SEKANTONG JAMBU AIR IBU SRI

SEKANTONG JAMBU AIR IBU SRI

Sudah bertahun-tahun saya mengenal ibu yang satu ini dan makin lama makin saya paham betapa hangatnya pribadi beliau.

Dua minggu yang lalu beliau masuk rumah sakit karena DBD dan saya sempat menjenguknya dua kali. Kali pertama adalah hari pertama, itupun tidak sengaja.

Saya sengaja pulang cepat hari itu (Senin May, 2008) karena dua alasan:

  1. Permintaan tolong untuk meleraikan pertengkaran beberapa teman saya.
  2. Asam lambung saya naik dan terasa sangat perih tidak kuat menehan mual dan perih.

Di patas AC 138 jurusan Blok M-Tangerang saya mencoba menghubungi seorang teman kecil saya, Latifah Danirmala (8 tahun, putri pertama Mbak Wulan, sahabat saya) yang buat saya adalah seorang teman curhat yang bisa mengerti saya tanpa saya harus menjelaskan apa masalah saya. Kami saling menghibur dengan tatapan dan cerita-cerita lucu kami.

“Bu Rike, Mbah Titi di rumah sakit dianter ibu tadi pagi. Tapi aku nggak tahu sakitnya apa dan rumah sakitnya dimana. Aku bangunin ayah dulu ya.”

Dari ayah Lala saya mendapat info bahwa mbah putri Lala yang bernama Ibu Sri Murwani dirawat di RS Sari Asih Tangerang.

“Oke Mas, aku langsung kesana aja. Ntar aku tanya ke Mbak Wulan ruangnya apa.”

Segera saya menelpon teman saya yang ternyata urung memerlukan jasa saya sebagai juru damai, yang berantem udah pada nangis nyesel Mbak, kata yang menelpon saya. Dengan bersenjatakan sekantong plastik susu beruang (pada saat diperah si induk beruang harus dibius dulu kali ha ha ha) dan dua bungkus biscuit Roma saya menyambangi Ibu Sri yang ternyata sedang sendiri karena ibu Lala harus pulang dulu mengurus anak-anak. Karena bertepatan dengan makan siang maka saya merasa terpanggil untuk menyuapi beliau. Menunya: nasi putih, sop rasa Aqua, empal dan tempe goreng rasa hambar. Beliau diet garam rupanya.

Kali kedua adalah hari ketiga beliau dirawat, malam hari setelah saya dikabari ayah Lala via Yahoo Messenger bahwa Ibu Sri terserang DBD. Saya bawa Poccari Sweat kalengan untuk si sakit serta CocaCola dan Nescafe untuk yang menemani beliau. Disitu saya punya kesempatan pertama dalam hidup saya untuk mengerjai Ibu Sri: Ayo Ibu, minum angkaknya. Ayo dong. Ini saya maksa lhoo…

Minggu pagi saya menerima sms “Ibu pulang Jumat pagi. Sekarang sudah sembuh berkat bantuan doanya. Semoga sehat selalu”. Karena Ibu Sri hobi jalan-jalan maka saya jawab “Alhamdulillah. Semoga cepat segera kuat biar kita bisa jalan-jalan lagi”.

Minggu June 8, 2008. Saya sedang browsing internet ketika Ibu Sri menantang akan datang sendiri ke tempat saya demi mengantarkan jambu air andalannya. Saya jadi tidak enak karena seharusnya saya yang lebih muda yang harus berkunjung ke beliau yang sudah hampir 60 tahun itu.

Seperti biasa kami saling bertukar cerita dan pengalaman terkini dan ketika saya menunjukkan majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2008 beliau kembali mengenang perjalanan beliau ketika bergabung rombongan Coca Cola Foundation melancong ke Kasepuhan Ciptagelar di Gunung Halimun sana. Ngomong punya ngomong akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan bersama. Ke Kasepuhan Ciptagelar? Tidak… Kami akan ke Green Canyon Cijulang saja yang lebih mudah untuk ditempuh oleh beliau. Andai ibunda saya bisa bergabung ya…

Sambil makan jambu air yang pemiliknya belum pulang saya menunjuk-tunjuk kalender dan sepakat untuk berkunjung kesana bulan Agustus mendatang. Kami tertawa-tawa gembira. Aduh senangnya hati saya, dikunjungi piyantun sepuh (orang tua – bahasa Jawa). H
anya gara-gara setas plastik jambu air belaiu rela nyetir mobil sendiri malam-malam. Pasti bukan hanya karena beberapa buah jambu air yang takut habis dibagi-bagi sedangkan saya yang sudah ngiler sejak beberapa bulan lalu tidak kebagian. Pasti ini demi sebuah silaturahmi.

RENGGINAN DI RUMAH KOST

RENGGINAN DI RUMAH KOST

Orang Jawa tulen pasti tahu rengginan. Rengginan dikenal di seluruh telatah (wilayah) tanah Jawa dengan nama yang berbeda tergantung pemberian masyarakatnya. Dia bisa rengginan, arang-arangginan atau rengginang. Bagi Sudara yang belum tahu rengginan, ketahuilah bahwa dia adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu dibumbui bawang dan garam, dibentuk bulat besarnya sesuai selera lalu dijemur dan jika sudah kering bisa digoreng dan dihidangkan. Rasanya renyah dan gurih. Warna bisa mulai dari putih (warna asli ketan putih), ungu kehitaman (warna asli ketan hitam), merah, kunih, hijau. Sampai saat ini belum ada warna lain.

Bagi anak muda Jawa jaman sekarang rengginan bukan lagi makanan istimewa. Dia sekedar pajangan pelestarian budaya yang kalau tidak di-uri-uri (dilestarikan) akan kualat pada nenek moyang. Terciptalah rengginan dengan rasa manis, rasa keju dan segala rasa yang ujung-ujungnya rengginan-rengginan yang tradisional juga. Makanan kampung.

Kenapa saya pilih rengginan? Karena bagi saya rengginan adalah sebuah perlambang sekaligus kenangan saya pada saat saya kuliah, kost jauh dari orang tua.

Saya dulu kost berpindah-pindah. Dari Gubeng Airlangga III ke Gubeng Airlangga I ke Gubeng Airlangga VI ke Asrama Putri ke Gubeng Kertajaya ke Karangmenjangan. Di salah satu tempat itulah rengginan mendapatkan kehormatan tiada tara.

Saya biasa pulang sebulan sekali ke kota saya yang waktu tempuhnya 3 jam kalau naik bis patas (patas di Jatim selalu pakai AC) atau 4 jam pakai bis non patas. Tiap kembali ke Surabaya saya tak lupa membawa oleh-oleh yang tidak selalu enak dinilai lidah teman-teman saya yang juga berasal dari luar Surabaya; saya yakin mereka kenal rengginan tapi tidak menggemarinya.

Pada suatu hari saya balik ke Surabaya membawa rengginan mentah titipan ibu saya. Saya pribadi bersedia membawa rengginan itu karena saya telah membuktikan bahwa rengginan yang dititipkan itu rasanya Recommended. Sangat tidak biasa. Lezat. Ibu kost dan keluarga mengakuinya.

Namun sayangnya teman-teman saya tidak mempercayainya. Begitu tahu bahwa saya hanya membawa rengginan mereka kecewa dan tertawa-tawa.

Kurang ajar benar mahasiswi-mahasiswi yang mengaku sholehah ini.

Di akhir bulan, biasanya kondisi keuangan kami menipis dan terpaksa kami mengirit termasuk beberapa orang yang uang jatahnya berlipat ganda dibanding uang jatah saya. Mereka inilah yang mengejek rengginan saya.

Dengan kreatif saya dan teman sekamar saya mengeluarkan makanan sakti kami berupa rengginan yang tentu saja telah berkurang karena saya dan dia menikmatinya setiap hari sambil belajar.

Ternyata orang-orang kaya yang sedang melarat itu mau juga memakannya. Awalnya malu-malu, lalu coba-coba kemudian… Wah, ternyata mereka doyan bahkan mereka makan lebih banyak. Kabar baiknya, saya masih ingat merekalah yang menghabiskan rengginan saya.

“Enak lho Mbak… Siapa yang bikin?”

“Ini pasien ibuku melahirkan, trus gak bisa bayar penuh nglunasinnya pakai rengginan. Bener nih enak?”

“Iya. Bener. Masih ada nggak yang mentah? Kita goreng lagi yuk. Biar aku yang beli minyak.”

Saya terkagum-kagum lalu tercenung. Apa benar mereka menikmati rengginan ini? Atau hanya karena mereka sedang mengurangi pengeluaran sambil menunggu ATM mereka penuh kembali?

Saya membayangkan orang-orang kaya di sekitar saya saat ini sebagai teman-teman kuliah saya yang kaya yang menghabiskan rengginan malang itu. Apakah mereka memang menikmati “penjarahan” itu karena mereka menyukai rasa hasil jarahan atau karena mereka mengadakan “perburuan” karena kebutuhan? Saya tidak pernah tahu karena saya tidak menawarkan rengginan lagi sejak saat itu.

MULTI LEVEL MARKRITING

MULTI LEVEL MARKRITING

MLM…

Tiga huruf ini mengingatkan saya ada orang-orang yang kukuh dan gigih dengan apa yang dia yakini dan lakukan.

Sebelum saya menjadi MP-er (Multiplier) seperti sekarang, saya pernah mengajar di sebuah lembaga pendidikan yang sampai saat ini masih saya anggap sebagai rumah saya karena saya sangat dekat secara pribadi dengan personnel-nya. Dengan para students-nya saya juga cukup dekat. Mungkin karena saya suka SKSD (sok kenal sok dekat) dengan mereka sehingga saya pernah dinobatkan menjadi pengajar tertenar. Sebuah gelar yang tidak membuat saya bangga tapi membuat saya sangat bersyukur karena saya diakui punya banyak teman.

Apa hubungannya dengan MLM?

Seorang student saya memiliki cita-cita menjadi historical MLM-er menjadi member termuda yang menduduki peringkat “duta besar bermahkota”. Dia menjadikan saya kaki-nya lalu menjadikan banyak teman saya sebagai kaki-kaki saya dan kaki-kaki dari kaki saya dan seterusnya sehingga posisi student saya ini semakin menjulang tinggi termasuk karena sokongan saya.

Saya salut dengan dia. Percaya diri dan semangatnya yang berkobar-kobar membuat saya malu kenapa waktu muda dulu saya tidak kenal MLM sehingga dalam usia segini saya akan telah memiliki rumah megah dan mobil mewah dan bisa jalan-jalan melihat salju yang berupa es tapi tidak basah. Nasib…

Yang saya ingin ceritakan adalah sebuah cerita lain tentang MLM yang saya alami belum lama ini.

“Mbak, ayo ikut ke seminar kesehatan.”

“Dimana Ta?”

“Di Jakarta.”

Setelah mengiyakan maka kami bikin janji untuk pergi bersama menimba ilmu supaya kita tahu apa yang mesti kita lakukan bila ada keluarga atau orang dekat kita yang sakit.

Pada hari H kami pergi berlima: saya & Novita (yang diundang), Dita & Irfan (yang mengundang) dan supir Dita. Saya sempat heran kalau seminar kok tidak ada undangan. Malahan bayarnya di depan pintu dan kami dibayari.

Tapi saya percaya karena saya lihat di ujung ruangan seperangkat LCD stand by menampilkan tulisan SEMINAR KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN… Di pojok kanan bawah tertulis nama perusahaan obat yang kurang saya kenal (belakangan saya tahu bahwa itu nama supplier di Indonesia).

Setelah beberapa saat menunggu suara musik terdengar bertalu-talu. Saya dan teman lain yang diundang terbengong-bengong karena sang MC memperkenalkan sebuah produk MLM yang pernha saya dengar dari teman lain. Saya lemas. Merasa ditipu, dijebak, dimanfaatkan. Saya tidak semangat. Untuk bertepuk tanganpun saya pelit tapi nggak enak sama pengundang. Di akhir acara kami berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil lalu saya dan teman yang diundang tadi diprospek. Saya bingung mau jawab apa antara menolak dan nggak enak sama teman saya yang mengundang. Teman yang diundang juga begitu.

Saya tidak menyalahkan teman saya yang mengundang itu. Dita adalah salah satu teman terbaik saya. Dia sering men-support saya kalau semangat saya lagi melorot.

Saya hanya menyesal karena secara tidak sengaja saya menceritakan bagaimana student saya
yang sukses karena MLM, lalu saya juga bercerita MLM adalah salah satu cara untuk menjadi kaya. Saya juga bilang seandainya saya jadi MLM-er tangguh maka saya akan bisa kaya raya; saya akan punya kebebasan uang dan waktu. Singkatnya saya bercerita tentang mimpi saya menjadi kaya karena MLM.

Sungguh MLM yang saya bayangkan ini bukan Multi Level Marketing. MLM yang saya maksud adalah Multi Level Markriting karena saya TERBURU-BURU memaknainya sebagai jalan untuk kaya tanpa tahu bahwa saya harus begini, begini, begini, begitu, dll sehingga saya hanya membayangkan kekayaan yang saya perolah sampai otak saya kriting jadinya.

Saya memang hobi cerita tapi sekarang saya nggak mau cerita lagi tentang MLM kepada sembarang orang. Kapoooook…

Sukses untuk para MLM-er yang tangguh.

KESANDUNG GUNUNG

KESANDUNG GUNUNG

Istilah ini saya dapat dari memory otak saya yang terbatas dan kabur ini. Sepertinya ada seorang bijak bestari di masa lalu yang mengingatkan hal ini pada saya. De javu.

Boleh lah kita bertanya-tanya apa iya sih kita ini bisa kesandung gunung? Pertanyaan logis dan masuk akal. Jangankan kesandung, nabrak saja nggak bisa kecuali kita terbang dengan pesawat atau gantole dan kehilangan koordinat lalu mak gabruk. Bisanya kita ini mendaki gunung atau glundhung (jatuh berguling-guling) dari gunung saat mendakinya.

Tapi Sudara, gunung disini bukan gunung fisik seperti Semeru, Kelud, Slamet, Kerinci, Rinjani, Bolo, Klothok, Salak, Welirang, Kendeng, dll sebutkan sendiri namun dia adalah simbol masalah besar yang dihadapi manusia. Nah, seperti pada saat seseorang mendaki gunung, pastinya dia akan sangat berhati-hati. Bahkan ekstra hati-hati. Terbayang di jalan banyak gangguan: manusia lain, alam yang keras, cuaca yang changing, makhluk hidup lain (macan, ular, gendheruwo, lintah, nyamuk, dll) dan hal-hal lain yang masuk dalam budget “angggaran tak terduga”.

Masalah besar cenderung kita perlakukan dengan sangat khusus seperti kita memperlakukan kristal (kalau kita tahu itu kristal kualitas tertinggi dan berharga untuk kita tentunya) sehingga kadang saking takutnya terhadap kegagalan menghadapi masalah tersebut kita malah tidak melakukan apa-apa. Bengong aja. Sedih aja. Nelongso aja.

Lalu apa yang bisa tersandung oleh kaki kita kalau bukan gunung? Dialah KERIKIL alias batu kecil…

Tak sedikit manusia yang tersandung batu saat mereka berjalan. Kedengarannya tidak serius namun jika dianalogkan dengan pembahasan kesandung gunung diatas, bisa saja dampaknya sama besarnya dengan glundhung dari gunung.

“Suster, obat saya diminum jam berapa?”

“Yang penting sebelum makan ya Mbak.”

“Yang merah juga?”

“Iya.”

“Kemarin kok nggak ada warna biru ya Sus? Ini bener obat saya? Tolong cek dulu Sus.”

“Iya lah, Mbak. Masak obat pasien saya tuker-tuker?” Sang suster sedikit meninggikan suaranya tanda tersinggung lalu pergi.

Maka sebagai pasien yang taat meminum obat sebelum makan sembilan tablet yang menurut perasaan saya tidak biasa karena ada satu pil warna biru. Biasanya posisin pil warna biru itu digantikan oleh pil warna hijau muda. Saya juga tidak tahu itu obat apa yang penting glek aja langsung. Baru kemudian saya makan.

Belum selesai makan, saya tersedak. Tenggorokan saya terasa tercekik. Lalu saya sesak napas. Mbak Srikah, sepupu saya yang telah menemani saya di rumah sakit selama 4 hari panik lalu memencet bel dan datanglah suster yang memberikan obat tersebut setelah 15 menit kami menunggu. Saya melihat perubahan fisik saya: ujung-ujung jari saya berwarna hitam, kulit saya memucat, pandangan saya kabur, badan saya dingin dan kebas, kesadaran saya juga perlahan menurun. Saya sempat berpikir saya akan mati dan sekilas mendengar sepupu saya istighfar dan membisiki saya kalimat-kalimat ilaahi.

Apakah menyiapkan obat untuk pasien adalah hal kecil? Ya. Rutin. Mudah. Termasuk kerikil dalam tugas sang suster. Apalagi pasien dirawat hanya karena alergi obat bukan karena sakit jantung atau kanker. Namun karena suster tidak berhati-hati berjalan tersandunglah dia. Dia hampir membunuh seorang Rike yang salah minum obat warna biru dan tidak segera datang saat bel berbunyi dengan alasan bel-nya berisik dipencet berulang-ulang.

Sekarang saya belajar bahwa hal-hal kecil perlu kita perhatikan sesuai porsinya. Seandainya sang suster mau memeriksa obat dalam cangkir plastik mungil sebelum ngeloyor pergi, dia tidak perlu mendapatkan hukuman keras karena “meracuni” pasien. Dan dia tidak perlu sakit hati dicaci-maki dokter. Dia juga tidak malu dianggap tidak becus bekerja.

Oalah sakitnya kesandung kerikil. Anda pilih mana? Kesandung gunung atau kesandung kerikil?

Kalau saya sih pilih makan gado-gado.

HAK PATEN SEBUAH IMPIAN

HAK PATEN SEBUAH IMPIAN


Kisah ini adalah tentang penghargaan terhadap ide seseorang.

Teman terdekat saya memiliki segudang ide yang deras mengalir seakan pikirannya adalah mata air jernih yang tiba2 memancarkan air bah. Dan saya seperti sebuah kuali tanah yang kepenuhan.

Beberapa minggu lalu saat kami menikmati gurihnya tahu goreng dan udang goreng tepung berdua, air bah itu datang lagi.

”Aku ada ide, kita bikin bla bla bla…”

Saya sendiri sang pemikir kelas teri segera mengamini karena yang terbayang di benak saya adalah bisnis yang cocok dengan hobi saya. Orang normal memilih pekerjaan yang dia sukai bukan?

Hingga beberapa saat kemudian karib saya ini tidak juga mengajak saya rembugan ttg bisnis ini maka saya pun langsung mengawalinya.

”Bla bla bla… Ayo kapan? Ntar kalau dalam waktu 2 bulan kamu gak move, ide ini aku jalanin sendiri lho, Bro!” kata saya.

”Iya deh, asal royalti tetep jalan. Traktir n0nt0n atau makan udah cukup,” jawab dia.

”Gak bisa. Kan aku yang kerja… Lagian kamu punya ide bukannya direalisasi sesegera mungkin.” Saya menyergah dengan tegas.

Sekarang saya merenungi apa yang saya katakan pada teman saya bahwa dia tidak berhak mendapat royalti karena sayalah yang mewujudkan konsep menjadi praktik. Kalau hal itu terjadi, alangkah jahatnya saya merebut sebuah impian sukses sesama. Jika saya jadi memakai ide tanpa memperhitungkan proses mengkhayal si pemikir, alangkah bodohnya saya, alangkah sombongnya saya…

Kalau goyang Mbak Inul yang sempat bikin heboh saja dipatenkan, mengapa ide cemerlang tidak? Padahal keduanya sama-sama berawal dari percikan mimpi. Mbak Inul pernah bermimpi terkenal sebagai entertainer. Karib saya bermimpi menjadi seorang pebisnis.

Saya membayangkan Pak Bogan, rekan saya karyawan di Kantor Hak Paten akan sangat sibuk mendata para pendaftar yang ingin mempatenkan penemuan mereka.

Malahan saya sedang berpikir bahwa orang yang mencetuskan ekspresi berikut pantas mendapat hak paten bahasa.

Masak sih…
Iya lah… Masak iya dong. Namanya juga anak sekolah bukan anak sekodong…

Saya yakin hanya orang kreatif yang berani bereksperimen dengan hal baru walau kadang aneh, nyleneh, sinting. Saya gemas mengetahui bahwa saya tergolong manusia yang menghargai ide hanya sebagai sebuah hasil bukan sebuah proses. Dan saya menyesal. Maka saya pun dating kepada karib saya tersebut untuk menyetujui royalty yang dia minta.

”Ok, nanti aku traktir kamu. Tapi jangan bilang-bilang kalau ini ide dari kamu ya Bro,” ujar saya sambil cengengesan.

Ha ha ha…

PEJALAN KAKI AMATIR

PEJALAN KAKI AMATIR

Dari terminal Blok M ke tempat kerja saya berjarak sekitar 2 kilometer. Terlalu pendek untuk ditempuh dengan kendaraan bermotor. Jadi idealnya mesti berjalan kaki. Disinilah tantangan terbesar bagi saya setiap pagi karena berjalan kaki di kota Jakarta bukan sebuah kegiatan yang menyenangkan lantaran banyaknya “godaan”.

Kalau godaan berupa lelaki ganteng bukan hal sulit bagi saya karena subjektivitas saya terhadap keindahan terbilang tinggi. Jadi apa godaannya?

Pernah saya harus merapatkan badan saya ke pagar pembatas halaman dengan trotoar karena para pengendara m0t0r menemukan trotoar sebagai jalur cepat untuk mencapai tujuan.

Pernah juga saya harus keluar trotoar karena sebuah potted plant ukuran jumbo menghadang langkah saya saat harus berpapasan dengan pejalan kaki lain.

Mata juga harus awas karena lubang menganga disana-sini. Biasa-bisa nyemplung basah dan bau atau terbelit kabel entah instansi mana.

Bukan Jakarta namanya kalau tak ada sampah berceceran di persimpangan (sampah ditumpuk di persimpangan untuk memastikan bahwa petugas melihat dan lalu memungutnya), padahal disitu tersedia tempat sampah. Walhasil, sol sepatu saya mesti multi quality: high suspension, anti lengket, anti basah kalau bias juga anti kotor dan bau.

Plus warni (warung mini) yang mengurangi lebar jalur pejalan kaki.

Yang paling mengenaskan adalah sesama manusia yang mencipratkan air lantaran kaca film membuatnya tidak mampu membedakan mana aspal rata mana hitam kubangan air hujan; ditambah musik di m0bilnya membuat teriakan kemarahan senada dengan teriakan Freddie Mercury “We are the champion my friend…” Seakan sedang balapan di Sentul!

Oalah, mau jalan aja kok susah.

Pernah saya berpikir bahwa jalan kaki adalah cara murah dan sehat untuk mencapai kantor. Namun sempat juga saya berpikir naik kendaraan bermotor bisa membuat saya tiba di kantor dalam keadaan lebih tenang dan bersih sehingga tetap merasa nyaman saat bekerja sampai usai nanti.

Alamak, kapan saya bisa hidup tenang sebagai orang kecil? Bagaimana bisa tenang? Sudah saya ini rela hidup sederhana eh masih juga dipersulit. Kalau saya sudah kehilangan kesabaran, saya kemana-mana naik Jaguar saja! Masalahnya untuk seliweran pakai Jaguar saya juga masih harus sabar. Sabar, sabar, sabar…

ALL IN ONE ACER

ALL IN ONE ACER

(Acer should thank me for this free and creative advertisement)

Notebook saya adalah sahabat terdekat saya melebihi orang terdekat saya saat ini. Dia teman saya saat kerja dan jeda. Bukan suatu kebetulan, ini karena notebook saya dilengkapi dengan piranti lunak dan keras yang memungkinkan saya bekerja, nonton, berpose, berselancar, menghitung, menyimpan data, dan masih banyak lagi. Dan itu membuat saya senang.

Ternyata kesenangan saya menular ke teman-teman kerja saya. Mereka tahu betapa mudahnya dan bahagianya saya karena bisa memenuhi kebutuhan saya dengan hanya satu benda sehingga saya selalu bersuka apapun konteks yang kami bawakan, entah ledekan atau apa lah namanya. Mari simak kegembiraan yang telah saya bawa pada mereka.

Teman : Mbak, kok USB-nya gak dibawa?

Saya : Ini, bawa.

Teman : USB merk Acer maksud gue…

Teman : Udah kirim passport photo belum, Ke?

Saya : Belum. Kita foto sendiri aja. Indo office pake batik aja.

Teman : Iya, besok lu bawa kamera Acer lu ya…

Saya : Sekarang gw gampang kalo mau ngitung. Udah punya kalkulator.

Teman : Kalkulator Acer…

Saya : Dari pengalaman beli notebook tanpa teman duh jadi tahu ternyata beli komputer gak semudah yang gue bayangkan.

Teman : Iya lah, gampang mah beli DVD player.

Teman : Hey, jangan salah. Itu DVD player merk Acer.

Teman : Bukan… Itu home theatre merk Acer…

Teman : Ke, jangan lupa besok bawa bluetooth merk Acer ya…

Teman : Mbak, laptopku kok gak bisa deteksi wireless kantor padahal punya lu bisa.

Saya : Acer…

Teman : Huuuuuuuuuuuuuuu…

Kami : Ha ha ha ha ha…

Semua disambut dengan derai tawa. Sekarang saya makin yakin bahwa hanya orang bahagia yang bisa membahagiakan orang lain. Stay happy whoever we are.

daftar buku

Saya memenuhi permintaan teman saya, Jati. Berikut daftar sebagian buku yang saya miliki. Kolom asli ada banyak tapi karena gak bisa masuk semua saya hanya include judul buku dan nama pengarang saja. Semoga bermanfaat…

TITLE AUTHOR
A Twist in the Tale (anthology)
Being People (anthology)
Four Stories By Stephen Crane (anthology)
Menulis Itu Indah (anthology)
Misteri Pengumuman Penggemar Harry Potter A. Ataka A. R
Bulughul Maram A. Hassan
Bulughul Maram A. Hassan
A Practical English Grammar A.J. Thomson & A.V. Marinet
Jangan Cemas Menghadapi Masa Depan Abdul Aziz al Husaini
Nama-Nama Islami Abdulaziz Salim Basyarahil
Demi Masa Abdullah Gymnastiar
Indahnya Hidup Merdeka Abdullah Gymnastiar
Wasiat Dzikir & Doa Abu Wardah Bin Askat
Alfatihah Achmad Chojim
Mistik dan makrifat Sunan Kalijaga Achmad Chojim
Tragedi Tiga Babak Agatha Christie
Makrifat Jawa Agus Wahyudi
Al Asma’ul Husna Al Ghozali
Keajaiban-Keajaiban Hati Al Ghozali
Minhajul Abidin Al Ghozali
Setitik Cahaya Dalam Kegelapan Al Ghozali
Transendensi Ilahi Al Ghozali
Kiblat Cahaya Al-Gazali
Durusul Lughatul Arabiyya
h
Ali Thoriq Al Hadits
Samarkand Amin Maalouf
Menemui Allah Amiruddin Syah
Sifat 29 Pembuka Tabir Amiruddin Syah
Mom, I Love You Andi Yudha Asfandiyar (anthologi)
Edensor Andrea Hirata
Laskar Pelangi Andrea Hirata
Sang Pemimpi Andrea Hirata
Akulah Angin Engkaulah Api Annemarie Schimmel
Memahat Kata Memugar Dunia Ari Nilandari
Habis Gelap Terbitlah Terang Armijn pane
Budak Sang Raja Arni Hidajati
ESQ (blue cover) Ary Ginanjar
ESQ (white cover) Ary Ginanjar
Cara Cepat Belajar Tajwid Praktis As’ad Humam
Bermain-main Dengan Cinta Bagus Takwim
Filsafat Timur Bagus Takwim
Meng-install Nyali Bambang Trim
Kritik Bibel Baruch Spinoza
Mitologi dan Toleransi Orang Jawa Benedict R. O’R. Andersen
The Tao Of Pooh Benjamin Hoff
Understanding and Using English Grammar Betty Schrampfer Azar
Quantum Teaching Bobbi de Porter
Bunda, Maafkan Aku Burhan Sodiq
Samkok 3 C.C. Low
The Dragons of Eden Carl Sagan
Reach Out 2 Catherine M. Frazier, Julie Deferville, May Tai
World’s Hardest Puzzles Charles Barry Townsend
Shirley Charlotte Bronte
The Professor Charlotte Bronte
Villette Charlotte Bronte
Klasifikasi Kandungan Alqur’an Choiruddin Hadhiri SP
The Art of Happiness at Work Dalai Lama & Howard C.Cutler M.D.
SQ Danah Zohar & Ian Marshall
Adam Ma’rifat Danarto
Robinson Crusoe Daniel Defoe
A Whole New Mind Daniel H. Pink
Managing Stres David Fontana
A Treatise of Human Nature David Hume
Filosofi Kopi Dewi Lestari
Supernova – Akar Dewi Lestari
Supernova – Petir Dewi Lestari
Harvey Angell Diana Hendry
Etika Sekretaris dan Human Relationsnya Didi Wahyu Sudirman
Islam Cakrawala Estetik dan Culture Dr. Abdul hadi W.M.
SDM yang Produktif Dr. Abdul Hamid Mursi
Dari Semar ke Sufi Dr. Abdul Munir Mukhan
Al Quran dan Rahasia Angka Angka Dr. Abu Zahra’ An-Najdi
Jadilah Wanita yang Paling Bahagia Dr. Aidh Bin Abdullah Al Qarni
Cara Cerdas Mengambil Keputusan Dr. Akrim Ridha
Islam Sufistik Dr. Alwi Shihab
Khazanah IPTEK dalam Al Quran Dr. H. Hamzah Ya’qub
The Magic Lantern Dr. Joe Rubino
Mi’raj Rohani Meenmui Nur Ilahi Dr.
Kuswanto
Ailah, Masa Depan Kaum Wanita Dr. Lamya’ Al faruqi
Sepintas Sastra Sufi Dr. M. Fudoli Zaini
Pandangan Ahlu Sunnah Terhadap Ahlul Bait Dr. Muhammad Abduh Yamani
Istihza’ Dari Canda Turun ke Neraka Dr. Muhammad bin Salim Al-Qahthani
EQ Dr. Patricia Patton
Babad Majapahit Dr. Purwadi, M.Hum
Jalan Cinta Syekh Siti Jenar Dr. Purwadi, M.Hum
Jangan Menyesal Menjadi Wanita Dr. Yusuf Qardlawi
Keprihatinan Muslim Modern Dr. Yusuf Qardlawi
Buah dan Sayur untuk Terapi Dra. Emma S. Wirakusumah, M.Sc
Setiap Orang Mencari Alamatnya Dra. Hj. Marlinda Irwanti Poernmo SE. Msi
Komik Nina Dutch writers
Agar Anggrek Rajin Berbunga Dyah Widiastoety Darmono
Covering Islam Edward Said
Kalau kaya Ngapain Sekolah Edy Zaqeus
Dari Sayid Quthb, Ali Syariati, The Lord of The Rings hingga Bollywood Ekky Malaky
Folklore Madura Emha Ainun Najib
Islam Liberal Emha Ainun Najib
Istriku Seribu Emha Ainun Najib
Kafir Liberal Emha Ainun Najib
Kiai Bejo Emha Ainun Najib
Kyai Kocar Kacir Emha Ainun Najib
Wuthering Heights Emily Bronte
Quantum Ikhlas Erbe Sentanu
A Farewell to Arms Ernest Hemingway
The Old Man and The Sea Ernest Hemingway
An Outline of English Literature G.C. Thornley & Gwyneth Roberts
Adam Bede George Eliot
Silas Marner George Eliot
Animal Farm George Orwell
Brain Teaser in English Golden Books Centre Sdn. Bhd.
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta Gus tf Sakai
The Great Short Stories Guy de Mauspassant
Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid III H Salim Bahreisy & H Said Bahreisy
Principles of Language Learning And Teaching H. Douglas Brown
Kisah dan Ajaran Wali Songo H. Lawrens Rasyidi
The Great Warrior H.A. Benimo Omar
Sifat Dua Puluh Awaluddin Habib Usman Bin Yahya
Apa Itu Salafi Hartono Ahmad Jaiz
Beberapa Rahasia Dalam Al Quran Harun Yahya
Keindahan Dalam Kehidupan Harun Yahya
Semangat & Gairah Orang2 Beriman Harun Yahya
Akidah Syi’ah Hasan Abu Ammar
Menulis Bisa Bikin Kaya Helvy Tiana Rosa
Wanita Yang Mengalahkan Setan Helvy Tiana Rosa
Tom Jones Henry Fielding
The International Jew Henry Ford
The Protocols of The Meetings of the Elders of Zion Henry Ford
Misteri Natal Herbert W. Armstrong & Masyhud S.M.
Air Penyembuh Ajaib Herminta de Guzman-Ladion
Aku Ingin Bunuh Harry Potter Hernowo
Percakapan dan Tata Bahasa Belanda Herpinus Simanjuntak
Nabi Yunus Hilmi “Ali Sya’ban
Mempertanyakan Kebangkitan & Kenaikan Isa Al Masih Hj. Irena Handono
Menata Diri Dengan Tadbir Ilahi Ibn ‘Arabi
Misteri Kun ibnu Arabi
Membongkar Rahasia Perdukunan Para Kiai Ibnu Mahalli Abdullah Umar
Kesombongan Iblis Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Melumpuhkan Senjata Syetan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Shaidul Khatir Ibnul Jauzy
Roh Ibu Qayyim Al jauziyah
Hikayat Putri Penelope Idrus
Ilmu Laduni Imam Al-Ghazali
Metafisika Alam Akhirat Imam Al-Ghazali
Tangga Ma’rifatullah Imam Al-Ghazali
Kepada Anakku Dekati Tuhanmu Imam Ghazali
Tangga Makrifat Imam Gozhali
Hakikat & Rahasia Shalat Imam Khomeini
Gadis Dalam Kaca Izzatul Jannah
Remaja Gila Baca Izzatul Jannah
Harry Potter 1 J.K Rowling
Harry Potter 2 J.K Rowling
Harry Potter 3 J.K Rowling
Harry Potter 4 J.K Rowling
Harry Potter 5 J.K Rowling
Harry Potter 6 J.K Rowling
Harry Potter 7 J.K Rowling
The Call of the Wild Jack London
To Build A Fire Jack London
Diwan Syamsi Tabriz Jalaluddin Rumi
Masnawi Jalaluddin Rumi
Yang Mengenal Dirinya yang Mengenal Tuhannya Jalaluddin Rumi
Propaganda Baru James E. Combs – Dan Nimmo
Dubliners James Joyce
Poland James Michener
Emma Jane Austen
Pride and Porejudice Jane Austen
Sense & Sensebility Jane Austen
Efisiensi Waktu Konsep Islam Jasiem M. Badr Al Muthowi’
Kreasi Coklat Khusus Pemula Jenny Rumenta, SE., MM.
The Night Thoreau Spent in Jail Jerome Lawrence and Robert E.Lee
Heidi Johanna Spryi
Heidi Johanna Spryi
Practical miracles for Mars & Venus John Gray, Ph.D
Kamus Indonesia Inggris John M. Echols & Hassan Shadily
100 Useful Exercises in English John Millington Ward
Megatrends 2000 John Naisbitt & Patricia Aburdene
The Pearl John Steinbeck
Nostromo Joseph Conrad
Twenty thousand Leagues Under The Sea Jules Verne
Sejarah Tuhan Karen
Berperang Demi Tuhan Karen Armstrong
Dan Damai Di Bumi Karl May
Winnetou I Karl May
Winnetou II Karl May
Winnetou III Karl May
Tasawuf Perenial Kautsar Azhari Noel
The Wind in The Willows Kenneth Grahame
Percakapan dan Tata Bahasa Perancis Kesaint Blanc
Matematika Islam KH Fahmi Basya
Senjata Mukmin KH. Hamrolie Harun
Bagaimana Menyukseskan Pergaulan Anda Khalil Al-Musawi
Kata dan Fakta Saling Bertanya Bagi Logika Ki Moenadi MS
Kebenaran Ki Moenadi MS
Kebenaran Sangkaan Ki Moenadi MS
Ketaatan Murni Ki Moenadi MS
Pendidikan Kesadara Rasa Ki Moenadi MS
Pengembangan Daya Bakat Kemampuan Manusia Ki Moenadi MS
Satu Kesatuan Ki Moenadi MS
Satu Kesatuan Ki Moenadi MS
Seri Khutbah Ki Moenadi MS
Ukuran (Pasti) Kepribadian Manusia Ki Moenadi MS
Ummat Islam Telah Berkesadaran Ki Moenadi MS
Indentitas Politik Umat Islam Kuntojoyo
The Four Fingered Pianist Kurnia Effendi
Bunga Rampai Hikamah Tasawuf Kuswanto
Kartun Fisika Larry Gonick & Art Huffman
Wawancara Dengna J.K. Rowling Lindsey Fraser
Female Brain Louann Brizendine
Logika Agama M. Quraish Shihab
Perempuan M. Quraish Shihab
Psikologi Islam M. Thoyibi & M. Ngemron
Blink Malcolm Gladwell
Free To Be You And Me Mario Thomas
7 Rahasia Menjadi Wanita Sukses Marion Luna Brem
The Adventure of Tom Sawyer Mark Twain
Alas For Her That Met Me Mary Ann Ashe
Frankenstein Mary Shelley
Mukjizat Air Masaru Emoto
The True Of Power Of Water Masaru Emoto
The Heart Of A Woman Maya Angelou
I Saw Ramallah Mourid Barghouti
Sikap Negatif Yang Menghambat Kebahagian Muammar Fadhil Nashrullah
Aqidah Muslim Muhammad Al Gazzali
Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam Muhammad Al Ghozali
Sesuaikah Ilmu Dengan Amal Anda Muhammad Nashiruddin Al Albani
Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu Muhammad Nashiruddin Al Albani
Memurnikan Laa Ilaaha Illallah Muhammad Said Al-Qahthani, Muhammad Bin Abdul Wahhab, Muhammad Qutb
Mendobrak Pintu Langit Muhammad Yasser
Terbang Bersama Cinta Muhidin M. Dahlan
Kenapa Kita Tidak berdamai Saja Dengan Yahudi Muhsin Anbatani
Trend Islam 2000 Murad Wilfred Hoffman
Kimya Sang Putri Rumi Muriel maufroy
Writing & Being Nadine Gordimer
Kencan Dalam Bahasa Thailand Nasir Ramli
Namaku Merah Kirmizi Orhan Pamuk
The Complete Works of Oscar Wilde Oscar Wilde
HAMAS Kenapa Dibenci Amerika Penerbit Hikmah
Don’t Get Me Wrong Peter Cheney
I Was a Rat Philip Pullman
The Amber Spyglass (trilogy) Philip Pullman
The Golden Compass (trilogy) Philip Pullman
The Subtle Knife (trilogy) Philip Pullman
Vocabulary Development Skills Pieter A. Napa
The 7 Habits of Highly Effective People Pitoyo Amrih
Panggil Aku Kartini Saja Pramudya Ananta Toer
Hidup Bukan hanya Urusan Perut Prie GS
Menguak Misteri Muhammad Prof. David Benjamin
The History Of The Qur’anic Text Prof. Dr. M.M. Al-A’zami
Mestakung Prof. Yohanes Surya, Ph.D
Konsep Islam Memerangi Aids & Naza Prof.Dr.dr. H. Dadang Hawari Psikiater
Treasure Island R. L. Stevenson
English Grammar in Use Raymond Murphy
Theory Of Literature Rene Wellek & Austin Warren
Esio Trot Roald Dahl
Elements of Psychology Robert S. Feldman
Seni Konseling Rollo may
The Secrets Ronda Byrne
The Tao of Islam Sachiko Murata
Tarian Setan Saddam Hussein
Proses Kreatif Penulis Hebat Salman Faridi
99 Tokoh Muslim Dunia Salman Iskandar
Awaking the Excellent Habit Sansulung John Sung
Menerbitkan Cahaya Diri Sayyid Abbas Nuruddin
Manhaj Hubungan Sosial Muslim Non Muslim Sayyid Qutb
A Students’s Grammar of The English Language Sidney Greenbaum & Randolp Quirk
Tak Enteni Keplokmu Sindhunata
Risalah Tauhid Sjech Muhammad Abduh
Star Trek The New Voyages Sondra Marshak & Myrna Culbreath
Menemui Allah Tidak Dapat Diukur Dengan Kecepatan Waktu Dunia Susilawati Salam
Cara Sholat Nabi Syeikh Muhammad Hashiruddin Al Albany
Penyimpangan2 Tasawuf Syekh Abdur Rahman Abdul Khaliq
Mutu Manikan dari Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Atailah
Galileo Menyingkap Kebenaran Tasman Mahmud Syukri
In Stitches With Ms Wiz Terence Blacker
The Secret Life of Ms Wiz Terence Blacker
Mesmerizing Mind-Bending Puzzles Terry Stickels
Mengenal Jatidiri Menurut Ma’rifat Ilahi Tjitjih G. Djaka
Tom Swift & His Jetmarine Victor Appleton II
To The Lighthouse Virginia Woolf
Living English Structure W. Stannard Allen
Webster New World Dictionary Webster
The Sufi Path of Knowledge William C. Chittick
Al Quran Al Kariem
Apakah Arti Islam
Barry Trotter
Buku Panduan Museum lampung
Experiencing Life Through Literature
Gas Room
Hadis Kisa
Himpunan Lengkap Undang-Undang Bidang Perburuhan
Hukum Menjama Sholat
I’m Just Me
Islamika
Jejak Islam yang Hilang
JIPIS
Kamus Al Munawwir
La Runduma
La Tahzan
Matematika Dalam Al Quran
Mutiara Nahjul Balaghah
Oal-Soal Intelegensia Test
Oxford Pocket Dictionary
Peta dan Atlas Dunia
Pope Joan
Qomuus Arabiy – Indunisiy
Sang Dewi
Sang Dewi
Sekolah Ramadhan
Sin Lam Mim
Solitaire
Spiderwick
Tafsir Gatoloco
TOEFL IBT
Yaasiin

Kenangan Manis Bernama Masa Kanak-Kanak

Kenangan Manis Bernama Masa Kanak-Kanak

Dalam keadaan setengah hidup setengah tidak mati begini rasanya sangat hidup setiap saat saya terbang kembali ke masa usia sekolah dasar. Tak ada kategori jahil atau terang saat itu. Semua saya lakukan penuh keikhlasan.

Dulu saya suka sekali main sepeda sampai ke daerah-daerah berjalan tanah dan berpagar hutan dan lembah. Sepeda saya mini warna merah, berkerangjang putih, sadelnya sudah somplak sehingga hanya tinggal plastik putih keras sehingga pantaat harus diangkat saat melewati daerah bergelombang atau terjal untuk menghindari sakit pantat ha ha ha…

Saya juga suka bermain masak-masakan di petak tanah kering di musim tembakau. Masih teringat saya seorang junior bernama Astutik yang kerap kami panggil Timbul karena bentuk mukanya yang bulat montok dan putih menjadi koki pasangan masak saya. Dengan dia saya membawa kaleng bekas minyak goreng cap Ikan Dorang untuk memasak sayur dan nasi bergantian, seikat bayam, pepaya muda, bumbu sayur menir, dan beras. Kami memasak berharap berbuka saat bedug dhuhur tiba tapi ternyata kami makan sebelum dhuhur tiba. Lalu kami saling memarahi karena batal puasa.

Saya suka mengumpulkan makanan sebelum berbuka. Ketika bedug Maghrib tiba, makanan itu tidak terjamah karena kekenyangan. Kolak, komot, cenil, gethuk, jambu biji, jeruk bali, dll tak termakan tanpa penyesalan.

Saya juga suka “mengganggu” Yu Yatini (asisten di keluarga kami) yang sedang membuat penganan untuk kami: kalau beliau sedang membuat nagasari atau lemet atau apapun yang berbungkus daun atau plastik atau kertas, maka saya membuat versi mininya; kalau beliau membuat kue semprit, saya membuat versi luar angkasanya; saat beliau membuat cake ban (karena bentuknya seperti ban), saya hanya bisa membantunya mencurahkan warna coklatnya lalu mengaduknya dengan lidi sehingga tercipta corak batik diantara adonan kuning yang sudah dimasukkan sebelumnya; kalau beliau sedang memarut kelapa, saya membantunya dan menyerahkan cikalan (daging kelapa) kecil lantaran saya takut jari saya keparut.

Saya suka sekali melewatkan liburan saya di kampung asal asisten keluarga kami. Saya bermain dengan keponakannya, Nining Catur Utami yang sering diledek “cekot” karena tangannya panjang sebelah akibat lapraktik dokter. Dialah sahabat saya sampai saat ini.

Saya gemar memanjat berbagai macam pohon kecuali pohon jenis palem termasuk pohon nyiur karena tidak memiliki dahan yang memungkinkan saya berpijak dengan mudah.

Saya suka nonton Acara Untuk Keluarga di TVRI yang tak jarang menyajikan cara membuat boneka dari kaos kaki, cara merangkai bunga Ikebana, cara membuat bunga kering, cara membuat batik jumputan, cara membuat bunga dari sedotan plastic, cara membuat patchwork, cara merajut, cara memanfaatkan kaleng bekas, dan berbagai macam ketrampilan yang tak jarang saya praktikkan tanpa arahan siapapun kecuali ingatan saya tentang arahan para ibu trampil yang kadang-kadang membawa serta anak-anak perampuannya saat syuting; dan saya iri karena anak-anak seusia saya tahu berbagai ketrampilan dan bisa masuk tivi ha ha ha…

Saya suka meminta bapak dan ibu saya menggambar bunga untuk saya. Ibu saya gemar menggambar bunga mawar yang terdiri dari mawar yang mekar sempurna, setengah mekar, kuncup, daun dan tangkai berdurinya. Bapak saya tidak pernah tidak menggambar bunga melati bergerombol dengan daunnya yang bulat-bulat. Saya tak bosan walaupun mereka mungkin bosan melihat saya tak bosan-bosan meminta mereka melakukan hal yang sama yang bagi mereka membosankan dan buang waktu saja.

Saya juga suka menabung uang-uang logam sepuluh dan lima rupiahan dalam cepuk (wadah plastic serupa mangkuk) sabun krim Wing’s yang sebenarnya bisa saya buka kapan saja tapi tetap saja saya lubangi tutup atasnya supaya saya “merasa” benar-benar nyelengi.

Saya gemar berenang di kali dekat stren (tanah lapang berumput yang diselingi pohon kelapa) walaupun saya hanya bisa naik punggung Yu Suminah Sugeng, kakak Kang Slamet – lelaki sabar yang tugasnya mendampingin bapak kami dan saat senggang momong adik lelaki saya.

Saya suka bertualang bersama teman-teman saya. Saya pernah menginap di rumah Dik Rosi (putra pak Kakandep) lalu pagi-pagi menyelinap keluar rumah berlagak menculik si pemilik rumah lalu menyanderanya di rumah yang lain (tempat tinggal Eyang Putri si anak tersebut ha ha ha). Saya, Dik Nana, Ana, Dik Rosi dan Lestari.

Saya suka pergi ke langgar (mushola) walaupun saya tidak punya mukena sendiri sampai saya usia SMP. Saya membawa jarik (kain batik panjang) dan peniti lalu membuat mukena darinya dibantu oleh teman-teman saya yang telah memiliki mukena sendiri-sendiri walaupun tidak baru: bisa lungsuran kakak atau ibunya. Fadilah, Fadhilun, Muslihatin, Endar adalah nama-nama yang menginspirasi religiusitas masa kecil saya. Saya belajar mengaji pada mereka.

Saya suka makan didih (darah ayam yang dibekukan) goreng. Padahal didih itu adalah bagian yang tak diinginkan, ditampung di mangkuk daun pisang saat ayam disembelih oleh Mbak Bayan lanang (laki-laki) lalu digoreng oleh Mbak Bayan wedok (perempuan) untuk dinikmati bersama. Mbak Bayan lanang dianggap tahu doa Islam dalam menyembelih ayam. Beliau rajin puasa dan sholat lima waktu. Beliau tahu kapan beliau akan meninggal dan mempersiapkan diri dengan berbaring di pembaringannya, memanggil anak-anaknya, menyuruh mereka tahlilan dan malam itu juga beliau meninggal. Setelah Mbak Bayan lanang meninggal saya tidak pernah makan didih lagi karena ayam yang akan dimasak disembelih oleh anak lelaki Mbak Bayan yaitu Pak Bayan dan beliau membuang darah ayam di lubang tanah. Aku dan anak-anak kecewa.

Hampir sama dengan Sherina dalam Petualangan Sherina ketika dia akan pindah ke kota lain, saya menangis diatas mobil los bak yang membawa saya ke terminal karena saya harus pindah ke kota lain. Saya meninggalkan sebuah rumah kayu jati pondasi batu dan semen, bertegel traso putih bersih, berhalaman depan dan samping sangat luas penuh pohon dan bebungaan. Di rumah itu aku pernah sakit dan senang, disana aku pernah menikmaati setiap detik keceriaan dan kepolosan. Di halaman depannya saya pernah bermain pasir bersama teman-teman ngobrol ngalor ngidul a la anak kecil yang penuh imajinasi. Dan halaman sampingnya pernah menjadi arena pertunjukan ludruk dan kethoprak yang diadakan oleh Mas Herin dan Mbak Yuda, kakak-kakakku yang idenya spektakuler tak terjangkau oleh kelompok bermainku yang hanya dijadikan cantrik dan penggulung layar saat pertunjukan.

Teman-teman saya menangis, melambaikan tangan dan ada seorang dari mereka yang tak kuat dan berbalik lari sambil tergugu. Dik Nanik, Dik Luluk, Dik Lilik, Timbul, Mu Kancil, Udin, Dwi, Dik Tina, Dik Nana… I love you all.

Saya suka melewatkan waktu saya di gubug tengah sawah yang kadang membuat pemilik sawahnya iri karena saya lebih dulu menempatinya. Alangkah baiknya bapak tua itu. Semoga dia diberkahi. Amin. Saya bawa buku-buku yang saya baca hingga menetes air mata saya. Buku-buku petualagan anak yatim piatu dan buku-buku cerita Indian.

Saya suka melewatkan siang saya di gudang samping rumah Budhe Rodiyah karena disitu tersimpan bertumpuk-tumpuk majalah Jayabaya dan Panjebar Semangat. Istana bacaan mewah bagiku yang sedang musim paceklik jauh dari orang tua.

Saya suka bermain di kali dekat sawah dan membuat dempu (bola tanah) dari pasir kali. Dempu paling besar dan tahan pecah adalah yang terbaik. Susanti adalah pembuat dempu terhabat sepanjang sejarah perdempuan kami. Dempunya mulus bisa sebesar bola volley dan tidak retak dalam waktu yang lebih lama daripada dempu kami yang lebih kecil dan kasar.

Saya juga suka naik sepeda turangga milik Budhe Rodiyah, ipar ibu saya. Saya pernah keliling kampong ditugasi menagih hutang ibu-ibu PKK oleh beliau. Saya ditemani Poningah. Kami tertawa-tawa menghapalkan kalimat yang harus kami ucapkan pada penghutang dan kata-kata tangkisan yang harus kami ucapkan jika mereka meminta tempo. Sekarang Poningah menjadi orang kaya di kampungku, suaminya adalah seorang TKI di USA. Kabarnya suaminya bekerja di bagian administrasi sebuah dermaga ikan disana.

Saya suka mencuri… Saya dan teman-teman adalah pencuri buah-buahan di kampong. Jambu monyet, jambu batu, mangga manalagi, mangga Bu Guru (beliau adalah pensiunan guru jaman dulu yang wibawanya masih dibawa sampai beliau berusia delapan puluhan, pohon mangga di halaman depannya yang sangat luas terkenal khas manisnya), nangka Mbah Bin (nenek ini tinggal tepat di depan rumah kami, nangka yang saya curi ternyata sebenernya akan dipersembahkan pada ibuku yang selalu rela memberikannya soft loan tiap minggu karena orang tua malang ini kekurangan uang), anggur hijau, dll.

Saya suka berburu sesaji padi. Tiap musim panen banyak petani yang mengadakan upacara methik (menyediakan sesaji bagi Dewi Sri pada saat pohon padi berusia hamper panen). Sesaji yang tersiri dari setakir (mangkuk dari daun pisang) urap, sebutir telur mentah ayam kampong, sepotong ayam bumbu bali, ati ampela goreng dan beberapa makanan kecil lain serta tak ketinggalan kemenyan, bunga setaman dan boreh (kapur lunak yang diberi wewangian). Kami berlomba mendapatkannya karena sesaji itu ditempatkan di sudut-sudut petak sawah tertentu. Sehingga kami harus mengikuti si pembawa sesaji. Biasanya si pembawa sesaji sengaja mempermainkan kami supaya kami kebingungan dan kelelahan. Kalau sudah begitu kami akan bubar satu per satu dan si pembawa sesaji itu dengan aman meletakkan takir-takirnya dengan aman. Jika sudah usai, dia akan berteriak,”Hooooooooeeeeeeeeeeeeeeee… Wis kene gagak-ono!!!” (Hoy, nih silakan kalian ambil dan makan). Acara ini terkenal dengan sebutan “nggagak-i wong methik”. Saya, Nining dan Kandung & his gang berkejaran tarik-menarik baju berebut jalan menuju sesaji terbesar.

Saya suka belajar bersama. Ada sebuah gubug kecil di belakang rumah Pakpuh Bandi (kakak ibuku yang ketiga) yang setiap siang menjadi tempat saya, Nining dan Mas Ongko (putra bungsu pakpuh saya yang sekarang menjadi kepala desa kampong saya) belajar sambil bercanda. Di samping kandang itu ada sebuah rumah yang tak sepi dari irama kendang atau seruling bamboo karena Mas Tri dan Pristiawan adalah kaka beradik seniman desa kami yang terkenal halus cita rasa musiknya. Tak jarang kami bertiga terbuai alunan kendang dan seruling mereka sampai surup (waktu Asar hamir Maghrib).

Saya suka mengelana saat kemarahan saya memuncak. Saya akan bersepeda ke arah daerah pegunungan lalu berlabuh di rumah kakak sulung ibu saya. Disana saya bertemu sepupu-sepupu saya yang sangat menyayangi saya. Mereka akan membawa saya ke sungai besar berbatu besar, ke mbelik (telaga kecil) untuk mandi, ke kebun jeruk untuk luru (memunguti buah yang jatuh secara natural karena angin atau tangkainya rapuh) jeruk. Setelah menginap semalam saya akan pulang dengan membawa setas plastik jeruk dan uang lima ratus rupiah yang pada saat itu sangat berharga. Malam harinya kami biasanya mendengarkan sandiwara radio horor berjudul Bahu Laweyan. Televisi tak selalu bagus gambarnya karena tiang antene yang kurang memadahi panjangnya atau karena accu yang harus di-seterek (di-recharge). Saya, Mas Erik dan Mbak Ida berdesak-desakan ketakutan sambil tertawa-tawa karena musik horor dan percakapan-percakapan pemain yang seakan nyata.

Saya suka mengunjungi Pakpuh Seno, kakak kedua ibu saya, supaya saya bisa melayani para pembeli di toko beliau. Budhe Ti, istri beliau, mengelola sebuah toko kelontng terbesar di desanya. Saya sangat gemar duduk di kursi dekat etalase belakang lalu membantu mengambilkan sabun, shampo, minyak wangi, kartu remi, tali rafia, bedak, lipstik, jarum, benang, gula, kopi dan apa saja yang dibutuhkan pembeli. Mbak Tantri, putri bungsu mereka yang sebaya saya, adalah partner dagang saya. Dia yang bertugas menjadi kasir karena saya tidak pernah mau berurusan dengan uang yang lepek karena dipegang para pedagang yang sedang kulakan (membeli untuk dijual lagi) di toko itu. Dia suka sekali berteriak jenaka “Dik Rike…enek tikuuuuus!!!” Saya pun berteriak-teriak sambil mengibas-kibaskan rok saya karena jijik. Setelah sadar itu tipuan kami tertawa-tawa berdua. Biasanya Budhe Ti akan protes “Heeeeh… Ojo guyon ae. Ngageti wong turu!” (Hey jangan bercanda saja. Ngagetin orang tidur!”)

Saya suka menangis sendiri… Saya mengadu pada-Nya saat sendiri. Saat saya mengayuh sepeda, saat saya tiduran di gubug, saat saya luru jeruk di sudut terujung kebun jeruk Pakpuh Pur, saat saya di kamar mandi, saat saya slulup (menyelam) di kali, saat saya mengendap-endap sebelum mencuri buah-buahan, saat saya menyulam sendiri si kamar, saat saya membaca kisah Peter dan Anna, saat saya benar-benar sendiri… Kenapa saya tak bisa menikmati keakraban san kehangatan itu dengan orang tua saya… Mereka yang begitu gigih memperjuangkan nasib kami. Mereka yang harus rela berjauhan dengan kami demi menghidupi kami. Mereka tak takut menghadapi kerasnya hidup untuk kebahagiaan hidup anak-anaknya.

Saya menyukai masa kanak-kanak saya. Saya teramat merindukannya.

ROTE READING & PERPUSTAKAAN PRIBADI

ROTE READING & PERPUSTAKAAN PRIBADI

Iseng-iseng saya nge-list buku yang telah saya kumpulkan sejak tahun 2000. tak dinyana ada sekitar 300 tidak termasuk yang hilang dalam artian pinjam tak harap kembali.

Jadi kalau saya tidak lewat baca, saya sudah membaca lebih dari 400 buku selama hampir 8 tahun ini dengan rincian 350-an buku saya miliki sendiri (beli atau dapat ngasih), 50-an buku yang saya pinjam dari teman dan 25-an buku yang saya baca dari perpustakaan minus saya punya kebiasaan membaca buku tertentu lebih dari 2, 3 atau bahkan 4 atau 5 kali habis. Banyak juga.

Akan tetapi Sudara-Sudara, saya tidak bisa berbangga karena ternyata baru saya sadari bahwa apa yang saya baca seperti air yang habis dibawah sinar matahari siang bolong. Menguap. Jangankan isinya, even untuk mengingat-ingat judul-judul dari buku-buku tersebut saya gelagepan, juga pengarang atau penerbit, tahun terbit. Paling saya cuma klecam-klecem (cecengesan). Memalukan? Boleh lah disebut demikian.

ROTE READING

Itulah yang saya masih lakukan selama ini. Membaca telah menjadi sebuah kebutuhan seperti makan bagi saya namun saya masih merasa bahwa proses membaca saya masih di tahap permukaan. Membaca sekedar kesenangan, kecanduan yang menyebabkan sebentuk ekstase. Namun ibarat ekstase spiritual, proses membaca saya masih pada tahap euforia “melihat” cahaya Tuhan, belum menghayati cahaya itu.

Saya bisa saja mengingat isi sebuah buku tapi saya belum mampu meng-internalisasi keilmuan yang perlu saya serap dan mewujudkannya secara matang dalam kehidupan saya. Saya masih sangat muda menyikapi cara baca saya. Saya seperti seorang siswa SD era 80-an yang sangat hapal sebuah wacana sebagai berikut:

Pagi, pagi. Pagi, pagi.

Kukuruyuk, kukuruyuk.

Begitulah ayam jantan berkokok.

Budi sudah bangun. Wati juga sudah bangun. Iwan masih tidur.

Ayah menimba air di sumur. Ibu memasak di dapur…

Hebat ya masih ingat padahal sudah puluhan tahun yang lalu. Lalu apa? Sekedar menghapal lalu berbangga? Lalu dimana letak manfaat membaca membuat pribadi manusia menjadi lebih matang?

Saya merasa belum cukup membaca buku-buku yang singgah dalam kehidupan saya. Dan, saya juga merasa belum cukup membaca kehidupan yang singgah dalam buku-buku saya.

Saya ingin membaca terus hingga saya bisa menghayati cahaya Tuhan.

KEHORMATAN VERSI SAYA

KEHORMATAN VERSI SAYA

Berbulan-bulan saya kehilangan rambut sejak saya ditugasi menjawab pertanyaan tentang apa sejatinya kehormatan manusia itu.

Awalnya saya menganggap hal ini satu pertanyaan yang dengan sangat mudah dapat dijawab oleh setiap pribadi yang pernah merasa tersinggung. Ternyata tidak sesederhana itu. Merumuskan arti kehormatan ibarat memaksa anak kecil untuk menerangkan apa rasa cabe rawit sedangkan anak tersebut sedang menangis kejang karena kepedasan semangkuk sambal cabe rawit tanpa bumbu tambahan. Saya yakin baru beberapa saat kemudian si anak akan mampu sekaligus mau memberitahukan apa rasa cocolan cabe terhadap tubuh dan emosinya.

Bisakah Sudara-Sudara membayangkan si anak bercerita sambil marah atau sedih atau kecewa atau bahkan sambil berderai tawa menganggap kejadian tersebut sebagai pengalaman lucu menggelikan.

Kehormatan adalah benda abstrak yang kemungkinan tidak sebanding dengan jabatan, nama baik, hak milik atau keperawanan.

Jabatan rendah sama sekali bukan masalah harga diri bagi seorang tukang sedot tinja yang dengan penuh perasaan riang menjalankan tugas demi anak istrinya. Saya menyaksikan sendiri para petugas penyedot WC ini bekerja dengan peniuh canda; saya dan keluarga sampai heran apa mereka ini tak akan pingsan sedangkan kami berlomba merapatkan kedua lubang hidung kami demi aroma yang menyiksa tersebut.

Nama baik juga bukan lagi hal penting bagi seorang pejabat yang berusaha melindungi anaknya dari tuduhan kriminal yang membahayakan masa depan sang buah hati. Sungguh saya mengenal salah satu dari mereka dengan baik.

Dan, untuk seorang penderita penyakit ganas, habisnya hak milik yang selama ini menjadikannya orang terhormat tidak lagi menjadi bahan pikiran. Dia hanya ingin sembuh, sehat dan mensyukuri nikmat alam sekalipun kekayaannya habis lalu dia harus memulai segalanya dari nul puthul (nol besar).

Juga, keperawanan tidak menjadi berarti bila “cinta” membutakan dua sejoli yang dimabuk kepayang. Atau bagi perek di malam inisiasi dengan iming-iming jutaaan rupiah dari sang cukong.

Maka apakah kehormatan itu?

Saya menangis terharu katika kemudian seorang sahabat membawakan kunci ujian ini bagi saya. Tiba-tiba! Orang yang pelit kata-kata ini mengirimkan pesan pendeknya:

Saya ingin ketemu ikhlas.

Maka bolehkan saya menjabarkan pengertian kehormatan yang saya dapat secara tak terduga ini.

Kehormatan adalah sesuatu yang adanya adalah ketika saya belum ikhlas melepas sesuatu yang saya anggap berharga dan ketika saya belum menerima apa yang saya anggap hina.

Maka, silakan nilai seseorang punya karir yang hebat atau mampet, anggaplah seseorang kaya atau tidak berharta, pandanglah seseorang berasal dari keluarga bermartabat atau tak berharga, anggaplah seseorang suci atau tidak suci. Silakan…

Buat saya anggapan-anggapan tersebut bisa sekejap disulap menjadi sekedar setumpuk sudut pandang. Sudut pandang selalu dibentuk oleh 2 (dua) garis yaitu garis kepentingan dan garis kebodohan.

Faktanya saya hanya manusia yang mau tak mau harus hina dan menerima kehinaan saya suka atau tak rela. Sejatinya saya tidak punya kehormatan. Yang saya punya hanya kepentingan dan kebodohan yang harus semakin dibuat berjarak sampai akhirnya dua garis itu menjadi tidak pernah bertemu atau saling berhimpitan melupakan fungsinya masing-masing; atau sebaliknya bertemu di kedua ujungnya melengkung membentuk lingkaran sebagai simbol bulat utuhnya pikir dan rasa.

Kapankan kebodohan dan kepentingan saya mau melebur di samudera keikhlasan? Saya harus mau berenang dan basah oleh airnya dan perih terluka karangnya, direndam asin garamnya.

Barangsiapa menghendaki kehormatan, maka sesungguhnya kehormatan adalah milik-Nya semata.

SIAPA YANG GAPTEK SEBENERNYA?

SIAPA YANG GAPTEK SEBENERNYA?

Beberapa bulan yang lalu kami berbincang santai menyelingi kemumetan kepala kami dealing dengan himpitan kerjaan. Topiknya adalah laptop karena saat itu saya sedang berencana beli laptop supaya saya boleh bergabung dengan rekan-rekan kerja kami dalam KORAK (Komite Orang Rajin Kerja) yang beranggota karyawan di kantor kami yang gemar sekali bawa-bawa kerjaan kemanapun mereka pergi sehingga laptop adalah syarat utama.

Mbot, the proclaimed IT karena dialah yang paling sering jadi korban saat para perempuan di kantor kami mengalami gangguan kejiwaan karena teknologi, sedang sibuk membantu saya browsing notebook yang paling cocok spec dan budget saya. Sementara kami menjadi cheerleaders sambil saling mengejek.

Saya: Mbot, carikan yang keren ya.

Mbot: Iya, ini juga sedang dicarikan yang keren Mbak.

Cik Yen: Yang kayak apa yang lu mau Ke?

Mbot: Iya, lu maunya kayak apa?

Saya: Pokoknya cariin aja yang download kerjaan cepet, gak kayak di warnet gitu deh…

Tiba-tiba meledaklah tawa Cik Yen, Mbot dan Mr. E dan C-TPAT yang bikin saya bingung dong…

Saya: Eh, iya dong itu penting banget tahu. Kalau report biasa sih download gak masalah lha kalau report BSCI waduh bias botak kepala Cik…

Cik Yen: Ha ha ha ha… akhirnya lu harus mengakui Ke bahwa gue dalam hal ini lebih tidak gaptek! Dimana-mana cepet tidaknya download itu bukan karena laptop lu yang salah tapi karena internetnyaaaaaaaaaaaaaaaa ha ha ha ha… maaf ya, maaf ya, gue udah gak termasuk gaptek nih, kan gue udah punya laptop…

Saya cuma ketawa nyengir merenda rajutan indah tawa ngakak teman-teman saya yang gilanya masya Allah…

Saya: Oke Cik, berarti kita 1-0 nih ya. Gue kalah deh, kalah deh…

Cik Yen: Tenang Ke, lu masih punya teman. Bu Suri masih belum teruji. Dia boleh manager global tapi kegaptekan dia cukup tinggi. Gue yakin dia masih punya anggepan bahwa download adalah karena memori computer bukan karena koneksi internet. Mari kita buktikan…

Mbot: Oke Mbak, ini ada Dell yang lu mau. Lu mau yang warna apa sih? Ijo ya?

Saya: Apa aja lah Mbot yang penting bikin kerja gue nyaman dan aman. Tadinya sih kepikir Toshiba atau Acer tapi kok Dell yang kayak punya si boss keren juga ya?

Cik Yen: Ah lu Ke, mentang-mentang hape sama, laptop ikutan sama. Paling ntar dia ganti kalau lu samaain buktinya begitu gue pakai HP dia tinggalin HP dia dan pindah ke Dell.

Saya: Iya ya? Tapi type laptop ini beda, punya dia canggih punya kaleee… Dell yang ini keren karena colours aja ha ha ha…

C-TPAT: Ke, Lenovo aja…

Saya: Wah, masak gue nyaingin dikau Mbak? (Mbak Siti terkenal dengan panggilan C-TPAT karena beliau adalah auditor yang handal dalam hal per-

C-TPAT-an dan beliau memakai laptop IBM)

Cik Yen: Eh, jangan Ke… Orang gaptek kayak kita ini jangan pakai yang merek abal-abal so
alnya kalau ada problem susah… Lenovo merek gak pernah denger gue.

Saya: Lho mbak, Lenovo itu nama baru IBM

Semua: Hahahahhahahhahahaa…

Mbot: (bergumam tapi cukup keras untuk terdengar) Siapa yang gaptek sih sebenernya???

Bahagianya kami jadi orang gaptek dan mau mengakui kegaptekan kami dengan tertawa…

KESASAR DI BANDUNG, TIDUR DI ANGKUTAN UMUM

Tanggal 6 dan 7 May 2008 saya nginep di RS Pindad karena teman saya operasi pengangkatan platina di lengan kananya dan sejak tahun lalau saya sudah janji akan nemenin dia. Rencana awal saya akan balik ke Jakarta tanggal 7 sore karena tanggal 8-nya saya sudah harus kembali bekerja.

“Pulang besok aja lah Ke.” kata teman saya. Dan OK, saya dapat ijin dari kantor untuk datang ke kantor lebih siang dan tidak mengikuti session with Michele Bruelhart, Account Rep UK asal Swiss yang ternyata berasal dari Dorf kampungnya Heidi, cewek badung favorit saya itu. FYI, HP saya udah mati maka saya pakai HP temen saya untuk menghubungi bos saya dan sejak itu saya tidak bisa menghubungi ataupun dihubungi sampai saya ketemu charger di kamar saya.

Tanggal 8 jam 7:30 pagi setelah nyuapin teman saya, saya segera bergegas berangkat. Diantar sampai jalan besar lalu naik angkot merah 05 ke terminal Leuwipanjang. Ini pertama kalinya naik angkot di Bandung, biasanya dibonceng Mio atau disupiri. Saking ngantuknya waaaaaaaa… saya kebablasan dan kata abang supir udah jaooooh… OK, saya hanya menurut saat disuruh naik angkot warna hijau, entah berapa kodenya dan kebablasan algi karena tidur hahahahahahaha… maklum rek, dua malam gak tidur njagain temanku itu…

Gave up, saya naik Bluebird ke Leuwipanjang. Rp. 25.000,- dan saya tidur lagi hihihihi…

Langsung saya naik Primajasa Bandung-Kalideres dengan harapan saya bisa turun Slipi Jaya untuk kemudian berangkat ke kantor saya di kawasan Jaksel.

Ternyata Sudara-Sudara… saya tidur lagi, terbangun di pintu tol Karang Tengah. Frustrasi karena kebablasan saya tidur lagi saja dengan harapan bisa bangun di Cikokol untuk kemudian naik bus AC 34 atau 138. Ternyata Sudara-Sudara saya tidur lagi dan bangun di……. Kalideres…

Ha… saya akhirnya pulang naik Roda Niaga arah Serpong lalu turun PLN bypass lalu naik becak pulang… tertawa-tawa.

APAKAH SAYA PERLU TIVI?

TV, APAKAH SAYA PERLU?

Kebutuhan saya terhadap televisi masih saya pertanyakan. Sejak saya terbilang cukup penghasilan untuk membeli kotak ajaib 8 tahun lalu, saya belum juga memilikinya. Teman-teman yang mengenal saya hanya sekilas akan mengasihani saya karena hanya orang melaratlah yang tidak punya TV. Teman yang kenal keseharian saya menilai saya aneh atau pelit karena untuk beli TV saja perlu mikir bertahun-tahun. Keluarga saya saja yang memaklumi karena mereka benar-benar menghargai saya atau mungkin karena sama-sama tidak menganggap TV sebagai hiburan standard minimum.

Dari SD sampai SMP saya gemar memelototi tabung gambar tersebut. Saat itu saya hanya punya TVRI nasional, TVRI Surabaya/Yogyakarta, TPI. Lalu SMA saya mulai tidak percaya pada keajaiban TV. Lalu saya mulai menyapih diri untuk tidak addict TV.

Sekarang, saya merasakan sedikit kegoyahan. Sejak saya menengok acara Oprah, Kick Andi, Nanny 911, Sigi, Kiamat Sudah Dekat, Global Trekker, dan beberapa acara lain ketika saya mengunjungi rumah kerabat saya atau TV kabel di kantor Lia Taruna; saya merasa perlu TV.

Suatu hari saya ditinggal sendiri di rumah teman saya. Sementara orang-orang pergi, saya bengong setelah pekerjaan rumah beres. Main komputer sudah terlalu lama. Maka saya stel TV tanpa menemukan program yang berguna. Hanya ada gosip, iklan, bola, sinetron… Acara yang pernah membuai saya ternyata tidak sedang on the show. Walhasil dalam waktu 4 jam saya hanya sibuk memencet remote c0ntrol menghindari yang buruk mencari yang menarik yang tidak pernah ketemu.

Saya menjadi frustrasi. Dilema meremas jantung saya. Beteee sama TV…

Saya hanya bisa berdoa semoga punya teman hidup yang punya TV sehingga kalaupun saya “menjadi” punya TV, TV tersebut bukan benar-benar saya miliki dan tidak menyita waktu saya ketika justru saya serius menghadapinya.

Saya ingin n0nt0n TV tanpa memiliki TV sehingga rasa sayang saya hanyalah semata-mata karena TV tersebut membawa maslahat bagi saya.

*** Saya sedang berkhayal punya TV yang hanya bisa saya tonton pada saat acara klangenan saya main.

HUKUMAN TERBERAT ADALAH…

Hukuman yg Terberat adalah…

Tadi sore saya kerja nyambi chatting dgn sudara sy yg jg lg kerja nyambi chatting. Dia sedang sakit hati krn ditinggalkan tanpa alasan kuat oleh pacar padahal sdh ada percakapan serius melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Alangkah sakitnya hati sudara tsb… Saya pastikan sakit krn sy mengalaminya beberapa kali (tdk cukup sekali rupanya ya ha ha ha…).

Lalu keluarlah kalimat kutukan yg menurut sy sebagian cukup layak dan memang perlu ditujukan untuk si lelaki itu. Dalam kondisi “normal” sudara sy ini cukup keras, apalagi dalam keadaan murka begini Sudara… Sy sampai geli membaca kalimat-kalimatnya. Yg dulu dipanggil sayang, sekarang dipanggil monyet. Yg dulu dibela-bela, sekarang habis dicela. Yg dulu dibuai, sekarang diobok-obok. Pokoknya kosakata penuh sensor tak sia-sia dicipta. Bahkan sy sempat belajar beberapa kata: kacrut, hujan bekelir, tumbila, jagres (jagoan rese), dll.

Sudara sy ini jg sempat punya niat menyantet si mantan supaya si cowok menderita semenderita menderitanya di dunia derita. Dia juga berniat menyewa tukang hajar (bukan tukang pukul karena caranya tidak selalu mukul). Ketika sy tanya apa yg dia rasakan yg paling menyiksanya, sudara sy bilang: Malu gak ketulung, Marah sampai mendidih, Kecewa, Sakit hati, Putus asa. Lengkap!

Tapi dia bilang baru-baru ini dia bersyukur krn ditunjukkan oleh Allah atas kebrengsekan si lelaki. Rupanya sudara sy ini sudah KALAH banyak, diduakan pula. Secara materi, ya. Secara emosional, sy tdk tahu sebesar apa. Sy memang menyaksikan sendiri kebangkrutannya selama dia berpacaran dgn si blasteran Menado-Betawi gagah ini. Dan ndilalah, selama pacaran dgnnya sudara sy seperti seret rejeki. Yg biasanya sebulan minimal 10 juta jadi cuma gaji bersih saja… Buat beli pulsa juga tandas (istilah dia).

Berikut petikan chatting kami.

Kalo gak boleh nyantet atau hajar, aku mesti gimana dong Mbak… Don’t tell me to be patient. I’ve been patient this far!

Kamu maunya dia gimana?

Dihukum, dibalas laaar.

Kalau mau balas dia, aku sarankan tidak dgn kekerasan.

Itu boleh bikin dia sadar terhadap kesalahan yg dia buat.

That is brilliant! Buat dia sadar. Kesadarannya bhw perbuatan dia salah atau dosa adalah hukuman terberat bagi dia. Dia akan dihantui perasaan itu dan dia akan memperbaiki diri, tidak menyakiti orang lagi, syukur-syukur kalau mau kembali pada komitmen awal yg diperbarui tentunya.

Aku gak mau balik ke dia. Aku tidak sepemaaf kamu. Setelah dia sadar aku pengen dia merasa bersalah dan tidak ada yg peduli sama dia!

Tiba-tiba internet kantor mati dan kami terpaksa mengerjakan yg serba offline lalu pulang tanpa sempat say bye ke sudara sy tadi.

Di jalan sy berpikir sebegitu besarnya efek penyesalan seseorang sehingga untuk mengobatinya dia rela menyakiti atau sebaliknya. Diam-diam saya sependapat dengan sudara sy tadi. Yg diabaikan ingin mengabaikan. Yg dikhianati harus mengkhianat. Yg dilukai ingin melihat pelaku terluka. An eye for an eye. Mungkinkah?

Selama ini sy berusaha keras untuk rela berdoa semoga orang-orang yg mendzolimi saya diberi kesadaran serta rasa bersalah yg besar shg tdk menyakiti KORBAN lainnya lg. Mungkin doa sy kurang lengkap, seharusnya semoga sy jg diberi kesembuhan dari dendam yg membuat mata saya tidak ramah dan senyum saya tidak tulus.

Hp saya berbunyi. Sms diterima.

Mbak, internet kamu down ya? Sori ya tadi curhatnya berkobar2, hbs dendam bgt smp ga inget kamu jg lg patah hati… Titi DJ ya Mbak… GBU.

Saya cuma nyengir, tersenyum pada air mancur yg menari-nari. Hebatnya dendam itu ya…

LIFE IS A ROLLER COASTER

LIFE IS A ROLLER COASTER

I can’t define any better than this: life is a roller coaster. It surges up then down irregularly but well measured, rolls around a dangerous never-ending hills and valleys. You’ve gotta be ready to let your head hanging downward for quite some time before then your tummy be a place for a giant butterfly. You’ve gotta get a bunch of turning points whose effects would probably stop your heart work. And, the shouting and screaming and crying as well as laughing would beat your eardrums. You would learn that your neighbours enjoy their rides differently. What about you?

I myself like riding roller coaster. I laugh while doing it. But… At the same time, my eyes produce tears. A lot of tears: tears of joy, tears of nerve, tears of fright, tears of sorrow, tears of regret, tears of all feelings. I am crying in mixed excitement.

See each rider in the roller coaster. Does s/he communicate with the others? We think they do for they are on the same vehicle but they are not really interacting. They are busy with themselves preparing every single surprise welcoming their way. So much occupied individually.

There is only one thing all the passengers have in common: that they choose to sit on one of the chairs and that they must be guaranteed their safety and security.

The truth about my life is that I am chosen and not choosing because my life itself is a roller coaster. So, my job is only to make sure that I am safe and secure.

It’s a blessing to realize and recognize that my life is a roller coaster. Let’s roll by the coast. (Rike)

TOTO CONCERT IN SABUGA

Akhirnya konser TOTO jadi juga. Sabuga ITB Bandung… Jam 8 malam scheduled-nya, walhasil ya dengan acara ngantri dan cek untuk pengamanan dari barang-barang “haram” maka jadilah jam 9-an mulainya. Katanya kamera gak boleh tapi nyatanya ribuan kamera dijeprat-jepret. Syukurlah kalau begitu he he he…

Yudi, my manager (he he he) datang sekitar jam 7an langsung dari kantor, ID-nya aja masih digantungin di leher. Demi TOTO (atau demi aku kaleeee) dia rela datang bermacet-macet ria naik sepeda motornya.

OK, kami nonton, teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, menikmati suasana… Dan, beliau ini sempat tidur, dia ngakunya pas lagi makan pulang nonton konser.

Kamera saya low bat, walhasil saya pakai kamera di mobile phone saya dan pakai camdig-nya my manager. hasilnya keren kok, kayak yang nge-shoot hehehe…

Banyak lagu yang kami gak kenal. mungkin karena kami pemerhati TOTO generasi awal dan pertengahan jadi lagu-lagu anyar kelewat…

Yang pasti Africa, I’ll Be Over You, Love isn’t Always on Time…

OK, it was a beautiful night 🙂

Kapan ya nonton konser lagi

800 TAHUN RUMI

Acara 800 Tahun Rumi…

Mengesankan.

Zawawi Imron membawakan 3 puisi: puisi Rumi, puisi karyanya sendiri yang berjudul Lidahku Berdzikirlah dan sebuah puisi lainnya yang dibaca bersama Ratih Sang berjudul Ibu.

Taufiq Ismail: membaca puisi: Ketika Adzan Berkumandang Airmataku Berlinang Sholatku Demam Garang.

K. H. Musthafa Bisri (Gus Mus): mengulas Rumi, hidup dan karyanya sekaligus membaca berupa-rupa puisi Rumi dan puisi beliau sendiri.

Menyentuh kalbu dan jiwa. Mencerahkan jiwa yang penat.

Terima kasih semua atas semua. Subhanallah.

UNDANGAN 800 TAHUN JALALUDIN AR RUMI

Sesampai rumah saya langsung menyalakan radio tepat di Delta FM. Pukul 20:00 hingga 00:00 lagu-lagunya mendayu membelai kedua hemisphere otak saya untuk bersantai.

Penyiar sedang ramah mengulas singkat kehidupan Jalaludin Ar Rumi, penyair sufi Turki yang kondang dengan Tarian Darwis Berputar-nya (ingat lelaki dengan baju model klok yang berputar seraya merentangkan tangan). Lalu di akhir ualasan singkatnya sang penyiar (tentu atas rekomendasi pengarah acara) melontarkan quiz.

“Dimana penyair Jalaludin Ar Rumi dibesarkan?”

  1. Mekah/Arab, B. Turki, C. Mesir

Hadiahnya sangat menarik: Undangan ke acara “800 Tahun Jalaludin Ar Rumi” yang diadakan oleh Penerbit Mizan Jumat 29 February, 2008 di Erasmus Huis, Jakarta.

Apa salahnya kucoba?

Dan siapa sangka aku adalah salah satu dari dua pemenang yang dipilih produser. Tahu tidak Sudara, saya berteriak berkali-kali berucap syukur tak ketinggalan terima kasih pada crew stasiun radio tersebut seakan mereka mendengar saya.

Saya masih ingat betapa keras saya “mengutuk” Tuhan yang tak kunjung memberi saya keberuntungan. FYI, salah satu keberuntungan yang saya nanti adalah Menang Undian yang tidak pernah saya ikuti sepanjang hidup saya ini.

Alangkah bodoh dan memalukannya tindakan saya. Marah-marah jika belum diberi lalu cengengesan ketika mendapat anugerah.

Manusia… Manusia… Kapan kamu ini berhenti mengumbar amarah…

IQRO DAN AKHLAK NABI

Pagi ini terasa sedikit berbeda dari biasanya karena kok saya seperti di-setting untuk bertemu banyak ibu dan bapak guru sedang berangkat mengajar. Saya jadi ingat ketika saya masih sering didatangi teman-teman muda alias siswa-siswa saya yang semangat belajarnya mengangkasa.

Ada salah satu yang tiba-tiba menanyai saya.

“Miss, menurut Miss, Nabi Muhammad bener-bener gak bisa baca atau gimana sih?”

Wow! Saya sih cukup familiar dengan polemik tentang ummiy tidaknya Nabiku ini. Tetapi ketika seorang Fallen (nama siswa yang mengeluarkan thread) yang mengemukakan itu, kami terpaksa seperti disambar geledek. Kami menamainya “playboy cap kapuk” dan menganggap sangat tidak mungkin dia berbicara hal lain selain gadis manis dan rayuan maut ha ha ha…

“Gini Miss, ayat yang turun pertama kali kan “Iqro”. Nah disitu kan Nabi Muhammad diajari membaca oleh Malaikat Jibril. Pertanyaan saya, apa Nabi Muhammad bener-bener tidak bisa membaca alias buta huruf?”

“Iya Len, menurut buku yang gua baca memang Nabi Muhammad itu ummiy. Lu tahu gak ummiy…Bukan ummi. Ummi itu emak lo. Kalau ummiy itu buta huruf. Jadi memang beliau itu buta huruf makanya diajari membaca dulu sama Malaikat Jibril atas perintah Allah. Itu juga sekaligus pentahbisan beliau sebagai seorang nabi. Dan lagi kalau Muhammad tidak buta huruf, ntar disangkanya Al Quran bikinan ia. Bisa-bisa tidak ada yang percaya dengan kehebatan Al Quran.” kata Yusuf sedikit sok tahu. Yusuf ini tergolong siswa cerdas.

“Jadi emak gua buta huruf gitu?” timpal Fallen sambil tertawa ngakak.

“Menurut saya sih Nabi Muhammad tidak mungkin buta huruf Miss. Masak orang bodoh bisa jadi nabi? Memangnya Allah itu tidak punya kriteria untuk mengangkat manusia yang akan memimpin manusia lain? Secara kaffaah lagi. Professor aja ada syaratnya. Jadi saya nggak setuju sama Yusuf Miss!” Sigit, siswa brilian lainnya menyampaikan pendapat tidak kalah berapi-api.

“Saya juga setuju sama Sigit Miss. Nabi kan fathonah. Cerdas. Siasat perangnya juga hebat. Dia pasti bukan bodoh.” Kali ini Aji bersuara kalem.

“Ah, udah diem kalian. Gua bukan nanya lu. Gua nanya Miss Rike.” Fallen berteriak menengahi.

Olala… Saya juga bingung. Karena terus terang saja pengetahuan agama saya sedalam mangkuk sabun colek ukuran kecil. Kalau saya mengungkapkan pendapat hanya berdasarkan apa yang pernah saya baca dan dengar saya sendiri juga tidak merasakan nikmatnya menghayati apa yang saya terangkan kepada pemuda-pemuda hebat ini.

Belum sempat saya menjawab pertanyaan mereka (karena saya memang bisa dibilang tidak sanggup), Fallen berseru:

“Gini Miss. Kata kakek saya kisah itu bisa dipahami dari sudut pandang yang berbeda.”

“Huuuuu… sok tahu looo!” Yusuf, Sigit dan Aji menyoraki Fallen.

“Kata kakek saya nih Miss – jangan dengerin mereka Miss – itu kisah tersebut mengajari ummat Islam adab berguru atau adab belajar…” Fallen diam sejenak.

“Kok?”

“Sebenarnya Nabi bisa membaca kata Iqro” itu. Tapi karena dia sedang berhadapan dengan seorang guru yang diutus oleh Mahaguru maka beliau mendahulukan adab sebelum pengetahuannya. Dan justru itulah yang menyebabkan Muhammad lulus ujian dari Allah untuk menjadi seorang nabi yang tugas utamanya memuliakan akhlak. Iya kan Miss? Muhammad itu diutus bukan untuk memajukan ilmu pengetahuan tapi memuliakan akhlak. Itu sih kata kakek saya Miss…”

Alih-alih mengejek Fallen, kami semua terdiam.

Sebuah sudut pandang berbeda yang menghantam kepala kami. Bisa saja pendapat itu salah menurut para ulama yang pengetahuan Al Quran dan hadits-nya seluas samudera tetapi pelajaran yang ditawarkan sungguh hebat. Adab dalam berguru.

Kali ini kami berguru pada Fallen, si “Playboy Cap Kapuk” kami.

MALING CELANA DALAM

MALING CELANA DALAM

Ini kejadian sebenar-benarnya kejadian yang menimpa saya. Kemalingan celana dalam.

Tempat kami menjemur cucian plus handuk mandi terletak di samping rumah yang berada di sepanjang gang kecil pembatas antara blok A10 dan A11. Gang tersebut ramai hanya sebelum jam 10 malam dan sesudah jam 5 pagi, selebihnya hanya tikus, kecoa, nyamuk dan angina malam berpesta pora disitu. Samping rumah dipagari tembok setinggi satu meter disambung teralis setinggi 1,5 meter.

Kejadian kemalingan celana dalam ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Saya mencoba bersabar –atau lebih tepatnya cuek- karena memang hilangnya celana dalam tersebut sempat tidak ditanggapi serius oleh yang pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan cucian kami dan mungkin karena saat itu saya masih berpikir bahwa stok saya masih cukup. Tapi saya menjadi kehilangan kesabaran, mulai sangat gerah dan marah sejak akhir tahun lalu.

Bagai mana tidak, pagar teralis sudah ditutup fiber warna hijau, eh… malingnya manjat dan menggantol celana dalam dan memboyongnya pulang.

OK… Maka teralis pun ditinggikan hingga mencapai genteng. Ternyata Sudara-sudara… Maling kita ini masih nekad dan melarikan 2 celana dalam saya tidak sampai satu minggu setelah teralis ditinggikan. Kami bingung dengan gaya apa dia menggamitnya. mungkin dia punya ilmu melipat tubuh sehingga bisa menyelipkannya diantara jeruji yang kerap itu.

Pak & Bu Maman menyampaikan kabar bahwa mereka berdua melihat seorang laki-laki berkulit putih, tinggi semampai, berkacamata, sedang berusaha memanjat pagar teralis tapi buru-buru lari melihat pasangan tengah abad ini pulang subuhan dari mushola ujung jalan.

Saya masih bertanya-tanya: Siapa maling itu? Untuk apa nyolong celana dalam? Kenapa celana dalam? Dijualkah? Untuk orang lainkah atau diri sendiri? Tapi kenapa tidak bra-nya sekalian? FYI, maling itu hanya mau nyolong jika di jemuran ada celana dalam, jika dan hanya jika celana dalam!!! Tidak satu bra atau pakaian lain pun hilang.

Sudara-sudara, maling sialan ini telah sukses melarikan 32 pieces celana dalam saya!!!

MATEMATIKA DAN PERUBAHAN DALAM HIDUP SAYA

Saya suka matematika walaupun tidak pandai didalamnya. Saya suka menyambung-sambungkan hukum matematika dengan perjalanan kehidupan saya. Mungkin tidak 100% benar (malah bisa ajadi salah 100%) tapi saya sangat puas mengalahkan otak tumpul saya dengan senjata kejernihan hati.

Hidup saya berubah setiap saat. Dan, sebagai salah satu unsur yang ada dalam kehidupan, matematika juga memuat perubahan. Dari berbagai referensi yang saya baca, perubahan dalam matematika ada empat macam transformasi dasar, yaitu translasi , rotasi , refleksi, dan dilatasi.

Saya berusaha merangkum. Kurang lebihnya minta maaf karena saya bukan ahli matematika.

Translasi (pergeseran sejajar)

Secara gampangnya translasi merupakan suatu perubahan posisi yang diperoleh dengan cara menggeser.

Rotasi (perputaran dengan pusat 0)

Perubahan posisi dalam rotasi diperoleh dengan cara memutar obyek dengan mengacu pada pusat perputaran tertentu. Rotasi berbeda dengan translasi karena perubahan posisi pada translasi tidak mengacu pada suatu titik tertentu. Keistimewaan dari rotasi adalah jarak antara titik pusat dengan masing-masing bagian dari obyek yang diputar akan selalu tetap, seberapa jauh pun obyek itu diputar.

Refleksi (pencerminan terhadap garis)

Refleksi merupakan perubahan yang dilakukan dengan mencerminkan suatu obyek terhadap suatu garis (untuk dua dimensi) atau bidang (untuk tiga dimensi). Sebenarnya tidak ada perubahan posisi objek yang direfleksikan, yang ada hanyalah pergerakan citra karena adanya pantulan identitas.

Dilatasi (perbesaran terhadap pusat 0)

Dilatasi berhubungan langsung dengan perubahan ukuran tergantung dari nilai k yang kita masukkan. Jadi bisa saja perbesaran bernilai negative alias mengecil.

Itulah teori yang melibet otak saya saat sekolah dulu dan baru ketemu manfaatnya buat saya berpuluh kemudian. Bagaimana saya mengambil pelajaran dari hukum matematika untuk hidup saya?

Translasi

Nenek-nenek botak juga bosan dengan stagnansi. Siapa yang tidak ingin bergeser? Saya mau bergeser menjadi dewasa. Sekarang saya belum cukup dewasa. Buktinya banyak masalah yang saya hadapi dengan nangis melulu he he he… sekalipun nanti pada saatnya saya sudah (dianggap) dewasa oleh orang di sekitar saya, saya masih mau menjadi lebih dewasa lagi dan lagi dan lagi J

Rotasi

Ada yang berpendapat bahwa berputarnya nasib bisa jadi contoh hukum matematika ini. Ada juga yang mengatakan bahwa konsistensi perputaran itulah yang disimbolkan oleh teori ini.

Saya sendiri lebih suka mengadopsi keduanya. Jiwa pengikut ha ha ha… Jadi saya merasa perlu untuk menyadari apapun keinginan saya, saya tidak bisa memaksa untuk selalu berada diatas angin, selalu dituruti apapun mau saya. Sekaligus saya sadar bahwa saya jug
a berhak untuk mendapatkan hak saya dan tidak akan pernah dibiarkan untuk tidak mendapatkan hak saya. Jadi ya saya tenang saja lah. Ada rotasi.

Rotasi sebagai symbol konsistensi: saya berusaha untuk selalu bergerak berpura dan memutar dengan jarak tetap terhadap pusat rotasi saya sekaligus pusat revolusi saya. Berintrospeksi. Pusat rotasi dan revolusi tersebut adalah prinsip-prinsip yang saya pegang dalam hidup saya. Diantara prinsip-prinsip saya adalah hidup cukup. Tidak perlu berlebih. Asal cukup untuk apapun yang saya anggap baik dan benar termasuk bersedekah tidak terbatas J

Refleksi

Pernahkah Anda bercermin? Apa yang Anda lihat? Kalau Anda manusia, Anda akan melihat manusia. Kalau Anda Si-Amang, mestinya Si-Amang yang muncul di hadapan Anda. Kenapa manusia sering bermasalah dengan kemanusiaannya sedangkan monyet tidak pernah mempermasalahkan kemonyetannya? Saya rasa karena manusia jarang bercermin. Atau manusia salah memilih cermin.

Pakailah cermin yang jernih untuk melihat keadan kita. Ada 2 cermin yang sedang saya optimasikan:

  1. cermin dalam (hati saya) – jagalah hati J
  2. cermin luar (sahabat saya) – punyailah sahabat yang jujur J

Dimulai dengan berdiri di hadapan cermin saya memperbaiki kondisi saya lahir dan batin. Ah matematika, kamu bikin saya makin tak berdaya.

Dilatasi

Setelah bercermin, saya bisa memutuskan hal apa yang perlu saya antisipasi dengan dilatasi negative atau positif. Mana yang perlu saya perbesar, mana yang perlu saya kecilkan. Hidung saya dimancungkan, tubuh saya dirampingkan, rambut saya dipanjangkan, dll. Dan tak pernah lupa saya juga ingin memperbesar kuantitas dan kualitas kebaikan saya. Saya juga mau mengecilkan segala yang perlu saya perkecil: rasa marah, rasa malas, rasa gembira yang berlebihan, dll. Kalau dalam matematika ada nilai “k” yang sangat berpengaruh pada nilai dilatasi, saya juga punya nilai “k”.

k = keikhlasan (tapi saya suka juga menggantinya dengan segala k yang menurut saya cocok contohnya: kelaparan, maka saya makan lebih banyak. Ya kita ganti saja dengan kata yang ber-unsur ke-an) J

Begitulah saya membongkar matematika dengan keterbatasan pemahaman saya. Ada satu lagi yang sedang saya kerjakan: Transformasi Linier. Saya yakin Anda jauh lebih dalam dan luas ilmunya, mampu menggali yang jauh lebih besar untuk diri Anda.

Saya sangat berterima kasih pada semua yang telah membuat saya menyadari bahwa apapun yang saya alami adala soal ceri
ta matematika ha ha ha ha…

Rike Angg

Effortless Motivation to Success

Effortless Motivation to Success

By Laura Roman Lopez

Every one is searching for that magic answer that will make their lives better and more enjoyable. Through motivation, they expect that this will give them the edge to finally see things through and actualize their goals.

What is missing is that when the motivational element is gone and the hype wears off, what then happens. Motivation becomes effortless when it starts from within. Like the Biblical story of Jesus and the boy by the sea. If you give a man a fish, you will feed him once; but if you teach him how to fish, he will never go hungry again. Awaken the self-motivator that lies within you. Once you discover how to do this with conviction and determination, you will always know where to turn for strength, encouragement, approval and confidence.

Effortless Motivation can be achieved by following these simple steps:

Avoid negative people, things and places. You become success by the people you associate with. Stop associating with negative people who only have their own interests at heart. Find like-minded people to start a new social and business circle with.

Be crystal clear in your mind on what you are motivating towards. You have to see it to truly believe it. Visualize it everywhere. Impress on your consciousness that you will have what you are working towards.

Self discipline is vital to staying motivated. Take control of your reality. Do not allow situations or circumstances to deviate you from your mission.

Staying laser focused is the key when dealing with real life adversities.

Do not allow anyone to be the killer of your dreams. Individuals will try either consciously or subconsciously to bring you down. Loved ones are especially capable of this, believing that they are giving you good advice. Simply, thank them for caring and continue on your path.

Approaching life from the highest level of dignity and morality is the best motivator. Doors will open for you when you are operating from this position. From there, more and more good things await which is motivating in itself.

Adopt the philosophy that you make things happen. People will depend on your dependability. When you become the “go-to” person that everyone trusts, it is extremely motivating. You continue to raise the bar of excellence. People will gravitate towards you for it.

Never be afraid to fail. Accept that life is a continuum of learning experiences and that set-backs are apart of the process. Be grateful that mistakes bring you closer to your ultimate goal. It is amazingly motivating if you can see the opportunity from your challenges.

Persistence is necessary no matter how difficult the task. When a person is motivated, the gap between resistance and a favorable outcome is shortened. When you learn to attack each situation with persistence, your completion rate will increase.

Motivation is knowing that you are over-delivering. The fastest way to success is to help as many people as you can to be successful. Whenever you think that you have met your requirements, keep going. You will also set yourself apart from the masses. Over-delivering is so important, yet unknown.

Remember, you are unique. Uniqueness is motivating because there isn’t anyone else in this world who looks, acts, or talks like you do. Value your life and the contributions you are making. When you own this concept, you will find that people will want to be more close to you.

Understand others. If you know how to speak, you should also learn how to listen. Learn to understand first, and to be understood second.

Create a self motivating mantra, such as “Wining is the only option”, “Today is the day, or my personal favorite “I can do that”.

Motivation is also about preparation. Being prepared builds confidence, which will open the door for more dependable outcomes. Once you can depend that your efforts will meet with beneficial results, you will be encouraged to be better prepared and so on.

Enjoy life more. Work as if you don’t need money. Dance as if nobody’s watching. Love as if you never cried. Learn as if you’ll live forever. Motivation takes place when you are happy.

Learn to live by your own expectation and not by the expectation of others. Your motivation can easily lessen if you are not being true to yourself. Listen to what your inner guide is saying and you will never go wrong.

Try to see the big picture. Motivation comes from being able to see things from all sides. That way, you can anticipate and appreciate any possible outcome. You also must trust that a particular outcome is the one that is going to be for your highest good. You might not be able to see it then and there but in the end you will.

Procrastination is one of the main reasons why people fail. The best solution to this behavior is to flip the coin. Look at what procrastination is keeping you from. Too often people focus on the pain of whatever they are procrastinating from rather than celebrating the eventual benefit.

When implementing these steps, you will be awakening the self motivator that is you. Your ability to stay motivated is never to far away if you commit to doing it yourself. Yes, others can still play a role on your way to success – a supportive role.

You are the main character and you command self motivation.

BIAR MEREKA BICARA TENTANG MASALAH INI

BIAR MEREKA BICARA TENTANG MASALAH INI

Mereka bilang harapanku tak mungkin tercapai,

Al Quran bilang jika Allah mengijinkan maka Kun fayakun.

Terwujudlah harapanku.

Mereka bilang aku konyol mengharap keajaiban,

Al Quran memuat beribu keajaiban dunia.

Mereka bilang aku tak akan mampu,

Al Quran bilang Allah mengirim malaikat pada orang yang beriman padaNya.

Mereka bilang aku yang salah,

Al Quran bilang berbuatlah adil dan periksalah berita dengan benar.

Mereka bilang aku menyakiti hati,

Al Quran bilang tiada hati yang sedih kecuali Allah memberi kabar gembira.

Mereka bilang aku memulai konflik,

Al Quran bilang kita boleh bertindak ketika teraniaya.

Mereka bilang aku begini dan begitu, aku tidak peduli

Aku percaya pada Al Quran,

yang memuat pesan-pesanNya.

Wahai Pemberi pesan,

Kubaca senantiasa pesanMu.

Berikan kepahamanMu padaku.

Sibakkan kabut kegundahanku.

Hapuskan keraguanku.

Condongkan hati mereka padaMu,

Yang telah meraihku.

Amin.

Embok Gendhong

Kami bilang beliau ini “embok delivery” karena tugasnya memang “mengantar” makanan kami. Beliau jualan keliling dan jadi “someone to rely on” untuk kami karena kami ini sangking rajinnya bekerja (huek huek) sampai-sampai tidak sempat keluar kantor untuk makan (huek huek huek).

Hidangan:
– Nasi pulen pasti
– Sayur bervariasi tergantung mood pedagang 😀
– Lauk bermacam-macam tergantung yang ada di tempat belanja
– Gorengan, tempe dan tahu pasti ada kecuali waktu tukang kedelai mogok

Kelebihan:
– Emboknya baik dan sabar
– Pembeli (kami) tidak perlu jalan jauh demi sepiring nasi
– Rasanya masakan rumahan banget
– Bisa request secerewet mungkin he he he

APAKAH CINTA ENERGI POSITIF ATAU NEGATIF?

APAKAH CINTA ENERGI POSITIF ATAU NEGATIF?

BACALAH DAN BUATLAH KEPUTUSAN

Banyak yang men-sinyalir bahwa perasaan cinta adalah energi positif yang dapat bikin hidup lebih semangat. Namun sejauh mana cinta dapat memberikan pengaruh positif dan bagaimana cinta memberikan energi positif yang dikandungnya? Dan kepada siapa cinta memberikan energi positifnya? Apakah kepada seluruh pecinta atau dicinta atau hanya kepada beberapa diantaranya?

Apakah seorang anak mencintai orang tuanya dan sebaliknya? Apakah sepasang kekasih saling mencintai? Apakah Anda mencintai sahabat dan sebaliknya? Apakah Tuhn mencintai kita dan sebaliknya? Apakah seorang kolektor mencintai koleksinya dan sebaliknya? Apakah saya mencintai pekerjaan saya dan sebaliknya? Ada sebagian yang Anda jawab dengan ya dan ada yang dijawab dengan tidak. Bila ya apakah pengaruh energi positif tersebut terhadap mereka? Adakah? Terasakah?

Seorang ibu atau bapak yang mencintai anaknya akan berkorban banyak demi membuktikan kecintaannya pada anaknya. Anak sakit, orang tua membawakannya obat. Anak lapar, orang tua membawakannya pengenyang. Anak menangis, orang tua menenangkannya. Hal tersebut adalah bukti nyata kecintaan orang tua pada anaknya. Apa yang akan anak lakukan bila orang tuanya sakit, lapar atau menangis? Mungkin hal yang sama, mungkin juga tidak. Ingatlah apa yang dilakukan Ibrahim dan Ismail. Ingatlah pula apa yang dilakukan oleh Malin Kundang dan ibunya.

Bila Anda mencintai sahabat apa yang akan Anda lakukan? Mengiriminya ucapan dan bingkisan saat dia ulang tahun? Mendengarkan keluh kesahnya? Meminjamkan apa yang Anda punya bila dia membutuhkannya? Menelponnya saat Anda tiba-tiba mengingatnya? Atau mengiriminya doa? Atau tidak pernah ingat? Atau tidak punya sahabat? Kapan saat terakhir Anda berputus asa karena menyadari sahabat-sahabat Anda mulai menjauhi Anda karena mereka mempunyai kesibukan atau kecintaan baru? Apakah ada cinta saat itu antara Anda dan sahabat?

Apabila kita mencintai koleksi kita, tentu kita akan dengan senang hati menjaga koleksi kita supaya tetap terjaga: bersih dan tidak rusak atau mati. Kolektor perangko akan menjaga perangkonya dlam album perangko, kolektor burung menjaganya dalam kandang, kolektor perhiasan menitipkannya pada museum atau safety box, kolektor uang akan menyimpannya di bank-bank yang berbeda diseluruh penjuru dunia, kolektor bunga akan menempatkan tanamannya di tempat-temoat yang membuat mereka tahan lama dan tetap cantik, kolektor wanita akan mempertahankan wanita-wanitanya untuk tetap tidak mengenal satu sama lain supaya mereka tidak sakit hati. Mssalahnya adalah apakah Anda mendapat balasan yang setimpal dari koleksi Anda tersebut. Jangan-jangan koleksi Anda tidak peduli pada Anda. Oh… kasihan deh looo

Apakah Anda menyadari bahwa Tuhan mencintai Anda? Dia mencukupi kita demi cinta-Nya. Dia melindungi kita dari berbagai mara bahaya dengan mengirim malaikat-malaikat berbentuk para makhluknya. Namun masih ada juga yang tidak sadar akan karunia-Nya. Apakah Anda meyakini CINTA TUHAN sebesar Anda meyakini cinta yang diberikan oleh orang-orang di sekitar Anda? Apakah Anda lebih takut kehilangan Tuhan daripada kehilangan perangko atau kehilangan bunga atau ditinggal istri atau anak Anda? Ataukah Anda akan meradang pada Tuhan dan menuduhnya tidak mencintai Anda karena telah membiarkan koleksi Anda berkurang atau mengambil orang-orang yang Anda (pernah) Anda cintai atau (pernah) mencintai Anda. Sesering apa Anda menuduh Tuhan tidak mncintai atau setia kepada Anda?

Terlalu banyak pertanyaan yang berkembang di benak Anda, bukan? Tenang saja, dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya yakin Anda akan menemukan jawaban yang tepat tentang energi apa yang telah Anda peroleh dari cinta Anda.

Bila Anda ingin menguji keyakinan bahwa cinta itu membawa energi positif atau tidak maka luangkan sedikit waktu Anda untuk menyimak sekelumit kisah berikut.

Tuhan

:

Wahai Kolektor, kuberi kau karunia sehingga engkau dapat melakukan apa yang engkau mau. Namun jangan lupa untuk bersyukur

Kolektor

:

Terima kasih Tuhan. Karunia dan cintaMu padaku tiada tara. Aku tidak akan melupakan syarat itu. Tetapi bagaimana aku harus bersyukur padaMu?

Tuhan

:

Mudah saja. Cintailah makhluk-makhluk-Ku seperti Aku mencintai mereka. Berikan pada mereka hak-hak mereka.

Kolektor

:

OK. Aku paham apa yang harus kulakukan.

Apapun yang Kolektor inginkan terpenuhi karena cinta Tuhan kepadanya. Kolekor hanya menginginkan satu hal yaitu Koleksi.

Kolektor

:

Akan kuurus kamu dengan sepenuh hati dan jiwa sebagai tanda syukurku kepada Tuhan yang telah memberikan segala apa yang kuinginkan.

Koleksi

:

Terima kasih. Saya juga akan memberikan apa yang Anda inginkan sebagai tanda terima kasih saya pada Anda yang telah mau berbagi karunia dengan saya.

Kolektor

:

Kamu memang koleksi yang baik. Tahu membalas budi

Makin besar cinta Kolektor pada koleksinya. Seakan tak hingga cinta yang ia curahkan kepada koleksinya sehingga dia lupa akan hak-hak temannya. Dia tidak lagi mengunjungi teman-temannya yang selalu mengingatkannya supaya tidak mencurahkan seluruh harapan kepada koleksinya yang suatu saat akan lapuk dan meninggalkannya.

Teman

:

Hai, apa yang istimewa dengan koleksi kamu?

Kolektor

:

Dia adalah hal yang membuat saya bersemangat dalam hidup ini. Yang membuat saya merasa bermanfaat. Yang membuat saya merasa dibutuhkan. Yang membuat saya merasa berharga. Yang membuat saya merasa memiliki sesuatu yang kusebut HARAPAN.

Teman

:

Tidak cukupkah kamu dengan memiliki teman seperti aku? Aku telah membuat kamu berharga, dibutuhkan, bermanfaat, bersemangat dan selalu saling mengingatkan adanya suatu harapan. Apakah engkau tidak menganggapku seperti koleksimu?

Kolektor

:

Bukan seperti itu. Kamu sama berharganya tapi aku tidak bisa menjelaskan bagaimana berbedanya kamu denga koleksiku ini.

Teman

:

Itu artinya kamu memang tidak mencintai ku lagi.

Kolektor

:

Bukan!

Teman

:

Lupakan saja pertemanan kita. Rasa cinta kita tidak seimbang dan akan membuat kita saling menyakiti. Maaf.

Kolektor

:

Ya sudahlah. Toh aku masih memiliki sesuatu yang bisa menggantikanmu.

Maka lapuklah koleksi yang telah sepanjang waktu ini dia jaga dan sayangi. Dan hancurlah hatinya.

Kolektor

:

Tuhan sudah tidak mencintaiku lagi. Dia seperti temanku. Dia sama dengan temanku yang telah mencabut cintanya. Tuhan telah menyakiti aku seperti temanku menyakitiku dan koleksiku yang meninggalkan kelapukan tanpa sisa. Tuhan tidak memperingatkanku sebelumnya. Dia tidak pernah memberitahuku bahwa apa yang kuharap akan pergi, yang kucinta dapat meninggalkanku, yang menghargaiku akan mengabaikanku. Apa arti cinta Tuhan? Apa arti cinta teman? Apa arti cinta koleksi? Mereka tak punya cinta! Mereka menghendaki cintaku tapi tak memberi sebesar aku berikan pada mereka. Kini aku tak punya cinta lagi

Kini apakah yang Anda dapatkan setelah membaca kisah sang Kolektor? Menurut Anda apakah cinta berenergi positif atau negatif? Absolute atau relative? Apakah cinta membangun? Atau merusak? Atau justru kini Anda memiliki definisi yang sarat percabangan tentang cinta? Ataukah Anda sendiri sang Kolektor itu? Atau Anda sang Teman? Atau si Koleksi? Bisa juga Anda merasa sebagai Tuhan yang tak memberikan syarat apapun kepada yang dicinta kecuali bersyukur dengan kata lain SEIMBANGlah!

Anda yang dapat menjawabnya. Hikmah tidak berada di tubuh cerita namun ada di ceruk jiwa Anda. Let’s start our journey. Start with questioning J

Rike Angg.

HEIDI

Heidi is a children book telling about an orphan girl named Heidi.

She has been raised by Uncle Alm (her grandfather) since she was 5 years old after 4 preceeding years raised by Dete, her aunt.

Heidi grows to be a very happy and cheerful girl but not well educated. She does not go to school, she does not learn anything formally but about the Nature surrounding her. However, she is actually naturally smart and she is a very caring and loving creature over all her life.

Her only teen friend is Peter, a boy whose job is sheperding goats including Uncle Alm’s two goats. Heidi likes joining him to the mountain side, herding the animals. The boy loves her much because he doesn’t have any sibling. Like the girl, this boy is also a little hard-headed but much more irrational than her.

She then has to follow her fate to Frankfurt where she is introduced to Clara Sesseman, a handicapped girl, who badly needs a friend.

Johanna Spryi tells this story simply simple but strongly able to manipulate the readers’ imagination so that they can feel as if they were one of those characters involving in the story. She also depicts Switzerland mountainuous landscape so beautifully that most readers may want to visit Dorfli, the village in Alpine area becoming the story setting.

This book has been published as comic book as well as shortened version in various languages. In Indonesia his story was published as a comic serial in Bobo magazine approximately twenty years ago. Presently, Read! publishing house has published it in a “nomik/novel komik” (novel with illustration). This book has also been made films several time over the years: 1937 (starring Shirley Temple), 1968, 1997 and 2005. All the films are moving, interesting and educative.

This book becomes one of my important books in life. I am inspired to make Switzerland my must-be-visited country after Saudi Arabi. It also teaches me to be an independent, optimistic and cheerful girl. Heidi is recommendedly read by any of you readers who want to get inspiration for:
– pleasure
– knowledge
– life values: love, friendship, independence, loyalty, truthfulness, etc
– teaching methods for teachers and parents 🙂
– modified games for children for teachers and parents 🙂
– inspiration itself
– etc name yourself

All in all, Johanna’s Heidi is one of a must-read children book for children and adults all over the world.

Heidi, Heidi… The mountain girl…

OPTIONAL WAY OF READING:
If you happen to read this book, optionally you can read it out loud in front of your children/nephews/nieces/kiddy students by acting out what the characters are doing in the story – especially what and how Heidi does.