BERKISAH TENTANG…

Berkisahku tentang
Sesuatu yang nisbi ada
Yang berkelindan dalam rangkaian rantai hidup
Jika terputus bukan karena patah melainkan karena terhalang kabut….

Tiada yang kuragukan
Hanya sebatas diselubungi lupa dan alpa.
Jikalau ada waktu ku ‘kan temukan pintu, semua pintu
Menuju surga….

Kita berkisah ku
Tentang semua yang pasti… Di siang hari
Di bawah temaram matahari disaput mega,
Yang ada adalah cerita….

Berkisah ku tentang balada anak manusia
Yang tak kunjung siap meninggalkan mimpinya,
Menuju tikungan terakhir….
Menuju kekasihnya….

Changi – 11 Juni 2013 10:28 malam
Menanti Shanghai tiba

20130611-222939.jpg

INDIAN YANG MENERAWANG JAUH ITU

Di salah satu pencarian ke dalamku aku melihat seorang Indian berdiri di tanduk bukit dan menerawang jauh ke Padang rumput yang meluas dihuni oleh bison-bison yang tenang dan damai. Tidak bisa kuras akan apa yang sedang dia pikirkan, hanya menerawang jauh seperti mungkin…. Meragukan kelangsungan hidup dan kelangsungan bangsanya yang makin terdesak oleh sekelompok kulit pucat yang dengan tanpa belas-kasih merebut sepetak demi sepetak tanah ulayat yang mereka rawan dengan cinta dan kedamaian.

Apakah gerangan yang dapat dia lakukan sebagai anak muda yang telah dihina harga dirinya oleh penjajah berkedok modernisasi?

Apakah harus diam melihat bison makin terpojok dan akhirnya tinggal jadi pajangan di museum masa depan? Dan membiarkan serigala melolong lalu hilang dalam gelap lalu mati kehilangan semangat berkelana dan berburunya? Rajawali kehilangan rentang sayapnya dihajar asap kereta api? Cerpelai merana, kuda-kuda meringkik galau dan alam menangis…

Angin membelai rambut sang Indian muda. Matanya dirimbang air mata, sebentar lagi terjatuh membasahi pipi dan dagunya mengaliri leher jenjang dan mengering lagi diserap Jiwa Manitou yang Agung.

Telinganya menangkap kembali sebuah bisikan seorang dara yang baru kemarin memberinya senyuman. Bahwa perjuangan ini tak mungkin tanpa akhir. Mimpi ini harus diwujudkan. Semua kebimbangan harus diakhiri. Tiada yang boleh menghentikan lari jaman tapi tak ada yang mampu menggeser keteguhan jiwa….

Harus ada yang diterima sebagai tamu masa namun Jiwa Renta tetap harus jadi tuan rumahnya.

Singapore – Juni 9, 2013
11:57pm

20130610-000628.jpg

KUCING MELAHIRKAN

??????????

Hari ini aku makan di Sate Wahab yang berlokasi di sebelah prapatan Sinta, Tangerang. Rasanya lumayan enak walau tak seenak beberapa tahun lalu ketika aku makan di sana bersama Eka. Bukan karena dengan siapa tapi lebih karena kondisi badanku sedang drop karena flu sehingga lidah tak mampu bekerja optimal merasai sate yang terkenal enaknya itu.

Setelah makan motor mengarah ke utara mau muter lagi ke kantor temanku. Belum mencapai 5 meter eh kulihat kucing warna hitam yang menurutku posisinya aneh. Tak mungkin seekor kucing membersihkan badan di badan jalan yang sangat ramai. Maka aku minta Lela untuk memberhentikan motor lalu aku turun.

Kucing melahirkan!!!

Duh Gusti, hatiku trenyuh tapi aku – jujur – agak jijik karena kucingnya kurap dan yang lebih bikin aku nggak tega adalah anak kucing sudah keluar satu dan emak kucing sedang membersihkan badannya, lalu keluar ari-arinya.

Lela meneriakkan saran “Miss, minta tolong bapak itu aja…!”

Aku segera memanggil tukang parkir Sate Wahab yang dengan segera mendekat. Seorang bapak-bapak menjewer kuping emak kucing untuk naik ke trotoar. Anaknya terseret… Maafkan aku, kucing-kucing…

Lalu aku minta mereka membawa kardus bekaas jika ada.

Seorang bapak membawa kardus bekas kemasan minuman Aqua. Lalu seorang lagi membawa selembar kertas koran dan memintaku menyorongkan bayi kucing dan ari-ari ke dalam kardus yang sudah ditempati oleh emak kucing.

Setelah keduanya masuk kardus, aku minta bapak-bapak itu menaikkan kardus berisi kucing-kucing itu ke bawah arcade sebelah kanan Sate Wahab karena hujan mulai menderas.

“Sehat ya, Mak, Nak…” kataku pada kucing-kucing itu.

“Makasih ya, Pak…” kataku pada bapak-bapak yang masih ada di situ.

Lalu aku dan Lela melanjutkan perjalanan.

Hatiku masih ternyuh. Masih kuingat sebuah mobil yang dengan sengaja mau menabrak kami (aku dan kucing), si pengemudi sambil melotot-lototkan matanya. Mungkin dia memberikan kode padaku untuk segera minggir. Aku tak tahu, jika aku tak di situ menjaga kucing-kucing itu, pengemudi itu pasti sudah melindasnya karena memang si kucing berbaring lemah tak berdaya di bekas cerukan jalan yang seperti bekas lindasan ban besar.

Aku berharap makin banyak orang yang peduli pada hewan yang ada di sekitarnya entah itu kucing, anjing, kelinci, dll….

Untuk kucing-kucing yang tadi kutemui dan kucing-kucing lain: semoga kalian bahagia dan sejahtera, sayang…

Ruko Liga Mas (kantor Lela); 4:55 sore

Foto adalah Sicily alias Ucil yang sudah tak terlihat lama dari rumahku karena (mungkin) sedang melahirkan

LELAKI, MENGAPA KAU LECEHKAN WANITA?

CRYING

Pelecehan seksual terjadi seperti orang meludah di negeriku

Baru-baru ini bocah RI dari Jakarta Timur meninggal karena demam tinggi setelah kemudian ditemukan infeksi karena luka dalam vagina hingga bagian dalam kewanitaannya. Kemudian baru sore ini kudengar seorang anak perempuan usia 4 tahun dilecehkan sejak lama oleh tetangga dan baru mengaku. Dan belum lama ini juga seorang wanita usi 23 tahun diperkosa secara brutal beramai-ramai di sebuah bis di India.

Lelaki…

Wahai, kaum lelaki

Di mana tanggung-jawabmu sebagai pelindung wanita dan anak-anak?

Sungguh sakit hati dan jiwaku

Menemukan tidak sedikit penyakit yang dialami oleh masyarakat

Apa gerangan yang membuat mereka begitu brutal menyalurkan nafsu amarah mereka?

Karena sang wanita melawan ketika akn diperkosa maka mereka makin beringas?

Bagaimana jika menurut? Apakah mereka tidak beringas?

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali menyeru pada wanita.

Lindungi dirimu

Lindungi anak-anak perempuanmu

Karena banyak lelaki tak bisa lagi melindungi kita.

9 Januari 2013 – 5:32 sore

Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadane

BUNDA JULIE

bunda julie

BUNDA JULIE

Aku mengenalnya di rumah lama

Multiply

Sekarang kami tetangga desa

Beliau di Blogspot

Saya di WordPress

Tak mengapa

Kami masih bisa saling menyapa

Walau tak bisa senyaman dulu kala…

Bunda Julie

Atau Tante Julie

Seorang ibu yang bersahaja

Dengan pengalaman hidup luar biasa

Menceritakan kepahitan dan manisnya

Bagai lairan sungai menuju segara

Terima kasih atas indahnya berbagi, Bunda…

Kukirim surel menyapanya

Menanyakan informasi yang kubutuhkan saat ini

Dan dia menyepaku dengan kehangatan seorang ibu

Belaiu sedang sakit

Parah

Dan dirawat

Dengan bantuan kawan-kawannya yang setia…

Sungguh

Kau seorang ibu yang baik hati

Masih tak kumengerti bagaimana lelaki itu meninggalkanmu

Justru di hari tua

Oh, mungkin dia mendapatkan yang muda dan masih bersinar

Tapi tahukah dia?

Nyala api abadi Bunda Julie tak pernah padam.

Selalu menyinari sekitar

Dua anak lelakinya yang selalu siap melindunginya

Keluarga besarnya yang selalu menemaninya

Sahabat di dunia nyata dan maya yang selalu menyayanginya…

Semangat ya, Bunda…

Tuhan menyayangimu

Memberikanmu kehidupan yang tak terbayangkan beratnya di kepalaku

Tapi sungguh membuatku terpesona dengan kekuatanmu.

Salamku, Bunda Julie…

Selalu sayangku padamu…

29 Desember 2012 – 2:38 siang

Rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane

RESOLUSI 2013

WP_000054

Kiamat yang seperti dipikirkan berupa huru-hara tak berjalan sesuai ramalan maka resolusi menjadi hal yang cukup menarik untuk menyemai harapan.

Tahun 2013 adalah tahun yang penuh energi positif dimanapun aku berada. Cinta akan tiba dalam bentuk yang paling sesuai dengan kehidupanku saat ini. Keluarga dan sabahat makin memancarkan sinar kasihnya ke penjuru arah tujuanku. Kehidupan cita-citaku juga menjadi lentera bagiku dan orang-orang di sekitarku.

Tak ada yang tak mungkin dengan kekuatan positif yang selalu dipancarkan oleh jiwa. Kulakukan yang terbaik; jika bermanfaat bagi banyak manusia, kurela.

Oh Hidupku, ijabahlah doaku…

28 Desember 2012 – 9:09

Once Upon A Time When I Broke His Heart

WP_000016

24 hours
And he didn’t come home
Calls were shouted
“Man, please come to me. I miss you a lot.”
But no sign…
He didn’t think I was important.
He broke my heart.
Really.

36 hours
He gave me a ring.
“I’m coming. Do prepare, I miss home already. Don’t let me down.”
He knocked on the door.
I went out.
But three musketeers were before him.
They blocked his way home.
Those three delicate creatures were kinda telling me and him that we could not be together that day.

The light in his eyes faded
Like an electricity black out.
He scolded at me in his silence…
Then walked away.
Again he looked back staring at me full of hatred…
Then walked away.

That was just yesterday when I broke his heart.

This poem is for Bob Kucing that could not enter my house because of three cats sitting at the terrace, wanting to be fed by me. Oh, Bob please hold your jealousy. You are always my number one cat. The rest are just orphans needing our help. I love you, Bob Kucing… 🙂

December 25, 2012 – 11:18pm
My small hut at Cisadane river bank

Fyi, Bob went home then and ate with mounting jealousy though he he he…

SELAMAT HARI IBU

SELAMAT HARI IBU

IBUKU, IBUMU DAN IBU BUMI

 

 

22 Desember adalah Hari Ibu bagi Indonesia. Bagi yang mengingat dan terbawa oleh syahdunya tema hari ibu, mereka mengucapkan “Selamat Hari Ibu” kepada ibu baik langsung, melalui percakapan telepon, sms, BBM, status BB, status FB dan melalui tulisan baik di media massa maupun di blog pribadi semacam ini.

Ibu adalah manusia istimewa. Apakah karena melahirkan anak? Itu hanya salah satu alasan karena alasan melahirkan tidak otomatis menjadikan seorang wanita punya kualitas ibu. Ibu adalah seorang  perempuan yang memiliki sifat mengayomi, menyayangi dan yang lebih dahsyat lagi kualitas ibu adalah menerima dengan penuh keikhlashan atas apa yang dialami dalam hidup ini. Jadi bagi saya kata kunci ibu adalah menerima. Karenanya saya juga mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada Ibu Bumi.

Ibu Bumi adalah simbol terbesar yang pernah kutemukan dalam hidupku. Di dalam frasa Ibu Bumi aku menemukan keikhlashan luar biasa. Ibu Bumi adalah wadah berukuran tak hingga dalam menampung keluh-kesah anak-anaknya yang tak pelak terdiri dari segala macam manusia yang renta dengan perjanjian jiwa yang tak kunjung habis kontraknya. Ibu Bumi senantiasa bersabar, menyuburkan cinta mengikuti kenakalan kanak-kanak dengan pandangan sayu penuh iba dan senyum tulus bersemburat pilu tapi tiada kejam.

Jika Ibu Bumi tak miliki wlas asih, anak-anak manusia ini akan berhamburan terbuang entah kemana. Tak ada tempat kembali, hanya bisa menari-nari mengambang di alam yang tak berdefinisi. Tanpa Ibu Bumi, akankah kita terlahir dalam keindahan tak bertepi? Tanpa Ibu Bumi, akankah kutemukan jati diri?

Selamat Hari Ibu, ibuku yang melahirkanku dan menjadi kawan dalam suka dan masalahku… Selamat Hari Ibu bagi ibumu yang kau puja sebagai dewi kehidupan dan kepada Ibu Bumi yang telah menjadi ibu dari segala ibu…

 

 

22 Desember 2012– 12:50 siang

Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadaneibu bumi

KUPINTA DOAMU

 

DOA

 

Sahabat-sahabatku,

Saya minta doanya ya

Senin tanggal 19 November ini saya akan menghadiri wawancara masuk kerja.

Kerja di sebuah perusahaan yang pernah saya mimpikan dengan malu-malu.

Saya akan melakukan yang terbaik karena tak ada alasan untuk tidak melakukan yang terbaik

Dalam segala hal.

 

Sahabat-sahabatku,

Saya minta doanya ya

Dengan doamu yang tulus akan makin besar energy-ku untuk berbuat yang terbaik

Semoga yang kulakukan memberikan manfaat untuk banyak orang.

Amin…

 

Pintaku ini adalah ketulusanku

Sebagai bagian dari apa yang bisa kusampaikan,

Boleh kuungkapkan,

Berani kuteriakkan,

Itulah yang pantas kuaungkapkan…

 

Bagai buah apel

Yang digigit untuk sekedar membedakannya dari buah cherry.

Maka kali ini aku menjadi apel yang tergigit tapi demi membuktikan bahwa aku tak beracun.

 

Maka dengan ketulusanku, akan kulakukan yang terbaik…

Doamu…

Menjadi pendampingku…

 

Tulus sayangku padamu semua… Sahabatku.

 

 

Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadane – 16 November 16, 2012 – 11:16 malam

SUMPAH PEMUDA ???

Aku tak merasakan semangat Sumpah Pemuda tahun ini.

Seperti kehilangan api yang seharusnya meretih abadi. Bahkan bunyinya pun seperti tinggal tulisan kabur di tembok penuh coretan graffiti.

Kutilik lagi hatiku. Layu. Tak ada warna merah di sana. Putih pun tak kutemukan. Yang ada kelabu, pembusukan sistematis. aku tak sudi begini. Harus kuperangi kelabu hatiku. Harus kugubah lagu menjadikannya tumbuh kembali: merah, putih dan segala warna yang hidup.

Harus kuraih lagi
Harus kucipta jalan perjalananku
Bukan kau atau kau
Akulah pencipta hidupku!

Teks berikut diunduh dari wikipedia
Sumpah Pemuda versi orisinal

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda di rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane

28 Oktober 2012 – 4:03 sore

RUMAH BARU, RUMAH LAMA

RUMAH BARU, RUMAH LAMA

akhirnya hari ini http://rikejokanan.multiply.com berhasil saya tarik ke https://rikejokanan.wordpress.com dengan bantuan Mas Febriansyah Hidayat yang telah share metodanya di http://hidayat.febiansyah.name/2012/08/07/import-wordpress-rss-backup/ dan dengan sangat baik hati membantu saya mengunduh “perabot-perabot” di rumah lama saya ke mari. matur nuwun nggih, Mas…

saya belum begitu merasa homey di WP tapi setidaknya saya sudah punya rumah baru dengan berhasil membawa kenangan dari rumah lama saya yang sangat hangat dan lapang.

duh gusti, dalem nyuwun pangapunten menawi dalem ngremuki manah kawula piyambak… rasanya kok hati saya ini semacam mengalami patah hati skala sedang ketika menyadari benar-benar bahwa Multiply telah mendepak saya dari hangatnya pelukannya.

sungguh semoga rumah keduaku ini bertahan lama dengan bangunan yang lebih kokoh demi keamanan dan lebih hangat demi kenyamanan. dan, kupinta tetangga-tetangga yang ramah dan tulus… amin…

WP, please welcome me… MP, good bye…

ditulis di rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane
Idul Adha, 26 Oktober 2012 – 11:22 pagi

HARI INI HARI BATIK

Tanggal 2 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Batik oleh pemerintah setelah UNESCO mengukuhkan batik kita sebagai kekayaan dunia dan seyogyanya kita menyokongnya dengan suka cita. Masih teringat bagaimana hingar-bingar pecinta batik kita berjuang dengan cara mereka sendiri ketika Malaysia mengklaim batik sebagai milik mereka.

Sekilas tentang batik
Batik adalah metode pembentukan motif pada media tertentu – awalnya hanya kain mori lalu berkembang hingga sekarang batik dapat diterapkan pada kulit, kayu, dll – dengan cara menutup bagian tertentu dengan lilin (malam) sebelum proses pewarnaan dilakukan. Awalnya batik memiliki motif tertentu yang dihubungkan dengan proses kontemplasi seniman batik pada jamannya yang biasanya menciptakan karyanya untuk kebutuhan kraton mengingat dulunya batik hanya bisa dijangkau oleh kaum ningrat. Maka terciptalah motif-motif batik seperti Wahyu Tumurun, Kawung, Klithik, Sido Mukti, Parang dengan berbagai variannya, Mega Mendung dll. Semua yang saya sebutkan adalah “batik pakem”
Di negeri kita ini hampir semua daerah utama memiliki batik dengan ciri khas tersendiri walaupun secara umum batik dibagi 2 kelompok besar: batik pesisiran (daerah pinggir laut) dan batik Jogja-Solo (pedalaman). Dua kelompok besar ini membuat khazanah batik Indonesia menjadi kaya luar biasa. Batik pesisiran biasanya menggunakan warna-warna terang dan aplikasi motif yang lebih ringan dan ceria serta menggambarkan objek secara gamblang dan nyata sedangkan batik pedalaman lebih didominasi oleh lebih banyak warna gelap yang lazim disebut sogan (coklat, hitam, kelabu) dan penggambaran objeknya lebih abstrak dan penuh simbol.

Batik Cirebonan adalah contoh batik pesisiran yang paling memasyarakat saat ini. Dengan warna yang gonjrengnya batik Cirebonan mampu menyelinap ke dalam hati para penggemar instan karena memungkinkan mereka untuk bergaya dengan batik secara lebih mudah. Ciri khas batik Cirebonan juga terletak pada objeknya: tanaman, burung-burung, langit berarak, matahari, dll dan satu lagi yaitu “tumpal”. Tumpal adalah aplikasi motif penyelaras di ujung kanan atau kiri kain yang biasanya diletakkan di depan ketika batik dipakai sebagai sarung.

Batik pedalaman atau Jogja-Solo lebih banyak bermain dengan simbol dan pemaparan ide secara abstrak dan mengedepankan kesan sakral dalam setiap motif pakemnya. Misalnya “jarik” Sido Mukti adalah ekspresi doa kebahagiaan, kemakmuran dan kelanggengan desainernya sehingga dipakailah batik ini sebagai salah satu pakaian pengantin. Sebaliknya batik bermotif Parang tidak direkomendasikan dikenakan dalam prosesi itu.

Proses dalam membatik
– memilih media
– memilih motif
– menggambar motif (mola)
– membatik (menutup bagian dengan lilin sesuai pola)
– mewarnai (nyelup)
– membuang lilin (nglorot) dengan cara merebus kain yang telah dicelup
– mengeringkan
– membersihkan batik dari sisa-sisa lilin yang menempel

Tidak terlalu sulit bukan? Tidak ada salahnya jika kita mau mencoba. Kalau ada waktu, silakan kunjungi Musium Tekstil di Jl. Karel Sasuit Tubun, Jakarta yang mengadakan kursus batik secara reguler. Anda akan bertemu dengan para seniman dan instruktur yang dengan suka rela berbagi ilmu, pengalaman dan kecintaan budaya.

Banyak istilah dalam dunia perbatikan yang mungkin tidak terlalu dikenal secara luas misalnya isen, semen, nitik, nyolet, dll. Namun itu bukan hal yang urgent bagi kita untuk mengetahuinya. Untuk saat ini mari kita mencintai dulu batik kita dengan cara memakainya baik setiap hari maupun pada acara-acara tertentu saja.

Kiranya tulisanku di Hari Batik ini cukuplah untuk memberikan penghargaan pada batik dan pelestarinya serta membagi sedikit pengetahuan bermanfaat.

Selamat Hari Batik
Mari pakai batik paling tidak sekali seumur hidup 🙂

Otw Blok M di Ekspres MC2636 – 7:45 pagi

JALAN LURUS INI

Berapa ratus kali dalam hidupku terderas ayat berisi Jalan Lurus ini? Shirotol mustaqim adalah konsep yang selama ini telah mengakar sebagai sebuah jalan yang sangat sulit dan kompleks membuat hidupku sangat berat. Jalan lurus adalah jalan yang jika tak ditempuh oleh orang yang benar maka akan tergelincir di jurang bernama neraka. Jalan yang terbentang setipis rambut dibelah tujuh dan setajam pisau berlian. Tak terbayangkan kecuali menimbulkan ketakutan.

Semakin saya telaah maka hasilnya hanya ketakutan dan penjauhan diri dari persyaratan-persyaratan demi keselamatan meniti jalan lurus itu. Hingga saya berjumpa dengan seseorang akhir pekan lalu.

Seorang wanita yang jika dia tak keberatan kuanggap sebagai salah satu dari guru-guru kehidupanku. Wanita sederhana yang jika orang bicara padanya maka meluncurlah deretan peluru-peluru penuh hikmah dari mulutnya.

Salah satunya adalah pemahamanku tentang Jalan Lurus.

“Jalan lurus itu ya jalan sederhana. Jalan yang nggak membingungkan kita. Lurus saja = sederhana saja. Jalan ini hanya perlu satu kemauan yaitu menjalani segalanya secara sederhana. Sederhana itu ya sederhana, simple nggak usah pusing-pusing. Sederhana dalam berpikir, menyederhanakan sama dengan menyempurnakan. Kau sederhanakan egomu maka sempurnalah pikirmu.”

Luar biasa!

Menyederhanakan.
Sedemikian rumitnya pikiranku dan menyederhanakannya adalah sebuah urgensi pribadi. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku menyederhanakan pikiranku. Hanya aku dan aku saja.

Sederhana adalah kembali pada satu komponen terkecil yang sekecil kemampuan terkecilku yang kubutuhkan untuk memahami bahwa “segalanya hanya berdasarkan kesepakatan” maka jika tidak tercapai kesepakatan “jangan marah, diamlah dan nikmatilah hidupmu setiap detiknya”.

Hatiku tersentak dan tersentuh. Musik latar film masa kecilku “Little House in the Prairie” mengiringiku meneguhkan hati untuk menyederhanakan pikiran, tidak memperpanjangnya dengan emosi, menyempurnakannya dengan kemanusiaan. Sungguh kesederhanaan yang tak terlampaui rumitnya.

Jalan lurus adalah jalan sederhana.
Sesederhana keinginanku untuk tak peduli dengan apapun yang berbeda. Sesederhana kemauanku untuk berbahagia setiap saat. Sesederhana hari-hariku yang dimulai dengan ungkapan syukur dan ditutup dengan ungkapan syukur.

Jalan lurusku bukan jalan di mana sujud-sujud panjang menghitamkan dahi para pendoa, bukan jalan di mana dentingan koin emas merisaukan pada pensedekah, bukan jalan di mana rasa lapar dan dahaga ditaklukkan oleh para pelaku puasa. Jalan lurusku adalah sederhana saja: jangan marah dan maafkanlah…

Rumah kecil di bantaran Kali Cisadane
30September2012

Bob Is Always My Baby

Bob, a cat that I have adopted for the past four years, has been my dear. I consider him my dear son that I will take care of as long as he lives.

Now I am away and he is “home”. What I meant by home is that my maid is home and available for him for food and shelter.

I probably do not trust my maid 100% but I really don’t have alternative of what I should do to ensure that Bob is well fed and under shelter safely. I want the best for him when I am around as well as in absence of mine. How I love you, Bob.

I am watching “Rise of The Planet of the Apes” and my mind goes from where I am – Bogor – to Tangerang, Bob’s and my home. How human beings do so much for themselves by defying the life of other creatures. They manipulate other creatures’ life for the benefits of humans’ life. And, they never care that the other creatures actually have their right to survive the way each creature should do. A limit to protect themselves have evolved into human being’s greed to claim that the universe and what’s in it are theirs. By claiming what’s not theirs, human beings take control of every one with unlimited wish.

Whatever it is in my thought and feeling, I miss my cat, my adopted son. I love you, baby. Be strong and healthy. I am here with a heart full of love reaching you…

Bogor – September 29, 2012

RATU KEJAM ITU

Berkelana dari hati ke hati
Menilik mana hati yang sepi
Hati sepi bertahta kilau dunia
Maka bergeraklah dia
Membuai
Membujuk
Memuji
Mengukur kelemahannya
Merontokkan kilauannya
Satu per satu
Dan menendang semua sahabat
Mengusirinya
Demi duduk sendiri

Sungguh hati kosong itu
Makin kosong
Dijajah seorang ratu kejam
Yang bertahta di hati yang bukan miliknya dan
Berkuasa…

Untuk seorang teman yang agak aneh cara bertemannya
Cititel Midvalley – 24 September 2012

EMOTICON

EMOTICON

“Kalau 🙂 artinya apa sih, Ke?”
“Kalau :-* artinya apa sih, Ke?”
Paling tidak itu dua pertanyaan yang pernah membuat saya merasa bermanfaat untuk menerjemahkan emoticon untuk seorang mantan pacar saya yang pasti sekarang sudah mahir ber-emoticon karena tinggal pakai simbol di Blackberry messenger atau Whatsapp dia. Waktu itu saya merasa agak geli juga kok sekian lama pakai handphone nggak tahu “smiley” – emoticon disebut juga smiley.

Jaman segitu smiley lebih dikenal oleh para penulis pesan singkat (sms). Saking populernya smiley sampai-sampai sebuah majalah terbitan Lia – C’nS – mengulas topik ini dan dari situlah saya mengenal paling tidak 30 jenis simbol “emosi” untuk membantu saya mengekspresikan ide dan perasaan secara efektif dan efisien dalam sms saya. Terbukti efektif karena nggak perlu banyak ngetik yang dikhawatirkan mempercepat pembesaran jari jempol namun kurang terbukti efisiensinya karena komunikan di seberang sana belum tentu memahami emoticon kita; walhasil kadang saya harus mengulang pesan saya. Ya, kasusnya sama lah dengan pertanyaan yang saya terima dari mantan ha ha ha

Kenapa emoticon menjadi penting buat sebagian orang? Karena bahasa tulisan tak sering menyediakan latar emosi sehingga bisa diartikan sesuai suasana hati si pembaca dan bukan suasana hati penyampai pesan. Pernah saya menangkap kesan bias ketika seseorang mengisahkan email seseorang.

“… Udah gitu bahasa Enggrisnya kacau gitu. Kalau nggak bisa mbok yao nggak usah nulis…”

Jelas suasana hati pembaca kurang stabil karena seharusnya kemampuan berbahasa Enggris di Indonesia memang kurang merata kalau dibanding di Malaysia atau Singapura. Plus, inti dari tujuan berbahasa bukanlah berbahasa secara baik dan benar saja melainkan untuk berkomunikasi alias menyampaikan ide dan perasaan. Walau tata bahasamu amburadul dan diksimu acak-adut tapi pesanmu tersampaikan, ya namanya masih bagus. Nah, emoticon juga begitu… Kalau emoticon lucu tapi sebenernya bukan buat mewakili kelucuan melainkan kemarahan dan kemarahan orang tersebut tidak tersampaikan ya percuma saja lantaran komunikasi tidak berlaku.

Kembola kepada fungsi emoticon… Sebagai simbol perasaan, emoticon bisa ditambahkan jika seseorang tidak yakin kata-kata yang dipakainya cukup mewakili ide dan rasanya. Contoh:

“Hoi, lu kate ane anak kemaren sore? Lu kali monyet baru lahir… =))”

Nah tanda =)) berarti tertawa terbahak-bahak menandakan. Orang tersebut (semoga) bercanda. Contoh lain:

“Duh gusti… :-}”

Simbol :-} artinya sedang malu.

Ok, emoticon membantu kita mengkomunikasikan rasa dengan lebih mudah to? Ayo monggo dicoba pakai emoticon untuk mengungkap rasa dijamin isi email kalian dipenuhi endhas ngglundhung (kepala yang menggelinding, Bahasa Jawa)…

Di angkot menuju Gancit – ngantor
September 13, 2012

BOB

BOBPlease introduce my cat named Bob Kucing..
He is almost 5 years old and might have a lot of offsprings around my neighborhood.
He eats fish as main dish and cat bites for snack.
He spoils me with his purr and manipulates me with his sickness. Hey, he has space for fleas that I work on in my spare time.

He is an adorable cat at least for me. Have a look at his sleep…

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

JIKA TEMANKU PELANGI

JIKA TEMANKU PELANGI

Ketika seseorang membelimu

Dengan seporsi makanan enak dan segelas minuman segar

Dengan selembar voucher belanja

Dengan voucher handphone untuk tetap bisa bicara

Dengan ongkos taksi supaya kau bisa pulang malam

Apakah kau serta-merta menerimanya?

Aku tidak!

Aku tidak menerimanya.

Aku hanya menerima

Orang-orang

Yang membeliku dengan warna pelangi.

Pelangi di jiwaku:

Merahku memberanikan

Jinggaku menguatkan

Kuningku memenangkan

Hijauku menyegarkan

Biruku menenangkan

Nilaku menghargai

Unguku menghormati

Terima kasiku pada mereka

Kutinggalkan pembeli teman untuk kembali pada pelukis pelangi jiwaku.

Rumah kecil di tepi Kali Cisadane

8 Agustus 2012 – 4:26 sore

Foto dipinjam dari http://www.perutgendut.com/media/read/Pelangi-didalam-sebuah-kue/443

RINDU

RINDU

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan rindu?

Ikatan antar jiwa kah?

Apa yang menyebabkan setiap jiwa terikat pada jiwa yang lain?

Adakah zat kimiawi yang menyebabkannya?

Atau inikah yang dinamakan spiritual?

Alangkah rumitnya rindu.

Rindu Bob Kucing

Phnom Penh, 17 Juli 2012 – 7:47 malam

Foto dipinjam dari http://www.fanpop.com/spots/maria-050801090907/images/27986990/title/miss-already-photo

SENSITIVITY IN ME

SENSITIVITY IN ME

I feel it gets stronger

The sensitivity in me

How I feel hurt to see animals slaughtered for fun, for consumption, for pride

How I feel hurt to see those creatures without defense accept whatever humans want them to be.

Is it after I dig the love between my Bob cat and me?

Or, is it just because it is time when I unseal the hidden key?

Or, is it just an accidental sensitivity in me?

Just now I mistakenly switched on TV to a channel showing a tortoise slaughtered alive! The guilt lingers and tortures my sleeping time. No sleep then. Then it reminds me to topeng monyet that comes to exploitation rather than animal training. Also it drives me crazier when I remember how Kebun Binatang Surabaya animal “collections” get weaker and weaker because the care takers do not care about the animals. They said they lack of money? Then just send those animals to other zoos rather than selfishly claim the poor responsibility of national asset. God damn animals are not national! It is global asset! Once they are distinct, the mankind should mourn!

I go too far… I am being sensitive. I am missing a thing, Bob Kucing. He’s been my savior in my bad times; he’s been alarm of consciousness of oneness. It is too far. I am not supposed to talk about sensitivity. It is merely about my dear cat… Is it?

HHIpoh – December 23, 2011 – 9:00pm

KEMELEKATAN

KEMELEKATAN

(obrolan ringan tentang Bob kucing)

Beberapa orang merasa bahwa cintanya pada dunia tidak sebesar cintanya pada Tuhan. Mereka mengklaim diri bahwa mereka mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Saya meragukan diri saya dalam hal tersebut karena nyatanya memang tidak demikian yang saya alami.

Saya masih belum menikah tapi saya punya kemelekatan yang tak kalah lekat dibanding dengan kemelekatan antara dua pasangan atau anak dan ibunya atau anak dan bapaknya. Saya sangat lekat dengan kucing saya yang saya namai Bob. Kata kuncinya adalah sangat. Sangat adalah kata keterangan yang membuat kata sifat yang mengikutinya berlipat. Kemelekatan saya pada kucing saya berlipat beberapa kali dibanding dengan kemelekatan kepada kucing lain atau hal lain, tentunya kecuali orang-orang yang memang mendapatkan tempat istimewa yang sama dengan si Bob Kucing ini.

Saya tidak menyesal memiliki Bob. Tetapi kata kunci memiliki itulah yang membuat saya agak merasa bersalah. Seharusnya saya tidak pernah mendeklarasikan diri bahwa saya adalah pemilik kucing yang buat saya bagai guardian angel ini. Dengan memiliki Bob saya terbukti tidak siap meninggalkan dia atau ditinggalkan dia. Tiap saya akan dinas ke luar kota, saya selalu berharap saya tidak perlu menginap sehingga tidak perlu meninggalkan dia sendiri atau jikalau sore hingga petang sahabat saya Nining dengan telaten dan sabar menemani piaraan saya itu maka malamnya si meong mesti bobo di luar rumah dan menurut saya itu kurang menyenangkan.

Bob Kucing ini kucing lokal sehingga ada sementara orang yang menganggap saya berlebihan. Sebagian orang Indonesia menganggap bahwa hanya kucing ras-lah yang mesti disayangi dengan cara special seperti: membelikan makanan khusus feline (kucing) dan vitamin segala ubarampen (perlengkapan) kucing, mengobatkannya seperti manusia jika sakit, membiarkannya menikmati rumah seperti anak-anak atau ponakan-ponakan mengharu-biru rumah, menjaganya selayaknya menjaga diri kita… Tidak mengapa karena pendapat boleh berbeda.

Saya tidak sedikitpun merisaukan diri saya kecuali satu: bahwa saya dan Bob mulai saling terikat. Akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan saya baik secara fisik maupun batin. Kalau saya di rumah dia ngikut kemana pun saya bergerak bahkan kalau saya mandi dia nggeluntung (berbaring telungkup, Bahasa Jawa) di keset depan kamar mandi. Kalau saya sedang bekerja malam, dia nongkrong diatas tumpukan kertas atau kalau sedang kesal dia nangkring diatas laptop saya, kadang dia menggoda melompat ke atas TV dan menjatuhkan antene sambil mengeong manja. Kalau saya tidur dia biasanya akan melompat keatas selimut tebal saya: dia tidak pernah mau masuk ke bawah selimut dalam waktu lama karena mungkin merasa panas. Dan, masih banyak lagi kegiatan dia yang menunjukkan keakraban dan kenyamanan kami bersama.

Ada satu lagi: dia mulai bisa merasa tidak suka kalau saya tugas keluar kota dan menginap. Sehari sebelum saya berangkat dia sudah ngroweng (rewel, Bahasa Jawa), nempel-nempel ke kaki atau badan saya, meang-meong kesana-kemari, pura-pura sesak napas dan yang biasanya Cuma mau digendong dalam hitungan 3 – 5 detik jadi bertahan sampai satu menit dan sambil mendekur-dekur pula.

Kemelekatan pada kucing saya sungguh kadang membuat saya bertanya-tanya: pantas saja ada ibu yang akhirnya malas bekerja meninggalkan rumah lha wong ada yang nggondheli di rumah dan mengurus anak tentunya menyebabkan stress yang lebih rendah daripada harus berinteraksi dengan macetnya jalanan dan kompetisi dalam karir (bisa saja saya salah tapi paling tidak inilah kesimpulan saya melihat para ibu yang kadang nggak masuk kerja karena “nggak tega ninggal anak”).

Kemelekatan ini harus saya atasi karena kalau tidak membuat saya tidak produktif dan cenderung menuruti kemalasan. Tentunya Bob Kucing tahu bahwa dia disayang sehingga dia punya strategi untuk “tidak ditinggalkan” atau “tidak diabaikan” karena pa
sti kalau saya pergi orang lainlah yang mengurus dia yang notabene tidak se-rempong saya. Saya selalu memastikan bahwa air minum dia baru dan dari gallon atau direbus dulu (kadang dioplos dengan air hangat), vitamin juga selalu saya takar, makanan saya pastikan dihabiskan sesuai porsi, kaki-kaki saya lap dan dubur & alat vital saya lap, telinga dan gigi saya periksa, hidung saya bersihkan, cek bulu dan ekor dari kutu dan serangga, sering kali juga saya ajak ngobrol sekaligus saya ciumin hidungnya dan adu dahi ha ha ha…

Kemelekatan itu tidak boleh terjadi walau saya sangat menyayangi makhluk yang oleh tetangga sebelah saya dibiling “Halah, cuma kucing aja segitunya”. Bodo ammmmaaaat, kata saya tak kalah bangga ha ha ha…

Begitulah kemelekatan itu begitu besar sehingga pernah saya memimpikan Bob Kucing mati dan paginya saya menangis dan menggendong-gendong dia dan saya ciumi.

“Kamu jangan mati dulu ya, Bob… Paling tidak kau hidup 12 tahun bersamaku; tapi kau boleh mati sebelum aku, biar kau tetap ada yang mengurus…”

Kucingku tadi malam menemaniku mencuci. Dia meringkuk di atas keset kamar mandi sambil mengikuti gerakan saya mencuci. Sesekali dia meang-meong tiap saya panggil namanya. Pagi ini dia memanggil saya, minta keluar. Untungnya saya jug sedang ada acara keluar rumah, jadi kami berangkat bersama.

“Nanti malam pulang jam 7 ya, Bob…”

“Meooooong….” Entah apa artinya, yang pasti rasa sayang kami ada dan saya belajar membuang kemelekatan.

Lia Taruna – Tangerang – 4:12 sore

Kenangan Manis Bernama Masa Kanak-Kanak

Kenangan Manis Bernama Masa Kanak-Kanak

Dalam keadaan setengah hidup setengah tidak mati begini rasanya sangat hidup setiap saat saya terbang kembali ke masa usia sekolah dasar. Tak ada kategori jahil atau terang saat itu. Semua saya lakukan penuh keikhlasan.

Dulu saya suka sekali main sepeda sampai ke daerah-daerah berjalan tanah dan berpagar hutan dan lembah. Sepeda saya mini warna merah, berkerangjang putih, sadelnya sudah somplak sehingga hanya tinggal plastik putih keras sehingga pantaat harus diangkat saat melewati daerah bergelombang atau terjal untuk menghindari sakit pantat ha ha ha…

Saya juga suka bermain masak-masakan di petak tanah kering di musim tembakau. Masih teringat saya seorang junior bernama Astutik yang kerap kami panggil Timbul karena bentuk mukanya yang bulat montok dan putih menjadi koki pasangan masak saya. Dengan dia saya membawa kaleng bekas minyak goreng cap Ikan Dorang untuk memasak sayur dan nasi bergantian, seikat bayam, pepaya muda, bumbu sayur menir, dan beras. Kami memasak berharap berbuka saat bedug dhuhur tiba tapi ternyata kami makan sebelum dhuhur tiba. Lalu kami saling memarahi karena batal puasa.

Saya suka mengumpulkan makanan sebelum berbuka. Ketika bedug Maghrib tiba, makanan itu tidak terjamah karena kekenyangan. Kolak, komot, cenil, gethuk, jambu biji, jeruk bali, dll tak termakan tanpa penyesalan.

Saya juga suka “mengganggu” Yu Yatini (asisten di keluarga kami) yang sedang membuat penganan untuk kami: kalau beliau sedang membuat nagasari atau lemet atau apapun yang berbungkus daun atau plastik atau kertas, maka saya membuat versi mininya; kalau beliau membuat kue semprit, saya membuat versi luar angkasanya; saat beliau membuat cake ban (karena bentuknya seperti ban), saya hanya bisa membantunya mencurahkan warna coklatnya lalu mengaduknya dengan lidi sehingga tercipta corak batik diantara adonan kuning yang sudah dimasukkan sebelumnya; kalau beliau sedang memarut kelapa, saya membantunya dan menyerahkan cikalan (daging kelapa) kecil lantaran saya takut jari saya keparut.

Saya suka sekali melewatkan liburan saya di kampung asal asisten keluarga kami. Saya bermain dengan keponakannya, Nining Catur Utami yang sering diledek “cekot” karena tangannya panjang sebelah akibat lapraktik dokter. Dialah sahabat saya sampai saat ini.

Saya gemar memanjat berbagai macam pohon kecuali pohon jenis palem termasuk pohon nyiur karena tidak memiliki dahan yang memungkinkan saya berpijak dengan mudah.

Saya suka nonton Acara Untuk Keluarga di TVRI yang tak jarang menyajikan cara membuat boneka dari kaos kaki, cara merangkai bunga Ikebana, cara membuat bunga kering, cara membuat batik jumputan, cara membuat bunga dari sedotan plastic, cara membuat patchwork, cara merajut, cara memanfaatkan kaleng bekas, dan berbagai macam ketrampilan yang tak jarang saya praktikkan tanpa arahan siapapun kecuali ingatan saya tentang arahan para ibu trampil yang kadang-kadang membawa serta anak-anak perampuannya saat syuting; dan saya iri karena anak-anak seusia saya tahu berbagai ketrampilan dan bisa masuk tivi ha ha ha…

Saya suka meminta bapak dan ibu saya menggambar bunga untuk saya. Ibu saya gemar menggambar bunga mawar yang terdiri dari mawar yang mekar sempurna, setengah mekar, kuncup, daun dan tangkai berdurinya. Bapak saya tidak pernah tidak menggambar bunga melati bergerombol dengan daunnya yang bulat-bulat. Saya tak bosan walaupun mereka mungkin bosan melihat saya tak bosan-bosan meminta mereka melakukan hal yang sama yang bagi mereka membosankan dan buang waktu saja.

Saya juga suka menabung uang-uang logam sepuluh dan lima rupiahan dalam cepuk (wadah plastic serupa mangkuk) sabun krim Wing’s yang sebenarnya bisa saya buka kapan saja tapi tetap saja saya lubangi tutup atasnya supaya saya “merasa” benar-benar nyelengi.

Saya gemar berenang di kali dekat stren (tanah lapang berumput yang diselingi pohon kelapa) walaupun saya hanya bisa naik punggung Yu Suminah Sugeng, kakak Kang Slamet – lelaki sabar yang tugasnya mendampingin bapak kami dan saat senggang momong adik lelaki saya.

Saya suka bertualang bersama teman-teman saya. Saya pernah menginap di rumah Dik Rosi (putra pak Kakandep) lalu pagi-pagi menyelinap keluar rumah berlagak menculik si pemilik rumah lalu menyanderanya di rumah yang lain (tempat tinggal Eyang Putri si anak tersebut ha ha ha). Saya, Dik Nana, Ana, Dik Rosi dan Lestari.

Saya suka pergi ke langgar (mushola) walaupun saya tidak punya mukena sendiri sampai saya usia SMP. Saya membawa jarik (kain batik panjang) dan peniti lalu membuat mukena darinya dibantu oleh teman-teman saya yang telah memiliki mukena sendiri-sendiri walaupun tidak baru: bisa lungsuran kakak atau ibunya. Fadilah, Fadhilun, Muslihatin, Endar adalah nama-nama yang menginspirasi religiusitas masa kecil saya. Saya belajar mengaji pada mereka.

Saya suka makan didih (darah ayam yang dibekukan) goreng. Padahal didih itu adalah bagian yang tak diinginkan, ditampung di mangkuk daun pisang saat ayam disembelih oleh Mbak Bayan lanang (laki-laki) lalu digoreng oleh Mbak Bayan wedok (perempuan) untuk dinikmati bersama. Mbak Bayan lanang dianggap tahu doa Islam dalam menyembelih ayam. Beliau rajin puasa dan sholat lima waktu. Beliau tahu kapan beliau akan meninggal dan mempersiapkan diri dengan berbaring di pembaringannya, memanggil anak-anaknya, menyuruh mereka tahlilan dan malam itu juga beliau meninggal. Setelah Mbak Bayan lanang meninggal saya tidak pernah makan didih lagi karena ayam yang akan dimasak disembelih oleh anak lelaki Mbak Bayan yaitu Pak Bayan dan beliau membuang darah ayam di lubang tanah. Aku dan anak-anak kecewa.

Hampir sama dengan Sherina dalam Petualangan Sherina ketika dia akan pindah ke kota lain, saya menangis diatas mobil los bak yang membawa saya ke terminal karena saya harus pindah ke kota lain. Saya meninggalkan sebuah rumah kayu jati pondasi batu dan semen, bertegel traso putih bersih, berhalaman depan dan samping sangat luas penuh pohon dan bebungaan. Di rumah itu aku pernah sakit dan senang, disana aku pernah menikmaati setiap detik keceriaan dan kepolosan. Di halaman depannya saya pernah bermain pasir bersama teman-teman ngobrol ngalor ngidul a la anak kecil yang penuh imajinasi. Dan halaman sampingnya pernah menjadi arena pertunjukan ludruk dan kethoprak yang diadakan oleh Mas Herin dan Mbak Yuda, kakak-kakakku yang idenya spektakuler tak terjangkau oleh kelompok bermainku yang hanya dijadikan cantrik dan penggulung layar saat pertunjukan.

Teman-teman saya menangis, melambaikan tangan dan ada seorang dari mereka yang tak kuat dan berbalik lari sambil tergugu. Dik Nanik, Dik Luluk, Dik Lilik, Timbul, Mu Kancil, Udin, Dwi, Dik Tina, Dik Nana… I love you all.

Saya suka melewatkan waktu saya di gubug tengah sawah yang kadang membuat pemilik sawahnya iri karena saya lebih dulu menempatinya. Alangkah baiknya bapak tua itu. Semoga dia diberkahi. Amin. Saya bawa buku-buku yang saya baca hingga menetes air mata saya. Buku-buku petualagan anak yatim piatu dan buku-buku cerita Indian.

Saya suka melewatkan siang saya di gudang samping rumah Budhe Rodiyah karena disitu tersimpan bertumpuk-tumpuk majalah Jayabaya dan Panjebar Semangat. Istana bacaan mewah bagiku yang sedang musim paceklik jauh dari orang tua.

Saya suka bermain di kali dekat sawah dan membuat dempu (bola tanah) dari pasir kali. Dempu paling besar dan tahan pecah adalah yang terbaik. Susanti adalah pembuat dempu terhabat sepanjang sejarah perdempuan kami. Dempunya mulus bisa sebesar bola volley dan tidak retak dalam waktu yang lebih lama daripada dempu kami yang lebih kecil dan kasar.

Saya juga suka naik sepeda turangga milik Budhe Rodiyah, ipar ibu saya. Saya pernah keliling kampong ditugasi menagih hutang ibu-ibu PKK oleh beliau. Saya ditemani Poningah. Kami tertawa-tawa menghapalkan kalimat yang harus kami ucapkan pada penghutang dan kata-kata tangkisan yang harus kami ucapkan jika mereka meminta tempo. Sekarang Poningah menjadi orang kaya di kampungku, suaminya adalah seorang TKI di USA. Kabarnya suaminya bekerja di bagian administrasi sebuah dermaga ikan disana.

Saya suka mencuri… Saya dan teman-teman adalah pencuri buah-buahan di kampong. Jambu monyet, jambu batu, mangga manalagi, mangga Bu Guru (beliau adalah pensiunan guru jaman dulu yang wibawanya masih dibawa sampai beliau berusia delapan puluhan, pohon mangga di halaman depannya yang sangat luas terkenal khas manisnya), nangka Mbah Bin (nenek ini tinggal tepat di depan rumah kami, nangka yang saya curi ternyata sebenernya akan dipersembahkan pada ibuku yang selalu rela memberikannya soft loan tiap minggu karena orang tua malang ini kekurangan uang), anggur hijau, dll.

Saya suka berburu sesaji padi. Tiap musim panen banyak petani yang mengadakan upacara methik (menyediakan sesaji bagi Dewi Sri pada saat pohon padi berusia hamper panen). Sesaji yang tersiri dari setakir (mangkuk dari daun pisang) urap, sebutir telur mentah ayam kampong, sepotong ayam bumbu bali, ati ampela goreng dan beberapa makanan kecil lain serta tak ketinggalan kemenyan, bunga setaman dan boreh (kapur lunak yang diberi wewangian). Kami berlomba mendapatkannya karena sesaji itu ditempatkan di sudut-sudut petak sawah tertentu. Sehingga kami harus mengikuti si pembawa sesaji. Biasanya si pembawa sesaji sengaja mempermainkan kami supaya kami kebingungan dan kelelahan. Kalau sudah begitu kami akan bubar satu per satu dan si pembawa sesaji itu dengan aman meletakkan takir-takirnya dengan aman. Jika sudah usai, dia akan berteriak,”Hooooooooeeeeeeeeeeeeeeee… Wis kene gagak-ono!!!” (Hoy, nih silakan kalian ambil dan makan). Acara ini terkenal dengan sebutan “nggagak-i wong methik”. Saya, Nining dan Kandung & his gang berkejaran tarik-menarik baju berebut jalan menuju sesaji terbesar.

Saya suka belajar bersama. Ada sebuah gubug kecil di belakang rumah Pakpuh Bandi (kakak ibuku yang ketiga) yang setiap siang menjadi tempat saya, Nining dan Mas Ongko (putra bungsu pakpuh saya yang sekarang menjadi kepala desa kampong saya) belajar sambil bercanda. Di samping kandang itu ada sebuah rumah yang tak sepi dari irama kendang atau seruling bamboo karena Mas Tri dan Pristiawan adalah kaka beradik seniman desa kami yang terkenal halus cita rasa musiknya. Tak jarang kami bertiga terbuai alunan kendang dan seruling mereka sampai surup (waktu Asar hamir Maghrib).

Saya suka mengelana saat kemarahan saya memuncak. Saya akan bersepeda ke arah daerah pegunungan lalu berlabuh di rumah kakak sulung ibu saya. Disana saya bertemu sepupu-sepupu saya yang sangat menyayangi saya. Mereka akan membawa saya ke sungai besar berbatu besar, ke mbelik (telaga kecil) untuk mandi, ke kebun jeruk untuk luru (memunguti buah yang jatuh secara natural karena angin atau tangkainya rapuh) jeruk. Setelah menginap semalam saya akan pulang dengan membawa setas plastik jeruk dan uang lima ratus rupiah yang pada saat itu sangat berharga. Malam harinya kami biasanya mendengarkan sandiwara radio horor berjudul Bahu Laweyan. Televisi tak selalu bagus gambarnya karena tiang antene yang kurang memadahi panjangnya atau karena accu yang harus di-seterek (di-recharge). Saya, Mas Erik dan Mbak Ida berdesak-desakan ketakutan sambil tertawa-tawa karena musik horor dan percakapan-percakapan pemain yang seakan nyata.

Saya suka mengunjungi Pakpuh Seno, kakak kedua ibu saya, supaya saya bisa melayani para pembeli di toko beliau. Budhe Ti, istri beliau, mengelola sebuah toko kelontng terbesar di desanya. Saya sangat gemar duduk di kursi dekat etalase belakang lalu membantu mengambilkan sabun, shampo, minyak wangi, kartu remi, tali rafia, bedak, lipstik, jarum, benang, gula, kopi dan apa saja yang dibutuhkan pembeli. Mbak Tantri, putri bungsu mereka yang sebaya saya, adalah partner dagang saya. Dia yang bertugas menjadi kasir karena saya tidak pernah mau berurusan dengan uang yang lepek karena dipegang para pedagang yang sedang kulakan (membeli untuk dijual lagi) di toko itu. Dia suka sekali berteriak jenaka “Dik Rike…enek tikuuuuus!!!” Saya pun berteriak-teriak sambil mengibas-kibaskan rok saya karena jijik. Setelah sadar itu tipuan kami tertawa-tawa berdua. Biasanya Budhe Ti akan protes “Heeeeh… Ojo guyon ae. Ngageti wong turu!” (Hey jangan bercanda saja. Ngagetin orang tidur!”)

Saya suka menangis sendiri… Saya mengadu pada-Nya saat sendiri. Saat saya mengayuh sepeda, saat saya tiduran di gubug, saat saya luru jeruk di sudut terujung kebun jeruk Pakpuh Pur, saat saya di kamar mandi, saat saya slulup (menyelam) di kali, saat saya mengendap-endap sebelum mencuri buah-buahan, saat saya menyulam sendiri si kamar, saat saya membaca kisah Peter dan Anna, saat saya benar-benar sendiri… Kenapa saya tak bisa menikmati keakraban san kehangatan itu dengan orang tua saya… Mereka yang begitu gigih memperjuangkan nasib kami. Mereka yang harus rela berjauhan dengan kami demi menghidupi kami. Mereka tak takut menghadapi kerasnya hidup untuk kebahagiaan hidup anak-anaknya.

Saya menyukai masa kanak-kanak saya. Saya teramat merindukannya.