.

Pernah saya berpikir bahwa jalan kaki adalah cara murah dan sehat untuk mencapai kantor. Namun sempat juga saya berpikir naik kendaraan bermotor bisa membuat saya tiba di kantor dalam keadaan lebih tenang dan bersih sehingga tetap merasa nyaman saat bekerja sampai usai nanti.

Alamak, kapan saya bisa hidup tenang sebagai orang kecil? Bagaimana bisa tenang? Sudah saya ini rela hidup sederhana eh masih juga dipersulit. Kalau saya sudah kehilangan kesabaran, saya kemana-mana naik Jaguar saja! Masalahnya untuk seliweran pakai Jaguar saya juga masih harus sabar. Sabar, sabar, sabar…

ALL IN ONE ACER

ALL IN ONE ACER

(Acer should thank me for this free and creative advertisement)

Notebook saya adalah sahabat terdekat saya melebihi orang terdekat saya saat ini. Dia teman saya saat kerja dan jeda. Bukan suatu kebetulan, ini karena notebook saya dilengkapi dengan piranti lunak dan keras yang memungkinkan saya bekerja, nonton, berpose, berselancar, menghitung, menyimpan data, dan masih banyak lagi. Dan itu membuat saya senang.

Ternyata kesenangan saya menular ke teman-teman kerja saya. Mereka tahu betapa mudahnya dan bahagianya saya karena bisa memenuhi kebutuhan saya dengan hanya satu benda sehingga saya selalu bersuka apapun konteks yang kami bawakan, entah ledekan atau apa lah namanya. Mari simak kegembiraan yang telah saya bawa pada mereka.

Teman : Mbak, kok USB-nya gak dibawa?

Saya : Ini, bawa.

Teman : USB merk Acer maksud gue…

Teman : Udah kirim passport photo belum, Ke?

Saya : Belum. Kita foto sendiri aja. Indo office pake batik aja.

Teman : Iya, besok lu bawa kamera Acer lu ya…

Saya : Sekarang gw gampang kalo mau ngitung. Udah punya kalkulator.

Teman : Kalkulator Acer…

Saya : Dari pengalaman beli notebook tanpa teman duh jadi tahu ternyata beli komputer gak semudah yang gue bayangkan.

Teman : Iya lah, gampang mah beli DVD player.

Teman : Hey, jangan salah. Itu DVD player merk Acer.

Teman : Bukan… Itu home theatre merk Acer…

Teman : Ke, jangan lupa besok bawa bluetooth merk Acer ya…

Teman : Mbak, laptopku kok gak bisa deteksi wireless kantor padahal punya lu bisa.

Saya : Acer…

Teman : Huuuuuuuuuuuuuuu…

Kami : Ha ha ha ha ha…

Semua disambut dengan derai tawa. Sekarang saya makin yakin bahwa hanya orang bahagia yang bisa membahagiakan orang lain. Stay happy whoever we are.

daftar buku

Saya memenuhi permintaan teman saya, Jati. Berikut daftar sebagian buku yang saya miliki. Kolom asli ada banyak tapi karena gak bisa masuk semua saya hanya include judul buku dan nama pengarang saja. Semoga bermanfaat…

TITLE AUTHOR
A Twist in the Tale (anthology)
Being People (anthology)
Four Stories By Stephen Crane (anthology)
Menulis Itu Indah (anthology)
Misteri Pengumuman Penggemar Harry Potter A. Ataka A. R
Bulughul Maram A. Hassan
Bulughul Maram A. Hassan
A Practical English Grammar A.J. Thomson & A.V. Marinet
Jangan Cemas Menghadapi Masa Depan Abdul Aziz al Husaini
Nama-Nama Islami Abdulaziz Salim Basyarahil
Demi Masa Abdullah Gymnastiar
Indahnya Hidup Merdeka Abdullah Gymnastiar
Wasiat Dzikir & Doa Abu Wardah Bin Askat
Alfatihah Achmad Chojim
Mistik dan makrifat Sunan Kalijaga Achmad Chojim
Tragedi Tiga Babak Agatha Christie
Makrifat Jawa Agus Wahyudi
Al Asma’ul Husna Al Ghozali
Keajaiban-Keajaiban Hati Al Ghozali
Minhajul Abidin Al Ghozali
Setitik Cahaya Dalam Kegelapan Al Ghozali
Transendensi Ilahi Al Ghozali
Kiblat Cahaya Al-Gazali
Durusul Lughatul Arabiyya
h
Ali Thoriq Al Hadits
Samarkand Amin Maalouf
Menemui Allah Amiruddin Syah
Sifat 29 Pembuka Tabir Amiruddin Syah
Mom, I Love You Andi Yudha Asfandiyar (anthologi)
Edensor Andrea Hirata
Laskar Pelangi Andrea Hirata
Sang Pemimpi Andrea Hirata
Akulah Angin Engkaulah Api Annemarie Schimmel
Memahat Kata Memugar Dunia Ari Nilandari
Habis Gelap Terbitlah Terang Armijn pane
Budak Sang Raja Arni Hidajati
ESQ (blue cover) Ary Ginanjar
ESQ (white cover) Ary Ginanjar
Cara Cepat Belajar Tajwid Praktis As’ad Humam
Bermain-main Dengan Cinta Bagus Takwim
Filsafat Timur Bagus Takwim
Meng-install Nyali Bambang Trim
Kritik Bibel Baruch Spinoza
Mitologi dan Toleransi Orang Jawa Benedict R. O’R. Andersen
The Tao Of Pooh Benjamin Hoff
Understanding and Using English Grammar Betty Schrampfer Azar
Quantum Teaching Bobbi de Porter
Bunda, Maafkan Aku Burhan Sodiq
Samkok 3 C.C. Low
The Dragons of Eden Carl Sagan
Reach Out 2 Catherine M. Frazier, Julie Deferville, May Tai
World’s Hardest Puzzles Charles Barry Townsend
Shirley Charlotte Bronte
The Professor Charlotte Bronte
Villette Charlotte Bronte
Klasifikasi Kandungan Alqur’an Choiruddin Hadhiri SP
The Art of Happiness at Work Dalai Lama & Howard C.Cutler M.D.
SQ Danah Zohar & Ian Marshall
Adam Ma’rifat Danarto
Robinson Crusoe Daniel Defoe
A Whole New Mind Daniel H. Pink
Managing Stres David Fontana
A Treatise of Human Nature David Hume
Filosofi Kopi Dewi Lestari
Supernova – Akar Dewi Lestari
Supernova – Petir Dewi Lestari
Harvey Angell Diana Hendry
Etika Sekretaris dan Human Relationsnya Didi Wahyu Sudirman
Islam Cakrawala Estetik dan Culture Dr. Abdul hadi W.M.
SDM yang Produktif Dr. Abdul Hamid Mursi
Dari Semar ke Sufi Dr. Abdul Munir Mukhan
Al Quran dan Rahasia Angka Angka Dr. Abu Zahra’ An-Najdi
Jadilah Wanita yang Paling Bahagia Dr. Aidh Bin Abdullah Al Qarni
Cara Cerdas Mengambil Keputusan Dr. Akrim Ridha
Islam Sufistik Dr. Alwi Shihab
Khazanah IPTEK dalam Al Quran Dr. H. Hamzah Ya’qub
The Magic Lantern Dr. Joe Rubino
Mi’raj Rohani Meenmui Nur Ilahi Dr.
Kuswanto
Ailah, Masa Depan Kaum Wanita Dr. Lamya’ Al faruqi
Sepintas Sastra Sufi Dr. M. Fudoli Zaini
Pandangan Ahlu Sunnah Terhadap Ahlul Bait Dr. Muhammad Abduh Yamani
Istihza’ Dari Canda Turun ke Neraka Dr. Muhammad bin Salim Al-Qahthani
EQ Dr. Patricia Patton
Babad Majapahit Dr. Purwadi, M.Hum
Jalan Cinta Syekh Siti Jenar Dr. Purwadi, M.Hum
Jangan Menyesal Menjadi Wanita Dr. Yusuf Qardlawi
Keprihatinan Muslim Modern Dr. Yusuf Qardlawi
Buah dan Sayur untuk Terapi Dra. Emma S. Wirakusumah, M.Sc
Setiap Orang Mencari Alamatnya Dra. Hj. Marlinda Irwanti Poernmo SE. Msi
Komik Nina Dutch writers
Agar Anggrek Rajin Berbunga Dyah Widiastoety Darmono
Covering Islam Edward Said
Kalau kaya Ngapain Sekolah Edy Zaqeus
Dari Sayid Quthb, Ali Syariati, The Lord of The Rings hingga Bollywood Ekky Malaky
Folklore Madura Emha Ainun Najib
Islam Liberal Emha Ainun Najib
Istriku Seribu Emha Ainun Najib
Kafir Liberal Emha Ainun Najib
Kiai Bejo Emha Ainun Najib
Kyai Kocar Kacir Emha Ainun Najib
Wuthering Heights Emily Bronte
Quantum Ikhlas Erbe Sentanu
A Farewell to Arms Ernest Hemingway
The Old Man and The Sea Ernest Hemingway
An Outline of English Literature G.C. Thornley & Gwyneth Roberts
Adam Bede George Eliot
Silas Marner George Eliot
Animal Farm George Orwell
Brain Teaser in English Golden Books Centre Sdn. Bhd.
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta Gus tf Sakai
The Great Short Stories Guy de Mauspassant
Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid III H Salim Bahreisy & H Said Bahreisy
Principles of Language Learning And Teaching H. Douglas Brown
Kisah dan Ajaran Wali Songo H. Lawrens Rasyidi
The Great Warrior H.A. Benimo Omar
Sifat Dua Puluh Awaluddin Habib Usman Bin Yahya
Apa Itu Salafi Hartono Ahmad Jaiz
Beberapa Rahasia Dalam Al Quran Harun Yahya
Keindahan Dalam Kehidupan Harun Yahya
Semangat & Gairah Orang2 Beriman Harun Yahya
Akidah Syi’ah Hasan Abu Ammar
Menulis Bisa Bikin Kaya Helvy Tiana Rosa
Wanita Yang Mengalahkan Setan Helvy Tiana Rosa
Tom Jones Henry Fielding
The International Jew Henry Ford
The Protocols of The Meetings of the Elders of Zion Henry Ford
Misteri Natal Herbert W. Armstrong & Masyhud S.M.
Air Penyembuh Ajaib Herminta de Guzman-Ladion
Aku Ingin Bunuh Harry Potter Hernowo
Percakapan dan Tata Bahasa Belanda Herpinus Simanjuntak
Nabi Yunus Hilmi “Ali Sya’ban
Mempertanyakan Kebangkitan & Kenaikan Isa Al Masih Hj. Irena Handono
Menata Diri Dengan Tadbir Ilahi Ibn ‘Arabi
Misteri Kun ibnu Arabi
Membongkar Rahasia Perdukunan Para Kiai Ibnu Mahalli Abdullah Umar
Kesombongan Iblis Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Melumpuhkan Senjata Syetan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Shaidul Khatir Ibnul Jauzy
Roh Ibu Qayyim Al jauziyah
Hikayat Putri Penelope Idrus
Ilmu Laduni Imam Al-Ghazali
Metafisika Alam Akhirat Imam Al-Ghazali
Tangga Ma’rifatullah Imam Al-Ghazali
Kepada Anakku Dekati Tuhanmu Imam Ghazali
Tangga Makrifat Imam Gozhali
Hakikat & Rahasia Shalat Imam Khomeini
Gadis Dalam Kaca Izzatul Jannah
Remaja Gila Baca Izzatul Jannah
Harry Potter 1 J.K Rowling
Harry Potter 2 J.K Rowling
Harry Potter 3 J.K Rowling
Harry Potter 4 J.K Rowling
Harry Potter 5 J.K Rowling
Harry Potter 6 J.K Rowling
Harry Potter 7 J.K Rowling
The Call of the Wild Jack London
To Build A Fire Jack London
Diwan Syamsi Tabriz Jalaluddin Rumi
Masnawi Jalaluddin Rumi
Yang Mengenal Dirinya yang Mengenal Tuhannya Jalaluddin Rumi
Propaganda Baru James E. Combs – Dan Nimmo
Dubliners James Joyce
Poland James Michener
Emma Jane Austen
Pride and Porejudice Jane Austen
Sense & Sensebility Jane Austen
Efisiensi Waktu Konsep Islam Jasiem M. Badr Al Muthowi’
Kreasi Coklat Khusus Pemula Jenny Rumenta, SE., MM.
The Night Thoreau Spent in Jail Jerome Lawrence and Robert E.Lee
Heidi Johanna Spryi
Heidi Johanna Spryi
Practical miracles for Mars & Venus John Gray, Ph.D
Kamus Indonesia Inggris John M. Echols & Hassan Shadily
100 Useful Exercises in English John Millington Ward
Megatrends 2000 John Naisbitt & Patricia Aburdene
The Pearl John Steinbeck
Nostromo Joseph Conrad
Twenty thousand Leagues Under The Sea Jules Verne
Sejarah Tuhan Karen
Berperang Demi Tuhan Karen Armstrong
Dan Damai Di Bumi Karl May
Winnetou I Karl May
Winnetou II Karl May
Winnetou III Karl May
Tasawuf Perenial Kautsar Azhari Noel
The Wind in The Willows Kenneth Grahame
Percakapan dan Tata Bahasa Perancis Kesaint Blanc
Matematika Islam KH Fahmi Basya
Senjata Mukmin KH. Hamrolie Harun
Bagaimana Menyukseskan Pergaulan Anda Khalil Al-Musawi
Kata dan Fakta Saling Bertanya Bagi Logika Ki Moenadi MS
Kebenaran Ki Moenadi MS
Kebenaran Sangkaan Ki Moenadi MS
Ketaatan Murni Ki Moenadi MS
Pendidikan Kesadara Rasa Ki Moenadi MS
Pengembangan Daya Bakat Kemampuan Manusia Ki Moenadi MS
Satu Kesatuan Ki Moenadi MS
Satu Kesatuan Ki Moenadi MS
Seri Khutbah Ki Moenadi MS
Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia Ki Moenadi MS
Ummat Islam Telah Berkesadaran Ki Moenadi MS
Indentitas Politik Umat Islam Kuntojoyo
The Four Fingered Pianist Kurnia Effendi
Bunga Rampai Hikamah Tasawuf Kuswanto
Kartun Fisika Larry Gonick & Art Huffman
Wawancara Dengna J.K. Rowling Lindsey Fraser
Female Brain Louann Brizendine
Logika Agama M. Quraish Shihab
Perempuan M. Quraish Shihab
Psikologi Islam M. Thoyibi & M. Ngemron
Blink Malcolm Gladwell
Free To Be You And Me Mario Thomas
7 Rahasia Menjadi Wanita Sukses Marion Luna Brem
The Adventure of Tom Sawyer Mark Twain
Alas For Her That Met Me Mary Ann Ashe
Frankenstein Mary Shelley
Mukjizat Air Masaru Emoto
The True Of Power Of Water Masaru Emoto
The Heart Of A Woman Maya Angelou
I Saw Ramallah Mourid Barghouti
Sikap Negatif Yang Menghambat Kebahagian Muammar Fadhil Nashrullah
Aqidah Muslim Muhammad Al Gazzali
Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam Muhammad Al Ghozali
Sesuaikah Ilmu Dengan Amal Anda Muhammad Nashiruddin Al Albani
Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu Muhammad Nashiruddin Al Albani
Memurnikan Laa Ilaaha Illallah Muhammad Said Al-Qahthani, Muhammad Bin Abdul Wahhab, Muhammad Qutb
Mendobrak Pintu Langit Muhammad Yasser
Terbang Bersama Cinta Muhidin M. Dahlan
Kenapa Kita Tidak berdamai Saja Dengan Yahudi Muhsin Anbatani
Trend Islam 2000 Murad Wilfred Hoffman
Kimya Sang Putri Rumi Muriel maufroy
Writing & Being Nadine Gordimer
Kencan Dalam Bahasa Thailand Nasir Ramli
Namaku Merah Kirmizi Orhan Pamuk
The Complete Works of Oscar Wilde Oscar Wilde
HAMAS Kenapa Dibenci Amerika Penerbit Hikmah
Don’t Get Me Wrong Peter Cheney
I Was a Rat Philip Pullman
The Amber Spyglass (trilogy) Philip Pullman
The Golden Compass (trilogy) Philip Pullman
The Subtle Knife (trilogy) Philip Pullman
Vocabulary Development Skills Pieter A. Napa
The 7 Habits of Highly Effective People Pitoyo Amrih
Panggil Aku Kartini Saja Pramudya Ananta Toer
Hidup Bukan hanya Urusan Perut Prie GS
Menguak Misteri Muhammad Prof. David Benjamin
The History Of The Qur’anic Text Prof. Dr. M.M. Al-A’zami
Mestakung Prof. Yohanes Surya, Ph.D
Konsep Islam Memerangi Aids & Naza Prof.Dr.dr. H. Dadang Hawari Psikiater
Treasure Island R. L. Stevenson
English Grammar in Use Raymond Murphy
Theory Of Literature Rene Wellek & Austin Warren
Esio Trot Roald Dahl
Elements of Psychology Robert S. Feldman
Seni Konseling Rollo may
The Secrets Ronda Byrne
The Tao of Islam Sachiko Murata
Tarian Setan Saddam Hussein
Proses Kreatif Penulis Hebat Salman Faridi
99 Tokoh Muslim Dunia Salman Iskandar
Awaking the Excellent Habit Sansulung John Sung
Menerbitkan Cahaya Diri Sayyid Abbas Nuruddin
Manhaj Hubungan Sosial Muslim Non Muslim Sayyid Qutb
A Students’s Grammar of The English Language Sidney Greenbaum & Randolp Quirk
Tak Enteni Keplokmu Sindhunata
Risalah Tauhid Sjech Muhammad Abduh
Star Trek The New Voyages Sondra Marshak & Myrna Culbreath
Menemui Allah Tidak Dapat Diukur Dengan Kecepatan Waktu Dunia Susilawati Salam
Cara Sholat Nabi Syeikh Muhammad Hashiruddin Al Albany
Penyimpangan2 Tasawuf Syekh Abdur Rahman Abdul Khaliq
Mutu Manikan dari Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Atailah
Galileo Menyingkap Kebenaran Tasman Mahmud Syukri
In Stitches With Ms Wiz Terence Blacker
The Secret Life of Ms Wiz Terence Blacker
Mesmerizing Mind-Bending Puzzles Terry Stickels
Mengenal Jatidiri Menurut Ma’rifat Ilahi Tjitjih G. Djaka
Tom Swift & His Jetmarine Victor Appleton II
To The Lighthouse Virginia Woolf
Living English Structure W. Stannard Allen
Webster New World Dictionary Webster
The Sufi Path of Knowledge William C. Chittick
Al Quran Al Kariem
Apakah Arti Islam
Barry Trotter
Buku Panduan Museum lampung
Experiencing Life Through Literature
Gas Room
Hadis Kisa
Himpunan Lengkap Undang-Undang Bidang Perburuhan
Hukum Menjama Sholat
I’m Just Me
Islamika
Jejak Islam yang Hilang
JIPIS
Kamus Al Munawwir
La Runduma
La Tahzan
Matematika Dalam Al Quran
Mutiara Nahjul Balaghah
Oal-Soal Intelegensia Test
Oxford Pocket Dictionary
Peta dan Atlas Dunia
Pope Joan
Qomuus Arabiy – Indunisiy
Sang Dewi
Sang Dewi
Sekolah Ramadhan
Sin Lam Mim
Solitaire
Spiderwick
Tafsir Gatoloco
TOEFL IBT
Yaasiin

ROTE READING & PERPUSTAKAAN PRIBADI

ROTE READING & PERPUSTAKAAN PRIBADI

Iseng-iseng saya nge-list buku yang telah saya kumpulkan sejak tahun 2000. tak dinyana ada sekitar 300 tidak termasuk yang hilang dalam artian pinjam tak harap kembali.

Jadi kalau saya tidak lewat baca, saya sudah membaca lebih dari 400 buku selama hampir 8 tahun ini dengan rincian 350-an buku saya miliki sendiri (beli atau dapat ngasih), 50-an buku yang saya pinjam dari teman dan 25-an buku yang saya baca dari perpustakaan minus saya punya kebiasaan membaca buku tertentu lebih dari 2, 3 atau bahkan 4 atau 5 kali habis. Banyak juga.

Akan tetapi Sudara-Sudara, saya tidak bisa berbangga karena ternyata baru saya sadari bahwa apa yang saya baca seperti air yang habis dibawah sinar matahari siang bolong. Menguap. Jangankan isinya, even untuk mengingat-ingat judul-judul dari buku-buku tersebut saya gelagepan, juga pengarang atau penerbit, tahun terbit. Paling saya cuma klecam-klecem (cecengesan). Memalukan? Boleh lah disebut demikian.

ROTE READING

Itulah yang saya masih lakukan selama ini. Membaca telah menjadi sebuah kebutuhan seperti makan bagi saya namun saya masih merasa bahwa proses membaca saya masih di tahap permukaan. Membaca sekedar kesenangan, kecanduan yang menyebabkan sebentuk ekstase. Namun ibarat ekstase spiritual, proses membaca saya masih pada tahap euforia “melihat” cahaya Tuhan, belum menghayati cahaya itu.

Saya bisa saja mengingat isi sebuah buku tapi saya belum mampu meng-internalisasi keilmuan yang perlu saya serap dan mewujudkannya secara matang dalam kehidupan saya. Saya masih sangat muda menyikapi cara baca saya. Saya seperti seorang siswa SD era 80-an yang sangat hapal sebuah wacana sebagai berikut:

Pagi, pagi. Pagi, pagi.

Kukuruyuk, kukuruyuk.

Begitulah ayam jantan berkokok.

Budi sudah bangun. Wati juga sudah bangun. Iwan masih tidur.

Ayah menimba air di sumur. Ibu memasak di dapur…

Hebat ya masih ingat padahal sudah puluhan tahun yang lalu. Lalu apa? Sekedar menghapal lalu berbangga? Lalu dimana letak manfaat membaca membuat pribadi manusia menjadi lebih matang?

Saya merasa belum cukup membaca buku-buku yang singgah dalam kehidupan saya. Dan, saya juga merasa belum cukup membaca kehidupan yang singgah dalam buku-buku saya.

Saya ingin membaca terus hingga saya bisa menghayati cahaya Tuhan.

KEHORMATAN VERSI SAYA

KEHORMATAN VERSI SAYA

Berbulan-bulan saya kehilangan rambut sejak saya ditugasi menjawab pertanyaan tentang apa sejatinya kehormatan manusia itu.

Awalnya saya menganggap hal ini satu pertanyaan yang dengan sangat mudah dapat dijawab oleh setiap pribadi yang pernah merasa tersinggung. Ternyata tidak sesederhana itu. Merumuskan arti kehormatan ibarat memaksa anak kecil untuk menerangkan apa rasa cabe rawit sedangkan anak tersebut sedang menangis kejang karena kepedasan semangkuk sambal cabe rawit tanpa bumbu tambahan. Saya yakin baru beberapa saat kemudian si anak akan mampu sekaligus mau memberitahukan apa rasa cocolan cabe terhadap tubuh dan emosinya.

Bisakah Sudara-Sudara membayangkan si anak bercerita sambil marah atau sedih atau kecewa atau bahkan sambil berderai tawa menganggap kejadian tersebut sebagai pengalaman lucu menggelikan.

Kehormatan adalah benda abstrak yang kemungkinan tidak sebanding dengan jabatan, nama baik, hak milik atau keperawanan.

Jabatan rendah sama sekali bukan masalah harga diri bagi seorang tukang sedot tinja yang dengan penuh perasaan riang menjalankan tugas demi anak istrinya. Saya menyaksikan sendiri para petugas penyedot WC ini bekerja dengan peniuh canda; saya dan keluarga sampai heran apa mereka ini tak akan pingsan sedangkan kami berlomba merapatkan kedua lubang hidung kami demi aroma yang menyiksa tersebut.

Nama baik juga bukan lagi hal penting bagi seorang pejabat yang berusaha melindungi anaknya dari tuduhan kriminal yang membahayakan masa depan sang buah hati. Sungguh saya mengenal salah satu dari mereka dengan baik.

Dan, untuk seorang penderita penyakit ganas, habisnya hak milik yang selama ini menjadikannya orang terhormat tidak lagi menjadi bahan pikiran. Dia hanya ingin sembuh, sehat dan mensyukuri nikmat alam sekalipun kekayaannya habis lalu dia harus memulai segalanya dari nul puthul (nol besar).

Juga, keperawanan tidak menjadi berarti bila “cinta” membutakan dua sejoli yang dimabuk kepayang. Atau bagi perek di malam inisiasi dengan iming-iming jutaaan rupiah dari sang cukong.

Maka apakah kehormatan itu?

Saya menangis terharu katika kemudian seorang sahabat membawakan kunci ujian ini bagi saya. Tiba-tiba! Orang yang pelit kata-kata ini mengirimkan pesan pendeknya:

Saya ingin ketemu ikhlas.

Maka bolehkan saya menjabarkan pengertian kehormatan yang saya dapat secara tak terduga ini.

Kehormatan adalah sesuatu yang adanya adalah ketika saya belum ikhlas melepas sesuatu yang saya anggap berharga dan ketika saya belum menerima apa yang saya anggap hina.

Maka, silakan nilai seseorang punya karir yang hebat atau mampet, anggaplah seseorang kaya atau tidak berharta, pandanglah seseorang berasal dari keluarga bermartabat atau tak berharga, anggaplah seseorang suci atau tidak suci. Silakan…

Buat saya anggapan-anggapan tersebut bisa sekejap disulap menjadi sekedar setumpuk sudut pandang. Sudut pandang selalu dibentuk oleh 2 (dua) garis yaitu garis kepentingan dan garis kebodohan.

Faktanya saya hanya manusia yang mau tak mau harus hina dan menerima kehinaan saya suka atau tak rela. Sejatinya saya tidak punya kehormatan. Yang saya punya hanya kepentingan dan kebodohan yang harus semakin dibuat berjarak sampai akhirnya dua garis itu menjadi tidak pernah bertemu atau saling berhimpitan melupakan fungsinya masing-masing; atau sebaliknya bertemu di kedua ujungnya melengkung membentuk lingkaran sebagai simbol bulat utuhnya pikir dan rasa.

Kapankan kebodohan dan kepentingan saya mau melebur di samudera keikhlasan? Saya harus mau berenang dan basah oleh airnya dan perih terluka karangnya, direndam asin garamnya.

Barangsiapa menghendaki kehormatan, maka sesungguhnya kehormatan adalah milik-Nya semata.

SIAPA YANG GAPTEK SEBENERNYA?

SIAPA YANG GAPTEK SEBENERNYA?

Beberapa bulan yang lalu kami berbincang santai menyelingi kemumetan kepala kami dealing dengan himpitan kerjaan. Topiknya adalah laptop karena saat itu saya sedang berencana beli laptop supaya saya boleh bergabung dengan rekan-rekan kerja kami dalam KORAK (Komite Orang Rajin Kerja) yang beranggota karyawan di kantor kami yang gemar sekali bawa-bawa kerjaan kemanapun mereka pergi sehingga laptop adalah syarat utama.

Mbot, the proclaimed IT karena dialah yang paling sering jadi korban saat para perempuan di kantor kami mengalami gangguan kejiwaan karena teknologi, sedang sibuk membantu saya browsing notebook yang paling cocok spec dan budget saya. Sementara kami menjadi cheerleaders sambil saling mengejek.

Saya: Mbot, carikan yang keren ya.

Mbot: Iya, ini juga sedang dicarikan yang keren Mbak.

Cik Yen: Yang kayak apa yang lu mau Ke?

Mbot: Iya, lu maunya kayak apa?

Saya: Pokoknya cariin aja yang download kerjaan cepet, gak kayak di warnet gitu deh…

Tiba-tiba meledaklah tawa Cik Yen, Mbot dan Mr. E dan C-TPAT yang bikin saya bingung dong…

Saya: Eh, iya dong itu penting banget tahu. Kalau report biasa sih download gak masalah lha kalau report BSCI waduh bias botak kepala Cik…

Cik Yen: Ha ha ha ha… akhirnya lu harus mengakui Ke bahwa gue dalam hal ini lebih tidak gaptek! Dimana-mana cepet tidaknya download itu bukan karena laptop lu yang salah tapi karena internetnyaaaaaaaaaaaaaaaa ha ha ha ha… maaf ya, maaf ya, gue udah gak termasuk gaptek nih, kan gue udah punya laptop…

Saya cuma ketawa nyengir merenda rajutan indah tawa ngakak teman-teman saya yang gilanya masya Allah…

Saya: Oke Cik, berarti kita 1-0 nih ya. Gue kalah deh, kalah deh…

Cik Yen: Tenang Ke, lu masih punya teman. Bu Suri masih belum teruji. Dia boleh manager global tapi kegaptekan dia cukup tinggi. Gue yakin dia masih punya anggepan bahwa download adalah karena memori computer bukan karena koneksi internet. Mari kita buktikan…

Mbot: Oke Mbak, ini ada Dell yang lu mau. Lu mau yang warna apa sih? Ijo ya?

Saya: Apa aja lah Mbot yang penting bikin kerja gue nyaman dan aman. Tadinya sih kepikir Toshiba atau Acer tapi kok Dell yang kayak punya si boss keren juga ya?

Cik Yen: Ah lu Ke, mentang-mentang hape sama, laptop ikutan sama. Paling ntar dia ganti kalau lu samaain buktinya begitu gue pakai HP dia tinggalin HP dia dan pindah ke Dell.

Saya: Iya ya? Tapi type laptop ini beda, punya dia canggih punya kaleee… Dell yang ini keren karena colours aja ha ha ha…

C-TPAT: Ke, Lenovo aja…

Saya: Wah, masak gue nyaingin dikau Mbak? (Mbak Siti terkenal dengan panggilan C-TPAT karena beliau adalah auditor yang handal dalam hal per-

C-TPAT-an dan beliau memakai laptop IBM)

Cik Yen: Eh, jangan Ke… Orang gaptek kayak kita ini jangan pakai yang merek abal-abal so
alnya kalau ada problem susah… Lenovo merek gak pernah denger gue.

Saya: Lho mbak, Lenovo itu nama baru IBM

Semua: Hahahahhahahhahahaa…

Mbot: (bergumam tapi cukup keras untuk terdengar) Siapa yang gaptek sih sebenernya???

Bahagianya kami jadi orang gaptek dan mau mengakui kegaptekan kami dengan tertawa…

KESASAR DI BANDUNG, TIDUR DI ANGKUTAN UMUM

Tanggal 6 dan 7 May 2008 saya nginep di RS Pindad karena teman saya operasi pengangkatan platina di lengan kananya dan sejak tahun lalau saya sudah janji akan nemenin dia. Rencana awal saya akan balik ke Jakarta tanggal 7 sore karena tanggal 8-nya saya sudah harus kembali bekerja.

“Pulang besok aja lah Ke.” kata teman saya. Dan OK, saya dapat ijin dari kantor untuk datang ke kantor lebih siang dan tidak mengikuti session with Michele Bruelhart, Account Rep UK asal Swiss yang ternyata berasal dari Dorf kampungnya Heidi, cewek badung favorit saya itu. FYI, HP saya udah mati maka saya pakai HP temen saya untuk menghubungi bos saya dan sejak itu saya tidak bisa menghubungi ataupun dihubungi sampai saya ketemu charger di kamar saya.

Tanggal 8 jam 7:30 pagi setelah nyuapin teman saya, saya segera bergegas berangkat. Diantar sampai jalan besar lalu naik angkot merah 05 ke terminal Leuwipanjang. Ini pertama kalinya naik angkot di Bandung, biasanya dibonceng Mio atau disupiri. Saking ngantuknya waaaaaaaa… saya kebablasan dan kata abang supir udah jaooooh… OK, saya hanya menurut saat disuruh naik angkot warna hijau, entah berapa kodenya dan kebablasan algi karena tidur hahahahahahaha… maklum rek, dua malam gak tidur njagain temanku itu…

Gave up, saya naik Bluebird ke Leuwipanjang. Rp. 25.000,- dan saya tidur lagi hihihihi…

Langsung saya naik Primajasa Bandung-Kalideres dengan harapan saya bisa turun Slipi Jaya untuk kemudian berangkat ke kantor saya di kawasan Jaksel.

Ternyata Sudara-Sudara… saya tidur lagi, terbangun di pintu tol Karang Tengah. Frustrasi karena kebablasan saya tidur lagi saja dengan harapan bisa bangun di Cikokol untuk kemudian naik bus AC 34 atau 138. Ternyata Sudara-Sudara saya tidur lagi dan bangun di……. Kalideres…

Ha… saya akhirnya pulang naik Roda Niaga arah Serpong lalu turun PLN bypass lalu naik becak pulang… tertawa-tawa.

APAKAH SAYA PERLU TIVI?

TV, APAKAH SAYA PERLU?

Kebutuhan saya terhadap televisi masih saya pertanyakan. Sejak saya terbilang cukup penghasilan untuk membeli kotak ajaib 8 tahun lalu, saya belum juga memilikinya. Teman-teman yang mengenal saya hanya sekilas akan mengasihani saya karena hanya orang melaratlah yang tidak punya TV. Teman yang kenal keseharian saya menilai saya aneh atau pelit karena untuk beli TV saja perlu mikir bertahun-tahun. Keluarga saya saja yang memaklumi karena mereka benar-benar menghargai saya atau mungkin karena sama-sama tidak menganggap TV sebagai hiburan standard minimum.

Dari SD sampai SMP saya gemar memelototi tabung gambar tersebut. Saat itu saya hanya punya TVRI nasional, TVRI Surabaya/Yogyakarta, TPI. Lalu SMA saya mulai tidak percaya pada keajaiban TV. Lalu saya mulai menyapih diri untuk tidak addict TV.

Sekarang, saya merasakan sedikit kegoyahan. Sejak saya menengok acara Oprah, Kick Andi, Nanny 911, Sigi, Kiamat Sudah Dekat, Global Trekker, dan beberapa acara lain ketika saya mengunjungi rumah kerabat saya atau TV kabel di kantor Lia Taruna; saya merasa perlu TV.

Suatu hari saya ditinggal sendiri di rumah teman saya. Sementara orang-orang pergi, saya bengong setelah pekerjaan rumah beres. Main komputer sudah terlalu lama. Maka saya stel TV tanpa menemukan program yang berguna. Hanya ada gosip, iklan, bola, sinetron… Acara yang pernah membuai saya ternyata tidak sedang on the show. Walhasil dalam waktu 4 jam saya hanya sibuk memencet remote c0ntrol menghindari yang buruk mencari yang menarik yang tidak pernah ketemu.

Saya menjadi frustrasi. Dilema meremas jantung saya. Beteee sama TV…

Saya hanya bisa berdoa semoga punya teman hidup yang punya TV sehingga kalaupun saya “menjadi” punya TV, TV tersebut bukan benar-benar saya miliki dan tidak menyita waktu saya ketika justru saya serius menghadapinya.

Saya ingin n0nt0n TV tanpa memiliki TV sehingga rasa sayang saya hanyalah semata-mata karena TV tersebut membawa maslahat bagi saya.

*** Saya sedang berkhayal punya TV yang hanya bisa saya tonton pada saat acara klangenan saya main.

HUKUMAN TERBERAT ADALAH…

Hukuman yg Terberat adalah…

Tadi sore saya kerja nyambi chatting dgn sudara sy yg jg lg kerja nyambi chatting. Dia sedang sakit hati krn ditinggalkan tanpa alasan kuat oleh pacar padahal sdh ada percakapan serius melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Alangkah sakitnya hati sudara tsb… Saya pastikan sakit krn sy mengalaminya beberapa kali (tdk cukup sekali rupanya ya ha ha ha…).

Lalu keluarlah kalimat kutukan yg menurut sy sebagian cukup layak dan memang perlu ditujukan untuk si lelaki itu. Dalam kondisi “normal” sudara sy ini cukup keras, apalagi dalam keadaan murka begini Sudara… Sy sampai geli membaca kalimat-kalimatnya. Yg dulu dipanggil sayang, sekarang dipanggil monyet. Yg dulu dibela-bela, sekarang habis dicela. Yg dulu dibuai, sekarang diobok-obok. Pokoknya kosakata penuh sensor tak sia-sia dicipta. Bahkan sy sempat belajar beberapa kata: kacrut, hujan bekelir, tumbila, jagres (jagoan rese), dll.

Sudara sy ini jg sempat punya niat menyantet si mantan supaya si cowok menderita semenderita menderitanya di dunia derita. Dia juga berniat menyewa tukang hajar (bukan tukang pukul karena caranya tidak selalu mukul). Ketika sy tanya apa yg dia rasakan yg paling menyiksanya, sudara sy bilang: Malu gak ketulung, Marah sampai mendidih, Kecewa, Sakit hati, Putus asa. Lengkap!

Tapi dia bilang baru-baru ini dia bersyukur krn ditunjukkan oleh Allah atas kebrengsekan si lelaki. Rupanya sudara sy ini sudah KALAH banyak, diduakan pula. Secara materi, ya. Secara emosional, sy tdk tahu sebesar apa. Sy memang menyaksikan sendiri kebangkrutannya selama dia berpacaran dgn si blasteran Menado-Betawi gagah ini. Dan ndilalah, selama pacaran dgnnya sudara sy seperti seret rejeki. Yg biasanya sebulan minimal 10 juta jadi cuma gaji bersih saja… Buat beli pulsa juga tandas (istilah dia).

Berikut petikan chatting kami.

Kalo gak boleh nyantet atau hajar, aku mesti gimana dong Mbak… Don’t tell me to be patient. I’ve been patient this far!

Kamu maunya dia gimana?

Dihukum, dibalas laaar.

Kalau mau balas dia, aku sarankan tidak dgn kekerasan.

Itu boleh bikin dia sadar terhadap kesalahan yg dia buat.

That is brilliant! Buat dia sadar. Kesadarannya bhw perbuatan dia salah atau dosa adalah hukuman terberat bagi dia. Dia akan dihantui perasaan itu dan dia akan memperbaiki diri, tidak menyakiti orang lagi, syukur-syukur kalau mau kembali pada komitmen awal yg diperbarui tentunya.

Aku gak mau balik ke dia. Aku tidak sepemaaf kamu. Setelah dia sadar aku pengen dia merasa bersalah dan tidak ada yg peduli sama dia!

Tiba-tiba internet kantor mati dan kami terpaksa mengerjakan yg serba offline lalu pulang tanpa sempat say bye ke sudara sy tadi.

Di jalan sy berpikir sebegitu besarnya efek penyesalan seseorang sehingga untuk mengobatinya dia rela menyakiti atau sebaliknya. Diam-diam saya sependapat dengan sudara sy tadi. Yg diabaikan ingin mengabaikan. Yg dikhianati harus mengkhianat. Yg dilukai ingin melihat pelaku terluka. An eye for an eye. Mungkinkah?

Selama ini sy berusaha keras untuk rela berdoa semoga orang-orang yg mendzolimi saya diberi kesadaran serta rasa bersalah yg besar shg tdk menyakiti KORBAN lainnya lg. Mungkin doa sy kurang lengkap, seharusnya semoga sy jg diberi kesembuhan dari dendam yg membuat mata saya tidak ramah dan senyum saya tidak tulus.

Hp saya berbunyi. Sms diterima.

Mbak, internet kamu down ya? Sori ya tadi curhatnya berkobar2, hbs dendam bgt smp ga inget kamu jg lg patah hati… Titi DJ ya Mbak… GBU.

Saya cuma nyengir, tersenyum pada air mancur yg menari-nari. Hebatnya dendam itu ya…

LIFE IS A ROLLER COASTER

LIFE IS A ROLLER COASTER

I can’t define any better than this: life is a roller coaster. It surges up then down irregularly but well measured, rolls around a dangerous never-ending hills and valleys. You’ve gotta be ready to let your head hanging downward for quite some time before then your tummy be a place for a giant butterfly. You’ve gotta get a bunch of turning points whose effects would probably stop your heart work. And, the shouting and screaming and crying as well as laughing would beat your eardrums. You would learn that your neighbours enjoy their rides differently. What about you?

I myself like riding roller coaster. I laugh while doing it. But… At the same time, my eyes produce tears. A lot of tears: tears of joy, tears of nerve, tears of fright, tears of sorrow, tears of regret, tears of all feelings. I am crying in mixed excitement.

See each rider in the roller coaster. Does s/he communicate with the others? We think they do for they are on the same vehicle but they are not really interacting. They are busy with themselves preparing every single surprise welcoming their way. So much occupied individually.

There is only one thing all the passengers have in common: that they choose to sit on one of the chairs and that they must be guaranteed their safety and security.

The truth about my life is that I am chosen and not choosing because my life itself is a roller coaster. So, my job is only to make sure that I am safe and secure.

It’s a blessing to realize and recognize that my life is a roller coaster. Let’s roll by the coast. (Rike)

TOTO CONCERT IN SABUGA

Akhirnya konser TOTO jadi juga. Sabuga ITB Bandung… Jam 8 malam scheduled-nya, walhasil ya dengan acara ngantri dan cek untuk pengamanan dari barang-barang “haram” maka jadilah jam 9-an mulainya. Katanya kamera gak boleh tapi nyatanya ribuan kamera dijeprat-jepret. Syukurlah kalau begitu he he he…

Yudi, my manager (he he he) datang sekitar jam 7an langsung dari kantor, ID-nya aja masih digantungin di leher. Demi TOTO (atau demi aku kaleeee) dia rela datang bermacet-macet ria naik sepeda motornya.

OK, kami nonton, teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, menikmati suasana… Dan, beliau ini sempat tidur, dia ngakunya pas lagi makan pulang nonton konser.

Kamera saya low bat, walhasil saya pakai kamera di mobile phone saya dan pakai camdig-nya my manager. hasilnya keren kok, kayak yang nge-shoot hehehe…

Banyak lagu yang kami gak kenal. mungkin karena kami pemerhati TOTO generasi awal dan pertengahan jadi lagu-lagu anyar kelewat…

Yang pasti Africa, I’ll Be Over You, Love isn’t Always on Time…

OK, it was a beautiful night 🙂

Kapan ya nonton konser lagi