ASMARANDANA

ASMARANDANA

Asmarandana termasuk tembang alit (tembang alit lainnya adalah Mijil, Sinom, Dhandhanggula, Kinanthi, Durma, Pangkur, Maskumambang dan Pucung). Ada lagi dua kelompok tembang lain yaitu: tembang tengahan (Jurudemung, Wirangrong, Balabak, Gambuh, Megatruh) dan tembang ageng/gedhe (Girisa).

Tembang Asmarandana (Asmaradhahana) umumnya dilagukan oleh orang yang sedang dimabuk cinta. Secara kasar, Asmarandana diambil dari kata asmara yang artinya cinta atau kasih sayang, dan dahana yang artinya api. Oleh karena itu, isi dari tembang Asmarandana adalah “wuyung” alias cinta atau asmara dan segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Pemaknaan lainnya, Asmara juga merupakan dewa percintaan dan Dahana berarti api. Nama Asmarandana berkaitan dengan peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja.

Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi. Mari kita kaitkan dengan sifat Allah yang Rahman dan Rahim.

Maka jika Anda sedang dimabuk cinta, tiada salahnya Anda melantunkan tembang ini atau dengarkan saja alunan gamelan berikut. Btw, yang melaras (memainkan) gamelan Jawa kok bule-bule ya? Tak ada salahnya juga, bule juga boleh dong melestarikan budaya Jawa. Dan, sebaliknya orang Jawa juga boleh dong nguri-uri budaya bule. Kita bersama-sama melestarikan budaya dunia asal tidak saling klaim ini punyaku, ini milikku.

Yuk kita coba melihat seperti apa sih lirik alias tembang Asmarandana ini. Saya berusaha menerjemahkan secara bebas berdasarkan pengetahuan saya yang sangat terbatas tentang bahasa sastra Jawa.

Asmarandana yang langsung berhubungan dengan percintaan

Gegaraning wong akrami (penguat dalam pernikahan)

Dudu bandha dudu rupa (bukan harta atau fisik)

Amung ati pawitané (tetapi hatilah modal utamanya)

Luput pisan kena pisan (sekali jadi, jadi selamanya)

Lamun gampang luwih gampang (jika mudah, semakin gampang)

Lamun angèl, angèl kalangkung (jika sulit, sulitnya bukan main)

Tan kena tinumbas arta (tak bisa ditebus dengan harta)

Asmarandana yang berkaitan dengan sifat memberi

Aja turu soré kaki (jangan tidur terlalu awal)

Ana Déwa nganglang jagad (ada dewa yang mengelilingi alam raya)

Nyangking bokor kencanané (menenteng bokor emasnya)

Isine donga tetulak (yang berisi doa penolak bala)

Sandhang kelawan pangan (sandang dan pangan)

Yaiku bagéyanipun (yaitu bagian untuk)

wong melek sabar narima (orang yang suka tirakat malam, sabar dan menerima)

Masih penasaran? Silakan berburu ilmu budaya Jawa J

IBUKU ULANG TAHUN 9 OKTOBER

IBUKU ULANG TAHUN 9 OKTOBER

Sungguh tak mudah menguntai kata-kata

Karena engkau tak terlukiskan

Tak mudah menggambarkanmu

Karena kau jauh lebih indah dari gambaran

Tak mudah memujimu

Karena tak ada kosa kata yang memadai

Tak mudah terharu karenamu

Karena air mataku telah tercurah olehmu

Tak mudah berterima kasih padamu

Karena budiku tak berarti bagi jasamu

Tak mudah, Ibuku

Kau telah lakukan apa yang kau bisa

Sebisa yang engkau mampu

Semampumu walau sungguh kadang kau tak mau

Tak mau surut

Tak mau mundur

Merengkuh dengan kasih yang kau terjemahkan dalam lelakumu

Menyirami kami dengan keterbatasan kasih yang luasnya tak tertampung samudera

Kau telah melakukannya

Dengan upaya berawalan “segala daya”

Kau bidadariku

Kau…

Ibuku,

Bagaimana kubisa membencimu

Kalau ternyata kau tambatan tali pusatku

Bagaimana kubisa mengabaikanmu

Kalau ternyata kutumbuh oleh darah dan air susumu

Bagaimana kubisa melupakanmu

Kalau a ternyata engkau cetakan ragaku

Bagaimana bisa kutempatkan kau setelah mereka

Kalau ternyata kau tak pernah melepasku dari keprihatinanmu

Bagaimana bisa?

Kalau ternyata kaulah manusia yang sanggup melakukannya…

Maafkan aku

Yang acap kali mengatakan “Ah!”

Maafkan aku

Yang berulang kali ngambek karena petatah-petitihmu

Maafkan aku

Yang tak bosan mengguruimu dengan ilmu mudaku

Maafkan aku

Yang seakan jauh lebih berjasa padamu

Maafkan aku

Yang akan banyak tak menuruti saranmu

Aku hanya tak mampu, bukan tak mau

Ibuku,

Kecantikanmu berbatas usia tapi…

Kesetiaanmu seperti matahari

Pengabdianmu seperti nabi pada Tuhannya

Kekuatanmu seperti tetesan air

Ketabahanmu seperti kerang yang mengulum arang menjadi mutiara

Kelembutanmu seperti sutera China

Kesabaranmu bagai aliran sungai ke laut

Ibuku…

Sungguh tak mudah menggambarkanmu

Hanya Tuhan yang membalas jasamu

Telah disiapkan kebahagiaan tak terhingga untukmu

Ibuku hari ini, ulang tahunmu

64 tahun kau merangkum musim

Selama itu pula kau menangguk ilmu

Selama itu pula kau kibaskan segala halangan

Kau terpilih

Kau terpindai

Menjadi yang diberkahi

Menjadi yang disucikan

Kau menjadi manusia mumpuni

Lewat segala sungkur, tangis dan pilumu

Lewat segala lagu, senyum dan tawamu

Selamat ulang tahun, Ibuku…

Aku menyayangimu.

Prepared on October 8, 2008 – 11:57pm

ULANG TAHUNMU 8 OKTOBER

ULANG TAHUNMU 8 OKTOBER

Duhai kekasih gelapku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi tersimpan bintang di belanga usiamu

Api di bawahnya bergolak

Menyala mematangkan masakan dalam belangamu

Duhai pujaan hatiku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi tahun terenggut dari untaian usiamu

Benang emasnya berkilau

Terburai meretas berkurangnya masa tunggumu

Duhai saudara tercintaku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi langkah kakimu melaju

Jejaknya dalam

Terpatri dalam setiap detak jantungmu

Duhai sahabat terkasihku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi lilin disulut di atas kuemu

Nyalanya mungil

Menari gemulai seindah mimpimu

Duhai lembaran rinduku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi puisi kutulis untukmu di keramaian

Kata-katanya sederhana

Mencabut rasaku menghantar cintaku padamu

Duhai penguasa hatiku,

Hari ini kau berulang tahun

Satu lagi harapanku kuimpikan

Makan dan minum di saung tepi telaga

Memenuhi rasa lapar dan dahaga di sampingmu.

Selamat ulang tahun…, bisikku…

prepared on October 7, 2008 at 11:57pm

UDAN SALAH MONGSO (hujan salah musim)

UDAN SALAH MONGSO

(hujan salah musim)

Keluar dari kantor, saya merasakan titik-titik air langit menusuki kulit saya. Hujan rintik-rintik. Teman saya segera mengembangkan payung ungunya. Saya sendiri masih merasa aman karena saya menyangka hujan tak akan membesar. Asal kerudung saya masih protektif, biasanya saya tak membuka payung biru bertabur gambar hati kesayangan saya.

Saya dan teman saya segera masuk kendaraan umum yang telah setia menanti kami menyeberangi jalan yang tiap petang selalu disesaki kendaraan bermotor yang membawa tuannya kembali ke wismanya masing-masing. Sang hujan merindui tanah rupanya. Tetesan air membesar dan jadilah hujan deras sementara kami masih di angkutan menuju terminal. Kok hujan begini sih…, gerutu banyak orang di metromini.

Turun di depan terminal Blok M, genangan air menutupi sepatu kets saya dan merembesi bluejeans saya. Kerudung dan punggung saya juga basah pada bagian tertentu terkena cipratan air dan karena tampias air hujan yang meluncur di payung. Hujan ini tak selayaknya tiba pada bulan-bulan ini. Udan salah mongso, kata penduduk Jawa. Hujan yang datang tak tepat waktunya.

Saya ingat tadi siang ketika kami sedang berbincang santai ngomongin orang. Oalah, Ramadhan kok ngomongin orang ya? Lha, habis mau ngomongin apa kalau nggak ngomongin orang? Ngomongin monyet puasa tidak lebih menarik he he he… pendeknya kami sampai pada sebuah topik tentang kepedulian kita kepada Cik Yen yang sering kena macet di daerah Fatmawati setiap berangkat dan pulang kerja.

Sebagian besar kami yang terbiasa positif terhadap sesuatu hanya tertawa-tawa termasuk juga Cik Yen yang santainya melebihi kami ini. Malahan kejengkelannya terhadap lalu lintas kota Jakarta yang sudah di ambang “membahayakan mental” tersebut dia kemas dalam bentuk yang sangat konyol. Kami bukannya bersedih malah ngeledekin dia. Seperti biasa dia hanya tertawa dan makin gila kekonyolannya.

Namun diantara kegirangan kami ini, tiba-tiba sebentuk lontaran kata melintasi gendang telinga kami…

“Ya ampun, Yen. Kasihan banget sih kamu kalau tiap hari kamu kayak gitu? Aduh, aduh… Kasihan. Terus gimana kamunya? Kasihan ya…” Nada suaranya diiba-ibakan seakan sedang berbicara pada pengemis pincang yang malang.

Keceriaan kami tiba-tiba lenyap karena nada sedih tapi garing dan terkesan meremehkan yang dihembuskan oleh seseorang yang memang punya karakter “pemadam percakapan”. Beliau ini amat sangat sering sekali membuat percakapan yang gayeng menjadi stuck alias macet karena:

  1. Komentar yang selalu merujuk kepada superioritas beliau. Pokoknya dia merasa nggak pernah ada cacatnya deeeeh…
  2. Komentar yang memojokkan orang lain. Pokoknya dia merasa nggak pernah ada cacatnya deeeeh…
  3. Komentar yang sangat sarat dengan istilah ilmiah tapi sama sekali tak membuat diskusi berkembang. Pokoknya ilmu dia paling selangit deeeeh…
  4. Komentar yang tak diharapkan dalam bentuk apapun. Pokoknya dia tahu segalanya deeeeh…

Hujan senja ini mengingatkan saya bahwa ada sebuah kenyataan yang datangnya tidak diharapkan pada saat tertentu dan justru dia datang membawa dampak yang sangat tak diharapkan pula. Tak heran ada beberapa teman yang secara rahasia membisiki saya bahwa orang seperti ini dikategorikan sebagai megalomaniac. Dan, malangnya justru dia tak pernah menyadari itu.

Kembali pada udan salah mongso. Tah
u tidak, gara-gara hujan salah mongso itu:

  1. Banyak orang kehujanan karena belum siap payung.
  2. Banyak orang tak siap kostum yang tepat untuk musim hujan.
  3. Saya pribadi kedinginan dan masuk angin karena saya memakai kets yang bahannya tak kedap air. Selain itu, kaki saya gatal-gatal karena kaos kaki basah.
  4. Hati rasanya kesal.

Seperti hujan senja kemarin, komentar teman kami ini sejatinya semacam udan salah mongso; komentarnya tidak pada tempatnya. Komentarnya tak tepat waktu. Bahkan mungkin memang komentar itu tak layak ucap sama sekali.

Sungguh saya telah menjadi pendengar yang menyimak kata-katanya. Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni. Tidakkah asumsinya itu membuatnya lelah berpacu dengan kenyataan yang kadang sama sekali diluar kesanggupannya? Tidakkah dia menyadari bahwa keengganan kerap kali menerpa teman-temannya bukan karena rasa sungkan atau hormat melainkan lebih kepada ketakpedulian dan olok-olok murni saja? Tahukah dia bahwa terselip rasa muak di tiap sudut hati tiap tetangganya?

Ya, semoga udan salah mongso ini tak kami alami terus menerus kecuali Allah memang ingin kami kebal kepada segala musim; atau bisa jadi Allah memang membiarkan hujan itu turun sebagai “kecelakaan berkah” sehingga kami yang tak punya hiburan ini bisa mengolok-olok si hujan dan menceritakan kemarahan kami kepada sesama atas hadirnya si udan salah mongso ini.

Wahai Tuhanku, jauhkanlah kami dari sifat udan salah mongso. Amin…

September 24, 2008 – 10:20pm

SAAT KAMU MANDI, MENGAPA KAU PILIH LAGU ITU?

SAAT KAMU MANDI, MENGAPA KAU PILIH LAGU ITU?

Saat kau mandi, kau selalu menyanyi

Lagumu anak panah sunyi

Dengan hulu tertuju hatiku

Sore tadi, kau mandi

Kudengar kau bernyanyi

Isinya mengiris hati

Andaisaja tak kumengerti bahasa hati

Mungkin aku tak peduli

Namun pesanmu terlalu mudah kumengerti

Benarkah?

Adakah aku salah?

Atau hanya sekedar gundah?

Kau memang selalu bersenandung

Saat tenang ataupun bingung

Sore ini pun galau tak dapat kutanggung

Di jalan tadi semua tampak baik

Tiada tanda, hapuslah panik

Danau hatiku tak lagi terusik

Namun lagu ketika kamu mandi itu

Masih terngiang di gendang kalbuku

Adakah itu jujurmu?

Kuturunkan kaca pemisah kita

Tak kuat aku bersirobok mata

Pulang mengukur jalanan kota, kau jadi hambar tak berasa

Adakah ini tanda lagu itu?

Adakah ini alamat akhir perjuanganku?

Ya atau tidak?

Oh, Tuhan

Mungkin kini aku di persimpangan

Tangan hangatnya yang kuharapkan.

Masihkah Kau berpihak padaku?

Yang terus saja melaju

Tak kuasa kugambar rupa hatiku…

Sudahlah…

Keringat hatiku telah kering

Airmataku sia-sia juga

Kuhela nafas terakhirku

Kusudahi lengkung pelangiku

Karena lagu ketika kau mandi sore tadi…

0ctober 4, 2008 – 12:21am

KITA PERLU IMUNISASI

KITA PERLU IMUNISASI

Waktu saya kecil, saya diimunisasikan supaya kebal terhadap berbagai macam penyakit walaupun kenyataannya ada sebuah penyakit yang terpaksa saya idap selama beberapa lama karena suntikan imunisasi tersebut tak mencukupi untuk melawan serangan penjahat dari luar tubuh saya. Untung tidak menular dan dapat disembuhkan sehingga saya bisa bernapas cukup lega.

Ada bekas goresan di lengan kiri saya dan suntikan di lengan kanan saya. Kata ibu itu namanya bekas imunisasi.

Yang masih saya ingat adlah imunisasi polio. Saya masih kecil, tak inget entah sudah sekolah atau belum. Kami sekeluarga pergi ke “kota” untuk mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah demi imunisasi saya dan beberapa sepupu saya seusia. Saya disuruh mangap (membuka mulut lebar-lebar, Bahasa Jawa) lalu ditetesi obat yang rasanya jelas nggak enak tapi mesti ditelan dan tak boleh meludah.

Kemudian satu lagi yang masih saya ingat. Saat itu saya kelas enam es de, segerombolan perawat dan dokter datang ke sekolah kami yang segera membuat keonaran karena masih banyak gadis seusia itu yang nyatanya takut jarum suntik dengan berbagai alasan bahka ada yang emngatkan takut terkena tetanus ha ha ha… masuk akal juga ya. Kali ini lengan kami yang menjadi korban, disuntik dengan rasa semut raja karena rasa gigitannya tak terkira bekasnya hingga membuat kami saling ledek sambil menabok lengan satu sama lain; mencari siapa yang paling cengeng.

Hidup in penuh penyakit baik jasmani maupun rohani maka itu sangat masuk akal bahwa imunisasi atau pengebalan sangat penting artinya. Fungsi pengebalan yang membantu manusia belajar menamengi diri terhadap gangguan luar tak bisa tidak harus dilakukan etah secara alami maupun tidak.

Yang dilakukan oleh petugas rumah sakit maupun petugas kesehatan yang datang ke sekolah saya tersebut adalah upaya non alami imunisasi. Sedangkan yang alami adalah yang seperti dilakukan oleh orang yang tak perlu imunisasi namun harus mengalami perjuangan hebat terhadap segala macam penyakit yang gentayangan dalam lingkungannya; jika pada akhirnya dia harus kebal dalam keadaan berpenyakit itu lain cerita.

Secara mental, manusia juga perlu imunisasi. Siapa yang tak tahu bahwa hidup ini penuh penyakit rohani? Sepanjang hidup kita tak sejengkal pun kisah kita tanpa ujian kekebalan. Ijinkan saya untuk menyuratkan sebagian yang saya sebut dengan imunisasi tersebut.

Sepuluh tahun yang lalu saya adalah seorang mahasiswa yang sangat membentengi diri pada segala yang berbau “kiri” hingga saya tak sudi membaca karya seorang pujangga Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Sungguh saya menangkal segala tawaran dari teman “kiri” saya untuk sekedar berkenalan dengan satu bab dari buku Mas Pram itu. Kawan saya itu sampai putus asa dan menganggap saya tertutup, eksklusif, jumud, dsb julukan tak enak yang akhirnya membuat saya dan mereka agak mengambil jarak. Namun sejak delapan tahun yang lalu saya mengalami pergeseran; saya menerima suntikan dari kiri dan kanan yang membuat saya merasa bahwa yang “kanan” tak akan seimbang tanpa yang “kiri”, dan sebaliknya. Saya membaca apa yang menurut saya enak dibaca tanpa harus khawatir bacaan tersebut “menginfeksi” saya. Masukan-masukan berupa pengalaman dan ide yang di-share oleh orang lain merupakan suatu bentuk pengebalan alias imunisasi yang membuat saya cukup kuat untuk bisa bergaul dengan “dunia luar’ dan menikmati lingkungan pergaulan saya tanpa memakai masker yang berlebihan. Saya bisa bernepas lega, saya merasa imunisasi saya sudah ok sebagai tanda upaya saya dan saya cuma tinggal menyerahkan diri pada Yang Berhak.

Saya adalah seorang pencari yang cukup nekat. Saya setia pada apa yang saya yakini dengan terus-menerus mengenalkan diri saya pada dunia yang secara gamblang menyuguhkan serba neka “dagangan” yang membuat saya kadang termangu dan membego: Amboy, alangkah setianya ilmu ini pada semesta… Tak menyisakan ruang dan waktu untuk istirahat sejenak dari proses berpikir. Saya berteman dengan sesiapa yang mau berteman dengan tulus dengan saya. Saya tak ragu berteman dengan yang hitam, yang putih, yang berwarna, yang tua, yang muda, yang lelaki, yang perempuan, yang diantaranya (walaupun jarang), yang berprinsip keukeuh, yang feodal, yang begini, yang begitu, yang kebingungan, dll…

Saya memperlakukan mereka sebagai sahabat sekaligus guru; saya serap yang bisa saya tembus dengan kebodohan saya; saya teguk yang bisa saya rasakan dengan kehausan saya; saya merampok ilmu dari mereka. Saya tak peduli apaka
h mereka heran karena saya telah menjajari langkah mereka. Saya tak peduli juga apakah mereka bangga karena mereka telah memimpin saya. Saya juga tak peduli apakah mereka menyesal karena saya telah meninggalkan mereka. Namun saya tetap peduli bahwa siapapun Anda, jadilah guru saya.

Dari proses “gaul dengan sesiapa” inilah imunisasi alami saya bekerja. Saya tak lagi takut dengan kutub yang sana karena sedikit banyak saya telah mengenalnya. Saya tak usah lagi gemetaran terhadap tanduk setan karena saya pernah berpengalaman menggunakannya maka saya sedikit tahu bagaimana mengantisipasi srudukannya. Saya juga tak terlalu mundhuk-mundhuk (berjalan membungkuk dengan tujuan menghormati, Bahasa Jawa) di hadapan malaikat karena saya tahu bahwa malaikat itu tak peduli kita mundhuk-mundhuk atau tidak; yang malaikat peduli adalah akurasi naik turunnya kesigapan jiwa kita. Saya juga tak terlalu takut dengan para dracula penghisap karena saya sedikit banyak telah tahu bahwa dracula tak doyan darah penyuka sayur pare yang pahit ha ha ha… (Fyi, dalam kehidupan kita ada beberapa macam dracula lho…)

Saya merasakan mental saya sedang menikmati manfaat imunisasi alami dan non-alaminya. Sekarang ini saya sedang melihat mental saya seperti seorang anak kecil yang tak lagi ragu tertular campak karena tubuhnya telah siaga dengan anti-bodi penjinak campak.

Namun saya tak mau gegabah. Banyak penyakit belum ditemukan obatnya; berarti belum ada serum yang bisa dibiakkan di tubuh kita untuk menahan arus serangan penyakit yang disebabkan oleh makhluk hidup renik yang sama. Begitu juga banyak penyakit mental yang belum ada penagkalnya sehingga tetap saja segala macam upaya mesti kita “trial and error” demi mendapatkan formula tepat membentengi mental kita dari penyakit tersebut.

Sekarang ini makin banyak orang ketakutan menjadi miskin, banyak orang ketakutan menjadi lapar, ketakutan menjadi tak berguna, ketakutan disia-siakan, dll… Dan, bisa saja saya diantaranya.

Saya hanya bisa melongo (lagi); apakah itu penyakit baru atau penyakit tua yang telah bermutasi seperti flu yang bermutasi menjadi flu burung dan berefek mematikan pada manusia juga.

Ah, imunisasi… kamu memang penting dan diperlukan oleh manusia. Saya hanya berharap obat imunisasi adalah segala serum yang tak membawa efek jelek baik mematikan atau mencacatkan manusia. Aku gak iso turu… imunisasine kurang…

Revised on September 30, 2008 – 2:40am

MURID RAMADHAN MENYAMBUT FAJAR BARU

MURID RAMADHAN MENYAMBUT FAJAR BARU

Satu

Dua

Tiga

Empat

Lima

Enam

Tujuh

Tujuh hari seminggu

Empat minggu bersambungan

Genap sebulan kumeliuk-liuk ikuti irama musim kemarau

Ramadhan menungguiku

Mencatat kejujuranku

Mencatat kebohonganku

Mencatat kebahagiaanku

Mencatat kesedihanku

Ramadhan setia menugguiku

Mencermati cerita siang malamku

Mengeja kata dalam kalimatku

Menghitung bilangan dalam detak detik saatku

Merangkum semua di bukunya

Ramadhan nan jujur

Sedang bersiap berpamitan padaku

Mengemasi catatan dan tikar pandannya

Mengibaskan jubahnya yang penuh debu

Melambai menyuruhku berhenti menari

Menyuruhku bersila di hadapannya

Ramadhan tamu heningku

Tak teraba rasa hatiku

Tiada pula kubaca isyarat jiwaku

Kudatangi kau

Kudengarkan gumam lirihmu

Masih inginkah kau menerimaku sebagai tamumu? Dimanakah kau akan mendudukkanku? Apakah masih di gudangmu yang tua dan reot ini? Ataukah di tempat lain yang tak kalah usang dan memilukan? Ku mesti bergegas, saudara mudaku kan menyambutmu. Kumandangkan takbir setulus hatimu. Biar segala sesalmu kandas ditindas kebesaran-Nya. Mari anakku, tuntunlah aku menghantarkan catatan tarian jiwamu…

Embun belum lagi tergelincir dari beludru daun

Saat dia akan segera berangkat

Mendekap catatan yang tak lagi dapat kuhapus

Tak dapat lagi kutawar

Tak dapat lagi…

Tamu-guru akan segera pergi…

Menyerahkanku pada fajar baru

Semoga takbirku kuasa menyibak tirai langit.

Amin…

Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar

Laa ilaaha illallaahu, Allaahu akbar

Allaahu akbar, wa lillaahil hamd

September 30, 2008 – 4:57am

MY HEART IS BEAUTIFUL

If you want to see my heart in normal circumstances, here it is: zwani.com myspace graphic comments
Graphics for Hearts CommentsWhen I am in love, here it goes: zwani.com myspace graphic comments
Graphics for Hearts CommentsWhen I am broken-hearted, see this: zwani.com myspace graphic comments
Myspace Hearts GraphicsBut, I want to keep my heart as normal as this: zwani.com myspace graphic comments
Myspace Hearts Comments & Graphics

SERVER DOWN, GAK BISA KERJA

SERVER DOWN, GAK BISA KERJA

Entah mesti bahagia atau sedih. Server kantor lagi amburadul sejak Sabtu. Udah kirim email ke IT-girl di seberang sana untuk nanya what is happening tapi sampai sekarang gak ada jawabnya. Kata teman-teman Reyes dan Lewis lagi tidur. IT kok molor, harusnya dia gak boleh tedor…

Akhirnya dengan terpaksa email ke pak bos. Gini nih bunyinya:

Hi Sam,

I can’t access C****s again. In case it happens until tomorrow, I will change my decision of working on September 29, 2008. I will work only on September 30, 2008. But, if it happens until the day after tomorrow, I decide to take the whole mass leave this year.

Saya baca lagi email yang sudah saya kirim sambil membayangkan praupan (air muka, Bahasa Jawa) bos saya yang minggu lalu sempat bergembira karena kami mau aja dia plekotho (kerjain atau peralat, Bahasa Jawa) untuk kerja selagi orang-orang mudik-ria. Yang terbayang adalah muka sedih dan putus asa. Tidak bisa marah, jelas… karena memang pegawai berhak cuti. Yang bikin dia lebih tidak bisa marah lagi adalah karena si Reyes dan Lewis gak juga me-respond email tentang down server.

Saya lagi bingung kemana dan dengan aktivitas apa besok saya habiskan hari saya; udah kadung memutuskan gak mudik dan nyanggupi datang ke acara keluarga di Buitenzorg pula. Masak menjilat air ludah sendiri; ih jijikkk… Weleh, weleh pooseeng kepala ini; sakaw kalau gak kerja… Gubrakss!!!

September 28, 2008 – 11:44pm

LASKAR PELANGI

LASKAR PELANGI

Hari ini saya nonton movie yang telah saya tunggu-tunggu setelah beberapa bulan sebelumnya membaca novelnya. Jujur, saya berharap terlalu banyak untuk bisa dapetin “getaran” yang selaras antara movie dengan novel yang benar-benar menggugah jiwa tidur saya seperti mencairnya minyak goreng beku yang mencair dihadapkan pada uap air.

Film Laskar Pelangi mengesankan! Saya tak punya deskripsi lain selain itu. Tawa dan tangis yang saya sumbangkan untuk mengapresiasi film dan novelnya setara. Impas sudah hutang Andrea Hirata & Miles Production pada saya.

Saya terkesan oleh penggarapannya. Saya terkesan oleh pemain-pemain ciliknya yang asli Belitung. Saya terkesan dengan permainan para aktor yang memerankan orang-orang dewasa – Cut Mini oke kok – yang saya rasa benar-benar tak mau mengecewakan pembaca novel yang sudah hampir pasti akan nonton. Saya juga terkesan dengan adegan-adegan pilihan karena memang mustahil semua cerita yang tertuang dalam novel bisa di-display di film-nya.

Salah satu adegan yang sangat memukau saya adalah setiap saat Lintang harus melintasi sarang buaya dan menunggu buaya masuk “tempat tidur”nya sebelum dia bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah. Yang lain? Adegan tarian karya Mahar. Yang lain? Adegan Samson mengajari Harun menulis Arab. Yang lain lagi? Adegan Kucai putus asa menjadi ketua kelas. Yang lain lagi? Adegan Trapani membawa minum untuk Mahar yang sedang “bertapa”. Yang lain? Adegan Bunda Guru Muslimah dan murid-muridnya mengusir teman-teman kambing dari kelas setelah hujan. Yang lain? Adegan Pak Cik Harfan meninggal. Tak habis adegan itu saya sebutkan karena memang saya ingin nonton lagi sebagai bukti film ini saya gemari seperti saya menyukai air putih yang menyegarkan.

Saya tidak beranjak setelah movie selesai. Saya tunggui sampai dedication list benar-benar habis.

Mbak Mira, Mas Riri, saya menunggu Sang Pemimpi sesuai janji Anda.

A must-see movie!

KEPOMPONG DITINGGALKAN KUPU-KUPUNYA

KEPOMPONG DITINGGALKAN KUPU-KUPUNYA

Kepompong ini merindukan kupu-kupu

Kemanakah makhluk cantik yang pernah mendekam di dalamku?

Yang dulu kuselimuti dengan cangkang lenturku,

Yang dulu pernah mendengkur dalam kantongku,

Yang dulu pernah berendam dalam cairan lembutku,

Yang dulu berpuasa dalam bisuku.

Dia ‘tlah meninggalkan lubuk ini

Si cangkang kepompong bodoh ini

Jelek pun tiada berguna lagi

Ketakbermanfaatan sedang dia tangisi

Keberadaannya sedang dia sesali

Waktu telah menggerus asa yang dia kebiri.

Andai kau bertemu si kupu-kupu,

Tolong, Kawan, kau beritahu

Bahwa aku, si kepompong kosong ini, sedang menunggu

Kuharap ia mau menyambangiku

Menclok* sejenak menghibur kefanaanku

Menari berputar napak tilas proses hidup yang kian melayu

Kepompong jelek ini

Tak sadar arti proses dan prosesi

Sepasang keberadaan yang sepanjang hidup harus dia alami

Setiap tahap menempati jangka yang nisbi

Sebentar dan lama bukanlah janji

Yang ada hanyalah membuka-buka pintu misteri

Kepompong menangis

Kupu-kupu menari dan berdendang

Telur berserakan di dedaunan

Ulat tetasan merangkak kemana-mana

Lalu?

Aku, kepompong itu tujuan selanjutnya…

September 25, 2008 – 10:57pm

* menclok: hinggap

SEPEDA NABRAK BECAK

KENANGAN TAK TERLUPAKAN BERUPA KECELAKAAN KECIL YANG MEMALUKAN

Sudah beberapa malam ini saya hobi banget naik becak. Turun dari angkot saya segera berbelok ke kiri membeli berbagai uba-rampen (kebutuhan pelengkap, Bahasa Jawa) malam yang berkisar antara minuman sehat dan alat tulis.

Abang becak dengan sangat ramah menawarkan jasanya mengantarkan saya, tentunya tak cuma-cuma. Dengan tiga ribu rupiah saja saya sudah sampai tempat istirahat malam saya.

Yang saya ingin ceritakan bukan kecelakaan saya naik becak namun ini adalah sebuah kenangan yang tiba-tiba muncul karena saya sering naik becak akhir-akhir ini saja. Silakan menikmati. Semoga menghibur dan bermanfaat.

Dulu waktu es em a, saya gemar naik sepeda ke sekolah. sebenarnya lebih karena kewajiban; orang tua saya tak mau mebelikan motor dengan alsan yang dibuat-buat mulai dari takut celaka hingga takut cemburur sosial padahal kaalu mereka bilang “tak punya uang”, saya akan berhenti meminta. Kadang kalau sedang malas, saya naik angkot atau minta diantar orang rumah. Saya punya gerombolan rekan biker yang punya kesukaan norak yaitu menggoes sepeda sambil tertawa-tawa tanpa peduli bahwa jalanan sedang penuh dengan segala macam kendaraan yang sedang bersaing menghantarkan pengemudinya yang rata-rata berseragam abu-abu putih.

Saya adalah seorang anak es em a yang cukup berani terhadap tantangan termasuk balap sepeda setiap pulang sekolah. Saya tak peduli entah lelaki atau perempuan penantang saya. Saya juga tak segan balapan dengan pengmudi motor karena mereka mereka diberi limit kecepatan di spedometer. Yang saya pedulikan hanya apakah mereka curang atau tidak.

Suatu hari, seorang teman bernama Nanik (almarhumah) menyampaikan tantangannya untuk berlomba alon-alonan (lambat-lambatan, Bahasa Jawa); jadi kami tidak bersaing untuk adu cepat, sebaliknya kami beradu lambat. Siapa yang sampai jarak tertentu dalam waktu yang paling lama maka dialah pemenangnya.

Saya kenal dengan anak peternak sapi perah ini sehingga saya tak takut bersaing. Bersaing dengan orang jujur tak akan rugi baik menang atau kalah hasilnya.

Deal!!!

Tak ada acara ketawa, tak ada becanda. Kami berdua bersaing menggoes dengan ayunan kaki yang sangat lambat. Sepeda berjuang keras menyeimbangkan roda melayani kelambatan kami. Saya berusaha fokus pada gerak putar ban sepeda jengki biru saya.

Nanik beberapa centimeter di depan saya, agak oleng membiasakan diri bersepeda lambat. Tiba-tiba ada seorang teman yang iseng (dia tahu kami sedang berlomba); si sahabat tengik ini (namanya Rayih) tertawa-tawa mengisengin kami. Dan melambatkan laju motor Astrea bututnya, memepet saya. Tak kuasa juga saya menahan jengkel. Tanpa basa-basi saya pelototin dia. Posisi saya makin ke pinggir dan tak fokus lagi.

JEGGER!!!

Huahahahahhahahahaha… Tawa meledak dari seantero jurusan. Rayih, Ragil, Sen Foek, Rendra, Bambang, dkk (mereka itu musuh bebuyutan dalam hal ledek-meledek dengan saya) seperti sedang merayakan kemenangan yang tak pernah sekalipun mereka dapat dari saya and the gang.

What happened aya naon? Saya menabrak becak yang sedang berhenti mangkal di depan sekolah saya!!! Tiga becak yang berderet mengalami tabrakan beruntun akibat saya tabrak dari belakang. Jadi abang becak tak bisa memberhentikan becaknya karena masing-masing mereka sedang duduk di jok penumpang. Tiga becak berendeng nggelender (menggelinding lambat, Bahasa Jawa) tanpa bisa ditahan. Para tukang becak itu segera tersadar
dan berloncatan sambil memaki-maki saya.

Saya sendiri hanya bisa melongo tak tahu mesti berbuat apa karena Nanik tak juga berhenti tertawa bergabung dengan musuh-musuh gang kami. Sejak itu saya tak mau lagi berlomba naik sepeda baik adu cepat maupun adu lambat.

Buat Nanik yang telah mendahului kami: Love you and pray for you.

Buat Rayih dkk: kalian memang penjahat penghibur hati ha ha ha…

RUJAK BUAH ISTIMEWA ALA RIKE JOKANAN

Description:
Rujak adalah salad khas Indonesia. yang bikin rujak saya special adalah karena kacangnya kacang panggang bukan kacang goreng minyak atau sangrai. silakan mencoba resep saya. semoga pas di lidah dan ketagihan.

kabar-kabar rasa rujaknya ya..

Ingredients:
Bahan bumbu:
– Kacang tanah panggang (Dua Kelinci atau Garuda)
– Gula merah
– Cabai rawit sesuai selera
– Air asem matang atau asem kawak (asam Jawa yang diawetkan) dua sendok makan
– Garam secukupnya

Buah (semua dipotong dengan ukuran sedang):
– Mentimun muda
– Kedondong tua
– Nanas matang
– Bangkuang segar
– Jambu monyet tua (jambu yang tua bukan monyetnya…)
– Jeruk bali matang
– Buah jamblang merah atau putih
(Silakan tambahkan buah apa saja yang Anda suka)

Directions:
Cara membuatnya:
– Haluskan dulu kacang tanah panggangnya sampai halus.
– Tambahkan gula merah dan garam
– Masukkan dua sendok makan air asem kawak
– Masukkan biji mentimun untuk mengencerkan bumbunya, tidak perlu menambahkan air lagi.
– Uleg lagi hingga tercampur rata.

CUMI-CUMI DAN CAMELIA EBIET G ADE

CUMI-CUMI DAN CAMELIA EBIET G ADE

Bukan Ebiet kalau tak puitis. Dan bukan Ebiet kalau tak berpuisi tentang manusia dengan simbolisasi alam raya. Ebiet, sebagai penyair, menempati genre yang sejenis dengan Robert Frost, penyair dari daerah perbatasan USA dan Canada. Mereka berdua sama-sama “mengandalkan” alam untuk merayu pembaca dan pendengar puisi mereka.

Ada sebuah syair lagu Ebiet yang sampai sekarang tak bisa saya pahami.

Mengapa dia memakai istilah “berenang bersama cumi-cumi”?

Saya lebih bisa memahami jika dia menuliskan sajaknya itu dengan kata “berenang bersama ikan-ikan”. Saya membayangkan cumi-cumi itu bertinta, kalau tak berkenan akan menyemprotkan tinta ke muka lawan. Apa Ebiet sedang bermain makna cumi-cumi yang jinak pada manusia yang baik? Apakah Ebiet ingin sekedar berbeda dengan menuliskan cumi-cumi dan bukan ikan-ikan? Bagaimana seandainya saya ganti kata cumi-cumi tersebut dengan ikan ayam-ayam ubur-ubur atau lumba-lumba atau jenis penghuni laut lain yang berbeda?

Ebiet memang sebuah fenomena yang berbeda. Dia berhasil menggugat hati penggemarnya untuk senantiasa berpikir bahwa jagad raya mengandung kekayaan makna yang bisa dibaca oleh manusia dalam keadaan apapun. Ingatkah Anda pada bunga camelia yang dia jadikan lagu sampai beberapa jumlahnya. Jika Camelia adalah sebuah bunga yang indah bagi Ebiet, maka tak pelak lagi bahwa keindahan itu tetap menjadi misteri karena sesungguhnya Ebiet hanya ingin mencitrakan sebuah keindahan sempurna yang even tak didapatkan pada istrinya.

Camelia, buat saya pendengar Ebiet, tak hanya keindahan seorang wanita yang konon mewakili keindahan dunia. Camelia adalah sebuah kecantikan misterius yang dikandung oleh sebuah kebenaran. Wanita yang bernama Camelia itu saya yakin tak ada. Wanita yang secantik kecantikan Cameli-nya Ebiet juga tak ada. Camelia muncul begitu saja, sebagai sebuah ekspresi Ebiet untuk dia ucapkan saja. Camelia yang disebut cantik dan indah ideal menurut Mas Ebiet jelas bukan wanita. Dia jelas bukan kecantikan yang terindera karena jika ya, maka Mas Ebiet akan menggambarkannya dengan bunga lain.

Kembali kepada kata cumi-cumi. Mengapa cumi-cumi yang diajak berenang? Sungguh saya bertanya-tanya apakah cumi-cumi ini muncul sebagaimana munculnya kata Camelia di lagu Ebiet yang lain. Kata cumi-cumi muncul karena tak ada lagi kata yang bisa Ebiet jadikan wakil untuk mengekspresikan keterkesimaannya terhadap kenyataan bayangan yang dia tangkap pada ilhamnya.

Mas Ebiet, selamat atas Camelia dan cumi-cuminya! Saya bukan penggemar setia Anda, tapi saya merasakan syair-syair Anda telah mencambuk batin saya untuk terus bertualang berenang bersama cumi-cumi untuk mencari Camelia.

September 20, 2008

BUKA BERSAMA LIA TARUNA

BUKA BERSAMA LIA TARUNA

September 19, 2008

Jumat tanggal 19 September, 2008 saya mendapat undangan berbuka bersama di LIA Taruna Tangerang, tempat saya mencari angin segar ketika pikiran penat gara-gara deadline.

Segera saya minta cuti di kantor demi menghadiri acara langka ini karena di acara semacam inilah saya bisa ketemu teman-teman yang jadwal mengajarnya tidak memungkinkan kami untuk setiap saat berjumpa.

Acara berbuka bersama baru mulai Maghrib tapi saya sudah siap di LIA sejak sebelum Dhuhur. Berdasar rencana pribadi saya, saya ingin mengabadikan peristiwa thunan ini untuk koleksi album saya. Canon usang saya yang mulia telah siap sedia.

Segalanya disiapkan bersama oleh para staff yang dengan suka rela datang awal. Karena sedang term-break (liburan tiga bulanan), guru tak datang awal. Hanya saya yang tinggal dekat dengan LIA saja yang sok rajin he he he…

Keluarga LIA berdatangan dari segala penjuru, dari Kota Bumi, Rajeg, Modernland, Cipondoh, Pengayoman, Perum 2, Serpong, Kali Deres, Pasar Baru, Pasar Lama, bahkan dari Jakarta Barat, Jakarata Selatan. Muslim dan non-muslim hadir semua; gak ada tuh sungkan marsungkin (boso opo ikiii), semua guyub rukun. Salam-salaman menjadi sebuah acara yang sangat berharga karena tak setiap waktu kami bisa berkumpul (hampir) lengkap seperti ini. Mr. Bagja yang berdomisili di Depok tak kunjung tiba hingga akhir acara. Ms. Heryanti dari Teluk Naga juga gak nongol juga. Ria sudah mudik ke Palembang bersama suami dan bayi tercinta. Ibu Kantin juga tidak bisa hadir. Tak apa, mungkin mereka ada keperluan yang jauh lebih penting.

Menjelang berbuka, acara demi acara dirangkai sederhana. Pak Agus Em membuka acar dengan gaya nyantainya. Lalu Janitor Sahid dengan kefasihannya menyanyikan ayat-ayat Al Quran yang sangat menyentuh jiwa kami. Selanjutnya Mr. Nurzan, staff LIA yang memang jebolan Ilmu Hadits Al Azhar mesir didapuk memberi petuah penyejuk jiwa kami. Gaya Mr. Nurzan – nickname pemberian siswa untuk beliau adalah Mr. Bean – membuat kami tak bosan mendengarkannya walau kadang harus meringis tersindir khotbahnya. Apalagi tak sungkan Mr. Bean gadungan ini menyebut nama-nama kami untuk meminta respons. Dasar sudah kenal banget, ya kita malah balik ngeledekin Mr. Bean yang alim ini. Tak pelak suasana akrab menghangatkan suasana.

Tepat pukul 5:52 WIB, kami mendengar adzan Maghrib dari televisi dan berdoa bersama pun dimulai dipimpin oleh Mr. Nurzan.

Setelah minum seteguk dua teguk, kami melaksanakan sholat Magrib berjamaah di ruang 109.

Acara berbuka berat dilaksanakan setelah sholat.

Disinilah ajang kangen-kangenan itu berlangsung. Suara anak-anak kecil bercampur dengan tawa canda ABG dan sapa ramah orang dewasa.

Hidangan disiapkan sendiri oleh para staf. Sederhana tapi lezat dan nikmat karena semangat kebersamaan kami. Nasi dan makanan berat disiapkan oleh Mbak Nung dan Mbak Yanti. Ada capcay, daging masak paprika, sup ala Cimone, rujak Juhi, sate ayam dan kerupung udang tersaji di ruang 103. Snack berupa martabak dan bolu gulung bumbu spekuk disiapkan oleh Azizah, istri Janitor Lilik. Es podeng dibeli di Pasar lama Tangerang oleh Janitor Lilik. Rasanya semua spesial karena dimasak dengan keikhlasan dan cinta he he he… Oh ya ada jeruk medan dan Aqua juga.

Ah, kapan lagi bisa ya bisa berbuka bersama. semoga tahun depan masih ada kesempatan. Amin.

September 20, 2008

BERJUALAN TERNYATA TAK SEGAMPANG MENULIS

BERJUALAN TERNYATA TAK SEGAMPANG MENULIS

(sharing pedagang batik baru)

Seorang teman saya sekarang tinggal di Pekalongan dan mejadi juragan batik mengikuti jejak sang ibunda. Sebelum menetap di Pekalongan, teman saya ini mengajar di LIA Kelapa Gading kemudian di LIA Yogyakarta. Karena mengikuti sang suami tercinta, dengan suka rela dia mengurus anak-anaknya yang lucu-lucu dan pintar; saat itulah dia berganti profesi dari mengajar ke berjualan.

Awalnya saya ragu apakah dia bisa mempertahankan bisnisnya itu sedangkan selama di Jakarta dia tak pernah sekalipun “menyentuh” dunia bisnis. Kerjanya hanya sekolah dan klenceran (bepergian, Bahasa Jawa) ke luar negeri menikmati fasilitas sebagai anak tunggal berorang tua berada tak pernah kekurangan apa-apa. Haah…

Ternyata memulai dari nol dan sekarang dia berhasil. Bisnisnya maju dan dia menjadi bosnya juragan-juragan batik. Suatu hari dia sms saya dan menawari saya memasarkan batiknya kepada teman-teman di Jabodetabek+sekitarnya dengan harapan cita-citanya menjadi penguasa alam batik berhasil dan (dengan sengak berpretensi) membantu saya untuk lebih cepat mewujudkan cita-cita menjadi bos sayuran organik ha ha ha…

Oke… kirim saja batik elu, kali aja laku. Tapi jangan salah ye, gue gak pernah berdagang secara sukses. Dulu waktu es em a pernah jualan sampul buku dan laku karena memang gambarnya Tommy Page. Waktu kuliah jualan sandal kulit tapi gak untung karena akhirnya sandalnya gue gave away ke para pembeli yang gak kunjung bayar cicilan dengan berbagai alasan. Akhirnya elu tahu sendiri gue cuma bisa jualan omongan dan tulisan, itupun gak terlalu laku, alias sering ditolak he he he…

Sekarang ini saya sudah memasarkan kiriman Nur Dyah (nama teman saya) pada putaran keempat. Saya tidak berjualan sendiri melainkan menyerahkannya kepada teman yang lain. Saya hanya menjadi talang saja. Untung tipis gak papa, yang penting lancar… Sepertinya saya udah kayak Mas Karyo aja ha ha ha…

Itu saja udah bikin saya pusing gak karuan dengan urusan hitungan ini-itu dan kiriman barang yang telat dll.

Sekarang saya sedang belajar untuk menjadi pedagang batik yang lebih teliti mencatat dan meghitung sehingga barang dan labanya jelas larinya kemana. Waduh… Ternyata berdagang itu lebih sulit daripada menulis.

Wish me luck ya…

September 20, 2008

BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

Lebaran sudah dekat. Saya ingat waktu kecil dulu tiap Lebaran saya ribut minta dibelikan baju baru. Sebenarnya itu terjadi hanya sampai kelas empat es de karena sesudahnya saya sudah belajar bahwa baju baru tidak penting. Yang lebih penting adalah baju yang bersih.

Dulu saya dan dua kakak perempuan saya selalu mendapat baju baru menjelang Lebaran. Kami digiring untuk diukur badan di penjahit handal langganan keluarga kami, Mbak Nyo. Mbak Nyo ini adalah salah satu dari dua bersaudara yang berprofesi sebagai penjahit. Mereka adalah peranakan Tionghoa yang menghabiskan hidupnya di tanah air Indonesia ini. Mereka penganut Kong Hu Chu tapi selalu turut merayakan Riyoyo (Lebaran, Bahasa Jawa) bersama kami. Mbak Chu, kakak perempuan Mbak Nyo sering menghantarkan kue-kue kering kepada ibu saya seminggu sebelum Lebaran dan saat mereka memperingati hari besar mereka. Mbak Her, adik terkecil mereka – sekolah bidan saat itu – membantu memberikan sentuhan akhir berupa benik (kancing, Bahasa Jawa) atau sulaman cantik di bagian-bagian tertentu busana kami. Fyi, busana yang mereka buat untuk kami selalu haute couture – one special design for one person one time. Hebat!!!

Berkat Mbak Nyo lah kami tampil rapi dan bersih ditambah lagi elegan memakai baju jahitan Mbak Nyo dan Mbak Chu yang tergolong halus dan mahal di daerah dan jaman kanak-kanak kami. Anak kecil semanis kami memang menjadi manequin hidup yang mempromosikan jahitan mereka.

Ada satu lagi keperluan kami yang lain yaitu mukena. Jaman dulu, mukena gak model-model. Kami menyebutnya mukena blanjuran (one piece, Bahasa Jawa). Warnanya pasti putih dan pasti terbuat dari kain mori (kain yang lazim dipakai untuk membungkus mayat). Mbak Nyo dan Mbak Chu juga yang menangani ini. Mereka membuatkan kami bertiga mukena yang rapi dan berjahit halus. Kata mereka, mereka hanya membuat rukuh (mukena, Bahasa Jawa) untuk Mbak Andri, Mbak Yuda dan Mbak Rike (kami bertiga) tidak untuk orang lain. Orang lain tak bolehi ndandakne (menjahitkan, Bahasa Jawa) baju saja.

“Biar pejabat ndak tak ladeni, Bu. Ndak mau bikin buat sembarang orang. Buat Bu Jokanan thok ae. Ndak mbayar juga ndak papa. Ijoli kaine aja,” kata Mbak Nyo pada ibu saya. (Biar pejabat saya tidak mau melayani, Bu. Tidak mau bikin untuk sembarang orang. Buat Bu Jokanan saja. Tidak dibayar tak apa-apa. Ganti harga kain saja.)

Kalau ingat mereka, saya terharu dan bangga. Di seluruh kecamatan hanya kami bertiga yang memakai mukena bikinan peranakan Tiongkok, dan mereka membuatnya tanpa diminta. Bu Camat (istri Pak Camat), Bu Ndanramil (istri kepala Koramil), Bu Ndansek (istri kepala Polsek), Bu Dokter (istri dokter kecamatan) dab ibu-ibu pejabat lain tidak berhasil sekalipun merayu Mbak Nyo dan Mbak Chu untuk membuatkan mukena yang unik. Sedangkan kami, hanya anak Bu Bidan tapi memakai mukena buatan penjahit kelas satu hue he he he…

Menjelang Lebaran ini, saya teringat kembali keluarga Tiongkok yang sangat baik hati pada kami itu. Koh Chuan, anak tertua di keluarga itu pasti sudah tua sekarang. Koh Chuan ini suka sekali memetikkan jambu gelas untuk kami setiap kami datang untuk ukur badan. Mbak Nyo dan Mbak Chu mungkin sudah punya anak-anak buah yang karyanya pasti juga sehebat mereka. Mbak Her mungkin sudah menjadi bisan teladan dan disayang masyarakat tempat dia bekerja. Saya merindukan mereka setelah 23 tahun tak bersua.

Mereka adalah tetangga-tetangga yang mulia. Yang tidak takut berbaur dengan kami tapi tetap menunjukkan dignity-nya dengan cara menolak membuatkan sesuatu yang memang hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki keberanian yang serupa.

Saya memandang mukena putih dan blus putih yang diberikan oleh Lala, Isal dan ibunya sebagai hadiah ulang tahun. Saya sempat kepikir kapan ya saya bisa memakai baju baru dan mukena baru bikinan Mbak Nyo dan Mbak Chu lagi atau at least baju baru dan mukena baru yang dijahit dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih manusia?

Dedicated to all my brothers and sisters of the same kind with Mbak Nyo, Mbak Chu, Mbak Her and Koh Chuan. Let’s live in harmony.

September 20, 2008

BERANI BELAJAR, BELAJAR BERANI

BERANI BELAJAR, BELAJAR BERANI

Sejak hari pertama saya dilahirkan sebagai manusia melalui ibu saya, saya telah menjadi seorang makhluk pembelajar. Sadar atau tidak, saya telah menjadi murid daris eorang guru yang bernama semesta. Saya belajar bernapas dengan benar, menangis dengan benar, makan dengan benar, bermain dengan benar, bersosialisasi dengan benar dan tentunya satu hal terpenting adalah belajar belajar dengan benar.

Tak selamanya menjadi seorang pembelajar itu menyenangkan. Kadang saya merasa lebih baik tidak belajar sama sekali daripada harus menanggung rasa malu atau sakit tak terkira akibat posis sebagai pembelajar.

Saya telah menikmati udara dunia ini lebih dari seperempat abad. Saya telah melewati masa kanak-kanak, remaja dan dewasa saya jauh dari keluarga. Jika dihitung secara matematis, 75% hidup saya jauh dari orang tua. Bentukan makhluk mandiri itu berupa saya yang sekarang hanya memiliki dua pilihan dalam hidup: belajar secara mandiri dalam segala hal atau tidak survive sama sekali.

Berani belajar adalah sebuah tekad yang telah saya canangkan demi kelangsungan hidup saya yang kata teman-teman saya untuk sementara ini “solitary”. Apapun akan saya usahakan pelajari supaya saya tidak jatuh pada lubang yang sama. Apapun akan saya pikir dan analisis secara agak njelimet sehingga kadang merugikan diri sendiri. Tak heran 12 tahun lalu sepupu saya menyebut saya worry sister karena terlalu banyak mikir ini-itu sebelum melakukan sesuatu. Saya tak ingin hidup saya menggelinidng seperti bola bowling dihantam pelempar amatir. Saya ingin bola bowling saya meluncur cepat dan tepat sasaran menghantam dan menjatuhkan semua pin di ujung sana. Saya tak mau salah sasaran walaupun sesekali menggelindingnya masih melenceng kesana-sini.

Saya makhluk pembelajar yang tak mau berhenti hanya karena seorang atau banyak orang menentang saya. Kalau saya harus mundur itu semata karena memang saya harus belajar mundur BUKAN karena saya menyerah.

Namun saya punya sebuah jurus jita untuk mengimbangi worry yang datang seperti air bah sebagai akibat pancingan terlalu keras berpikir tersebut. Apakah itu?

Saya belajar berani. Saya tak takut dengan akibat perilaku saya karena saya telah memikirkan bahwa selalu ada resiko yang mesti ditanggung. Ada cost yang harus ditunaikan. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Bahkan Tuhan “berjual-beli” dengan kita. Dalam bahasa Arab disebut tijaroh. Dalam agama saya, Allah SWT ditafsirkan membeli amal kita – ini hubungannya dengan motivasi terhadap pemeluk agama untuk berbuah baik dalam kehidupan di dunia sehingga tak merugi sebagai manusia.

Keberanian saya menguji cara belajar saya. Apakah saya berani menanggung malu jika saya mengaku sebagai pelajar di depan anak kecil yang ternyata mengajari saya belajar melupakan kesalahan temannya? Seorang lelaki balita bernama Isal segera berbaikan dengan teman kecil bernama Billy hanya beberapa detik setelah mereka berantem. Padahal saat itu saya berpikir bahwa Isal tak akan segera memaafkan Billy yang telah (saya yakin) dengan sengaja tapi tak tahu resikonya mencopot roda penyeimbang sebelah kiri sepeda kecil Isal. Aksi Billy menyebabkan sepeda Isal terlalu miring ke kiri.

Apakah saya berani belajar berani mengakui ketidakdewasaan saya menghadapi musibah orang lain dengan aksi cepat? Saya segera berkaca pada sepupu saya waktu kecil dulu. Mas Ongko suka sekali meludahi makanan di piringnya supaya tak seorang pun saudara kami yang lebih tua mengambil bagiannya. Fyi, sepupu-sepupu kami yang lebih tua itu jahilnya minta ampun… Suatu hari saya menghindari “musibah” berupa sepupu yang jauh lebih tua yang dengan kemaruk mencicipi makanan saya di piring dengan ganas sambil tertawa-tawa penuh kemenangan. Menconth Mas Ongko, saya segera meludahi makanan saya, sepupu tua saya itu berhenti tertawa menyadari kemarahan saya. Bukannya menghibur, dia malah kabur. Mas Ongko dengan sangat sabar memberikan makanannya yang masih bersih dan kemudian dengan tenang menghabiskan makanan saya yang sudah saya ludahi berkali-kali tadi. Halaaah… Dewasa sekali kamu Mas… Sedangkan sepupu tua tadi tak muncul bertanggung jawab.

Saya sedang mencari format hidup saya yang paling tepat sambil terus berjalan diantara belantara guru berupa semesta. Seperti Diagram Venn, saya bisa saja berganti semesta pembicaraan. Semesta pembicaraan saya b
isa meluas dan menyempit tergantung kodisi saya alami. Jika saya harus berapa pada sebuah lingkaran mandiri itu karena semata saya harus berpikir sendiri. Jika saya harus menjadi irisan itu semata saya harus bersifat netral, bukan mendua. Jika saya hanya diluar lingkaran, maka saya memagn harus tak terlibat pada konflik manapun.

Saya menikmati hidup ini dengan berani belajar dan belajar berani.

Ayo, ajari saya Sudara-Sudara dengan apapun yang membuat saya merayakan kemanusiaan saya.

Revised on September 21, 2008

WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

Winnetou adalah idola masa kecil saya, jaman es de dulu.

Kepala suku Apache ini memberikan inspirasi bagi seorang Rike kecil untuk bersikap outstanding terhadap dirinya sendiri yang selama itu (sebelum membaca komik Old Shatterhand dkk) sebagai seorang pengecut diantara teman-temannya.

Saya termasuk anak yang pemalu dan sedikit bicara waktu kecil walaupun saya termasuk anak yang banyak teman. Biasanya saya akan menjadi pemerhati diantara teman-teman saya yang bicara blah blah blah… lalu saya ikut tertawa terbahak-bahak dengan suara yang membuat teman saya makin kencang tertawa. Tapi ada satu urusan yang teman-teman saya tak punya dan saya punya. Saya berani tampil di depan umum sedangkan teman-teman yang banyak bicara itu hanya sekedar menjadi supporter.

Tak pelak lagi ini berkat Winnetou salah satunya. Winnetou, anak dari Intschu-Tschuna, adalah seorang Indian Apache muda yang berjiwa ksatria yang kemudian “terpaksa” memimpin sukunya setelah ayahnya (dan adiknya, Nscho-tschi) dibantai oleh Santer, bandit tengik tak beradab, pencuri emas kelas kakap (Silakan baca Winnetou I-III, ditambah Winnetou IV lebih ok).

Awalnya saya sangat terkesan dengan si Old Shatterhand karena dia ini bule baik hati yang berbaur dengan suku asli di Amrik sana. Dia bagaikan pahlawan bagi saya; terbayang bagaimana dia menyelamatkan seorang anak Indian ketika kampungnya diserbu suku lain yang sedang terbakar emosi. Keahliannya menembak membuat saya terbuai dengan mimpi “bule keren”. Namun setelah membaca ulang komik lecek karena saking seringnya menjadi rebutan Mbak Andri, Mas Herin, Mbak Yuda, saya dan teman-teman mereka, saya lebih terkesan dengan pribadi Winnetou karena kebijakannya dan keterbukaan alam pikirnya terhadap Old Shatterhand tersebut.

Bagi saya pikiran terbuka sangat penting, jauh lebih penting daripada kepandaian itu sendiri. Banyak orang pandai yang terjengkang oleh jaman karena tak mampu mengulas kemajuan dan perubahan dengan alam pikirnya yang jumut. (Saya sendiri tidak pintar dan masih tertutup ha ha ha…)

Winnetou membiarkan jiwanya direngkuh semesta. Dia menjadi Indian yang saleh karena dia mampu menjaga tradisi Indian-nya dan sekaligus memahami “kesalehan baru” yang dibawa oleh kawan Old Shatterhand itu. Old Shatterhand menganggap bahwa Winnetou masuk agamanya (Katolik) karena selama hidupnya Winnetou menjalankan kesalehan hidup yang dapat dipahami secara Katolik dan masyarakat Indian menganggap bahwa Winnetou masih Indian tulen karena tak satupun dari kemuliaan kepala suku mereka itu yang janggal dimata hukum Indian.

Winnetou seperti sebuah ikon moral bagi saya yang kanak-kanak dan tinggal jauh dari kota besar saat itu. Winnetou “mengajari” saya untuk bersahabat dengan alam. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan perbedaan. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan ketakutan. Winnetou mengajari saya bersahabat dengan kesabaran. Dan, Winnetou mengajari saya bersahabat dengan cinta kasih. Winnetou mengajari saya tentang keterbukaan dan prinsip budaya. Winnetou mengajari saya tentang arti persahabatan. Winnetou mengajari saya bagaimana menemukan emas berkilauan di diri sendiri maupun orang lain.

Winnetou lebih saya kenal daripada saudara saya. Winnetou lebih saya kenal daripada orang tua saya. Winnetou lebih saya kenal daripada guru agama saya. Sempat saya meraskan de javu ketika kuliah dan tinggal di asrama putri lantaran Mbak Aminah Lubis and the gang memanggil saya dengan “Hey you, Indian muslim!”.

Oalah Winnetou, seandainya saya ketemu kau orang, pasti kamu tak taksir habis-habisan. Saya mau kamu ngajari saya naik kuda. Saya mau kamu ngajari saya memanah, berburu kelinci dan menggiring kuda liar. Winnetou sempat menjadi pacar bayangan sebelum akhirnya saya mendapatkan pacar
beneran.
J

Terima kasih Winnetou yang telah tercipta karena adanya Pak Karl May, penulisnya si orang Jerman yang katanya sakit jiwa itu. Terima kasih pada Allah yang telah menciptakan Pak Karl May yang katanya sakit jiwa itu. Orang sakit jiwa kok bisa “mencipta” pribadi sekelas Winnetou. Kata sakit jiwa itu pasti hanya karena mereka tak mampu menjelaskan fenomena.

Revised on September 20, 2008

MODEM RUSAK, GAK BISA SURFING

Subhanallah, paringana sabar duh Gusti.

Modem dari Firstmedia rusak, saya gak bisa ngenet seharian. Padahal niatnya hari ini mau posting borongan lantaran sudah dua hari kerjaan numpuk dan gak sempat posting.

Alhasil pakai telp0n genggam yang bikin jempol kapalan dan mata juling.

Tak ada rotan, akar pun jadi.

PAK SENO MUDIK, KAMI PANIK

PAK SENO MUDIK, KAMI PANIK

Siapa yang mudik tahun ini? Semua perantau seakan berlomba mengacungkan jari seraya berterika say, saya, saya layaknya anak-anak kelas satu es de ketika berebut menjawab pertanyaan mencongak di akhir pertemuan sebuah hari.

Kemarin, September 15 2008, kami dikagetkan oleh halaman sekaligus tempat parkir yang dihiasi dengan dedaunan kering dan kertas, plastik berserakan tak berpola. Wah, Pak Seno belum nyapu halaman nih. Usut punya usut rupanya OB kami, Pak Seno sudah mendahului pulang kampung…

Lagi-lagi tadi pagi, September 16, 2008. Tiba di halaman saya langsung disambut oleh pemandangan tak biasa. Nes, scheduler kami, sedang milang-miling (mencari-cari sesuatu, Bahasa Jawa). Usut punya usut ternyata dia sedang mencari sapu lidi guna menyapu halaman yang ternyata jauh lebih penuh sampah daripada kemarin.

“Rike, Pak Seno baru balik habis Lebaran. Kita harus kerja bakti,” sapa Nes dengan gaya khas Kanton-nya.

Di dalam kantor lantai masih belang-belang. Pak Eko juga sedang sibuk mencari pengki. Saya segera menghidupkan komputer, meng-upload sebuah file lalu bergegas menuju pantry. Disana piring kotor, gelas kotor, mangkuk kotor, pirex kotor, sendok garpu kotor, microwave kotor, segala perangkat kotor…

“Ok, Pak Eko. I’ll do the dishes!” seru saya dari pantry.

Langsung saya tangani dengan sigap seember korahan (perkakas dapur yang kotor, Bahasa Jawa) lalu sambil mencucinya saya berpikir.

Alangkah pentingnya peran Pak Seno dalam keseharian kami. Selama ini kami selalu berpikir bahwa kelangsungan perusahaan ini ada di tangan kami-kami saja. Tak sering terbersit di pikiran bahwa tanpa OB sebuah perusahaan akan mengalami percepatan negatif karena karyawan yang langsung berhadapan dengan client dan data harus juga mengurusi pekerjaan rumah tangga yang secara khusus menjadi tanggung jawab OB.

Saya juga jadi teringat Odah dkk (karakter dalam serial TV OB) yang kadang njengkelin “para penyuruh” dan saya secara otomatis bisa memahami kesenewenan “para pesuruh” menghadapi teriakan dan ketidakpuasan “para penyuruh” itu. Ternyata capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Belum lagi setelah itu harus mengurusi pekerjaan kantor. Belum lagi ini-itu keperluan kecil yang menurut penyuruh sepele namun sesengguhnya menguras tenaga dan emosi. Walah… Kalau sudah begini rasanya Pak Seno menjadi pegawai paling penting di kantor kami.

Siangnya, tidak ada orang yang ngendon di foyer kantor (ini tempat Pak Seno melamun sekaligus menjaga warni-nya dari kejauhan). Warni (warung mini) Pak Seno laris manis bukan oleh kami tapi oleh para sopir dan karyawan kantor kiri kanan kami. Kami ini kerjaannya cuma bikin Pak Seno capek. Payah!

Karena tak ada penjaga ruang tamu maka para salesperson dan peminta sumbangan keluar masuk tanpa mengetuk pintu, lalu berteriak-teriak uluk salam. Salah seorang dari kami menjadi korban ceramah lantaran tak memberikan sedekah di bulan suci Ramadhan. Akhirnya kami mengunci diri dari dalam karena tak mau lagi meladeni kerusuhan demi kerusuhan yang tak luwes kami tangani. Ini adalah praktik LOCK-IN pertama di kantor kami. Padahal kami inilah yang “menghukum” pabrik yang me-LOCK-IN karyawannya untuk bekerja ha ha ha…

Oalah… hari pertama piket kantor.

Pak Seno, maafin ya kalau selama ini sering bikin capek atau kesel. Kami berbuat it
u karena lupa bahwa pekerjaanmu ini sangat melelahkan. Selamat mudik ya, Pak Seno. Semoga pernikahannya lancar; yang paling penting dapat istri yang jauuuuh lebih setia daripada yang dulu.

Fyi, sorenya tak ada satupun dari kami yang mau memakai piring dan gelas kantor. Takut besok pagi numpuk cucian dan kena hukuman korah-korah (cuci piring gelas, Bahasa Jawa) ha ha ha…

OB… Itulah office boy…

BERANGKAT PAGI PULANG PETANG

BERANGKAT PAGI PULANG PETANG

Berangkat pagi pulang petang, itulah kerjaan saya hampir setiap hari. Pagi saya mengejar bis kota, petang saya masih mengejar bis kota. Tak ada lain yang saya kejar selain bis kota yang tiap inch jauhnya membuat saya makin bersemangat. Tak ada yang saya kejar sekuat tenaga selain bis kota karena kesusksesan saya nyengklak bis kota tepat pada waktunya menentukan kecepatan saya mengejar semua yang harus saya selesaikan pada hari itu.

Andai saya terlambat 10 menit maka pekerjaan saya akan terhambat paling tidak satu jam dan otomatis saya harus berlomba dengan waktu yang merambat Dhuhur yang mau tak mau harus mundur juga karena saya “salah” naik bis.

Cobalah renungkan hanya gara-gara tidak bisa mengejar bis jam 6 pagi maka akhirnya saya harus terlambat memulai kerja online saya lalu saya harus terlambat melonggarkan urat syarat saya dengan merenung sejenak diatas selmbar sajadah lusuh saya kemudian saya harus juga menjumpai kemungkinan membawa pulang pekerjaan karena tak terselesaikan lantaran kurang waktu 1 atau 1.5 jam pagi harinya.

Kadang senewen rasanya menemukan diri saya ini tak bisa juga menghadapi tantangan lomba berpacu dengan waktu. Sudah lebih dari setengah abad dan saya tetap kalah sejak saya menyadari bahwa waktu sangat mahal harganya. Kalau saja saya bisa kembali berlompatan menikmati kesenangan dan kesegaran saat kanak-kanak. Tak terkira mungkin senangnya… dengan syarat kemudian saya segera menyadari bahwa waktu tak lagi mau menunggu saya selamanya.

Saya merasakan bahwa makin hari waktu makin kuat dan cepat menggilas apa saja yang saya genggam sembarangan. Saya merasa bahwa waktu tak menebas seperti pedang tapi dia adalah merampas seperti penjajah… Karena kelalaian saya…

Tak pernah saya sangka bahwa saya hidup di dimensi yang punya kekuatan mengguncangkan ketenangan jika menyadarinya. Saya juga segera terpana karena waktu telah meluluhkan rasa penasaran saya menghadapi apa yang tak saya ilmui namun tetap saya harus menghadapinya. Alas! Sungguh hidup ini sangat adil terhadap yang memahaminya…

Duhai, Waktu… Tahukah engkau, aku berangkat pagi pulang petang, mengejar matahari, mengejar bis kota, mengejar pekerjaan dan deadline, mengejar waktu sholat, mengejar apa-apa yang tertulis di agenda lusuh dan di Calendar ponselku… Sungguh bukan karena mereka aku pontang-panting. Sungguh aku berbohong besar telah mengatakan bahwa aku mengejar mereka karena sesungguhnya aku sedang berpacu dengan kamu. Kamu, wahai Waktu telah membuatku iri karena tak pernah tuamu, tak pernah lelahmu, tak pernah pedulimu, tak pernah tak adilmu, tak pernah tumpulmu, tak pernah inkonsistenmu, tak pernah ingkarmu…

Jika saja saya mengenal satu saja makhluk di muka bumi ini yang mengatakan dia punya sedetik lebih banyak dari saya, saya akan kejar dia dan mengobrak-abrik Kerajaan Waktu karena ketidakadilan telah memberi pribadi itu sedetik tambahan padanya.

Sungguh, saya berangkat pagi pulang petang mengejar bis kota yang berselancar di atas papan sang waktu.

PINTU ITU

PINTU ITU…

Kutendang pintu

Tak bersuara

Adakah penghuni di dalam sana?

Yang berbaik hati menyambut kehadiranku?

Ataukah pintu ini telah menguncinya pula?

Bersungut-sungut aku meraih balok

Mendorongnya hingga kuterjengkang

Lama-lama, lamat-lamat kudengar ketukan…

Dari balik sana!

Duh, Gusti…

Ampuni si dungu ini

Aku mengetuk pintuku sendiri –

Dari dalam rumahku….

MEMPERLAKUKAN MY MIND

MEMPERLAKUKAN MY MIND

Setelah meluangkan waktu untuk merenung saya benar-benar menyadari bahwa hidup ini bisa kita anaogikan dengan apa saja berdasarkan dasar apapun yang manusia suka. Mau dibikin susah, mau dibikin enak ya enak tenan. Saya ingat seseorang di Bandung sana yang tak lelah mengingatkan saya untuk selalu berpikiran baik. Dan ada seorang MP-er yang (kelihatannya) jenius dan gila yang mengingatkan saya bahwa segalanya tergantung mind set kita.

Mind set

Tak dipungkiri lagi bahwa yang namanya mind, pikiran yang tak bisa jauh-jauh dengan perasaan adalah sebuah keliaran berpikir yang bisa bergerak acak-adut seperti Gerak Brown yang tampak berantakan namun sebenarnya membentuk pola tertentu. Pola itu hanya akan nampak dengan pengamatan yang seksama kemudian dengan penghitungan yang akurat. Karena itulah maka sering kali kita harus men-set ulang gerak Brown yang berpola acak tersebut sehingga membentuk sebuah gaya yang lebih menonjol polanya daripada kekisruhannya.

Mind partition

Saya bukan ahli IT tapi bolehlah saya katakan bahwa men-set pikiran kita hampir sama dengan upaya mempartisi memori komputer. Yang ini di bagian sini, yang itu di drive A, yang ini di drive B, dll. Selain membuat lebih rapi ternyata juga bermanfaat untuk menyelamatkan memori dari penghapusan total seumpama terjadi apa-apa dengan salah satu bagian memori tersebut.

Mind regulation

Pikiran kita tak jauh dengan perasaan maka kadang pikiran kita dipengaruhi oleh perasaan atau perasaan kita terlalu dikomando oleh pikiran padahal segala sesuatu yang berat sebelah tidak akan membuat kosmos seimbang. Maka kekuatan keduanya mesti diatur dengan regulasi yang mereka buat sendiri. Kawang perlu juga menganggap pikiran dan perasaan sebagai “orang luar” supaya kita tidak merasakan kejumbuhan dikala harus menyeimbangkan keduanya. Jadikan jiwa sebagai moderator dalam perdebatan antara pikiran dan perasaan sehingga tak ada menang tak ada kalah, yang ada hanya kolaborasi.

Mind enrichment

Haus ilmu adalah sifat dasar manusia karena memiliki akal budi. Mind kita tumbuh berkembanga karena proses pengayaan yang kita lakukan sepanjang hayat. Memori yang berarti maupun yang tak berarti bercampur menjadi adonan yang jika pas pengolahannya akan menjadi hidangan semesta yang manfaatnya ibarat zakat bagi si miskin. Proses belajar ini tentunya tak lepas dari peran indera sebagai pintu gerbang rangsangan berupa “ilmu”. Ingat Sudaraku, segala rangsangan luar mesti kita fungsikan sebagai ilmu sehingga seburuk apapun rangsangan itu, kita tidak terpengaruh buruk.

Mind beautifying

Pernahkah Anda merasa bahwa mind Anda ini cantik? Seberapa canti pikiran Anda? Selalulah ingatkan diri bahwa mind ini bisa juga berlaku seperti bunga atau wanita yang keindahan dan kecantikannya tiada tara, tak peduli dari segi apa Anda meniliknya. Pikiran indah ibarat lukisan berwarna pelangi. Warna-warni bertebaran seakan tak beraturan namun membentuk citra-citra yang menyejukkan pandangan. Siapa orang yang tak ingin pikirannya sebentuk lukisan pemandangan alam yang bersih dari asap, limbah sampah dan segala keburaman. Hanya penyeimbangan yang dapat membuat pelangi kita menjelma pendaran gambaran indah alam raya.

Sebenarnya mind set, mind partition, mind regulation, mind enrichment dan mind beautifying adalah kesatuan fungsi yang coba saya mengerti dengan menjadikannya beberapa bagian. Sebuah MIND membuat saya cukup kerepotan karena tak cukup kiranya buat saya menempatkannya sebagai sekedar serangkaian gir-gir yang berputar dan selalu membutuhkan minyak pelumas. MIND saya jauh lebih kompleks sekaligus indah sehingga saya tak mau memperlakukannya seperti mesin yang cuma butuh tetesan pelumas apalagi oli bekas. No way!

Saya berusaha untuk memahami pikiran saya dan menuliskan apa yang saya pahami dalam tulisan ini. Tulisan ini saya buat secepat mung
kin karena takut ide saya segera menguap dan menunggu bentukan lainnya dalam waktu lama. Dalam waktu 10 menit saya berkejaran dengan papan kunci, salip-menyalip dengan kekeritingan pita otak dan keriutan perut lapar. Jika kurang, tambahkanlah. Jika berlebihan, seimbangkanlah. Jika tak benar sama sekali, koreksilah untuk diri Anda sendiri.

Semoga bermanfaat. Saya mau sahur dulu, Sudaraku.

September 12, 2008

3:44am

RINDU MENDALAM

RINDU MENDALAM

Ada hari yang menyenangkan

Datang dan pergi jarang-jarang

Mengitari kelemahan jiwa karna rindu Kekasih

Melayangkan pandangan menerawang gelapnya cuaca

Riuh rendahnya bumi tak mampu menjawab kesepian ini

Rentanya dunia tak membawa kebijakan pada kebodohan ini

Jernihnya air tak juga mencuci gejolak kemarahan ini

Ah, adakah desiran angin berhenti menggoda keletihan ini?

Kekasihku,

Kuraba kehadiran dalam keingkaranku

Kurasai kesetiaan dalam kebandelanku

Sungguh kuciptakan pengagungan dalam kelalaianku

Rupanya jiwaku terluka dalam-dalam

Oleh cacahan belati dan sayatan sembilu

Rasanya obat penawar tak mampu pula meredam

Yang sebenarnya kutunggu hanya sentuhanmu

Haaaaaaaaah, dahaga jiwaku

Percikiku seteguk air

Atau setetes saja sepantasnya

Asal embun itu jatuh dari daunmu

Selamatkan aku dari luka rinduku

September 11, 2008

9:27pm

LUDRUK, KLANGENAN SAYA YANG SAYA RINDUKAN

LUDRUK, KLANGENAN SAYA YANG SAYA RINDUKAN

Saat saya kecil (usia es de) saya tinggal di sebuah rumah (rumah orang tua saya) yang lokasinya sangat strategis yaitu di pinggir jalan raya, berseberangan dengan lapangan sepak bola kecamatan yang difungsikan juga sebagai lapangan untuk acara-acara besar termasuk disewakan kepada kelompok-kelompok hiburan seperti kethoprak tobong, ludruk tobong, pasar malam, layar tancep, dll. Saya ingin sharing tentang ludruk yang sampai kapanpun menjadi sebuah hiburan yang benar-benar tak tergantikan di jiwa saya. Walaupun sekarang saya punya kegemaran nonton film layar lebar, tetap saja ludruk dan kethoprak menjadi juara. Mbak Henny rupanya salah seorang dari penggemar ludruk Cak Kartolo. Semoga bisa ngobati kangen teman belajar dulu, Mbak. Untuk Sudara-Sudara MP, ini sekedar oleh-oleh masa kecil. Silakan dilengkapi kalau dirasa kurang.

Sangat membekas tak terlupakan karena tiap malam saya menyelinap keluar rumah (setelah belajar dibawah inspeksi orang dewasa) untuk sekedar membeli gulali sambil melihat-lihat kali aja ada teman yang nonton. Apalagi kalau malam minggu.. hmmm… saya bisa minta Budhe Sahid (teman kantor ibu saya) untuk nggratisin saya supaya bisa masuk ke area nonton yang dikepung gedheg (dinding dari bambu yang dipotong cukup tebal, Bahasa Jawa).

Satu hal, kakak saya mengadopsi eksistensi grup drama tobong itu dengan membentuk grup ludruk sekaligus kethoprak tanpa nama yang pentasnya di halaman samping rumah kami di dekat sumur. Make-up-nya hanya arang hitam untuk mencoreng muka. Layar-layarnya adalah sprei dan kain panjang ibu saya. Namun setelah diperingatkan Kang Sokran (tukang air kami) untuk tidak terlalu banyak memakai air, kethoprak itu pindah di belakang rumah Yu Suraim yang dekat dengan sumur sungai, tapi kemudian bubar karena kakak saya harus pindah sekolah ke SMPN 1 Bojonegoro. Duh indahnya…

LUDRUK

Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Awalnya ludruk hanya dimainkan oleh para lelaki yang jika diperlukan akan berdandan sebagai wanita.

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek misalnya: tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc (termasuk orang iseng seperti saya).

Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan (tak jarang) diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerankan “Pak Sakerah”, seorang jagoan Madura. Kemudian disusul dengan sekelompok lelaki berkonde yang berjajar menyanyikan tembang-tembang selamat datang. Jula-juli adalah tembang khas ludruk yang selalu dinyanyikan oleh tokoh-tokoh tertentu. Jula-juli ini merupakan parikan (pantun) khas Jawa Timur yang fungsi utamanya adalah pengocok perut penonton yang sering kali juga sarat kritik kepada kondisi sosial masyarakat.

Cak Kartolo adalah seorang pelawak ludruk legendaris asal Surabaya, Jawa Timur. Cak Kartolo adalah pimpinan Ludruk Sawunggaling. Beliau sudah lebih dari 40 tahun hidup dalam dunia seni ludruk. Nama Kartolo dan suaranya yang khas, dengan banyolan yang lugu dan cerdas, dikenal hampir di seluruh Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Selain itu ada pula Basman (masih satu grup dengan Kartolo) yang keluguannya menjadi andalan. Cak Sapari, Cak Munawar dan Ning Tini (sitri Cak Kartolo) termasuk dalam grup ini juga. Pementasan mereka telah direkam dalam kaset dan sekarang juga dapat didapatkan MP3-nya secara gratis ke alamat dibawah; tentu saja dengan mengganti harga keping cakram.

http://www.pakdenono.com/kartolo.htm

TEMA DAN JUDUL PERTUNJUKAN

Ludruk berbeda dengan kethoprak dari Jawa Tengah. Cerita kethoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.

Pak Sakerah

Joko Sembung

Branjang Kawat

Sogol Pendekar Sumur Gemuling

Sarip Tambak Oso

Maling Cluring

Untung Suropati

Babad Suroboyo

Sawunggaling

dll

GRUP LUDRUK YANG PERNAH EKSIS

Kopasgat (ini yang sering saya tonton)

Sawunggaling (ini yang dulu selalu saya tunggu-tunggu di radio)

Grup Karya Budaya Mojokert

Mustika Jaya Jombang

Timbul Jaya Pr
obolinggo

warna Jaya Sidoarjo

Bangun Tresno Lumajang

Taruna Budaya Malang

Irama Budaya Surabaya

Orkanda Malang

Budi Jaya Jombang

Perdana Pasuruan

Pak Sarinten klelekan andha

Cekap semanten atur kawula

LAMPIRAN: (terima kasih pada Mas Tommy Budiawan atas kebaikan hatinya mengijinkan siapa saja menggunakan informasinya tentang ludruk Sawunggaling berikut ini)

1. Banyolan Kartolo CS – Ayam Batu Rante :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ayam-batu-rante-banyolan-kartolo-cs.html

2. Banyolan Kartolo CS – Balik Kucing :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/balik-kucing-banyolan-kartolo-cs.html

3. Banyolan Kartolo CS – Balung Badak :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/balung-badak-banyolan-kartolo-cs.html

4. Banyolan Kartolo CS – Bandul Gurem :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/bandul-gurem-banyolan-kartolo-cs.html

5. Banyolan Kartolo CS – Baseman Pooseng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/baseman-pooseng-banyolan-kartolo-cs.html

6. Banyolan Kartolo CS – Basman Bunglon :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-bunglon-banyolan-kartolo-cs.html

7. Banyolan Kartolo CS – Basman Crongohan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-crongohan-banyolan-kartolo-cs.html

8. Banyolan Kartolo CS – Basman Mantu :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-mantu-banyolan-kartolo-
cs.html

9. Banyolan Kartolo CS – Basman Nyeleweng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/basman-nyeleweng-banyolan-kartolo-cs.html

10. Banyolan Kartolo CS – Bayi Mata Keranjang :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/bayi-mata-keranjang-banyolan-kartolo-cs.html

11. Banyolan Kartolo CS – Berang Ketul :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/berang-ketul-banyolan-kartolo-cs.html

12. Banyolan Kartolo CS – Besut 81 :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/besut-81-banyolan-kartolo-cs.html

13. Banyolan Kartolo CS – Bolah Ruwet :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/bolah-ruwet-banyolan-kartolo-cs.html

14. Banyolan Kartolo CS – Dadung Kepuntir :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/dadung-kepuntir-banyolan-kartolo-cs.html

15. Banyolan Kartolo CS – Dalang Gersang :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/dalang-gersang-banyolan-kartolo-cs.html

16. Banyolan Kartolo CS – Disco Guyonan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/disco-guyonan-banyolan-kartolo-cs.html

17. Banyolan Kartolo CS – Dukun Ulo Entong :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/dukun-ulo-entong-banyolan-kartolo-cs.html

18. Banyolan Kartolo CS – Endoge Welut :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/endoge-welut-banyolan-kartolo-cs.html

19. Banyolan Kartolo CS – Gajah Abuh :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/gajah-abuh-banyolan-kartolo-cs.html

20. Banyolan Kartolo CS – Galian Kendor :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/galian-kendor-banyolan-kartolo-cs.html

21. Banyolan Kartolo CS – Gentong Mengkurep :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/gentong-mengkurep-banyolan-kartolo-cs.html

22. Banyolan Kartolo CS – Gerbong Areng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/gerbong-areng-banyolan-kartolo-cs.html

23. Banyolan Kartolo CS – Jas Ontang Anting :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/jas-ontang-anting-banyolan-kartolo-cs.html

24. Banyolan Kartolo CS – Jrangkong Krinan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/jrangkong-krinan-banyolan-kartolo-cs.html

25. Banyolan Kartolo CS – Juragan Gentong :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/juragan-gentong-banyolan-kartolo-cs.html

26. Banyolan Kartolo CS – Juragan Roti Sepet :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/juragan-roti-sepet-banyolan-kartolo-cs.html

27. Banyolan Kartolo CS – Kartolo Cipeng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kartolo-cipeng-banyolan-kartolo-cs.html

28. Banyolan Kartolo CS – Kartolo Dadi Ratu :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kartolo-dadi-ratu-banyolan-kartolo-cs.html

29. Banyolan Kartolo CS – Kartolo Nyetrip :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kartolo-nyetrip-banyolan-kartolo-cs.html

30. Banyolan Kartolo CS – Kebo Kumpul Kancane :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kebo-kumpul-kancane-banyolan-kartolo-cs.html

31. Banyolan Kartolo CS – Ketemu Jodoh :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ketemu-jodoh-banyolan-kartolo-cs.html

32. Banyolan Kartolo CS – Kidung Jenaka :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kidung-jenaka-banyolan-kartolo-cs.html

33. Banyolan Kartolo CS – Kriwikan Grojokan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kriwikan-grojokan-banyolan-kartolo-cs.html

34. Banyolan Kartolo CS – Kucing Gering :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kucing-gering-banyolan-kartolo-cs.html

35. Banyolan Kartolo CS – Kuro Kandas :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/kuro-kandas-banyolan-kartolo-cs.html

36. Banyolan Kartolo CS – Loro Pangkon :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/loro-pangkon-banyolan-kartolo-cs.html

37. Banyolan Kartolo CS – Lutung Mlebu Sarung :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/lutung- mlebu-sarung-banyolan-kartolo-cs.html

38. Banyolan Kartolo CS – Macan Ompong :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/macan-ompong-banyolan-kartolo-cs.html

39. Banyolan Kartolo CS – Manten Puret :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/manten-puret-banyolan-kartolo-cs.html

40. Banyolan Kartolo CS – Mantu Ulo Sowo :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/mantu-ulo-sowo-banyolan-kartolo-cs.html

41. Banyolan Kartolo CS – Marlena Bludreg :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/marlena-bludreg-banyolan-kartolo-cs.html

42. Banyolan Kartolo CS – Marlena Juragan Jambu :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/marlena-juragan-jambu-banyolan-kartolo-cs.html

43. Banyolan Kartolo CS – Nenek Sihir :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/nenek-sihir-banyolan-kartolo-cs.html

44. Banyolan Kartolo CS – Ngedukno Lemah :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ngedukno-lemah-banyolan-kartolo-cs.html

45. Banyolan Kartolo CS – Patih Kabur Kanginan :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/patih-kabur-kanginan-banyolan-kartolo-cs.html

46. Banyolan Kartolo CS – Peking Wasiat :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/peking-wasiat-banyolan-kartolo-cs.html

47. Banyolan Kartolo CS – Pemborong Bonafit :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/pemborong-bonafit-banyolan-kartolo-cs.html

48. Banyolan Kartolo CS – Pemburu Cipret :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/pemburu-cipret-banyolan-kartolo-cs.html

49. Banyolan Kartolo CS – Pendekar Remek :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/pendekar-remek-banyolan-kartolo-cs.html

50. Banyolan Kartolo CS – Rabine Cacing Anil :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/rabine-cacing-anil-banyolan-kartolo-cs.html

51. Banyolan Kartolo CS – Ratu Amen :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ratu-amen-banyolan-kartolo-cs.html

52. Banyolan Kartolo CS – Ratu Cacing Anil :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ratu-cacing-anil-banyolan-kartolo-cs.html

53. Banyolan Kartolo CS – Ratune Iwak :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/ratune-iwak-banyolan-kartolo-cs.html

54. Banyolan Kartolo CS – Rebut Balung :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/rebut-balung-banyolan-kartolo-cs.html

55. Banyolan Kartolo CS – Rujak Kikil :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/rujak-kikil-banyolan-kartolo-cs.html

56. Banyolan Kartolo CS – Sanggar Seni :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sanggar-seni-banyolan-kartolo-cs.html

57. Banyolan Kartolo CS – Sepor India :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sepor-india-banyolan-kartolo-cs.html

58. Banyolan Kartolo CS – Sinden Bledeg :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sinden-bledeg-banyolan-kartolo-cs.html

59. Banyolan Kartolo CS – Sopir Lori :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/sopir-lori-banyolan-kartolo-cs.html

60. Banyolan Kartolo CS – Soto Gagak :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/soto-gagak-banyolan-kartolo-cs.html

61. Banyolan Kartolo CS – Srabi Kecemplung Kalen :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/srabi-kecemplung-kalen-banyolan-kartolo-cs.html

62. Banyolan Kartolo CS – Tandak Wojo :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/tandak-wojo-banyolan-kartolo-cs.html

63. Banyolan Kartolo CS – Tenguk Tenguk Nemu Getuk :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/tenguk-tenguk-nemu-getuk-banyolan-kartolo-cs.html

64. Banyolan Kartolo CS – Trenggiling Sisik Emas :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/trenggiling-sisik-emas-banyolan-kartolo-cs.html

65. Banyolan Kartolo CS – Tumpeng Maut :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/tumpeng-maut-banyolan-kartolo-cs.html

66. Banyolan Kartolo CS – Warung Kintel :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/warung-kintel-banyolan-kartolo-cs.html

67. Banyolan Kartolo CS – Welut Ndas Ireng :
http://blog.tommybudiawan.com/2008/08/welut-ndas-ireng-banyolan-kartolo-cs.html

BE BUTTERFLY

BE BUTTERFLY

I wrote this September 6, 2005 – a birthday present for myself

It may bore you and feel ridiculous. Yeah, it is a dialogue inside of me. You see that I have been a bit tough to myself he he he…

The end of a butterfly

Butterfly is not forever

Its beauty deals with the time

It will get time’s circular effects:

The start, the medium, the end è a process

You have a process in life. Step by step it changes you. Gradually it leads you to transformation. Slowly but surely you should notice: that process is your vehicle to surf the wave of time. You surf not stay put!

Let’s open our eyes

What have you done to the process?

Prolong it or simplify it?

For yourself you should prolong by reckoning

For others you should simplify by forgiving

Ok?

Not really! Enough time is moderate.

Neither too long nor too short

Egg – Worm – Coccoon – Butterfly

Egg

It’s an early stage when the unsolidity is consolidated. They are formed by the shade, light and air. Then the shell’s broken.

Worm

It’s a phase of collecting energy. Eating, chewing, drinking – all the absorbing or taking action in one phase to be strong to survive in the next phase.

Coccoon

It’s a phase of purifying – fasting.

Butterfly

It’s the victory coming.

1, 2, 3 deals with leaves

4 deals with flowers

If no you haven’t got the 4th phase, you are still a leaf-dealer. Flower is far from the cry. Ok?

NIATAN

telling you all a dream that scared me but now it is just a reminder for me to always remember praying before sleeping

NIATAN

Semalam aku bermimpi

Seseorang menghunus belati

Gambaranku seakan nyata

Mengundang banjir airmata

Ketakutan akan kilau logamnya

Kilatan mata sang penghunus

Sungguh cerminan dendam

Niatan itu ada di matanya

Entah adakah juga niatan di hatinya

NGERJAKAN PE ER DARI SAHABATTTTTTT TOBAAATTTTTTTTTTTTT

NGERJAKAN PE ER DARI SAHABATTTTTTT TOBAAATTTTTTTTTTTTT

(yang sempat buka page ini walaupun gak bikin komen harus bikin PE ER!!!)

Kena, kena, kena. Niatnya cuma nengok Mbak Henny sebelum mandi dan berangkat ke rumah Bu Prayogo untuk konfirmasi tentang makanan yang saya pesen untuk sedekahan. Eh… ternyata tuan rumah ngasih pe er. Sebenernya tadi pagi udah ada teman MP juga yang nyuruh nggarap pe er tapi hanya buat orang tertentu. Gak tahunya ketiban sampur juga… Tobaaaaaaaaaaattttt…

  1. Empat pekerjaan
    1. Akuntan cabutan di RS Mashitoh Bangil karena nggantikan akuntan yang sedang cuti hamil. Gajinya Rp. 147.500 jaman segitu he he he… jadi ngerasakan masuk angin naik kereta Bangil-Surabaya seminggu 3 kali karena masih harus kuliah yang tinggal skripsi.
    2. Sekretaris direktur sebuah marine surveying company di Tanjung Priok sana. Jadi anak perawan di sarang penyamun.
    3. Ngajar sampai sekarang. Bikin awet muda karena ketemu anak es de sampai mahasiswa yang semangatnya tetep seger kayak daun bayem di pagi hari…
    4. Quality Assurance di sebuah social compliance auditting company sampai sekarang. Report, report, report. Deadline, deadline, deadline. Semangat, semangat, semangat!

  1. Empat tempat tinggal
    1. Bojonegoro, disana saya dilahirkan dan belajar tentang persahabatan dan banyak hal
    2. Tulungagung, es de sampai es em a dan belajar banyak hal
    3. Surabaya, kuliah dan belajar banyak hal
    4. Tangerang, nyari duit J dan belajar banyak hal

  1. Empat film yang ditonton berkali-kali
    1. The Lord of The Rings – lima bintang
    2. Finding Nemo – empat bintang
    3. Bee Season – empat bintang
    4. Oliver Twist – empat bintang

  1. Empat makanan kesukaan
    1. Gudhed Jogja dan perangkatnya
    2. Pecel (Madiun, Blitar, Tulungagung, dll) sing penting judulnya pecel
    3. Segala macam salad baik
      lokal maupun interlokal dan SLI (rujak, karedok, gado-gado, ketoprak, salad a la negara manapun)
    4. Pempek Palembang segala jenis tanpa cuka (hindari maag lambuh)

  1. Empat situs favorit
    1. Situs kantor ha ha ha… Bikin pusing tapi bikin hidup bersemangat juga euy.
    2. Multiply, tempatku merasakan sparkling-nya dunia persahabatan
    3. Google, tanpamu aku tak berkutik…
    4. Wikipedia. Ensiklopedia gratis, lengkap dan bisa aku koreksi ha ha ha…

Ternyata gampang-gampang susah mengingat hal-hal kecil yang justru sangat nempel di diri kita. Makasih Mbak Hen udah bikin aku excited ngerjakan pe er. Sekarang kebayang lagi bingungnya siswa dan mahasiswaku mumet karena aku kasih pe er banyak ha ha ha…

ULANG TAHUNKU MENYENANGKAN TENAN TENAN TENAN