BOOMERANG

BOOMERANG

Terbang seperti burung

Berputar seperti gasing

Berdesing seperti peluru

Mendesis seperti semburan kembang api

Melintas di jalur lurus (yang pasti berbelok)

Tass!!!

Kutersungkur kesakitan.

Lemparkan saja

Kutahu kau memburu ketabahanku

Kusadar kau menginginkan keikhlasanku

Kucium rencanamu—

Membuatku tak berdaya di tempatku—

Supaya tak mengikuti langkahmu

Amboi…

Kau lupa kau bukan orang Aborigin

Yang ahli melemparkan boomerang dan menangkapnya

Sebentar lagi instrumen itu kembali pada punggungmu

Tass!!!

Kau tersungkur kesakitan.

Aku masih tersenyum geli

Melihat mata sombongmu mengemis

Mendapati jiwamu meronta

Memanggilku dalam diam

Haruskah kutertawakan si pengirim boomerang

Atau kutolong ia walau telah melukaiku?

November 2, 2008 – 6:29pm

MEMBANGUN BERARTI MENGHANCURKAN (ironi kehidupan terkasar yang pernah saya maknai)

MEMBANGUN BERARTI MENGHANCURKAN

(ironi kehidupan terkasar yang pernah saya maknai)

Tak jarang pembangunan membikin orang miris karena ternyata ada bagian dari masa lalu yang harus dikorbankan oleh pembangun(an). Filosofi ini agak ironis (boleh juga dibilang ngawur) tapi perlu dipahami bahwa petak hidup ini kadang hanya bisa subur dengan eksistensi rantai ironi (dan galengan* ngawurisme).

“Membangun berarti menghancurkan” adalah ironi terkasar yang pernah saya pahami dan maknai sampai saat ini. Pembangunan yang saya maksud bukan hanya berkaitan dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh para penggede yang kerjaannya ngurusin** rakyat. Yang saya maksud adalah segala pembangunan dan segala pembangun. Nah, sebutkan Sudara, pembangunan mana yang tidak pakai menghancurkan?

Jika Anda ingin membangun rumah, Anda terlebih dulu harus menghancurkan lapisan-lapisan tanah untuk keperluan pondasi atau Anda hanya sekedar menghancurkan bagian tertentu rumah atau bangunan lama. Tanpa itu, Anda tidak mungkin membangun kecuali Anda membangun rumah diatas genteng tanpa menghancurkan apapun. Mustahil karena perangkat pembangunan pun didapat dari hasil merusak; katakan lah batu bata dibuat dengan cara mengeruk permukaan tanah yang seharusnya bisa ditanemin kacang-kacangan.

Jika Anda ingin membangun sistem baru maka Anda mesti merombak (baca: menghancurkan) sistem lama dengan atau tanpa menghilangkan segelintir patahan sistem tersebut. Ganti orang kadang tidak perlu asal mereka masih bisa diberdayakan sebagai mur dan baut dalam mesin yang anyar (menurut para ahli lho).

Jika Anda ingin membangun jalan baru maka harus ada pengrusakan hutan, pemangkasan bukit, penggusuran warung atau pagar atau bahkan teras dan ruang tamu orang yang bahkan selama hidupnya mungkin belum pernah mengganggu kenyamanan manusia lain termasuk keluarga Anda.

Maka, wahai Pembangun, yang merajai kemuliaan fisik atau non fisik. Jangan pernah bilang bahwa pembangunan adalah untuk kebaikan semua orang. Mau tak mau, suka tak suka, ikhlas tak ikhlas, dalam jangka waktu pendek atau dalam kurun waktu lama atau bahkan selamanya akan ada orang lain yang Anda rugikan… karena pada sudut pandang mereka pembangunan yang Anda lakukan adalah perancangan sistem yang ideal hanya menurut sirkulasi daya pikirmu. Anda tak akan bisa memperbaiki sistem yang telah ada kecuali hanya secuil. Yang Anda bangun adalah peradaban sebagai pelarian dari sistem lama yang pernah membuat Anda tak puas.

Sekeras apapun kau berusaha membuat pihak-pihak tersebut mengerti tentang penting dan mendesaknya pembangunan tersebut mungkin tak akan berhasil sebab mereka tak mendapatkan dampak yang Anda iming-imingkan. Jika Anda tak bisa menjamin apa yang Anda ucapkan, cukuplah berikrar dan mencaci dalam hati saja. Biarkan saja korban Anda usang dimakan keserakahanmu.

Namun ingat dia akan berjuang melawan “kemungkaranmu” dan mengutuk Anda atau suatu saat menjadikan Anda korban dibangunnya sistem selanjutnya.

Tahukah Anda bahwa hikmah yang terpetik oleh pihak tersebut adalah: tersulutnya api juang demi membuktikan bahwa sistem Anda rapuh dan bobrok – tak patut berjaya. Dia akan mencabut akar-akar sistem Anda jauh lebih bersih daripada bersihnya Anda mencukur gundul perasaan optimis mereka – niscaya akar Anda hilang tanpa sisa dan didirikannya peradaban baru yang lebih sehat bebas dari cengkeraman pondasimu yang busuk dan membatu.

Pembangunan harus dimulai dengan penghancuran. Dimana posisi saya dan Anda? Tergantung seberapa perlu kita menjadi pembangun dan seberapa merugi kita sebagai korbannya.

Semoga bermanfaat dan membuat kita semua lebih bijak.

* galengan: pematang sawah (Bahasa Jaw
a)

** ngurusin: bisa berarti mengurusi atau bikin kurus (Bahasa Indonesia)

November 1, 2008 – 5:25pm (Blue03)

AKU INGIN (kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)

AKU INGIN

(kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)

AKU INGIN

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Tak tahu kenapa akhir-akhir ini saya lebih menikmati menulis puisi daripada bentuk lainnya. Atau paling tidak kalaupun ada genre lain, tetap puisi yang saya share dengan orang lain. Saya hanya merasa puisi membuat saya lebih total berekspresi. Saya mempunyai ruang yang sangat luas untuk mengeksplor emosi saya dengan permainan kata-kata entah dipahami sebagai belati bermata dua atau kata-kata bersayap. Saya hanya ingin mengeluarkan apa yang sedang saya nikmati jauh di lubuk hati saya. J

Puisi Aku Ingin diatas muncul beberapa minggu terakhir dan kembali mengeruhkan secawan air yang telah sempat memjernih beberapa saat, siap untuk diminum. Apalagi setelah seorang MP-er nge-posting puisi ini beserta musikalisasinya; saya merasa air dalam cawan itu tak akan pernah saya minum. Akan saya pandangi sampai puisi berjudul Aku Ingin di dalamnya kembali mengendap.

Jika kemudian air berubah bening, puisi Aku Ingin itu akan terus berada di cawan hati. Dikala haus, kutuang cairan yang kuingini: air atau anggur lalu kulihat puisimu bertebaran dalam adukannya kemudian berputar berpusar mengendap mendiami dasar cawan hatiku. Baru kureguk sebagai pelepas dahaga. Aku Ingin telah menjelma obat disaat kusakit, racun disaat kusehat. Aku Ingin akan tetap di tempatnya hingga benar-benar tiada.

Sebegitu hebat Bapak Sapardi melambangkan kekuatan cinta. Bagai kayu kepada api; sebegitu pasrahnya sang kayu hingga terbakar habis pun tak mengeluh. Dibuatnya sang api menari ditup bayu hingga dia sendiri habis menjadi abu. Tidak kah romantis… Abu itu hanya perubahan wujud, tak ada esensi yang berubah; hanya perubahan massa, tak ada energi yang bener-bener musnah. Ku telah menjadi kayu yang terbakar api. Ku telah terbakar cinta dan menunggu fase abu, ditebar di lautan dengan atau tanpa upacara.

Lalu awan hanya mewujud sekejap dan tiba-tiba turun hujan tanpa ada pamitan air kepada mendung. Pernahkah mendung menyeru air untuk mengempiskannya? Hujan turun tanpa aba-aba; seperti juga cinta yang tak perlu kriteria. Mendung hanya perlu kehilangan warna; dari hitam menjadi biru semburat putih gemilang pertanda keikhlasan yang tak terukur membebaskan cintanya mengembara untuk suatu saat nanti berkumpul kembali dalam jalinan yaang tak terdefinisikan. Mana hujan ketika dia bersama mendung?

Apa yang telah api lakukan kepada kayu? Menghabiskannya.

Apa yang telah hujan lakukan kepada awan? Meniadakannya.

Kayu habis, api mati.

Mendung sirna, hujan reda.

Dimanakah cinta?

Pada api dan hujan?

Atau pada kayu dan awan?

Atau tidak pada keduanya?

Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.

Yang tak membuatku merasa ditiadakan walaupun telah dihabiskan.

Yang tak membuatku merasa diabaikan walaupun telah ditiadakan.

Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.

Bagai cinta seorang kekasih kepada Kekasihnya.

Bagai cinta seorang kekasih kepada kekasihnya.

October 31, 2008 – 12:12am

GELEMBUNG KERINDUAN

KERINDUAN

Kerinduan adalah gelembung udara yang mengurungku, membangkitkan kesadaran tentang sebuah kehidupan yang membalut hati namun tak teraba-terasa oleh syaraf jariku.

Jika gelembung itu pecah maka hadirlah aliran udara mengipasi jantung yang berkeringat berpacu mengejar namamu. Sehabis itu atas nama cinta terderaku oleh pudarnya keyakinan bahwa rindu itu terformulasi obatnya. Rindu tertawar oleh bahagia. Dua titik terpadu bercengkerama melantunkan rayu syahdu menggelora. Waktu terhenti setatapan mata.

Lalu kuhirup udara ketika detik menepukku. Lagi, gelembung itu membungkusku saat kuhembuskan napasku mengantar langkahmu.

October 31, 2008 – 1:16am

KITAB-KITAB, BACAANKU

KITAB-KITAB, BACAANKU

Kitab baru yang kubaca ini tak kalah tebalnya dengan kitab tuaku

Kitab tuaku kubaca setiap hari walau hanya selarik dua di salah satu halamannya

saja

Cukup lah untuk orang malas macam aku

Kitab baru yang kubaca ini pasti tak hanya kubaca selarik dua di beberapa halaman saja

Akan kutuntaskan hingga tulisan di sampulnya

Cukup lah untuk orang malas macam aku

Mengapa kitab yang harusnya kukaji kubaca selarik kalimatnya

saja?

Sedangkan kitab baruku ini kuhabiskan dan menelan lebih banyak waktuku?

Cukup lah untuk orang malas macam aku

Mungkin karena kupikir si tua siap kapan pun kumau

Mungkin yang lama tak mudah kucerna jalan ceritanya

Mungkin yang ini lebih jelas alur ceritanya

Mungkin yang belakangan akan segera dimakan rayap jika tak segera kulahap

Yang pasti

Kitab tuaku tetap jadi warna celupku

Yang pasti

Kitab tuaku tetap kudekap mesra

Yang pasti

Kitab baruku mewarnai indah jiwaku

Yang pasti

Kitab baruku menajamkan gradasi jiwa

Segala kitab, segala masa, segala kubaca sekuatku

Cukup lah untuk orang malas macam aku

October 29, 2008 – 10:36pm

Keterangan gambar:

1. Multi-galaksi – kitab yang terbentang

2. Library of Congress, USA & dome (kubah) di dalamnya. Saya pengen kesana. Kalau boleh sekalian nginep dan baca gratis sepuasnya. J

TRAUMA JATUH (puisi)

TRAUMA

Kujatuh di parit

Yang penuh dengan batu

Sulit ‘tuk bangkit kembali

Karena tungkaiku terkilir,

Kepala pening,

Mata berkunang-kunang.

Duh, Gusti

Jalan mana lagi yang mesti kulewati

Kalau hanya ada yang satu ini?

Ini rupanya yang dinamakan trauma.

October 25, 2008 – 10:19pm

TRILOGI SERASA (puisi)

TRILOGI SERASA

SERASA DI ANGKASA

Seperti bernapas di angkasa

Sesak miskin udara mengalir ke rongga dada

Tapi air mata tak mau lagi bermain selancar di pipi

Hanya raungan singa marah dalam hati

Desau angin menyiulkan nada kekeringan

Kecipak danau di gua mengetukkan nada kerinduan

Kuteriakkan

Kuteriakkan sekali lagi

Kapan kau buai aku di pelukanMu?

October 24, 2008 – 10:32pm

SERASA DIPELUK BUMI

Seperti bernapas dalam pelukan bumi

Sesak tak ada hawa sama sekali

Tapi teriakan tak lagi bersuara

Hanya rintihan hati tak berirama

Kerjap bintang-bintang tertimbun tanah

Rona muka bulan berlabur susah

Kuhentakkan

Kuhentakkan sekali lagi

Kapankah Kau buka belenggu?

October 24, 2008 – 10:37pm

SERASA DIAYUN ANGIN

Seperti berayun-ayun di buaian tanpa tali

Berayun kesana kemari, bebas tanpa henti

Meluncur dari titik ekstrim kiri ke ekstrim kanan

Tak berkurang momentum berpercepatan

Pendulum itu berbandul aku

Berpendaran energy penuh ragu

Kuhentikan

Kuhentikan sekali lagi

Kutunggu tandaMu sebelum ku kembali melaju

October 24, 2008 – 10:42pm

RECTO VERSO

RECTO VERSO

Semangat baca yang selalu ada ketika membaca tulisan Dee (Dewi Lestari) memang masih disana ketika aku membaca buku terbarunya yang bertajuk Recto Verso.

Terdapat 11 cerita pendek dirangkum dalam buku itu dan 11 lagu di CD dengan tajuk yang serupa, Recto Verso. Setiap cerita pendek ditemani oleh satu lagu dengan judul sama persis dan didesain dengan kerangka yang sama juga. Perkelindanan antara cerpen dan lagu inilah “senjata” Dee untuk memikat para pembaca. Dia menyebut karya ini sebagai hibrida; dalam hal ini mari kita sebut sebagai produk persilangan dua jenis karya seni yang berbeda bentuk dan sifatnya sehingga menghasilkan sebuah karya seni baru dengan sifat yang baru sebagai kombinasi dari sifat berbeda di awalnya.

Recto Verso sendiri berrati dua halaman yang berhadapan. Verso adalah halaman sebelah kiri, Recto adalah halaman sebelah kanan. Cerpen dan lagu itu dimaksudkan sebagai simbol dua halaman yang berhadapan yang notabene adalah halaman yang menampung topik yang bersambungan; dua hal yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan.

Membaca cerita pendek di buku ini tak membuat saya mengalami kebosanan karena seperti biasa kosakata dan gaya cerita Dee memang sudah khas. Filosofis sekaligus lugas, alur lambat sekaligus dengan kejutan. Lembut sekaligus kuat. Gaya Dee masih seperti dulu.

Tapi… jujur adanya bahwa saya merasakan kekuatan yang menghilang dari tulisan Dee dalam Recto Verso. Di buku-bukunya yang lalu (Supernova dan Filosofi Kopi), saya menemukan Dee yang tak sedikitpun memiliki “kecengengan” sekalipun harus menceritakan kisah patah hati. Dalam Recto Verso ini aroma curhat sangat kuat seperti harumnya asap yang menyeruak dari seduhan kopi luwak.

Beberapa cerita yang mengundang kesan melankolis kental menurut saya adalah Curhat Buat Sahabat, Selamat Ulang Tahun, Hanya Isyarat, Peluk, Grow a Day Older, Firasat dan Back to Heaven’s Light.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh Dee dan 2 vokalis lainnya semua beraliran easy listening dan slow. Tak satupun lagu berirama menghentak. Kesan yang saya tangkap adalah kepolosan seperti gaya cerita dalam bukunya. Tak ada hentakan sama sekali. Lagu yang menurut saya memiliki kekuatan lebih adalah Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat dan Firasat (lagu ini pernah dipopulerkan oleh Marcel, mantan suami Dee).

Entah benar atau tidak, saya menyimpulkan bahwa buku ini lahir dari kejujuran perasaan dan pergulatan batin Dee selama 2 tahun sebelum akhirnya cerai dengan sang suami saat itu. Tak salah jika aliran sungai cerita itu adalah pengikhlasan kepergian orang yang dicinta oleh orang yang mencinta.

Lepas dari kuat atau tidaknya gaya yang pernah Dee tawarkan melalui buku-buku sebelumnya, Dee masih tetap tampil berbeda dari pengusung sastra wangi yang pernah ada. Saya beri bintang 3 dari 5.

Recto verso bisa dibeli sekaligus sebagai paket (buku dan CD) atau satuan (buku saja atau CD saja.

Dengar fiksinya, baca musiknya.

http://www.dee-rectoverso.com/

October 19, 2008 – 4:01am

KACAMATA KITA

KACAMATA KITA

Awalnya sangat sederhana yaitu ketika melihat seseorang yang memakai kacamata hitam dengan senyum manisnya tapi ketika dilepas, terlihat sangat kentara matanya bengkak akibat menangis.

Kacamatanya telah dengan sukses menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya sehingga orang lain “tertipu” karena mengira bahwa dia baik-baik saja. Kacamata disini mari kita arikan sebagai keceriaan buatan karena memang dalam bermasyarakat kita tak disarankan mengumbar kesedihan kita. Tetap ceria adalah penawaran pribadi yang akan membuat pergaulan makin mutualis. Tidak adalah yang ingin punya banyak teman karena senyum yang selalu mengembang.

Kacamata bisa juga diartikan lain. Jika Anda memakai kacamata berwarna hijau maka sekeliling Anda akan berwarna hijau; jika hitam, berwarna gelap; jika merah, berwarna merah; dan seterusnya sesuai warna kaca yang Anda tempelkan di bingkainya. Kacamata dengan fungsi warna ini perlu dicermati secara lebih mendalam. Jika kacamata penutup kesedihan hanya akan membuat orang lain bersuka dan diri kita lebih nyaman, maka kacamata jenis ini bisa saja merubah dunia sang pemakai.

Jika kita tak sadar bahwa pandangan kita terhalang oleh kaca mata kita, kita tak bisa lagi memandang dunia sebagai mana adanya. dunia menjadi seperti yang “terhalang” oleh warna kaca yang kita pasangkan pada bingkai kacamata kita. Jika kaca yang kita pasang sedih, dunia jadi sediiiiih terooos. Jika terlalu ceria, maka ketawa terus tanpa sadar bahwa dunia tidak hanya sarat dengan tawa. Jika terlalu keras, maka dunia tak punya warna sama sekali. Maka jika Anda ingin merubah dunia, jangan repot-repot mengecat dengan warna-warna yang sesuai dengan kriteria Anda; tapi lepas saja kacamata Anda. Gampang kaaan…

Jika terpaksa memakai kacamata untuk menormalkan jarak fokus, kaca berwarna bening adalah pilihan terbaik. Jika kaca yang Anda kenakan jernih maka Anda akan mampu menangkap segala warna. Tidak hanya warna pelangi mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu) tapi segenap gradasi dapat Anda tangkap dengan kejernihan pandangan Anda. Tapi jujur, beningnya pandangan membutuhkan latihan. Yang biasanya mata ketutupan warna hitam, kini harus berjumpa warna-warna terang. Bisa silau sesaat… Yang biasanya berkutat dengan warna gonjreng, kini mesti rela berbagi menikmati warna yang muram. Bisa rabun sebentar…

Dunia ini penuh warna. Tak mudah tuk menerimanya tapi tak bijak untuk mengabaikannya. Ayo semua kita gambar cita-cita kita pada kanvas dunia dengan warna alami yang mencerahkan dan mengayakan jiwa dan raga kita. Kalau memang masih perlu kacamata, ada baiknya dipakai seperlunya sesuai fungsi sehingga jiwa kita tak tersiksa hanya karena kita tak mampu melewatkan usia kita untuk mengecat dunia ini dengan warna yang kita inginkan.

Dunia…. Sambutlah aku, kubuang kacamata warnaku. Kusongsong engkau dengan suka cita. Tak perlu lagi aku tersenyum dengan kacamata hitam tuk menyembunyikan mata bengkak karena engkau tak akan mengabaikanku hanya karena aku bisa tertawa sambil menangis ataupun menangis sambil tertawa.

October 19, 2008 – 12:12am

NAMA ANDA, PANGGILAN ANDA?

NAMA ANDA, PANGGILAN ANDA?

Ngobrol-ngobrol sama Mbak Shafa eh eh Mbak Indah ibune Shafa, saya dapat ide yang menyegarkan sekaligus menggetarkan karena mengingatkan kepada sesuatu yang bisa saja membuat orang tua merasa menyesal memberikan nama sampai mikir pusing-pusing. Ide itu datangnya dari nama seseorang yang tak terpakai gara-gara sekarang dia dipanggil Tampah.

Saya yakin Anda semua memiliki nama yang tak kalah hebat artinya dibanding orang-orang yang dianggap hebat di dunia ini. Contohnya: Soekarno artinya “telinga yang bagus” alias “pendengaran yang bagus”. Nama sebagus itu tak dipakai sejak kecil untuk memanggil pemilik nama; sebagai nama awal dan nama panggilannya adalah Kusno. Masih bagus karena Kusno dari kata Husna berarti bagus.

Berikut contoh nama indah yang tak terpakai dalam pergaulan dan penggantinya.

NAMA ASLI

NAMA PANGGILAN

ARTI PANGGILAN

Sushi Hariati Widiastuti

O’ok

Ikhwan

Geyong

Menggantung (bibirnya)

Nining Catur Utami

Cekot

Cacat tangannya

Windarti

Kicak

Makanan dari singkong

Siti Masruroh

Bekecot (Kecot)

Siput

Indra

Kancut

Celana dalam

Sapto Wibowo

Mbot

Abas Hassan

Wedhus

Kambing

Pristiawan

Emprit

Burung kecil

Wahyudi Wibowo

Botak

Tanpa rambut

Dieta Maharitza

Tonggos

Maju giginya

Mahendra Wardhani

Nonong

Jenong dahinya

Retno Kelasworo Subijanto

Ninol

Kartun di majalah Hai

Yogi Permadi

Siran

Nama orang gila

Sukardi

Ndendo

Bodoh

Puji Astutik

Timbul

Gendut

Haryadi

Bothok

Masakan Jawa

Eka Susanti

Tomblok

Wadah dari anyaman bambu

Tatag Heru Rudhata

Pereng

Hitam

Yudianto Tanu Wijaya

Katul

Bekatul (ortunya bos bekatul)

Silakan ingat-ingat apakah Anda punya teman yang nama aslinya Anda lupakan dan hanya Anda ingat nama panggilannya? Saya jadi malu karena sebenarnya saya masih ingat sekitar selusin nama panggilan dan wajah teman-teman itu tanpa ingat nama pemberian dari orang tua mereka. Jangan-jangan mereka juga mengenang wajah saya dengan nametag wadanan (nama panggilan dengan tujuan olok-olok, Bahasa Jawa) saya.

Hidup ini serasa seperti OSPEK, kita dipanggil dengan nama yang tidak kita kehendaki kehadirannya. Ada rasa malu, rasa minder tapi kemudian timbul rasa bangga karena nama itu membuat kita eksis diantara sahabat yang ternyata tak pernah lupa menyayangi kita dengan atau tanpa nama yang punya arti tinggi sebagai doa orang tua kita. Saya berharap semoga arena OSPEK ini membuat kita benar-benar lulus ujian mental dalam kehidupan sosial yang jauh lebih “menguji” daripada sekedar memberikan nama buruk sebagai olok-olok untuk kita.

PS:

Nama-nama tersebut diatas saya comot tanpa ijin pemiliknya tapi saya akan segera menyampaikan maaf sebesar-besarnya kepada mereka karena telah membuat mereka terkenal dengan cara yang tak beradab dan mungkin akan mempengaruhi nama baik mereka. J

October 19, 2008 – 1:11am

Beberapa hari ini tulisan saya tergolong confidential sehingga kalaupun selesai dan saya posting, saya hanya men-display untuk beberapa inviduals yang saya rasa perlu membaca ide dan curhatan itu. Kadang hidup ini mesti sangat sempit sehingga hanya beberapa orang saja yang bisa kita percaya untuk mendengarkan dan memahami kita secara benar.

Segelombang ide yang saya telan sendiri pun akhirnya menjadi bahan perenungan saja karena memang ada hal yang tak mungkin saya nikmati kecuali bersama kesunyian yang dikaruniakan kepada saya oleh Kang Murbeng Dumadi.

Terkadang saya merasa bahwa saya adalah orang yang paling berbahagia karena disaat bimbang pun saya masih bisa sanggup menerima orang lain untuk menikmati kebimbangan saya dengan cara berbagi bersama untuk menertawakan kebodohan dan kedangkalan berpikir saya. Namun jujur kadang saya menjadi orang yang sangat pelit dan kemudian merasakan semua sendiri dalam suasana yang tak bisa sedikitpun saya ungkapkan kecuali kepada orang yang sejak awal telah mengetahui siapa saya dalam kondisi tersebut.

Pernah saya curhat tentang sebuah masalah yang menurut saya amat sangat berat karena berhubungan dengan kelangsungan keseimbangan hidup saya; dan yang saya curhati adalah orang yang membuat saya merasa seperti itu. Saya merasa bahwa dialah yang tahu bagaimana saya mendapatkan problem itu dan saya berharap bahwa apa yang saya rasakan dapat dia pahami. Saya tidak tahu apakah itu cara tepat. Yang pasti dengan curhat pada dia, saya bisa lebih mengerti bagaimana dia memahami saya dan dirinya sendiri dan rahasia itu tetap terjaga. Saya tidak memperlakukan dia sebagai musuh sekalipun dia yang telah menghancurkan langkah saya. Saya tidak bermaksud mengganggu dia sekalipun dia yang telah menimbulkan kegoncangan dalam beberapa babak hidup saya dan mungkin akan berlanjut ke babak-babak berikutnya.

Hidup ini memang kadang aneh. Penuh dengan pertimbangan yang tak mudah dipahami. Penuh dengan gelombang yang kadang tak kunjung surut. Penuh dengan emosi yang warna-warni. Penuh dengan letusan pengejut yang membuat kita tak mampu berkata-kata.

Hidup ini indah tapi kadang tak terlukis dengan lukisan dengan media apapun kecuali perasaan hati.

October 18, 2008 – 3:11pm

PENAMPILAN BARU MP SAYA BIKINAN MBAK ZEVENTINA

PENAMPILAN BARU MP SAYA BIKINAN MBAK ZEVENTINA

Awalnya saya tertarik sekali dengan bintang-bintang yang bisa glowing di halaman Multiply saya. Nah, saya pernah lihat salah satu postingan Mbak Zeventina yang tentang background berupa bintang-bintang yang berkelip-kelip di angkasa raya. Terbayang bagaimana kalau langitnya berwarna hitam mendekati ungu. Saya sempat PM Mbak Zev tentang hal tersebut.

Gayung bersambut, ternyata Mbak Zev berbaik hati posting tentang satu CSS yang glowing in the dark berbintang-bintang dan menawarkan pada para pembaca untuk PM dia perkara CSS-nya.

Penuh semangat saya PM Mbak Zeventina dengan pesanan warna ungu. Berhubung CSS dengan warna ungu kurang cocok menurut sang desainer, saya disarankan untuk memakai yang hitam dulu dan belaiu mau ngutak-utik wampai menemukan warna ungu yang cucok. Udah kayak terbang aja rasanya, saking senengnya. Lagi sedih, ada juga yang menghibur J

Mbak Zeventina nih udah cantik, baik pula. Silakan dilihat foto Mbak Zeventina yang saya dapat dari hasil googling saya J. Maaf Mbak Zev kalau itu bukan yang tercantik menurut dikau. Tapi itu yang paling mewakili deskripsi “cantik dan baik”.

Matur nuwun, Mbak Zev. Saya tunggu edisi ungu yang cucoknya he he he…

October 14, 2008 – 11:16pm

JAGUAR + BMW + X-TRAIL VERSUS MIO?

JAGUAR + BMW + X-TRAIL VERSUS MIO?

Ada sebuah kisah yang lucu yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya lantaran cerita ini berupa sebuah ujian mental yang jawaban jujurnya tidak berbanding lurus terhadap pengetahuan seseorang terhadap jenis kendaraan tetapi lebih berbanding lurus terhadap pengetahuannya tentang apa yang sedang dia harapkan dan berbanding terbalik dengan kelaziman masyarakat materialistis pada umumnya.

Suatu hari ada seorang wanita yang sudah cukup umur dan dirasa telah siap memiliki keluarga alias menikah. Telah beberapa kali sang wanita menemui kegagalan dan sebenarnya terakhir kali keluarga si wanita “mencium” gelagat tak baik berupa adanya kegagalan selanjutnya. Sebenarnya memang benar walaupun keluarga si wanita tak mengetahui seluk-beluk kegagalan yang terakhir ini.

Maka dikenalkanlah anak wanita mereka ini dengan seorang yang dinilai sukses oleh sebagian kelompok masyarakat. Si lelaki memiliki bisnis yang cukup kuat, memiliki rumah, memiliki kendaraan dan disinyalir sebagai seorang alim terjaga yang kalis terhadap godaan wanita sampai usianya yang kesekian.

Sang wanita berpenampilan sederhana saja namun memang kesannya keibuan dan pencinta anak-anak. Selera humornya cukup dan memiliki kemauan belajar yang cukup besar. Sang lelaki berwajah tampan, sekilas seperti Once Dewa, berambut lurus sebahu, tinggi, berkulit putih dan tak banyak bicara.

Diaturlah pertemuan kecil antara dua wakil keluarga dan dua manusia yang diharapkan menyambung tali persahabatan tersebut menjadi tali persaudaraan. Dan, kakak si lelaki memulai perkenalan; ini dilakukan karena konon sang lelaki “tak nyaman” menceritakan apa yang telah dia raih selama ini.

“Redo* ini adik kami yang bisa disebut manusia langka. Mengapa manusia langka? Karena dia tak sedikit pun membiarkan kehidupannya ternoda. Sekalipun wanita cantik berkeliaran di sekitarnya tak sedikit pun dia membiarkan dirinya tergoda oleh mereka. Ibaratnya disodorin pantat pun dia tak tergoda. Dia juga sudah siap menghidupi keluarga. Gajinya hampir 300**, belum terhitung pasive income dan property. Di garasi dia tak kurang tiga mobil mewah berjejer: satu Jaguar, satu BMW dan satu X-Trail. Yang dia pakai sebagai kendaraan operasional adalah X-Trail karena memang dia figur manusia rendah hati. Jaguar dan BMW-nya dia kudungin aja di garasinya. Sesekali saja keliling kota pakai Jaguar atau kondangan pakai BMW.”

Tentu keluarga si wanita melambung karena merasa bahwa salah satu anggota keluarganya telah menjadi calon istri seorang jutawan. Namun tak disangka, tak dinyana sang wanita justru membuat pernyataan yang mengejutkan.

“Abang, saya tidak bermaksud apa-apa. Siapa gerangan yang tak menginginkan harta dunia. Tapi sejujurnya saya masih ingin berkenalan dahulu dengan Bang Redo. Saya ingin meyakinkan dahulu bahwa saya memang yang terbaik untuk dia dan sebaliknya. Kalau masalah jalan-jalan keliling kota, biarlah saya ikut sahabat saya yang insya Allah selalu siap membawa saya keliling kota memakai Yamaha Mio merahnya.”

JEGGER!!!

Suasana silaturrahim menjadi agak membingungkan: antara kaku dan menggelikan. Sebagian orang menganggap sang wanita bersikap bodoh karena menolak rejeki nomplok dan segera menajamkan mata mereka menelanjangi sang wanita hingga tinggal badannya saja. Sebagian lelaki celingukan mencari mata kawan yang mengandung kesetujuan atau ketidaksetujuan yang sama.

Rupanya sang juru bicara alias si abang tanggap benar akan yang dimaksud sang wanita dan segera mengeluarkan statement untuk mencairkan suasana.

“Oh Yamaha Mio? Insya Allah nanti akan ada juga di garasi Redo, adikku.”

Sang wanita tersenyum kecut lalu berkata dengan sangat sopan dan manis,”Alhamdulillah, Abang. Nanti saya pesankan juga pada sahabat saya untuk pindah juga ke rumah Bang Redo. Semoga Bang Redo mendapatkan wanita yang bersedia jalan-jalan keliling kota dalam Jaguar hitam atau BMW abu-abunya. Saya cukup Yamaha Mio merah saja…”

Dasar wanita bodoh, batin si abang lalu dia berkata,”Baikkah jika demikian, saya telah memahami apa yang kau maksud wahai Putri; maka kau akan kami angkat sebagai adik kami. Ikatan persaudaraan itu akan membuat kamu tetap kami kenang sebagai orang yang sederhana dan bersahaja. semoga perkenalan ini tak sia-sia. Kita menambah saudara malam ini. Baiklah, kalau kau besok mau berangkat pulang ke Jakarta bareng Redo, dia akan tetap siap dengan X-Trail-nya. Semoga doa dalam hatimu juga terkabul, adikku.”

Lalu mereka makan bersama dengan senyum yang beraneka: kecut, pahit, manis dan tulus ikhlas.

*Nama samaran

**juta

Berdasarkan kisah nyata pada October 11, 2008

October 13, 2008 – 10:53pm

ASMARANDANA

ASMARANDANA

Asmarandana termasuk tembang alit (tembang alit lainnya adalah Mijil, Sinom, Dhandhanggula, Kinanthi, Durma, Pangkur, Maskumambang dan Pucung). Ada lagi dua kelompok tembang lain yaitu: tembang tengahan (Jurudemung, Wirangrong, Balabak, Gambuh, Megatruh) dan tembang ageng/gedhe (Girisa).

Tembang Asmarandana (Asmaradhahana) umumnya dilagukan oleh orang yang sedang dimabuk cinta. Secara kasar, Asmarandana diambil dari kata asmara yang artinya cinta atau kasih sayang, dan dahana yang artinya api. Oleh karena itu, isi dari tembang Asmarandana adalah “wuyung” alias cinta atau asmara dan segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Pemaknaan lainnya, Asmara juga merupakan dewa percintaan dan Dahana berarti api. Nama Asmarandana berkaitan dengan peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja.

Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi. Mari kita kaitkan dengan sifat Allah yang Rahman dan Rahim.

Maka jika Anda sedang dimabuk cinta, tiada salahnya Anda melantunkan tembang ini atau dengarkan saja alunan gamelan berikut. Btw, yang melaras (memainkan) gamelan Jawa kok bule-bule ya? Tak ada salahnya juga, bule juga boleh dong melestarikan budaya Jawa. Dan, sebaliknya orang Jawa juga boleh dong nguri-uri budaya bule. Kita bersama-sama melestarikan budaya dunia asal tidak saling klaim ini punyaku, ini milikku.

Yuk kita coba melihat seperti apa sih lirik alias tembang Asmarandana ini. Saya berusaha menerjemahkan secara bebas berdasarkan pengetahuan saya yang sangat terbatas tentang bahasa sastra Jawa.

Asmarandana yang langsung berhubungan dengan percintaan

Gegaraning wong akrami (penguat dalam pernikahan)

Dudu bandha dudu rupa (bukan harta atau fisik)

Amung ati pawitané (tetapi hatilah modal utamanya)

Luput pisan kena pisan (sekali jadi, jadi selamanya)

Lamun gampang luwih gampang (jika mudah, semakin gampang)

Lamun angèl, angèl kalangkung (jika sulit, sulitnya bukan main)

Tan kena tinumbas arta (tak bisa ditebus dengan harta)

Asmarandana yang berkaitan dengan sifat memberi

Aja turu soré kaki (jangan tidur terlalu awal)

Ana Déwa nganglang jagad (ada dewa yang mengelilingi alam raya)

Nyangking bokor kencanané (menenteng bokor emasnya)

Isine donga tetulak (yang berisi doa penolak bala)

Sandhang kelawan pangan (sandang dan pangan)

Yaiku bagéyanipun (yaitu bagian untuk)

wong melek sabar narima (orang yang suka tirakat malam, sabar dan menerima)

Masih penasaran? Silakan berburu ilmu budaya Jawa J

IBUKU ULANG TAHUN 9 OKTOBER

IBUKU ULANG TAHUN 9 OKTOBER

Sungguh tak mudah menguntai kata-kata

Karena engkau tak terlukiskan

Tak mudah menggambarkanmu

Karena kau jauh lebih indah dari gambaran

Tak mudah memujimu

Karena tak ada kosa kata yang memadai

Tak mudah terharu karenamu

Karena air mataku telah tercurah olehmu

Tak mudah berterima kasih padamu

Karena budiku tak berarti bagi jasamu

Tak mudah, Ibuku

Kau telah lakukan apa yang kau bisa

Sebisa yang engkau mampu

Semampumu walau sungguh kadang kau tak mau

Tak mau surut

Tak mau mundur

Merengkuh dengan kasih yang kau terjemahkan dalam lelakumu

Menyirami kami dengan keterbatasan kasih yang luasnya tak tertampung samudera

Kau telah melakukannya

Dengan upaya berawalan “segala daya”

Kau bidadariku

Kau…

Ibuku,

Bagaimana kubisa membencimu

Kalau ternyata kau tambatan tali pusatku

Bagaimana kubisa mengabaikanmu

Kalau ternyata kutumbuh oleh darah dan air susumu

Bagaimana kubisa melupakanmu

Kalau a ternyata engkau cetakan ragaku

Bagaimana bisa kutempatkan kau setelah mereka

Kalau ternyata kau tak pernah melepasku dari keprihatinanmu

Bagaimana bisa?

Kalau ternyata kaulah manusia yang sanggup melakukannya…

Maafkan aku

Yang acap kali mengatakan “Ah!”

Maafkan aku

Yang berulang kali ngambek karena petatah-petitihmu

Maafkan aku

Yang tak bosan mengguruimu dengan ilmu mudaku

Maafkan aku

Yang seakan jauh lebih berjasa padamu

Maafkan aku

Yang akan banyak tak menuruti saranmu

Aku hanya tak mampu, bukan tak mau

Ibuku,

Kecantikanmu berbatas usia tapi…

Kesetiaanmu seperti matahari

Pengabdianmu seperti nabi pada Tuhannya

Kekuatanmu seperti tetesan air

Ketabahanmu seperti kerang yang mengulum arang menjadi mutiara

Kelembutanmu seperti sutera China

Kesabaranmu bagai aliran sungai ke laut

Ibuku…

Sungguh tak mudah menggambarkanmu

Hanya Tuhan yang membalas jasamu

Telah disiapkan kebahagiaan tak terhingga untukmu

Ibuku hari ini, ulang tahunmu

64 tahun kau merangkum musim

Selama itu pula kau menangguk ilmu

Selama itu pula kau kibaskan segala halangan

Kau terpilih

Kau terpindai

Menjadi yang diberkahi

Menjadi yang disucikan

Kau menjadi manusia mumpuni

Lewat segala sungkur, tangis dan pilumu

Lewat segala lagu, senyum dan tawamu

Selamat ulang tahun, Ibuku…

Aku menyayangimu.

Prepared on October 8, 2008 – 11:57pm

ULANG TAHUNMU 8 OKTOBER

ULANG TAHUNMU 8 OKTOBER

Duhai kekasih gelapku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi tersimpan bintang di belanga usiamu

Api di bawahnya bergolak

Menyala mematangkan masakan dalam belangamu

Duhai pujaan hatiku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi tahun terenggut dari untaian usiamu

Benang emasnya berkilau

Terburai meretas berkurangnya masa tunggumu

Duhai saudara tercintaku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi langkah kakimu melaju

Jejaknya dalam

Terpatri dalam setiap detak jantungmu

Duhai sahabat terkasihku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi lilin disulut di atas kuemu

Nyalanya mungil

Menari gemulai seindah mimpimu

Duhai lembaran rinduku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi puisi kutulis untukmu di keramaian

Kata-katanya sederhana

Mencabut rasaku menghantar cintaku padamu

Duhai penguasa hatiku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi harapanku kuimpikan

Makan dan minum di saung tepi telaga

Memenuhi rasa lapar dan dahaga di sampingmu.

Selamat ulang tahun…, bisikku…

prepared on October 7, 2008 at 11:57pm

UDAN SALAH MONGSO (hujan salah musim)

UDAN SALAH MONGSO

(hujan salah musim)

Keluar dari kantor, saya merasakan titik-titik air langit menusuki kulit saya. Hujan rintik-rintik. Teman saya segera mengembangkan payung ungunya. Saya sendiri masih merasa aman karena saya menyangka hujan tak akan membesar. Asal kerudung saya masih protektif, biasanya saya tak membuka payung biru bertabur gambar hati kesayangan saya.

Saya dan teman saya segera masuk kendaraan umum yang telah setia menanti kami menyeberangi jalan yang tiap petang selalu disesaki kendaraan bermotor yang membawa tuannya kembali ke wismanya masing-masing. Sang hujan merindui tanah rupanya. Tetesan air membesar dan jadilah hujan deras sementara kami masih di angkutan menuju terminal. Kok hujan begini sih…, gerutu banyak orang di metromini.

Turun di depan terminal Blok M, genangan air menutupi sepatu kets saya dan merembesi bluejeans saya. Kerudung dan punggung saya juga basah pada bagian tertentu terkena cipratan air dan karena tampias air hujan yang meluncur di payung. Hujan ini tak selayaknya tiba pada bulan-bulan ini. Udan salah mongso, kata penduduk Jawa. Hujan yang datang tak tepat waktunya.

Saya ingat tadi siang ketika kami sedang berbincang santai ngomongin orang. Oalah, Ramadhan kok ngomongin orang ya? Lha, habis mau ngomongin apa kalau nggak ngomongin orang? Ngomongin monyet puasa tidak lebih menarik he he he… pendeknya kami sampai pada sebuah topik tentang kepedulian kita kepada Cik Yen yang sering kena macet di daerah Fatmawati setiap berangkat dan pulang kerja.

Sebagian besar kami yang terbiasa positif terhadap sesuatu hanya tertawa-tawa termasuk juga Cik Yen yang santainya melebihi kami ini. Malahan kejengkelannya terhadap lalu lintas kota Jakarta yang sudah di ambang “membahayakan mental” tersebut dia kemas dalam bentuk yang sangat konyol. Kami bukannya bersedih malah ngeledekin dia. Seperti biasa dia hanya tertawa dan makin gila kekonyolannya.

Namun diantara kegirangan kami ini, tiba-tiba sebentuk lontaran kata melintasi gendang telinga kami…

“Ya ampun, Yen. Kasihan banget sih kamu kalau tiap hari kamu kayak gitu? Aduh, aduh… Kasihan. Terus gimana kamunya? Kasihan ya…” Nada suaranya diiba-ibakan seakan sedang berbicara pada pengemis pincang yang malang.

Keceriaan kami tiba-tiba lenyap karena nada sedih tapi garing dan terkesan meremehkan yang dihembuskan oleh seseorang yang memang punya karakter “pemadam percakapan”. Beliau ini amat sangat sering sekali membuat percakapan yang gayeng menjadi stuck alias macet karena:

  1. Komentar yang selalu merujuk kepada superioritas beliau. Pokoknya dia merasa nggak pernah ada cacatnya deeeeh…
  2. Komentar yang memojokkan orang lain. Pokoknya dia merasa nggak pernah ada cacatnya deeeeh…
  3. Komentar yang sangat sarat dengan istilah ilmiah tapi sama sekali tak membuat diskusi berkembang. Pokoknya ilmu dia paling selangit deeeeh…
  4. Komentar yang tak diharapkan dalam bentuk apapun. Pokoknya dia tahu segalanya deeeeh…

Hujan senja ini mengingatkan saya bahwa ada sebuah kenyataan yang datangnya tidak diharapkan pada saat tertentu dan justru dia datang membawa dampak yang sangat tak diharapkan pula. Tak heran ada beberapa teman yang secara rahasia membisiki saya bahwa orang seperti ini dikategorikan sebagai megalomaniac. Dan, malangnya justru dia tak pernah menyadari itu.

Kembali pada udan salah mongso. Tah
u tidak, gara-gara hujan salah mongso itu:

  1. Banyak orang kehujanan karena belum siap payung.
  2. Banyak orang tak siap kostum yang tepat untuk musim hujan.
  3. Saya pribadi kedinginan dan masuk angin karena saya memakai kets yang bahannya tak kedap air. Selain itu, kaki saya gatal-gatal karena kaos kaki basah.
  4. Hati rasanya kesal.

Seperti hujan senja kemarin, komentar teman kami ini sejatinya semacam udan salah mongso; komentarnya tidak pada tempatnya. Komentarnya tak tepat waktu. Bahkan mungkin memang komentar itu tak layak ucap sama sekali.

Sungguh saya telah menjadi pendengar yang menyimak kata-katanya. Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni. Tidakkah asumsinya itu membuatnya lelah berpacu dengan kenyataan yang kadang sama sekali diluar kesanggupannya? Tidakkah dia menyadari bahwa keengganan kerap kali menerpa teman-temannya bukan karena rasa sungkan atau hormat melainkan lebih kepada ketakpedulian dan olok-olok murni saja? Tahukah dia bahwa terselip rasa muak di tiap sudut hati tiap tetangganya?

Ya, semoga udan salah mongso ini tak kami alami terus menerus kecuali Allah memang ingin kami kebal kepada segala musim; atau bisa jadi Allah memang membiarkan hujan itu turun sebagai “kecelakaan berkah” sehingga kami yang tak punya hiburan ini bisa mengolok-olok si hujan dan menceritakan kemarahan kami kepada sesama atas hadirnya si udan salah mongso ini.

Wahai Tuhanku, jauhkanlah kami dari sifat udan salah mongso. Amin…

September 24, 2008 – 10:20pm

SAAT KAMU MANDI, MENGAPA KAU PILIH LAGU ITU?

SAAT KAMU MANDI, MENGAPA KAU PILIH LAGU ITU?

Saat kau mandi, kau selalu menyanyi

Lagumu anak panah sunyi

Dengan hulu tertuju hatiku

Sore tadi, kau mandi

Kudengar kau bernyanyi

Isinya mengiris hati

Andaisaja tak kumengerti bahasa hati

Mungkin aku tak peduli

Namun pesanmu terlalu mudah kumengerti

Benarkah?

Adakah aku salah?

Atau hanya sekedar gundah?

Kau memang selalu bersenandung

Saat tenang ataupun bingung

Sore ini pun galau tak dapat kutanggung

Di jalan tadi semua tampak baik

Tiada tanda, hapuslah panik

Danau hatiku tak lagi terusik

Namun lagu ketika kamu mandi itu

Masih terngiang di gendang kalbuku

Adakah itu jujurmu?

Kuturunkan kaca pemisah kita

Tak kuat aku bersirobok mata

Pulang mengukur jalanan kota, kau jadi hambar tak berasa

Adakah ini tanda lagu itu?

Adakah ini alamat akhir perjuanganku?

Ya atau tidak?

Oh, Tuhan

Mungkin kini aku di persimpangan

Tangan hangatnya yang kuharapkan.

Masihkah Kau berpihak padaku?

Yang terus saja melaju

Tak kuasa kugambar rupa hatiku…

Sudahlah…

Keringat hatiku telah kering

Airmataku sia-sia juga

Kuhela nafas terakhirku

Kusudahi lengkung pelangiku

Karena lagu ketika kau mandi sore tadi…

0ctober 4, 2008 – 12:21am

KITA PERLU IMUNISASI

KITA PERLU IMUNISASI

Waktu saya kecil, saya diimunisasikan supaya kebal terhadap berbagai macam penyakit walaupun kenyataannya ada sebuah penyakit yang terpaksa saya idap selama beberapa lama karena suntikan imunisasi tersebut tak mencukupi untuk melawan serangan penjahat dari luar tubuh saya. Untung tidak menular dan dapat disembuhkan sehingga saya bisa bernapas cukup lega.

Ada bekas goresan di lengan kiri saya dan suntikan di lengan kanan saya. Kata ibu itu namanya bekas imunisasi.

Yang masih saya ingat adlah imunisasi polio. Saya masih kecil, tak inget entah sudah sekolah atau belum. Kami sekeluarga pergi ke “kota” untuk mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah demi imunisasi saya dan beberapa sepupu saya seusia. Saya disuruh mangap (membuka mulut lebar-lebar, Bahasa Jawa) lalu ditetesi obat yang rasanya jelas nggak enak tapi mesti ditelan dan tak boleh meludah.

Kemudian satu lagi yang masih saya ingat. Saat itu saya kelas enam es de, segerombolan perawat dan dokter datang ke sekolah kami yang segera membuat keonaran karena masih banyak gadis seusia itu yang nyatanya takut jarum suntik dengan berbagai alasan bahka ada yang emngatkan takut terkena tetanus ha ha ha… masuk akal juga ya. Kali ini lengan kami yang menjadi korban, disuntik dengan rasa semut raja karena rasa gigitannya tak terkira bekasnya hingga membuat kami saling ledek sambil menabok lengan satu sama lain; mencari siapa yang paling cengeng.

Hidup in penuh penyakit baik jasmani maupun rohani maka itu sangat masuk akal bahwa imunisasi atau pengebalan sangat penting artinya. Fungsi pengebalan yang membantu manusia belajar menamengi diri terhadap gangguan luar tak bisa tidak harus dilakukan etah secara alami maupun tidak.

Yang dilakukan oleh petugas rumah sakit maupun petugas kesehatan yang datang ke sekolah saya tersebut adalah upaya non alami imunisasi. Sedangkan yang alami adalah yang seperti dilakukan oleh orang yang tak perlu imunisasi namun harus mengalami perjuangan hebat terhadap segala macam penyakit yang gentayangan dalam lingkungannya; jika pada akhirnya dia harus kebal dalam keadaan berpenyakit itu lain cerita.

Secara mental, manusia juga perlu imunisasi. Siapa yang tak tahu bahwa hidup ini penuh penyakit rohani? Sepanjang hidup kita tak sejengkal pun kisah kita tanpa ujian kekebalan. Ijinkan saya untuk menyuratkan sebagian yang saya sebut dengan imunisasi tersebut.

Sepuluh tahun yang lalu saya adalah seorang mahasiswa yang sangat membentengi diri pada segala yang berbau “kiri” hingga saya tak sudi membaca karya seorang pujangga Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Sungguh saya menangkal segala tawaran dari teman “kiri” saya untuk sekedar berkenalan dengan satu bab dari buku Mas Pram itu. Kawan saya itu sampai putus asa dan menganggap saya tertutup, eksklusif, jumud, dsb julukan tak enak yang akhirnya membuat saya dan mereka agak mengambil jarak. Namun sejak delapan tahun yang lalu saya mengalami pergeseran; saya menerima suntikan dari kiri dan kanan yang membuat saya merasa bahwa yang “kanan” tak akan seimbang tanpa yang “kiri”, dan sebaliknya. Saya membaca apa yang menurut saya enak dibaca tanpa harus khawatir bacaan tersebut “menginfeksi” saya. Masukan-masukan berupa pengalaman dan ide yang di-share oleh orang lain merupakan suatu bentuk pengebalan alias imunisasi yang membuat saya cukup kuat untuk bisa bergaul dengan “dunia luar’ dan menikmati lingkungan pergaulan saya tanpa memakai masker yang berlebihan. Saya bisa bernepas lega, saya merasa imunisasi saya sudah ok sebagai tanda upaya saya dan saya cuma tinggal menyerahkan diri pada Yang Berhak.

Saya adalah seorang pencari yang cukup nekat. Saya setia pada apa yang saya yakini dengan terus-menerus mengenalkan diri saya pada dunia yang secara gamblang menyuguhkan serba neka “dagangan” yang membuat saya kadang termangu dan membego: Amboy, alangkah setianya ilmu ini pada semesta… Tak menyisakan ruang dan waktu untuk istirahat sejenak dari proses berpikir. Saya berteman dengan sesiapa yang mau berteman dengan tulus dengan saya. Saya tak ragu berteman dengan yang hitam, yang putih, yang berwarna, yang tua, yang muda, yang lelaki, yang perempuan, yang diantaranya (walaupun jarang), yang berprinsip keukeuh, yang feodal, yang begini, yang begitu, yang kebingungan, dll…

Saya memperlakukan mereka sebagai sahabat sekaligus guru; saya serap yang bisa saya tembus dengan kebodohan saya; saya teguk yang bisa saya rasakan dengan kehausan saya; saya merampok ilmu dari mereka. Saya tak peduli apaka
h mereka heran karena saya telah menjajari langkah mereka. Saya tak peduli juga apakah mereka bangga karena mereka telah memimpin saya. Saya juga tak peduli apakah mereka menyesal karena saya telah meninggalkan mereka. Namun saya tetap peduli bahwa siapapun Anda, jadilah guru saya.

Dari proses “gaul dengan sesiapa” inilah imunisasi alami saya bekerja. Saya tak lagi takut dengan kutub yang sana karena sedikit banyak saya telah mengenalnya. Saya tak usah lagi gemetaran terhadap tanduk setan karena saya pernah berpengalaman menggunakannya maka saya sedikit tahu bagaimana mengantisipasi srudukannya. Saya juga tak terlalu mundhuk-mundhuk (berjalan membungkuk dengan tujuan menghormati, Bahasa Jawa) di hadapan malaikat karena saya tahu bahwa malaikat itu tak peduli kita mundhuk-mundhuk atau tidak; yang malaikat peduli adalah akurasi naik turunnya kesigapan jiwa kita. Saya juga tak terlalu takut dengan para dracula penghisap karena saya sedikit banyak telah tahu bahwa dracula tak doyan darah penyuka sayur pare yang pahit ha ha ha… (Fyi, dalam kehidupan kita ada beberapa macam dracula lho…)

Saya merasakan mental saya sedang menikmati manfaat imunisasi alami dan non-alaminya. Sekarang ini saya sedang melihat mental saya seperti seorang anak kecil yang tak lagi ragu tertular campak karena tubuhnya telah siaga dengan anti-bodi penjinak campak.

Namun saya tak mau gegabah. Banyak penyakit belum ditemukan obatnya; berarti belum ada serum yang bisa dibiakkan di tubuh kita untuk menahan arus serangan penyakit yang disebabkan oleh makhluk hidup renik yang sama. Begitu juga banyak penyakit mental yang belum ada penagkalnya sehingga tetap saja segala macam upaya mesti kita “trial and error” demi mendapatkan formula tepat membentengi mental kita dari penyakit tersebut.

Sekarang ini makin banyak orang ketakutan menjadi miskin, banyak orang ketakutan menjadi lapar, ketakutan menjadi tak berguna, ketakutan disia-siakan, dll… Dan, bisa saja saya diantaranya.

Saya hanya bisa melongo (lagi); apakah itu penyakit baru atau penyakit tua yang telah bermutasi seperti flu yang bermutasi menjadi flu burung dan berefek mematikan pada manusia juga.

Ah, imunisasi… kamu memang penting dan diperlukan oleh manusia. Saya hanya berharap obat imunisasi adalah segala serum yang tak membawa efek jelek baik mematikan atau mencacatkan manusia. Aku gak iso turu… imunisasine kurang…

Revised on September 30, 2008 – 2:40am

MURID RAMADHAN MENYAMBUT FAJAR BARU

MURID RAMADHAN MENYAMBUT FAJAR BARU

Satu

Dua

Tiga

Empat

Lima

Enam

Tujuh

Tujuh hari seminggu

Empat minggu bersambungan

Genap sebulan kumeliuk-liuk ikuti irama musim kemarau

Ramadhan menungguiku

Mencatat kejujuranku

Mencatat kebohonganku

Mencatat kebahagiaanku

Mencatat kesedihanku

Ramadhan setia menugguiku

Mencermati cerita siang malamku

Mengeja kata dalam kalimatku

Menghitung bilangan dalam detak detik saatku

Merangkum semua di bukunya

Ramadhan nan jujur

Sedang bersiap berpamitan padaku

Mengemasi catatan dan tikar pandannya

Mengibaskan jubahnya yang penuh debu

Melambai menyuruhku berhenti menari

Menyuruhku bersila di hadapannya

Ramadhan tamu heningku

Tak teraba rasa hatiku

Tiada pula kubaca isyarat jiwaku

Kudatangi kau

Kudengarkan gumam lirihmu

Masih inginkah kau menerimaku sebagai tamumu? Dimanakah kau akan mendudukkanku? Apakah masih di gudangmu yang tua dan reot ini? Ataukah di tempat lain yang tak kalah usang dan memilukan? Ku mesti bergegas, saudara mudaku kan menyambutmu. Kumandangkan takbir setulus hatimu. Biar segala sesalmu kandas ditindas kebesaran-Nya. Mari anakku, tuntunlah aku menghantarkan catatan tarian jiwamu…

Embun belum lagi tergelincir dari beludru daun

Saat dia akan segera berangkat

Mendekap catatan yang tak lagi dapat kuhapus

Tak dapat lagi kutawar

Tak dapat lagi…

Tamu-guru akan segera pergi…

Menyerahkanku pada fajar baru

Semoga takbirku kuasa menyibak tirai langit.

Amin…

Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar

Laa ilaaha illallaahu, Allaahu akbar

Allaahu akbar, wa lillaahil hamd

September 30, 2008 – 4:57am

MY HEART IS BEAUTIFUL

If you want to see my heart in normal circumstances, here it is: zwani.com myspace graphic comments
Graphics for Hearts CommentsWhen I am in love, here it goes: zwani.com myspace graphic comments
Graphics for Hearts CommentsWhen I am broken-hearted, see this: zwani.com myspace graphic comments
Myspace Hearts GraphicsBut, I want to keep my heart as normal as this: zwani.com myspace graphic comments
Myspace Hearts Comments & Graphics

SERVER DOWN, GAK BISA KERJA

SERVER DOWN, GAK BISA KERJA

Entah mesti bahagia atau sedih. Server kantor lagi amburadul sejak Sabtu. Udah kirim email ke IT-girl di seberang sana untuk nanya what is happening tapi sampai sekarang gak ada jawabnya. Kata teman-teman Reyes dan Lewis lagi tidur. IT kok molor, harusnya dia gak boleh tedor…

Akhirnya dengan terpaksa email ke pak bos. Gini nih bunyinya:

Hi Sam,

I can’t access C****s again. In case it happens until tomorrow, I will change my decision of working on September 29, 2008. I will work only on September 30, 2008. But, if it happens until the day after tomorrow, I decide to take the whole mass leave this year.

Saya baca lagi email yang sudah saya kirim sambil membayangkan praupan (air muka, Bahasa Jawa) bos saya yang minggu lalu sempat bergembira karena kami mau aja dia plekotho (kerjain atau peralat, Bahasa Jawa) untuk kerja selagi orang-orang mudik-ria. Yang terbayang adalah muka sedih dan putus asa. Tidak bisa marah, jelas… karena memang pegawai berhak cuti. Yang bikin dia lebih tidak bisa marah lagi adalah karena si Reyes dan Lewis gak juga me-respond email tentang down server.

Saya lagi bingung kemana dan dengan aktivitas apa besok saya habiskan hari saya; udah kadung memutuskan gak mudik dan nyanggupi datang ke acara keluarga di Buitenzorg pula. Masak menjilat air ludah sendiri; ih jijikkk… Weleh, weleh pooseeng kepala ini; sakaw kalau gak kerja… Gubrakss!!!

September 28, 2008 – 11:44pm

LASKAR PELANGI

LASKAR PELANGI

Hari ini saya nonton movie yang telah saya tunggu-tunggu setelah beberapa bulan sebelumnya membaca novelnya. Jujur, saya berharap terlalu banyak untuk bisa dapetin “getaran” yang selaras antara movie dengan novel yang benar-benar menggugah jiwa tidur saya seperti mencairnya minyak goreng beku yang mencair dihadapkan pada uap air.

Film Laskar Pelangi mengesankan! Saya tak punya deskripsi lain selain itu. Tawa dan tangis yang saya sumbangkan untuk mengapresiasi film dan novelnya setara. Impas sudah hutang Andrea Hirata & Miles Production pada saya.

Saya terkesan oleh penggarapannya. Saya terkesan oleh pemain-pemain ciliknya yang asli Belitung. Saya terkesan dengan permainan para aktor yang memerankan orang-orang dewasa – Cut Mini oke kok – yang saya rasa benar-benar tak mau mengecewakan pembaca novel yang sudah hampir pasti akan nonton. Saya juga terkesan dengan adegan-adegan pilihan karena memang mustahil semua cerita yang tertuang dalam novel bisa di-display di film-nya.

Salah satu adegan yang sangat memukau saya adalah setiap saat Lintang harus melintasi sarang buaya dan menunggu buaya masuk “tempat tidur”nya sebelum dia bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah. Yang lain? Adegan tarian karya Mahar. Yang lain? Adegan Samson mengajari Harun menulis Arab. Yang lain lagi? Adegan Kucai putus asa menjadi ketua kelas. Yang lain lagi? Adegan Trapani membawa minum untuk Mahar yang sedang “bertapa”. Yang lain? Adegan Bunda Guru Muslimah dan murid-muridnya mengusir teman-teman kambing dari kelas setelah hujan. Yang lain? Adegan Pak Cik Harfan meninggal. Tak habis adegan itu saya sebutkan karena memang saya ingin nonton lagi sebagai bukti film ini saya gemari seperti saya menyukai air putih yang menyegarkan.

Saya tidak beranjak setelah movie selesai. Saya tunggui sampai dedication list benar-benar habis.

Mbak Mira, Mas Riri, saya menunggu Sang Pemimpi sesuai janji Anda.

A must-see movie!

KEPOMPONG DITINGGALKAN KUPU-KUPUNYA

KEPOMPONG DITINGGALKAN KUPU-KUPUNYA

Kepompong ini merindukan kupu-kupu

Kemanakah makhluk cantik yang pernah mendekam di dalamku?

Yang dulu kuselimuti dengan cangkang lenturku,

Yang dulu pernah mendengkur dalam kantongku,

Yang dulu pernah berendam dalam cairan lembutku,

Yang dulu berpuasa dalam bisuku.

Dia ‘tlah meninggalkan lubuk ini

Si cangkang kepompong bodoh ini

Jelek pun tiada berguna lagi

Ketakbermanfaatan sedang dia tangisi

Keberadaannya sedang dia sesali

Waktu telah menggerus asa yang dia kebiri.

Andai kau bertemu si kupu-kupu,

Tolong, Kawan, kau beritahu

Bahwa aku, si kepompong kosong ini, sedang menunggu

Kuharap ia mau menyambangiku

Menclok* sejenak menghibur kefanaanku

Menari berputar napak tilas proses hidup yang kian melayu

Kepompong jelek ini

Tak sadar arti proses dan prosesi

Sepasang keberadaan yang sepanjang hidup harus dia alami

Setiap tahap menempati jangka yang nisbi

Sebentar dan lama bukanlah janji

Yang ada hanyalah membuka-buka pintu misteri

Kepompong menangis

Kupu-kupu menari dan berdendang

Telur berserakan di dedaunan

Ulat tetasan merangkak kemana-mana

Lalu?

Aku, kepompong itu tujuan selanjutnya…

September 25, 2008 – 10:57pm

* menclok: hinggap

SEPEDA NABRAK BECAK

KENANGAN TAK TERLUPAKAN BERUPA KECELAKAAN KECIL YANG MEMALUKAN

Sudah beberapa malam ini saya hobi banget naik becak. Turun dari angkot saya segera berbelok ke kiri membeli berbagai uba-rampen (kebutuhan pelengkap, Bahasa Jawa) malam yang berkisar antara minuman sehat dan alat tulis.

Abang becak dengan sangat ramah menawarkan jasanya mengantarkan saya, tentunya tak cuma-cuma. Dengan tiga ribu rupiah saja saya sudah sampai tempat istirahat malam saya.

Yang saya ingin ceritakan bukan kecelakaan saya naik becak namun ini adalah sebuah kenangan yang tiba-tiba muncul karena saya sering naik becak akhir-akhir ini saja. Silakan menikmati. Semoga menghibur dan bermanfaat.

Dulu waktu es em a, saya gemar naik sepeda ke sekolah. sebenarnya lebih karena kewajiban; orang tua saya tak mau mebelikan motor dengan alsan yang dibuat-buat mulai dari takut celaka hingga takut cemburur sosial padahal kaalu mereka bilang “tak punya uang”, saya akan berhenti meminta. Kadang kalau sedang malas, saya naik angkot atau minta diantar orang rumah. Saya punya gerombolan rekan biker yang punya kesukaan norak yaitu menggoes sepeda sambil tertawa-tawa tanpa peduli bahwa jalanan sedang penuh dengan segala macam kendaraan yang sedang bersaing menghantarkan pengemudinya yang rata-rata berseragam abu-abu putih.

Saya adalah seorang anak es em a yang cukup berani terhadap tantangan termasuk balap sepeda setiap pulang sekolah. Saya tak peduli entah lelaki atau perempuan penantang saya. Saya juga tak segan balapan dengan pengmudi motor karena mereka mereka diberi limit kecepatan di spedometer. Yang saya pedulikan hanya apakah mereka curang atau tidak.

Suatu hari, seorang teman bernama Nanik (almarhumah) menyampaikan tantangannya untuk berlomba alon-alonan (lambat-lambatan, Bahasa Jawa); jadi kami tidak bersaing untuk adu cepat, sebaliknya kami beradu lambat. Siapa yang sampai jarak tertentu dalam waktu yang paling lama maka dialah pemenangnya.

Saya kenal dengan anak peternak sapi perah ini sehingga saya tak takut bersaing. Bersaing dengan orang jujur tak akan rugi baik menang atau kalah hasilnya.

Deal!!!

Tak ada acara ketawa, tak ada becanda. Kami berdua bersaing menggoes dengan ayunan kaki yang sangat lambat. Sepeda berjuang keras menyeimbangkan roda melayani kelambatan kami. Saya berusaha fokus pada gerak putar ban sepeda jengki biru saya.

Nanik beberapa centimeter di depan saya, agak oleng membiasakan diri bersepeda lambat. Tiba-tiba ada seorang teman yang iseng (dia tahu kami sedang berlomba); si sahabat tengik ini (namanya Rayih) tertawa-tawa mengisengin kami. Dan melambatkan laju motor Astrea bututnya, memepet saya. Tak kuasa juga saya menahan jengkel. Tanpa basa-basi saya pelototin dia. Posisi saya makin ke pinggir dan tak fokus lagi.

JEGGER!!!

Huahahahahhahahahaha… Tawa meledak dari seantero jurusan. Rayih, Ragil, Sen Foek, Rendra, Bambang, dkk (mereka itu musuh bebuyutan dalam hal ledek-meledek dengan saya) seperti sedang merayakan kemenangan yang tak pernah sekalipun mereka dapat dari saya and the gang.

What happened aya naon? Saya menabrak becak yang sedang berhenti mangkal di depan sekolah saya!!! Tiga becak yang berderet mengalami tabrakan beruntun akibat saya tabrak dari belakang. Jadi abang becak tak bisa memberhentikan becaknya karena masing-masing mereka sedang duduk di jok penumpang. Tiga becak berendeng nggelender (menggelinding lambat, Bahasa Jawa) tanpa bisa ditahan. Para tukang becak itu segera tersadar
dan berloncatan sambil memaki-maki saya.

Saya sendiri hanya bisa melongo tak tahu mesti berbuat apa karena Nanik tak juga berhenti tertawa bergabung dengan musuh-musuh gang kami. Sejak itu saya tak mau lagi berlomba naik sepeda baik adu cepat maupun adu lambat.

Buat Nanik yang telah mendahului kami: Love you and pray for you.

Buat Rayih dkk: kalian memang penjahat penghibur hati ha ha ha…

RUJAK BUAH ISTIMEWA ALA RIKE JOKANAN

Description:
Rujak adalah salad khas Indonesia. yang bikin rujak saya special adalah karena kacangnya kacang panggang bukan kacang goreng minyak atau sangrai. silakan mencoba resep saya. semoga pas di lidah dan ketagihan.

kabar-kabar rasa rujaknya ya..

Ingredients:
Bahan bumbu:
– Kacang tanah panggang (Dua Kelinci atau Garuda)
– Gula merah
– Cabai rawit sesuai selera
– Air asem matang atau asem kawak (asam Jawa yang diawetkan) dua sendok makan
– Garam secukupnya

Buah (semua dipotong dengan ukuran sedang):
– Mentimun muda
– Kedondong tua
– Nanas matang
– Bangkuang segar
– Jambu monyet tua (jambu yang tua bukan monyetnya…)
– Jeruk bali matang
– Buah jamblang merah atau putih
(Silakan tambahkan buah apa saja yang Anda suka)

Directions:
Cara membuatnya:
– Haluskan dulu kacang tanah panggangnya sampai halus.
– Tambahkan gula merah dan garam
– Masukkan dua sendok makan air asem kawak
– Masukkan biji mentimun untuk mengencerkan bumbunya, tidak perlu menambahkan air lagi.
– Uleg lagi hingga tercampur rata.

CUMI-CUMI DAN CAMELIA EBIET G ADE

CUMI-CUMI DAN CAMELIA EBIET G ADE

Bukan Ebiet kalau tak puitis. Dan bukan Ebiet kalau tak berpuisi tentang manusia dengan simbolisasi alam raya. Ebiet, sebagai penyair, menempati genre yang sejenis dengan Robert Frost, penyair dari daerah perbatasan USA dan Canada. Mereka berdua sama-sama “mengandalkan” alam untuk merayu pembaca dan pendengar puisi mereka.

Ada sebuah syair lagu Ebiet yang sampai sekarang tak bisa saya pahami.

Mengapa dia memakai istilah “berenang bersama cumi-cumi”?

Saya lebih bisa memahami jika dia menuliskan sajaknya itu dengan kata “berenang bersama ikan-ikan”. Saya membayangkan cumi-cumi itu bertinta, kalau tak berkenan akan menyemprotkan tinta ke muka lawan. Apa Ebiet sedang bermain makna cumi-cumi yang jinak pada manusia yang baik? Apakah Ebiet ingin sekedar berbeda dengan menuliskan cumi-cumi dan bukan ikan-ikan? Bagaimana seandainya saya ganti kata cumi-cumi tersebut dengan ikan ayam-ayam ubur-ubur atau lumba-lumba atau jenis penghuni laut lain yang berbeda?

Ebiet memang sebuah fenomena yang berbeda. Dia berhasil menggugat hati penggemarnya untuk senantiasa berpikir bahwa jagad raya mengandung kekayaan makna yang bisa dibaca oleh manusia dalam keadaan apapun. Ingatkah Anda pada bunga camelia yang dia jadikan lagu sampai beberapa jumlahnya. Jika Camelia adalah sebuah bunga yang indah bagi Ebiet, maka tak pelak lagi bahwa keindahan itu tetap menjadi misteri karena sesungguhnya Ebiet hanya ingin mencitrakan sebuah keindahan sempurna yang even tak didapatkan pada istrinya.

Camelia, buat saya pendengar Ebiet, tak hanya keindahan seorang wanita yang konon mewakili keindahan dunia. Camelia adalah sebuah kecantikan misterius yang dikandung oleh sebuah kebenaran. Wanita yang bernama Camelia itu saya yakin tak ada. Wanita yang secantik kecantikan Cameli-nya Ebiet juga tak ada. Camelia muncul begitu saja, sebagai sebuah ekspresi Ebiet untuk dia ucapkan saja. Camelia yang disebut cantik dan indah ideal menurut Mas Ebiet jelas bukan wanita. Dia jelas bukan kecantikan yang terindera karena jika ya, maka Mas Ebiet akan menggambarkannya dengan bunga lain.

Kembali kepada kata cumi-cumi. Mengapa cumi-cumi yang diajak berenang? Sungguh saya bertanya-tanya apakah cumi-cumi ini muncul sebagaimana munculnya kata Camelia di lagu Ebiet yang lain. Kata cumi-cumi muncul karena tak ada lagi kata yang bisa Ebiet jadikan wakil untuk mengekspresikan keterkesimaannya terhadap kenyataan bayangan yang dia tangkap pada ilhamnya.

Mas Ebiet, selamat atas Camelia dan cumi-cuminya! Saya bukan penggemar setia Anda, tapi saya merasakan syair-syair Anda telah mencambuk batin saya untuk terus bertualang berenang bersama cumi-cumi untuk mencari Camelia.

September 20, 2008

BUKA BERSAMA LIA TARUNA

BUKA BERSAMA LIA TARUNA

September 19, 2008

Jumat tanggal 19 September, 2008 saya mendapat undangan berbuka bersama di LIA Taruna Tangerang, tempat saya mencari angin segar ketika pikiran penat gara-gara deadline.

Segera saya minta cuti di kantor demi menghadiri acara langka ini karena di acara semacam inilah saya bisa ketemu teman-teman yang jadwal mengajarnya tidak memungkinkan kami untuk setiap saat berjumpa.

Acara berbuka bersama baru mulai Maghrib tapi saya sudah siap di LIA sejak sebelum Dhuhur. Berdasar rencana pribadi saya, saya ingin mengabadikan peristiwa thunan ini untuk koleksi album saya. Canon usang saya yang mulia telah siap sedia.

Segalanya disiapkan bersama oleh para staff yang dengan suka rela datang awal. Karena sedang term-break (liburan tiga bulanan), guru tak datang awal. Hanya saya yang tinggal dekat dengan LIA saja yang sok rajin he he he…

Keluarga LIA berdatangan dari segala penjuru, dari Kota Bumi, Rajeg, Modernland, Cipondoh, Pengayoman, Perum 2, Serpong, Kali Deres, Pasar Baru, Pasar Lama, bahkan dari Jakarta Barat, Jakarata Selatan. Muslim dan non-muslim hadir semua; gak ada tuh sungkan marsungkin (boso opo ikiii), semua guyub rukun. Salam-salaman menjadi sebuah acara yang sangat berharga karena tak setiap waktu kami bisa berkumpul (hampir) lengkap seperti ini. Mr. Bagja yang berdomisili di Depok tak kunjung tiba hingga akhir acara. Ms. Heryanti dari Teluk Naga juga gak nongol juga. Ria sudah mudik ke Palembang bersama suami dan bayi tercinta. Ibu Kantin juga tidak bisa hadir. Tak apa, mungkin mereka ada keperluan yang jauh lebih penting.

Menjelang berbuka, acara demi acara dirangkai sederhana. Pak Agus Em membuka acar dengan gaya nyantainya. Lalu Janitor Sahid dengan kefasihannya menyanyikan ayat-ayat Al Quran yang sangat menyentuh jiwa kami. Selanjutnya Mr. Nurzan, staff LIA yang memang jebolan Ilmu Hadits Al Azhar mesir didapuk memberi petuah penyejuk jiwa kami. Gaya Mr. Nurzan – nickname pemberian siswa untuk beliau adalah Mr. Bean – membuat kami tak bosan mendengarkannya walau kadang harus meringis tersindir khotbahnya. Apalagi tak sungkan Mr. Bean gadungan ini menyebut nama-nama kami untuk meminta respons. Dasar sudah kenal banget, ya kita malah balik ngeledekin Mr. Bean yang alim ini. Tak pelak suasana akrab menghangatkan suasana.

Tepat pukul 5:52 WIB, kami mendengar adzan Maghrib dari televisi dan berdoa bersama pun dimulai dipimpin oleh Mr. Nurzan.

Setelah minum seteguk dua teguk, kami melaksanakan sholat Magrib berjamaah di ruang 109.

Acara berbuka berat dilaksanakan setelah sholat.

Disinilah ajang kangen-kangenan itu berlangsung. Suara anak-anak kecil bercampur dengan tawa canda ABG dan sapa ramah orang dewasa.

Hidangan disiapkan sendiri oleh para staf. Sederhana tapi lezat dan nikmat karena semangat kebersamaan kami. Nasi dan makanan berat disiapkan oleh Mbak Nung dan Mbak Yanti. Ada capcay, daging masak paprika, sup ala Cimone, rujak Juhi, sate ayam dan kerupung udang tersaji di ruang 103. Snack berupa martabak dan bolu gulung bumbu spekuk disiapkan oleh Azizah, istri Janitor Lilik. Es podeng dibeli di Pasar lama Tangerang oleh Janitor Lilik. Rasanya semua spesial karena dimasak dengan keikhlasan dan cinta he he he… Oh ya ada jeruk medan dan Aqua juga.

Ah, kapan lagi bisa ya bisa berbuka bersama. semoga tahun depan masih ada kesempatan. Amin.

September 20, 2008