KUCING MELAHIRKAN

??????????

Hari ini aku makan di Sate Wahab yang berlokasi di sebelah prapatan Sinta, Tangerang. Rasanya lumayan enak walau tak seenak beberapa tahun lalu ketika aku makan di sana bersama Eka. Bukan karena dengan siapa tapi lebih karena kondisi badanku sedang drop karena flu sehingga lidah tak mampu bekerja optimal merasai sate yang terkenal enaknya itu.

Setelah makan motor mengarah ke utara mau muter lagi ke kantor temanku. Belum mencapai 5 meter eh kulihat kucing warna hitam yang menurutku posisinya aneh. Tak mungkin seekor kucing membersihkan badan di badan jalan yang sangat ramai. Maka aku minta Lela untuk memberhentikan motor lalu aku turun.

Kucing melahirkan!!!

Duh Gusti, hatiku trenyuh tapi aku – jujur – agak jijik karena kucingnya kurap dan yang lebih bikin aku nggak tega adalah anak kucing sudah keluar satu dan emak kucing sedang membersihkan badannya, lalu keluar ari-arinya.

Lela meneriakkan saran “Miss, minta tolong bapak itu aja…!”

Aku segera memanggil tukang parkir Sate Wahab yang dengan segera mendekat. Seorang bapak-bapak menjewer kuping emak kucing untuk naik ke trotoar. Anaknya terseret… Maafkan aku, kucing-kucing…

Lalu aku minta mereka membawa kardus bekaas jika ada.

Seorang bapak membawa kardus bekas kemasan minuman Aqua. Lalu seorang lagi membawa selembar kertas koran dan memintaku menyorongkan bayi kucing dan ari-ari ke dalam kardus yang sudah ditempati oleh emak kucing.

Setelah keduanya masuk kardus, aku minta bapak-bapak itu menaikkan kardus berisi kucing-kucing itu ke bawah arcade sebelah kanan Sate Wahab karena hujan mulai menderas.

“Sehat ya, Mak, Nak…” kataku pada kucing-kucing itu.

“Makasih ya, Pak…” kataku pada bapak-bapak yang masih ada di situ.

Lalu aku dan Lela melanjutkan perjalanan.

Hatiku masih ternyuh. Masih kuingat sebuah mobil yang dengan sengaja mau menabrak kami (aku dan kucing), si pengemudi sambil melotot-lototkan matanya. Mungkin dia memberikan kode padaku untuk segera minggir. Aku tak tahu, jika aku tak di situ menjaga kucing-kucing itu, pengemudi itu pasti sudah melindasnya karena memang si kucing berbaring lemah tak berdaya di bekas cerukan jalan yang seperti bekas lindasan ban besar.

Aku berharap makin banyak orang yang peduli pada hewan yang ada di sekitarnya entah itu kucing, anjing, kelinci, dll….

Untuk kucing-kucing yang tadi kutemui dan kucing-kucing lain: semoga kalian bahagia dan sejahtera, sayang…

Ruko Liga Mas (kantor Lela); 4:55 sore

Foto adalah Sicily alias Ucil yang sudah tak terlihat lama dari rumahku karena (mungkin) sedang melahirkan

HAKIM DAN PERKOSAAN

Muhammad Daming Sunusi, calon Hakim Agung yang konon dicalonkan oleh PKS (allahua’alam) terperosok dalam kekalutan batal menjadi Hakim Agung. karena tidak mampu membedakan mana yang disebut candaan dengan pelecehan.

Dia mengatakan bahwa pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati perkosaan tersebut.

TERLALU!!!

Manusia macam apa kau, Daming?
Istrimu perempuan bukan? Ibumu perempuan bukan? Nenekmu perempuan bukan? Atau kau punya anak perempuan? Saudara perempuan? Bagaimana kalau mereka diperkosa? Apakah kau akan mengatakan pada mereka “Udah, nikmati aja…” sambil tertawa-tawa menikmati canda.

Hanya satu pintaku pada Semesta: supaya lelaki ini benar-benar menyesali perbuatannya bukan karena dia batal jadi Hakim Agung; lebih dari itu dia harus merasakan Tuhan Mahaadil jauh di atas keadilan calon Hakim Agung yang cuma asal njeplak mulut dan otaknya sama-sama kehilangan kendalinya.

15 Januari 2013 – 22:24
Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadane

Bacaan referensi:
http://m.tempo.co/read/news/2013/01/15/063454490/Profil-Hakim-Daming-Sunusi

LELAKI, MENGAPA KAU LECEHKAN WANITA?

CRYING

Pelecehan seksual terjadi seperti orang meludah di negeriku

Baru-baru ini bocah RI dari Jakarta Timur meninggal karena demam tinggi setelah kemudian ditemukan infeksi karena luka dalam vagina hingga bagian dalam kewanitaannya. Kemudian baru sore ini kudengar seorang anak perempuan usia 4 tahun dilecehkan sejak lama oleh tetangga dan baru mengaku. Dan belum lama ini juga seorang wanita usi 23 tahun diperkosa secara brutal beramai-ramai di sebuah bis di India.

Lelaki…

Wahai, kaum lelaki

Di mana tanggung-jawabmu sebagai pelindung wanita dan anak-anak?

Sungguh sakit hati dan jiwaku

Menemukan tidak sedikit penyakit yang dialami oleh masyarakat

Apa gerangan yang membuat mereka begitu brutal menyalurkan nafsu amarah mereka?

Karena sang wanita melawan ketika akn diperkosa maka mereka makin beringas?

Bagaimana jika menurut? Apakah mereka tidak beringas?

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali menyeru pada wanita.

Lindungi dirimu

Lindungi anak-anak perempuanmu

Karena banyak lelaki tak bisa lagi melindungi kita.

9 Januari 2013 – 5:32 sore

Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadane

BUNDA JULIE

bunda julie

BUNDA JULIE

Aku mengenalnya di rumah lama

Multiply

Sekarang kami tetangga desa

Beliau di Blogspot

Saya di WordPress

Tak mengapa

Kami masih bisa saling menyapa

Walau tak bisa senyaman dulu kala…

Bunda Julie

Atau Tante Julie

Seorang ibu yang bersahaja

Dengan pengalaman hidup luar biasa

Menceritakan kepahitan dan manisnya

Bagai lairan sungai menuju segara

Terima kasih atas indahnya berbagi, Bunda…

Kukirim surel menyapanya

Menanyakan informasi yang kubutuhkan saat ini

Dan dia menyepaku dengan kehangatan seorang ibu

Belaiu sedang sakit

Parah

Dan dirawat

Dengan bantuan kawan-kawannya yang setia…

Sungguh

Kau seorang ibu yang baik hati

Masih tak kumengerti bagaimana lelaki itu meninggalkanmu

Justru di hari tua

Oh, mungkin dia mendapatkan yang muda dan masih bersinar

Tapi tahukah dia?

Nyala api abadi Bunda Julie tak pernah padam.

Selalu menyinari sekitar

Dua anak lelakinya yang selalu siap melindunginya

Keluarga besarnya yang selalu menemaninya

Sahabat di dunia nyata dan maya yang selalu menyayanginya…

Semangat ya, Bunda…

Tuhan menyayangimu

Memberikanmu kehidupan yang tak terbayangkan beratnya di kepalaku

Tapi sungguh membuatku terpesona dengan kekuatanmu.

Salamku, Bunda Julie…

Selalu sayangku padamu…

29 Desember 2012 – 2:38 siang

Rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane

RESOLUSI 2013

WP_000054

Kiamat yang seperti dipikirkan berupa huru-hara tak berjalan sesuai ramalan maka resolusi menjadi hal yang cukup menarik untuk menyemai harapan.

Tahun 2013 adalah tahun yang penuh energi positif dimanapun aku berada. Cinta akan tiba dalam bentuk yang paling sesuai dengan kehidupanku saat ini. Keluarga dan sabahat makin memancarkan sinar kasihnya ke penjuru arah tujuanku. Kehidupan cita-citaku juga menjadi lentera bagiku dan orang-orang di sekitarku.

Tak ada yang tak mungkin dengan kekuatan positif yang selalu dipancarkan oleh jiwa. Kulakukan yang terbaik; jika bermanfaat bagi banyak manusia, kurela.

Oh Hidupku, ijabahlah doaku…

28 Desember 2012 – 9:09

Once Upon A Time When I Broke His Heart

WP_000016

24 hours
And he didn’t come home
Calls were shouted
“Man, please come to me. I miss you a lot.”
But no sign…
He didn’t think I was important.
He broke my heart.
Really.

36 hours
He gave me a ring.
“I’m coming. Do prepare, I miss home already. Don’t let me down.”
He knocked on the door.
I went out.
But three musketeers were before him.
They blocked his way home.
Those three delicate creatures were kinda telling me and him that we could not be together that day.

The light in his eyes faded
Like an electricity black out.
He scolded at me in his silence…
Then walked away.
Again he looked back staring at me full of hatred…
Then walked away.

That was just yesterday when I broke his heart.

This poem is for Bob Kucing that could not enter my house because of three cats sitting at the terrace, wanting to be fed by me. Oh, Bob please hold your jealousy. You are always my number one cat. The rest are just orphans needing our help. I love you, Bob Kucing… 🙂

December 25, 2012 – 11:18pm
My small hut at Cisadane river bank

Fyi, Bob went home then and ate with mounting jealousy though he he he…

SELAMAT HARI IBU

SELAMAT HARI IBU

IBUKU, IBUMU DAN IBU BUMI

 

 

22 Desember adalah Hari Ibu bagi Indonesia. Bagi yang mengingat dan terbawa oleh syahdunya tema hari ibu, mereka mengucapkan “Selamat Hari Ibu” kepada ibu baik langsung, melalui percakapan telepon, sms, BBM, status BB, status FB dan melalui tulisan baik di media massa maupun di blog pribadi semacam ini.

Ibu adalah manusia istimewa. Apakah karena melahirkan anak? Itu hanya salah satu alasan karena alasan melahirkan tidak otomatis menjadikan seorang wanita punya kualitas ibu. Ibu adalah seorang  perempuan yang memiliki sifat mengayomi, menyayangi dan yang lebih dahsyat lagi kualitas ibu adalah menerima dengan penuh keikhlashan atas apa yang dialami dalam hidup ini. Jadi bagi saya kata kunci ibu adalah menerima. Karenanya saya juga mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada Ibu Bumi.

Ibu Bumi adalah simbol terbesar yang pernah kutemukan dalam hidupku. Di dalam frasa Ibu Bumi aku menemukan keikhlashan luar biasa. Ibu Bumi adalah wadah berukuran tak hingga dalam menampung keluh-kesah anak-anaknya yang tak pelak terdiri dari segala macam manusia yang renta dengan perjanjian jiwa yang tak kunjung habis kontraknya. Ibu Bumi senantiasa bersabar, menyuburkan cinta mengikuti kenakalan kanak-kanak dengan pandangan sayu penuh iba dan senyum tulus bersemburat pilu tapi tiada kejam.

Jika Ibu Bumi tak miliki wlas asih, anak-anak manusia ini akan berhamburan terbuang entah kemana. Tak ada tempat kembali, hanya bisa menari-nari mengambang di alam yang tak berdefinisi. Tanpa Ibu Bumi, akankah kita terlahir dalam keindahan tak bertepi? Tanpa Ibu Bumi, akankah kutemukan jati diri?

Selamat Hari Ibu, ibuku yang melahirkanku dan menjadi kawan dalam suka dan masalahku… Selamat Hari Ibu bagi ibumu yang kau puja sebagai dewi kehidupan dan kepada Ibu Bumi yang telah menjadi ibu dari segala ibu…

 

 

22 Desember 2012– 12:50 siang

Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadaneibu bumi

KUPINTA DOAMU

 

DOA

 

Sahabat-sahabatku,

Saya minta doanya ya

Senin tanggal 19 November ini saya akan menghadiri wawancara masuk kerja.

Kerja di sebuah perusahaan yang pernah saya mimpikan dengan malu-malu.

Saya akan melakukan yang terbaik karena tak ada alasan untuk tidak melakukan yang terbaik

Dalam segala hal.

 

Sahabat-sahabatku,

Saya minta doanya ya

Dengan doamu yang tulus akan makin besar energy-ku untuk berbuat yang terbaik

Semoga yang kulakukan memberikan manfaat untuk banyak orang.

Amin…

 

Pintaku ini adalah ketulusanku

Sebagai bagian dari apa yang bisa kusampaikan,

Boleh kuungkapkan,

Berani kuteriakkan,

Itulah yang pantas kuaungkapkan…

 

Bagai buah apel

Yang digigit untuk sekedar membedakannya dari buah cherry.

Maka kali ini aku menjadi apel yang tergigit tapi demi membuktikan bahwa aku tak beracun.

 

Maka dengan ketulusanku, akan kulakukan yang terbaik…

Doamu…

Menjadi pendampingku…

 

Tulus sayangku padamu semua… Sahabatku.

 

 

Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadane – 16 November 16, 2012 – 11:16 malam

LUPUS LUPIS LEPAS

LUPUS LUPIS LEPAS

Bertahun lalu saya membaca cerita seri Lupus karya Hilman Hariwijaya. Ceritanya lucu bener dan sangat menarik untuk orang “daerah” seperti saya yang hanya bisa membayangkan kehidupan para remaja Jakarta. Saya masih ingat saya bertanya-tanya pada diri sendiri apa arti lupus. Saya sempat berpikir apakah lupus artinya permen karet ya? Ya maklum lah waktu itu saya masih SMP, akses pada informasi sangat terbatas – ndeso, bow – dan terutama internet belum terjangkau.

Sampai akhirnya saya menginjak usia SMA. Saya mulai berkenalan dengan ensiklopedia milik sekolah saya yang saya buka kapanpun ada kesempatan ke perpustakaan. Ternyata lupus itu artinya srigala. Ada juga sih arti lain tapi yang paling pas dengan yang saya harapkan adalah srigala itu.

HOMO HOMINI LUPUS

Istilah ini saya kenal ketika saya kuliah. Artinya sih katanya “manusia adalah srigala bagi manusia lain” atau “manusia memangsa manusia lain”. Sangat mengenaskan kalau memang istilah ini sudah ada sejak jaman dahulu kala; indikasi “istilah lama” ini karena pertama kali diucapkan oleh Plautus dalam karyanya Asinaria pada tahun 195 SM yang tepatnya berbunyi “lupus est homo homini”.

Yang dialami teman saya ini mungkin semacam “homo homini lupus”, dia dimangsa oleh teman yang lainnya.

Seorang karyawan kontrak di sebuah pabrik – sebut saja namanya si Gopel – menjalani kerja sampingan sebagai tenaga harian lepas di pabrik lain. Di pabrik siang dia bekerja sebagai tenaga di bagian pengemasan (packing) dan di pabrik dengan shift malam dia bekerja sebagai tenaga kuli angkut di bagian gudang bahan dan kadang diperbantukan di bagian pengemasan (packing).

Suatu hari, teman-temannya merasa bahwa si Gopel ini hidup lebih makmur daripada dia. Gopel bisa tetap bertahan hidup: membayar kontrakan dan ada indikasi akan mencicil rumah di pinggiran kota tangerang, mencicil motor lewat koperasi perusahaan, membeli sembako di koperasi dan juga menyekolahkan dua anaknya di sekolah negeri yang berlokasi di dekat alun-alun Kota Tangerang. Gopel tidak pernah menyadari bahwa ada sekelompok orang yang menginginkan kemakmurannya. Gopel hanya menjalani hidupnya secara polos tanpa aturan main kecuali norma kesetiaan kepada keluarga dan kesholehan sosial dalam pergaulan.

Tanpa piker panjang, teman-teman itu melaporkan pada pabrik siang dan pabrik malam tentang apa yang dilakukan oleh Gopel. Mereka memprotes apa yang dilakukan Gopel berdasarkan peraturan ini dan itu yang intinya adalah Gopel telah menyalahi hokum karena memiliki 2 pekerjaan yang sama di 2 tempat yang berbeda.

Gopel hanya bisa menarik napas panjang, sepanjang usus dan seluruh otot di tubuhnya jika disambungkan menjadi satu. Gopel kemudian teringat pada gajinya yang selalu hanya bersisa Rp.100.000 karena sisanya telah dipotong hutang koperasi. Dengan bekerja di malam hari sebagai harian lepas maka dia akan mendapatkan tambahan Rp.700.000 per bulan, jumlah yang cukup untuk membayar uang sekolah dua anaknya dan biaya hidup sehari-hari. Seringkali istrinya dan dia harus berpuasa; dia berucap syukur karena anak-anaknya juga ikut berpuasa jika orangtuanya berpuasa.

LUPIS

Istri Gopel bermaksud menjual lupis, makanan yang menjadi kesukaan keluarga. Maka dengan modal kecil dia membeli beras ketan, kelapa, daun pandan dan keperluan lain. Maka di hari itu, di hari Gopel kehilangan pekerjaan sebagai tenaga packing di pabrik tempat dia bekerja sebagai karyawan kontrak karena HRD di pabrik itu mengatakan bahwa itu tidak etis. Gopel hanya pasrah maka dia hanya bisa menjadi karyawan harian lepas di shift malam. Dia memutuskan untuk membantu sang istri di pagi dan siang hari termasuk membuat kue lupis dan menjualnya. Laris juga tapi tetap saja belum cukup untuk menutup kebutuhan keluarga.

LEPAS

Tiba saatnya Gopel mendapat panggilan untuk menerima gaji di pabrik tempat dia bekerja di shift malam. Hati tenangnya mengatakan bahwa Rp.700.000 akan masuk ke kantongnya. Hati galaunya mengusiknya bahwa bulan depan dia akan mengalami krisis keuangan karena tabungan mereka hanya cukup untuk satu bulan ke depan. Dua bulan yang akan datang dia terancam tak bisa membayar kontrakan, cicilan motor dan kehilangan hak mengutang pada koperasi untuk kebutuhan sembako.

Setelah memarir motor, Gopel langsung menuju ADM (petugas administrasi) di bagian packing yang biasanya bertugas membagikan gaji pada karyawan harian lepas.

“Gopel.” Gopel mendengar namanya dipanggil. Dengan langkah tegap dia menghampiri petugas ADM.

“Dipanggil HRD sekarang.”

Gopel merasa tulangnya dilucuti dari tubuhnya; lemas. Dia tahu apa yang akan terjadi padanya. Dia akan kehilangan pekerjaan sampingan yang sekarang telah menjadi pekerjaan utamanya. Kepasrahan memenuhi relung hatinya. Wolo-wolo kuwato, kata orang Jawa.

“Gopel ya?”

“Iya, Pak. Saya mau ngambil gaji tadi trus disuruh ke sini.”

“Iya. Kamu tahu nggak kenapa dipanggil?”

“Mau dipecat ya, Pak?”

“Enggak, siapa yang bilang kamu dipecat.”

“Saya sudah dipecat dari pabrik siang, Pak.”

“Iya, saya tahu kok.”

Gopel diam seribu bahasa.

“Gini Gopel, kamu pernah jadi operator genset ya?”

“Pernah, Pak tapi sudah lama. Sebelum saya pindah ke packing di pabrik siang.”

“Operator genset kita pindah ke Sukabumi, nggak ada lagi yang bisa ngoperasiin genset. Kamu mau nggak jadi operator genset?”

Gopel bengong.

“Beneran ini, Pak?”

“Bener lah masak saya main-main. Tuh orangnya tanyain aja, mulai minggu depan udah keluar. Mau nggak?”

“Mau, mau, Pak. Saya mau banget.”

Manager HRD tersenyum-senyum lega, pekerjaannya tuntas sudah.

“Gini, Gopel. Kamu nanti probation dulu 3 bulan trus habis itu langsung diangkat jadi karyawan tetap ya. Nanti ada training dulu ya.”

Gopel makin bengong karena dia tidak paham arti probation. Tapi kata-kata karyawan tetap membuatnya tersenyum bahagia.

Gopel menyambut tangan Manager HRD yang memberikannya selamat.

Hari itu juga Gopel dan keluarga lepas dari himpitan mangsaan srigala yang bernama manusia.

Jatiuwung, 14 November 2012 – 1:34 siang

Gambar dipinjam dari http://mikebrandlyauctioneer.wordpress.com/2012/02/02/how-ethical-are-auctioneers/

SUMPAH PEMUDA ???

Aku tak merasakan semangat Sumpah Pemuda tahun ini.

Seperti kehilangan api yang seharusnya meretih abadi. Bahkan bunyinya pun seperti tinggal tulisan kabur di tembok penuh coretan graffiti.

Kutilik lagi hatiku. Layu. Tak ada warna merah di sana. Putih pun tak kutemukan. Yang ada kelabu, pembusukan sistematis. aku tak sudi begini. Harus kuperangi kelabu hatiku. Harus kugubah lagu menjadikannya tumbuh kembali: merah, putih dan segala warna yang hidup.

Harus kuraih lagi
Harus kucipta jalan perjalananku
Bukan kau atau kau
Akulah pencipta hidupku!

Teks berikut diunduh dari wikipedia
Sumpah Pemuda versi orisinal

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda di rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane

28 Oktober 2012 – 4:03 sore

RUMAH BARU, RUMAH LAMA

RUMAH BARU, RUMAH LAMA

akhirnya hari ini http://rikejokanan.multiply.com berhasil saya tarik ke https://rikejokanan.wordpress.com dengan bantuan Mas Febriansyah Hidayat yang telah share metodanya di http://hidayat.febiansyah.name/2012/08/07/import-wordpress-rss-backup/ dan dengan sangat baik hati membantu saya mengunduh “perabot-perabot” di rumah lama saya ke mari. matur nuwun nggih, Mas…

saya belum begitu merasa homey di WP tapi setidaknya saya sudah punya rumah baru dengan berhasil membawa kenangan dari rumah lama saya yang sangat hangat dan lapang.

duh gusti, dalem nyuwun pangapunten menawi dalem ngremuki manah kawula piyambak… rasanya kok hati saya ini semacam mengalami patah hati skala sedang ketika menyadari benar-benar bahwa Multiply telah mendepak saya dari hangatnya pelukannya.

sungguh semoga rumah keduaku ini bertahan lama dengan bangunan yang lebih kokoh demi keamanan dan lebih hangat demi kenyamanan. dan, kupinta tetangga-tetangga yang ramah dan tulus… amin…

WP, please welcome me… MP, good bye…

ditulis di rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane
Idul Adha, 26 Oktober 2012 – 11:22 pagi

PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Sebentar lagi Ramadhan tiba disusul oleh Idul Fitri tentunya dan saat pulang kampung pun datang. Saya harus siap sowan kepada orang tua saya di kampung, namanya juga pulang kampung ya harus disebut kampung walaupun kenyataannya daerah asal kita sudah sangat layak disebut kota.

Nah, saya ada sebuah kebiasaan “tidak membawa oleh-oleh banyak’ saat pulang kampung. Alasan utamanya adalah malas jinjing-jinjing dan junjung-junjung. Tapi syukurlah orang tua dan saudara-saudara saya tidak punya kelangenan yang susah dipenuhi sehingga saya tidak harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkannya.

Oleh-oleh favorit mereka adalah buah-buahan segar. Selain itu terserah saya. Bisa Anda bayangkan alangkah tenangnya saya menjelang pulang kampung. Disaat rekan-rekan saya kebingungan belanja ini-itu dan sibuk mengepak, saya hanya harus memikirkan bagaimana mendapatkan tiket tanpa harus mengantre di stasiun Juanda atau mikir naik bus apa yang tidak macet di jalan atau sibuk menghubungi rekan-rekan saya yang bekerja di maskapai-maskapai penerbangan publik supaya mendapatkan tiket pesawat dengan cepat, mudah dan murah. Orang-orang model saya sih akhirnya mendapat tiket dengan sangat terlambat karena tidak mau mengantri, tidak bisa pulang jauh hari sebelum lebaran sehingga bisa naik bus atau travel, dan teman-teman saya hanya bisa menyediakan tiket yang mepet dengan hari H sehingga harganya tinggi dan mau tidak mau saya harus berpikir ulang untuk pulang kampung naik pesawat pada (H-). Biasanya saya akan pulang hari (H) setelah usai sholat Idul Fitri. Untung jarak bandara dengan perumahan tempat saya tinggal tidak jauh sehingga saya bisa bersilaturahmi ke para tetangga sebelum pulang kampung. Teman-teman lokal saya dengan senang hati mengantar saya ke bandara dan jika pesawat delayed, teman saya yang sedang bertugas di bandara akan dengan senang hati ngerumpi sampai saya ready for boarding. Surga dunia.

2500-Abang-Becak-Dapat-Sembako-1

Gambar dipinjam dari http://www.tulungagung.go.id/index.php/component/content/article?id=1003:2500-abang-becak-dapat-sembako

Sesampai di kota saya, saya akan segera meluncur naik becak ke arah rumah ibu saya. Disinilah saya baru berpikir buah apa yang akan saya bawa. Ada sebuah kios buah langganan ibu saya yang selalu saya kunjungi setiap pulang kampung. Beliau sudah menjadi langganan ibu saya sejak saya es em a jadi ya sudah hapal betul dengan saya dan keluarga. Berikut ini percakapana standar yang telah saya hapal urutannya:

Ibu buah

:

Pulang kampung!!! (sapaan standar)

Saya

:

Inggih, Bu.

Ibu buah

:

Mau yang mana? Kemarin ibu kesini juga lho, Mbak. Nyari jambu bol habis. Ini ada nih, beli aja biar ibu seneng. (padahal ibu belum tentu datang kemarin, bisa saja seminggu yang lalu)

Saya

:

Iya deh Bu. Dua kilo ya Bu.

Ibu buah

:

Ok. Apa lagi?

Saya

:

Salak pondoh lima kilo. Besok pasti banyak sodara datang. Duku. Klengkeng. Semua lima kilo.

Ibu buah

:

Bapak nggak dibelikan jeruk to, Mbak. (dia hapal buah favorit anggota keluarga saya)

Saya

:

Pasti, jeruk favorit bapak dua kilo. Kapan-kapan bisa beli lagi.

Ibu buah

:

Apel?

Saya

:

Iya. Buah kesukaan saya lagi nggak ada nih, Bu?

Ibu buah

:

Duren petruk? Lagi kosong. Udah ganti anggur aja.

Saya

:

Iya deh, itu yang di plastik semua aja ya Bu. Semangka kuningnya satu, melonnya dua. Besok jualan nggak Bu?

Ibu buah

:

Besok yang jualan bapake anak-anak. Bukanya agak siang mau sujarah ke rumah embah di Blitar dulu.

Saya

:

Bu, tambah duku satu setengah kilo dipisah ya. Bapak tua yang jualan kelapa ijo mana, Bu?

Ibu buah

:

Ok. Pak, Pak! Klapa ijo lima. Taleni. (Pak, Pak! Kelapa hijau lima. Diikat.)

Saya

:

Wis. Ditimbang terus diitung. Harganya jangan naik tinggi-tinggi ya. Sekalian harga kelapanya buat Bapak itu, Bu.

Ibu buah

:

Langganan lama tak murahi. Pak, duite ki. (Pak, ini uangnya.)

Walhasil saya membawa banyak sekali kantong plastik yang memenuhi becak saya. Sesampai rumah biasanya ibu saya yang menyambut saya dan meminta abang becak untuk menurunkan semua bawaan. Kantong duku saya berikan kepada abang becak untuk kudapan segar sambil menunggu penumpang.

langsat2

Gambar dipinjam dari http://sebuahkabar.blogspot.com/2010/04/saya-yakin-anda-sudah-sering-mendengar.html

Itulah kebiasaan saya pulang kampung baik saat lebaran maupun bukan lebaran. Biasanya ada satu lagi percakapan standar yang akan saya lakukan dengan seppu-sepupu saya.

Sepupu 1

:

Mana oleh-oleh dari Jakarta (kebanyakanmereka menyebut Jabodetabek sebagai Jakarta)

Saya

:

Tuh…

Sepupu 1

:

Buah pasti ya. Aku sih tahu itu kan dagangannya Ibu buah Karangrejo.

Saya

:

Ha ha ha…

Sepupu 1

:

Mbok sekali-kali bawa oleh-oleh yang orisinil dari sana to Rik, Rik…

Saya

:

Apa Mas?

Sepupu 1

:

Apa ya?

Sepupu 2

:

Empek-empek.

Saya

:

Palembang kaleee…

Sepupu 3

:

Baso.

Saya

:

Malang, Solo, Pak Min…

(Mereka pun sibuk mengabsen barang-barang yang pada akhirnya semua bisa mereka dapatkan di kota saya atau paling tidak di Surabaya yang bisa ditempuh sehari pulang pergi sambil berekreasi. Beberapa dari mereka bahkan pulang kampung dari Bali, Kalimantan, Sumatera, Irian, Singapura, Malaysia dan Inggris. Mungkin oleh-oleh mereka lebih spesial sesuai khasanah budaya dan alma daerahnya.)

Sepupu 1

:

Iya, ya. Kenapa di tivi aku lihat orang-orang pulang kampung pada gendheyotan bawa bawaan yang nau’dzubillah gitu? Padahal di tempat kita ada semua.

Sepupu 4

:

Ya biar kelihatan berhasilnya mereka. Tanda-tanda orang sukses kan membawa hasil. Memangnya Mbak Rike, tiap pulang bawaannya buah Ibu buah Karangrejo. Udah gitu nyari tiketnya yang murah, kapan bawa kendaraan sendiri? Berarti kamu belum berhasil, Nduk.

images

Gambar dipinjam dari https://www.flickr.com/photos/doremiphoto/6846224063/

Saya hanya tersenyum kecut sambil berikrar dalam hati, “Sebentar lagi saya akan bawa tugu Monas atau menara ATC Soekarno-Hatta deh biar dibilang sukses, saya bawa pesawat Hercules”.

Pulang kampung, pulang kampung…

TULISAN SAYA DAN PEMAHAMAN SAYA

TULISAN SAYA DAN PEMAHAMAN SAYA

Saya menyukai membaca sejak saya masih bernapas dengan insang. Kata ibu saya, dia sangat gemar membaca ketika sedang mengandung saya. Saya tidak bisa berpisah dengan bacaan. Saya penyuka buku yang keranjingan. Tapi saya bukan pula pembaca cerdas yang seketika itu memahami bacaan saya kemudian memilah-pilah dan kemudian mengamalkan ilmu yang saya dapatkan dari membaca tersebut. Saya juga tak terlalu tertarik menghapal nama-nama ilmuwan yang bisa saja namanya saya jadikan “hiasan” tuangan ide-ide saya. Saya masih rote reader – membaca hanya sekedar membaca.

Ada sebuah episod masa es de saya yang masih sangat membekas dan menempati sebuah bilik istimewa di jiwa saya. Ketika saya kelas enam es de, saya (dan satu kakak perempuan saya) dititipkan kepada Budhe karena orang tua saya sedang sibuk mengurusi kepindahannya ke kota lain. Saya harus rela berjauhan dengan mereka. Saya yang masih kecil ini harus menahan rindu pada ibu, bapak dan saudara-saudara yang lain. Saya terpaksa mencari pengalih rasa rindu saya berupa aktivitas yang menyenangkan.

Sepulang sekolah saya punya kegemaran yang sangat dikenal oleh tetangga dan teman-teman. Mendengarkan kethoprak di radio dan sembunyi di gudang membaca majalah berbahasa Jawa, Jayabaya. Mendengarkan radio – terutama kethoprak dan sandiwara radio – adalaha hal yang lazim dilakukan masyarakt desa kami. Biasnaya kami saling bertukar pikiran tentang cerita yang telah kami denganr lalu membuat prediksi-presiksi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya atau malah mengkritisi perbedaan cerita di radio dengan cerita yang pernah kami denganr dari budaya cerita rakyat yang kami dengar tiap padhang mbulan (bulan purnama, Bahasa Jawa). Fyi, di kampung saya dulu saat saya masih kecil masih ada budaya mbeber kloso (menghampar tikar, Bahasa Jawa) di pelataran rumah setiap malam bulan purnama sebagai wadah orang tua menceritakan cerita rakyat atau kisah moyang keluarga pada anak-anak kecil diselingi dengan indoktrinasi kudu begini kudu begitu, nanti kuwalat kalau tidak menurut; tidak hanya anak keluarga yangboleh hadir, everybody is invited – the more, the merrier. Satu lagi kegemaran rahasia saya: menulis diary, cerita pendek dan ulasan tentang orang di sekitar saya.

Jika saya hubungkan buku-buku yang saya baca dengan kegemaran masa kecil saya, kok rasa-rasanya tak jauh beda. Saya sangat tertarik pada kisah-kisah yang mengandung kemandirian atau sosial budaya. Saya kurang begitu suka pada kisah yang berbau ilmiah murni dan teoritik. Saya juga lebih suka menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan kejadian hari per hari serta sosbud daripada menulis sesuatu yang berlandaskan ilmu murni. Tak heran ketika saya menulis skripsi, saya sempat ditegur oleh seorang dosen. Menurut beliau skripsi saya miskin ilmu. Skripsi saya kering landasan. Skripsi saya hanya bualan tanpa kerangka berpikir yang ditawarkan oleh para theorists yang telah dikenal di bidangnya. Dosen tersebut bahkan sempat mengatakan bahwa skripsi saya bisa dibilang sekedar bullshit karena hanya merupakan hamparan kicauan burung Rike yang belum dikenal oleh orang. Dia juga bilang skripsi saya tak akan laku kalau dijual. Lebih baik dibuang ke tempat sampah. Untung saya menyadari kebodohan saya, sehingga pada saat itu saya hanya bilang “Masak segitu jeleknya tulsian saya ini, Bu? Teori sastra saya udah cukup kuat dan saya ambil beberapa teori sosial dan psikologi untuk menguatkannya. Gak laku gak papa lah, Bu yang penting saya lulus kuliah tepat waktu trus saya mau kerja. Nggak pengen jadi ilmuwan tulen. Gak ada otak.” Si Bu Dosen tertawa riang menyambut kelakar saya.

Kembali lagi pada bacaan dan tulisan saya. Saya bukan orang yang membaca dan kemudian segera memahami apalagi menghapal apa yang telah saya baca. Saya hanya mampu menyerap apa yang bisa masuk kedalam pori-pori pemahaman saya yang ternyata tak cukup peka sebagaimana seharusnya spons menyedot air. Saya hanya mampu mengolah dan mencocok-cocokkan apa yang saya pahami dengan apa yang saya temui.

Menuliskan sesuatu tanpa teori menjadi sebuah kegemaran buat saya. Saya tidak mau memaksakan diri saya untuk selalu memulai pernyataan saya dengan “Berdasarkan si anu…”. Saya ingin menulis secara orisinil. Saya ingin menuliskan sesuatu dengan cara saya. Saya memang mengenal teori-teori tapi saya tak pernah merasa bahwa saya harus menisbatkan ide-ide saya kepada penemu teori tersebut. Tapi saya juga tak akan mengatakan bahwa saya mengetahui ini secara otodidak karena nyatanya saya pernah membaca apa yang mereka tuliskan. Saya hanya berusaha “menemukan teori itu” dalam mikrokosmos saya.

Ah, dunia ini memang luas. Tiap kavling di-klaim menjadi milik seseorang. Tak beda juga dengan ilmu pengetahuan, luas dan dalam dan tak sedikit kavling-kavlingnya di-klaim sebagai milik si anu atau si anu. Saya tak peduli. Saya adalah penduduk semesta yang – walaupun tak punya lisensi – berhak mengklaim sebagai pengembara yang bisa saja menemukan permata dan menyimpannya dalam saku baju saya tanpa mengatakan pada siapapun bahwa saya memiliknya.

Dedicated to: all readers especially someone loving to read my writings.

September 20, 2008

PENIPUAN TERORGANISIR

PENIPUAN TERORGANISIR

Sejak bekerja di lapangan, saya ketemu hal-hal yang diluar ekspektasi bahkan diluar bayangan. Apapun yang selama ini saya anggap sesuatu yang wajar menjadi tak wajar lantaran mata saya melek semelek-meleknya terhadap hal yang cuma kuketahui secara tebak-tebak buah manggis.

Industri adalah kata kuncinya. Bertahun lamanya saya hanya menjadi konsumen yang nggak tahu apa dibalik apa, apa dibalik siapa, siapa dibalik apa dan siapa dibalik siapa. Beli barang, murah, titik. Tak terpikir biaya (terjemahan dari cost) yang keluar selama proses produksi.

Karena bukan orang pemasaran, saya nggak ngomongin biaya berupa uang. Biaya yang saya omongin adalah social cost yang ternyata membuat rahang saya jatuh (terjemahan dari falling jaw).

Ngobrol dengan sekurangnya lima belas buruh di pabrik setiap hari, membuatku serasa tidak tenang memakai baju merk tertentu lantaran biasanya biaya proses produksi (uang) ditekan serendah mungkin dengan merelokasikannya ke social cost yang artinya mengorbankan hak karyawan. Apa lagi kalau akhirnya yang terjadi adalah: lembur tidak dibayar atau dibayar kurang, UMR tidak dijamin, jamsostek tidak dibeli, cuti tidak diberi, tidak boleh ke toilet kecuali waktu tertentu, rela diteriakin oleh para ekspatriat (utamanya Korea) yang lagaknya sudah seperti centeng pasar (makanya aku suka bete kalau ada yang nge-fans banget sama produk Korea entah film atau yang lainnya he he he…), dan kenyataan-kenyataan lain yang mau tak mau membuat hati kebat-kebit setiap memasuki kawasan pabrik tertentu yang udah “langganan” melanggar ketentuan yang berlaku.

Jangan dikira semua praktik tersebut dengan mudah ditemukan karena biasanya pelanggaran-pelanggaran tersebut telah disusun dan disembunyikan dengan rapi. Semua pihak “diharapkan” mendukung hal ini termasuk karyawan produksi sebagai “sol sepatu” karena kalau tidak, “Orderenya bisa tidak turuneee kalau banyak findingnya… Nanti karyawannya tidak bisa dapat kerjanyaaa, uang dari mana untuk anak sekolah…”. Itu masih cukup ramah.

Bayangkan kalau Anda menjadi buruh pabrik dan dipaksa untuk berbohong dan kalau tidak dikeluarkan. Kalau Anda dikeluarkan dari tempat kerja, mungkin masih bisa memutar otak mencari tempat kerja baru atau membuka bisnis dari uang pesangon. Kalau mereka? Bisa-bisa dikeluarkan juga tanpa pesangon, belum lagi harus menanggung susahnya nyari kerjaan baru.

Yah itulah sekelumit kisah tentang bi-partite (perusahaan dan karyawan) yang disalahgunakan keberadaannya – bahu-membahu menyembunyikan kebusukan otak top management yang kemaruk keuntungan buat disetor pada owner. Masih banyak lagi borok yang kalau diceritakan bisa menjadi sebuah novel.

Sebut saja karyawan yang berani curhat “Ibu, saya dikatain anjing, goblog, tai dan kata-kata lain ama supervisor padahal palingan salah jahit bisa dipermak, permak juga kagak dibayar lembur saya mau. Tadinya saya kagak tahu soalnya dia pakai bahasa sono, lama-lama saya tahu itu artinya anjing dan kata-kata buruk lain. Saya mah kagak betah tapi belon ada kerjaan lain…”

Terima kasih, Tuhan… Telah mengantarku ke pekerjaan ini sehingga ku tak mesti bangga tatkala memakai baju ber-merk terkenal. Sekarang saya sedang rajin memakai baju yang dijahit oleh penjahit yang kubayar dengan layak; walau kain bahannya belum tentu terjamin dibuat di pabrik yang memanusiakan manusia atau tidak. Paling tidak inilah bentuk keprihatinanku pada kebobrokan praktik industri dunia dan pengurangan resiko menginjak tengkuk karyawan produksi.

Semoga keadaan semakin membaik… Amin

Balaraja, 3 Juni 2011 – 12:18 siang

HARI INI HARI BATIK

Tanggal 2 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Batik oleh pemerintah setelah UNESCO mengukuhkan batik kita sebagai kekayaan dunia dan seyogyanya kita menyokongnya dengan suka cita. Masih teringat bagaimana hingar-bingar pecinta batik kita berjuang dengan cara mereka sendiri ketika Malaysia mengklaim batik sebagai milik mereka.

Sekilas tentang batik
Batik adalah metode pembentukan motif pada media tertentu – awalnya hanya kain mori lalu berkembang hingga sekarang batik dapat diterapkan pada kulit, kayu, dll – dengan cara menutup bagian tertentu dengan lilin (malam) sebelum proses pewarnaan dilakukan. Awalnya batik memiliki motif tertentu yang dihubungkan dengan proses kontemplasi seniman batik pada jamannya yang biasanya menciptakan karyanya untuk kebutuhan kraton mengingat dulunya batik hanya bisa dijangkau oleh kaum ningrat. Maka terciptalah motif-motif batik seperti Wahyu Tumurun, Kawung, Klithik, Sido Mukti, Parang dengan berbagai variannya, Mega Mendung dll. Semua yang saya sebutkan adalah “batik pakem”
Di negeri kita ini hampir semua daerah utama memiliki batik dengan ciri khas tersendiri walaupun secara umum batik dibagi 2 kelompok besar: batik pesisiran (daerah pinggir laut) dan batik Jogja-Solo (pedalaman). Dua kelompok besar ini membuat khazanah batik Indonesia menjadi kaya luar biasa. Batik pesisiran biasanya menggunakan warna-warna terang dan aplikasi motif yang lebih ringan dan ceria serta menggambarkan objek secara gamblang dan nyata sedangkan batik pedalaman lebih didominasi oleh lebih banyak warna gelap yang lazim disebut sogan (coklat, hitam, kelabu) dan penggambaran objeknya lebih abstrak dan penuh simbol.

Batik Cirebonan adalah contoh batik pesisiran yang paling memasyarakat saat ini. Dengan warna yang gonjrengnya batik Cirebonan mampu menyelinap ke dalam hati para penggemar instan karena memungkinkan mereka untuk bergaya dengan batik secara lebih mudah. Ciri khas batik Cirebonan juga terletak pada objeknya: tanaman, burung-burung, langit berarak, matahari, dll dan satu lagi yaitu “tumpal”. Tumpal adalah aplikasi motif penyelaras di ujung kanan atau kiri kain yang biasanya diletakkan di depan ketika batik dipakai sebagai sarung.

Batik pedalaman atau Jogja-Solo lebih banyak bermain dengan simbol dan pemaparan ide secara abstrak dan mengedepankan kesan sakral dalam setiap motif pakemnya. Misalnya “jarik” Sido Mukti adalah ekspresi doa kebahagiaan, kemakmuran dan kelanggengan desainernya sehingga dipakailah batik ini sebagai salah satu pakaian pengantin. Sebaliknya batik bermotif Parang tidak direkomendasikan dikenakan dalam prosesi itu.

Proses dalam membatik
– memilih media
– memilih motif
– menggambar motif (mola)
– membatik (menutup bagian dengan lilin sesuai pola)
– mewarnai (nyelup)
– membuang lilin (nglorot) dengan cara merebus kain yang telah dicelup
– mengeringkan
– membersihkan batik dari sisa-sisa lilin yang menempel

Tidak terlalu sulit bukan? Tidak ada salahnya jika kita mau mencoba. Kalau ada waktu, silakan kunjungi Musium Tekstil di Jl. Karel Sasuit Tubun, Jakarta yang mengadakan kursus batik secara reguler. Anda akan bertemu dengan para seniman dan instruktur yang dengan suka rela berbagi ilmu, pengalaman dan kecintaan budaya.

Banyak istilah dalam dunia perbatikan yang mungkin tidak terlalu dikenal secara luas misalnya isen, semen, nitik, nyolet, dll. Namun itu bukan hal yang urgent bagi kita untuk mengetahuinya. Untuk saat ini mari kita mencintai dulu batik kita dengan cara memakainya baik setiap hari maupun pada acara-acara tertentu saja.

Kiranya tulisanku di Hari Batik ini cukuplah untuk memberikan penghargaan pada batik dan pelestarinya serta membagi sedikit pengetahuan bermanfaat.

Selamat Hari Batik
Mari pakai batik paling tidak sekali seumur hidup 🙂

Otw Blok M di Ekspres MC2636 – 7:45 pagi

JALAN LURUS INI

Berapa ratus kali dalam hidupku terderas ayat berisi Jalan Lurus ini? Shirotol mustaqim adalah konsep yang selama ini telah mengakar sebagai sebuah jalan yang sangat sulit dan kompleks membuat hidupku sangat berat. Jalan lurus adalah jalan yang jika tak ditempuh oleh orang yang benar maka akan tergelincir di jurang bernama neraka. Jalan yang terbentang setipis rambut dibelah tujuh dan setajam pisau berlian. Tak terbayangkan kecuali menimbulkan ketakutan.

Semakin saya telaah maka hasilnya hanya ketakutan dan penjauhan diri dari persyaratan-persyaratan demi keselamatan meniti jalan lurus itu. Hingga saya berjumpa dengan seseorang akhir pekan lalu.

Seorang wanita yang jika dia tak keberatan kuanggap sebagai salah satu dari guru-guru kehidupanku. Wanita sederhana yang jika orang bicara padanya maka meluncurlah deretan peluru-peluru penuh hikmah dari mulutnya.

Salah satunya adalah pemahamanku tentang Jalan Lurus.

“Jalan lurus itu ya jalan sederhana. Jalan yang nggak membingungkan kita. Lurus saja = sederhana saja. Jalan ini hanya perlu satu kemauan yaitu menjalani segalanya secara sederhana. Sederhana itu ya sederhana, simple nggak usah pusing-pusing. Sederhana dalam berpikir, menyederhanakan sama dengan menyempurnakan. Kau sederhanakan egomu maka sempurnalah pikirmu.”

Luar biasa!

Menyederhanakan.
Sedemikian rumitnya pikiranku dan menyederhanakannya adalah sebuah urgensi pribadi. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku menyederhanakan pikiranku. Hanya aku dan aku saja.

Sederhana adalah kembali pada satu komponen terkecil yang sekecil kemampuan terkecilku yang kubutuhkan untuk memahami bahwa “segalanya hanya berdasarkan kesepakatan” maka jika tidak tercapai kesepakatan “jangan marah, diamlah dan nikmatilah hidupmu setiap detiknya”.

Hatiku tersentak dan tersentuh. Musik latar film masa kecilku “Little House in the Prairie” mengiringiku meneguhkan hati untuk menyederhanakan pikiran, tidak memperpanjangnya dengan emosi, menyempurnakannya dengan kemanusiaan. Sungguh kesederhanaan yang tak terlampaui rumitnya.

Jalan lurus adalah jalan sederhana.
Sesederhana keinginanku untuk tak peduli dengan apapun yang berbeda. Sesederhana kemauanku untuk berbahagia setiap saat. Sesederhana hari-hariku yang dimulai dengan ungkapan syukur dan ditutup dengan ungkapan syukur.

Jalan lurusku bukan jalan di mana sujud-sujud panjang menghitamkan dahi para pendoa, bukan jalan di mana dentingan koin emas merisaukan pada pensedekah, bukan jalan di mana rasa lapar dan dahaga ditaklukkan oleh para pelaku puasa. Jalan lurusku adalah sederhana saja: jangan marah dan maafkanlah…

Rumah kecil di bantaran Kali Cisadane
30September2012

Bob Is Always My Baby

Bob, a cat that I have adopted for the past four years, has been my dear. I consider him my dear son that I will take care of as long as he lives.

Now I am away and he is “home”. What I meant by home is that my maid is home and available for him for food and shelter.

I probably do not trust my maid 100% but I really don’t have alternative of what I should do to ensure that Bob is well fed and under shelter safely. I want the best for him when I am around as well as in absence of mine. How I love you, Bob.

I am watching “Rise of The Planet of the Apes” and my mind goes from where I am – Bogor – to Tangerang, Bob’s and my home. How human beings do so much for themselves by defying the life of other creatures. They manipulate other creatures’ life for the benefits of humans’ life. And, they never care that the other creatures actually have their right to survive the way each creature should do. A limit to protect themselves have evolved into human being’s greed to claim that the universe and what’s in it are theirs. By claiming what’s not theirs, human beings take control of every one with unlimited wish.

Whatever it is in my thought and feeling, I miss my cat, my adopted son. I love you, baby. Be strong and healthy. I am here with a heart full of love reaching you…

Bogor – September 29, 2012

RATU KEJAM ITU

Berkelana dari hati ke hati
Menilik mana hati yang sepi
Hati sepi bertahta kilau dunia
Maka bergeraklah dia
Membuai
Membujuk
Memuji
Mengukur kelemahannya
Merontokkan kilauannya
Satu per satu
Dan menendang semua sahabat
Mengusirinya
Demi duduk sendiri

Sungguh hati kosong itu
Makin kosong
Dijajah seorang ratu kejam
Yang bertahta di hati yang bukan miliknya dan
Berkuasa…

Untuk seorang teman yang agak aneh cara bertemannya
Cititel Midvalley – 24 September 2012

EMOTICON

EMOTICON

“Kalau 🙂 artinya apa sih, Ke?”
“Kalau :-* artinya apa sih, Ke?”
Paling tidak itu dua pertanyaan yang pernah membuat saya merasa bermanfaat untuk menerjemahkan emoticon untuk seorang mantan pacar saya yang pasti sekarang sudah mahir ber-emoticon karena tinggal pakai simbol di Blackberry messenger atau Whatsapp dia. Waktu itu saya merasa agak geli juga kok sekian lama pakai handphone nggak tahu “smiley” – emoticon disebut juga smiley.

Jaman segitu smiley lebih dikenal oleh para penulis pesan singkat (sms). Saking populernya smiley sampai-sampai sebuah majalah terbitan Lia – C’nS – mengulas topik ini dan dari situlah saya mengenal paling tidak 30 jenis simbol “emosi” untuk membantu saya mengekspresikan ide dan perasaan secara efektif dan efisien dalam sms saya. Terbukti efektif karena nggak perlu banyak ngetik yang dikhawatirkan mempercepat pembesaran jari jempol namun kurang terbukti efisiensinya karena komunikan di seberang sana belum tentu memahami emoticon kita; walhasil kadang saya harus mengulang pesan saya. Ya, kasusnya sama lah dengan pertanyaan yang saya terima dari mantan ha ha ha

Kenapa emoticon menjadi penting buat sebagian orang? Karena bahasa tulisan tak sering menyediakan latar emosi sehingga bisa diartikan sesuai suasana hati si pembaca dan bukan suasana hati penyampai pesan. Pernah saya menangkap kesan bias ketika seseorang mengisahkan email seseorang.

“… Udah gitu bahasa Enggrisnya kacau gitu. Kalau nggak bisa mbok yao nggak usah nulis…”

Jelas suasana hati pembaca kurang stabil karena seharusnya kemampuan berbahasa Enggris di Indonesia memang kurang merata kalau dibanding di Malaysia atau Singapura. Plus, inti dari tujuan berbahasa bukanlah berbahasa secara baik dan benar saja melainkan untuk berkomunikasi alias menyampaikan ide dan perasaan. Walau tata bahasamu amburadul dan diksimu acak-adut tapi pesanmu tersampaikan, ya namanya masih bagus. Nah, emoticon juga begitu… Kalau emoticon lucu tapi sebenernya bukan buat mewakili kelucuan melainkan kemarahan dan kemarahan orang tersebut tidak tersampaikan ya percuma saja lantaran komunikasi tidak berlaku.

Kembola kepada fungsi emoticon… Sebagai simbol perasaan, emoticon bisa ditambahkan jika seseorang tidak yakin kata-kata yang dipakainya cukup mewakili ide dan rasanya. Contoh:

“Hoi, lu kate ane anak kemaren sore? Lu kali monyet baru lahir… =))”

Nah tanda =)) berarti tertawa terbahak-bahak menandakan. Orang tersebut (semoga) bercanda. Contoh lain:

“Duh gusti… :-}”

Simbol :-} artinya sedang malu.

Ok, emoticon membantu kita mengkomunikasikan rasa dengan lebih mudah to? Ayo monggo dicoba pakai emoticon untuk mengungkap rasa dijamin isi email kalian dipenuhi endhas ngglundhung (kepala yang menggelinding, Bahasa Jawa)…

Di angkot menuju Gancit – ngantor
September 13, 2012

SURAT KUASA

Dear Multiply Indonesia,

Dengan surat ini, saya:

Nama: Rike Anggraeni a.k.a. Rike Jokanan
Multiply id: http://rikejokanan.multiply.com

memberikan kuasa kepada :

Nama: Wahyu W.
Multiply id: http://wib711.multiply.com

yang pada hari jumat tanggal 7 September 2012 akan datang ke kantor Multiply Indonesia untuk memberikan DVD kepada Multiply Indonesia, agar Multiply segera mendownload semua isi blog saya di rikejokanan.multiply.com (termasuk yang personal/privacy) ke dalam DVD tersebut. Saya mohon kerjasamanya. 

Terimakasih

Dear Multiply Indonesia, Dengan surat ini, saya: Nama: Rike Anggraeni a.k.a. Rike Jokanan Multiply id: http:rikejokanan.multiply.com memberikan kuasa kepada : Nama: Wahyu W. Multiply id: http:wib711.multiply.com yang pada hari jumat tanggal 7 September 2012 akan datang ke kantor Multiply Indonesia untuk memberikan DVD kepada Multiply Indonesia, agar Multiply segera mendownload semua isi blog saya di rikejokanan.multiply.com (termasuk yang personal/privacy) ke dalam DVD tersebut. Saya mohon kerjasamanya. Terimakasih

Dear Multiply Indonesia, Dengan surat ini, saya: Nama: Rike Anggraeni a.k.a. Rike Jokanan Multiply id: http://rikejokanan.multiply.com memberikan kuasa kepada : Nama: Wahyu W. Multiply id: http://wib711.multiply.com yang pada hari jumat tanggal 7 September 2012 akan datang ke kantor Multiply Indonesia untuk memberikan DVD kepada Multiply Indonesia, agar Multiply segera mendownload semua isi blog saya di rikejokanan.multiply.com (termasuk yang personal/privacy) ke dalam DVD tersebut. Saya mohon kerjasamanya.  Terimakasih

BOB

BOBPlease introduce my cat named Bob Kucing..
He is almost 5 years old and might have a lot of offsprings around my neighborhood.
He eats fish as main dish and cat bites for snack.
He spoils me with his purr and manipulates me with his sickness. Hey, he has space for fleas that I work on in my spare time.

He is an adorable cat at least for me. Have a look at his sleep…

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!