JOB DAN MBAK ANGGITA

PE ER LAGI…

Dalam keadaan ngelangut saya dapet kerjaan dari Mbak Anggita. Senengnya, ada yang ngundang menulis. Ini sekaligus kado anniversary buat beliau deh.

PR ini ada aturannya :

  • Setiap Blogger harus memuat kembali peraturan ini di blognya.
  • Setiap Blogger membuat 10 fakta/kebiasaan tentang dirinya.
  • Pada akhir penulisan 10 fakta tersebut, dilanjutkan untuk memilih sepuluh orang yang belum menuliskan fakta tentang diri mereka masing-masing.
  • Meninggalkan komentar untuk mereka yang ditandai dan undang mereka untuk membaca blog kamu.

Jadi begini, berikut hasil pusing-pusing mikir fakta tentang diri sendiri. Memang kalau mikir tentang diri sendiri itu beratnya jauh lebih dari sekarung bijih besi.

1. Sejak kecil hampir tidak pernah sarapan dibawah jam 9:oo pagi.

2. Hobi banget baca dan corat-coret baik nulis maupun nggambar (termasuk bikin batik).

3. Paling sebel kalau harus ke pesta karena harus pakai make-up selain bedak dan lipbalm.

4. Bisa inget detail-detail kejadian jadi kalau nulis buku harian bisa puanjuang pol.

5. Tidak bisa tidur dibawah jam 12 malam.

6. Saya suka kura-kura dan penyu. Saya koleksi pernak-pernik kura-kura dan punya sepasang kura-kura Brasilia (Tesie dan Tucul) tapi si Tucul kabur dan tak tahu rimbanya.

7. Kurang gemar jalan-jalan ke mall.

8. Suka nonton film yang tak banyak berbau kekerasan.

9. Sudah biasa hidup jauh dari keluarga sejak kenal calistung (baca tuling hitung).

10. Termasuk golongan sang pemimpi. Mimpi terbesar adalah: MEWUJUDKAN MIMPI-MIMPI UTAMA SEBELUM USIA 40 TAHUN.

Dan, 10 MP-ers yang mendapat lotre kehormatan menjadi relawan dan relawati adalah sebagai berikut:

  1. Aveline Agrippina
  2. Mbak Henny
  3. Mas Ohtrie
  4. Dik Bambang
  5. Dik Agus Kribo
  6. Mbak Dewi Ekha
  7. Mbak Indah
  8. Dhanuh Suwardi
  9. Mas Aji Klewang
  10. Mas Darto

Namanya relawan-relawati ya sukarela, gak ada paksaan. Kalau gak bisa bikin pe er, ya silakan nyembelih hewan Qurban saja. Jangan lupa kirimkan daging dan tulangnya ke saya. J

Saya mau kabur dulu ya…

December 2, 2008 – 9:29pm

SALURAN TERSENDAT, BANJIR, MELONGO

SALURAN TERSENDAT, BANJIR, MELONGO

Penat bekerja

Lelah dengan rutinitas

Beban masalah

Kenangan buruk yang mendera

Ketakutan akan kegagalan

Semua seperti sampah

Mengambang di aliran sungai

Menyumpal irigasi sawah

Menyumbat saluran air di pemukiman

Memenuhi got pinggir jalan

Air tak sampai ke laut pada waktunya

Atau tak pernah sampai kesana

Air tersendat di perjalanan

Banjir tiba

Melongo

Tak olahraga

Makan sembarangan

Istirahat kurang

Pekerjaan yang tertunda

Agenda berbaris seperti semut berarak

Seperti darah yang mengental dalam pembuluh

Menyumbat alirannya sendiri

Menyempitkan rongga dengan keraknya

Memberati pompa jantung

Bersesakan kepingannya mencari jalur cepat

Darah tak beredar sesuai normalnya

Pembuluh menggelembung karena muatan

Terowongan itu pecah

Stroke tiba

Melongo

Ini bukan tentang kesehatan saja

Ini juga tentang kreativitas

Yang tersumbat sampah

Yang melambat karena terlalu pekat

Yang akhirnya luber tak pada tempatnya

Tak pada jalurnya

Akhirnya juga tak sesuai ukurannya

Seperti puisi ini

Kengawuran tiba

Melongo

Ayo, bersih desa

Pangkas rumput, ilalang dan semak

Tak ketinggalan lancarkan aliran kali dan irigasi

Larahan jalan disapu lagi

Pathok dan kijing kuburan benahi

Obor yang mati minyaki lagi

Pak Lurah…

Gerakkan rakyatnya

Pak Carik…

Ikut kobarkan semangat

Pak Jagabaya…

Kuatkan doanya

Pak Jagatirta…

Kerahkan ilmunya

Pak Bayan, Pak Kamituwa, kang Suta, Kang Nala

Semua tandang

Mengerahakn kreativitas

Di kerajaan kecil

Yang bertahta di nama kita

Ah… puisi ini

Banjir ide

Namanya jug banjir

Airnya keruh

Penuh kecoak dan segala yang berserak

Serba buangan

Semoga mencerahkan…

November 24, 2008 10:27pm

STILL I RISE (poem by Maya Angelou)

Still I Rise by Maya Angelou

You may write me down in history
With your bitter, twisted lies,
You may trod me in the very dirt
But still, like dust, I’ll rise.

Does my sassiness upset you?
Why are you beset with gloom?
‘Cause I walk like I’ve got oil wells
Pumping in my living room.

Just like moons and like suns,
With the certainty of tides,
Just like hopes springing high,
Still I’ll rise.

Did you want to see me broken?
Bowed head and lowered eyes?
Shoulders falling down like teardrops.
Weakened by my soulful cries.

Does my haughtiness offend you?
Don’t you take it awful hard
‘Cause I laugh like I’ve got gold mines
Diggin’ in my own back yard.

You may shoot me with your words,
You may cut me with your eyes,
You may kill me with your hatefulness,
But still, like air, I’ll rise.

Does my sexiness upset you?
Does it come as a surprise
That I dance like I’ve got diamonds
At the meeting of my thighs?

Out of the huts of history’s shame
I rise
Up from a past that’s rooted in pain
I rise
I’m a black ocean, leaping and wide,
Welling and swelling I bear in the tide.
Leaving behind nights of terror and fear
I rise
Into a daybreak that’s wondrously clear
I rise
Bringing the gifts that my ancestors gave,
I am the dream and the hope of the slave.
I rise
I rise
I rise.

My review:
I have always been Maya Angelou’s reader until now and will always be. I don’t want to give much ado… This poem always becomes my energy. The diction is so trmendously powerful to my soul. The structure of he poem itself brings confidence to me. And, the meaning is so much empowering and encouraging.

Maya, if only Time saves a road for me, I will meet and hug you for a thank-you 🙂

BERKILO-KILO

BERKILO-KILO

Hidup tanpa beban masalah bagai sayur tanpa ampas. Bayangkan jika sup Anda hanya berupa kaldu berasa ayam dan bumbu tanpa ada sayur-mayur atau bahan lain mengambang dan/atau menyelam didalamnya. Alangkah lezat tapi tidak enaknya.

Kalau boleh berumpama, kadang hidup terasa mengantongi berkilo-kilo besi dalam perjalanan panjang. Ingin rasanya mengeluarkan semua tumpukan besi itu dan berjalan lempang ke arah terang namun apa daya berkilo-kilo besi itu memang bagian hidup.

Sempat saya berkhayal bagaimana seandainya disuruh mendukung kapas saja. Alangkah ringannya. Alangkah cepatnya perjalanan mencapai tujuan.

Siapa yang tak mau hidupnya enteng? Siapa yang tak mau bebannya diringankan? Siapa yang tak mau perjalanannya singkat dan lancar? Insya Allah, semua tak bakal menolak.

Tapi, segera kembali pikiran ini menggeletar. Berkilo-kilo besi di saku. Berkilo-kilo kapas di punggung. Mana yang mesti dipilih?

Sekarang saya merasa sedang menanggung berkilo-kilo besi di sekujur tubuh sembari mendamba menjadikan besi itu kapas saja. Rupanya saya telah berpikir tentang hal bodoh secara bodoh. Saya telah teken kontrak dengan kehidupan ini bahwa saya akan menanggung sekian kilo beban. Apapun beban itu berupa, beratnya pasti sesuai dengan kesanggupan yang saya tandatangani, sesuai dengan peran dan pilihan-pilihan yang saya tentukan.

Alangkah bodohnya saya. Apa bedanya berkilo-kilo besi dan berkilo-kilo kapas jika ternyata beratnya sama. Bahkan menurut saya berkilo-kilo besi jauh lebih ringkes (tak makan tempat, bahasa Jawa) daripada berkilo-kilo kapas yang pasti jauh lebih rowa (memakan tempat, Bahasa Jawa).

Apa jadinya kalau mesti mendukung berkilo-kilo kapas di punggung? Sudah lah berat, makan tempat pula.

Berarti menanggung berkilo-kilo besi ini jauh lebih patut disyukuri daripada mengharap kapas dengan berat yang sama.

Ah, namanya juga manusia. Maklum kalau angan-angannya sungguh tinggi walaupun kenyataannya apa yang dimilikinya telah pas dengan status dan posisinya.

Nggak ada pilihan lain kecuali nikmati saja. Ayo bersyukur yuuuk…

November 17, 2008

8:39pm

DUNIA MAYA TAK AMAN LAGI BUAT SAYA

DUNIA MAYA TAK AMAN LAGI BUAT SAYA

Barusan saya nangis sejadi-jadinya telungkup di keyboard laptop saya. Nggak peduli ntar basah atau kepencet trus error. Kali ini saya benar-benar jengkel.

Untuk kedua kalinya Friendster saya dijahilin orang. Sudah 3 kali saya sign-up di Friendster.

  1. Pakai email account di Plasa.com yang tak tahu kenapa nggak bisa diakses. Di-hack orang; semua di-update dengan info tentang saya yang lucu-lucu dan tidak umum contoh kesukaan saya ndengerin wayang kulit di stasiun radio tertentu, kesukaan saya bikin puisi, dan kesukaan saya yang hanya teman dekat dan keluarga yang tahu. Saya menyimpulkan hackernya kenal saya. Entah apa tujuannya tapi biarlah saya menjahatinya dengan menganggapnya bloody moron friend.
  2. Friendster account saya yang kedua memakai alamat email yahoo. Sempat saya hapus ketika saya putus cinta. Saya down berat. Amat sangat berat sekali dan terluka!!!
  3. Saya bikin account Friendster lagi tepatnya dibikinin yang baru sama teman-teman saya yang ternyata masih pada sayang sama saya sehingga nggak rela saya hilang dari peredaran alam maya. Dan ternyata dalam waktu singkat saya udah punya 77 teman yang dengan suka rela mengg-add dan beberapa saya add.

Account saya inilah yang bikin saya nangis karena hari ini saya menemukan bahwa saya tidak punya teman lagi sama sekali. Satu-satunya featured friend-pun account-nya tidak bisa saya akses karena dikunci dan ternyata saya bukan lagi teman dia. Dan, lebih kaget lagi setelah log-out dan coba log-in lagi udah nggak bisa – info yang masuk: password saya udah ganti. Ya, Allah. Apa lagi ini?

Dunia maya ini teman saya yang paling menyenangkan saat ini, kenapa dilumpuhkan juga???????????????????????????????????

Sebegitu jahatnya kah orang-orang yang gape IT ini? Apa mereka mendapat kepuasan dengan mengganggu hidup saya? Kalau mereka benci saya, tidakkah ada cara yang lebih beradab daripada menggilas saya yang sudah begitu banyak kehilangan teman dalam satu setengah tahun terakhir ini karena saya harus berkorban demi seseorang yang kurang menyukai mereka? Kalau mereka hanya iseng, apa gunanya?

Mau membuktikan kelihaian Anda? Tidak terbukti!!! Karena Anda hanya bisa membuktikan kelemahan akhlak Anda? Ingin menunjukkan pada saya bahwa Anda IT-talent dan saya gaptek? Toh, Anda hanya bisa membuat saya jengkel.

Ok, kalau Anda kenal saya, saya bersyukur karena Friendster account saya hanya diisengin oleh teman saya tapi saya berdoa semoga Anda dikalahkan oleh kepongahan Anda.

Kalau Anda tidak mengenal saya, semoga Anda dihabisi oleh kepongahan Anda.

Saya berdoa satu kali untuk hacker brengsek ini, tak akan saya ulangi doa itu. Sekali doa, sekali amin, sampai kapan pun tidak terima.

November 15, 2008

7:33pm

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

Membaca beberapa baris dari buku Pram (Pramoedya Ananta Toer); saya merasa disentil untuk berpikir ulang sebagai orang Indonesia Jawa, inlander kata Tuan Besar alias Meneer Daendels dkk.

Nggak nyangka ada kajian semacam ini di kalangan wong Walanda (orang Belanda, Bahasa Jawa). Sementara ini saya hanya tahu bahwa Belanda kesini semata karena kebutuhan mereka akan hasil alam dan penyebaran ideologi yang mereka genggam tanpa pengkajian budaya kita sebagai inang dari parasit yang bernama kompeni Belanda itu. Setelah membaca bagian ini yang ada tinggal rasa penasaran untuk mengkaji lebih dalam tentang kejawaan (baca: ke-inlander-an) yang tersisa dalam diri saya.

Mengapa di Jawa dan bukan di Ambon atau di Sulawesi atau di pulau lainnya? Ternyata ada juga sebab lain mengapa Belanda dengan V.O.C.-nya dan para kompeni itu milih di pulau kecil tapi sesak manusia ini.

Maaf jika nantinya primordialisme tertangkap tanpa zoom karena kesannya hanya menyangkut suku bangsa tertentu (Jawa); saya hanya ingin memaparkan bagaimana Belanda kok krasan dan gendut disini.

Kita punya sejarah yang tua dan berkembang, kaya dan terorganisir, namun sekaligus tanpa arah yang konsisten dan solid. Semoga kesan yang Anda tangkap jauh lebih baik. J

Berikut adalah percakapan antara Jacques Pangemanann (tokoh aku, seorang Menado, Komisaris Besar yang ditugasi menangani Minke dan S.D.I.-nya) dengan Tuan L. (Belanda totok, muda, seorang arsivaris).

“Apa sebab Tuan mengambil Jawa sebagai pokok?”

“Ada rahasia yang sampai sekarang belum juga dapat aku pecahkan, Tuan. Membuat hipotesa sederhana pun aku belum mampu. Cobalah temuan jawabannya: Apa sebab dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah bangsa jawa jauh lebih tinggi daripada latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan-warisan kebudayaan lebih banyak, pada suatu kurun sejarah tertentu? Malahan dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa Eropa tertentu dalam bidang-bidang tertentu? Ha, aku lihat Tuan terheran-heran.”

Aku tidak terheran-heran. Setiap kali seorang pembesar memuji-muji kelebihan bangsa jawa dibandingkan bangsa Hindia yang lain, ada sesuatu yang mengganjal dalam perasaanku. Aku tahu pada suatu kali tentu aku membutuhkan ilmu dan pengetahuan tentang bangsa jawa. Maka sekarang aku harus melayaninya sedang ia naik semangat bicara tentang Jawa.

“Tidakkah itu,” tanyaku.

“Disebabkan karena kekuasaan Belanda di Hindia memusat di jawa sejak semual?”

“Kenyataan justru sebaliknya, tuan Pangemanann. Adminstrasi Hindia Belanda dipusatkan di jawa, justru karena sebab tersebut. Jawa sebelum datang orang Eropa sudah punya organisasi sosial yang menyebabkan mungkinnya kesejahteraan sosial ekonomi dan kebudayaan.”

“Kalau setinggi itu puji-pujian Tuan pada bangsa Jawa, mengapa mereka toh dapat dikalahkan oleh bangsa Eropa?”

“Panjang persoalannya, Tuan,” ia angkat gelas brendinya dan disentuhkan pada gelasku,”Semoga Tuan akan sukses sebagai ahli kolonial!”

“Dan sukses untuk Tuan sebagai ahli Jawa,” jawabku.

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbed
aan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannnya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip.”

“Tuan mengada-ada lagi,” kataku memancing lebih lanjut.

“Sebaiknya Tuan belajar tentang Jawa. Setiap ahli kolonial Hindia mempunyai persoalan bangsa yang luar biasa ini. Tentu aku tidak mengada-ada, Tuan. Bangsa ini sendiri yang meninggalkan jejak-jejaknya, bukan sekedar dalam batu dan tembaga atau cerita-cerita omong-kosong. Bagaimana watak seperti itu muncul tentu disebabkan karena perang ke perang tak habis-habisnya. Orang merindukan perdamaian, maka orang pun meninggalkan prinsip. Penyair besar di masa Hayam Wuruk, abad empatbelas, Mpu Tantular, Tuan, telah merumuskan watak penyesuaian ini dalam sebuah bait dari syair-syairnya.”

“Syairs?!” seruku tidak percaya.

“Ya, Tuan, syair tertulis dalam abad ke empatbelas. Begini kira-kira terjemahannya: Buddha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva, yang tertinggi di antara dewa-dewa. Buddha yang dimuliakan adalah alam semesta. Bagaimana mungkin menceraikannya? Wujud Jina dan wujud Shiva adalah satu. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan.” … Penyair lain dalam masa yang sama, Prapanca, yang pada waktu itu juga superintendent gereja Buddha Jawa, menulis syair Negarakertagama, menulis dalam kedudukannya yang tinggi itu, kedudukan bertanggung-jawab. Dia juga mempersatukan Shiva dengan Buddha. Itulah arus umum ke arah kompromi, melupakan prinsip-prinsip.”

“Tapi itu persoalan agama, Tuan,: bentakku.

“Pada jamannya, Tuan, agama itu adalah juga politik, soal kekuasaan. Bukankah demikian juga di Eropa dalam jaman yang lebih muda? bukankah 80 tahun di Nederland melawan Spanyol adalah Protestantisme bertahan terhadap Katolisisme, yang melahirkan Nederland menjadi negara merdeka? Juga di Jawa, raja yang satu digulingkan oleh raja yang lain karena kelainan agama, yang satu pengikut Vishnu, yang lain Shiva dan seterusnya.”

Aku dapat mengerti, tetapi bahwa orang Jawa sudah menuliskan syair dalam abad ke empatbelas …

“Mereka sudah menulis waktu sebagian terbesar bangsa-bangsa Eropa sekarang masih buta huruf, Tuan. Bukti menunjukkan peninggalan-peninggalan tulisan mereka dari abad ke delapan. Dalam abad itu bangsa Belanda baru berkenalan dengan agama Nasrani, baru mengenal tulisan dari kejauhan, belum lagi dapat membaca, malahan mereka membunuh penyebar injil golongan termula, Bonifacius. Bukankah begitu?”

Dengan sejujur hatiku aku akui orang ini tahu mendalam tentang Jawa di masalewat dan Jawa di masasekarang.

“Pemikiran resmi pada waktu Majapahit justru sampai pada puncak perkembangannya, adalah salah satu unsur kematian bangsa itu sendiri, bersumber pada Prapanca dan Tantular. Orang semakin tidak mengindahkan prinsip. Begitu juga waktu Islam masuk ke Jawa nyaris seratus tahun kemudian. Orang mencari kesamaan antara Shiva-Buddhisme dengan Islam. Juga Islam diterima tanpa prinsip, diambil syariatnya. Dalam puluhan tahun terbiasa meninggalkan prinsip ini Eropa datang, Eropa yang justru berkukuhan pada prinsip. Orang Eropa lebih kecil jumlahnya, tapi menang prinsip.”

(dikutip dari novel RUMAH KACA, Pramoedya Ananta Toer)

Semoga bermanfaat.

November 12, 2008 – 11:44pm

KEMBALI KE TRACK AWAL

KEMBALI KE TRACK AWAL

Akhir-akhir ini banyak tulisan kontak yang mengangkat topik teman, saya sendiri juga. Rasanya seperti diingatkan kembali bahwa dimana pun berada seseorang tidak akan lepas dari ketidakcocokan baik tentang hal kecil ataupun besar. Ketidakcocokan sebenarnya awalnya bukan benar-benar ketidakcocokan melainkan karena salah paham dan sikap yang kurang terbuka untuk mengakui kesalahan atau untuk mengingatkan teman atas kesalahan tersebut.

Saya sendiri merasa harus mengkaji ulang kembali apakah rasa percaya saya menjadi perekat pertemanan dan perkenalan atau justru membuat perasaan tak nyaman karena ternyata ada sebuah protes baik langsung maupun tak langsung tentang keramahan saya. Terima kasih kepada online buddy dan friend saya di MP yang sempat terganggu. Saya jadi bingung aja, kenapa gak ngomong langsung. Ngegosip udah jadi budaya rupanya bahkan untuk menyelesaikan masalah ha ha ha…

Apapun itu… maafkan saya.

Rupanya saya udah melupakan track saya. Ok, kembali ke khittah –track awal saya!!! Menulis…

KEANEHAN PADA MICROSOFT (kalau hoax kok bener ya?)

KEANEHAN PADA MICROSOFT

(kalau hoax kok bener ya?)

Dari milis with magic. Saya udah nyoba, dan memang magical… J


MAGIC #1
Orang India menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membuat
FOLDER di komputer dengan program Microsoft manapun dengan judul folder
“CON”, “LPT1”, “COM1”. Cobalah dengan membuat sebuah folder dengan nama CON atau con. Bukalah My Document/File/New/Folder lalu ketik CON atau Con atau con. Apa yang terjadi?

MAGIC #2
Bagi anda para pengguna Windows, lakukanlah hal berikut ini:
1) Buka sebuah notepad file kosong
2) Ketiklah “Bush hid the facts” (tanpa tanda kutip ya)
3) Save di mana pun anda suka
4) Tutuplah dan bukalah kembali file tersebut.
Aneh bukan?

MAGIC #3
Microsoft Crazy Facts
Cobalah hal yang menarik ini, sungguh aneh! Bahkan Bill Gates sendiri
tidak menemukan jawabannya kenapa ini bisa terjadi! Hal ini ditemukan oleh
orang Brazil. Cobalah!
1) Buka program Microsoft Word dan ketik: =rand (200, 99)
2) Kemudian anda ENTER
Apa yang anda temukan? Menarik bukan? Coba aja…..

OK

OK, FINE

Some can accept us as we are

Some cannot understand our signs

Some want us to be their friends

Some don’t want us to be in their circles

So, what?

It is life

I can choose

I might not be chosen though

They may choose

They might not be chosen though

So, what?

It is life

I will enjoy it the way I am

With

Or

Without

November 9, 2008 – 7:11pm

KERAMAIAN YANG MENGASINGKAN

KERAMAIAN YANG MENGASINGKAN

Saat ini saya sedang menikmati akhir pekan sambil nongkrong di mall, nyari hot spot. Bosan juga nge-net di rumah, pengen suasana beda, yang ramai cenderung riuh, yang berbau makanan dan yang dekat toko buku. Lagi-lagi WTC Serpong karena Lippo Karawaci jaraknya bikin letiiih…

Makan dulu, ternyata nyari tempat susah. Ruame banget. Naik ke Gramedia, setelah mencuri baca beberapa komik Asterix dan bayar buku, saya cek movie yang ternyata masih memajang Journey to the Center of the Earth sebagai CO-MING-SO-ON. Ya akhirnya saya kembali lagi ke foodcourt untuk mencari tempat yang pas untuk nge-net.

Ternyata sedang ada lomba modern dance, lomba mewarnai dan casting bintang sinetron… Lomba modern dance dan mewarnai tak asing lagi tapi casting bintang sinetron ini bikin saya penasaran buanget. Kayak apa sih? Apa kayak dulu ketika saya celemongan di dunia teater saat masih usia es em pe. Kalau ya, berarti biasa aja. Kalau beda, bedanya dimana mau tahu (di postingan berikutnya).

Acara lomba mewarnai sudah dimulai sejak pagi. Sekarang lomba dance dimulai. Wow, dari kejauhan penarinya meliuk-liuk. Hebat anak muda sekarang. Kreativitas nge-mix jenis musik demi background gerakan mereka keren abisss. Exposure terhadap gerakan sangat luas; menilik ketika saya masih es de dan es em pe bisanya cuma nari Gembira, Gambyong, Pendet dan Legong ha ha ha… pakai kemben dulu sudah seksi abis, sekarang para penari itu bajunya hmmm… seksinya alamakjan, apa ibunya gak nonton ya anak perempuannya hampir telanjang gitu, udah gitu jogetnya seksi abisss boo… Mbak Inul dan Mbak Persik kalah dah.

Tentang casting bintang sinetron, menurut pembawa acara, ada yang berbeda dari Tangerang. Katanya di Tangerang peminat casting-nya jauh lebih sedikit daripada di Jakarta dan Bekasi. Saya jadi mmikir, apa benar kata sang pembawa acara bahwa Jakarta dan bekasi masyarakatnya lebih melek entertainment. Orang Tangerang belum terlalu butuh hiburan.

Wow… Kalau ya, saya akan sangat bahagia karena termasuk dalam golongan orang yang tak banyak membutuhkan hiburan dengan kata lain saya termasuk orang yang tingkat stres-nya lebih rendah dibanding teman-teman lain di Jakarta dan Bekasi. Alhamdulillah…

Saya kembali lagi memelototi layar laptop saya masih dengan posisi meja menghadap panggung yang sudah tak terlihat lagi dipagari kerumunan penonton yang tersirep para penari muda tersebut.

Saya mikir sambil browsing. Apa saya terlambat mengikuti perkembangan jaman? Atau memang saya harus rela digilas perubahan jaman? Atau saya harus merubah jaman sesuai dengan tata nilai yang saya yakini? Memangnya siapa saya? Mendidik diri sendiri saja masih belepotan, mau ngatur orang lain.

Saya juga mikir apa orang-orang itu sebegitu cepatnya membuka dirinya terhadap perkembangan jaman sehingga kesannya mereka begitu permisif terhadap apa saja yang berbau gemerlapan berbungkus “kemajuan jaman”.

Lalu apa sebenarnya kemajuan jaman itu sendiri? Ataukah yang sesungguhnya maju itu justru mundur

Tanya berkelebat seperti kilatan cahaya memenuhi benak, berloncatan melintasi quantumnya, membentuk kulit atom yang menyihir saya menjadi makhluk kerdil dengan kepala bertengkorak kaca kristal tak ditumbuhi rambut.

Ah, dunia ini makin tua dan aku makin asing disini.

November 9, 2008 – 3:38pm

Foodcourt WTC Serpong

TIADA GARIS MELAINKAN TITIK

TIADA GARIS MELAINKAN TITIK

(esensi benda yang tak sesungguhnya absolut)

Mili, senti, desi, meter, deka, hekto, kilo…

Apa kau menamakannya jika bukan satuan panjang?

Panjang yang kau lewati ialah jarak?

Jarak bukan ruang sebenar

Dia sekedar jeda antara dua titik yang mesti kutempuhi

Selagi kau menimbang berat dacinmu

Sebagai imbalan terwujudnya anganku

Ada garis menghubungkan dua titik

Garis lurus atau lengkung

Garis nyata atau abstrak

Ruas kunyit kau hitung garis, juga ruas bambu dan tebu.

Seruas kunyit berasa getir.

Seruas bambu berasa tawar.

Seruas tebu berasa manis.

Tapi

Ketika belum meruas,

Kau sebut apa jika bukan dua titik bertumpu satu?

Atau satu titik berpribadi dua?

Adakah getir kunyit?

Atau tawar rebung?

Atau manisnya tebu?

Titik menjauh terbawa regangan masa.

Titik mengembang terisi pulasan rasa.

Masa dan rasa memanjangkan banjaran titik

Sambung menyambung menjadi sebilah garis

terukur satuan nisbi.

Kau sebut titik itu kecil?

Sekecil apa?

Bolehkah bulatan yang kau pijak ini kusebut titik –

Padahal ada bertrilyun garis melintang pukang?

Atau boleh kusebut jarak antara kita dengan Batara Surya itu garis

Sedangkan multi galaksi tak hingga

Mengingkari sang bola api raksasa?

Mata mensuperiorkan garis

Titik tersipu di balik kejujuran hatimu

Garis memeluk titik dalam buai rahasianya

Titik menjunjung garis dalam kekuatan rahasianya

Mana yang kau mau dalam keberadaanku? Sebagai titik atau garis?

Atau keduanya?

Tiada garis melainkan titik.

November 3, 2008 – 3:44pm

Gambar merupakan sebuah struktur kimia apabila dilihat oleh mata telanjang berbentuk benda.

DEG-DEGAN

DEG-DEGAN

Lagi deg-degan menunggu sesuatu yang dibilang pasti enggak, dibilang nggak pasti kok udah ada tanda-tanda kepastian. December? January? May?

Ya deh, may be yes may be no.

Pikiran jadi berkabut. Pengennya hanya kerja keras, ngumpulin uang sebanyak-banyaknya biar bisa beli buku banyak, beli rumah dengan halaman cukup luas buat nanem bunga anggrek dan pohon jamblang putih, mengakali dunia dan nyenengin orang-orang tersayang.

November 6, 2008 – 9:28pm

JADI PREMAN SESAAT

JADI PREMAN SESAAT

Suatu malam di penghujung October 2008, saya mau tak mau harus minta tolong abang becak lagi untuk mengantarkan saya bawa belanjaan masuk komplek. Saya agak amazed melihat abang becak yang berpenampilan rapi. Hem putih, celana katun dan bersepatu. Ada perasaan aneh menggayuti pikiran saya. Kayaknya abang ini bakalan sial deh, pikir saya.

Saya tidak langsung pulang melainkan mampir dulu ke Bu Prayogo, tetangga yang dulu pernah melayani jasa catering untuk saya dan teman-teman kantor. Setelah ngobrol tentang beberapa hal, saya pamit pulang. Setelah ritual pulang kantor selesai, saya mencari-cari handphone yang biasanya ada di saku dalam tas.

Wow, nggak ada. Di meja, nggak ada juga. Di tumpukan buku yang sedang saya baca, nggak ada. Segera saya bergegas ke tempat cucian; duh, jangan-jangan kerendem. Alhamdulillah tak terendam; karena memang nggak ada disana. Semua sudut saya gerayangi dan tidak ada penampakan.

Rumah Bu Prayogo…

“Tiwi… Ibu… Trayen…”

“Iya, Mbak?”

“Ada handphone saya ketinggalan nggak?”

“Enggak tuh.”

“Tadi saya duduk di meja makan.”

“Nggak ada tuh, Mbak…. Masuk aja, Mbak.”

Ternyata memang nggak ada. Wah, pasti ketinggalan di becak nih.

Dengan segera saya menuju pangkalan becak Mang Kosim dan mereka bergegas “mengawal” saya menuju pangkalan depan komplek.

“Permisi, Abang tadi yang ngantar saya ya?”

“Oh, iya Neng.”

”Ada handphone ketinggalan di becak Abang nggak?”

“Enggak Neng… Saya tadi nggak sempat periksa, Neng.”

“Abang setelah ngantar saya masih narik lagi apa kosong sama sekali?”

“Ada narik satu lagi, Neng. Kali aja penumpangnya yang nemu…” Si abang becak berhenti lama namun tiba-tiba berseru,”Eh, itu Neng mungkin temen saya Aziz tahu. Tadi habis saya narik, dia sempat ngelongok ke becak trus duduk sebentaran eh, terus nggak tahu kamana sampai sekarang teu kelihatan. Pedahal biasanya mah nongkrong di dieu sampai malam. Tidurna juga di dieu.”

“Aziz-nya dimana?” tanya saya.

“Teu ngartos, Neng. Saya yakin Aziz tahu, Neng. Saya mah sumpah pakai Quran juga berani. Begini ini saya kena getahnya.”

“Lho, Bang. Saya kan cuma nanya. Kalau abang nggak tahu ya nggak papa, tapi sekarang saya mau tanya rumah Aziz mana?”

“Di kontrakan.”

“Kontrakannya mana?” saya mulai mendesak.

“Dia mah tidurnya di dieu.”

Wah… Rusuh nih si abang. Terpaksa saya main ancam. Saya bilang saya mau lapor polisi tapi rupanya dengan sigap dia mengingatkan bahwa saya nggak bisa seenaknya karena nggak ada bukti. Hmm… Benar juga kalau gitu.

“Mang Kosim, anterin saya ke kiai kek, pusing deh urusan sama orang nggak takut dosa.” Saya segera naik becak Mang Kosim. Mang Kosim sendiri kebingungan dan mengarahkan becak ke arah… kantor polisi ha ha ha…

“Neng, Neng, Neng… Tunggu. Saya carikan Aziz dulu,” teriak abang becak yang tadi mau disumpah Al Quran.

Setelah lama berselang Aziz tak juga tiba bahkan setelah para abang becak melesat bersama becak-becaknya karena ketakutan pada tuah kiai. Padahal kiai siapa saya juga tak kenal ha ha ha… Mang Bogang ikut tertawa sesudah kejadian itu.

Tak berapa lama tukang parkir yang tadi janji pada saya untuk mencari Aziz tiba.

“Teh, si Aziz udah ketemu tapi malah pergi ke arah selatan ke Babakan sama si Rusdi. Gini aja, Teh. Kalau nanti handphone-nya ketemu Teteh mau memory card atau SIM card-nya saja?” tanya si tukang parkir dengan percaya diri.

Saya mulai naik pitam. Enak saja ini gerombolan lelaki mempermainkan saya.

“Eh, Mas. Saya kesini nanyain handphone saya ketinggalan di becak atau enggak. Kalau memang kalian nggak lihat ya sudah, jangan dioper-oper ke Aziz lah ke Rusdi lah. Lagian ngapain saya mau memory card atau SIM card? Saya itu ketinggalan hape bukan kartu doang!!! Ok, kalau tukang becak yang sering saya sewa becaknya nggak mau bantu, saya juga bisa bertindak kasar. Jangan mentang-mentang saya perempuan ya!”

Seketika saya ingat bahwa saya punya teman yang punya pengaruh di kalangan pedagang dan tukang becak dalam komplek (tukang becak yang berurusan dengan saya adanya di pintu komplek). Saya segera melesat menuju Blok A2.

“Assalamu’alaikum… Aji, Aji… bukain pintu dooong. Aduh tolongin gue dong. Masak handphone gue mau ilang lagi. Itu ketinggalan di abang becak Ceria Mart tapi nggak ada yang mau ngaku malahan handphone gue di-bargain-bargain.” Saya berondong teman se-gang saya dengan request maksa.

“Halah… Kenapa nggak dari tadi sih? Ini udah jam sepuluh lewat gue udah mau tidur.”

“Ya, udah kek. Tidurnya entaran aja. cepet keburu handphone gue dilelang. Mereka kayaknya udah bawa ke counter di Babakan.”

“Sapa nama abangnya?”

“Aziz.”

Dari jauh abang becak yang bergerombol kelihatan makin banyak. Tadinya hanya enam, sekarang sekitar 10 orang. A
duh, ntar kalau ada apa-apa kami cuma berdua nih.

“Eh, siapa yang lihat hape temen saya?”

“Ah, eh, Pak Haji. Itu si Aziz, Pak Haji. Ini si eneng temen Pak Haji?”

“Iya. Mana Aziz-nya? Kenapa nemu handphone nggak dibalikin ke yang punya? Kalian kan makan dari orang komplek kenapa masih mau dimakan juga?”

“Ini Pak Haji, si Aziz tadi yang simpen.”

“Ya kan kamu tahu eneng ini rumahnya mana kok nggak cepet dibalikin. Trus kemana Aziz sekarang? Ntar kalau macem-macem nggak usah lah mangkal disini lagi.”

“Iya, Pak Haji nanti saya suruh Aziz ke rumah Pak Haji.”

“Jangan ke rumah saya. Ke rumah si eneng ini. Cepet. Apa mesti didodor satu satu ini sama Pak RW?”

“Iya Pak Haji.”

“Cepet!”

Pukul 10:45 malam Aziz datang membawa handphone saya yang sudah sempat menjadikan saya preman amatiran. Melihat wajahnya saya nggak tega. Saya selipkan lembaran pink di telapak tangannya yang terasa dingin sekali. 100 ribu itu ide si Aji – nama aslinya Haryanto tapi karena sudah haji, kita panggil dia Aji aja biar gampang he he he…

“Terima kasih, Teteh. Saya nggak…”

“Udah, udah… Gua udah ngantuk nih. Besok aja lu datang ke tempat gua ya. Gua tunggu,” potong Aji sambil beruluk salam.

Kerumunan itu pun bubar dan saya segera kabur ke kamar. Terkenang gaya preman saya yang sempat berhasil ketika saya memaki kata “kiai” dan tidak mempan ketika saya memakai kata “polisi”. Saya berpikir apakah memang mantra kiai lebih sakti daripada interogasi polisi ya?

Belum lama saya dengar Aji memperingatkan Aziz kalau begitu lagi nggak akan dikasih pinjam uang. Halah… Hidup ini indah ya kalau semua orang jujur.

Bersyukur saya bisa jadi preman walaupun harus nyatut nama agama. Makasih Aji. Makasih “kiai”. J

November 4, 4:28am

Based on true story di akhir October, 2008

PERMAINAN DAN SENDA GURAU

PERMAINAN DAN SENDA GURAU

Terimakasih kepada para manusia yang dengan senang hati menangisiku dengan pengharapan, menampariku dengan pencapaian, merongrongku dengan keceriaan, meludahiku dengan ilmu.

Kalian tak lain hanyalah anak panah waktu sedangkan aku seekor burung di ujung penglihatanmu. Kita tak kunjung lelah berkejaran sebelum sang penunggang kuda mengistirahatkan lengan dari busurnya.

Kau permainannya, aku senda guraunya.

November 3, 2008 – 4:06pm

BOOMERANG

BOOMERANG

Terbang seperti burung

Berputar seperti gasing

Berdesing seperti peluru

Mendesis seperti semburan kembang api

Melintas di jalur lurus (yang pasti berbelok)

Tass!!!

Kutersungkur kesakitan.

Lemparkan saja

Kutahu kau memburu ketabahanku

Kusadar kau menginginkan keikhlasanku

Kucium rencanamu—

Membuatku tak berdaya di tempatku—

Supaya tak mengikuti langkahmu

Amboi…

Kau lupa kau bukan orang Aborigin

Yang ahli melemparkan boomerang dan menangkapnya

Sebentar lagi instrumen itu kembali pada punggungmu

Tass!!!

Kau tersungkur kesakitan.

Aku masih tersenyum geli

Melihat mata sombongmu mengemis

Mendapati jiwamu meronta

Memanggilku dalam diam

Haruskah kutertawakan si pengirim boomerang

Atau kutolong ia walau telah melukaiku?

November 2, 2008 – 6:29pm

MEMBANGUN BERARTI MENGHANCURKAN (ironi kehidupan terkasar yang pernah saya maknai)

MEMBANGUN BERARTI MENGHANCURKAN

(ironi kehidupan terkasar yang pernah saya maknai)

Tak jarang pembangunan membikin orang miris karena ternyata ada bagian dari masa lalu yang harus dikorbankan oleh pembangun(an). Filosofi ini agak ironis (boleh juga dibilang ngawur) tapi perlu dipahami bahwa petak hidup ini kadang hanya bisa subur dengan eksistensi rantai ironi (dan galengan* ngawurisme).

“Membangun berarti menghancurkan” adalah ironi terkasar yang pernah saya pahami dan maknai sampai saat ini. Pembangunan yang saya maksud bukan hanya berkaitan dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh para penggede yang kerjaannya ngurusin** rakyat. Yang saya maksud adalah segala pembangunan dan segala pembangun. Nah, sebutkan Sudara, pembangunan mana yang tidak pakai menghancurkan?

Jika Anda ingin membangun rumah, Anda terlebih dulu harus menghancurkan lapisan-lapisan tanah untuk keperluan pondasi atau Anda hanya sekedar menghancurkan bagian tertentu rumah atau bangunan lama. Tanpa itu, Anda tidak mungkin membangun kecuali Anda membangun rumah diatas genteng tanpa menghancurkan apapun. Mustahil karena perangkat pembangunan pun didapat dari hasil merusak; katakan lah batu bata dibuat dengan cara mengeruk permukaan tanah yang seharusnya bisa ditanemin kacang-kacangan.

Jika Anda ingin membangun sistem baru maka Anda mesti merombak (baca: menghancurkan) sistem lama dengan atau tanpa menghilangkan segelintir patahan sistem tersebut. Ganti orang kadang tidak perlu asal mereka masih bisa diberdayakan sebagai mur dan baut dalam mesin yang anyar (menurut para ahli lho).

Jika Anda ingin membangun jalan baru maka harus ada pengrusakan hutan, pemangkasan bukit, penggusuran warung atau pagar atau bahkan teras dan ruang tamu orang yang bahkan selama hidupnya mungkin belum pernah mengganggu kenyamanan manusia lain termasuk keluarga Anda.

Maka, wahai Pembangun, yang merajai kemuliaan fisik atau non fisik. Jangan pernah bilang bahwa pembangunan adalah untuk kebaikan semua orang. Mau tak mau, suka tak suka, ikhlas tak ikhlas, dalam jangka waktu pendek atau dalam kurun waktu lama atau bahkan selamanya akan ada orang lain yang Anda rugikan… karena pada sudut pandang mereka pembangunan yang Anda lakukan adalah perancangan sistem yang ideal hanya menurut sirkulasi daya pikirmu. Anda tak akan bisa memperbaiki sistem yang telah ada kecuali hanya secuil. Yang Anda bangun adalah peradaban sebagai pelarian dari sistem lama yang pernah membuat Anda tak puas.

Sekeras apapun kau berusaha membuat pihak-pihak tersebut mengerti tentang penting dan mendesaknya pembangunan tersebut mungkin tak akan berhasil sebab mereka tak mendapatkan dampak yang Anda iming-imingkan. Jika Anda tak bisa menjamin apa yang Anda ucapkan, cukuplah berikrar dan mencaci dalam hati saja. Biarkan saja korban Anda usang dimakan keserakahanmu.

Namun ingat dia akan berjuang melawan “kemungkaranmu” dan mengutuk Anda atau suatu saat menjadikan Anda korban dibangunnya sistem selanjutnya.

Tahukah Anda bahwa hikmah yang terpetik oleh pihak tersebut adalah: tersulutnya api juang demi membuktikan bahwa sistem Anda rapuh dan bobrok – tak patut berjaya. Dia akan mencabut akar-akar sistem Anda jauh lebih bersih daripada bersihnya Anda mencukur gundul perasaan optimis mereka – niscaya akar Anda hilang tanpa sisa dan didirikannya peradaban baru yang lebih sehat bebas dari cengkeraman pondasimu yang busuk dan membatu.

Pembangunan harus dimulai dengan penghancuran. Dimana posisi saya dan Anda? Tergantung seberapa perlu kita menjadi pembangun dan seberapa merugi kita sebagai korbannya.

Semoga bermanfaat dan membuat kita semua lebih bijak.

* galengan: pematang sawah (Bahasa Jaw
a)

** ngurusin: bisa berarti mengurusi atau bikin kurus (Bahasa Indonesia)

November 1, 2008 – 5:25pm (Blue03)

AKU INGIN (kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)

AKU INGIN

(kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)

AKU INGIN

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Tak tahu kenapa akhir-akhir ini saya lebih menikmati menulis puisi daripada bentuk lainnya. Atau paling tidak kalaupun ada genre lain, tetap puisi yang saya share dengan orang lain. Saya hanya merasa puisi membuat saya lebih total berekspresi. Saya mempunyai ruang yang sangat luas untuk mengeksplor emosi saya dengan permainan kata-kata entah dipahami sebagai belati bermata dua atau kata-kata bersayap. Saya hanya ingin mengeluarkan apa yang sedang saya nikmati jauh di lubuk hati saya. J

Puisi Aku Ingin diatas muncul beberapa minggu terakhir dan kembali mengeruhkan secawan air yang telah sempat memjernih beberapa saat, siap untuk diminum. Apalagi setelah seorang MP-er nge-posting puisi ini beserta musikalisasinya; saya merasa air dalam cawan itu tak akan pernah saya minum. Akan saya pandangi sampai puisi berjudul Aku Ingin di dalamnya kembali mengendap.

Jika kemudian air berubah bening, puisi Aku Ingin itu akan terus berada di cawan hati. Dikala haus, kutuang cairan yang kuingini: air atau anggur lalu kulihat puisimu bertebaran dalam adukannya kemudian berputar berpusar mengendap mendiami dasar cawan hatiku. Baru kureguk sebagai pelepas dahaga. Aku Ingin telah menjelma obat disaat kusakit, racun disaat kusehat. Aku Ingin akan tetap di tempatnya hingga benar-benar tiada.

Sebegitu hebat Bapak Sapardi melambangkan kekuatan cinta. Bagai kayu kepada api; sebegitu pasrahnya sang kayu hingga terbakar habis pun tak mengeluh. Dibuatnya sang api menari ditup bayu hingga dia sendiri habis menjadi abu. Tidak kah romantis… Abu itu hanya perubahan wujud, tak ada esensi yang berubah; hanya perubahan massa, tak ada energi yang bener-bener musnah. Ku telah menjadi kayu yang terbakar api. Ku telah terbakar cinta dan menunggu fase abu, ditebar di lautan dengan atau tanpa upacara.

Lalu awan hanya mewujud sekejap dan tiba-tiba turun hujan tanpa ada pamitan air kepada mendung. Pernahkah mendung menyeru air untuk mengempiskannya? Hujan turun tanpa aba-aba; seperti juga cinta yang tak perlu kriteria. Mendung hanya perlu kehilangan warna; dari hitam menjadi biru semburat putih gemilang pertanda keikhlasan yang tak terukur membebaskan cintanya mengembara untuk suatu saat nanti berkumpul kembali dalam jalinan yaang tak terdefinisikan. Mana hujan ketika dia bersama mendung?

Apa yang telah api lakukan kepada kayu? Menghabiskannya.

Apa yang telah hujan lakukan kepada awan? Meniadakannya.

Kayu habis, api mati.

Mendung sirna, hujan reda.

Dimanakah cinta?

Pada api dan hujan?

Atau pada kayu dan awan?

Atau tidak pada keduanya?

Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.

Yang tak membuatku merasa ditiadakan walaupun telah dihabiskan.

Yang tak membuatku merasa diabaikan walaupun telah ditiadakan.

Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.

Bagai cinta seorang kekasih kepada Kekasihnya.

Bagai cinta seorang kekasih kepada kekasihnya.

October 31, 2008 – 12:12am

GELEMBUNG KERINDUAN

KERINDUAN

Kerinduan adalah gelembung udara yang mengurungku, membangkitkan kesadaran tentang sebuah kehidupan yang membalut hati namun tak teraba-terasa oleh syaraf jariku.

Jika gelembung itu pecah maka hadirlah aliran udara mengipasi jantung yang berkeringat berpacu mengejar namamu. Sehabis itu atas nama cinta terderaku oleh pudarnya keyakinan bahwa rindu itu terformulasi obatnya. Rindu tertawar oleh bahagia. Dua titik terpadu bercengkerama melantunkan rayu syahdu menggelora. Waktu terhenti setatapan mata.

Lalu kuhirup udara ketika detik menepukku. Lagi, gelembung itu membungkusku saat kuhembuskan napasku mengantar langkahmu.

October 31, 2008 – 1:16am

KITAB-KITAB, BACAANKU

KITAB-KITAB, BACAANKU

Kitab baru yang kubaca ini tak kalah tebalnya dengan kitab tuaku

Kitab tuaku kubaca setiap hari walau hanya selarik dua di salah satu halamannya

saja

Cukup lah untuk orang malas macam aku

Kitab baru yang kubaca ini pasti tak hanya kubaca selarik dua di beberapa halaman saja

Akan kutuntaskan hingga tulisan di sampulnya

Cukup lah untuk orang malas macam aku

Mengapa kitab yang harusnya kukaji kubaca selarik kalimatnya

saja?

Sedangkan kitab baruku ini kuhabiskan dan menelan lebih banyak waktuku?

Cukup lah untuk orang malas macam aku

Mungkin karena kupikir si tua siap kapan pun kumau

Mungkin yang lama tak mudah kucerna jalan ceritanya

Mungkin yang ini lebih jelas alur ceritanya

Mungkin yang belakangan akan segera dimakan rayap jika tak segera kulahap

Yang pasti

Kitab tuaku tetap jadi warna celupku

Yang pasti

Kitab tuaku tetap kudekap mesra

Yang pasti

Kitab baruku mewarnai indah jiwaku

Yang pasti

Kitab baruku menajamkan gradasi jiwa

Segala kitab, segala masa, segala kubaca sekuatku

Cukup lah untuk orang malas macam aku

October 29, 2008 – 10:36pm

Keterangan gambar:

1. Multi-galaksi – kitab yang terbentang

2. Library of Congress, USA & dome (kubah) di dalamnya. Saya pengen kesana. Kalau boleh sekalian nginep dan baca gratis sepuasnya. J

TRAUMA JATUH (puisi)

TRAUMA

Kujatuh di parit

Yang penuh dengan batu

Sulit ‘tuk bangkit kembali

Karena tungkaiku terkilir,

Kepala pening,

Mata berkunang-kunang.

Duh, Gusti

Jalan mana lagi yang mesti kulewati

Kalau hanya ada yang satu ini?

Ini rupanya yang dinamakan trauma.

October 25, 2008 – 10:19pm

TRILOGI SERASA (puisi)

TRILOGI SERASA

SERASA DI ANGKASA

Seperti bernapas di angkasa

Sesak miskin udara mengalir ke rongga dada

Tapi air mata tak mau lagi bermain selancar di pipi

Hanya raungan singa marah dalam hati

Desau angin menyiulkan nada kekeringan

Kecipak danau di gua mengetukkan nada kerinduan

Kuteriakkan

Kuteriakkan sekali lagi

Kapan kau buai aku di pelukanMu?

October 24, 2008 – 10:32pm

SERASA DIPELUK BUMI

Seperti bernapas dalam pelukan bumi

Sesak tak ada hawa sama sekali

Tapi teriakan tak lagi bersuara

Hanya rintihan hati tak berirama

Kerjap bintang-bintang tertimbun tanah

Rona muka bulan berlabur susah

Kuhentakkan

Kuhentakkan sekali lagi

Kapankah Kau buka belenggu?

October 24, 2008 – 10:37pm

SERASA DIAYUN ANGIN

Seperti berayun-ayun di buaian tanpa tali

Berayun kesana kemari, bebas tanpa henti

Meluncur dari titik ekstrim kiri ke ekstrim kanan

Tak berkurang momentum berpercepatan

Pendulum itu berbandul aku

Berpendaran energy penuh ragu

Kuhentikan

Kuhentikan sekali lagi

Kutunggu tandaMu sebelum ku kembali melaju

October 24, 2008 – 10:42pm

RECTO VERSO

RECTO VERSO

Semangat baca yang selalu ada ketika membaca tulisan Dee (Dewi Lestari) memang masih disana ketika aku membaca buku terbarunya yang bertajuk Recto Verso.

Terdapat 11 cerita pendek dirangkum dalam buku itu dan 11 lagu di CD dengan tajuk yang serupa, Recto Verso. Setiap cerita pendek ditemani oleh satu lagu dengan judul sama persis dan didesain dengan kerangka yang sama juga. Perkelindanan antara cerpen dan lagu inilah “senjata” Dee untuk memikat para pembaca. Dia menyebut karya ini sebagai hibrida; dalam hal ini mari kita sebut sebagai produk persilangan dua jenis karya seni yang berbeda bentuk dan sifatnya sehingga menghasilkan sebuah karya seni baru dengan sifat yang baru sebagai kombinasi dari sifat berbeda di awalnya.

Recto Verso sendiri berrati dua halaman yang berhadapan. Verso adalah halaman sebelah kiri, Recto adalah halaman sebelah kanan. Cerpen dan lagu itu dimaksudkan sebagai simbol dua halaman yang berhadapan yang notabene adalah halaman yang menampung topik yang bersambungan; dua hal yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan.

Membaca cerita pendek di buku ini tak membuat saya mengalami kebosanan karena seperti biasa kosakata dan gaya cerita Dee memang sudah khas. Filosofis sekaligus lugas, alur lambat sekaligus dengan kejutan. Lembut sekaligus kuat. Gaya Dee masih seperti dulu.

Tapi… jujur adanya bahwa saya merasakan kekuatan yang menghilang dari tulisan Dee dalam Recto Verso. Di buku-bukunya yang lalu (Supernova dan Filosofi Kopi), saya menemukan Dee yang tak sedikitpun memiliki “kecengengan” sekalipun harus menceritakan kisah patah hati. Dalam Recto Verso ini aroma curhat sangat kuat seperti harumnya asap yang menyeruak dari seduhan kopi luwak.

Beberapa cerita yang mengundang kesan melankolis kental menurut saya adalah Curhat Buat Sahabat, Selamat Ulang Tahun, Hanya Isyarat, Peluk, Grow a Day Older, Firasat dan Back to Heaven’s Light.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh Dee dan 2 vokalis lainnya semua beraliran easy listening dan slow. Tak satupun lagu berirama menghentak. Kesan yang saya tangkap adalah kepolosan seperti gaya cerita dalam bukunya. Tak ada hentakan sama sekali. Lagu yang menurut saya memiliki kekuatan lebih adalah Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat dan Firasat (lagu ini pernah dipopulerkan oleh Marcel, mantan suami Dee).

Entah benar atau tidak, saya menyimpulkan bahwa buku ini lahir dari kejujuran perasaan dan pergulatan batin Dee selama 2 tahun sebelum akhirnya cerai dengan sang suami saat itu. Tak salah jika aliran sungai cerita itu adalah pengikhlasan kepergian orang yang dicinta oleh orang yang mencinta.

Lepas dari kuat atau tidaknya gaya yang pernah Dee tawarkan melalui buku-buku sebelumnya, Dee masih tetap tampil berbeda dari pengusung sastra wangi yang pernah ada. Saya beri bintang 3 dari 5.

Recto verso bisa dibeli sekaligus sebagai paket (buku dan CD) atau satuan (buku saja atau CD saja.

Dengar fiksinya, baca musiknya.

http://www.dee-rectoverso.com/

October 19, 2008 – 4:01am

KACAMATA KITA

KACAMATA KITA

Awalnya sangat sederhana yaitu ketika melihat seseorang yang memakai kacamata hitam dengan senyum manisnya tapi ketika dilepas, terlihat sangat kentara matanya bengkak akibat menangis.

Kacamatanya telah dengan sukses menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya sehingga orang lain “tertipu” karena mengira bahwa dia baik-baik saja. Kacamata disini mari kita arikan sebagai keceriaan buatan karena memang dalam bermasyarakat kita tak disarankan mengumbar kesedihan kita. Tetap ceria adalah penawaran pribadi yang akan membuat pergaulan makin mutualis. Tidak adalah yang ingin punya banyak teman karena senyum yang selalu mengembang.

Kacamata bisa juga diartikan lain. Jika Anda memakai kacamata berwarna hijau maka sekeliling Anda akan berwarna hijau; jika hitam, berwarna gelap; jika merah, berwarna merah; dan seterusnya sesuai warna kaca yang Anda tempelkan di bingkainya. Kacamata dengan fungsi warna ini perlu dicermati secara lebih mendalam. Jika kacamata penutup kesedihan hanya akan membuat orang lain bersuka dan diri kita lebih nyaman, maka kacamata jenis ini bisa saja merubah dunia sang pemakai.

Jika kita tak sadar bahwa pandangan kita terhalang oleh kaca mata kita, kita tak bisa lagi memandang dunia sebagai mana adanya. dunia menjadi seperti yang “terhalang” oleh warna kaca yang kita pasangkan pada bingkai kacamata kita. Jika kaca yang kita pasang sedih, dunia jadi sediiiiih terooos. Jika terlalu ceria, maka ketawa terus tanpa sadar bahwa dunia tidak hanya sarat dengan tawa. Jika terlalu keras, maka dunia tak punya warna sama sekali. Maka jika Anda ingin merubah dunia, jangan repot-repot mengecat dengan warna-warna yang sesuai dengan kriteria Anda; tapi lepas saja kacamata Anda. Gampang kaaan…

Jika terpaksa memakai kacamata untuk menormalkan jarak fokus, kaca berwarna bening adalah pilihan terbaik. Jika kaca yang Anda kenakan jernih maka Anda akan mampu menangkap segala warna. Tidak hanya warna pelangi mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu) tapi segenap gradasi dapat Anda tangkap dengan kejernihan pandangan Anda. Tapi jujur, beningnya pandangan membutuhkan latihan. Yang biasanya mata ketutupan warna hitam, kini harus berjumpa warna-warna terang. Bisa silau sesaat… Yang biasanya berkutat dengan warna gonjreng, kini mesti rela berbagi menikmati warna yang muram. Bisa rabun sebentar…

Dunia ini penuh warna. Tak mudah tuk menerimanya tapi tak bijak untuk mengabaikannya. Ayo semua kita gambar cita-cita kita pada kanvas dunia dengan warna alami yang mencerahkan dan mengayakan jiwa dan raga kita. Kalau memang masih perlu kacamata, ada baiknya dipakai seperlunya sesuai fungsi sehingga jiwa kita tak tersiksa hanya karena kita tak mampu melewatkan usia kita untuk mengecat dunia ini dengan warna yang kita inginkan.

Dunia…. Sambutlah aku, kubuang kacamata warnaku. Kusongsong engkau dengan suka cita. Tak perlu lagi aku tersenyum dengan kacamata hitam tuk menyembunyikan mata bengkak karena engkau tak akan mengabaikanku hanya karena aku bisa tertawa sambil menangis ataupun menangis sambil tertawa.

October 19, 2008 – 12:12am

NAMA ANDA, PANGGILAN ANDA?

NAMA ANDA, PANGGILAN ANDA?

Ngobrol-ngobrol sama Mbak Shafa eh eh Mbak Indah ibune Shafa, saya dapat ide yang menyegarkan sekaligus menggetarkan karena mengingatkan kepada sesuatu yang bisa saja membuat orang tua merasa menyesal memberikan nama sampai mikir pusing-pusing. Ide itu datangnya dari nama seseorang yang tak terpakai gara-gara sekarang dia dipanggil Tampah.

Saya yakin Anda semua memiliki nama yang tak kalah hebat artinya dibanding orang-orang yang dianggap hebat di dunia ini. Contohnya: Soekarno artinya “telinga yang bagus” alias “pendengaran yang bagus”. Nama sebagus itu tak dipakai sejak kecil untuk memanggil pemilik nama; sebagai nama awal dan nama panggilannya adalah Kusno. Masih bagus karena Kusno dari kata Husna berarti bagus.

Berikut contoh nama indah yang tak terpakai dalam pergaulan dan penggantinya.

NAMA ASLI

NAMA PANGGILAN

ARTI PANGGILAN

Sushi Hariati Widiastuti

O’ok

Ikhwan

Geyong

Menggantung (bibirnya)

Nining Catur Utami

Cekot

Cacat tangannya

Windarti

Kicak

Makanan dari singkong

Siti Masruroh

Bekecot (Kecot)

Siput

Indra

Kancut

Celana dalam

Sapto Wibowo

Mbot

Abas Hassan

Wedhus

Kambing

Pristiawan

Emprit

Burung kecil

Wahyudi Wibowo

Botak

Tanpa rambut

Dieta Maharitza

Tonggos

Maju giginya

Mahendra Wardhani

Nonong

Jenong dahinya

Retno Kelasworo Subijanto

Ninol

Kartun di majalah Hai

Yogi Permadi

Siran

Nama orang gila

Sukardi

Ndendo

Bodoh

Puji Astutik

Timbul

Gendut

Haryadi

Bothok

Masakan Jawa

Eka Susanti

Tomblok

Wadah dari anyaman bambu

Tatag Heru Rudhata

Pereng

Hitam

Yudianto Tanu Wijaya

Katul

Bekatul (ortunya bos bekatul)

Silakan ingat-ingat apakah Anda punya teman yang nama aslinya Anda lupakan dan hanya Anda ingat nama panggilannya? Saya jadi malu karena sebenarnya saya masih ingat sekitar selusin nama panggilan dan wajah teman-teman itu tanpa ingat nama pemberian dari orang tua mereka. Jangan-jangan mereka juga mengenang wajah saya dengan nametag wadanan (nama panggilan dengan tujuan olok-olok, Bahasa Jawa) saya.

Hidup ini serasa seperti OSPEK, kita dipanggil dengan nama yang tidak kita kehendaki kehadirannya. Ada rasa malu, rasa minder tapi kemudian timbul rasa bangga karena nama itu membuat kita eksis diantara sahabat yang ternyata tak pernah lupa menyayangi kita dengan atau tanpa nama yang punya arti tinggi sebagai doa orang tua kita. Saya berharap semoga arena OSPEK ini membuat kita benar-benar lulus ujian mental dalam kehidupan sosial yang jauh lebih “menguji” daripada sekedar memberikan nama buruk sebagai olok-olok untuk kita.

PS:

Nama-nama tersebut diatas saya comot tanpa ijin pemiliknya tapi saya akan segera menyampaikan maaf sebesar-besarnya kepada mereka karena telah membuat mereka terkenal dengan cara yang tak beradab dan mungkin akan mempengaruhi nama baik mereka. J

October 19, 2008 – 1:11am

Beberapa hari ini tulisan saya tergolong confidential sehingga kalaupun selesai dan saya posting, saya hanya men-display untuk beberapa inviduals yang saya rasa perlu membaca ide dan curhatan itu. Kadang hidup ini mesti sangat sempit sehingga hanya beberapa orang saja yang bisa kita percaya untuk mendengarkan dan memahami kita secara benar.

Segelombang ide yang saya telan sendiri pun akhirnya menjadi bahan perenungan saja karena memang ada hal yang tak mungkin saya nikmati kecuali bersama kesunyian yang dikaruniakan kepada saya oleh Kang Murbeng Dumadi.

Terkadang saya merasa bahwa saya adalah orang yang paling berbahagia karena disaat bimbang pun saya masih bisa sanggup menerima orang lain untuk menikmati kebimbangan saya dengan cara berbagi bersama untuk menertawakan kebodohan dan kedangkalan berpikir saya. Namun jujur kadang saya menjadi orang yang sangat pelit dan kemudian merasakan semua sendiri dalam suasana yang tak bisa sedikitpun saya ungkapkan kecuali kepada orang yang sejak awal telah mengetahui siapa saya dalam kondisi tersebut.

Pernah saya curhat tentang sebuah masalah yang menurut saya amat sangat berat karena berhubungan dengan kelangsungan keseimbangan hidup saya; dan yang saya curhati adalah orang yang membuat saya merasa seperti itu. Saya merasa bahwa dialah yang tahu bagaimana saya mendapatkan problem itu dan saya berharap bahwa apa yang saya rasakan dapat dia pahami. Saya tidak tahu apakah itu cara tepat. Yang pasti dengan curhat pada dia, saya bisa lebih mengerti bagaimana dia memahami saya dan dirinya sendiri dan rahasia itu tetap terjaga. Saya tidak memperlakukan dia sebagai musuh sekalipun dia yang telah menghancurkan langkah saya. Saya tidak bermaksud mengganggu dia sekalipun dia yang telah menimbulkan kegoncangan dalam beberapa babak hidup saya dan mungkin akan berlanjut ke babak-babak berikutnya.

Hidup ini memang kadang aneh. Penuh dengan pertimbangan yang tak mudah dipahami. Penuh dengan gelombang yang kadang tak kunjung surut. Penuh dengan emosi yang warna-warni. Penuh dengan letusan pengejut yang membuat kita tak mampu berkata-kata.

Hidup ini indah tapi kadang tak terlukis dengan lukisan dengan media apapun kecuali perasaan hati.

October 18, 2008 – 3:11pm

PENAMPILAN BARU MP SAYA BIKINAN MBAK ZEVENTINA

PENAMPILAN BARU MP SAYA BIKINAN MBAK ZEVENTINA

Awalnya saya tertarik sekali dengan bintang-bintang yang bisa glowing di halaman Multiply saya. Nah, saya pernah lihat salah satu postingan Mbak Zeventina yang tentang background berupa bintang-bintang yang berkelip-kelip di angkasa raya. Terbayang bagaimana kalau langitnya berwarna hitam mendekati ungu. Saya sempat PM Mbak Zev tentang hal tersebut.

Gayung bersambut, ternyata Mbak Zev berbaik hati posting tentang satu CSS yang glowing in the dark berbintang-bintang dan menawarkan pada para pembaca untuk PM dia perkara CSS-nya.

Penuh semangat saya PM Mbak Zeventina dengan pesanan warna ungu. Berhubung CSS dengan warna ungu kurang cocok menurut sang desainer, saya disarankan untuk memakai yang hitam dulu dan belaiu mau ngutak-utik wampai menemukan warna ungu yang cucok. Udah kayak terbang aja rasanya, saking senengnya. Lagi sedih, ada juga yang menghibur J

Mbak Zeventina nih udah cantik, baik pula. Silakan dilihat foto Mbak Zeventina yang saya dapat dari hasil googling saya J. Maaf Mbak Zev kalau itu bukan yang tercantik menurut dikau. Tapi itu yang paling mewakili deskripsi “cantik dan baik”.

Matur nuwun, Mbak Zev. Saya tunggu edisi ungu yang cucoknya he he he…

October 14, 2008 – 11:16pm

JAGUAR + BMW + X-TRAIL VERSUS MIO?

JAGUAR + BMW + X-TRAIL VERSUS MIO?

Ada sebuah kisah yang lucu yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya lantaran cerita ini berupa sebuah ujian mental yang jawaban jujurnya tidak berbanding lurus terhadap pengetahuan seseorang terhadap jenis kendaraan tetapi lebih berbanding lurus terhadap pengetahuannya tentang apa yang sedang dia harapkan dan berbanding terbalik dengan kelaziman masyarakat materialistis pada umumnya.

Suatu hari ada seorang wanita yang sudah cukup umur dan dirasa telah siap memiliki keluarga alias menikah. Telah beberapa kali sang wanita menemui kegagalan dan sebenarnya terakhir kali keluarga si wanita “mencium” gelagat tak baik berupa adanya kegagalan selanjutnya. Sebenarnya memang benar walaupun keluarga si wanita tak mengetahui seluk-beluk kegagalan yang terakhir ini.

Maka dikenalkanlah anak wanita mereka ini dengan seorang yang dinilai sukses oleh sebagian kelompok masyarakat. Si lelaki memiliki bisnis yang cukup kuat, memiliki rumah, memiliki kendaraan dan disinyalir sebagai seorang alim terjaga yang kalis terhadap godaan wanita sampai usianya yang kesekian.

Sang wanita berpenampilan sederhana saja namun memang kesannya keibuan dan pencinta anak-anak. Selera humornya cukup dan memiliki kemauan belajar yang cukup besar. Sang lelaki berwajah tampan, sekilas seperti Once Dewa, berambut lurus sebahu, tinggi, berkulit putih dan tak banyak bicara.

Diaturlah pertemuan kecil antara dua wakil keluarga dan dua manusia yang diharapkan menyambung tali persahabatan tersebut menjadi tali persaudaraan. Dan, kakak si lelaki memulai perkenalan; ini dilakukan karena konon sang lelaki “tak nyaman” menceritakan apa yang telah dia raih selama ini.

“Redo* ini adik kami yang bisa disebut manusia langka. Mengapa manusia langka? Karena dia tak sedikit pun membiarkan kehidupannya ternoda. Sekalipun wanita cantik berkeliaran di sekitarnya tak sedikit pun dia membiarkan dirinya tergoda oleh mereka. Ibaratnya disodorin pantat pun dia tak tergoda. Dia juga sudah siap menghidupi keluarga. Gajinya hampir 300**, belum terhitung pasive income dan property. Di garasi dia tak kurang tiga mobil mewah berjejer: satu Jaguar, satu BMW dan satu X-Trail. Yang dia pakai sebagai kendaraan operasional adalah X-Trail karena memang dia figur manusia rendah hati. Jaguar dan BMW-nya dia kudungin aja di garasinya. Sesekali saja keliling kota pakai Jaguar atau kondangan pakai BMW.”

Tentu keluarga si wanita melambung karena merasa bahwa salah satu anggota keluarganya telah menjadi calon istri seorang jutawan. Namun tak disangka, tak dinyana sang wanita justru membuat pernyataan yang mengejutkan.

“Abang, saya tidak bermaksud apa-apa. Siapa gerangan yang tak menginginkan harta dunia. Tapi sejujurnya saya masih ingin berkenalan dahulu dengan Bang Redo. Saya ingin meyakinkan dahulu bahwa saya memang yang terbaik untuk dia dan sebaliknya. Kalau masalah jalan-jalan keliling kota, biarlah saya ikut sahabat saya yang insya Allah selalu siap membawa saya keliling kota memakai Yamaha Mio merahnya.”

JEGGER!!!

Suasana silaturrahim menjadi agak membingungkan: antara kaku dan menggelikan. Sebagian orang menganggap sang wanita bersikap bodoh karena menolak rejeki nomplok dan segera menajamkan mata mereka menelanjangi sang wanita hingga tinggal badannya saja. Sebagian lelaki celingukan mencari mata kawan yang mengandung kesetujuan atau ketidaksetujuan yang sama.

Rupanya sang juru bicara alias si abang tanggap benar akan yang dimaksud sang wanita dan segera mengeluarkan statement untuk mencairkan suasana.

“Oh Yamaha Mio? Insya Allah nanti akan ada juga di garasi Redo, adikku.”

Sang wanita tersenyum kecut lalu berkata dengan sangat sopan dan manis,”Alhamdulillah, Abang. Nanti saya pesankan juga pada sahabat saya untuk pindah juga ke rumah Bang Redo. Semoga Bang Redo mendapatkan wanita yang bersedia jalan-jalan keliling kota dalam Jaguar hitam atau BMW abu-abunya. Saya cukup Yamaha Mio merah saja…”

Dasar wanita bodoh, batin si abang lalu dia berkata,”Baikkah jika demikian, saya telah memahami apa yang kau maksud wahai Putri; maka kau akan kami angkat sebagai adik kami. Ikatan persaudaraan itu akan membuat kamu tetap kami kenang sebagai orang yang sederhana dan bersahaja. semoga perkenalan ini tak sia-sia. Kita menambah saudara malam ini. Baiklah, kalau kau besok mau berangkat pulang ke Jakarta bareng Redo, dia akan tetap siap dengan X-Trail-nya. Semoga doa dalam hatimu juga terkabul, adikku.”

Lalu mereka makan bersama dengan senyum yang beraneka: kecut, pahit, manis dan tulus ikhlas.

*Nama samaran

**juta

Berdasarkan kisah nyata pada October 11, 2008

October 13, 2008 – 10:53pm