Dove

I opened my card –

Dove….

White dove.

Serenity, being calm all over the breath, no hustle, no rush, just loyalty and sweetness of being love inside and outside.

Dove is here now, calming down my anger uproar.

Thanks…

Please be here as long as you’d like to.

Please be here as long as you’d think I need you.

So white, so dove, so serene……..

Pause a while….. In the middle of the haste – before gliding through a peaceful passage of unseen orbit.

Singapore – November 20, 2013 – 23:31

Image

Picture borrowed from http://www.ejcr.org/teaching-sets/teaching-sets/White_Dove/manuscriptreviewhistory_whitedove.html

Gate

Image

 

When you are already standing in front of the door, please don’t stop too long doing nothing. Pray, do knock on it or just go away because someone behind you wants to get in or somebody is going to go out from behind the door in front of you.

 

Life is just like going into different doors – never ending chains until finally the ultimate gate is welcoming you at the end of this big journey – just to start the new bigger one. So, don’t doubt. Go in or just go away.

 

The door is yours, the journey is yours, the decision is yours so never bother to think of others’ approval anymore.

 

 

Singapore – November 16, 2013 – 16:25

  • picture of gate of 23 Love Lane – a boutique hotel in 23 Love Lane, Georgetown, Penang, Malaysia (taken just on November 13, 2013 by myself)

Challenges from A Friend

I have a new friend that has given me a lot of inputs about what I should do in my spiritual journey. She supports me with her reading the clues around me and finds solutions for not a few of my problems and several times provides me with challenges.

Once she told me to thank myself for having been supporting me all this ups and downs. She told me to love myself more than I do others – I’d been so exhausted, she said which is true. She also taught me a therapy to face myself – mirror therapy.

Image

http://agenesiscorpuscallosum.blogspot.sg/2009/05/reflections.html

In mirror therapy, I should look at my reflection on the mirror and talk to her. Oh my… It is just like I am having split personality. Yeah…. I was talking like crazy: I expressed my bad emotions at the beginning. Anger, disappointment, shame, fright,   humiliation, lonely, all those kinds of negativities bounced at me. By times, I got better – I said “I love you” to my reflection. Isn’t it to my self? Oh yeah… Yes, it works wonder.

Last night we chatted in whatsapp. This time she brought me one more therapy. It is calligraphy.

I was a bit stunned. It reminded me to a lot of forgotten hobbies. Talking to my self, standing in front of the mirror, saying thank you without reasons. And now calligraphy.

Image

http://www.studioarts.net/calligraphy/c2.htm

She said I need it to stabilize my inner power. My energy is balancing and my body should support it by harmonizing the inner waves. The idea of practicing calligraphy helps us pay attention on stable physical results by controlling emotion inside. I notice my handwriting becomes worst and worst, kinda scribbling rather than writing. Yes, it is time to go back to nature.

Once in elementary school I experimented using my own “font” when writing the a, b, c, d, e up to z in a test to match words and their meanings. And, my grade ended up at 70 while actually I got all correct. It failed in peer correction – my friends did not understand my font.

In junior high, I tried to join calligraphy class where we were taught how to handwrite words taken from Holy Koran. I got good grades. Oh my, I didn’t even know the meaning…. So interesting!

In senior high, we competed to have beautiful yet readable handwriting. And I was one of the best. Oh yeah!

In college I was even crazier…. I memorized by writing all the words…. Beautifully….

Yes, yes…. I am showing off….

Ha ha ha…. What I was trying to underline is calligraphy has been part of mine. I just forgot it some time. My friend came and offered me a new challenge and I love it not because I love the challenge itself but because it brings me to my own self.

Oh, I love this. Really. I am walking into my inner self and I am really happy. Like going back home….

Thank you, Tristi.

Singapore – October 21, 2013 – 21:51

 

Kambing Muda Coklat Tua

Tangan ini mengisahkan seekor kambing muda coklat  yang menghampiriku dalam teduh khusyu doa. Senyumnya tulus, matanya teduh, hatinya penuh keheningan  dan kepasrahan…

“Aku tak punya pilihan lain, harus mati dikurbankan di hari rayamu.” Tak ada lagi kalimat lain, hanya senyum dan kemudian menjauh tanpa amarah padaku.

Tertangkup tangan hangat memancarkan cahaya merah jambu… bola merah jambu berpusar mengitari jagat, cinta kasih dan kedamaian menyelimuti udara…

“Wahai malaikatku, tidurkanlah dia dan kawan-kawannya saat sebelum disembelih hingga dia mati… Taburkanlah wewangian pada sekujur jiwanya… Bawalah jiwa-jiwa merdeka itu dalam bokor-bokor emas bertahtakan permata menuju istana… Di sanalah tempat mereka yang selayak-layaknya…”

Jiwa ini bergelung bak trenggiling kedinginan… Sungai air mata deras menggelontor kepedihan; menyapu debu dan angin yang melekat di tubuh ini, mengantarkan kambing muda coklat tua menghadap cintanya…

Singapura – 14 oktober 2013, malam yang penuh dengan kekhawatiran dan kegalauan karena mengingat kambing, sapi, kerbau, onta yang akan dikurbankan….

KEJAM (omelan acak)

Makin banyak manusia berjiwa kejam bermunculan di bumi ini.

Membunuh binatang,

Mengganggu binatang,

Membenci binatang,

Jijik pada binatang;

Semua itu indikasi saja…

Yang pasti mereka memupuk jiwa kejam dalam dirinya…

Baru tadi pagi kutemukan berita di National Geographic tentang cyber poaching yaitu perburuan melalu jalur internet yaitu berburu binatang-binatang dilindungi yang mengenakan GPS collar (kalung untuk mengetahui keberadaan lokasi binatang tersebut); tujuannya adalah supaya para poachers tersebut dapat membantai para binatang malang itu dengan mudah tanpa blusukan nyasar-nyasar di hutan rimba.

Baru-baru ini satu macan Bengggala (India) diburu secara online oleh manusia-manusia jahanam itu.

Kebayang nggak sih di era modern ini bisa saja hewan- hewan yang tadinya nggak langka sama sekali akan menjadi hewan buruan dan membuat pemiliknya ketar-ketir sepanjang masa. Terbayang di pelupuk mataku Bob, Minthil, si Abuy, si Abu, si Korep, Sora, Cedric, dan anjing serta kucing malang itu diburu lalu entah lah dimakan atau diawetkan dijadikan koleksi para manusia kaya sialan yang suka mengoleksi stuffed animals di istananya.

Mulai tergerak hatiku untuk jadi donatur WWF tapi again…. aku kok nggak percaya bahwa mereka ngurusin bener-bener para binatang langka. Makanya aku cuma mau ikutan temen-temen yang ngurus kucing jalanan, anjing terlantar dan jalur-jalur “lambat” lain yang lebih membumi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka peduli dan mengejawantahkan kepedualiannya dengan cara yang lebih membumi… Ah, ini tidak berarti WWF tidak membumi – hanya saja WWF terlalu sophisticated buatku…

Selamat menikmati hidup di jaman modern yang dipenuhi dengan kekejaman demi pelestarian hidup manusia tanpa peduli pada hidup makhluk lain.

Eh, sebenetar lagi Idul Adha ya? Maaf, saya nggak korban karena nggak mau salah memilih ternak yang ternyata belum ikhlas mati… Duh, Gusti minta tolong…

Singapore – 12 Oktober 2013 – 16:39Image

 

MUSIC

kutemukan musik dalam hidup
aliran udara dan tekanan angin yang berbeda menjadi musik
gemericik air dan gulungan debu menjadi nada
tarikan dan hembusan nafas yang satu-satu lembut, sedang, memburu, sesak… tempo…

musik,
jiwa yang berirama,
kehidupan yang berpola,
nuansa yang menggema beribu tahun, kembali mengingatkanku pada alunan musik

terlupa sejenak lalu ingat ketika terpanggil oleh kerinduan….
akan masa-masa yang penuh cinta…

musik selalu menggugah emosi,
menelusuri rasa,
membangkitkan keimanan akan pertemuan dengan yang sejati

dengan YangSejati….

Yio Chu Kang Road, 28 Agustus 2013 – 21:30

PRETTY SOCKS FROM MY SISTER

Image

When I was a girl – about 10 years old,

I studied in a village school,

Students wore uniform – white shirt and crimson red skirt,

Black shoes and a pair of white socks.

Our socks were all the same, white – just white as long as half of our legs.

My sister, she was 16 y.o. at that time and studied in town…

And she would live in a boarding house, coming to visit our family every weekend,

There was a time when she always brought socks for me,

Special socks – because those socks from her were always much more beautiful than everybody else’s, either with pictures of strawberry, flowers, Heidi the Alp mountain girl, colorful, with laces, so many… one pair every week…

I will always remember that… My sister – her name is Andri – was such an angel to me and now she still is… She’s been with my mom, helping her with all the household chores and my mom’s small business, taking care of Bob my cat while I’m away, doing all things she can…

I love you my sister… You are such a beautiful perfect good saint in our family… Please spread your love as always… You are loved. Universe is blessing you…

Singapore, Aug 1 – 23:47

Picture is taken from http://thisthriftyhouse.blogspot.sg/p/favorite-posts.html

MY LOVE TO ANIMALS

My life changed

When I adopted a cat and named him Bob.

From then on I have loved animals more and more…

Be it cat, dog or other kinds

I will give my charity as I can

The best I can…

God, please save the life of the neglected animals

DSC_0386

SEPI

Ada yang harus dikorbankan untuk mencapai keinginan.

Aku rela rindu
Pada ibu
Pada Bob, kucingku
Pada dua kakak perempuanku
Pada adikku
Pada kakak lelakiku
Yang di seberang segara….

Dan, pada bapak
Di alam sana….

Inikah muara pencarianku.
Menjadi perantau yang selalu rindu
Rumah….

Kugenggam erat mimpi
Jangan terlepas lagi.

Rindu ini kan tersampaikan
Dalam rangkuman doa,
Lantunan lagu,
Hembusan angin…

Sampai jumpa…

Temasek – tempatku dulu mengejar layangan 🙂
19 Juli 2013 – 10:07 malam

20130719-220829.jpg

PUISI KUCING

Kucing itu cakep
Binatang imut kusayang…
Bulu yang halus dan suara yang lembut….
Sangat menggetarkan…

Aku punya satu.
Bob namanya
Kucing jantan
Kunamai karena dua alasan
Karena nama lengkapnya Robert de Niro
Dan karena Bob adalah nickname pacarku, mantan….

Tadi ku nemu satu kucing lagi
Tapi tak kuadopsi
Karena masih bayi dua hari
Dan aku tak sanggup mengurusnya

Si kucing mungil
Maafkan aku karena telah menyentuhmu
Terlalu banyak menularkan bau tanganku pada tubuhmu
Sehingga simbokmu tak mampu menyentuh aromamu…

Maka kuseka aku dengan handuk baru dan meminta maaf
Padamu….
Simbokmu akan segera menjamahmu.
Lalu kamu menjadi kucing yang manis
Dewasa dan sehat…

Love catsy….

Garuda Lounge, Soetta Tangerang
July 7, 2013 – 7:08 petang

20130707-191511.jpg

BAHASA BINATANG

TERHUBUNG

Seekor bulldog diberangus moncongnya, dituntun oleh seorang petugas keamanan bandara internasional Pudong, China. Dua orang petugas lainnya berjalan bersama mereka, pelan waspada….

Kenapa tiba-tiba hatiku trenyuh? Apakah sudah garis hidupku untuk mengalami perasaan sakit bilamana ada hewan yang dijadikan alat oleh manusia namun tidak diperlakukan secara alami? Anjing, kucing, ha master, marmut, sapi, kambing, ayam, burung, dll semua pernah menjadikanku sakit hingga air mata tak mudah dibendung. Sayatan jeritan hatiku melihat mereka dipulasara karena tak ada pilihan lain.

Dulu… Aku pernah berbahagia menginginkan menjadi murid Sulaiman sang raja dan nabi yang ahli bicara pada binatang namun kini yang bisa kulakukan adalah tersenyum kecut karena kenyataan sang nabi bahagia menjadi ahli bahasa binatang tidak selalu menjadikannya tenang, justru sebaliknya.

Aku jadi ingat kata-kata teman “A gift sometimes becomes a curse.” yang seakan terbukti.

Untuk menjadi ahli bahasa fauna kurasa belum tapi aku melihat tandanya yang sangat jelas. Bob Kucing, kucingku yang sekarang ku titipkan pada ibuku, telah menjadi bagian dari pembuktian itu. Aku berkomunikasi dengannya dengan baik walau kadang menyisakan kegilaan yang menggelikan. Namanya kucing kok diajak bicara ya meang-meong doang…. Tapi aku ngerti…

Ah namanya kegilaan biarlah dia berkelana di dalam relung jiwa dan deretan kalimatku saja, tak perlu pembuktian pada audiens…. Cukup kupelihara saja kepiluan ketika mengindera berita tentang makhluk bernama binatang yang disiksa dan tersiksa. Maafkan aku, aku hanya bisa memberikan berkat pada kalian.

Cinta kasihku memancar pada kalian…. Berbahagialah….

Bandara internasional Pudong
15 Juni 2013 – 10:00 pagi

BERKISAH TENTANG…

Berkisahku tentang
Sesuatu yang nisbi ada
Yang berkelindan dalam rangkaian rantai hidup
Jika terputus bukan karena patah melainkan karena terhalang kabut….

Tiada yang kuragukan
Hanya sebatas diselubungi lupa dan alpa.
Jikalau ada waktu ku ‘kan temukan pintu, semua pintu
Menuju surga….

Kita berkisah ku
Tentang semua yang pasti… Di siang hari
Di bawah temaram matahari disaput mega,
Yang ada adalah cerita….

Berkisah ku tentang balada anak manusia
Yang tak kunjung siap meninggalkan mimpinya,
Menuju tikungan terakhir….
Menuju kekasihnya….

Changi – 11 Juni 2013 10:28 malam
Menanti Shanghai tiba

20130611-222939.jpg

INDIAN YANG MENERAWANG JAUH ITU

Di salah satu pencarian ke dalamku aku melihat seorang Indian berdiri di tanduk bukit dan menerawang jauh ke Padang rumput yang meluas dihuni oleh bison-bison yang tenang dan damai. Tidak bisa kuras akan apa yang sedang dia pikirkan, hanya menerawang jauh seperti mungkin…. Meragukan kelangsungan hidup dan kelangsungan bangsanya yang makin terdesak oleh sekelompok kulit pucat yang dengan tanpa belas-kasih merebut sepetak demi sepetak tanah ulayat yang mereka rawan dengan cinta dan kedamaian.

Apakah gerangan yang dapat dia lakukan sebagai anak muda yang telah dihina harga dirinya oleh penjajah berkedok modernisasi?

Apakah harus diam melihat bison makin terpojok dan akhirnya tinggal jadi pajangan di museum masa depan? Dan membiarkan serigala melolong lalu hilang dalam gelap lalu mati kehilangan semangat berkelana dan berburunya? Rajawali kehilangan rentang sayapnya dihajar asap kereta api? Cerpelai merana, kuda-kuda meringkik galau dan alam menangis…

Angin membelai rambut sang Indian muda. Matanya dirimbang air mata, sebentar lagi terjatuh membasahi pipi dan dagunya mengaliri leher jenjang dan mengering lagi diserap Jiwa Manitou yang Agung.

Telinganya menangkap kembali sebuah bisikan seorang dara yang baru kemarin memberinya senyuman. Bahwa perjuangan ini tak mungkin tanpa akhir. Mimpi ini harus diwujudkan. Semua kebimbangan harus diakhiri. Tiada yang boleh menghentikan lari jaman tapi tak ada yang mampu menggeser keteguhan jiwa….

Harus ada yang diterima sebagai tamu masa namun Jiwa Renta tetap harus jadi tuan rumahnya.

Singapore – Juni 9, 2013
11:57pm

20130610-000628.jpg

KUCING MELAHIRKAN

??????????

Hari ini aku makan di Sate Wahab yang berlokasi di sebelah prapatan Sinta, Tangerang. Rasanya lumayan enak walau tak seenak beberapa tahun lalu ketika aku makan di sana bersama Eka. Bukan karena dengan siapa tapi lebih karena kondisi badanku sedang drop karena flu sehingga lidah tak mampu bekerja optimal merasai sate yang terkenal enaknya itu.

Setelah makan motor mengarah ke utara mau muter lagi ke kantor temanku. Belum mencapai 5 meter eh kulihat kucing warna hitam yang menurutku posisinya aneh. Tak mungkin seekor kucing membersihkan badan di badan jalan yang sangat ramai. Maka aku minta Lela untuk memberhentikan motor lalu aku turun.

Kucing melahirkan!!!

Duh Gusti, hatiku trenyuh tapi aku – jujur – agak jijik karena kucingnya kurap dan yang lebih bikin aku nggak tega adalah anak kucing sudah keluar satu dan emak kucing sedang membersihkan badannya, lalu keluar ari-arinya.

Lela meneriakkan saran “Miss, minta tolong bapak itu aja…!”

Aku segera memanggil tukang parkir Sate Wahab yang dengan segera mendekat. Seorang bapak-bapak menjewer kuping emak kucing untuk naik ke trotoar. Anaknya terseret… Maafkan aku, kucing-kucing…

Lalu aku minta mereka membawa kardus bekaas jika ada.

Seorang bapak membawa kardus bekas kemasan minuman Aqua. Lalu seorang lagi membawa selembar kertas koran dan memintaku menyorongkan bayi kucing dan ari-ari ke dalam kardus yang sudah ditempati oleh emak kucing.

Setelah keduanya masuk kardus, aku minta bapak-bapak itu menaikkan kardus berisi kucing-kucing itu ke bawah arcade sebelah kanan Sate Wahab karena hujan mulai menderas.

“Sehat ya, Mak, Nak…” kataku pada kucing-kucing itu.

“Makasih ya, Pak…” kataku pada bapak-bapak yang masih ada di situ.

Lalu aku dan Lela melanjutkan perjalanan.

Hatiku masih ternyuh. Masih kuingat sebuah mobil yang dengan sengaja mau menabrak kami (aku dan kucing), si pengemudi sambil melotot-lototkan matanya. Mungkin dia memberikan kode padaku untuk segera minggir. Aku tak tahu, jika aku tak di situ menjaga kucing-kucing itu, pengemudi itu pasti sudah melindasnya karena memang si kucing berbaring lemah tak berdaya di bekas cerukan jalan yang seperti bekas lindasan ban besar.

Aku berharap makin banyak orang yang peduli pada hewan yang ada di sekitarnya entah itu kucing, anjing, kelinci, dll….

Untuk kucing-kucing yang tadi kutemui dan kucing-kucing lain: semoga kalian bahagia dan sejahtera, sayang…

Ruko Liga Mas (kantor Lela); 4:55 sore

Foto adalah Sicily alias Ucil yang sudah tak terlihat lama dari rumahku karena (mungkin) sedang melahirkan

BUNDA JULIE

bunda julie

BUNDA JULIE

Aku mengenalnya di rumah lama

Multiply

Sekarang kami tetangga desa

Beliau di Blogspot

Saya di WordPress

Tak mengapa

Kami masih bisa saling menyapa

Walau tak bisa senyaman dulu kala…

Bunda Julie

Atau Tante Julie

Seorang ibu yang bersahaja

Dengan pengalaman hidup luar biasa

Menceritakan kepahitan dan manisnya

Bagai lairan sungai menuju segara

Terima kasih atas indahnya berbagi, Bunda…

Kukirim surel menyapanya

Menanyakan informasi yang kubutuhkan saat ini

Dan dia menyepaku dengan kehangatan seorang ibu

Belaiu sedang sakit

Parah

Dan dirawat

Dengan bantuan kawan-kawannya yang setia…

Sungguh

Kau seorang ibu yang baik hati

Masih tak kumengerti bagaimana lelaki itu meninggalkanmu

Justru di hari tua

Oh, mungkin dia mendapatkan yang muda dan masih bersinar

Tapi tahukah dia?

Nyala api abadi Bunda Julie tak pernah padam.

Selalu menyinari sekitar

Dua anak lelakinya yang selalu siap melindunginya

Keluarga besarnya yang selalu menemaninya

Sahabat di dunia nyata dan maya yang selalu menyayanginya…

Semangat ya, Bunda…

Tuhan menyayangimu

Memberikanmu kehidupan yang tak terbayangkan beratnya di kepalaku

Tapi sungguh membuatku terpesona dengan kekuatanmu.

Salamku, Bunda Julie…

Selalu sayangku padamu…

29 Desember 2012 – 2:38 siang

Rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane

RESOLUSI 2013

WP_000054

Kiamat yang seperti dipikirkan berupa huru-hara tak berjalan sesuai ramalan maka resolusi menjadi hal yang cukup menarik untuk menyemai harapan.

Tahun 2013 adalah tahun yang penuh energi positif dimanapun aku berada. Cinta akan tiba dalam bentuk yang paling sesuai dengan kehidupanku saat ini. Keluarga dan sabahat makin memancarkan sinar kasihnya ke penjuru arah tujuanku. Kehidupan cita-citaku juga menjadi lentera bagiku dan orang-orang di sekitarku.

Tak ada yang tak mungkin dengan kekuatan positif yang selalu dipancarkan oleh jiwa. Kulakukan yang terbaik; jika bermanfaat bagi banyak manusia, kurela.

Oh Hidupku, ijabahlah doaku…

28 Desember 2012 – 9:09

Once Upon A Time When I Broke His Heart

WP_000016

24 hours
And he didn’t come home
Calls were shouted
“Man, please come to me. I miss you a lot.”
But no sign…
He didn’t think I was important.
He broke my heart.
Really.

36 hours
He gave me a ring.
“I’m coming. Do prepare, I miss home already. Don’t let me down.”
He knocked on the door.
I went out.
But three musketeers were before him.
They blocked his way home.
Those three delicate creatures were kinda telling me and him that we could not be together that day.

The light in his eyes faded
Like an electricity black out.
He scolded at me in his silence…
Then walked away.
Again he looked back staring at me full of hatred…
Then walked away.

That was just yesterday when I broke his heart.

This poem is for Bob Kucing that could not enter my house because of three cats sitting at the terrace, wanting to be fed by me. Oh, Bob please hold your jealousy. You are always my number one cat. The rest are just orphans needing our help. I love you, Bob Kucing… 🙂

December 25, 2012 – 11:18pm
My small hut at Cisadane river bank

Fyi, Bob went home then and ate with mounting jealousy though he he he…

SUMPAH PEMUDA ???

Aku tak merasakan semangat Sumpah Pemuda tahun ini.

Seperti kehilangan api yang seharusnya meretih abadi. Bahkan bunyinya pun seperti tinggal tulisan kabur di tembok penuh coretan graffiti.

Kutilik lagi hatiku. Layu. Tak ada warna merah di sana. Putih pun tak kutemukan. Yang ada kelabu, pembusukan sistematis. aku tak sudi begini. Harus kuperangi kelabu hatiku. Harus kugubah lagu menjadikannya tumbuh kembali: merah, putih dan segala warna yang hidup.

Harus kuraih lagi
Harus kucipta jalan perjalananku
Bukan kau atau kau
Akulah pencipta hidupku!

Teks berikut diunduh dari wikipedia
Sumpah Pemuda versi orisinal

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda di rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane

28 Oktober 2012 – 4:03 sore

HARI INI HARI BATIK

Tanggal 2 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Batik oleh pemerintah setelah UNESCO mengukuhkan batik kita sebagai kekayaan dunia dan seyogyanya kita menyokongnya dengan suka cita. Masih teringat bagaimana hingar-bingar pecinta batik kita berjuang dengan cara mereka sendiri ketika Malaysia mengklaim batik sebagai milik mereka.

Sekilas tentang batik
Batik adalah metode pembentukan motif pada media tertentu – awalnya hanya kain mori lalu berkembang hingga sekarang batik dapat diterapkan pada kulit, kayu, dll – dengan cara menutup bagian tertentu dengan lilin (malam) sebelum proses pewarnaan dilakukan. Awalnya batik memiliki motif tertentu yang dihubungkan dengan proses kontemplasi seniman batik pada jamannya yang biasanya menciptakan karyanya untuk kebutuhan kraton mengingat dulunya batik hanya bisa dijangkau oleh kaum ningrat. Maka terciptalah motif-motif batik seperti Wahyu Tumurun, Kawung, Klithik, Sido Mukti, Parang dengan berbagai variannya, Mega Mendung dll. Semua yang saya sebutkan adalah “batik pakem”
Di negeri kita ini hampir semua daerah utama memiliki batik dengan ciri khas tersendiri walaupun secara umum batik dibagi 2 kelompok besar: batik pesisiran (daerah pinggir laut) dan batik Jogja-Solo (pedalaman). Dua kelompok besar ini membuat khazanah batik Indonesia menjadi kaya luar biasa. Batik pesisiran biasanya menggunakan warna-warna terang dan aplikasi motif yang lebih ringan dan ceria serta menggambarkan objek secara gamblang dan nyata sedangkan batik pedalaman lebih didominasi oleh lebih banyak warna gelap yang lazim disebut sogan (coklat, hitam, kelabu) dan penggambaran objeknya lebih abstrak dan penuh simbol.

Batik Cirebonan adalah contoh batik pesisiran yang paling memasyarakat saat ini. Dengan warna yang gonjrengnya batik Cirebonan mampu menyelinap ke dalam hati para penggemar instan karena memungkinkan mereka untuk bergaya dengan batik secara lebih mudah. Ciri khas batik Cirebonan juga terletak pada objeknya: tanaman, burung-burung, langit berarak, matahari, dll dan satu lagi yaitu “tumpal”. Tumpal adalah aplikasi motif penyelaras di ujung kanan atau kiri kain yang biasanya diletakkan di depan ketika batik dipakai sebagai sarung.

Batik pedalaman atau Jogja-Solo lebih banyak bermain dengan simbol dan pemaparan ide secara abstrak dan mengedepankan kesan sakral dalam setiap motif pakemnya. Misalnya “jarik” Sido Mukti adalah ekspresi doa kebahagiaan, kemakmuran dan kelanggengan desainernya sehingga dipakailah batik ini sebagai salah satu pakaian pengantin. Sebaliknya batik bermotif Parang tidak direkomendasikan dikenakan dalam prosesi itu.

Proses dalam membatik
– memilih media
– memilih motif
– menggambar motif (mola)
– membatik (menutup bagian dengan lilin sesuai pola)
– mewarnai (nyelup)
– membuang lilin (nglorot) dengan cara merebus kain yang telah dicelup
– mengeringkan
– membersihkan batik dari sisa-sisa lilin yang menempel

Tidak terlalu sulit bukan? Tidak ada salahnya jika kita mau mencoba. Kalau ada waktu, silakan kunjungi Musium Tekstil di Jl. Karel Sasuit Tubun, Jakarta yang mengadakan kursus batik secara reguler. Anda akan bertemu dengan para seniman dan instruktur yang dengan suka rela berbagi ilmu, pengalaman dan kecintaan budaya.

Banyak istilah dalam dunia perbatikan yang mungkin tidak terlalu dikenal secara luas misalnya isen, semen, nitik, nyolet, dll. Namun itu bukan hal yang urgent bagi kita untuk mengetahuinya. Untuk saat ini mari kita mencintai dulu batik kita dengan cara memakainya baik setiap hari maupun pada acara-acara tertentu saja.

Kiranya tulisanku di Hari Batik ini cukuplah untuk memberikan penghargaan pada batik dan pelestarinya serta membagi sedikit pengetahuan bermanfaat.

Selamat Hari Batik
Mari pakai batik paling tidak sekali seumur hidup 🙂

Otw Blok M di Ekspres MC2636 – 7:45 pagi

JALAN LURUS INI

Berapa ratus kali dalam hidupku terderas ayat berisi Jalan Lurus ini? Shirotol mustaqim adalah konsep yang selama ini telah mengakar sebagai sebuah jalan yang sangat sulit dan kompleks membuat hidupku sangat berat. Jalan lurus adalah jalan yang jika tak ditempuh oleh orang yang benar maka akan tergelincir di jurang bernama neraka. Jalan yang terbentang setipis rambut dibelah tujuh dan setajam pisau berlian. Tak terbayangkan kecuali menimbulkan ketakutan.

Semakin saya telaah maka hasilnya hanya ketakutan dan penjauhan diri dari persyaratan-persyaratan demi keselamatan meniti jalan lurus itu. Hingga saya berjumpa dengan seseorang akhir pekan lalu.

Seorang wanita yang jika dia tak keberatan kuanggap sebagai salah satu dari guru-guru kehidupanku. Wanita sederhana yang jika orang bicara padanya maka meluncurlah deretan peluru-peluru penuh hikmah dari mulutnya.

Salah satunya adalah pemahamanku tentang Jalan Lurus.

“Jalan lurus itu ya jalan sederhana. Jalan yang nggak membingungkan kita. Lurus saja = sederhana saja. Jalan ini hanya perlu satu kemauan yaitu menjalani segalanya secara sederhana. Sederhana itu ya sederhana, simple nggak usah pusing-pusing. Sederhana dalam berpikir, menyederhanakan sama dengan menyempurnakan. Kau sederhanakan egomu maka sempurnalah pikirmu.”

Luar biasa!

Menyederhanakan.
Sedemikian rumitnya pikiranku dan menyederhanakannya adalah sebuah urgensi pribadi. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku menyederhanakan pikiranku. Hanya aku dan aku saja.

Sederhana adalah kembali pada satu komponen terkecil yang sekecil kemampuan terkecilku yang kubutuhkan untuk memahami bahwa “segalanya hanya berdasarkan kesepakatan” maka jika tidak tercapai kesepakatan “jangan marah, diamlah dan nikmatilah hidupmu setiap detiknya”.

Hatiku tersentak dan tersentuh. Musik latar film masa kecilku “Little House in the Prairie” mengiringiku meneguhkan hati untuk menyederhanakan pikiran, tidak memperpanjangnya dengan emosi, menyempurnakannya dengan kemanusiaan. Sungguh kesederhanaan yang tak terlampaui rumitnya.

Jalan lurus adalah jalan sederhana.
Sesederhana keinginanku untuk tak peduli dengan apapun yang berbeda. Sesederhana kemauanku untuk berbahagia setiap saat. Sesederhana hari-hariku yang dimulai dengan ungkapan syukur dan ditutup dengan ungkapan syukur.

Jalan lurusku bukan jalan di mana sujud-sujud panjang menghitamkan dahi para pendoa, bukan jalan di mana dentingan koin emas merisaukan pada pensedekah, bukan jalan di mana rasa lapar dan dahaga ditaklukkan oleh para pelaku puasa. Jalan lurusku adalah sederhana saja: jangan marah dan maafkanlah…

Rumah kecil di bantaran Kali Cisadane
30September2012

RATU KEJAM ITU

Berkelana dari hati ke hati
Menilik mana hati yang sepi
Hati sepi bertahta kilau dunia
Maka bergeraklah dia
Membuai
Membujuk
Memuji
Mengukur kelemahannya
Merontokkan kilauannya
Satu per satu
Dan menendang semua sahabat
Mengusirinya
Demi duduk sendiri

Sungguh hati kosong itu
Makin kosong
Dijajah seorang ratu kejam
Yang bertahta di hati yang bukan miliknya dan
Berkuasa…

Untuk seorang teman yang agak aneh cara bertemannya
Cititel Midvalley – 24 September 2012

BOB

BOBPlease introduce my cat named Bob Kucing..
He is almost 5 years old and might have a lot of offsprings around my neighborhood.
He eats fish as main dish and cat bites for snack.
He spoils me with his purr and manipulates me with his sickness. Hey, he has space for fleas that I work on in my spare time.

He is an adorable cat at least for me. Have a look at his sleep…

RINDU

RINDU

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan rindu?

Ikatan antar jiwa kah?

Apa yang menyebabkan setiap jiwa terikat pada jiwa yang lain?

Adakah zat kimiawi yang menyebabkannya?

Atau inikah yang dinamakan spiritual?

Alangkah rumitnya rindu.

Rindu Bob Kucing

Phnom Penh, 17 Juli 2012 – 7:47 malam

Foto dipinjam dari http://www.fanpop.com/spots/maria-050801090907/images/27986990/title/miss-already-photo

SENSITIVITY IN ME

SENSITIVITY IN ME

I feel it gets stronger

The sensitivity in me

How I feel hurt to see animals slaughtered for fun, for consumption, for pride

How I feel hurt to see those creatures without defense accept whatever humans want them to be.

Is it after I dig the love between my Bob cat and me?

Or, is it just because it is time when I unseal the hidden key?

Or, is it just an accidental sensitivity in me?

Just now I mistakenly switched on TV to a channel showing a tortoise slaughtered alive! The guilt lingers and tortures my sleeping time. No sleep then. Then it reminds me to topeng monyet that comes to exploitation rather than animal training. Also it drives me crazier when I remember how Kebun Binatang Surabaya animal “collections” get weaker and weaker because the care takers do not care about the animals. They said they lack of money? Then just send those animals to other zoos rather than selfishly claim the poor responsibility of national asset. God damn animals are not national! It is global asset! Once they are distinct, the mankind should mourn!

I go too far… I am being sensitive. I am missing a thing, Bob Kucing. He’s been my savior in my bad times; he’s been alarm of consciousness of oneness. It is too far. I am not supposed to talk about sensitivity. It is merely about my dear cat… Is it?

HHIpoh – December 23, 2011 – 9:00pm

KEMELEKATAN

KEMELEKATAN

(obrolan ringan tentang Bob kucing)

Beberapa orang merasa bahwa cintanya pada dunia tidak sebesar cintanya pada Tuhan. Mereka mengklaim diri bahwa mereka mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Saya meragukan diri saya dalam hal tersebut karena nyatanya memang tidak demikian yang saya alami.

Saya masih belum menikah tapi saya punya kemelekatan yang tak kalah lekat dibanding dengan kemelekatan antara dua pasangan atau anak dan ibunya atau anak dan bapaknya. Saya sangat lekat dengan kucing saya yang saya namai Bob. Kata kuncinya adalah sangat. Sangat adalah kata keterangan yang membuat kata sifat yang mengikutinya berlipat. Kemelekatan saya pada kucing saya berlipat beberapa kali dibanding dengan kemelekatan kepada kucing lain atau hal lain, tentunya kecuali orang-orang yang memang mendapatkan tempat istimewa yang sama dengan si Bob Kucing ini.

Saya tidak menyesal memiliki Bob. Tetapi kata kunci memiliki itulah yang membuat saya agak merasa bersalah. Seharusnya saya tidak pernah mendeklarasikan diri bahwa saya adalah pemilik kucing yang buat saya bagai guardian angel ini. Dengan memiliki Bob saya terbukti tidak siap meninggalkan dia atau ditinggalkan dia. Tiap saya akan dinas ke luar kota, saya selalu berharap saya tidak perlu menginap sehingga tidak perlu meninggalkan dia sendiri atau jikalau sore hingga petang sahabat saya Nining dengan telaten dan sabar menemani piaraan saya itu maka malamnya si meong mesti bobo di luar rumah dan menurut saya itu kurang menyenangkan.

Bob Kucing ini kucing lokal sehingga ada sementara orang yang menganggap saya berlebihan. Sebagian orang Indonesia menganggap bahwa hanya kucing ras-lah yang mesti disayangi dengan cara special seperti: membelikan makanan khusus feline (kucing) dan vitamin segala ubarampen (perlengkapan) kucing, mengobatkannya seperti manusia jika sakit, membiarkannya menikmati rumah seperti anak-anak atau ponakan-ponakan mengharu-biru rumah, menjaganya selayaknya menjaga diri kita… Tidak mengapa karena pendapat boleh berbeda.

Saya tidak sedikitpun merisaukan diri saya kecuali satu: bahwa saya dan Bob mulai saling terikat. Akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan saya baik secara fisik maupun batin. Kalau saya di rumah dia ngikut kemana pun saya bergerak bahkan kalau saya mandi dia nggeluntung (berbaring telungkup, Bahasa Jawa) di keset depan kamar mandi. Kalau saya sedang bekerja malam, dia nongkrong diatas tumpukan kertas atau kalau sedang kesal dia nangkring diatas laptop saya, kadang dia menggoda melompat ke atas TV dan menjatuhkan antene sambil mengeong manja. Kalau saya tidur dia biasanya akan melompat keatas selimut tebal saya: dia tidak pernah mau masuk ke bawah selimut dalam waktu lama karena mungkin merasa panas. Dan, masih banyak lagi kegiatan dia yang menunjukkan keakraban dan kenyamanan kami bersama.

Ada satu lagi: dia mulai bisa merasa tidak suka kalau saya tugas keluar kota dan menginap. Sehari sebelum saya berangkat dia sudah ngroweng (rewel, Bahasa Jawa), nempel-nempel ke kaki atau badan saya, meang-meong kesana-kemari, pura-pura sesak napas dan yang biasanya Cuma mau digendong dalam hitungan 3 – 5 detik jadi bertahan sampai satu menit dan sambil mendekur-dekur pula.

Kemelekatan pada kucing saya sungguh kadang membuat saya bertanya-tanya: pantas saja ada ibu yang akhirnya malas bekerja meninggalkan rumah lha wong ada yang nggondheli di rumah dan mengurus anak tentunya menyebabkan stress yang lebih rendah daripada harus berinteraksi dengan macetnya jalanan dan kompetisi dalam karir (bisa saja saya salah tapi paling tidak inilah kesimpulan saya melihat para ibu yang kadang nggak masuk kerja karena “nggak tega ninggal anak”).

Kemelekatan ini harus saya atasi karena kalau tidak membuat saya tidak produktif dan cenderung menuruti kemalasan. Tentunya Bob Kucing tahu bahwa dia disayang sehingga dia punya strategi untuk “tidak ditinggalkan” atau “tidak diabaikan” karena pa
sti kalau saya pergi orang lainlah yang mengurus dia yang notabene tidak se-rempong saya. Saya selalu memastikan bahwa air minum dia baru dan dari gallon atau direbus dulu (kadang dioplos dengan air hangat), vitamin juga selalu saya takar, makanan saya pastikan dihabiskan sesuai porsi, kaki-kaki saya lap dan dubur & alat vital saya lap, telinga dan gigi saya periksa, hidung saya bersihkan, cek bulu dan ekor dari kutu dan serangga, sering kali juga saya ajak ngobrol sekaligus saya ciumin hidungnya dan adu dahi ha ha ha…

Kemelekatan itu tidak boleh terjadi walau saya sangat menyayangi makhluk yang oleh tetangga sebelah saya dibiling “Halah, cuma kucing aja segitunya”. Bodo ammmmaaaat, kata saya tak kalah bangga ha ha ha…

Begitulah kemelekatan itu begitu besar sehingga pernah saya memimpikan Bob Kucing mati dan paginya saya menangis dan menggendong-gendong dia dan saya ciumi.

“Kamu jangan mati dulu ya, Bob… Paling tidak kau hidup 12 tahun bersamaku; tapi kau boleh mati sebelum aku, biar kau tetap ada yang mengurus…”

Kucingku tadi malam menemaniku mencuci. Dia meringkuk di atas keset kamar mandi sambil mengikuti gerakan saya mencuci. Sesekali dia meang-meong tiap saya panggil namanya. Pagi ini dia memanggil saya, minta keluar. Untungnya saya jug sedang ada acara keluar rumah, jadi kami berangkat bersama.

“Nanti malam pulang jam 7 ya, Bob…”

“Meooooong….” Entah apa artinya, yang pasti rasa sayang kami ada dan saya belajar membuang kemelekatan.

Lia Taruna – Tangerang – 4:12 sore