HORE… ASYIK…

HORE… ASYIK…

Kata hore dan asyik mungkin jadi favorit saya. Siapa sih yang asing dengan kata-kata tersebut? Dua kata yang sarat dengan kegembiraan. Saya memang lagi gembirasehingga apapun yang diberikan pada saya hanya akan menggali kegembiraan saya makin dalam dan ternyata pusat kegembiraan adalah penerimaan terhadap realitas hidup termasuk kemarahan.

Minggu lalu saya pulang kampung. Sekalipun hanya dua hari berjumpa ibu dan dua kakak perempuan saya, saya merasa sangat lega karena telah menunaikan kerinduan saya pada orang-orang yang hatinya tulus itu. Yang membuat saya benar-benar lega adalah bahwa kami berempat telah mampu berkomunikasi dengan baik tanpa salah paham atau menyimpan ketakutan.

Hati saya gembira karenanya. Kata hore dan asyik menjadi sangat berharga untuk mengungkapkan kesyukuran saya.

Itu tentunya berpengaruh pada kerjaan saya. Walau jadwal luar biasa mobilitasnya, saya tidak merasakan kegundahan yang membuat saya berkata “aduh”. Pendeknya sih ayo aja deh mau disuruh kemana juga oke…

Menerima kemarahan sebagai bagian dari hidup saya adalah salah satu kunci juga seperti saya sebutkan diatas. Ada suatu waktu dalam hidup saya ketika kemarahan hanya saya pendam atau redam dan akhirnya menjadi semacam borok dan kebencian dalam hati. Sekitar enam bulan terakhir ini saya jadikan kemarahan sebagai ungkapan baik di status Faceboook, Blackberry ataupun QN di Multiply. Rasanya lega deh… Tapi itu tak boleh lama-lama. Kemarahan harus saya lelehkan dan cetak menjadi sebuah karya seni yang indah.

Kemarahan adalah energei seperti juga kegembiraan adlah energi. Kalau dengan gembira saya bisa berkata hore atau asyik amka dengan rasa marah seharusnya bisa tercipta kata yang lebih membangun. Apa dong?

Belum ketemu kata yang tepat karena sementara ini saya hanya memakai asem, asyu dan bete sebagai ungkapan utama kemarahan saya.

Rasanya sih nggak ada kata yang tepat untuk mewakili kemarahan berenergi positif. Lebih baik saya ungkapkan dalam semangat hidup saja ah….

Ok, saya mau mandi dulu.

Ini tulisan ndhak penting jadi nggak usah diambil pusing…

Tulisan penting akan tiba setelah ini, setelah saya beli meja buat laptop saya…

Tangerang, 4 Maret 2012 – 10:35 pagi

Sindrom pagi menganggur

Gambar dipinjam dari http://greenenergyv.com/

KEMATIAN

KEMATIAN

(kewajaran yang perlu persiapan)

Anak teman kantor saya – berusia belum genap 2 bulan – meninggal karena sakit. Informasi akurat tentang sakit apa si kecil ini tidak kami ketahui; si ibu mengabarkan kepada saya awalnya dia sakit batuk pilek hingga dinebulasi lalu didiagnosis paru-paru tapi terakhir dia bilang kelainan jantung. Saya mendoakan si kecil melanjutkan perjalanan dalam cahaya dalam keadaan diikhlashkan.

Doa saya untuk yang meninggal tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang: semoga perjalanannya disertai kerlip cahaya. Indahnya… Silakan mengartikan sendiri. Toh saya juga hanya asal mengucap apa yang ingin terucap sebagai doa. Daripada kumengatakan “bersatu dengan Rabb-nya” padahal nggak mudeng apa artinya kata-kata itu. Menurut pemahaman saya kalau meninggal itu kan terbang bersama malaikat nah malaikat itu kan materinya cahaya. Udah titik.

Mati adalah kewajaran yang tak disukai. Siapapun akan menghindari mati kecuali orang-orang putus asa. Orang bunuh diri putus asaterhadap keadaan yang tidak kunjung membaik. Bahkan saya beranggapan para martyr (orang yang mati karena berkorban demi ideologi yang diyakini, Bahasa Inggris) adalah orang-orang yang telah tak punya harapan terhadap hidupnya di bumi ini.

Orang-orang yang mati karena usia uzur dianggap “ya, memang sudah sepantasnya yang tua meninggalkan kita”. Jadi orang tua yang emninggal – walau tetap diratapi – tidak terlalu menjadikan yang ditinggalkannya menjadi sangat berduka kecuali jika sepeninggal si mati masalah jadi bertambah banyak. Masalah warisan baik berupa harta yang banyak dijadikan rebutan atau tidak adanya harta yang bikin keluarganya sengsara sepeninggalnya.

Lain lagi kalau Anda mati muda. Kematian Anda akan dianggap sesuatu yang mengagetkan dan memilukan. Jika Anda mati dalam keadaan meninggalkan nama baik maka Anda akan disubyo-subyo (diangkat-angkat namanya, Bahasa Jawa) oleh sebagian orang yang menganggap amalan Anda adalah kebaikan dan bermanfaat. Kalau si mati meninggalkan anak istri yang masih butuh nafkahnya maka akan masih ada tangan-tangan beruluran membantu. Namun jangan tanya kalau Anda hanya sekedar pecundang dalam hidup Anda maka tak banyak yang mengenang Anda kecuali keluarga dan sebagian kecil teman yang pernah Anda bikin tertawa. Dan kalau si buruk mati meninggalkan seonggok tanggungan maka hanya orang-orang yang luar biasa saja yang punya kekuatan untuk sudi menolongnya.

Bagaimana kalau yang meninggal adalah seorang anak kecil atau katakanlah bayi seperti anak teman saya? Maka tak bisa dipungkiri duka-cita itu akan semakin dalam. Si bayi yang digadhang-gadhang (diharapkan, Bahasa Jawa) menjadi seorang mulia yang berguna bagi nusa dan bangsa dan membanggakan orang tua dan keluarga ternyata tak berusia panjang. Akan lebih banyak yang menyayangkan kematian itu; menyesali pendeknya umur dan mengasihani yang ditinggalkannya. Si anak itu seharunya punya kesempatan untuk dididik menjadi orang yang lebih baik daripada orang tuanya atau saudara-saudara atau teman-temannya. Andaikan hidup maka anak itu bisa saja menjadi anak yang mencerahkan dunia dengan kesegaran dan keceriaannya. Seandainya dia tak mati maka hati orangtuanya tak hancur karena waktu tunggu kehadiran anak itu juga telah cukup lama. Alangkah sedihnya…

Tapi kematian tak memilih selalu berdasarkan usia kita. Kematian bagai arisan yang kalau dikocok bisa saja mengalahkan kekuatan ilmu tak kasat mata sekalipun. Kematian adalah seperti ruangan gelap ditutup oleh berlapis tingkap (jendela) yang jika dibuka masih harus dibuka lagi pintu misteri. Kematian adalah ketidakpastian yang pasti datang yang oleh karenanya saya tak berani menyebutnya kepastian atau ketidakpastian. Kematian adalah enigma. Kematian adalah yang datang dan tak pernah pergi hingga membawaku bersamanya nanti.

Semoga kematian itu datang ketika aku telah jatuh cinta padanya walau aku tak mengenalnya…

Penang – 16 Maret 2012 – 7:08 waktu Malaysia

Gambar dipinjam dari http://serenadevi.wordpress.com/2012/01/21/dance-of-cherry-blossoms/

Dan http://www.eso.org/public/news/eso1049/

BERMALASAN DI RUMAH

BERMALASAN DI RUMAH

Sejak tinggal di rumah sendiri bersama kucingku tersayang aku merasakan kenapa banyak orang selalu ingin nginep di rumah saja daripada nginep di tempat orang atau di hotel walau kondisi rumahnya jauh kurang lengkap fasilitas kenyamanannya. Ada sentuhan hawa yang membuat orang merasa betah dan merasa terangkum jika pulang.

Hari ini saya belum keluar rumah sama sekali walaupun kulkas saya kosong hanya berisi bahan masakan plus sebungkus pasta. Tigak mangkuk kecil yoghurt sudah habis untuk sarapan. Rasa lapar menjadi rasa perih di lambung dan aku masih saja malas karena rasa kerasan di rumah ini memelukku. Kucingku pun akhirnya hanya bisa menikmati kepala lele goring sisa sarapannya. Tapi dia juga sekarang nggloso (telungkup antara duduk dan berbaring, Bahasa Jawa) di depan kulkas. Berarti dia kerasan di rumh.

“Bob, nanti malam makan lele lagi ya, ntar agak sorean Mbak Rike keluar beli makan ya…”

Meong….

Akhir pekan menjadi hari “stay home’ lantaran hari lain kaki ini tak pernah berhenti. Rasa nikmat tinggal di rumah mengalahkan rasa lapar sekalipun. Sesungguhnya nggak baik sih tapi mau gimana lagi kan aku mau menuruti kata hati.

Kalau dulu saya suka sekali memasak kok sekarang jadi berkurang kerajinan memasak itu ya? Sekarang sih enaknya jajan aja. Dan jajannya lagi dan lagi ya yang dekat-dekat aja. Lele goreng buat Bob dan buat saya apa aja yang penting enak di lidah dan di kantorng.

Eh, nanti malam makan apa ya enaknya? Masak nasi bebek lagi sih? Ntar kalau kolesterol gimana dong?

Ok deh, malam ini mau makan seafood aja… Aduh tapi tempatnya jauh, males jalannya… Ah, sudahlah yang penting belikan makanan dulu buat si Bob, aku urusan belakangan.

Tangerang – 10 Maret 2012 – 3:29 sore

Lagi mumet sirahe ning pengen nulis ya kaya ngene iki dadine…

Gambar dipinjam dari: http://coconutbou.deviantart.com/art/cat-and-dog-on-a-chair-105487540

MENUJU TIMUR

MENUJU TIMUR

Buku ini sudah saya tunggu terbitnya sejak lama. Bahkan saya bisa dibilang berjasa karena saya tidak bosan-bosan ngoprak-oprak (mengingatkan dengan semangat, Bahasa Jawa) si penulis untuk sesegera mungkin menelorkan karyanya. Ada saja alasannya: yang naskahnya kebakar bareng hard disk lah, yang sibuk lah, yang ini lah, yang itu lah…

Ok, buku ini jelas diluar dugaan saya. Saya berpikir akan menemukan cerita panjang berbentuk prosa. Ternyata buku ini berisi puisi-puisi dan nukilan-nukilan kata yang saya yakin pasti diharapkan penulisnya menjadikannya abadi.

Saya penyuka puisi walau tak pernah merasa akurat mengupas puisi. Puisi Aveline kadang bisa saya pahami kadang tidak. walau begitu puisi yang menurut saya dapat dipahami dengan mudah bukan jaminan kupahami secara tepat.

Dari sekian banyak ada satu yang sangat berkesan di hati yaitu sebuah kata bijak Aveline di halaman 45 yang bunyinya sebagai berikut:

Membaca adalah anugrah yang biasa.
Memahami bacaan adalah anugrah yang luar biasa.

Saya suka membaca tapi mungkin kemampuan saya hanya membaca dalam artian merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat yang bermakna, namun makna yang saya tangkap hanya sekedar permukaan luar saja. Anggapan saya jika membaca tak mendapatkan makna yang lebih dalam maka itu belum membaca dan itulah yang membuat saya MALAS menulis review buku. Keinginan saya tentunya bisa memahami bacaan dan dua larik kalimat tentang membaca di buku Ave sangat menohok batin saya.

Satu lagi yang menjadi perhatian saya adalah puisi berjulul Boarding. Saya ingat benar ini adalah judul novel Ave yang naskahnya terbakar di hard disk komputer dia dan batal terbit hingga sekarang.

Ada satu lagi puisi yang berjudul Pagi di Ciumbuleuit. Isinya membuatku bersemangat menjalani hari karena isinya menceritakan seseorang (saya rasa ini Ave karena dia mondok di daerah Ciumbuleuit) yang kesepian di pagi hari lalu menemukan makna hidup di siang dan sore hari karena memang hidup ini tak bisa berhenti baik sendiri maupun ramai-ramai. Tapi ada satu kalimat yang menurut saya agak aneh: keringat siap berpeluh. Apa maksudnya ini? Masa kan keringat berpeluh? Bukankah keringat adalah peluh itu sendiri?

Yah begitu saja review saya. Sederhana sesuai dengan pemahaman saya terhadap tulisan Ave yang dalam tapi tak menjemukan. Semoga bermanfaat sebagai semacam bocoran tentang buku ini.

seperti janjiku,
aku akan tetap belajar

Terima kasih Ave, telah mengingatkanku untuk tetap membaca, belajar dan bersemangat dalam hidup seberat apapun beban itu kurasa…

Tangerang – 5 Maret 2012 – 9:09 malam

KUCING YANG MALANG

KUCING YANG MALANG

Ini dia kucing yang saya jumpai di sebuah pabrik di Batu Pahat, Malaysia pada tanggal 2 Maret 2012. Dia dikurung di sebuah keranjang besi di bagian packing. Alasannya sih karena takut dia kemana-mana dan nanti istirahat makan siang dia akan diberi makan. Masa sih? Saya nggak tahu akrena kalau yang ngomong orang pabrik, apapun itu yang kesannya positif pasti saya nggak percaya.

Kucing ini manis sekali minta dielus saja. Ya wis tak gendong-gendong malahan walau baunya gak enak. Pas saya periksa ternyata kaki kiri belakangnya membusuk bernanah. Semoga segera sembuh ya, nak…

Rasa bersalah itu menjalari hati saya yang karena pekerjaan padet banget jadi nggak semapat ngasih makan dan ngasih obat. Saya udah pesan ke karyawan di bagian packing untuk ngobatin. Mereka sih iya-iya tapi ya namanya orang pabrik kan udah biasa bohong jadi kali aja bohong lagiiii….

Akhirnya saya pulang ke Indonesia tanpa sempat mengunjungi dia lagi untuk pamitan. Semoga suatu saat nanti saya ketemu dia dalam keadaan baik-baik saja baik saya maupun dianya. Amin…

Maafkan aku ya, kucing sayang…. You’re gonna be akay as I am….

Ayo Mbak Niez, Ulil, para pecinta kucing mari berdoa supaya dia segera sembuh ya…

Tangerang – 5 Maret 2012 – 11:07 pagi

UBAN

UBAN

Sejak umur belasan aku sudah punya uban. Dan ku tertawa-ketawa saja karena padaa saat umur sekian ku masih bangga punya sesuatu yang berbeda walau wujudnya hanya sembilan helai rambut dengan warna lebih muda. Sekarang uban ini tak bertambah jumlahnya tapi…

Duh Gusti, kok ubanku tak lagi berwarna abu-abu suram.

Ubanku berwarna putih cemerlang seperti guratan platina.

Pertanda usiaku telah makin dewasa, kata tua terlalu bersifat menghukum…

Tua adalah sebuah kosakata haram yang akan menurunkan semangat lagaku.

Benarkah?

Ya. Aku sudah tua dan diingatkan oleh kilauan rambut perak di kepala… Tua adalah pertanda aku harus mengurangi beban perjalananku dan harus menanting lawan lebih peka lagi. Apakah aku cukup kuat mempertahankan diri di hadapan seribu keinginanku?

Apakah aku sudah dekat dengan kematian? Harga kata mati jauh lebih haram bagiku. Kalau ku mati, kemana aku kan pergi? Apakah ubanku ini menyebabkan kematian?

Kuperhatikan lagi apa yang telah menandai akhir usiaku. Satu per satu… semua bagai ditanggalkan penuh kasih sayang. Bagaimana tidak? Pertanda itu datang perlahan dan bagai hadiah kejutan… Aku hanya berharap uban ini bukan pertanda terakhir…

Jika kematian itu kejutan, aku tak mau tertipu…

Sepang – sebelum sarapan – 7:40 pagi

Gambar dipinjam dari

http://lotr.wikia.com/wiki/Gandalf

http://scrapbook.theonering.net/scrapbook/movies/characters/gandalf/view/11933

SENTINELS

SENTINELS

Tonight

Piano is played by dancing fingers of a lady from above.

Should I sing?

Or should I fall asleep?

Music of footsteps

Are running through my silent heart—

Sentinels are ready to conquer.

Should I fight?

Or should I surrender?

Sentinels

Have come to me again and again

Asking for my permission to build a colony—

Agreement upon disagreement

And finally I stay sanely dumb;

None of choices is better.

Raindrops

Caressing my black hair in dark night tonight

Dictate symbols upon symbols through notes.

Do re mi fa so la ci do

8 and 9 along with the alphabets

I am deciphering my life.

And the sentinels are still waiting…

Solo – 21 February 2012 – 9:03pm

JANGAN DITIRU (Ceu Nana keparat!!!)

JANGAN DITIRU

(Ceu Nana keparat!!!)

Sudah sekitar tiga bulan terakhir ini saya menjadi orang yang emosian. Ngamuk-ngamuk saja kerjanya – mencari apa saja di luar diri dan kemampuan untuk dkambinghitamkan.

Idealnya seorang yang dewasa bisa mengendalikan emosi terutama yang berupa kemarahan. Jika belum mampu mengarahkan rasa marah menjadi energi yang lebih bermanfaat dan hanya sekedar bisa mencari kambing hitam maka yakin pasti si dewasa itu belum dewasa; mungkin hanya sekedar tua atau merasa dewasa.

Ada sebuah kisah.

Nasi uduk yang biasa terhidang di meja majikan setiap pagi tak muncul juga. Sang pembantu belum juga pulang membawa sebungkus nasi Betawi. Pesan majikan “jangan pulang kalau nggak bawa nasi uduk ya, Yem”.

Rupanya malang tak bisa ditolak sial tak bisa dihindari, nasi uduk Ceu Nana tak bisa dibawa pulang tepat waktu karena ternyata hari itu Ceu Nana tidak berjualan karena sakit mencret berat. Dan, sebungkus nasi uduk Ibu Kartini pun dibawa pulang oleh si Iyem, itu pun terlambat satu jam karena warung Ibu Kartini ada di kota Rembang he he he…

Walhasil, si majikan makan nasi uduk yang tidak sesuai order, terlambat berangkat kantor pula.

Pekerjaan yang menumpuk terlambat dikerjakan san puncaknyaadalah macet yang menyiksa membuat sang majikan terlambat sampai di rumah juga. Kesempatan bermain dengan sang anak hilang akhir pekan ini. Lalu sampai rumah apa yang dilakukan sang majikan?

“I hate Jakarta traffic! Ini semua gara-gara Ceu Nana yang sakit mencret! Ceu Nana keparat!!! Kamu juga gara-gara kamu nggak bisa nasi uduk jadinya kayak gini!!!”

Sang pembantu hanya melongo.

Lalu apa hubungannya dengan emosi saya? Yah, saya sempat menyaksikan seorang sahabat yang melampiaskan kemarahannya hari itu pada seseorang di posisi Ceu Nana dan si Iyem. Pada saat itu saya dengan goblognya bukannya berpikir jernih tapi malah mengamini dalam hati “Iya, kok Ceu Nana sama si Iyem bego bener. Mau-mau aja mencret pas harusnya jualan nasi uduk dan satunya lagi nggak bisa masak nasi uduk kesukaan majikan”. Padahal yang bego ya saya, ngapain ikutan orang emosi gak puguh gitu?

Makanya, Rike… Jangan mau jadi orang goblog!

Pulau Penang – 3 Februari 2012 – 11:22 WITA

Gambar dipinjam dari http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/05/03/lontong-nasi-uduk-makanan-wajib-pagi/

THE CHARACTERISTICS OF A GOOD LEADER

THE CHARACTERISTICS OF A GOOD LEADER!

  • Challenges me to do my best.
  • Sets a good example.
  • Explains the reasons for instructions & procedures.
  • Helps me polish my thoughts before I present them to others.
  • Is objective about things.
  • Lets me make my own decisions.
  • Cares about me & how I’m doing.
  • Does not seek the limelight.
  • Won’t let me give up.
  • Gives personal guidance & direction, especially when I’m learning something new.
  • Is empathetic & understanding.
  • Is firm but fair.
  • Keeps a results-orientation.
  • Makes me work out most of my own problems or tough situations, but supports me.
  • Lets me know where I stand.
  • Listens exceptionally well.
  • Doesn’t put words in my mouth.
  • Is easy to talk with.
  • Keeps the promises s/he makes.
  • Keeps me focused on the goals ahead.
  • Works as hard as or harder than anyone else.
  • Is humble.
  • Is proud of those managers s/he has developed.
  • Gives credit where credit is due.
  • Never says “I told you so.”
  • Corrects my performance in private.
  • Never flaunts authority.
  • Is always straight-forward.
  • Gives at least a second chance.
  • Maintains an open door policy.
  • Uses language that is easy to understand.
  • Lets bygones be bygones.
  • Inspires loyalty.
  • Really wants to hear my ideas & acts on them.
  • Lets me set my own deadlines.
  • Celebrates successes.
  • Is open & honest.
  • Doesn’t hide bad news.
  • Gives me enough time to prepare for discussion.
  • Is enthusiastic.
  • Follows through.
  • Is patient.
  • Wants me to “stretch” my skills.
  • Gives me his/her full attention during discussions, & won’t be distracted.
  • Has a sense of humor.
  • Handles disagreements privately.
  • Reassures me.
  • Makes me feel confident.
  • Tells me the “whole story.”
  • Says “we” instead of “I”.
  • Makes hard work worth it.
  • Can communicate annoyance without running wild.
  • Is courageous.
  • Insists on training.
  • Is a stabilizing influence in a crisis.
  • Gets everyone involved.
  • Wants me to be successful.
  • Is optimistic.
  • Operates well under pressure, or in a rapidly changing environment.
  • Has a reputation for competence with his/her own peers.
  • Has a good understanding of the job.
  • Is tough & tender.
  • Believes we can do it.
  • Sets attainable milestones.
  • Communicates philosophy & values.
  • Is perceptive; doesn’t believe that everything needs to be spelled out.
  • Has a strong sense of urgency.
  • Preserves the individuality of his/her team members.
  • Thinks & operates at a level above that expected.
  • Wants to make the organization the best in the industry.
  • Is willing to act on intuition; believes feelings are facts.
  • Empowers us.
  • Is there when we need her/him.
  • Enjoys his/her job.
  • Likes to spend time with us.

From “The One-Minute Manager”by Kenneth Blanchard

Dipinjam dari http://www.angelfire.com/il/adventureclub/leader.html

Gambar dipinjam dari http://blog.haqqi.net/2011/07/perbedaan-manager-dengan-leader/

iPad

IPAD

(mimpi yang sedang goyah)

Saya punya mimpi: beli iPad. Soalnya saya (merasa) perlu benda ini untuk wahana hiburan, kerja dan tentunya gaya. Rupanya sekarang saya mesti berpikir ulang apakah mimpi beli iPad ini perlu dipertahankan atau tidak.

Sejak tahun 2005 secara serius saya berhenti membeli barang-barang dengan merk tertentu yang saya tahu diproduksi di pabrik-pabrik yang tidak memperlakukan buruh dengan baik dan manusiawi. Ada beberapa produk garment yang tidak akan saya beli atau pakai kecuali jika kematian yang saya terima jika tidak membeli atau memakainya. Ada juga beberapa produk sepatu, makanan, dll.

Hari ini saya membaca link berikut di dinding Facebook teman saya yang disitu dia mengatakan “Biar pegimane Raik pasti masih ngimpiin iped”. Raik adalah nama panggilan di kantor dan mereka semua tahu bahwa saya menyesal telah membeli Blackberry lantaran sebenarnya sangat menginginkan iPhone; saya membeli Blackberry karena semua orang lapangan memakainya dan demi memperlancar komunikasi di lapangan saya mengikuti mereka. Namun ketika beberapa teman membeli Samsung Galaxy Tab, saya bergeming karena masih berencana membeli iPad. Kegiatan menabung jalan terus, kurang dikit lagi udah kebeli.

Kembali ke link teman Facebook: Sebagai orang yang (kadang merasa) peduli terhadap buruh pabrik, hari ini saya jadi bete membaca berita tersebut.

http://www.nytimes.com/2012/01/26/business/ieconomy-apples-ipad-and-the-human-costs-for-workers-in-china.html?pagewanted=1&_r=1

Steve Jobs seharusnya hidup kembali dan ikut secara langsung menyaksikan bagaimana kondisi sesungguhnya karyawan yang mengerjakan produk-produk Apple.

Ok, teman-teman. Ini hanya kegiatan berbagi; bukan kegiatan provokasi untuk memboikot produk tertentu jadi silakan dinikmati saja.

Tangerang – 28 Januari 2012 – 3:33 sore

Gambar dipinjam dari: http://thedailycap.com/steve-jobs-ipad-2-presentatio

CHRISTIAN BAUTISTA DIDEPORTASI

CHRISTIAN BAUTISTA DIDEPORTASI

(produk luar buang saja)

Ini cowok ganteng sial bener nasibnya ya? Dideportasi. Setahu saya dideporatsi itu berarti dikecek atau dikecrek (diborgol, Bahasa Jawa). Seseorang yang dideportasi maksudnya dipulangkan ke negeranya dengan sebab tertentu baik karena tindakan yang melanggar hukum negara yang sedang dikunjunginya. Nah si Christian Bautinja ini dideportasi karena dianggap menyalahgunakan ijin kunjungannya.

Menurut berita yang saya dengar si Christ – warga negara Filipina – ini masuk ke Indonesia sebagai turis tapi nyatanya dia melakukan tindakan yang tidak mencerminkan diri sebagai sekedar turis. Rupanya dia melakukan kegiatan yang dianggap illegal sebagai turis yaitu mencari nafkah, Sudara.

Si Christ ini jadi artis kan?

Ya itu memang gampang jadi artis. Asal agak klimis sedikit kalau Anda ini ada darah luar (bukan luar angkasa ya…) maka dengan lebih lancar Anda bisa menjadi selebriti dadakan dibanding kalau Anda hanya dialiri darah lokal.

Negeri ini memang mengherankan; orang-orangnya maniak banget sama yang namanya luar negeri. Punya produk luar negeri (padahal itu KW 3 bikinan China atau lokal) bangganya minta ampun; jalan-jalan ke luar negeri juga bangganya setengah mampus; pacaran sama orang luar negeri (walau luar negerinya Timor Leste) hebohnya naujubileeee; dll deh yang berlabel luar negeri pasti bikin sebagian orang di negeri ini menjadi merasa lebih dibanding teman-temannya yang nggak mambu (bau, bahasa Indonesia) luar ngeri.

Saya sih ya bukannya enggak tapi ya nggak usah deh banget-banget gitu.

Saya juga suka banget lihat bule yang cakep. Saya juga seneng kalau ditugaskan ke luar negeri soalnya bisa jalan-jalan gratis. Namun, jujur saja saya nggak punya rasa bangga memakai produk luar negeri.

Saya membeli barang-barang yang dibuat di Indonesia dan sedapat mungkin bermerk lokal. Contohnya apa? Saya adalah pemakai jins merk Wrangler yang dibikin di sebuah pabrik di bandung. Tas saya? Produk dalam negeri bow… Sepatu saya? Eagle… Dalam negeri to, bow… Baju saya? Batik dong, bow… Bedak saya? Marcks, lokal punya bow…

Jadi ceritanya nih, kalau ada turis yang sok-sokan jadi artis karena maruk duit lantaran di negerinya orang itu nggak laku, saya girang bener deh… Deportasi itu semua turis-turis dan pegawai-pegawai asing illegal yang setiap berapa bulan sekali mesti keluar negeri supaya nanti bisa dapat visa kunjungan lagi demi melanjutkan pekerjaannya secara illegal di negeri tercinta ini.

So, teman-teman… mari kita usahakan supaya kita ini menjadi tuan dan nyonya rumah di rumah sendiri. Masak sih kalian nggak tahu kalau produk Indonesia nggak kalah bagusnya dengan produk luar negeri.

Eh tapi tapi, kalau masalah jodoh bule sih ya sumonggo soalnya cinta tak mengenal rasa dan bangsa dan syarat logis lainnya…

Tangerang – 27 januari 2012 – 9:12 malam

Gambar dipinjam dari http://www.christianbautista.org/wallpapers.html

TOLONG SHARE: (dari Liana) kisah horor dari tweet-nya @Rahma Yulianti: #sharing Temennya adek gw smlm hampir aja jd korban penculikan di angkot M16 (kp melayu-ps.minggu). Dia (cewe) naik dr ps.minggu. Di dlm angkot ada 1 org bpk2 dan 3 org ibu2. Sblm lampu merah kalibata, ibu2 itu turun semua. Tiba2 angkotnya ubah rute. Pas ditanya, supirnya blg mau beli bensin dulu. Pintunya ditutup dgn alasan takut ditangkap polisi krn kluar rute. Adik temen gw itu teriak minta turun, tp lgsg dipegang ama bapak2 yg ada d blkg. Tapi dia terus2 teriak n meronta2..Untung ada pngendara motor yg liat. Angkot kejar2an sama motor tsb sampe matraman. Akhirnya di matraman, si motor bisa nyalip angkot.Pengendara motor nyegat n kaca depan angkot dilemparin helm. Alhamdulillah angkotnya berenti n adik temen gw selamat..Be careful ya girls. Banyak yg nanya, gmn nasib sopir n angkotnya. Mereka kabur, tapi sempet kecatet nomer pelatnya: B 1687 VT